• Selamat datang di blog Jumal Ahmad. Saya sedang meneliti tentang Meta-Level Reflection dalam Pembangunan Karakter. Semoga dimudahkan dan bermanfaat.

  • Categories

​Allah Melihat Perjuanganmu


Belajarlah dari jam dinding yang berdetak disetiap saat, ia tak pernah berhenti hingga batrainya habis. Ia juga tetap berdetak meskipun orang tak melihatnya, ia tetap berdetak meskipun semua orang terlelap tidur. Ia pula yang tak pernah bosan mengingatkan waktu demi waktu untuk manusia bersujud.

Keikhlasannya pun tak tertandingi, ketika ia diabaikan, ketika ia kadang-kadang dilihat, kadang-kadang juga tidak. Ia tetap menjaga keikhlasannya meskipun ia dilihat ketika ia dibutuhkan saja.

Allah melihat setiap perjuangan dari hamba-Nya. Baik terlihat di mata manusia, maupun dirahasiakan. Allah melihat ikhtiar kita, jadi tetaplah bergerak meskipun itu berat, teruslah berkarya meskipun tak pernah dihargai, tetaplah bergerak meskipun tak dilihat mata manusia.

Tak perlu meminta balasan dari seseorang, tak perlu menunjukkan bahwa engkau seorang yang hebat, biarkan Allah yang menilai, biarlah Allah yang akan membalas dengan balasan yg terbaik. 

Kalau kita melakukan sesuatu, orang ada atau orang tidak ada, sama saja, Allah pasti ada. Apakah orang lain melihat atau  tidak melihat, tidak apa- apa karena Allah pasti melihat. Begitu juga orang mau memuji atau tidak memuji, tidak ada urusan buat kita, yang penting ridha Allah. 

Khoirunnas anfauhum linnas, sebaik baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Perlukah kita dikagumi orang? Tidak perlu, karena yang penting kita lakukan saja yang terbaik sampai Allah kagum kepada kita. 

Jika kita  sibuk dengan Allah yang Maha Melihat, tidak perlu mencari cinta dan kekaguman orang.
Semoga Allah senantiasa menjaga niat baik kita semua dan semata-mata hanya mengharap ridha dari-Nya.

Wa’allahu’alam

Agama Dan Negara Di Mata Muslim Indonesia


Di Mesir, Pernah suatu ketika dalam sebuah forum, Paus Shinouda III, Paus Gereja Koptik Alexandira menyampaikan sebuah adagium: “Ad-Dinu Lillah, Wal Wathan Lil-Jami’.” (Agama milik Allah, sedangkan Negara milik semuanya). Lalu Syaikh Mutawalli Sya’rawi yang kala itu memang duduk di sebelahnya, dengan lugas menimpalinya sembari mengatakan: “Ad-Dinu Lillah, Wal Wathan Lillah.” (Agama itu milik Allah, dan Negara juga milik Allah). 

Syaikh Sya’rawi yang dijuluki “Imam para Dai” itu lantas melanjutkan: “Tidak ada itu negara untuk semua. Apa artinya agama untuk Allah dan Negara untuk semua? Lihat! Negara manapun yang tidak ada agama di dalamnya, kita takkan bangga dengan nasionalismenya. Setiap negara tidak ada agama di dalamnya, mau berbuat apa saya?”

Tema antara Agama dan Negara memang selalu menarik untuk disoroti. Tapi di sini saya tidak ingin mengangkat polemik yang terjadi antara pengusung dari dua adagium di atas, karena saya lebih tertarik untuk menilik kondisi di dalam negeri sendiri.



Dewasa ini, tampaknya ada beberapa upaya massif yang ingin melabeli sejumlah umat Islam Indonesia sebagai umat yang anti-negara, seakan mereka adalah parasit yang keberadaannya mengancam keutuhan bangsa.

Sebelum itu, perlu diketahui bersama, bahwa Rasulullah sendiri tidak pernah mewariskan ajaran “Benci Negara.” Bahkan, saat Hijrah meninggalkan Makkah, Rasul pernah berkata: “Sesungguhnya engkau (Makkah) adalah negeri yang paling aku cintai, kalau saja bukan karena pendudukmu yang mengeluarkanku, niscaya aku takkan pernah keluar darimu!”

Tampak jelas di sini bahwa Rasulullah mencintai Makkah sebagai tanah-air beliau. Demikian juga terlihat dari sikap Rasul terhadap para sahabat yang tidak pernah menyuruh mereka untuk menghapus identitas ke-tanah-air-annya.

Lihatlah Salman Al-Farisi, ia tetap dikenal sebagai “Al-Farisi” (orang Persia) dan tidak pernah diganti menjadi “Al-Madani” (orang Madinah) misalkan. Juga Suhaib bin Sinan, ia familiar dikenal sebagai Suhaib “Al-Rumi” (dari Romawi), Bilal bin Rabbah “Al-Habasyi” (dari Ethiopia) mereka tidak pernah diperintah untuk mengganti kebangsaannya menjadi “Al-Arabi.”

Nasionalisme itu adalah Anugerah Keragaman. Layaknya bahasa yang kita ucapkan, warna kulit yang kita miliki, itu semua Ketentuan Tuhan yang takkan terhapuskan.

Tapi meskipun demikian, ada beberapa catatan perbedaan antara Agama dan Negara yang patut diketahui. Perbedaan tersebut di antaranya:

Pertama: Ber-Negara boleh berpindah-pindah, sedangkan Ber-Agama itu tidak boleh berpindah-pindah.

Kita selaku WNI misalkan, kita bisa pindah ke Eropa, hijrah ke Amerika atau domisili di Afrika. Baik sementara atau selamanya. Bebas, legal dan tidak ada larangan.

Tapi kita sebagai orang Islam, tidak boleh untuk pindah ke agama lain barang sedetik pun. Karena saat pindah agama, berarti statusnya murtad. Wal ‘Iyadzu Billah.

Kedua: Mengganti Kewarganegaraan itu diperbolehkan, bahkan sebagian negara memperbolehkan “Kewarganegaraan Ganda.” Sedangkan Beragama, ya hanya satu saja, tidak ada orang —selain munafik— yang memiliki Agama Ganda. Dan juga, mengganti Agama itu adalah perbuatan terlarang bagi setiap pemeluk ajaran agama masing-masing.

Ketiga: Seseorang bisa saja tidak memiliki kewarganegaraan, yang secara hukum disebut dengan “Statelessness” atau: Absennya hubungan pengakuan antara individu dan suatu negara. Di mana, Orang yang tak bernegara secara de jure terkadang merupakan orang yang tidak dianggap sebagai warga negara oleh suatu negara di bawah operasi hukumnya.

Tapi adakah orang yang tidak beragama? Sekalipun ada orang yang mengaku tidak beragama, sebenarnya itulah agama dirinya, yaitu agama kebebasan yang tak mau terikat kecuali dengan keyakinan hawa nafsunya sendiri. Dan sekalipun seseorang mengaku tidak ber-tuhan, tapi sebenarnya dia sedang menuhankan akal, nafsu dan dirinya sendiri. Karena, beragama dan meyakini sesuatu adalah perkara fitrah yang dimiliki setiap manusia.

Keempat: Ber-Negara itu hanya saat hidup saja, sedangkan Ber-Agama itu mulai dari hidup sampai mati.

Segala hal yang berkaitan dengan negara, seperti bayar pajak, bikin KTP, sukseskan Pemilu, dan sebagainya itu hanya terkait dunia. Hingga kita hembuskan napas terakhir, maka berakhir sudah urusan kita dengan Negara.

Tidak demikian dengan Agama, semenjak lahir saja kita sudah diadzani (bukan dinyanyikan lagu Indonesia Raya), hingga saat meninggal pun kita dibacakan surat Yasin (bukan dibacakan teks UUD 45).

Semua pemeluk agama saat meninggal, ia akan diperlakukan menurut ajaran agama masing-masing, tidak ada pengurusan jenazah dengan menggunakan “Tata-cara Negara” sekalipun ia adalah pahlawan yang meninggal dalam membela negara.

Kelima: Agama adalah harga Mati, kalau Negara? Nanti kita lihat sendiri.

Islam semenjak dahulu, berabad-abad lamanya, tetap utuh tak tersentuh. Rukun Islam tetap Lima, Rukun Iman tetap Enam, dan Al-Qur`an tetap 114 Surat tak berkurang satu ayat pun. Islam Harga Mati. Selamanya takkan bisa diganti!

Tapi Negara? Lihatlah sejarah: Dahulu ada Imperium Romawi dan Persia, dua negara adidaya itu kini telah sirna. Dulu ada Khilafah, sekarang sudah tinggal sejarah. Dulu ada Uni Soviet, sekarang sudah runtuh terpecah-pecah. Dulu tidak ada negara Israel, tapi sekarang sudah mulai lahir. Dulu Sudan masuk kawasan Mesir, tapi sekarang sudah jadi negara sendiri. Dulu Sudan adalah satu negara, tapi sekarang sudah terpecah dua. Begitu seterusnya…

Lalu apakah NKRI harga mati? Jawabannya adalah: Lihatlah Timor-Timur, juga Sipadan dan Ligitan, itu adalah bukti terbaru yang kita alami sendiri. Jadi, “NKRI Harga Mati” itu harus dijadikan semboyan patriotisme. Tapi secara fakta sejarah, tidak ada Negara yang abadi di muka bumi. Ini juga merupakan Ketentuan Tuhan, jadi mengartikannya tak perlu sambil “Bawa Perasaan.”

Maka, sebagaimana kita memperjuangkan Agama, kita juga harus memperjuangkan Negara. Agama memiliki batasan berupa rukun Iman dan Islam, sedangkan Negara memiliki batasan teritorial wilayah. Keduanya bukan hal kontradiktif yang harus dibenturkan. Seolah orang beragama tidak bisa bernegara. Sebaliknya, justru kebanyakan dari orang yang mampu Ber-Agama dengan baik, mereka pasti dapat Ber-Negara dengan baik.



Dalam memahami perkara ini, kita tidak ingin mengekor kepada “Ekstrem Kanan” yang secara mentah-mentah mengingkari nasionalisme dan menyandingkannya dengan kefasikan maupun kekufuran. Pun juga, kita tidak ingin membebek kepada “Ekstrem Kiri” yang ingin menuhankan nasionalisme dan membuang jauh-jauh segala yang berbau agama. Islam itu Wasath. Muslim itu selalu berada di tengah dan Moderat.

Para Ulama lintas-suku, lintas-ormas, lintas-pesantren di seluruh Negeri ini telah sepakat tentang keharusan merawat negeri. Umat Islam di negeri ini sudah tidak lagi pada tahap menghapal Pancasila secara teori, tapi sudah sampai mengamalkan dan memantau penerapan nilai-nilainya di lapangan. Mereka bukan lagi murid di kelas “merangkai bunga” untuk menyatakan Keragaman dan Kerukunan, tapi mereka sudah duduk di strata “Merangkai Bunga Harmonitas” antara Agama dan Negara.

Pada faktanya, umat Islam tidaklah anti-Pancasila, karena spirit Pancasila sendiri selaras dengan ajaran Agama. Bukankah Pancasila itu buatan manusia? Ya. Betul. Tapi ia adalah mufakat yang tidak bertentangan dengan Agama. Sedangkan Rasul sendiri telah bersabda: “Umat Islam terikat dengan persyaratan-persyaratan mereka, kecuali syarat yang mengharamkan perkara halal, atau syarat yang menghalalkan perkara haram.”

Jadi, stigma negatif semacam “Anti-NKRI,” “Anti-Kebhinnekaan” dan “Anti-Pancasila” yang ingin disematkan kepada Muslim Indonesia itu tak ubah bedanya dengan tuduhan fir’aun saat mengklaim Nabi Musa termasuk golongan “Kafir.”

Perkataan fir’aun itu lahir saat ia merasa Panik akan kekuasaannya, dan Khawatir jika tahtanya tumbang di tangan “Rakyat Jelata” dari kalangan Bani Israel yang selama ini ia anggap sebagai budak-budak tak berharga:
قَالَ أَلَمْ نُرَبِّكَ فِينَا وَلِيدًا وَلَبِثْتَ فِينَا مِنْ عُمُرِكَ سِنِينَ … وَفَعَلْتَ فَعْلَتَكَ الَّتِي فَعَلْتَ وَأَنْتَ مِنَ الْكَافِرِينَ
Fir’aun menjawab: “Bukankah kami telah mengasuhmu (Musa) di antara —keluarga— kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu … Dan kamu telah berbuat suatu perbuatan yang telah kamu lakukan itu dan kamu Termasuk golongan orang-orang Kafir!” (QS. Al-Syu’ara: 18-19).

Wallahu A’lam Bis-Shawab.

Oleh Yusuf Al-Amien dari postingan di Telegram @hasanalbanna.com 

Karena Kebatilan Akan Hancur


kebenaran vs kebatilan

Jika Allah Tak Perlu Dibela


​Sederhana saja logikanya :

Jika Allah tidak perlu dibela karena Maha segalanya maka :

Buat apa sholat ?

Toh seluruuuuuuh manusia bila tidak sholat ALLAH TETAP MAHA MULIA.. tidak berkurang setitik kemuliaan.
Sama saja

Bila seluruh manusia sujud sholat mengagungkan Allah  TETAP MAHA MULIA tidak bertambah setitik kemuliaan. Maka jangan Menutupi kemunafikan dengan kata kata seakan akan ilmiah padahal menyesatkan.

“Allah Maha Mulia AlQuran juga Mulia tidak usah mati matian berjuang”.

Sungguh menyesatkan kata kata tersebut. 

Membela Allah dan Agama Allah bukan berarti Allah butuh dibela, karena sebenernya kita yg butuh.  itu adalah bentuk keberpihakan kita kepada kebenaran ( Al Haq), BUKAN netral apalagi membela kebatilan.

Kita wajib punya ghirah islamiyah, kita wajib bergerak bila ada penistaan agama. Kita wajib jijad sama seperti wajibnya shalat. 

Dekati Allah Selalu


hpManusia ibarat HP ia harus selalu dekat ke server. Semakin dekat ke server semakin berfunsi HP itu karena sinyalnya semakin kuat.

Sama dengan manusia ia harus selalu dekat kepada Allah. Maka semakin dekat kepada Allah ia akan semakin berfungsi sebagai manusia.

Sebaliknya semakin jauh dari Allah ia semakin menjauh dari kemanusiaannya dan lama-lama hanya tinggal casingnya manusia tetapi isinya binatang.

Continue reading

9 Aspek Pendidikan bagi Muslim Unggulan


muslim unggulanTak ada guru sehebat Nabi Muhammad Shalallaahu ‘alaihi wa sallam, dan tak ada murid sehebat para shahabat Radhiallaahu ‘anhum. Ummat ini tidak akan menjadi baik kecuali dengan apa yang telah membuat baik generasi pertamanya itu. Nabi sebagai guru terbaik tidak berkata-kata, bersikap, dan bertindak kecuali dengan bimbingan dari Allah Subhaanahu wa ta’ala. Sedangkan para shahabat mengisi hari-harinya selama lebih 20 tahun dengan semua keteladanan gurunya itu secara kreatif dan independen. Continue reading

Film Dan Dakwah Taqrib


Berbeda dari Ramadhan-Ramadhan sebelumnya, tahun ini dua stasiun televisi nasional menayangkan film layar lebar dari Timur Tengah. MNC tv dengan Sinetron Umar bin Khatab dan Jogja tv dengan sinetron Yusuf Ash-Shiddiq Alaihis Salam. Selain Umar bin Khatab dan Yusuf Ash-Shiddiq Alaihis Salam, Perfilman Timur Tengah sudah merilis film-film Islam lain yang ditayangkan setiap bulan Ramadhan penuh, seperti Khalid bin Walid, Bilal bin Rabah, Muawiyah, Hasan dan Husein dan Ja’far Ash-Shodiq. Continue reading

%d bloggers like this: