Bahaya Onani Atau Masturbasi Dan Cara Menghindarinya


56fb85a0c2106article_1524_1.png

Dari pembahasan sebelumnya tentang hukum onani atau masturbasi kita telah menyimpulkan bahwa hukumnya haram dalam Islam dan telah menyalahi fitrah manusia karena Allah swt telah memberikan jalan yang benar lewat  jalur pernikahan yang sah. Dan lagi perbuatan ini tidak pernah dilakukan oleh hewan sekalipun. Dalam bahasa Arab, istilah masturbasi dikenal dengan nama A’adah Assariyyah atau kebiasaan yang tersembunyi; disebut demikian karena mayoritas pelakunya melakukan ‘aksinya’ secara sembunyi-sembunyi tanpa diketahui orang lain, seperti di kamar mandi atau di kamar tidur dan tempat lainnya yang  menurut persangkaannya tidak dilihat oleh manusia.

Lalu dimanakah Allah swt? Bukankah Dia Maha Melihat segala perbuatan hamba? Mari kita tanya pada mereka, siapakah yang pantas di takuti dan merasa malu Allah atau manusia?? Allah swt telah berfirman ketika menceritakan nasehat Luqman kepada anaknya: “(Luqman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (QS. Luqman: 16)

 

Mari kita perhatikan bagaimana indahnya nasehat Luqman kepada anaknya itu; dia jelaskan luasnya ilmu Allah swt yang meliputi segala sesuatu. Dia mengetahui amalan yang besar atau yang kecil, yang samar atau yang jelas. Luqman juga menjelaskan bahwa tidak ada sesuatupun yang akan tersembunyi dari penglihatan Allah swt baik di bumi ataupun di langit. Seandainya ada kerikil kecil seberat atom di bentangan padang sahara, di ujung petala langit atau di pojok penjuru bumi. Allah swt mampu mendatangkan semuanya…Allahu Akbar, sungguh Allah Maha Besar !!!!!.

Lalu bagaimana dengan kebiasaan tersembunyi ini?? Bagaimana seorang muslim melakukannya sementara ia yakin dan mengetahui bahwa Allah swt melihat dan memperhatikan semua gerak-geriknya?!!

Oleh karena itu, sebab utama banyak  orang melakukan masturbasi hanya satu, tidak ada yang lain, yaitu karena LEMAHNYA IMAN, jika iman lemah maka syahwat dan nafsu akan bergejolak. Ia tidak akan melakukannya kecuali karena kadar khauf dan khasyah-nya kepada Allah swt rendah. Sungguh aneh keadaan mereka, Apakah kita tidak pernah merasa dengan teguran dari Allah swt, kenapa kita enggan menjawab seruan-Nya, berserah diri kepada-Nya, kenapa kita berani bermaksiat di hadapan Allah Al-Karim?? Allah swt telah berfirman: “Mengapakah kamu takut kepada mereka padahal Allah-lah yang berhak untuk kamu takuti, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. At-Taubah: 13)

Dan firman-Nya “Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Mujadalah: 7)

 

Di antara sebab-sebab lemahnya iman adalah:

1. Jauh Dari Pendidikan Agama.

Seperti dengan meremahkan shalat, padahal shalat adalah benteng dari maksiat dan kemungkaran. Allah swt berfirman:

((فخلف من بعدهم خلف أضاعوا الصلاة واتبعوا الشهوات))

Ahli tafsir mengatakan bahwa maksud meremahken shalat adalah dengan mengakhirkan shalat dari waktunya, lalu bagaimana pendapat anda dengan orang yang meninggalkan shalat semuanya?? Dan yang lainnya seperti kelalaian dari mengingat Allah, terlalu sibuk dengan dunia, menjauhi Al-Quran dan merasa berat untuk menuntut ilmu.

2. Ikut Jalan Syetan

Allah swt berfirman: “Dan janganlah engkau mengikuti jalan-jalan syaithan“. Syaithan selalu punya makar-maka agar manusia melenceng dari kebenaran dan menuruti hawa nafsu mereka. Di antara bentuk langkah syaithan adalah dengan menghiasi hal-hal haram dengan keindahan seperti cuci mata di pasar-pasar dan mall-mall, menonton film-film porno (blue film) dan membaca majalah-majalah yang menjejar sembarang aurat.

3. Berteman dengan teman yang buruk akhlaqnya

Teman yang buruk biasanya selalu membawa keburukan juga seperti berbagi gambar-gambar jorok, film porno dan lagu-lagu jahiliyah yang membuat jiwa semakin jauh dari kebaikan.

4. Menuruti hawa nafsu

Nafsu manusia itu suka dengan kelalaian dan kemalasan menjauhi ijtihad dan sungguh-sungguh, menyeru kepada yang jelek dan mencegah dari kebaikan –kecuali yang dirahmati Allah- sebagaimana firman Allah swt “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.” (QS. Yusuf: 53) hendaknya dia terus berusaha melawan hawa nafsunya karena itu termasuk perkara yang dicintai Allah swt, Umar bin Abdul Aziz berkata: “Amalah yang dicintai Allah adalah amalan yang dibenci oleh nafsu”.

Selanjutnya kita akan membahas tentang bahaya-bahaya masturbasi atau onani dari sisi pribadi, tubuh dan kehidupan sosial, namun perlu saya berikan catatan bahwa keharaman masturbasi itu tidak ada kaitannya dengan ada atau tidaknya bahaya masturbasi ke tubuh, tetapi karena adanya dalil-dalil syariat yang mengharamkannya. Dan dharar atau bahaya disini hanya sebagai salah satu dalil keharaman saja bukan menjadi dalil pokok. Tidak lantas karena dokter mengatakan kalau masturbasi itu tidak berbahaya lalu menghilangkan hukum keharamannya. Dan ini banyak saya dapatkan di berita media terutama internet lewat blog yang memosting temuan-temuan dokter bahwa onani itu tidak berbahaya bahkan menyehatkan.

Bahaya Onani

Banyak pria melakukan onani, bahkan ada yang sampai kecanduan sampai-sampai gelisah jika sehari saja tidak melakukannya. Hati-hati jangan berlebihan, sebab masturbasi juga punya efek samping jika terlalu sering dilakukan.

Tidak ada batasan yang pasti tentang seberapa sering pria boleh ejakulasi. Meski dipengaruhi banyak faktor termasuk usia, ada beberapa pendapat yang menyebut frekuensi ideal untuk ejakulasi adalah 2-3 kali seminggu, yang semestinya dilakukan lewat hubungan seks yang halal.

Dan berikut ini berbagai bahaya dan gangguan kesehatan akibat kebiasaan buruk masturbasi. Semoga setelah mengetahui bahaya-bahaya ini, mereka akan berpikir seribu kali untuk melakukannya. Penyebutan bahaya-bahaya ini hanyalah sebagai nasehat dan peringatan  secara umum saja, jangan sampai kebiasaan ini merusak agama dan keistiqamahan seseorang bahkan sampai menjadi sebab turunnya bala’, keras hati dan lemah iman.

Jika anda ingin mengetahui lebih banyak referensi tentang bahaya-bahaya masturbasi dari sisi medis dapat anda baca buku-buku berikut, yang kebanyakan masih dalam bahasa Arab seperti: Al-Istiqsha’ liadillah Tahrimul Istimna’ oleh Abdullah Muhammad Al-Ghumari, Qamus Al-Amradh wa Ilajuha oleh Dr. Muhammad Rafa’at, Adh-Dha’fu At-Tanasuli Indar Rijal Wan Nisa’ oleh Dr. Husain Al-Harawi, Thabibuka fii Baitika oleh sekumpulan dokter di Eropa dan Amerika, Al-Intishar alal A’dah As-sirriyyah Wasail Amaliyyah Lil Wiqayah Wal Ilaj Minha oleh Romi Khalid Abdullah Al-Khudhri dan Lirrijal Faqath oleh Dr. Muhammad Maghawuri.

Pertama; bagi diri

  1. Nafsu makan berkurang
  2. Lemah semangat atau mlempem
  3. Muncul perasaan berdosa
  4. Terus merasa gundah dan gelisah
  5. Suka menyendiri dan menjauhi orang banyak (inverior)
  6. Kemampuan otak menurun dan mudah lupa

Kedua; Bagi Badan

1. Kanker Prostat.

Hal ini berdasarkan pada Penelitian dari Universitas Nottingham yang menyatakan bahwa kaum pria yang sering bermasturbasi di usia 20-30 tahun, lebih beresiko terkena kanker prostat. Para ilmuwan itu melakukan survey terhadap 800 pria, dan ditemukan bahwa 50% dari mereka menderita kanker prostat.

2. Ereksi dini.

Seperti pernyataan pakar seks Dr Andri Wanananda MS “Hal ini disebabkan oleh kebiasaan tergesa-gesa saat masturbasi karena ingin cepat merasakan kenikmatan orgasme seorang diri (self-satisfaction). Lalu ketika ia menikah, sifat tersebut masih terpatri pada dirinya hingga mengabaikan eksistensi isterinya. Itulah yang menyebabkan banyak kasus ejakulasi dini,” tuturnya dalam sebuah konsultasi kesehatan.

3. Rasa letih sepanjang hari.

Setiap kali tubuhnya mengejang karena orgasme, pria akan kehilangan cukup banyak energi karena hampir semua otot akan mengalami kontraksi. Akibatnya jika terlalu sering, pria akan kehilangan gairah untuk beraktivitas dan cenderung akan merasa ngantuk sepanjang hari.

4. Nyeri punggung dan selangkangan.

Kontraksi otot saat mengalami orgasme bisa memicu nyeri otot, terutama di daerah punggung dan selangkangan.

5. Kebotakan.

Hal ini disebabkan ketidakseimbangan hormon yang terjadi jika terlalu sering masturbasi

6. Impotensi/ Lemah Syahwat.

Gangguan pada saraf parasimpatik bisa mempengaruhi kemampuan otak dalam merespons rangsang seksual. Akibatnya kemampuan ereksi melemah, bahkan dalam tingkat keparahan tertentu bisa menyebabkan impotensi yakni gangguan seksual yang menyebabkan penis tidak bisa berdiri sama sekali.

7. Kebocoran katup air mani.

Masturbasi yang terlalu sering akan mengganggu saraf seperti gangguan pada kemampuan saluran air mani untuk membuka dan menutup pada waktu yag tepat. Akibatnya sperma dan air mani tidak hanya keluar saat ereksi, lendir-lendir tersebut bisa juga keluar sewaktu-waktu seperti ingus sekalipun penis sedang dalam kondisi lemas.

8. Kehilangan tenaga, nutrisi dan zat tubuh.

Karena masturbasi mudah dilakukan, banyak yang melakukannya tanpa merasa bahwa mereka telah kehilangan banyak tenaga dan tidak perlu lama lagi menunggu hidup. Orang yang berlebihan melakukan masturbasi biasanya warna kulit mereka pudar, pendapatnya tidak jelas, kurang cita-cita dan selalu stress.

9. Badan gemuk dan gempal.

Wanita yang melakukan masturbasi secara berlebihan akan lebih banyak menyimpan lendir badan dan menyebabkan masalah berat badan berlebih. Hal ini karena rangsangan seks yang tertumpu pada kawasan kelentit, melemahkan buah pinggang akibat rangsangan yang berlebihan dan mengurangi upaya penurunan lendir badan.

Ketiga; Kehidupan Sosial

  1. Otak melemah
  2. Muncul masalah keluarga
  3. Muncul masalah akhlaq
  4. Muncul pikiran menyimpang seperti mencoba-coba melepaskan syahwat dengan sensasi baru
  5. Banyaknya perceraian dan pernikahan semakin dijauhi
  6. Iffah (menjaga kehormatan) semakin hilang dan kerusakan semakin marak

Hukuman dan Kafarah dari Onani

Orang yang terbiasa melakukan masturbasi tidak dianggap telah melakukan perbuatan zina. Dalam kitab Fiqih Alal Mazahib Al-Arba’ah hal. 1223 karangan Aljazairi disebutkan “Ulama telah bersepakat bahwa orang yang menikah dengan tangannya dan merasa nikmat, ia tidak dikenai hadd sebagaimana ijma’ ulama, karena itu adalah kelezatan yang kurang sekalipun haram. Ia wajib dikenakan ta’zir sesuai ketentuan imam” hal senada juga disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Fatawa Kubra-nya hal.3/439 “Adapun masturbasi hukum aslinya adalah haram menurut jumhur ulama, pelakunya dikenai ta’zir, dan tidak seperti zina, wallahu a’lam”. Ini adalah hukuman atau ta’zir di dunia jika dilakukan secara terang-terangan, adapun di akhirat semuanya berada di atas ketentuan Allah swt. Dan kafarahnya adalah taubat nasuha kepada Alllah swt dan berusaha untuk tidak mengulanginya kembali.

Tips menghindari kebiasaan Onani

Untuk menghindari kebiasaan buruk ini ada beberap tips yang bisa dijalankan, silahkan simak dibawah ini.

  1. Bertaubat nashuha kepada Allah swt, karena Allah swt selalu menerima taubat hamba-Nya yang dilakukan dengan benar-benar dan memaafkan segala kesalahan.
  2. Meminta pertolongan kepada Allah swt dan berdoa agar Dia membantu anda menjauhi perbuatan tercela itu.
  3. Segera berwudhu dan shalat dua rakaat ketika nafsu menguasai, karena air wudhu mampu mengikis bisikan syahwat dan shalat akan mencegah dari kemungkaran.
  4. Punya tekad yang kuat untuk meninggalkan dan menjauhi kebiasaan jelek ini.
  5. Mendekat kepada Allah swt atau Muraqabatullah dan selalu merasa bahwa Allah swt selalu mengawasi, mengingat hari kiamat ketika kita berdiri di hadapan Allah swt membawa seluruh amalan di dunia.
  6. Menggunakan masa hidup dan umur yang diberi hanya untuk hal-hal yang bermanfaat seperti menghafal Al-Quran misalnya dan menggunakan waktu kosong untuk aktivitas yang bermanfaat seperti olah raga.
  7. Sabar. Seorang muslim mesti berusaha untuk berlaku sabar dari kegelisahan dunia, karena sabar adalah cahaya dan orang yang bersabar maka Allah swt akan membantunya untuk bersabar, tidak ada pemberian-Nya yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran. Allah swt berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS Al-Baqarah: 53). Syaikh Utsaimin pernah berkata dalam Majmu’ Fatawanya “Manusia harus bersabar dari masturbasi, karena perbuatan ini adalah haram sebagaimana firman Allah “dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa.” Dan karena Nabi saw telah bersabda: “Wahai para pemuda, siapa saja yang telah ba’ah maka menikahlah, karena ia bisa menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan, dan barangsiapa belum mampu maka berpuasalah”.
  8. Perangi hawa nafsu karena itu termasuk perkara yang dicintai Allah swt, Umar bin Abdul Aziz berkata: “Amalah yang dicintai Allah adalah amalan yang dibenci oleh nafsu”.
  9. Tundukkan pandangan (ghaddul bashar) dari hal-hal yang diharamkan Allah swt, seperti melihat wanita di suatu tempat atau lewat gambar lalu dia menyendiri dan melakukan masturbasi sambil membayangkanparas wanita itu dan mengkhayalkan dia sedang bersetubuh dengannya. Sungguh benar perkataan Ibnu Mas’ud kalau menjaga pandangan itu lebih berat dari menjaga lisan.
  10. Jauhi teman yang merusak.
  11. Menikah dini, menikah adalah jalan paling baik untuk mendapatkan ketenangan jiwa.
  12. Memperbanyak Puasa, karena puasa mampu mengerem gejolak syahwat yang timbul dari makanan yang kita makan.
  13. Menyibukkan diri dengan berzikir dan memperbanyak ketaatan dan kebaikan.
  14. Memperbanyak silaturahim.
  15. Menghindari tempat-tempat fitnah seperti pasar, mall, diskotik dan lainnya.
  16. Gunakan waktu sebaik-baiknya.
  17. Mencari rizqi dan penghasilan.
  18. Safar dan bepergian.
  19. Menjauhi media-media yang suka membuka-buka aurat seperti majalah-majalah wanita.
  20. Mendengar atau membaca pelajaran agama tentang neraka dan ahlinya, kubur dan siksa kubur.
  21. Konsultasi kepada dokter yang faham syariat tentang akibat buruk masturbasi.
  22. Jika tidak perlu dan mendesak jangan pergi ke warnet, banyak warnet yang tidak diberi proteksi dari situs-situs porno bahkan ada warnet yang sengaja menyimpan video-video porno di komputernya agar mudah dilihat orang. Dan jangan mencoba-coba menulis kata sex, sexi, porno atau lainnya di search engine atau di youtube.

Kaidah-kaidah

Berikut ini kaidah-kaidah yang bisa membantu anda menjauhi kebiasaaan masturbasi. Saya ambil dari buku ‘Nuzhatul Albab fi Istimnair Rijal wan Nisa’ oleh Abu Taimiyah.

الصبر على الابتلاء خير من العادة السرية

Berlaku sabar dengan cobaan itu lebih baik daripada melakukan masturbasi

جذوة الإيمان تخمد نار وشهوة الشيطان

Cahaya iman akan mematikan api neraka dan syahwat syaithan

حارب خواطر الشهوة قبل أن تصبح سلوكا

Perangi gejolak syahwat sebelum engkau menjadi seorang salik (orang yang berusaha menuju Allah)

خشية النفاق على النفس دليل وجود الإيمان في القلب

Takut dari kemunafikan dalam jiwa adalah bukti adanya iman dalam hati

التطلع لمعالي الأمور يبعد شبح الاستمناء

Berusaha menggapai perkara-perkara yang tinggi akan menjauhkan dari belenggu masturbasi

ترك الذنوب يشرح الصدور ويزيل الغموم

Menjauhi dosa akan melapangkan dada dan mengenyahkan kegelisahan

من ثمار الصلاة أنها تنهي صاحبها عن الفحشاء

Di antara buah sholat adalah mencegah pelakunya dari kejelekan

النظر المحرم يقود إلى فعل المحرم

Melihat yang haram akan mengantarkan kepada perbuatan yang haram pula

 

Alhamdulillah, pembahasan tentang hukum masturbasi atau onani dan bahaya masturbasi dan cara menghindarinya bisa saya selesaikan, lebih dan kurang dalam penulisan makalah ini saya meminta maaf. Dan saya ucapkan banyak terima kasih kepada pembaca blog ahmadbinhanbal yang karena andalah saya bisa terus belajar dan mengembangkan kemampuan saya dalam menulis.

[Twitter: JumalAhmad. FB FansPage: Jumal Ahmad]

Peranan Imam At-Thabari Dalam Pengembangan Ilmu Tafsir


Islamic_Wallpaper_Quran_004-1366x768

Imam Thabari dikenal sebagai Amirul Mukminin dalam tafsir, banyak pujian terhadap kitab tafsirnya. Dengan ilmunya yang luas itu ia telah membantu pengembangan ilmu tafsir yang bisa dirasakan sampai hari ini. Berikut ini beberapa pendapat dan sikap beliau dalam ilmu tafsir yang kemudian layak untuk diikuti dan diteladani oleh generasi setelah beliau.

Pertama, Mengingkari Tafsir Yang Bersumber Pada Logika Saja

 Tampaknya sejak kanak-kanak, Imam al-Thabari sudah bercita-cita ingin menjadi ahli tafsir. Karena menurut pengakuannya, redaksi judul bukunya tersebut telah dipersiapkannya sejak masih kecil. Buku yang terdiri dari sekitar 6 jilid besar ini selesai disusun sekaligus diajarkan kepada murid-muridnya selama 7 tahun (283H-290H).

Imam Thabari mengawali bukunya dengan pendahuluan tentang keistimewaan Al-Quran dari segi bahasa dan sastra, masalah tafsir dan cara-cara menerapkannya, dalil penafsiran Al-Quran yang yang dibolehkan dan dilarang, penjelasan pernyataan Rasulullah saw bahwa Al-Quran diturunkan dalam tujuh bahasa. Kemudian Imam Thabari masuk dalam tafsir Al-Quran kata-demi kata dengan mengutip pendapat para Sahabat, tabi’in dan ulama generasi berikutnya, menjelaskan pendapat ahli bahasa baik dari Bashrah atau Kufah, menjelaskan hukum yang terdapat dalam ayat dan perbedaan pendapat ulama di dalamnya, membantah pendapat ahli bid’ah dan seterusnya.

 Imam Thabari bila ingin menafsirkan Al Qur’an berkata: “Pendapat mengenai ta’wil (tafsir) firman Allah ini begini dan begitu”. Kemudian beliau tafsirkan ayat tersebut dengan berdasarkan pada pendapat para sahabat dan tabi’in yang dengan sanad yang lengkap, dan inilah yang disebut dengan tafsir Bil Ma’tsur (dan bukan tafsir bir ra’yi bahkan beliau mengingkari orang yang menafsirkan dengannya).

Al-Thabari mengedepankan tafsir yang diriwayatkan oleh para sahabat dan tabi`in dengan ragam jalan periwayatan mereka, seperti Ibn Abbas, Sa`id ibn Jubair, Mujahid ibn Jabr, Qatadah ibn Da`amah, al-Hasan al-Bashri, `Ikrmah, al-Dhahak  ibn Muzahim, Abdullah ibn Mas`ud, Abd al-Rahman ibn Zaid, Ibn Juraij, Muqatil ibn Hayyan dan lain-lain. Al-Thabari tidak menggunakan sumber-sumber riwayat yang tidak valid, seperti Muhammad ibn al-Sa’ib al-Kalbi, Muqatil ibn Sulaiman, al-Waqidi dan lain-lain, karena dalam penilaian al-Thabari, mereka lemah.

Kekuatan dan validitas sumber-sumber tafsir inilah yang menjadi titik berat penilain Ibn Taimiyah yang membawanya kepada kesimpulan, setelah membandingkan dengan tafsir-tafsir lain, bahwa “Tafsir paling shahih diantara semua tafsir  itu adalah Tafsir Muhammad ibn Jarir al-Thabari, karena ia mengutip pendapat ulama generasi salaf dengan sanad yang valid, tidak ada bid`ah, dan tidak mengutip dari sumber-sumber yang tertuduh (muttaham) seperti Muqatil ibn Bukair dan al-Kalbi”.

Imam Thabari memaparkan segala riwayat yang bekenaan dengan ayat, namun tidak hanya sekedar mengemukakan riwayat semata, melainkan ia juga mengkonfrontir pendapat-pendapat (riwayat-riwayat) tersebut satu dengan yang lain lalu mentarjihkan salah satunya. Disamping itu ia juga menerangkan aspek I’rob jika ini dianggap perlu dan mengistimbatkan sejumlah hukum.

Kedua,Kritikus Sanad

 Walaupun beliau (Ibnu Jarir) konsisten terhadap metode tafsirnya yaitu dengan  menyebutkan riwayat-riwayat plus dengan sanad-sanadnya namun beliau tidak menyebutkan mana yang shohih dan mana yang dho’if. Itu dikarenakan beliau telah keluar dari perjanjian (yaitu meringkas tafsir beliau).

Bersamaan dengan itu beliau terkadang kritis terhadap sanad tak ubahnya seperti kritikus yang berpengalaman, maka beliau menta’dilkan yang adil, dan menjarh yang cacat, menolak riwayat yang tidak syah riwayatnya, dan mengutarakan pendapatnya. Sebagai satu contoh: “dalam surat Al Kahfi, ayat ke-93: “

“Maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?”

Beliau berkata: “Diriwayatkan dari Ikrimah tentang ayat itu (yaitu tentang dhomah atau fathahnya huruf “siiin” dalam lafadz “As Suda”) yaitu hadist yang diriwayatkan Ahmad bin Yusuf, ia berkata: bercerita kepada kami Al Qosim, Hajjaj, dari Harun dari Ayub, dari Ikrimah ia berkata: “yang biasa dipakai Bani Adam, yaitu dengan dibaca: “ass sada” dengan memakai fathah, tapi kalau kalau dari Allah adalah memakai dhomah “ass suda”. Kemudian menerangkan sanad ini: “Adapun yang disebutkan dari Ikrimah itu maka itu sama dengan yang dinukil dari Ayub Harun, tapi dalam penukilannya diperselisihkan, dan kami tidak mengetahui riwayat dari Ayub yang sahabatnya tsiqoh.[1]

Ketiga, Menentukan Ijma’

 Kita dapatkan juga Ibnu Jarir di dalam tafsir beliau, menetapkan  atau menentukan ijma’. Sebagai contoh adalah surat Al Baqarah ayat: 230.

“Kemudian jika si suami menthalaknya (sesudah talak yang kedua),maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain”.

 Beliau berkata: “jika ada orang berkata: “Nikah mana yang dimaksudkan oleh Allah dalam firman-Nya itu? Nikah jima’kah atau nikah yang dimaksud adalah akad pernikahan itu sendiri? Ada yang mengatakan kedua-duanya, yaitu bahwa seorang wanita bila nikah dengan seorang laki-laki, tapi belum di gaulinya lalu dicerai maka tidak halal bagi suami yang pertama. Begitu juga jika ada yang menggaulinya tapi tidak melalui nikah maka tidak halal juga untuk dinikahi oleh suami pertama, menurut ijma’ ulama’.

Maka sudah menjadi ma’lum bahwa ta’wil (tafsir) firman Allah itu: adalah nikah yang sebenarnya, kemudian digaulinya, lalu di tholak. Apabila ada yang mengatakan: “sesungguhnya penyebutan Jima’ tidak didapatkan dalam Al Qur’an, apa dalil yang mendukung bahwa yang dimaksud ayat itu adalah jima’? di katakan: “bahwa dalilnya adalah ijma’ umat seluruhnya bahwa ma’nanya adalah seperti itu”.[2]

Keempat, Sebagai Imam Dalam Ilmu Qiraah

 Kita dapatkan juga dalam tafsirnya, beliau menyebutkan ilmu-ilmu bacaan dalam Al Qur’an. Beliau banyak menolak bacaan-bacaan yang tidak ada dasarnya dari para Aimmah Qiroah dan yang hanya didasarkan landasan-landasan yang tidak falid yang (karena bila tidak begitu) akan menimbulkan pergeseran dan perubahan makna terhadap Al Qur’an. Sebagai contoh: ayat 81 dari surat Al Anbiya’:

“Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang kami telah memberkatinya. Dan adalah Kami Maha Mengetahui segala sesuatu”.

 Beliau menyebutkan bahwa mayoritas para quro’ membaca lafadz “ar riih” dengan nashob (fathah) karena sebagai maf’ul (obyek), tapi Abdur Rohman membacanya dengan rofa’ (dhomah) karena sebagai mubtada’. Lalu beliau berkata: “Adapun bacaan yang tidak aku perbolehkan kecuali dengan selainnyaadalah yang dibaca oleh mayoritas para ulama’.

Dan sebab mengapa beliau menyebutkan juga ilmu bacaan ayat, adalah bahwa beliau termasuk ulama’ Qiroah yang masyhur, sampai mereka (para qurro’ yang lainnya) mengatakan: “Bahwa baliau (ibnu Jarir) telah mengarang kitab khusus tentang ilmu bacaan, sebanyak 18 jilid, didalamnya beliau menyebutkan seluruh bacaan yang mayhur sekaligus bacaan yang nyeleweng dan menjelaskan, kemudian beliau memilih dari bacaan yang paling masyhur. Tapi walaupun kitab ini telah lenyap dengan berjalannya waktu, akan tetapi karangan-karangan beliau yang lain masih banyak.

 Kitab tersebut berjudul “al-Fashl Baina al-Qiraat”, dalam kitab ini ia menyebutkan perselisihan para Qurra’ dalam huruf al-Quran, membagi nama qurra berdasarkan kotanya, seperti Madinah, Makkah, Kufah, Bashrah dan Syam, selain itu dalam kitab ini disebutkan juga macam-macam qiraah, lalu ia  sebutkan tawil dan dalalah dari setiap qari’ dan memilih pendapat yang benar berdasarkan ikhtiyar yang benar yang diperkuat dengan kemampuan tafsir dan irabnya yang tidak dimiliki qari lainnya.

Abu Bakar bin Mujahid berkata: “Tidak ada ditempat ini yang paling mengetahui ilmu qiraah selain Abu Jafar.” [3]

Ibnu Kamil berkata: “Abu Ja’far belajar qiraah kepada Hamzah sebelum berikhtiyar dengan qiraahnya.”[4]

Abu Jafar memiliki riwayat dari Waras dari Nafi’ dari Yunus bin Abd al-Ala, dan suatu ketika  Abu Bakar bin Mujahid ingin mendengar riwayat tersebut sendiri, maka Abu Jafar menolaknya kecuali jika didengar juga oleh manusia, hal ini termauk salah satu sifat mulia dari Abu Jafar dimana ia tidak suka untuk mengkhususkan ilmu hanya pada seseorang saja. Dan jika ada seseorang yang telah diberi tugas untuk membaca kitab beliau, lalu ia tidak datang, ia tidak mengizinkan orang lain untuk menggantikannya, dan jika ada seseorang yang meminta untuk membacakan qiraah, lalu orang itu tidak datang, ia tidak membacakannya hingga orang itu datang, kecuali kitab fatwa, karena setiap ia ditanya, ia akan menjawab.[5]

Kelima, Tentang Israiliyat

 Kita dapatkan juga beliau menyebutkan dalam tafsirnya mengenai kisah-kisah isroiliyat, yang beliau ambil dari Ka’ab Al Ahbar, Wahab bin Munabih, Ibnu Juraij, As Suda dan yang lainnya. Dan kita juga melihat beliau menukil banyak dari Muhammad bin Ishaq yang diriwayatkan oleh Maslamah seorang Nasroni.

Adapun sanad-sanad beliau yang masih membutuhkan penelitian adalah: “Dari Ibnu Hamid ia berkata kepadaku dan bercerita: “Bercerita kepada kami Salamah dari Ibnu Ishaq dari Abi Atab… ia seorang nasroni lalu masuk islam dan mempelajari Al Qur’an serta mendalami ilmu dien, disebutkan bahwa beliau memeluk agama nasroni 40 tahun dan mem eluk islam 40 tahun juga. Contoh ayat yang beliau riwayatkan dari orang Nasrani adalah Surat Al Isra’ ayat 7.

“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai”.

 Dan juga dalam surat Al Kahfi ayat 94 tentang Ya’juj dan Ma’juj:

“Mereka berkata: “Hai Dzulkarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj, itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?”.

Walaupun beliau memberikan kritikan terhadap kisah-kisah israiliyat ini, akan tetapi masih membutuhkan kritikan yang lebih detail lagi.

Banyak ulama yang mencela Imam Thabari tentang masalah Israiliyat dalam tafsir Thabari, dan Syaikh Ahmad Syakir telah meneliti masalah ini, lalu ia mendapatkan sebabnya; yaitu Imam Thabari terpengaruh dengan penelitiannya dalam masalah sejarah selain itu ia hanya menukil dari kitab tarikh ulama sebelumnya, setelah mereka hapus sanadnya lalu ditulis pada kitab ulama sebelum Imam Thabari, seakan berita itu adalah benar, dan Ibnu Jarir menukilnya dalam kitabnya.[6]

Keenam, Perhatian Terhadap Ilmu Nahwu

Imam Thabari berpegangan dengan bahasa dalam menafsirkan Al-Quran karena Al-Quran turun dalam bahasa arab, dan banyak kita dapatkan Imam Thabari menguatkan tafsiran dengan bahasa setelah tidak ada dari hadits atau dari perkataan sahabat, ia kuatkan dengan syair arab atau pekataan orang arab.

Ketujuh, Meneliti Hukum-Hukum Fiqih

Suatu kali saya dan teman-teman saya di perguruan tinggi pernah ditugaskan dosen kami untuk mencari 10 hal yang dirajihkan Imam Thabari, jika jumlah kami 15 orang, maka terkumpul 150 pendapat yang dirajihkan oleh Imam Thabari, selain juga ia menyebutkan ijma’ tentang suatu masalah. Dalam masalah fiqih ia memiliki mazhab sendiri dan tidak berta’ashub terhdap mazhabnya selain itu ia juga memiliki ikhtiyar sendiri.

Demikianlah sekelumit keluasan ilmu Imam Thabari yang semoga bisa menggambarkan keluasan ilmunya dan perannya dalam ilmu Tafsir. Bagi para penuntut ilmu yang ingin menelaah kitab Tafsir Imam Thabari hendaknya tidak tergesa-gesa dalam membacanya karena pembahasannya yang terlalu panjang dalam membahas masalah, demikian juga ketika beliau mengungkapkan hujjahnya, sehingga tidak terjadi dengan yang biasa disebut orang-orang dengan miss understanding.:)


[1]  Husain az-Zahabi,i Tafsir wal Mufassirun, hal. 213

[2] Tafsir Ibnu jarir, juz: 16, hal: 13. dinukil dari tafsir wal Mufassirun, hal: 214.

[3] Yaqut al-Himawi,

[4] Yaqut al-Himawi,

[5] Yaqut al-Himawi,

[6] Qurais Suhail, Al-Mufasir: surutuhu, adabuhu,mashadiruhu: 235

%d bloggers like this: