Bangunan Bangsa Tergantung Akhlaknya


wp-image-1376349069

Bangunan bangsa tergantung kepada akhlaknya. Kegagalan para pemimpin karena dekadensi moral mereka. Dulu ada pelajaran PMP dan P4. Berbagai kajian-kajian dilakukan banyak lembaga pendidikan untuk turut membangun bangsa ini.

Pemerintah sekarang menggalakkan gerakan Revolusi Mental realitanya hanya jargon politik yang “dijual” untuk pencitraan. Kegagalan bukan saja dalam lingkup nasional bahkan lembaga pendidikan di seluruh tingkatan,  juga keluarga dengan indikasi perceraian semakin meningkat tajam.

Tak luput upaya pribadi dalam membangun akhlak mulia penuh tantangan berat di zaman digital ini. Saatnya kita analisa kenapa sering gagal dalam pembentukan moral ( pribadi, keluarga dan masyarakat) ?

Saatnya kita mencari beberapa solusi setelah review ulang segala upaya untuk membangun moral dari kurikulum pendidikan agama, pendidikan dalam rumah tangga, bahkan di dalam diri kita ( meta level reflection ).

Kemampuan seseorang untuk berkaca terhadap diri sendiri (meta level reflection) semakin dirasa penting untuk dimiliki setiap orang. Meta Level Reflection itu seperti seseorang yang bercermin di depan cermin, take perlu bantuan orang lain untuk mengetahui kekurangan diri.

Biasanya orang yang memiliki meta_reflection tinggi lebih mudah melihat kekurangan diri dan punya pola pikir berkembang (Growth Mindset). Sementara yang lemah meta level reflection-nya cenderung merasa benar dan menganggap orang lain salah (Fix Mindset).

Meta level Refflection yang kami tulis di atas, menurut saya perlu untuk dikaji dan dikenalkan dalam pembelajaran di kelas, dimana pembelajaran hari ini lebih kepada Kognisi, dan meminggirkan Aspek Afeksi. Salah satu cara mengasah Afeksi adalah dengan Meta-Level Reflection atau kemampuan untuk berkaca pada diri sendiri.

Orang yang punya MLR tinggi akan mampu belajar dari dirinya, dari orang lain bahkan dari lingkungan tempat dia tinggal, karena terus belajar, maka selau merasa diri berkekurangan dan tidak mudah merendahkan orang lain.

Negara kita bukan miskin (terbelakang) karena kurang sumber daya alam, atau karena alam yang kejam kepada kita. Kita terbelakang, lemah dan miskin karena perilaku kita yang kurang/ tidak baik.

Kita kekurangan kemauan untuk mematuhi dan mengajarkan prinsip dasar kehidupan yang akan memungkinkan masyarakat kita pantas membangun masyarakat, ekonomi dan negara.

Mari teruskan pesan berikut ini kepada teman-teman anda agar mereka merefleksikan hal ini. Kita harus mulai dari sekarang dan perubahan dimulai dari diri kita sendiri.

Sila share slide presentasi ini. []

Jiwa Besar


Mengingatkan saja sikap JIWA BESAR Sahabat Abu Bakar saat dinobatkan menjadi khalifah setelah wafatnya Nabi Muhammad saw.

Abu Bakar berkata:

“Saya, bukanlah yang terbaik diantara kamu sekalian.

Oleh karena itu saya sangat menghargai dan mengharapkan saran dan pertolongan kalian semua. Menyampaikan kebenaran kepada seseorang yang terpilih sebagai penguasa adalah kesetiaan yang sebenar-benarnya;

Sedang menyembunyikan kebenaran adalah suatu kemunafikan. 

Orang yang kuat maupun orang yang lemah adalah sama kedudukannya dan saya akan memperlakukan kalian semua secara adil.

Jika aku bertindak dengan hukum Allah dan Rasul-Nya, taatilah aku, tetapi jika aku mengabaikan ketentuan Allah dan Rasul-Nya, tidaklah layak kalian menaatiku.”

Dahsyat !!! PESAN👆sang Khalifah.

1.Tidak Sombong Merasa Terbaik.

Lihat sekarang belum menjadi pemimpin saja sudah merasa terbaik !

 Bersama para pendukungnya merasa “ini yang terbaik”.

Lihat sekarang para pemimpin pejabat negara atau organisasi apapun, ormas apapun, parpol apapun kebanyakan justru merasa “saya terbaik dari kalian” maka selalu memandang “under estimate” kepada orang lain.

2. Menghargai dan Mengharap Pendapat Orang lain,  Nasehat dan Masukan

Ini gambaran orang yang BERJIWA BESAR growth mind set (pikiran terbuka) buka type yang fix mind set (pikiran tertutup merasa paling hebat).

Lihat sekarang nasehat dan masukan dikecam dianggap arogan. Dilabel “Kritikan tajam dan tidak bermoral”.

Padahal Abu Bakar mengatakan “masukan pendapat orang lain adalah PERTOLONGAN bagi pemimpin !! Bahkan itulah KESETIAAN kepada pemimpin !!.

Sekarang ?!

Pemuja pemimpin adalah yang setia !!

3. Tidak ada Dusta, Katakan yang Benar walaupun Pahit dirasakan !!.

Abu Bakar mengatakan MUNAFIK bagi yang DIAM bila ada yang dipendam dalam hati tidak berani mengingatkan ! Apalagi yang hanya memuji muji.

Zaman sekarang ?

Berhadapan dengan para pemimpin hanya pujian pujian terhadap pemimpin.

 Inilah gambaran kemunafikan !!.

4. Keadilan diatas segalanya.

Adil dalam arti semuanya. Orang lemah orang kuat sama sama di dengar itupun salah satu bentuk keadilan.

Bukan harus orang tenar dan kuat yang didengar.

Sekarang ?

Yang didengar hanya orang yang memuji dan orang hebat.

5.Pedoman yang terdahsyat adalah ALQURAN DAN HADIST Selama sesuai dengan pedoman hidup maka harus didengar

Sekarang yang jadi standar adalah Pride sang pemimpin atau organisasi.

Pidato tersebut berisi prinsip-prinsip kekuatan demokratis, dan bukan kekuasaan yang bersifat otokratis.

Semoga para pemimpin pejabat negara,  parpol, ormas, yayasan, organisasi apapun mau  mengingat pesan sang Khalifah.

Post by: Islamic Character Development-ICD

Rekening Bantuan Sosial Mentawai Yayasan Aksi Peduli Bangsa


image

%d bloggers like this: