Optimisme Dalam Kehidupan: Qadha dan Qadar Oleh Ust. Arifin Jayadiningrat


Berikut ini link download transkrip kajian Majelis Ahad Pagi di Masjid Raya Pondok Indah bersama Ust Arifin Jayadiningrat dengan tema Optimisme dalam Kehidupan Qadha dan Qadar.

Setiap hari Ahad Pagi, di Masjid berwarna biru yang terletak di Jalan Sultan Iskandar Muda ini rutin mengadakan kajian dari para Ustadz terkenal di Jakarta, salah satunya adalah Ust Arifin Jayadiningrat yang temanya selalu menarik dan fokus dalam pembangunan akhlak.

Jadwal Kajian Ahad Pagi selama tahun 2018.

Link Transkrip kajian tanggal 4 Maret 2018

https://drive.google.com/file/d/19iRTuRzlolqchbInc-s__3gE4hE53PXI/view?usp=drivesdk

Link Transkrip kajian Tanggal 11 Maret 2018 (belum siap)

Dan berikut link Live YouTube yang saya rekam tadi, namun mohon maaf hasilnya kurang bagus karena miring..๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™ namun dari segi suara alhamdulillah bagus…jadi silahkan nikmati audio kajiannya ya…

Berpakaianlah [3]


 

Saat lapar tiba tiba tercium aroma aneka daging bakar yang diolah dengan bumbu, tentu akan tergoda memakannya. 

Saat tergiur untuk memakannya tiba tiba diberitahu bahwa itu sebetulnya daging bangkai.

Pertanyaanya apakah tetap tergiur nafsu memakannya atau langsung hilang selera?. 

Manusia yang normal akan hilang selera, terlebih lagi diberitahukan bahwa itu daging bangkai manusia !!. Aroma harum tadi sudah tak terasa harum, yang ada ingin muntah.

Realita kehidupan justru tidak demikian, malah semakin terasa nikmat dan tetap ingin memakannya. Itulah gambaran Al-Quran tentang membuka aib orang lain. 

Sahabat Rasulullah โ€˜Amru bin Al-โ€˜Ash Radhiyallahu โ€˜anhu melewati bangkai seekor bighol ( semacam keledai), lalu beliau berkata: โ€œDemi Allah, salah seorang dari kalian memakan daging bangkai ini (hingga memenuhi perutnya) lebih baik baginya daripada ia memakan daging saudaranya (yang muslim)โ€.



Hal ini berangkat dari ayat AlQuran โ€œDan janganlah sebagian kalian mengghibahi sebagian yang lain. Sukakah salah seorang dari kalian memakan daging bangkai saudaranya yang telah mati, pasti kalian membencinya. Maka bertaqwalah kalian kepada Allah, sungguh Allah Maha Menerima taubat dan Maha Pengasihโ€.  [Al Hujurat :12]

Bayangkan betapa kotornya seseorang pemakan bangkai. Inilah dosa ghibah dijelaskan dalam hadits. 
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu โ€˜anhu bahwsanya Rasulullah Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda: โ€œTahukah kalian apakah ghibah itu?โ€. Sahabat menjawab: โ€œAllah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahuiโ€. 

Nabi Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda, Yaitu engkau menyebutkan sesuatu yang tidak disukai oleh saudaramuโ€,  

Nabi Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam ditanya: โ€œBagaimanakah pendapat anda, jika itu memang benar ada padanya ? 

Nabi Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam menjawab: “Kalau memang sebenarnya begitu berarti engkau telah mengghibahinya, tetapi jika apa yang kau sebutkan tidak benar maka berarti engkau telah berdusta atasnyaโ€. 



Membuka aib orang lain sama saja membuka aib diri sendiri, tak ubahnya dengan membuka pakaian sendiri, menyakiti diri sendiri. 

Tragisnya, sudah ada ancaman yang menjijikkan laksana memakan bangkai tetap saja membobgkar aib dan banyak yang tertarik mendengarnya, itupun bila yang diceritakan benar. Apabila tidak benar , jelas lebih parah dosanya dan termasuk fitnah kebohongan terhadap orang lain, tentu lebih menjijikkan lagi. 

Ingat jiwa yang kotor tetap “lahap” memakan bangkai, juga bagi yang mendengarkan ghibah, senang dengan bangkai saudaranya. Tidak menggubris ayat ayat Al-Quran dan hadist Nabi.

 Bila jiwanya bersih akan terasa jijik saat ada yang membuka pakaiannya, membuka aib orang lain. Lihatlah jiwa kita kotor atau bersih? 

Bila kita celupkan pena bertinta kedalam laut apakah akan merubah warna laut ?. Tentu sama sekali tidak merubah. Bahkan tinta sebanyak satu ember atau satu drum tidak mampu merubah warna laut karena laut sangat banyak airnya. Nah sekarang simak kisah ini.

โ€œDari โ€˜Aisyah beliau berkata: Aku pernah berkata kepada Nabi Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam : โ€œCukup bagimu dari Shofiyah ini dan ituโ€. Sebagian rawi berkata Aisyah mengatakan Shofiyah pendek . Maka Nabi Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam berkata: “Sungguh engkau telah mengucapkan suatu kalimat, yang seandainya kalimat tersebut dicampur dengan air laut niscaya akan merubahnyaโ€

Bayangkan betapa kotornya membongkar aib orang lain, laksana merubah air laut  !!! ( polusi) 

Betapa banyak yang membuka auratnya sendiri karena lidahnya membicarakan aib orang lain. Bahkan lidahnya merubah laut. Di dalam hadist riwayat At-Tirmidzi, Abu Dawud dan Nasa’i disebutkan laut adalah suci dan mensucikan bahkan bangkai laut halal. 

Ternyata lidah bisa mengotori kesucian laut !. Laksana melemparkan bangkai bangkai manusia ke lautan sehingga terjadi polusi air.

Semestinya kita selalui ingat semua dosa yang kita lakukan pasti akan kembali kepada diri kita sendiri.

 Perhatikan orang yang membuka aib orang lain di depan anda, sesungguhnya ia akan juga membuka aib anda di depan orang lain. Berhati hatilah dengan lidah yang menghancurkan kehidupan dunia dan akhirat. 

Segala keburukan yang kita lakukan akan kembali kepada diri kita itulah surat 17 Al Isra ayat 7 “bila kalian berbuat baik sesungguhnya kalian berbuat baik untuk diri kalian sendiri, bila kalian berbuat keburukan maka kalian berbuat keburukan untuk kalian sendiri”. 



Mari kita berpakaian dengan menjaga lidah kita. ! Saat orang lain berghibah bayangkan anda sedang disuguhkan bangkai saudaramu untuk memakannya. Naudzubillah min dzalik.



Semoga kita terjaga dari dosa ghibah yang dibangun diatas keangkuhan merasa lebih baik.

Ya Allah bimbinglah kami kepada Akhlak yang mulia.

Motivasi Ramadan bersama Ust.Arifin Jayadiningrat |Direktur Islamic Character Development-ICD

Yang Spesial Di Ramadan Ini



Ada beberapa hal berbeda yang saya rasakan di Ramadan ini. 

1. Buka Puasa gak sendiri lagi. 

Ramadan ini tahun pertama saya dan istri buka puasa dan sahur bersama, sudah ada yang bangunin sahur dan sudah ada yang siapin buka, baca Alqurโ€™an juga sudah ada yang menemani. 

Ramdan semakin spesial, kami tidak memasak yang berlebihan ketika puasa, cukup dengan menu sehari hari seperti bulan yang lain. 

2. Lebih banyak waktu untuk membaca dan mengulang hafalan Al-Quran. 

Awal Ramadan ini Ust.Arifin Jayadiningrat mengadakan umroh dengan travel beliau BMW, dan karena beliau umroh, tahun ini gak ada Sanlat ICD Camp, kecuali yang sudah rutin di Sanlat 3R di sekolah Highscope. 

Ingin saya manfaatkan waktu yang ada untuk lebih banyak membaca dan mengulang hafalan Al-Quran. 

3. Full Ramadan di Jakarta. 

Tahun ini saya dan istri rencana pulang ke Magelang habis lebaran karena istri gak mau seperti saya tahun lalu, 3 hari dua malam di dalam bus, selain itu juga pertimbangan harga, konon tiket bus dua atau tiga hari lebaran sudah agak turun. Alhamdulillah bisa i’tikaf full di Masjid As-Salam Kementrian PU, tempat saya dan jamaah Ust Arifin mengadakan i’tikaf setiap tahun. 

4. Tidak membeli baju untuk Idul Fitri. 

Saya biasa gak beli baju baru waktu idul fitri, saya biasa pakai baju yang paling bagus yang saya punya untuk berlebaran. Tahun ini saya mau ajarin ke istri kalau lebaran gak mesti baru, kalau yang ada masih bisa dipakai, kenapa tidak? Yang penting masih bagus, sopan dan gak bolong bolong kan bajunya? 

Toh kami juga belum dikaruniai momongan jadi belajar hemat dari sekarang, menggunakan uang yang ada untuk persiapan ke depan. 

Berpakainlah [1]



Orang berakal sehat tidak perlu diajarkan untuk berpakaian. Hanya orang gila saja yang membuka auratnya seperti membuka aibnya. 

Kenyataanya banyak yang membuka aibnya sendiri laksana tidak berpakaian, artinya mereka membuka aib orang lain. Karena saat membuka aib orang lain persis membuka aib sendiri. 

Bukan hanya dosa ghibah akan tetapi ghibah itu dibangun diatas pondasi kesombongan !.

Kita paham dengan pesan Nabi Muhammad saw larangan sombong adalah menolak kebenaran dan melihat orang lain lebih rendah dari dirinya”.

Mari kita camkan hadits hadits berikut ini:
ู…ูŽู†ู’ ู†ูŽูู‘ูŽุณูŽ ุนูŽู†ู’ ู…ูุณู’ู„ูู…ู ูƒูุฑู’ุจูŽุฉู‹ ู…ูู†ู’ ูƒูุฑูŽุจู ุงู„ุฏู‘ูู†ู’ูŠูŽุง ู†ูŽูู‘ูŽุณูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู ูƒูุฑู’ุจูŽุฉู‹ ู…ูู†ู’ ูƒูุฑูŽุจู ูŠูŽูˆู’ู…ู ุงู„ู’ู‚ููŠูŽุงู…ูŽุฉู ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ูŠูŽุณู‘ูŽุฑูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูุนู’ุณูุฑู ูููŠ ุงู„ุฏู‘ูู†ู’ูŠูŽุง ูŠูŽุณู‘ูŽุฑูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูููŠ ุงู„ุฏู‘ูู†ู’ูŠูŽุง ูˆูŽุงู„ู’ุขุฎูุฑูŽุฉู *ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ุณูŽุชูŽุฑูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูุณู’ู„ูู…ู ูููŠ ุงู„ุฏู‘ูู†ู’ูŠูŽุง ุณูŽุชูŽุฑูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูููŠ ุงู„ุฏู‘ูู†ู’ูŠูŽุง ูˆูŽุงู„ู’ุขุฎูุฑูŽุฉ*ู ูˆูŽุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูููŠ ุนูŽูˆู’ู†ู ุงู„ู’ุนูŽุจู’ุฏู ู…ูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽ ุงู„ู’ุนูŽุจู’ุฏู ูููŠ ุนูŽูˆู’ู†ู ุฃูŽุฎููŠู‡ู

“Barangsiapa yang meringankan (menghilangkan) kesulitan seorang muslim kesulitan-kesulitan duniawi, maka Allah akan meringankan (menghilangkan) baginya kesulitan di akhirat kelak. Barangsiapa yang memberikan kemudahan bagi orang yang mengalami kesulitan di dunia, maka Allah akan memudahkan baginya kemudahan (urusan) di dunia dan akhirat. Dan barangsiapa yang menutupi (aib) seorang muslim sewaktu di dunia, maka Allah akan menutup (aibnya) di dunia dan akhirat. Sesungguhnya Allah akan senantiasa menolong seorang hamba selalu ia menolong saudaranya.โ€ [HR. Tirmidzi]

ู…ูŽู†ู’ ุณูŽุชูŽุฑูŽ ุนูŽูˆู’ุฑูŽุฉูŽ ุฃูŽุฎููŠู‡ู ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ู ุณูŽุชูŽุฑูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽูˆู’ุฑูŽุชูŽู‡ู ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุงู„ู’ู‚ููŠูŽุงู…ูŽุฉู ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ูƒูŽุดูŽููŽ ุนูŽูˆู’ุฑูŽุฉูŽ ุฃูŽุฎููŠู‡ู ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ู ูƒูŽุดูŽููŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽูˆู’ุฑูŽุชูŽู‡ู ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ูŠูŽูู’ุถูŽุญูŽู‡ู ุจูู‡ูŽุง ูููŠ ุจูŽูŠู’ุชูู‡ู

“Barang siapa yang menutupi aib saudaranya muslim, Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat, dan barang siapa mengumbar aib saudaranya muslim, maka Allah akan mengumbar aibnya hingga terbukalah kejelekannya di dalam rumahnya*.” (HR. Ibnu Majah)

Sungguh bila kita merasa lebih suci lebih sholeh,  lebih hebat dan melihat orang lain lebih rendah maka lisan ini bergerak membongkar aib orang lain.  Inilah yang dianggap membuka aurat diri sendiri laksan membuka pakaiannya sendiri.

Yang lebih mengerikan dari hadits tadi aib rumah tangga dapat terbongkar di mata banyak orang disebabkan lidah yang suka bicara aib orang lain. Ini balasan dunia, belum balasan akhirat.

Camkan hadits ini yang sungguh membuka mata hati, menggetarkan hati dan menggelengkan kepala akibat rasa takut. 

Dari Muโ€™adz bin Jabal, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,
ู…ูŽู†ู’ ุนูŽูŠู‘ูŽุฑูŽ ุฃูŽุฎูŽุงู‡ู ุจูุฐูŽู†ู’ุจู ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽู…ูุชู’ ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ูŠูŽุนู’ู…ูŽู„ูŽู‡ู

โ€œSiapa yang menjelek-jelekkan saudaranya karena suatu dosa, maka ia tidak akan mati kecuali mengamalkan dosa tersebut*.โ€ (HR. Tirmidzi no. 2505)

Inilah jawaban kasus ketika saya ditanya seorang wanita “kenapa suaminya berzina dengan staf kantornya ?”. 

Ternyata dulunya sang suami (sebelum nikah),  saat kuliah di kampus pernah menyebarluaskan aib seorang mahasiswi yang hamil diluar nikah. 

Maka balasan di dunia sebelum wafat ia mengerjakan dosa yang sama. Naudzubillah min dzalik. 
Inilah lidah yang dapat menjerat diri sendiri !! Seperti ancaman hadist tadi.
Mari kita jaga lidah agar kita tetap berpakaian menutup aurat ini. Bila menceritakan aib orang lain maka kita tidak tahu apakah orang yang dibuka aibnya sudah diampuni Allah dosanya?

Bisa saja kesalahannya sudah diampuni Allah sehingga ia dihapuskan dosa dosanya dan menjadi hamba Allah yang sholeh.
Lihatlah sikap Nabi saw saat ada seorang laki laki memberitahukan perbuatan dosanya. Belajarlah dari kasus ini. 

Dalam riwayat  โ€œSeorang laki-laki datang kepada Rasulullah saw. lalu berkata: 
โ€˜Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah menemukan seorang perempuan di suatu kebun, lalu aku berbuat dengannya segala sesuatu, hanya aku tidak menyetubuhinya, aku menciumnya dan memeluknya dan aku tidak melakukan selain itu, maka lakukanlah terhadapku apa yang engkau mau.โ€™

Maka Rasulullah tidak berkata apa pun kepadanya, lalu orang laki-laki itu pergi. Maka `Umar berkata: *`Sungguh Allah menutupinya, jika ia menutupi perbuatan dirinya.*’

Maka Rasulullah mengarahkan pandangan kepadanya, kemudian berkata: `Kembalikanlah laki laki tadi kepadaku,โ€™ lalu mereka (para sahabat) membawanya kembali ke hadapannya dan beliau membacakan kepadanya

Surat Hud ayat 114 : 

(โ€œDan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang [pagi dan petang] dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan [dosa] perbuatan-perbuatan yang buruk.  Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.โ€
( Surat Hud ayat 114 )

Maka Muโ€™adz berkata, -riwayat lain mengatakan- Umar ” Wahai Rasulullah, apakah (berita ini – surat Hud 114-) hanya untuknya seorang atau untuk semua manusia?โ€™ (maksudnya ayat ini berlaku hanya khusus untuk pemuda tadi apakah juga untuk orang lain). Maka beliau berkata: โ€˜Untuk manusia semuanya.โ€™โ€

Lihatlah bagaimana Allah mengampuni dosa sang pendosa. Dan Rasulullah saw menutupi aib sang pemuda tadi. Meninggalkannya tanpa kata kata. 

Mari kita biasakan menutup aib saudara kita, jangan membongkar aibnya bisa jadi Allah sudah mengampuninya, membersihkannya lalu menutupinya dan ia lebih dicintai Allah kemudian kita membuka aib orang itu, maka akan datang murka Allah, aib atau dosa itu dapat dikembalikan bagi kita yang membongkarnya.

Maka “berpakaianlah” artinya *tutuplah aib orang lain maka Allah akan menutup aib kita dunia dan akhirat*.
๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š

Motivasi Ramadhan No 2 

Oleh Ust.Arifin Jayadiningrat |Direktur Islamic Character Development-ICD 

Manusia Bukan Batu


Suatu hari, seseorang datang dan tiba tiba membisikkan kepada saya “Bapak sudah kenal bapak si X ? “. Ini dikarenakan si X terlihat dekat dengan saya. Saya jawab “iya, insya Allah pak  X ia orang baik”. 

Pembisik saya tersenyum sinis seraya berkata “Saya lebih kenal dia pak, saya kan dulu bertahun tahun dengan si X. Itu orang tidak baik.”. Saya langsung meninggalkan pembisik tadi, tidak saya dengarkan dan saya tidak ingin percaya sebab itu mengotori jiwa saya.

Ini gambaran ghibah yang dilarang dalam Islam. Sebagian ulama mengklasifikasikannya ke dalam dosa besar karena membongkar keburukan orang lain. Bukan berhenti dalam dosa ghibah tapi dosa pembisik tadi merasakan lebih baik dari si X. Itulah kesombongan yang menjadi penghalang masuk surga.

Jangan melihat manusia laksana batu artinya “manusia tidak berubah seperti batu”.
 Betul ada analogika dalam Al-Quran bahwa manusia laksana batu, hal ini harus dipahami gambaran kekerasan hatinya bahkan lebih keras dari batu. Kekerasaan hati karena kesombongan merasa benar dan berujung pada menolak kebenaran. 

Kita tidak boleh menilai orang hanya dengan latar belakangnya saja lalu menilai “buruk” dan secara tidak langsung “merasa kita lebih baik dari si X”. 
Ingat 2 hal :

MANUSIA BUKAN BATU, IA BERUBAH

Bisa jadi dulu banyak dosa dan tenggelam dalam kubangan maksiat akan tetapi ia bertaubat merubah lembaran hidupnya. Walaupun jarak antara maksiat dan taubat hitungan menit !!. Ia bisa berubah. 

Bisa saja si X beberapa waktu lalu ia berdosa dan tiba tiba ia bertaubat dan memohon ampunan Allah. Kemudian Allah mengampuninya. Akan tetapi kita menilai si X adalah manusia kotor lebih hina dari kita, sementara Allah sudah memuliakan si X karena sudah kembali ke jalan yang benar. 

Inilah sabda Rasulullah saw setelah menghukum cambuk sang pendosa kepada orang  yang hina dan melaknat si pendosa. 

 “: ู„ุง ุชู„ุนู†ูˆู‡ุŒ ููˆ ุงู„ู„ู‡ ู…ุง ุนู„ู…ุช -ุฃูŠ ู„ู‚ุฏ ุนู„ู…ุช- ุฃู†ู‡ ูŠุญุจ ุงู„ู„ู‡ ูˆุฑุณูˆู„ู‡.” 

Janganlah kamu melaknat pendosa itu, maka Demi Allah kamu tidak mengetahui bahwa orang itu mencintai Allah dan Rasul-Nya”. (HR Bukhori) 
 
Inilah sikap kita kepada siapapun harus melihat manusia berubah ia bukan batu. 

Kita juga kenal kisah sang pelacur masuk surga karena memberikan air minum kepada anjing. 

Jangan lihat latar belakang wanita si pelacur dengan kacamata negatif karena ia berubah bisa lebih baik dari diri kita.

Ingat kasus wanita pezina yang taubat setelah dihukum rajam lalu Nabi saw menyolatkannya. Beliau mendoakannya dengan doa bagi orang yang telah meninggal. Lalu Umar berkata kepadanya, โ€˜Apakah engkau menshalatkannya sedangkan dia telah berbuat zina, wahai Rasulullah?โ€ Sedangkan zina adalah termasuk dosa yang paling besar.

 Maka Rasulullah berkata, โ€œIa telah bertaubat dengan taubat yang apabila dibagikan kepada 70 penduduk Madinah, niscaya mereka semua akan mendapatkan bagian.โ€ Yakni, taubat yang luas, seandainya dibagikan kepada 70 orang dimana semua mereka berbuat dosa, niscaya mereka akan mendapatkan taubat itu dan bermanfaat untuk mereka. !! 

Dahsyat ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ
MANUSIA BUKAN BATU, MANUSIA SELALU BERUBAH

Termasuk diri kita yang kadang merasa sudah  baik merasa paling shalih. Padahal didepan kita ada waktu, nafsu dan syetan yang menjebak diri ini kepada kemaksiatan. 

Hati hatilah dengan kesombongan dalam diri dan menilai orang lain. 
Perhatikan hadits ini :

โ€œTidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.โ€ Ada seseorang yang bertanya, โ€œBagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?โ€ Beliau menjawab, โ€œSesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan melihat orang lain lebih rendah dari dirinyaโ€œ (HR. Muslim no. 91). 

Marilah kita rubah kacamata melihat siapapun didepan kita katakan didalam hati ini “bisa jadi ia lebih baik dari saya di mata Allah”

Motivasi Ramadhan oleh Ust.Arifin Jayadiningrat Direktur Islamic Character Development-ICD 

Menari Di Atas Panggung (Catatan Untuk Guru)ย 


Saat orang berbuat baik, kadang ada niatan yang terselip show off agar dipuji dan disanjung. Maka ada istilah our charater is what we do when we think no one is looking  senafas dengan apa yang diungkapkan oleh JS Watts mengungkapkan Character is doing the right thing when no body is looking. 

Tidak aneh perilaku baik yang dilihat orang kadang belum dapat dipastikan orang itu baik. Sebaliknya perbuatan jelek biasanya disembunyikan karena malu dilihat orang lain. 

Kecendrungan manusia mau dipandang baik dan tidak ingin dipandang jelek. Inilah salah satu isyarat Nabi Muhammad saw bersabda “kebajikan sesungguhnya dalam akhlak mulia dan dosa apa yang terbesit dalam dadamu dan kamu malu tidak suka bila orang lain mengetahuinya ( karena perbuatan buruk )”.



Ada yang membedakan kepribadian dengan karakter. Personality is who we are, and what we do when every body is watching. Berbeda tadi dengan character is who we are and what we do , when no body is watching.



Sungguh zaman sekarang sudah berubah, banyak perubahan perubahan yang terjadi termasuk dalam teori nilai nilaipun mulai bergeser. 

Media sosial apapun bentuknya menjadi salah satu gambaran perubahan zaman yang dahsyat. Setiap orang bisa mengekspresikan apa saja baik tulisan, suara, video, gambar dan lain sebagainya yang dilihat oleh semua orang.

 Batasan batasan nilai positif negatif semakin bergeser. Disaat kita deskripsikan pikiran dan hati di Media Sosial ini laksana menari dan bernyanyi diatas panggung !.

Melupakan bahwa kita sebagai makhluk sosial yang apabila melakukan sesuatu apa saja akan mempunyai dampak pengaruh kepada sekitar. Apalagi di dunia medsos persis on the stage. Seringkali lupa akan predikat diri kita sebagai guru yang akan jadi tauladan para murid murid.

Semestinya dalam teori nilai diatas tadi, saat kita berperilaku di media sosial harusnya menyadari kita ditonton banyak orang tak ubahnya sedang menari dan bernyanyi diatas panggung. Maka idealnya menunjukkan perilaku yang baik mengharumkan nama diri sendiri. 

Nah justru kadang anehnya saat seseorang  menuangkan pikiran dan perasaan di media sosial menggambarkan hal yang kurang baik.

 Wal hasil jadi tontonan yang membawa efek negatif termasuk membuat kesan buruk terhadap dirinya sendiri.. Entah apakah ia lupa bahwa ia sedang diatas panggung atau memang itu gambaran asli karakternya atau kepribadiannya ?.

Semestinya tidak semua yang ada dalam pikiran dan perasaan ini, kita bebas menuangkan semua di media sosial seperti kebanyakan orang orang melakukan hal itu. Apalagi predikat kita sebagai guru. 

Saya hanya mengjngatkan bahwa bukan hanya di medsos tapi dalam perilaku sehari haripun kita harus menjaga sikap dan tuturkata agar menjadi tetap indah serta menyejukkan. 

Itulah sebaik baik manusia, yaitu yang banyak membawa manfaat untuk banyak orang, bukan sebaliknya. Salam damai dari rumah damai.

Oleh: Arifin Jayadiningrat Direktur Islamic Character Development-ICD dan Ketua Umum Islamic Centre Baitussalam Slawi. 

Seminar Menggapai Kemabruran Haji di Islamic Centre Slawi Tegal


Puncak prestasi seorang jamaah haji adalah menggapai haji mabrur, yakni haji yang diterima oleh Allah SWT dan tiada balasan yang lebih baik, kecuali surga.
Namun, predikat haji mabrur itu tidak mudah digapai, kecuali oleh orang-orang yang ikhlas dan sungguh-sungguh dalam menunaikan niat, rukun, wajib dan sunnah haji.

Setelah kembali ke tanah air, hal yang tidak kalah pentingnya adalah merawat kemabruran haji itu agar tetap terjaga.

Sebab, seperti halnya iman yang bisa naik-turun, kemabruran haji itu pun bisa menurun bahkan luntur sama sekali kalau tidak dipelihara dengan sebaik-baiknya.

Setiap tahapan berhaji memiliki makna tersendiri yang perlu dipahami oleh para jamaah haji yang melaksanakannya.

Rasul saw pernah bersabda, โ€˜Ambillah dari aku tata cara berhajiโ€™.

Dari hadits tersebut, dapat kita lihat bahwa segala tata cara dalam berhaji sudah memiliki perincian maknanya masing-masing.

Materi pertama disampaikan oleh bapak Tri Jazuli dari Tegal. 

Output haji seseorang, liinul kalaam wa ith’amut tha’am yaitu katanya lembut dan suka memberi makan orang lain. Ibadah yang baik itu dilakukan secara sungguh sungguh, dilaksanakan secara tuntunan nabi dan selanjutnya menghadirkan hal hal yang baik dalam kehidupan sehari hari. 

Dalam kitab Subulus Salam, haji yang mabrur adalah haji yang diterima oleh Allah yang buahnya bisa dilihat sepulang haji dan semua unsur hidupnya lebih baik dari sebelum haji. 

Berhaji harus diniatkan kepada Allah semata, karena banyak yang pergi haji karena harta, kehormatan dan pangkat. 

Secara bahasa haji adalah alqashdu artinya tujuan, atau ada yang mengatakan rihlah muqaddasah artinya perjalanan yang suci. 

Agar berhaji dengan baik, niat tulus,  sesuai dengan ajaran Nabi dan istiqamah dalam segala keadaan atau memelihara kemabruran haji. 

Materi selanjutnya dan inti disampaikan oleh Ust Arifin Jayadiningrat. 

Beliau memulai dengan talbiyah bersama peserta agar semangat dan tidak ngantuk. 

Haji dilaksanakan pada tiga bulan haram yaitu Syawal, Zulqa’dah dan Zulhijjah. Dalam tiga bulan ini dilarang melakukan rafas, kefasikan dan berjidal. 

Bahasan kemabruran dalam banyak keterangan adalah baiknya hubungan sosial, baik kepada manusia, hewan dan tumbuhan. 

Ini beberapa foto seminar haji hari ini. 

%d bloggers like this: