Thuruq Tafsir Menurut Ibnu Taimiyyah


quran-radio-banner

Menurut Dadang Darmawan bahwa Istilah tafsir bil ma’tsur baru ditemukan melalui tafsir yang ditulis oleh As-Suyuthi berjudul Ad-Duur Al-Mantsur fit Tafsir bil Ma’tsur, dimana beliau menyebutkan bahwa terminologi tersebut dapat ditelusuri hingga zaman Ibnu Taimiyyah. Dan memang dalam Muqaddimah fi Ushulit Tafsir definisi demikian disampaikan oleh Ibnu Taimiyyah, tetapi ia tidak mengistilahkannya dengan tafsir bil ma’tsur, ia hanya menyebutnya ahsanu thuruq tafsir.

  Continue reading

Mengenal Ilmu Ushul Tafsir


Menurut Fahd Ar-Rumi Yaitu suatu kaidah dan pokok-pokok yang membangun ilmu Tafsir yang pembahasannya meliputi mufasir seperti syarat, adab dan juga tentang tafsir seperti kaidah, thuruq, metode dan yang lainnya. Atau pengertian lainnya Ilmu untuk memahami al-quran secara benar dan menyingkap cara penafsiran yang sesat dan menyeleweng. Dan Menurut Musaid Ath-Thayyar adalah pokok dan pengantar ilmiah guna memahami tafsir, perbedaan dan cara bergaul dengan tafsir.

Continue reading

Tafsir Nabawi


المسجد-النبوي-الشريف-_-أرشيفية

Rasulullah adalah penafsir dan pensyarah utama Al Quran. Sebab pada waktu itu hanya beliau yang menjelaskan kepara para sahabatnya tentang pengertian lafadz dan makna yang terkandung di dalamnya. Mengkaji tafsir Rasulullah merupakan sebuah kajian yang memiliki bobot ilmiah yang sangat tinggi. Tafsir Rasulullah merupakan embrio karya-karya tafsir para ulama yang darinya bermunculan kitab-kitab tafsir, hadits dan berbagai macam disiplin ilmu lainnya dalam khazanah Islam yang membicarakan riwayat-riwayat Rasulullah dalam tafsir. Riwayat-riwayat ini memiliki peran yang sangat besar bagi perkembangan ilmu tafsir itu sendiri. Melalui riwayat-riwayat seperti inilah kajian ilmu tafsir dapat berkembang. Continue reading

Tafsir Surat An-Nisa Ayat 47-50: Hukum Syirik


Islamic_Wallpaper_Quran_004-1366x768

Asbabun Nuzul

Ibnu Ishaq meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah saw pernah berbicara dengan para pimpinan ulama yahudi, di antara mereka Abdullah bin Shuriya dan Ka’ab bin Asad, Rasulullah saw berkata: “Wahai kaum yahudi, takutlah pada Allah dan masuk islam-lah, demi Allah sungguh kalin tahu bahwa yang aku bawa adalah benar” mereka menjawab: “Kami tidak tahu itu wahai Muhammad, mereka menolak apa yang telah mereka ketahui ilmunya dan terus dalam kekafiran. Maka Allah swt menurunkan ayat ini. (Tafsir Al-Munir Lizzuhaili: 5: 102)

Intisari Tafsir

Allah swt memerintahkan Ahluk Kitab Yahudi dan Nasrani untuk beriman terhadap Al-Quran yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw sebagai pembenar atas kitab-kitab samawi terdahulu. Kemudian Allah swt mengancam, sekiranya mereka tidak melakukan itu, Allah akan mengubah wajah mereka lalu diputar ke belakang sebagai penghinaan atau dihancurkan seperti orang-orang yang berbuat maksiat pada hari sabtu (ashabus sabt) atau dikutuk menjadi kera dan babi. Dan sungguh perkara Allah itu pasti terlaksana, ketika Dia telah menetapkan sesuatu tidak ada yang bisa menghalangi dan menyelisihi-Nya.

Dan Allah swt tidak akan mengampuni orang yang mati dalam keadaan musyrik dan belum bertaubat ketika hidup di dunia, akan tetapi jika ia mau bertaubat sebelum ajal menjemput, Allah akan mengampuninya, sebagaimana ditegaskan oleh Allah swt: “Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu, “jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa mereka yang telah lalu..”. (QS Al Anfal: 38)

Allah menyebut orang musyrik sebagai muftari atau pembohong lantaran mereka berani berkata palsu tentang keesaan Allah dan mengatakan bahwa Allah memiliki sekutu dari kalangn makhluk, memiliki teman bahkan anak. Mereka ini jelas-jelas telah berbohong.

Syirik ada dua macam, yaitu syirik besar dan syirik kecil. Syirik besar mengakibatkan pelakunya ke luar dari agama Islam, serta kekal selama-lamanya dalam neraka bila tidak taubat darinya. Adapun syirik kecil tidak mengeluarkan pelakunya dari dienul Islam, hanya mengurangi nilai tauhid dan dapat menghantarkan kepada syirik besar jika tidak segera ditanggulangi. (Tafsir Al-Munir Lizzuhaili: 5: 103, Kitab Tauhid Syaikh Shalih Fauzan dan Kitab Tauhid Syaikh Abdul Wahab At Tamimi)

Hadits

Dari Abu Hurairah r.a. berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: ‘Aku adalah sekutu yang paling tidak memerlukan sekutu, barangsiapa melakukan suatu amalan dengan menyekutukan-Ku dengan selain-Ku, Aku meninggalkannya dan sekutunya’.” (HR Muslim no 5300)

Panduan Amal

Contoh bentuk-bentuk syirik di zaman sekarang

  1. Meminta kepada selain Allah disamping meminta kepada-Nya
  2. Meyakini bahwa para nabi dan wali mengetahui perkara-perkara yang ghaib
  3. Menyetarakan cinta pada makhluk dengan cintanya kepada Allah
  4. Mentaati makhluk dalam hal menghalalkan apa yang diharamkan Allah dan mengharamkan apa yang dihalalkan Allah
  5. Meyakini bahwa ada makhluk yang sudah mati atau makhluk ghaib yang bisa mengatur dan mendatangkan madharat.
  6. Membuat undang-undang yang bertentangan dengan syariat Islam

Khazanah Pengetahuan

Sekilas tentang tauhid dan macam-macamnya

Tauhid berarti mengesakan Allah semata dalam beribadah dan tidak menyekutukan-Nya. Ini merupakan ajaran semua rasul dan pokok semua ajaran. Jika pokok ini tidak ada, amal perbuatan jadi tidak bermanfaat dan gugur karena tidak sah tanpa landasan tauhid.

Ulama membagi tauhid dalam tiga macam yaitu: Tauhid Rububiyah, Tauhid Uluhiyah dan Tauhid Asma’ wa Shifat.

  1. Tauhid Rububiyah adalah: mengakui bahwa tidak ada penguasa seluruh alam kecuali Allah yang menciptakan dan member rizki. Tauhid ini juga diikrarkan oleh orang musyrik dahulu, akan tetapi pernyataan mereka tidak membuat mereka masuk Islam dan membebaskan mereka dari api neraka, karena mereka tidak mewujudkan Tauhid Uluhiyah, bahkan mereka berbuat syirik dengan memalingkan ibadah kepada selain Allah.
  2. Tauhid Uluhiyah disebut juga tauhid Ibadah, yaitu mengesakan Allah dalam seluruh amalan ibadah yang diperintahkan seperti tawakal, khusyu’, takut, meminta pertolongan, menyembelih, nazar dan ibadah lainnya yang Allah perintahkan.
  3. Tauhid Asma’ wa Shifat yaitu mengimani bahwa Allah swt memiliki zat yang tidak serupa dengan makhluknya dan memiliki sifat yang tidak serupa dengan makhluknya. Dan nama-nama Allah dengan jelas menyatakan sifat-sifat-Nya yang sempurna secara mutlak. Sebagaimana ditegaskan oleh Allah lewat firman-Nya: “Tidak ada sesuatupun yang menyerupainya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (QS As-Syura:11) (Kitab Tauhid oleh Shalih Fauzan juz 1)

Doa Ma’tsur

Doa agar terhindar dari syirik

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ وَأَسْتَغْفِرُكَ مِمَّا لاَ أَعْلَمُ.

“Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepadaMu, agar tidak menyekutukan kepadaMu, sedang aku mengetahuinya dan minta ampun terhadap apa yang tidak aku ketahui.” (HR Ahmad no 4/403)

Tafsir Surat Ali Imran Ayat 18-20: Allah SWT Maha Perkasa dan Maha Bijaksana


Islamic_Wallpaper_Quran_001-1366x768

Ulumul Quran

Surat Ali Imran termasuk dalam surat Madaniyyah atau surat yang turun ketika Rasulullah saw. di Madinah, adapun Makkiyyah adalah surat yang turun ketika Rasulullah saw di Makkah.

Ulama berbeda-beda dalam menafsirkan maksud Makki dan Madani. Ada yang mengatakan bahwa Makki adalah ayat yang turun sebelum hijrah dan Madani setelah hijrah, pendapat ini dipegang mayoritas ahli ilmu, ada yang mengatakan Makki itu ayat yang turun di Makkah sekalipun setelah hijrah dan Madani ayat yang turun di Madinah, dan pendapat ketiga mengatakan bahwa Makki adalah ayat yang ditujukan kepada orang Makkah dan Madani ayat yang ditujukan kepada orang Madinah. (Al Itqan fi Ulumil Quran: 101)

 Intisari Tafsir

Al Hakim berarti Dzat yang tidak pernah melakukan keburukan yang setiap perbuatan-Nya mengandung hikmah dan kebenaran. Al Aziz artinya dzat yang selalu menang dan tidak pernah kalah.

Al Hakim merupakan salah satu nama Allah yang paling agung. Kata Al Hakim sering disandingkan dengan asma Allah lainnya seperti Al Aliim dan Al Aziz yang menunjukkan bahwa hikmah Allah itu muncul dari ilmu dan kemuliaan-Nya.

Hikmah Allah swt ada dua macam. Pertama, Hikmah dalam ciptaan-Nya, Dia menciptakan makhluknya dalam bentuk yang paling sempurna tanpa ada cacat, cela dan kekurangan yang sekiranya seluruh manusia dari yang awal sampai akhir berkumpul untuk membuat semisal ciptaan-Nya tidak akan sanggup dan tidak akan bisa. Kedua, Hikmah dalam syariat dan aturan-aturan-Nya, Allah swt menurunkan kitab dan mengutus para rasul untuk mengajarkan manusia beribadah dan mengenal tuhan-Nya, alangkah agung dan mulianya hikmah ini, hikmah yang akan mengantarkan kepada kebahagiaan dan ketenangan hati di dunia dan di akhirat kelak.

Di antara sifat Al Hakim itu juga Al Hakam yaitu dzat yang membuat hukum. Allah adalah Al Hakam bagi hamba-Nya di dunia dan akhirat dan pembuat syariat dan hukum Allah buat untuk hamba-Nya. Hukum Allah ada dua macam, yaitu: hukum syar’i dan hukum kauni. Hukum syar’i adalah hukum-hukum yang telah Allah syariatkan untuk seluruh manusia seperti halal dan haram, yang tidak ada salah dan catat sedikitpun dan ketika Allah memerintah atau melarang sesuatu pasti terdapat hikmah besar di dalamnya. Adapun hukum kauni adalah hukum alam yang terjadi di alam ini yang telah Allah atur dengan kata “Kun”.

Manusia bukanlah pembuat hukum, karena hukum hanya milik Allah, karena itu manusia tidak boleh diberi julukan Abul Hakam, sebagaimana diceritakan dalam sebuah hadits ketika Nabi saw datang kepada suatu kaum lantas ada pemimpin dari kaum itu yang dipanggil dengan julukan Abul Hakam lantaran ia sering memecahkan masalah di antara keluarga dan masyarakat sekitarnya. Lalu Nabi menanyakan jumlah anaknya dan menyebutkan anak terakhirnya bernama Syuraih, maka Nabi mengganti kuniahnya dengan nama Abu Syuraih. (Maqam Al Asna fi Tafsir Asmaullahul Husan: 34, Tafsir Asmaullahul Husna: Abdurrahman bin Nashr As-Sa’di: 3: 35, Dur Mantsur fit Tafsir bil Ma’tsur oleh Jalaluddin As Suyuthi: 3:484)

Hadits

Dari ‘Amru bin’Ash bahwa dia pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Jika seorang hakim berijtihad dalam menetapkan suatu hukum, dan ternyata hukumnya benar, maka hakim tersebut akan mendapatkan dua pahala, dan apabila dia berijtihad dalam menetapkan suatu hukum, namun dia salah, maka dia akan mendapatkan satu pahala.” (HR Muttafaqun Alaih. Bukhari no. 6805, Muslim no. 3240)

Panduan Amal

Cara meneladani sifat Allah yang Maha Bijaksana

  1. Berusaha menunjukkan bukti kebenaran tanda-tanda kebesaran melalui sifat Allah yang Maha Bijaksana.
  2. Setelah mengetahui bahwa Allah maha bijaksana dalam membuat hukum, hendaknya menerima syariat itu dengan lapang dada.
  3. Tidak menolak setiap hukum syariat yang telah Allah tetapkan
  4. Meyakini dalam hati bahwa semua hikmah yang ada adalah penguat bagi sifat kesempurnaan Allah
  5. Mentadabburi semua ciptaan Allah yang ada di langit maupun di bumi untuk lebih mengenal ke-Maha bijaksanaan Allah
  6. Selalu berbuat bijak dalam setiap tindakan dan tidak sembrono yang sering beruujung pada penyesalan akibat kurang perhitungan.

Khazanah Pengetahuan

Makna Laa ilaha Ilallah

Maknanya adalah tidak ada yang disembah di langit dan di bumi dengan benar kecuali Allah semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Sesuatu yang disembah dengan batil banyak jumlahnya, tapi yang disembah dengan benar hanyalah Allah. Sebagaimana Allah isyaratkan dalam firman-Nya: “(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) yang haq dan sesungguhnya apa yang mereka seru selain Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar”. (QS. Al Hajj: 62)

Kalimat Laa ilaha Ilallah bukan berarti “Tidak ada pencipta selain Allah” sebagaimana yang difahami oleh sebagian orang, karena orang kafir Quraisy sendiri mengakui bahwa pengatur dan pencipta alam ini adalah Allah, akan tetapi mereka mengingkari penghambaan seluruhnya semata pada Allah dan tanpa menyekutukan-Nya.

Laa Ilaha illallah mempunyai rukun dan syarat. Rukunnya adalah an Nafyi dan al Itsbat. Sedangkan syaratnya ada tujuh yang tidak bermanfaat bagi yang mengucapkannya kecuali terpenuhi semuanya:

  1. Al ‘Ilmu (mengetahui) yang meniadakan Al Jahlu (kebodohan).
  2. Yaqiin yang meniadakan Asy Syak (keraguan).
  3. Menerima yang meniadakan Ar Radd (penolakan).
  4. Al Inqiyad tunduk yang meniadakan At Tarku (meninggalkan).
  5. Ikhlas yang meniadakan kesyirikan.
  6. As Sidqu (jujur) yang meniadakan kebohongan.
  7. Cinta yang meniadakan benci.

Syahadat ialah persaksian dengan hati dan lisan, dengan mengerti maknanya dan mengamalkan apa yang menjadi tuntutannya, baik lahir maupun batin. (Fathul Majid,, Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh, hlm. 86, Kitab Tauhid Syaikh Shalih Fauzan: 34)

Doa Ma’tsur

Doa agar terhindar dari syirik

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ وَأَسْتَغْفِرُكَ مِمَّا لاَ أَعْلَمُ.

“Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepadaMu, agar tidak menyekutukan kepadaMu, sedang aku mengetahuinya dan minta ampun terhadap apa yang tidak aku ketahui.” (HR Ahmad no 4/403)

Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 40-48: Allah SWT Maha Pemberi Nikmat


maxresdefault

Asbabun Nuzul

Alwahidi menyebutkan dari Ats Tha’labi dari Ibnu Abbas bahwa ayat ini turun kepada orang Yahudi Madinah yang mengajak anak, saudara dan kerabatnya yang masuk Islam agar berpegang teguh dan mengikuti ajaran Muhammad karena dia itu benar, meski demikian mereka tidak melaksanakan ajakan tersebut untuk diri mereka sendiri. (Asbabun Nazul oleh Alwahidi hal 13)

As-Suudi juga menyebutkan bahwa orang Bani Israil itu mengajak manusia untuk mentaati Allah, bertaqwa dan mengerjakan kebaikan, tapi mereka menyelisihinya sehingga Allah menghukum mereka. (Tafsir Ibnu Katsir 1: 85) Continue reading

Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 257: Allah SWT Pelindung Orang Beriman


alquran

Sababbun Nuzul

Ibnu Jarir Ath-Thabari meriwayatkan Abdah bin Abi Lubabah tentang firman Allah ((اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا)) bahwa mereka adalah orang-orang yang beriman atas kenabian Isa as, ketika Muhammad saw datang, mereka pun beriman dan turunlah ayat ini. (Tafsir Al-Munir Lizzuhaili: 3: 20)

Intisari Tafsir

Dalam ayat ini Allah swt mengabarkan bahwa Dia akan senantiasa memberi petunjuk kepada orang yang mengikuti jalan-Nya menuju jalan keselamatan. Untuk itu, Allah mengeluarkan hamba-hamba-Nya yang mukmin dari kegelapan, kekufuran dan keraguan kepada cahaya haq yang jelas, gamblang, mudah dan bercahaya. Penolong orang kafir adalah syetan, syetanlah yang menghiasi mereka dengan kebodohan dan kesesatan. Syetan mengeluarkan mereka dan menyimpangkan mereka dari perkara yang hak kepada kekufuran dan kebohongan.

Allah membagi manusia menjadi dua golongan; golongan yang beriman kepada-Nya dan tidak mensekutukan-Nya sedikitpun, aqidah mereka bersih dari noda-noda kesyirikan dan mengkufuri thaghut, golongan kedua adalah adalah orang yang beriman kepada thaghut, mereka menjadikan Thaghut sebagai wali dan pelindung, sehingga Allah menyesatkan mereka dan mengharamkan kebahagiaan.

Maka orang yang beriman akan ditambahkan petunjuk dan dimudahkan oleh Allah swt untuk menerima ajaran-ajaran Islam, keyakinan islam yang ada dalam hati memudahkan dia menerima setiap kebenaran dan imannya bertambah setiap harinya, sementara orang yang lebih memilih kekafiran, maka hatinya akan tertutup untuk menerima kebenaran dan sebagai balasannya ia akan terus dalam keragu-raguan dan kesesatan setiap harinya.

Ayat ini juga menunjukkan bahwa jalan kesesatan itu bermacam-macam dan jalan kebenaran hanya ada satu, yang bisa diketahui dari kata ad-dhulumaat yang berbentuk jamak/plural dan kata an-nur yang berbentuk sendiri, hal ini juga disebutkan oleh Allah swt dalam surat Al-An’am: 153: “Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertaqwa”.(Dur Mantsur fit Tafsir bil Ma’tsur oleh Jalaluddin As Suyuthi: 3: 202, Taisiru Karimi Ar-Rahman Fi Tafsiri Kallamil mannan, Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di: 188)

Hadits

Dari Abu Hurairah menuturkan, Rasulullah saw. bersabda: “Allah berfirman; Siapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku umumkan perang kepadanya, dan hamba-Ku tidak bisa mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada yang telah Aku wajibkan, jika hamba-Ku terus menerus mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan sunnah, maka Aku mencintai dia, jika Aku sudah mencintainya, maka Akulah pendengarannya yang ia jadikan untuk mendengar, dan pandangannya yang ia jadikan untuk memandang, dan tangannya yang ia jadikan untuk memukul, dan kakinya yang dijadikannya untuk berjalan, jikalau ia meminta-Ku, pasti Kuberi, dan jika meminta perlindungan kepada-Ku, pasti Ku-lindungi.” (HR Bukhari no 6021)

 

Panduan Amal

Cara menghadirkan pertolongan dan perlindungan Allah

  1. Berusaha menjadi wali Allah karena wali Allah akan diarahkan dan dibela oleh-Nya
  2. Istiqamah melaksanakan amalan fardhu dan sunnah karena dicintai Allah
  3. Hanya berwali kepada orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya
  4. Mencintai Allah, dengan kecintaan Allah seluruh makhluk di langit dan bumi akan mencintainya pula (HR Bukhari)
  5. Menelaah dan meneladani kehidupan Rasulullah,  para sahabat dan para ulama dalam masalah kewalian.
  6. Senantiasa melibatkan diri dalam lingkungan orang-orang shaleh dan aktifitas keislaman untuk memelihara dan mempertahankan loyalitas.
  7. Menolong wali-wali Allah dan memusuhi musuh-musuh-Nya

Khazanah Pengetahuan

Sekilas tentang Thaghut

Secata bahasa, kata “Thaghut” berasal dari: ”Ath Thughyan” yang artinya serakah dan melampaui batas, sebagaimana perintah Allah kepada nabi Musa untuk berdakwah kepada Firaun karena dia melampaui batas. Adapun secara istilah, Ahli Ilmu mengartikan kata Thaghut dengan Syetan, tukang sihir, tukang dukun, ada yang mengatakan bahwa Thaghut itu setiap orang yang melampaui batas kedhalimannya dan ada yang mengatakan bahwa kata Thaghut mencakup semua yang disebutkan tadi.

Imam Thabari meringkas pengertian Thaghut bahwa Thaghut adalah Setiap orang yang melampaui batas yang meminta dijadikan sesembahan selain Allah baik secara paksaan atau kerelaan dari kalangan manusia, syetan, patung dan sesembahan. Sementara itu, secara implicit Ibnu Qayyim menyebut lima orang pimpinan thaghut yaitu Iblis yang dilaknat Allah, orang yang disembah dan dia ridha, orang yang menyeru manusia untuk menyembahnya, orang yang mengaku-aku tahu ilmu ghaib dan oran yang berhukum dengan selain Allah swt. (Tafsir Al-Munir Lizzuhaili: 3: 26)

Doa Ma’tsur

Doa bertemu musuh dan penguasa

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَجْعَلُكَ فِيْ نُحُوْرِهِمْ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ شُرُوْرِهِمْ

“Ya Allah! Sesungguhnya aku menjadikan Engkau di leher mereka (agar kekuatan mereka tidak berdaya dalam berhadapan dengan kami). Dan aku berlindung kepadaMu dari kejelekan mereka.” (HR Abu Dawud no. 1314)

%d bloggers like this: