Bagaimana Mengubah Cinta Semu Menjadi Cinta Hakiki


Cinta semu dan cinta hakiki sama-sama halal. Bedanya, cinta semu hanya cinta sebatas dunia, sedangkan cinta hakiki merupakan cinta yang hasilnya dapat dipetik di akhirat kelak. Untuk memahami hal ini ada baiknya disajikan sabda Nabi saw. berikut, yang berkaitan dengan hijrah:

 

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Sesungguhnyasemuaamalbergantungpadaniatnyadansesungguhnyasetiap orang berhakatasapa yang ianiatkan. Barangsiapa yang hijrahnyamenujudunia yang iaupayakanatauuntukperempuan yang akanianikahimakahijrahnyamenujupadaapa yang iahijrahuntuknya. (HR al-Bukhari). Continue reading

Hadits Jibril Tentang Cinta


Dari Sahal bin Sa’ad, dia berkata, Jibril datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian berkata.

  • Ya Muhammad, hiduplah sesukamu tapi ingatlah bahwa kamu pasti akan mati.
  • Cintailah siapapun yang ingin kamu cintai, tetapi ingatlah bahwa kamu pasti akan berpisah dengannya
  • Berbuatlah semaumu, tetapi ketahuilah bahwa kamu pasti akan menerima balasanny

Kemudian Jibril berkata lagi :

  • Sesungguhnya kemuliaan seorang mukmin tergantung pada shalat malamnya.
  • Dan harga diri seorang mukmin terletak pada ketidak butuhannya terhadap apa yang dimiliki orang lain. (HR. Thabroni dan al Hakim dalam al Mustadrak)

Al Albani dalam Silsilah al Ahadits ash Shahihah II/485 menyatakan, bahwa hadits tersebut “HASAN” karena terkumpulnya jalur–jalur riwayat yang ada
Pelajaran dari hadits :

Mati itu suatu yang pasti dan ia adalah pintu gerbang menuju kehidupan berikutnya. Sementara kehidupan di dunia ini akan menjadi penentu bagi baik dan buruknya kehidupan yang akan datang. Karenanya Optimalkan disaat masih hidup yang hanya sesaat ini untuk hanya mempersiapkan bekal bagi kehidupan kita berikutnya yang abadi.

Semua yang ada dilangit dan yang ada di bumi ini adalah milik ALLAH Azza Wa Jalla. Kita hanya punya hak pakai sementara. Karenanya, Optimalkan upaya kita, agar semua yang kita miliki untuk sementara ini (suami/istri, anak, rumah, kendaraan dan yang lainnya) bermanfaat bagi kehidupan kita berikutnya.

Semua yang kita kerjakan, kita ucapkan dan bahkan semua yang kita pikirkan/niatkan, akan di pantau, dicatat dan dinilai, yang dikemudian hari akan diganjar. Karenanya Pastikan, semuanya kita lakukan hanya dengan niat untuk merespon perintah ALLAH dan sesuaikan dengan syariat-NYA, agar kita semuanya bisa mendapatkan ridha-NYA.

Setelah kita pastikan bahwa semua yang wajib telah kita tunaikan, maka jangan pernah lupa untuk shalat malam, walau hanya dengan satu rakaat, karena disitulah letak kemuliaan seorang mukmin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang kurang lebih artinya : “Sesungguhnya diwaktu malam itu terdapat suatu waktu yang jika saja bertepatan dengan waktu itu seorang hamba muslim memohon kebaikan kepada ALLAH berkenaan dengan urusan dunia dan akhirat, sudah pasti ALLAH akan memberikannya kepadanya. Waktu itu terdapat pada setiap malam” (HR. Muslim)

Harga diri seorang mukmin terletak pada ketidak butuhannya terhadap apa yang dimiliki orang lain. Itulah yang disebut dengan “Zuhud terhadap apa-apa yang dimiliki oleh manusia”, _yaitu dengan tidak meminta-minta kepada orang lain dan dengan tidak memperlihatkan keinginan terhadap yang dimiliki orang lain serta dengan tidak mengangkat pandangan (ta’ajjub) terhadap yang dimiliki manusia.

Selanjutnya Ust Arifin Jayadiningrat juga membahas Qs. AlHijr: 39, AlHujurat:7 dan resumenya adalah sebagai berikut:

Sehebat apapun manusia tidak akan bisa beribadah dengan baik kecuali dengan rahmat Allah. Mengetahui siapa kita, maka tanyakan kepada siapa yang orang yang terdekat dengan kita. Mengetahui diri, carilah yang dekat, bercerminlah karena cermin itu dekat, cermin di rumah, sopir, pembantu, anak dan istri dll.

Orang yang sukses usahanya, biasanya hubungan dengan istri baik. Ada juga orang yang dengan istri tidak baik, dengan orang lain baik, karena dalam rangka bisnis, dia tidak tahu siapa kita.

Ekspresi kita adalah gambaran dari jiwa kita, jika di dalam tubuh penuh rahmat, maka yang keluar adalah rahmat, menilainya adalah ketika dalam keadaab marah, ketika terjadi benturan. Disitulah kita mengetahui jiwa kita mutmainnah atau tidak, apakah kacamata kita lebih besar dunia atau akhirat.

Trik syetan menjadikan yang negatif menjadi positif. Sebagaimana dalam Alquran surat Alhijr 39 bahwa dia akan membuat yang jelek menjadi indah lauzayyinanna.

Orang2 yg memiliki feeling utk menghindar dr hal2 yg tidak baik. Inilah orang2 yg memiliki Keimanan.

Bagaimana jika kita Shalat tetapi kita tidak bisa lepas dari berbuat Kemaksiatan ? Jawaban nya adalah …Minta kepada Allah. Jangan pernah berhenti meminta kepada Allah. Walau kita sudah baik, anak2 kita sudah baik pasangan kita sdh baik semua sudah baik. Kita tetap harus minta kepada Allah.

Dan Jangan Pernah berhenti meminta kepada Allah Contoh: Jika kita berasa betah dan nyaman berada ditengah2 Orang2 yg sholeh maka Kita akan merasakan betapa Indah Hati kita dibuatnya. Tetapi jika kita sdg berkumpul bersama teman2 yg senang2, dugem dan tidak betah ditengah2 teman2 yg kita tau bermaksiat. Itu tanda2 kita memiliki Iman.

Keinginan kita menurut kacamata kita baik, kita tidak tahu siapa yang men-drive jiwa fujur atau taqwa, tetapi dengan iman dan mencintai kebaikan dan tumbuh feeling untk tahu kita baik atau tidak.

Dunia ini dihiasi seindah indahnya oleh syetan, maka manusia lebih mencintai akhirat dari dunia. Maka disunnahkan untk menumbuhkan kepada kebaikan untuk berdoa dengan doa berikut:

Kekuatan Itu Bernama Cinta


​​Bagaimana perasaan orangtua jika putera yang dulu ditimang-timang, diasuh dan dirawat serta dididik, bertahun kemudian di usia mudanya memilih jalannya sendiri, menjadi teroris…???

Entah bagaimana menggambarkannya… berbaur antara shock, denial, marah, cemas, takut, bingung, sedih, kecewa… berkecamuk dan bergemuruh di dalam dada. Sejak di dalam kandungan, orangtua membangun harapan dan munajatkan do’a agar ananda yang dikasihinya tumbuh dan berkembang menjadi anak shalih, beriman kuat, berilmu tinggi dan pandai beramal. 

Namun jika di kemudian hari ia memilih jalan yang sangat tidak biasa dan bahkan radikal seperti menjadi teroris… umumnya orangtua tidak akan rela. Setiap orangtua menginginkan yang terbaik bagi anaknya, dan menjadi teroris tak pernah ada dalam kamus harapan dan do’a orangtua. 

Film dokumenter “Jihad Selfie” yang dibuat secara khusus oleh Noor Huda Ismail, kandidat Doktor yang saat ini bermukim di Melbourne, Australia, dan berprofesi sebagai Terorrist Rehabilitation Coach, menampilkan satu sosok anak muda asal Aceh, Teuku Akbar Maulana, 18 tahun, yang nyaris berangkat ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS (Islamic State of Iraq and Syria), jaringan teroris internasional yang sepak terjangnya memunculkan keresahan di mana-mana.

Film itu saya saksikan pada Selasa malam lalu, 26 September 2016 di lantai 28 Energy Building, SCBD, Jakarta, melalui acara nobar dengan keluarga besar Bina Antarbudaya (yang menjalankan program pertukaran pelajar AFS, dimana saya dan teman-teman pernah mengikuti program tersebut berpuluh tahun lalu dengan host countries yang berbeda-beda). 

Kami beruntung saat nobar tersebut Akbar, demikian panggilan pemuda asal Aceh tersebut, berkesempatan hadir bersama kedua orangtuanya, Pak Yusri dan Ibu Rina, serta dua saudara kandung Akbar, Cut Anita (kakak) dan Cut Amira (adik). Sebelumnya Akbar dan Noor Huda selama hampir sebulan kemarin telah melakukan roadshow film dokumenter “jihad Selfie” ke beberapa kota di Indonesia, dan berdiskusi perihal film tersebut. 

Politik dan terorisme bukanlah ranah yang saya akan jamah untuk membuat tulisan ini. Namun saat menyaksikan “Jihad Selfie” dan berdialog dengan Akbar dan keluarganya, saya sempat membuat beberapa catatan berdasarkan sharing dan pengamatan saya terhadap interaksi Akbar dengan keluarganya:

  1. Sejak SMP Akbar sudah merantau. Ia melanjutkan pendidikannya di kota Banda Aceh yang berjarak sekitar 8 jam perjalanan melalui darat dari desa tempat tinggalnya di Susoh, Aceh Barat Daya. Di sinilah awal kemandiriannya terasah. Tinggal jauh dari orangtua pada usia yang masih teramat belia tentu memiliki tantangan tersendiri. Ibunya bercerita bahwa selepas SD, Akbar lah yang justru meminta untuk melanjutkan pendidikan di kota dan menetap di asrama. Ia sudah tahu yang menjadi keinginannya dan mulai membangun ambisinya. Kelak kemandirian berpikir dan bertindak inilah yang menjadi bekalnya menentukan pilihan hidup yang tidak mudah baginya. Salut pada orangtua Akbar, yang memberikan restu dan kepercayaan pada puteranya untuk merantau menimba ilmu meskipun usianya masih teramat belia. (Saya sendiri baru berangkat merantau ke Jepang mengikuti program AFS saat usia saya 19 tahun. Tahun 1986-1987).
  2. Selepas SMP, Akbar kembali merantau untuk melanjutkan SMA. Prestasinya di bidang akademik dan olahraga (ia berkali-kali menang dalam pertandingan Badminton), mendukungnya mendapatkan beasiswa penuh dari Turkey Diyanet Foundation. Akbar bersekolah di International Mustafa Gemirli Anatolia Imam Hatip High School di Kayseri, Turki, dimana salah satu alumnusnya yaitu Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan. Di sekolahnya, Akbar dikenal sebagai siswa yang berprestasi. Ia piawai dalam kemampuan public speaking. Di dalam film dokumenter tersebut, ada momen yang terekam saat ia berpidato di kelasnya, dan memukau teman-teman serta gurunya. Sebagaimana umumnya remaja, ia pun sempat melalui periode yang tidak mudah, dan di saat itu lah ia sempat menghadapi konflik dengan egonya. Sebagai remaja laki-laki yang memerlukan role model, ia memiliki ketertarikan untuk tampil gagah danmacho seperti beberapa teman sekolahnya yang telah bergabung menjadi pasukan ISIS di Suriah. Melalui foto2 selfieyang dishare teman-temannya di media sosial, Akbar jadi sering membayangkan dirinya memakai seragam layaknya pejuang yang berjihad dan memegang senjata. Fokusnya pada studi mulai berkurang, apalagi menurutnya materi yang dipelajarinya di sekolah kurang memberikan tantangan. Tujuannya yang semula datang ke Turki untuk belajar, mulai goyah. Ia mulai berpikir untuk ikut program rekrutmen ISIS sebagaimana teman-temannya yang lebih dulu. Ia berada pada persimpangan jalan. Mimpinya terbelah dua, meraih cita-citanya sebagai hafiz (penghapal qur’an) dan menjadi pejuang Islam disiapkan untuk mati syahid. Dalam pergumulan batinnya itu, Akbar tetap menjaga komunikasi dengan kedua orangtua dan saudara-saudaranya di Aceh. Ia bahkan sharing foto-foto teman-temannya yang telah bergabung dengan ISIS. Sehingga meskipun terpisah jarak dan waktu dengan ayah-ibunya, namun rutinnya chatting yang ia lakukan melalui alat komunikasi digital dengan keluarganya, membantunya membangun komunikasi terbuka dengan kedua orangtuanya. Di sisi lain ayah-ibunya pun tetap terinformasikan mengenai kabarnya. Hal ini yang tidak terjadi pada teman-teman Akbar yang lain, terutama yang sudah pergi ke Suriah dan bergabung dengan ISIS. Bahkan di antaranya ada yang berangkat tanpa restu dari orantuanya. Allah swt punya cara indahNya untuk menjagamu, Akbar…
  3. Saat menghadapi pergumulan batin itu, Akbar sempat berdialog dengan seorang gurunya di sekolah Imam Hatip (momen ini direkam oleh Noor Huda, yang memperlihatkan Akbar yang menangis menceritakan konflik yang dihadapinya). Setelahnya ia seperti merasa beban emosinya jadi jauh berkurang. Jiwanya memperoleh pencerahan. Dituntun kesadaran dan ketenangannya, Akbar akhirnya mampu membuat keputusan. Ia memilih mengikuti suara hatinya, dan memutuskan tidak jadi berangkat ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS. Hatinya lebih cenderung memilih keluarganya. Rasa cinta dan hormat pada kedua orangtuanya serta perasaan sayang terhadap kakak dan adiknya memberatkan Akbar melangkah lebih jauh. Nyawanya terlalu berharga bagi seorang Ibu yang telah bersusah payah mengandung dan melahirkannya. Dan, ia tak mau pengorbanan Ibu yang dikasihi dan dihormatinya menjadi sia-sia hanya karena egonya sebagai remaja galau yang sedang berproses mencari jati dirinya (demikian Akbar mendeskripsikannya). Kedekatan emosional yang terbangun antara Akbar dengan kedua orangtua dan saudara kandungnya merupakan kekuatan tersendiri yang mendorong Akbar mengikuti suara hatinya. Ia berhasil melepaskan ilusinya akan jihad dan maskulinitas absurd yang dipropagandakan ISIS melalui media sosial. 

Saat berbincang dengan Pak Yusri, Ayahanda Akbar, beliau bercerita bahwa di keluarga mereka ada kebiasaan yang menjadi ritual keluarga, yaitu berkumpul selepas sholat Maghrib. 

Betapa Indahnya! Sayangnya, ritual keluarga semacam itu sekarang ini menjadi kebiasaan yang teramat langka untuk dilakukan oleh banyak keluarga di negeri ini. 

LOVE always wins… cinta yang sedemikian kuat yang ia rasakan terhadap kedua orangtua dan saudara kandungnya, itulah yang memenangkan hatinya. Keluarga teramat berarti bagi Akbar. Itulah bukti dahsyatnya kekuatan cinta antara orangtua dan anak. 

Masyaa Allah…

Segalanya hanya terjadi atas skenario dan kehendak Sang Maha Rahman dan Rahiim. 

Saya sendiri baru bertemu dengan Akbar dan keluarganya. Tapi saat saya berkesempatan berbicang dengan ayah dan ibu Akbar, saya dapat merasakan betapa mereka sebagai pasangan suami-isteri dan orangtua, membangun koneksi jiwa yang kuat. Kehangatan kasih keduanya tervibrasikan kepada ketiga putera/i-nya demikian indah.

Ayah Akbar adalah guru SD. Dan Ibunya guru SMA. Keduanya pendidik. Berbicara dengan mereka berdua, saya dapat merasakan keramahan dan kebersahajaannya. Bukan kebetulan mereka berdua berprofesi sebagai guru. Semua sudah dalam pengaturan Allah swt. 

Keluarga Akbar adalah bukti nyata bahwa pendidikan yang utama sejatinya adalah di dalam keluarga. Pendidikan yang berlandaskan cinta dan kasih sayang. Pendidikan yang membangun koneksi jiwa yang kuat antar anggota keluarga. Pendidikan seperti ini kurikulumnya tidak didapatkan melalui sekolah formal maupun informal. Hanya ada pada keluarga yang memiliki kesadaran penuh akan peran dan tanggung jawabnya, baik sebagai pasangan suami-isteri maupun sebagai orangtua dari anak-anaknya. 

Di dalam film dokumenter yang dibuatnya, Noor Huda berhasil merekam momen indah saat Akbar pulang dari Turki, setelah ia memutuskan tidak jadi bergabung dengan ISIS dan kembali pada keluarganya di Aceh. Ia di sambut oleh ayah dan ibunya di depan rumah mereka. Akbar langsung memeluk Ibunda yang dikasihinya sambil menangis. Emosinya berbaur antara bahagia, menyesal, sedih dan perasaan lega. Seketika ruangan tempat kami nobar pun dilingkupi suasana haru… saya dan beberapa teman tak kuasa membendung airmata, kami terlarut dalam momen indah itu. 

Satu tantangan hidup telah berhasil dilewati Akbar. Namun perjuangannya belum usai. Ia masih harus kembali ke Turki menyelesaikan pendidikan SMA-nya yang menurut ayahnya tinggal tujuh bulan lagi. Sabtu pekan ini putera semata wayangnya itu akan kembali ke Turki. Bismillah ya, Akbar… insyaa Allah senantiasa dalam penjagaan terbaik dari Allah swt, dan selalu dalam bimbingan serta keridhoanNya. Allahumma amiin…

Di akhir acara, kami daulat Akbar melakukan book signing dadakan untuk novel yang ia tuliskan bersama Astrid Tito, “Boys Beyond the Light,” yang terinspirasi dari film dokumenter “jihad Selfie“.

Saat giliran saya meminta tanda tangannya, saya sampaikan bahwa novel itu adalah hadiah untuk puteri saya, Syifa. Ini pesan yang dituliskan Akbar:

To: Syifa

Selamat membaca

Semangat belajar ya

Buat ortumu tersenyum
Saya pun lantas terbayang wajah puteri tunggal saya, yang telah menjadi yatim sejak ia berusia 7 tahun. Kini usianya 15 tahun. Ia pernah menyampaikan cita-citanya menjadi film maker, dan berkeinginan melanjutkan pendidikan di satu negara yang dikenal dengan kepiawaiannya dalam membuat film. 

Insyaa Allah. Amiin ya, Nak. 

Untuk puteriku, Syifa, Akbar dan anak-anak Indonesia lainnya yang sedang menapaki perjalanan sebagai khalifahNya di bumi ini. Teguhkan niat kalian menuntut ilmu untuk kebaikan dan manfaat, jaga dengan iman dan taqwa padaNya. Amalkan melalui perilaku dan sikap nyata kepada diri dan sesama. Tanamkan kuat cintaNya di dalam jiwa. Hasbunallah wa ni’mal wakil ni’mal maula wa ni’man nashir. 

Puisi ini untuk mengingatkan kalian, bahwa setinggi-tinggi terbang bangau, jatuhnya ke kubangan juga. Keluarga lah sejatinya tempat hati kalian berlabuh…
SURAT DARI IBU

karya Asrul Sani


Pergi ke dunia luas, anakku sayang

pergi ke hidup bebas!

Selama angin masih angin buritan

dan matahari pagi menyinar daun-daunan

dalam rimba dan padang hijau.


Pergi ke laut lepas, anakku sayang

pergi ke alam bebas!

Selama hari belum petang 

dan warna senja belum kemerah-merahan

menutup pintu waktu lampau.



Jika bayang telah pudar

dan elang laut pulang ke sarang

angin bertiup ke benua

Tiang-tiang akan kering sendiri

dan nakhoda sudah tahu pedoman

boleh engkau datang padaku!


Kembali pulang, anakku sayang

kembali ke balik malam!

Jika kapalmu telah rapat ke tepi

kita akan bercerita

“Tentang cinta dan hidupmu pagi hari.”
Untuk informasi lebih lengkap mengenai film dokumenter “Jihad Selfie”, silakan buka link ini: http://www.jihadselfie.com
Foto-foto oleh: Anggy Soetirto-Gustiza, Imar Amran, Syifa Khalila

*********

Sumber :Tulisan Ibu Ita D Azly, Psikolog UI dan Team ICD. 

Link:http://itsdeesjourney.blogspot.co.id/2016/09/juara-sejati-itu-bernama-cinta.

Istriku Bidadariku


IMG_20180829_084631

Kalau saya ditanya siapakah bidadari dalam hidup? Saya jawab dengan mantap dialah istriku.

Istriku bidadariku

Dia mau menemani saya hidup di Jakarta yang dikenal kota yang keras, memulai kehidupan dari nol, dari sebuah kontrakan kecil dan kendaraan sepeda ontel. Padahal lulusan univeritas ternama di Solo dan sudah bergaji mapan di Grabak.

Istriku bidadariku

Dia teman dan partner hidup saat suka dan duka. Menjadi ibu bagi anak-anak saya kelak dan menjadi manajer keuangan yang handal dalam keluarga. Gaji saya sebagai asisten hanya sedikit. Tapi insya Allah istri mampu mengelola gaji saya dengan baik.

Istriku bidadariku

Tak sepatah katapun saya mendengar ia mengeluh. Mau menerima apa adanya hidup ini. Katanya bahagia itu sederhana, tergantung kita bagaimana mensyukurinya. Bila kita bersyukur, maka akan ditambah nikmat itu.
Istriku bidadariku

Dibalik suami yang sukses ada istri setia yang menemani. Insya Allah dia selalu setia menemani dalam perjalanan karir dan hidup saya. Tanpa dukungan penuh darinya mustahil saya bisa berdiri tegak nanti.

Istriku bidadariku

Kesuksesan tidak datang sendirian. Istrilah yang menemani hari-hari agar bermanfaat buat orang banyak. Istriklah yang memberi saran dan masukan bila ada masalah menerpa diri.

Istriku bidadariku

Izinkan saya terus menyayangimu. Meskipun ada saja wanita lain menggoda hati. Namun dirimu tetap di hati.

Istriku bidadariku

Masakanmu adalah masakan terlezat yang ada di dunia. Di tanganmu, semua resep masakan serasa nikmat karena engkau menambahnya dengan bumbu “cinta dan kasih sayang” yang tulus untuk suami.

Semoga cinta kita tak kalah mesra dengan kisah nyata “Ainun dan Habibie”. Kisah kita pasti lebih indah dari kisah mereka. Hanya saja, belum ada sutradara yang pandai memvisualisasikan kisah cinta kita.

Istriku bidadariku

Semoga Allah selalu memberi engkau kesehatan dan terus bersama saya dalam membangun keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah. I love you my wife.

*Ditulis di kontrakan Cinta di hari pertama kami tinggal.

Menjemput Bidadari


IMG_20180829_084631

Nabi Muhammad Saw bersandar;

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا

“Orang yang imannya paling sempurna diantara kaum mukminin adalah orang yang paling bagus akhlaknya di antara mereka, dan sebaik-baik kalian adalah yang terbaik akhlaknya terhadap istri-istrinya”

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya. Dan akulah yang paling baik di antara kalian dalam bermuamalah dengan keluargaku.”

Muhammad bin Ali Asy-Syaukani rahimahullah menjelaskan hadits,

في ذلك تنبيه على أعلى الناس رتبة في الخير وأحقهم بالاتصاف به هو من كان خير الناس لأهله، فإن الأهل هم الأحقاء بالبشر وحسن الخلق والإحسان وجلب النفع ودفع الضر، فإذا كان الرجل كذلك فهو خير الناس وإن كان على العكس من ذلك فهو في الجانب الآخر من الشر،

وكثيرا ما يقع الناس في هذه الورطة، فترى الرجل إذا لقي أهله كان أسوأ الناس أخلاقا وأشجعهم نفسا وأقلهم خيرا، وإذا لقي غير الأهل من الأجانب لانت عريكته وانبسطت أخلاقه وجادت نفسه وكثر خيره، ولا شك أن من كان كذلك فهو محروم التوفيق زائغ عن سواء الطريق، نسأل الله السلامة

“Pada hadits ini terdapat peringatan bahwa orang yang pailng tinggi kebaikannya tertinggi dan yang paling berhak untuk disifati dengan kebaikan adalah orang yang terbaik bagi istrinya. 

Karena istri adalah orang yang berhak untuk mendapatkan perlakuan mulia, akhlak yang baik, perbuatan baik, pemberian manfaat dan penolakan mudharat.

 Jika seorang lelaki bersikap demikian maka dia adalah orang yang terbaik, namun jika keadaannya adalah sebaliknya maka dia telah berada di sisi yang lain yaitu sisi keburukan.

Banyak orang yang terjatuh dalam kesalahan ini, engkau melihat seorang pria jika bertemu dengan istrinya maka ia adalah orang yang terburuk akhlaknya, paling pelit, dan yang paling sedikit kebaikannya. 

Namun jika ia bertemu dengan orang lain, maka ia akan bersikap lemah lembut, berakhlak mulia, hilang rasa pelitnya, dan banyak kebaikan yang dilakukannya. 

Tidak diragukan lagi barangsiapa yang demikian kondisinya maka ia telah terhalang dari taufik (petunjuk) Allah dan telah menyimpang dari jalan yang lurus. Kita memohon keselamatan kepada Allah.”

2 bulan saya dan istri LDR-an dengan alasan saya belum menyiapkan kontrakan kecil untuk kami berdua selain saya juga masih harus bantu bantu Ust Arifin Jayadiningrat.

Dan istri pun masih mengajar di SMA I’tisham di Grabak, dan alhamdulillah awal bulan ini baru selesai mengajar dan sudah selesai bikin laporan.

Alhamdulillah, sudah siap ‘kontrakan cinta’ milik kami, beberapa hari sebelum ke Jonggol saya penuhi perabotan kontrakan yang harus ada.

Sore ini saya akan pulang ke Grabak menjemput ‘bidadari’ saya. Dan insya Allah di hari Sabtu saya ajak ke Jakarta.

Di Jakarta, beliau akan menemani saya membantu Ust Arifin Jayadiningrat di ICD dan APB yang dipimpin Ust Arifin Jayadiningrat  dan Bimbel CintaQu di Bintaro.

Semoga urusan kami dimudahkan dan kelak menjadi keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah dan saya bisa menjadi suami yang baik untuk istri.

Jumal Ahmad ♥ Hafidzah

Kajian Akhlak Senin Pagi di Masjid Raya Pondok Indah: Cinta Kepada Allah


Cinta Allah

“Soul Food” dengan Tema: Bangunan Cinta Bersama Ust Arifin Jayadiningrat di 94.7 UFM Moms Community


Saya mencintaimu.
Saya mengagumimu.
Saya mengharapkanmu.
Saya selalu ingin dekat denganmu.

Kata kata itu sering kita dengar bahkan kita ucapakan.

Sejak lahir kita tidak memiliki apa apa. Kemudian Allah memberikan nikmat yang banyak tak terhingga termasuk❤rasa cinta.

Continue reading

%d bloggers like this: