Pendidikan Islam Kritis, Adakah?


 

Konsep filosifis pendidikan Islam berpangkal tolak pada sinergis hablumminalllah, hablumminannas dan hablumminal alam (sinergi hubungan dengan Allah, manusia dan alam) berdasar ajaran Islam. Allah SWT menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Dari fungsi inilah dapat diambil pola kependidikan Islam, sebagaimana kependidikan Allah dengan sifat rububiyyah–Nya terhadap manusia dan alam.

Adapun ciri-ciri manusia berpredikat khalifah Allah menurut M Ridlwan Nasir dalam bukunya Mencari Tipologi Format Pendidikan Ideal, pertama, terjun di tengah-tengah alam dan masyarakat sehingga dapat memahami Allah, manusia dan alam sekitar. Kedua, ia tidak dibentuk oleh lingkungannya melainkan dapat membentuk lingkungannya. Ketiga, mempunyai watak dan nilai mulia sebagai komponen fundamental dari eksistensinya. Keempat, mempunyai kesadaran dan sifat kreatif untuk menjadikan bumi sebagai surga kedua.

Dengan pijakan filosofis ini maka, pendidikan Islam merupakan proses mengubah tingkah laku individu pada kehidupan pribadi, kehidupan masyarakat dan alam sekitarnya dengan cara pengajaran sebagai suatu aktivitas asasi dan sebagai profesi di antara profesi-profesi asasi dalam masyarakat. Pendidikan ini memusatkan perubahan tingkah laku manusia terutama pada pendidikan etika, yang menekankan aspek produktivitas dan kreativitas manusia dalam peran dan profesinya dalam kehidupan di masyarakat dan alam semesta.

Bagaimanakah pendidikan Islam memposisikan pengetahuan?

Pengetahuan dalam Islam sebagaimana termaktub dalam firman Allah, surat Ali Imran (3): 190 dan surat al-Alaq (96):1-2 membentang luas di langit dan bumi. Harus di baca dan dicari dengan Allah dan bersama Allah SWT yang menciptakan:“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian siang dan malam, terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang yang berakal”.Bacalah! Dengan menyebut nama Allah yang Menciptakan.

Berpijak pada kedua ayat di atas, pengetahuan dalam Islam bersumber dari Allah, melalui berbagai proses keilmuan dan produk keilmuannya harus diabdikan untuk Allah SWT dan kemaslahatan manusia serta alam. Proses pencarian pengetahuan atau proses ilmiah dalam pendidikan Islam adalah proses kerja keras dan tiada henti. Hal ini didasarkan pada firman,  “Maka apabila engkau telah selesai dari suatu pekerjaan,(penelitian keilmuan) maka bersiaplah untuk bekerja keras kembali (urusan lainnya). Dan hanya kepada Rabb-Mulah engkau berharap”. QS. al Insyirah(94): 7-8.

Produk keilmuan yang dihasilkan dalam pendidikan Islam bukanlah milik pribadi melainkan diperuntukan bagi penciptaan kemaslahatan masyarakat. Demikian ditegaskan Hadits yang diriwayatkan oleh Thabrani: “Perumpamaan orang yang menuntut ilmu lalu tidak mengajarkan, menyebarkan dan mengamalkannya adalah seperti orang yang menyimpan (menimbun) hartanya tapi tidak pernah membelanjakannya”. Hadits lain yang diriwayatkan oleh Abdul Hasan Ibnu Akhram dari Anas bin Malik: “Pelajarilah ilmu apapun yang kamu kehendaki, demi Allah, kalian tidak akan diberi pahala hanya dengan mengumpulkan ilmu sebelum kamu mengamalkannya”.

Bagaimanakah sikap pembelajar terhadap ilmu pengetahuan? Adakah landasan pendidikan Islam kritis?

Pendidikan Islam sebagaimana terkandung dalam makna ta’lim, menurut Ridlwan Nasir merupakan proses transformasi dan iternalisasi ilmu pengetahuan dan nilai-nilai Islami pada peserta didik melalui penumbuhan dan pengembangan potensi fitrah manusia untuk mencapai keseimbangan dan kesempurnaan hidup dalam segala aspeknya. Dari pemahaman ini maka, ilmu pengetahuan dan nilai-nilai Islami  bukanlah sekedar pengetahuan dan nilai-nilai tanpa hasil dari kritik dan analisis ilmiah.

Ilmu pengetahuan Islam dan juga nilai-nilai Islami tidak boleh immune terhadap kritik ilmiah atau ghairu qabilin linnaqd, melainkan mempunyai keharusan untuk diuji secara terus-menerus melalui kajian ilmiah dari berbagai disiplin ilmu  agar dapat menghasilkan suatu pemikiran yang genuine Islam pada satu sisi dan aplikatif solutif untuk mengatasi persoalan masyarakat pada konteksnya.

Dari pijakan ini, model pendidikan kritis Nabi Ibrahim tentang mimpi menyembelih puteranya Ismail yaitu dengan menggunakan terma,Fandzur madza tara pada QS As-Shafat(37): 102 merupakan landasan pendidikan Islam kritis. “Maka tatkala anak itu sampai (dewasa) berusaha bersama-sama Ibrahim. Ibrahim berkata:” Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu?”

Pada ayat ini secara tegas memperlihatkan bagaimana proses pendidikan atas nilai keyakinan dan kepatuhan Nabi Ibrahim kepada Tuhan-Nya di ta’limkan kepada anak didiknya (Ismail) secara dialogis dalam situasi proses yang tepat dan memberi kesempatan kepada Ismail untuk berfikir kritis. Ismail setelah proses itu, dengan mantap; Ia menjawab: “Hai Bapakku kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku  termasuk orang-orang yang sabar”.

Proses pendidikan Islam kritis berdasar landasan fandzur madza tara merupakan suatu pendidikan yang dilakukan secara penuh kasih sayang, dialogis, terbuka dan “sejajar” dalam hal-hal tertentu, sehingga  pebelajar dapat mengamati, mencermati, mencoba melakukan tindakan, mengevaluasi, menguji dan melakukan refleksi untuk membuat perbaikan tindakan.

Pernyataan bahwa orang Islam tidak kritis adalah bias karena orang Islam memiliki pandangan hidup (world view) yang berbeda dengan materialisme dan sekulerisme.

Pemahaman epistemologis mereka didasarkan pada konsepsi ontologi khusus dan fisika mereka yang tidak lengkap tanpa metafisika mereka. Dan metode epistemologis mereka adalah wahyu selain rasional dan empiris. Oleh karena itu, menyalahkan muslim karena tidak cukup kritis dengan standar metode sekuler dan materialistik adalah sikap yang bias.

Maka menjadi tanggung jawab cendikiawan muslim untuk mengembangkan pemikiran kritis Islam dan menjadikannya kurikulum implisit dalam teks-teks dan butuh kerjasama banyak pihak untuk merealisasikan hal ini.

Salah satu cara Islam mendorong critical thinking adalah dengan bertanya dan mencari jawaban sehingga merasa yakin dengan apa yang dijalankan. Dr. Tariq Ramadan mengungkapkan kisah Hubaib bin Mundzir ketika menjelaskan hal ini.

Suatu ketika sebelum perang Badar, Rasulullah Saw dan pasukannya hendak membuat base camp sebagai benteng pertahanan dan membuat dapur umum. Setelah mendekati mata air, Rasulullah Saw berhenti. Hubain bin Mundzir pun bertanya, “Ya Rasulullah, apa alasan anda berhenti disini? Kalau ini sudah wahyu dari Allah kita tidak akan maju atau mundur setapakpun dari tempat ini. Ataukah ini sekedar pendapat anda sendiri sebagai taktik perang?”. Rasulullah Saw menjawab, “yang saya lakukan sekedar pendapat saya dan sebagai taktik perang” jawab Rasulullah Saw. Hubaib bin Mundzir berkata lagi, “Ya Rasulullah, kalau begitu tidak tepat kita berhenti di tempat ini”.

Dalam kisah Hubaib tersebut terlihat bagaimana Sahabat mempertanyakan apa yang dilakukan oleh Rasulullah Saw. Hubaib menanyakan apakah strategi yang diambil Rasulullah merupakan ketetapan dari Allah, ataukah pendapat pribadi Rasulullah. Jika ketetapan dari Allah Swt maka sebagaimana pernyataan Hubaib: takkan maju atau mundur. Sebaliknya, jika strategi tersebut datangnya dari Rasulullah, maka alangkah baiknya jika strategi tersebut di rubah.

Dari kisah tersebut Prof. Tariq Ramadan menarik 3 hal: sumber, pemahaman dan pertanyaan. Terkait dengan sumber, kita harus bisa membedakan, apakah suatu pernyataan itu dari Allah atau sekedar pendapat seseorang? Jika itu wahyu dari Allah maka wajib ditaati. Sebaliknya jika hal itu datang dari manusia maka pernyataan seseorang tersebut bisa dipertanyakan.

Dengan landasan ini, pendidikan Islam kritis diproporsionalkan dalam konteks kelahiran dan perkembangannya. Islam memberi perhatian pada berpikir dan sebab akibat dan pada satu waktu meletakkan wahyu pada tempat yang tertinggi. Maka ilmu dari mana saja dan oleh siapa saja, jika sesuai dengan Islam maka tidak ada kontradiksi maka tidak masalah untuk memasukkanya dalam silabus dan kurikulum pendidikan Islam. Kemampuan berpikir diberikan kepada semua manusia dan dia bisa menemukan kebijaksanaan, berkreasi dan berinovasi.

Sebaliknya pendidikan Islam kritis yang berpijak pada ajaran al-Qur’an  tepat untuk diaplikasikan dalam proses pendidikan di lembaga-lembaga pendidikan Islam.

Video

Critical Thinker oleh Nouman Ali Khan

Sumber:

http://www.iain-surakarta.ac.id/?p=4576

https://ahmadbinhanbal.wordpress.com/2018/09/15/pendekatan-islam-tentang-berpikir-kritis/

https://ahmadbinhanbal.wordpress.com/2018/08/28/apakah-pendidikan-islam-mengajarkan-berpikir-kritis-critical-thinking/

Pendekatan Islam tentang Berpikir Kritis (Critical Thinking)


sketsa-sejarah-islam-dan-ilmu-pengetahuan

Pendekatan Islam tentang berpikir kritis didasarkan pada sumber iman, ilmu pengetahuan Islam dan sikap ilmiah umat Islam sepanjang sejarah dalam subjek pengkajian Islam dan subjek di bawah humaniora, ilmu sosial dan ilmu pengetahuan murni.

Alquran adalah sumber ilmu pengetahuan dan Islam mengajak umatnya untuk giat mencari ilmu sebagaimana disabdakan Nabi bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim. Beberapa cara mendapatkan ilmu dalam Islam yaitu wahyu, hawas, alaql wal qalb, syiyahah, kaun, hidayatu subul, altafakuh wal hikmah, alruya alsadiqah, firasah, mukashafah dan ilham.

Alquran juga menyebutkan beberapa istilah yang mengajak kita berpikir kritis yaitu tafakur (contemplation), tadabbur (reflection) dan tafakuh (understanding).

Epistemologi Islam tidak kaku tetapi sintetis dan komplementer. Islam memberi perhatian pada berpikir dan sebab akibat dan pada satu waktu meletakkan wahyu pada tempat yang tertinggi. Maka ilmu dari mana saja dan oleh siapa saja, jika sesuai dengan Islam maka tidak ada kontradiksi maka tidak masalah untuk memasukkanya dalam silabus dan kurikulum pendidikan Islam. Kemampuan berpikir diberikan kepada semua manusia dan dia bisa menemukan kebijaksanaan, berkreasi dan berinovasi.

Apakah berpikir kritis membuat siswa berkurang imannya?

Klaim ini masih problematis dan belum tentu benarnya. Jika berpikir kritis dikonstruksikan sebagai kebebasan berpkikir (free thinking) dengan dasar ilmu yang tidak jelas (bias) dan diajarkan kepada murid tanpa refleksi kritis (critical reflection) pada hal-hal mendasar, dipastikan membuat murid ragu dan bisa mengurangi iman.

Klaim bahwa murid pendidikan Islam kurang kritis juga salah karena diukur dengan standarisasi yang keliru. Salah satu sebab kenapa mereka tidak kritis adalah karena tradisi tidak membuat mereka menjadi kritis dengan cara mereka yang unik dan kita ketahui model pembelajaran agama di kelas adalah dengan diktat, doktrin dan menghafal tanpa ada refleksi. Kekurangan ini mengajak perlunya reviu dalam pendidikan agama Islam.

Pernyataan bahwa orang Islam tidak kritis sekali lagi adalah bias karena orang Islam memiliki pandangan hidup (world view) yang berbeda dengan materialisme dan sekulerisme.

Pemahaman epistemologis mereka didasarkan pada konsepsi ontologi khusus dan fisika mereka yang tidak lengkap tanpa metafisika mereka. Dan metode epistemologis mereka adalah wahyu selain rasional dan empiris. Oleh karena itu, menyalahkan muslim karena tidak cukup kritis dengan standar metode sekuler dan materialistik adalah sikap yang bias.

Maka menjadi tanggung jawab cendikiawan muslim untuk mengembangkan pemikiran kritis Islam dan menjadikannya kurikulum implisit dalam teks-teks dan butuh kerjasama banyak pihak untuk merealisasikan hal ini.

Salah satu cara Islam mendorong critical thinking adalah dengan bertanya dan mencari jawaban sehingga merasa yakin dengan apa yang dijalankan. Dr. Tariq Ramadan mengungkapkan kisah Hubaib bin Mundzir ketika menjelaskan hal ini.

Suatu ketika sebelum perang Badar, Rasulullah Saw dan pasukannya hendak membuat base camp sebagai benteng pertahanan dan membuat dapur umum. Setelah mendekati mata air, Rasulullah Saw berhenti. Hubain bin Mundzir pun bertanya, “Ya Rasulullah, apa alasan anda berhenti disini? Kalau ini sudah wahyu dari Allah kita tidak akan maju atau mundur setapakpun dari tempat ini. Ataukah ini sekedar pendapat anda sendiri sebagai taktik perang?”. Rasulullah Saw menjawab, “yang saya lakukan sekedar pendapat saya dan sebagai taktik perang” jawab Rasulullah Saw. Hubaib bin Mundzir berkata lagi, “Ya Rasulullah, kalau begitu tidak tepat kita berhenti di tempat ini”.

Dalam kisah Hubaib tersebut terlihat bagaimana Sahabat mempertanyakan apa yang dilakukan oleh Rasulullah Saw. Hubaib menanyakan apakah strategi yang diambil Rasulullah merupakan ketetapan dari Allah, ataukah pendapat pribadi Rasulullah. Jika ketetapan dari Allah Swt maka sebagaimana pernyataan Hubaib: takkan maju atau mundur. Sebaliknya, jika strategi tersebut datangnya dari Rasulullah, maka alangkah baiknya jika strategi tersebut di rubah.

Dari kisah tersebut Prof. Tariq Ramadan menarik 3 hal: sumber, pemahaman dan pertanyaan. Terkait dengan sumber, kita harus bisa membedakan, apakah suatu pernyataan itu dari Allah atau sekedar pendapat seseorang? Jika itu wahyu dari Allah maka wajib ditaati. Sebaliknya jika hal itu datang dari manusia maka pernyataan seseorang tersebut bisa dipertanyakan.

Satu hal yang menarik terkait hubungan antara bertanya dan tingkat keimanan, beliau mengatakan “Keimanan yang mendalam justru bisa diperoleh dari serangkaian pertanyaan yang mendalam yang pada akhirnya justru dapat meningkatkan keyakinan kita terhadap kebenaran. Bukan sekedar menerima tanpa mempertanyakan”.

…..

Critical and Analitycal Thinking in Islam by Prof. Tariq Ramadan(1)

Critical and Analitycal Thinking in Islam by Prof. Tariq Ramadan (2)

Islamic Approach to Critical Thinking

https://slideplayer.com/slide/13724657/

%d bloggers like this: