Imam Ahmad dan Fitnah Khalqul Quran di masa Al-Makmun


Nama lengkapnya adalah Abdullah Abu Al-Abbas bin Al-Rasyid. Dilahirkan pada malam jumat pertengahan bulan Rabi’ul Awal tahun 170 Hijriyah. Malam kelahirannya tepat pada malam wafatnya pamannya, Al-Hadi dan digantikan oleh ayahnya Al-Rasyid[1].

Sejak kecil Al-Makmun telah mempelajari banyak disiplin ilmu. Dalam bidang hadits Al-Makmun menimba dari ayahnya Al-Rasyid, Hasyim, Ubaid bin Al-Awwam, Yusuf  bin ‘Athiyah dan Hajjaj Al-Awwar serta ulama-ulama lain yang sezaman dengan mereka.

Al-Makmun adalah tokoh istimewa yang memiliki kemauan kuat, kesabaran, keluasan ilmu, kecerdikan, kewibawaan dan keberanian. Sering kali  Al-Makmun mengumpulkan para fuqaha dari berbagai penjuru negeri untuk berdialog dengan mereka dalam masalah-masalah dunia mapun akhirat. Dan saat menjelang dewasa, Al-Makmun banyak berkutat dengan ilmu filsafat dan ilmu-ilmu lain yang banyak berkembang di Yunani, yang secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh pada kebijakannya dalam proyek penerjemahan manuskrip-manuskrip filsafat dari pulau Cyprus ke dalam bahasa Arab yang kontroversial.[2] Continue reading

%d bloggers like this: