Bagaimana Mudah Menghafal Al-Quran


nasehat-hafal-alquran

Kata orang menghafal Al-Quran lebih mudah dari menjaganya, yup itu setuju sekali. Dan saya mengalami hal itu. Sudah beberapa tahun selesai setoran Al-Quran dan sampai sekarang masih banyak ayat bahkan surat yang terlupa. Astaghfirullah… 

Saya selalu berdoa kepada Allah agar tidak termasuk orang yang dengan sengaja melupakan Al-Quran. Saya tidak pernah dengan sengaja melupakan Al-Quran, mungkin karena sibuk. Duh, ini alasan yang sok dibuat buat.

Intinya sih, kita harus selalu mendekat kepada Al-Quran, karena ibarat Unta yang tidak diikat, hafalan kita pun akan buyar, dan butuh tenaga ekstra lagi untuk memgembalikannya, seperti kita menghafal dari awal.

Agar mudah menghafal dan menjaga Al-Quran, maka dibantu juga dengan membaca terjemah Al-Quran, kalau bisa bukan terjemah harfiyah yang ada sekarang, tapi terjemah Tafsiriyah Al-Quran.

Sekarang sudah ada penerbit Solo yang membuat cetakan Terjemah Tafsiriyah, ini sangat membantu saya untuk lebih memahami makna Al-Quran tanpa harus membuka buku tafsir lagi.

1 minggu ini saya mencoba mengulang hafalan dengan bantuan terjemah tafsiriyah ini, alhamdulillah membantu sekali, jadi lebih mudah memahami isinya, beda dengan terjemah harfiyah dari Depag yang bikin kita harus mikir lagi ini ayat maksudnya apa ya..?

Alhamdulillah…. Ini pengalaman saya…. Bagaiaman dengan pengalaman anda?

Aksi Menjaga Al-Quran


Banyak yang bertanya, “Bagaimana cara menjaga hafalan Al Qur’an? kok yang sudah dihafal sering lupa ya?”

Pembaca sekalian, sebenarnya teori menjaga hafalan Al Qur’an itu sederhana saja, yaitu dengan sering diulang-ulang (murajaah). Kenapa sering lupa? karena jarang diulang. Coba kalo sering diulang, pasti tetap terjaga. Yang sering lupa, pasti jarang/tidak murajaah. Ya, cukup diulang-ulang aja. Insya Allah hafalan jadi lancar. 

Untuk memiliki hafalan Al-Qur’an yang cukup banyak, perlu ‘manajemen pengulangan’ tersendiri untuk menjaga hafalan yang dianalogikan seperti beternak onta. Rasulullah saw pernah bersabda,

“Jagalah Al-Qur’an, demi Yang jiwaku berada di tangan-Nya, Al-Qur’an itu lebih cepat lepas dari pada seekor unta dari ikatannya”
(H.R. Bukhari)
Jadi begini, orang yang menghafal Qur’an itu seperti orang yang beternak unta…Orang yang sedang berburu unta seperti orang yang sedang menghapal Al Qur’an, Orang yang sudah menangkap onta seperti orang yang sudah hafal, sedangkan orang yang sedang memelihara onta itu seperti orang yang menjaga hafalannya.

Masalahnya, tidak semua onta jinak.  Tapi kita asumsikan saja: Unta itu ada 3 jenis: liar, ada yang setengah liar, ada yang jinak. Begitupun hafalan, ada yanglemah, agak kuat, dan sangat kuat. 

Sekarang kita analogikan lagi,
hafalan yang lemah itu seperti unta liar, yang maunya kabur terus… (kabur dari ingatan) hafalan yang agak kuat itu seperti unta setengah liar, kadang mau kabur, kadang tidak. Hafalan yang kuat itu ibarat unta jinak, yang justru lebih suka pada pemeliharanya. Hafalan lemah itu biasanya berupa hafalan-hafalan yang baru saja dihafal, seminggu yang lalu, misalnya. Hafalan yang baru dihafal ini rentan lupa. Semakin baru hafalan, semakin mudah lupa, biasanya.

Nah…strateginya, sebagaimana dalam beternak unta, seharusnya kita lebih fokus pada mengurus ‘unta-unta liar’. Karena unta liar lebih mungkin untuk kabur dibanding yang jinak. Begitupun dalam menjaga hafalan, rumusnya adalah…”Utamakan hafalan-hafalan yang masih lemah“. Aplikasinya…, “Hafalan yang lemah harus lebih banyak diulang daripada halafan yang kuat“.


Banyak penghafal Qur’an yang suka murajaah hafalan yang sudah kuat saja, sedangkan hafalan yang lemah jarang diulang-ulang. Akhirnya…yang hafalannya yang kuat tambah kuat, yang lemah tambah lemah.
Walaupun demikian, bukan berarti hafalan yang sudah kuat tidak diurus. Harus diulang-ulang juga. seperti onta yang sudah jinak, dia juga tetap perlu diberi perhatian, walaupun tidak seintensif unta yang bermasalah (liar).

Idealnya, untuk unta liar, harus diurus minimal setiap 3 hari sekali. Setiap 3 hari, hafalan lemah harus diulang minimal sekali. Kalo misalnya hafalannya 3 surat dan masih lemah semua, maka murajaahnya sehari 1 surat.
Untuk unta setengah liar, harus diurus minimal setiap seminggu sekali.

 Setiap seminggu, hafalan agak kuat harus diulang minimal sekali. Misalnya, kalo hafalannya yang agak kuat ada 7 surat, maka murajaahnya sehari 1 surat. Sedangkan untuk unta jinak (hafalan ngelotok), boleh ditinggal agak lama. Tapi jangan kelamaan, minimal dalam sebulan keulang minimal sekali.

Sebagai contoh, misalnya ada orang punya hafalan Al Qur’an 40 surat. 30 surat diantaranya hafalan kuat, 7 hafalan agak kuat, dan 3 lemah. Maka murajaahnya hariannya: 1 surat hafalan kuat, 1 surat hafalan agak kuat, dan 1 surat hafalan lemah. Dengan cara ini, hafalan kuat akan terulang sekali sebulan, hafalan agak kuat seminggu sekali, dan hafalan lemah 3 hari sekali.

Kemudian, biarkan onta-onta itu tumbuh sehat, supaya bisa beranak-pinak, bisa diambil susunya, bisa dipakai sebagai kendaraan, dan diambil dagingnya buat makanan. 
Maksudnya, rawatlah hafalan kita, insya Allah hafalan kita akan bertambah banyak dan memberikan manfaatnya buat kita juga, insya Allah

Untuk teknis penerapannya, bisa anda gunakan metode Sabak, Sabki dan Manzil. Metode ini lebih menekankan pada muraja’ah daripada menambah hafalan terus menerus. 

Sabaq : Hafalan baru. 

Yakni menghafal ayat-ayat yang belum pernah dihafal sebelumnya.
Untuk Sabaq ini, minimal setengah halaman perhari. 5 kali dalam seminggu. Kalau tidak sanggup, ya wes 5 baris. Kalau tidak sanggup juga, ya wes semampunya, meskipun seayat-dua ayat. Yang penting dalam sehari ada hafalan baru.

Sabqi : Menyempurnakan hafalan yang belum mutqin.

Contoh di Juz ‘Amma kita masih blepetan di Surat At-Takwir. Nah itu kudu diulang lagi, sampai mutqin.
Sabqi ini minimal 1 halaman perharinya.

Manzil : Muraja’ah hafalan mutqin.

Sehari minimal 2,5 lembar.
Kesemua itu diupayakan bersama pembimbing atau teman, agar kesalahan yang ada bisa segera diperbaiki. Sedang untuk Manzil bisa dilakukan dengan cara Shalat Sunnah dengan membaca 2,5 lembar itu.

Dari sini kita bisa ketahui, bahwa murajaah hafalan lama lebih digalakkan daripada menambah hafalan baru.
Berikut ini beberapa kelebihan dengan metode sabak, sabki dan manzil:

  1. Hafalan menjadi kuat karena menekankan kepada penguatan hafalan dengan secara rutin mengulang hafalan yang lalu setiap kali setoran baru.
  2. Santri terbimbing dalam hafal Al-Quran dan tidak bingung dengan apa yang harus mereka lakukan.
  3. Dengan Sabki hafalan baru menjadi lebih kuat dan dengan Manzil hafalan lama menjadi kuat dan memudahkan santri mengulang hafalan satu juz.
  4. Dengan memaksakan manzil maka seluruh hafalan dapat terulang meskipun tidak satu juz walau hanya dengan menyetorkan rubu’-rubu’
  5. Dengan sistem sabak, sabki, manzil musyrif dapat berkreasi dalam menerapkan sistem setoran
  6. Disiplin waktu
  7. Menjadikan tilawah harian yang dibaca menjadi lebih baik dari segi tahsin tilawah.
  8. Penekanan hafalan baru sesuai dengan keadaan siswa.
  9. Pendidikan dalam membaca Al-Quran baik dalam shalat maupun dalam luar shalat.

Selain itu, selalu gunakan waktu luang kita bersama Alquran, isi hp dengan murattal atau bacaan Alquran yang ssedang kita hafal, hapus file musik dan lainnya selain Alquran.  Jadikan Alquran wirid harian kita. 

Allahu a’lam

Tehnik Murajaah Hafalan Al-Quran


​​Bagi para penghafal Al Quran yang pemula, menambah hafalan mempunyai kesulitan tersendiri. Tetapi seiring dengan waktu kesulitan ini akan terlampaui. Ketika itu kesulitan lain timbul yaitu mengulang hafalan (murajaah). Pada saat hafalan makin bertambah banyak, murajaah juga semakin berat.

Untuk surat-surat yang agak panjang (50 ayat) dan yang panjang (diatas 100 ayat), biasanya kita sangat hafal separuh awal dari surat tersebut. Untuk separuh terakhir sulit bagi kita untuk mengingatnya. Ini akan ditandai dengan “macet” ketika saat memurajaah. 

Mengapa hal ini terjadi? Hal ini disebabkan kita selalu menghafal/murajaah dari awal surat (ayat 1). 

Ketika selesai menghafalkan sebuah surat, ayat-ayat awal itulah yang lebih sering dilafadzkan dibandingkan dengan ayat-ayat yang akhir. Sehingga otak kita lebih hafal ayat-ayat awal. 

Itulah sebabnya kita sangat hafal ayat-ayat awal surat dan sering lupa pada ayat-ayat akhir surat.
Kesulitan kedua adalah ketika kita “macet“ sulit bagi kita untuk mengetahui ayat selanjutnya. Ayat-ayat setelah “ayat macet“ menjadi gelap. 

Ini dikarenakan kita menghafal secara sekuensial/berurutan, sehingga satu ayat selalu diingat setelah ayat sebelumnya. Sehingga kalau ayat “sebelumnya” macet maka ayat selanjutnya menjadi hilang juga. 

Dalam hal ini tidak ada cara lain untuk mengingatnya selain membuka mushaf Al Qur’an.

Lalu bagaimana cara efektif untuk menanggulangi masalah tersebut?
Kuncinya adalah ketika proses menghafal sebuah surat dilakukan. Hafalkan surat dengan cara memotongnya menjadi 10 ayat 10 ayat. Di dalam tiap sepuluh ayat potong-potong lagi menjadi 5 ayat-5 ayat.

Misalnya kita menghafal surat An Naba yang didalamnya ada 40 ayat. Caranya adalah sebagai berikut :

  1. Hafalkan ayat 1 sampai lancar. Lakukan sampai ayat 5.
  2. Kemudian hafalkan secara berurut ayat 1 sampai dengan ayat 5. Ikatlah ayat 1 sampai ayat 5 dengan mengulang-ulangnya bersama-sama sampai lancar. Gerak-gerakkan jari-jari tangan anda sesuai dengan ayat yang sedang di hafal. Bila menghafal ayat 1 gerakkan ibu jari, ayat 2 gerakkan jari telunjuk, ayat 3 gerakkan jari tengah, ayat 4 gerakkan jari manis dan ayat 5 gerakkan jari kelingking.
  3. Kemudian hafalkan ayat 6 sampai 10 sambil menggerak-gerakkan jari-jari tangan kiri sama seperti yang dilakukan oleh tangan kanan. Ulang-ulang ayat 6 sampai 10 sampai lancar. Kegiatan ini mengikat ayat 6 sampai dengan ayat 10. 
  4. Sekarang mengulang menghafal ayat 1 sampai 10 dengan sambil menggerak-gerakkan jari sesuai dengan nomor ayat yang dilafazkan. Lakukan sampai lancar. Hal ini mengikat ayat 1 sampai 10.
  5. Lakukan langkah diatas untuk ayat 11-20, ayat 21-30 dan ayat 31-40.Terakhir gabungkan semua ayat (ayat 1 sampai 40) dalam surat tsb. Ulang-ulang sampai lancar. 

Kemudian bagaimana anda murajaah sebuah surat bila kita telah menghafal secara konvensional? 
Bila surat tersebut ayat-ayatnya pendek maka kelompokkan menjadi 10 ayat-10 ayat. Hafalkan per 10 ayat. Bila suratnya berayat yang panjang-panjang seperti Al Baqarah, Ali Imran, An Nisaa dll, maka pecah 10 ayat menjadi 5 ayat-ayat.

Manfaat dari menghafal dengan sistem potongan ini adalah:

Ketika murajaah kita tidak selalu harus memulai dari awal surat – ayat1- sehingga untuk surat yang panjang murajaah dapat dilakukan sepotong-sepotong di dalam shalat kita.
Misalnya: untuk setiap rakaat shalat kita membaca 10 ayat. Maka ketika shubuh kita sudah dapat murajaah sampai 40 ayat (sunnat shubuh 2 rakaat dan shubuh 2 rakaat). 

Ini cukup bagus untuk surat An Naba yang 40 ayat. Atau untuk surat yang panjang seperti Al Baqarah, bila dilakukan 10 ayat untuk setiap rakaat shalat, maka selesai shalat isya kita sudah murajaah 100 ayat! 
Bila ditambah dengan shalat2 sunnah rawatib maka kita bisa murajaah 200 ayat dalam sehari. Dan bila ditambahkan dengan shalat dhuha dan tahajjud kita bisa menyelesaikan 286 ayat Al Baqarah dalam shalat yang dilakukan sehari semalam!

Kita tidak merasa susah murajaah karena seakan-akan kita sedang menghafal surat-surat yang pendek saja. Secara psikologis kita merasa lebih ringan. Dan di dalam memurajaah surat yang panjang kita menguatkan secara merata ayat-ayat di seluruh surat. Bukan hanya ayat-ayat awal surat saja. 

Ketika memurajaah surat-surat yang panjang dan kemudian terputus oleh kondisi eksternal – tamu datang, telpon berdering, anak menangis, masakan gosong dll- kita masih tetap bisa melanjutkan ayat selanjutnya setelah kondisi eksternal tertangani. Tanpa harus mengulangi dari awal surat. 

Dengan metoda menghafal konvensional maka kita kita harus selalu mengulangi mulai dari awal surat lagi. Kondisi-kondisi seperti ini akan menguatkan hafalan ayat-ayat awal dan menurunkan kualitas hafalan ayat-ayat akhir.Hafal nomot ayat tanpa kita sadari. 

Ini adalah bonus yang sangat bermanfaat untuk kita mengatasi kasus “ayat macet“. Bila macet di satu ayat biasanya akan berhenti memurajaah surat tersebut karena ayat-ayat yang selanjutnya sangat bergantung pada ayat yang macet/lupa. 

Tetapi dengan sistem ‘potong surat’ ini kita masih tetap bisa terus memurajaah ayat-ayat setelah ayat macet ini. Mengapa ? Karena dalam menghafal sistem ini setiap ayat independen diletakkan dalam memori otak kita.

 Sebuah ayat tidak hanya dikaitkan dengan ayat yang sebelumnya –seperti dalam sistem menghafal konvensional- tapi juga dikaitkan dengan nomornya (yang diingat secara tidak sadar dengan menggerak-gerakkan jari tangan ketika menghafal). Ketika memori yang terkait dengan ayat sebelum terlupakan maka ada  “pengait“ yang lain yaitu nomor surat. 
Percaya atau tidak? Anda tinggal mencoba sistem ini dan merasakan hasilnya!

Melakukan metoda ini tak sesulit membaca baris-baris di atas. Bila anda melakukannya ini adalah hal yang sangat simpel. Metoda ini menjadikan kita santai dan tidak stres dalam memurajaah. Karena kita mempunyai “petunjuk/milestones“ dalam surat-surat hafalan kita yaitu ayat 1, 11, 21, 31, 41 dst. 

Kita akan memurajaah “ayat-ayat pendek“, yaitu 10 ayat saja. Cobalah anda praktekkan dan anda akan terkejut dengan hasilnya.
Selamat bermurajaah!

Sumber: blog kultum

Menghujat Al-Quran


​Suatu ketika seorang ulama yang Masyhur, yaitu al-Imam al-Qadhy Syekh Yusuf Bin Ismail An-Nabhani yang menjabat sebagai Qadhy (Hakim) di Lebanon Masa Itu dihadapkan pada suatu kasus pembunuhan.

Saat persidangan berlangsung, didatangkan pemuda yang menjadi tersangka pembunuhan.

Terjadi dialog antara Syekh Yusuf An-Nabhani selaku Qadhy dengan Pemuda tersebut.

Syekh Yusuf Pun Bertanya :

Apa betul kamu telah melakukan suatu pembunuhan?

Sang pemuda menjawab :

Iya, betul…Saya telah membunuh seseorang wahai Syekh…

Lalu Syekh Yusuf bertanya lagi : 

Kalau boleh Kau jelaskan apa motif dari pembunuhanmu wahai Anak Muda?

Dijawab oleh Sang pemuda :

Orang Itu…telah menghina Rasulullah SAW terang-terangan….Saya tidak sanggup lagi menahan amarahku terhadap orang-orang yang mencaci Rasulullah SAW dihadapanku…Lantas aku membunuhnya…

Syekh Yusuf diam sejenak…Lalu bertanya lagi :

Tangan yang mana Kau gunakan untuk membunuh orang itu…Kanan atau Kiri?

Dijawab olehnya:

Tangan kananku ini wahai Syekh..

Lalu Tiba-tiba Syekh Yusuf An-Nabhani turun dari singgasana Hakim menuju ke arah pemuda tadi. Meraih tangan kanannya lalu  menciumnya berkali-kali seraya berkata : 

Tangan Ini kelak yang akan membawamu ke sorga….

Wahai hadirin sekalian…

Saksikanlah, mulai hari Ini saya mengundurkan diri dari jabatanku selaku Qadhy di sini, Karena saya tidak akan pernah sanggup menghukum seseorang yang telah membunuh yang disebabkan membela kehormatan Rasulullah SAW…!!

Demikian cinta dan hormatnya Syekh Yusuf An-Nabhani Kepada Rasulullah SAW dan agamanya…

Berbeda dengan ulama-ulama yang sekarang, meski belajarnya sampai ke Australia atau Eropa, tapi sibuk membela orang kafir meski telah jelas-jelas melecehkan ayat suci al-Qur’an.

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia disebutkan bahwa menghujat adalah sinonim dari mencela atau mencaci yang artinya menggunakan perkataan-perkataan yang tidak sopan. 

Kata menghujat dalam Bahasa Arab adalah ath-Tha’nu, ia memiliki dua makna, hissi dan maknawi. Makna hissi seperti kata tha’anahu bi al-rumhi yang berarti memukul dengan alat yang tajam seperti tombak dan makna yang maknawi seperti kata wa rajulun tha’an fi a’radh al-nas yang berarti mencela sesuatu baik pada nasab, kitab atau seseorang. 

Hujatan terhadap al-Quran terbagi menjadi dua, pertama hujatan seputar al-Quran (at-Tha’nu haula al-Quran) seperti menghujat tentang pengumpulan al-Quran, kemutawatiran al-Quran, pembagian al-Quran menjadi Makki dan Madani dan hujatan lainnya yang tidak secara langsung menghujat kepada ayatnya. Kedua, hujatan terhadap al-Quran itu sendiri (ath-Tha’nu fi al-Quran). 

Menghujat al-Quran (ath-Tha’nu fi al-Quran) masuk dalam salah satu cabang pembahasan Ilmu al-Quran, Imam as-Suyuthi dalam kitabnya al-Itqan, membuat satu pembahasan Fi Musykilihi wa Muuhim al-Ikhtilaf wa at-Tanaqudh yang membahas tentang pandangan-pandangan yang mengatakan bahwa dalam ayat al-Quran terdapat kesimpang siuran, sedangkan Zarkasyi dalam kiabnya al-Burhan membuatnya dalam pembahasan Ma’rifah Muhim al-Mukhtalaf. 

Kalangan Yahudi-Kristen telah lama menghujat Al-­Qur’an. Hal  ini bisa dimengerti karena mereka menolak jika Al-Qur’an meluruskan agama mereka.misalnya firman Allah:

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata sesungguhnya Allah ialah al-Masih putera Maryam.” (QS. Al-Maidah: 72, lihat juga QS. At-Taubah: 31 dan QS. An-Nisa’: 157) 

Pernyataan Al-Qur’an tersebut membuat orang kristen marah dan geram. Oleh sebab itu, sejak awal mereka menganggap al-Qur’an sama sekali bukan kalam Ilahi. Mereka menjadikan Bibel sebagai tolak ukur untuk menilai al-Qur’an.

 Mereka menilai bila isi al-Qur’an bertentangan dengan kandungan Bibel, maka al-Qur’an yang salah. Sebab, menurut mereka, Bibel tidak mungkin salah. Karena Al-Qur’an berani mengkritik dengan sangat tajam kata-kata Tuhan di dalam Bibel, maka AI-Qur’an bersumber dari setan.

Kandungan al-Quran yang mengecam ajaran Yahudi dan Kristen seperti itu jelas akan menuai reaksi balik sepanjang masa. Seorang kaisar Byzantium,Leo III (717-741 M) misalnya,telah menuduh al-Hallaj bin Yusuf ats-Tsaqafi, seorang gubernur di zaman kekhalifahan Abdul Malik bin Marwan (684-704 M) telah mengubah al-Quran. 

Yahya al-Dimasyqi atau dikenal dengan John of Damascus telah menulis dalam bahasa Yunani kuno kepada kalangan Kristen ortodoks bahwa Islam mengajarkan anti kristus. John of Damascus berpendapat bahwa Muhammad adalah seorang penipu kepada orang Arab yang bodoh. Dengan liciknya, katanya, Muhammad bisa menikahi Khadijah sehingga mendapat kekayaan dan kesenangan. Dengan cerdasnya, Muhammad menyembunyikan penyakit epilepsinya ketika menerima wahyu dari Jibril. Muhammad memiliki hobi perang karena nafsu seksnya tidak tersalurkan. 

Hari ini umat Islam sedang berjihad melawan orang No 1 di DKI yaitu Bapak Ahok yang telah menghujat Alquran. Ahok secara sadar telah menyatakan orang telah dibodohi andaikan tidak memilih dirinya atas dasar surat Al Maidah ayat 51. 

Dengan pernyataan dia seperti itu artinya Ahok telah telah secara nyata menyebut Alquran sebagai sumber kebodohan dan siapa saja yang menyampaikan haramnya memilih pemimpin kafir dengan dasar ayat itu juga disebut Ahok sebagai telah melakukan pembodohan. 

Alih-alih minta maaf, Ahok seperti biasa dengan arogannya ngeles dengan mengatakan konteksnya lawan politik memanfaatkan ayat Alquran. Bukan berarti Alqurannya yang membodohi. Dan tetap publik tidak puas dengan alasan Ahok. Termasuk saya.
Bahkan, dalam suatu acara dengan terang terangan dia melakukan misionari di ruang rapat dengan mengatakan beberapa statement yang menyudutkan ajaran Islam seperti yang bisa anda lihat di lino video berikut: https://youtu.be/MLWFE_l7XkE dengan mengatakan bahwa agama adalah Racun

Semoga Allah swt memberikan kekuatan kepada umat Islam khususnya para ulama di dewan MUI Pusat yang terus berjuang agar kasus penistaan Alquran ini bisa diproses sampai ke ranah pengadilan. 

Semoga Allah swt menyatukan umat Islam dalam rahmat dan kasih sayang-Nya. Amiin. 

Referensi:

  1. https://ahmadbinhanbal.wordpress.com/2010/06/21/para-penghujat-al-quran-era-abad-20/
  2. http://m.republika.co.id/berita/nasional/politik/16/10/08/oepmsd414-hti-ucapan-ahok-menghina-keagungan-dan-kesucian-alquran

Provokasi Membenci Al-Quran


Sejak pagi ini, saya melihat banyak beredar info di sosmed dan group WA, tentang sejumlah mushaf Al Quran yang berisi terjemahan surah Al Maidah 51 sebagai berikut:

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai teman setia(mu)… dst”

Seperti pada kiriman gambar berikut:

Orang-orang yang menshare info tersebut pun berkata bahwa terjemahan seperti itu merupakan rekayasa untuk kepentingan politik. Sebab dengan mengubah frase “sebagai pemimpinmu” menjadi “sebagai teman setiamu“, terkesan itu dibuat demi keberpihakan kepada tokoh tertentu.

Menurut saya, itu tuduhan yang terlalu berlebihan, karena:

  1. Terjemahan seperti itu sebenarnya sudah sejak lama beredar.
  2. Saya sudah mengecek beberapa mushaf Al Quran, hampir semua terjemahannya seperti itu.
  3. Semua Al Qur’an terjemahan yg beredar di wilayah hukum RI menggunakan terjemah yang sama untuk semua ayat dan surat.
  4. Semua mengikuti standar Lajnah Pentashihan Mushaf Al Qur`an kemenag RI dan di beri no lulus tashih yang dicantumkan di Al Qur`an. 
  5. Semua terjemahan sudah seperti yang tertera dari dahulu tanpa ada konteks politik apapun. 
  6. Lajnah Pentashihan Mushaf Al Quran Kementerian Agama RI tidak mengubah arti “pemimpin” menjadi “teman setia” karena persoalan politik ataupun karena kepentingan orang atau golongan tertentu. 
  7. Terjemahan al Quran adalah buatan manusia. Perlu dibaca bagi kita yang belum paham bahasa Arab. Namun terjemahan BUKANLAH SEGALANYA. Sangat salah kaprah jika kita mengartikan Al Quran hanya bermodal terjemahan. 
  8. Cara terbaik untuk memahami Al Quran adalah lewat ILMU TAFSIR. Dan karena tidak semua umat Islam menguasai ilmu tafsir, maka sebaiknya kita belajar kepada para ahli tafsir yang kredibel dan islamnya lurus, baik ketemu langsung orangnya atau membaca buku-buku mereka.
  9. Karena itu, janganlah kita terlalu sibuk menghabiskan waktu dan tenaga untuk mempermasalahkan terjemahan. Itu tidak terlalu bermanfaat.
  10.  Saya khawatir jika beredarnya info-info tentang terjemahan Al Maidah 51 itu justru dibuat oleh para provokator, dengan tujuan agar kita membenci mushaf Al Quran tertentu, dan ujung-ujungnya kita diprovokasi untuk membakar mushaf tersebut. Naudzubillahi min dzalik!
  11. Walau banyak mushaf yang terjemahannya tidak sesuai dengan yang sebenarnya, itu tidak masalah. Sebab terjemahan itu buatan manusia yang bisa saja isinya salah atau keliru. Sedangkan yang asli dari Allah adalah teks Al Qurannya.
  12. Walau mushaf di rumah Anda ternyata berisi terjemahan yang keliru, itu tidak masalah. Yang penting ISI TEKS AL QURANnya benar sesuai aslinya.
  13. Tetaplah memperlakukan mushaf tersebut dengan baik dan terhormat, dengan akhlak yang baik sesuai ajaran Islam.
  14. Jangan mudah terprovokasi oleh info-info yang sekilas terkesan baik, namun itu justru berisi provokasi yang merugikan kita sendiri.

Umat Islam yang masih men-share postingan tentang perbedaan terjemah ini agar segera menghentikannya. Karena akan berdampak buruk bagi umat dan juga penerbit Alquran yang mendapat kecaman tanpa klarifikasi. 

Semoga bermanfaat dan umat Islam semakin bersemangat lagi untuk lebih mendalam belajar Alquran dan Tafsir Alquran. 

Kata Siapa Membaca Al Quran Bikin Habis Waktu?


hafal-alquran

Membaca Al-Quran tidak akan menguraingi waktumu. Justru sebaliknya, ia akan menambah waktumu.

Secara hitungan matematika dunia, membaca Al Quran tampak seakan-akan mengurangi waktu. Dari total 24 jam dalam sehari, seolah-olah berkurang sekian detik, sekian menit atau sekian jam jika digunakan untuk membaca Al Quran.
Tapi, tahukah kamu bahwa waktu yang kamu gunakan untuk membaca Al Quran itu sebenarnya tidak hilang begitu saja. Ia akan diganti oleh Allah dengan keberkahan yang berlipat ganda.



Apa itu keberkahan?



Keberkahan artinya pertambahan dan pertumbuhan. Wujudnya bisa bermacam-macam. Misalnya, pekerjaanmu beres, produktivitasmu meningkat, keuntunganmu bertambah, kesehatanmu terjaga dan seterusnya.
Itu adalah wujud keberkahan yang akan diperoleh oleh orang yang membaca Al Quran.
Pernahkah anda mendengar tentang orang yang stress? Atau orang yang sedang kebingungan mencari inspirasi?

Atau orang yang kesulitan menyelesaikan pekerjaannya? Atau orang yang waktunya habis sia-sia tanpa produktivitas?
Itu adalah bentuk-bentuk kehilangan umur yang disebabkan tidak berkahnya waktu.



Tahukah kamu bahwa dahulu para ulama bisa menulis karya-karya agung yang jumlahnya melebihi bilangan umur mereka? Padahal saat itu belum ada mesin ketik, apalagi komputer.

Semuanya ditulis manual dengan tangan dan peralatan yang sangat sederhana, ditambah kondisi yang lebih sulit daripada kondisi sekarang.
Mengapa mereka bisa? Jawabnya karena waktu mereka penuh berkah.
Dari mana keberkahan itu? Jawabnya dari membaca Al Quran



Perhatikan kisah berikut:
Ibrahim bin Abdul Wahid Al Maqdisi berwasiat kepada Al Dhiya Al Maqdisi sebelum yang terakhir pergi menuntut ilmu:
“Perbanyaklah membaca Al Quran. Jangan kamu tinggalkan. Karena kemudahan yang akan kamu peroleh dalam pencarianmu akan berbanding lurus dengan kadar yang kamu baca.”



Al Dhiya mengatakan, “Lalu aku renungi hal itu dan aku praktekkan berkali-kali. Setiap kali aku membaca banyak, semakin mudah aku menghafal hadits dan menulisnya. Jika aku tidak membaca, tidak mudah aku melakukannya.”
Sumber:

“Dzail Thabaqat al-Hanabilah”, karya Ibnu Rajab al Hambali.



Jadi, jelaslah bahwa membaca Al Quran membawa keberkahan sehingga waktu yang kita miliki bisa lebih bermakna dengannya.
Terakhir pesan saya,

JANGAN kamu membaca Al Quran di waktu luangmu, tapi LUANGKAN waktumu untuk membaca Al Quran.

(Jumal Ahmad) 

Huda.id, Mesin Pencari Berbasis Al-Quran


Berawal dari sebuah komentar di tulisan kami tentang Lafdzi, aplikasi untuk search Alquran dengan huruf latin. Si pembaca memberikan usulan agar Lafdzi bisa digabungkan dengan Huda.id. langsung saja pesan itu saya teruskan ke mas Abrar developer Lafdzi, tapi belum ada tanggapan sampai sekarang.

Sambil menunggu tanggapan mas Abrar, iseng-iseng saya upload keterangan tentang Huda.id dari mas Andreas Senjaya yang saya dapatkan dari akun blog Tumblr nya.

Continue reading

%d bloggers like this: