Syarat Mufassir: Syarat Cabang Sesuai Jenis Tafsirnya [4]


Quran_002__1366x768

[1] Tafsir bil Ma’tsur

Yaitu setiap yang datang dari al-Quran, sunnah atau perkataan sahabt yang menjelaskan maksud Allah SWT[1]

Syarat-syarat Tafsir bil Ma’tsur

  1. Berkenaan dengan Rawi Tafsir: Akal, Dhabt, Islam, Adalah
  2.  Mengetahui ilmu hadits riwayah dan dirayah
  3.   Menjadikan al-Quran sebagai panduan utama
  4.  Menjadikan hadits sebagai panduan kedua
  5. Menjadikan aqwal sahabat sebagai panduan ketiga
  6. Menjadikan aqwal tabi’in sebagai panduan keempat
  7.  Sebaiknya seoramng mufasir bil ma’tsur mengumpulkan riwayat-riwayat yang berbeda
  8. Mengetahui hakikat perbedaan riwayat dalam tafsir dan sebabnya
  9. Menukil perkataan yang sesuai dengan pemahaman
  10.  Tidak berpegangan pada riwayat israiliyat

[2] Tafsir Bayani

Syarat Tafsir al-Bayani

Tafsir Bayani adalah tafsir yang mengumpulkan hal-hal yang merupakan kalimat yang indah dan unik dari al-Quran yang berbeda dengan uslub bangsa arab dan memberikan penjelasan dengan lafal yang bagus dan makna yang baik

  1. Seorang mufasir mengumpulkan mengumpulkan penjelasan ayat-ayat dalam stu judul, mengkorelasikan satu ayat dengan ayat lainnya lalu mentadabburi dan menafsirkannya
  2. Mufasir merapikan tafsir bayaninya dalam satu judul sesuai dengan waktu turunnya
  3. Mempe;ajari secara rinci nash al-quran yang berkaitan tentang sebab turunnya, jami’, penulisan dan qiraahnya.
  4. Mempelajari secara umum lingkungan dimana ayat itu turun seperti gunung, gurung dan lainnya atau secara maknawi seperti sejarah umat terdahulu.
  5. Mempe;lajari nash al-quran secara mufradatnya, dengan cara belajar secara bahasa atau mufradat dari tiap daerah
  6. Mempelajari nash al-quran melalui balaghah

Hal di atas bias dibangun melalui perspektif berikut:

  1. Ibrah atau pelajran dari suatu lafal adalah keumuman lafalnya bukan karena kekhususan sebab
  2. Meneliti lafal al-quran dalam setiap lafal
  3. Al-quran adalah sebuah qaidah
  4. Meninggalkan perselisihan tentang sesuatu yang masih dianggap mubham

 

[3] Tafsir Ijtima’i

Tafsir ini dipelopori oleh Jamaluddin al-Afghani yang menjadi pionir pemikiran islam, menyeru untuk memperbikik masyarakat dengan jalan kembali kepada islam dan berhukum pada al-Quran dan as-Sunnah. Setelah kematiannya cara tafsir ini dikembangkan oleh Muhammad Abduh lalu dalam penulisn tafsirnya dikembangkan dan diteruskan oleh Muhammad Rasuyid Ridha, dan tafsirnya dikenal dengan nama Tafsir “al-Manar”.

Syarat-syarat Tafsir Ijtima’i

  1. Mufasir membatasi tujuan utama dari tafsir yaitu untuk memahami al-Quran sebagai agama petunjuk di dunia dan di akhirat
  2.  Seorang mufasir hanya membahas pada satu masalah atau satu surat saja
  3. Seorang mufasir mengambil perkataan menyeluruh dari al-Quran
  4.  Meninggalkan perkataan yang masih mubham
  5.  Mufasir mengikuti manhaj tafsir aqli
  6. Menjadikan al-Quran sebagai masdar tasyri’
  7.   Menjauhi tafsir israiliyat
  8.  Tidak mengikuti pemikiran muslim yang kahir-akhir tetapi mengikuti pemahaman umat islam yang pertama-tama

 

[4] Tafsir al-Maudhu’i

Istilah ini baru muncul pada abad 14 Hijriyah, yaitu ketika Universitas al-Azhar bagian studi Tafsir memasukkan studi ini dalam bidang pelajaran mereka. DR Abdussattar Fathullah Sa’id mengatakan bahwa makna dari Tafsir al-Maudhu’I adalah sebuiah ilmu yang membahas tentang al-Quran dengan cara mengumpulkan ayat-ayat yang terpisah, menelitinya dalam pembahasan yang khusus dan styarat-syarat yang khusus untuk menjelaskan maknanya dan mengeluarkan makan-makna di dalamnya.

Syarat-syarat Tafsir al-Maudhu’i

  1.  Seorang mufasir melazimi cara dalam menafsirkan ayat yang bersumber pada al-Quran, sunnah, perkataan sahabat dan tabi’in dan tidak boleh mengambil dari selainnya dengan tetap bersumber pada al-Quran, Dr Abdul Hay al-Farmawi mengatakan: “Tafsir maudhu’ disempurnakan dengan hadits-hadits dari Rasulullah saw jika hal itu diperlukan, sehingga pembahasannya jadi sempurna dan semakin menambah penjelasan.”[2]
  2.  Seorang mufasir mengaitkan penafsirannya dengan atsar yang benar dalam tafsir dan menjauhi atsar atau hadits yang dhaif atau israiliyat, dan memfokuskan diri untuk menyimpulkan ayat tersebut
  3.  Tidak memperlebar pembahasan, sebagai contoh adalah apa yang telah dilakukan oleh Fakhru Razi pada zaman dahulu dan Thanthawi Jauhari pada zaman sekarang sehingga para ulama mengatakan bahwa dalam tafsir mereka ada banyak sekali ilmu kecuali tafsir
  4.  Seorang mufasir meneliti maudhui’nya dengan teliti sebelum ia menafsirkan karena tafsir maudhu’i terdiri dari berbagai macam ayat
  5.  Seorang mufasir tidak membuat tafsir maudhu’i berdsarkan hawa nafsu, pemikiran atau mazhab tertentu. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh kelompok –kelompok yang sesat.
  6. Hendaknya ia melazimi syarat-syarat dalam penelitian ilmiah
  7.  Seorang mufasir menjaga khashaish dalam al-Quran. Dr Abdussattaar telah menyebutkan khasaish dalam al-Quran di antaranya:
  8. 1.القرآن أصل الأصول جميعا
  9. 2. القرآن غاية في الإحكام والإتقان
  10. 3. القرآن كتاب الهداية
  11. 4. القرآن عربي اللسان لا الصفات

[5] Tafsir Ilmi

Prof Amin al-Khauli menyebutkan bahwa Tafsir Ilmi adalah “Tafsir yang membahas ilmu pengetahuan dari prespektif al-Quran dan berusaha untuk mengeluarkan berbagai macam ilmu dan pandangan filsafat darinya.”[3]

Syarat-syarat Tafsir Ilmi

  1. Tidak lepas dari tujuan utama Al-Quran yaitu hidayah
  2.  Mufasir menyampaikan pembahasannya agar umat islam lebih termotifasi untuk berubah dari keadaan mereka sekarang dan agar mereka kembali pada Al-Quran
  3.  Mufasir menyampakan pembahasan yang bisa menjadikan Al-Quran semakin kuat tidak malah membuat Al-Quran diragukan
  4.  Mufasir menjaga kesesuaian antara materi dengan nash Al-Quran
  5.  Mufasir membahas ayat penuh dan tidak mengambilnya sepotong-potong
  6.  Hendaknya mufasir tidak melakukan tafsir ilmi kecuali mempunyai dasar ilmiyah yang bisa dipercaya dan meyakinkan
  7.  Mufasir tidak melakukan tafsir ilmi pada ayat-ayat mukjizat dan pada perkara- perkara di luar dugaan dengan alasan berlawanan dengan ilmiyah.
  8.  Tidak menafsirkan ayat al-quran dengan istilah baru setelah turunnya al-quran

Selain dari syarat-syarat di atas, terdapat syarat-syarat lain yangtelah dikemukakan oleh pengarang kitab “ushul tafsir wa qawaiduhu” yaitu:

  1. Memenuhi syarat-syarat mufasir
  2. Menfsirkan ayat kauniyah sesuai dengan al-quran
  3. Dalam tafsir tidak disebutkan pandangan-pandangan ilmiyah yang menyesatkan
  4. Tidak membawa ayat pada pemahaman ilmiyah
  5. Ayat kauniyah dijadikan penjelas dari ayat quraniyah
  6. Menjaga makna bahasa arab
  7. Tidak menyelisihi syariat
  8. Tafsirnya komprehensif sehingga tidak membutuhkan penjelasan makna
  9. Ada keterikatan antara tafsir dan ilmiyah
  10. Menggunakan ayat kauniyah untuk menafsirkan al-quran. []

 


[1] Manahilul Irfan 2/14

[2] Al-Bidayah fi Tafsir al-Maudhu’i: 62

[3] Tafsir ma’alim hayatihi manhajuhu al-yaum: 19-20

Syarat Mufassir: Syarat Aqliyah [2]


Islamic_Wallpaper_Quran_001-1366x768

[1] Dalil yang kuat

Seorang mufasir wajib memiliki kemampuan akal yang sempurna, dalil yang kuat dan hasil kesimpulan yang baik. Dan masuk dalam hal ini adalah Ilmu al-Mauhibah yang diartikan oleh ar-Raghib al-Asfahani sebagai ilmu yang Allah wariskan kepada orang yang mengamalkan apa yang ia ketahui, hal ini sesuai dengan isyarat dari Nabi SAW: “Barang siapa yang mengamalkan apa yang ia ketahui, Allah akan mewariskan baginya ilmu yang belum ia ketahui.”[1]

Bahkan Allah akan memberikan ilmu Nurani Ilahi untuk hati yang bertaqwa, sebagaimana firman Allah:”Dan bertaqawalah kepada Allah dan Allah akan mengajarkanmu.”

Para Sahabat dalam tafsir mereka berpegang pada ijtihad dan kekuatan istimbath, selain didukung oleh kemampuan akal dan ilmiyah dan kekuatan istimbath yang terikat kuat dengan kuatnya berdalil

Tafsir Thabari dikenal sebagai penghulu kitab tafsir serta paling terkenal, dijadikan sebagai rujukan awal oleh mufasir dalam naql sekalipun waktu itu banyak kitab-kitab tafsir lain dari tafsir aqli, tetapi hal ini tidak mengurangi posisi kitab tersebut. Ini tidak akan terjadi kecuali jika pengarangnya mempunyai istidlal yang kuat dan istimbath yang baik

[2] Pemahaman yang mendalam

Wajib bagi seorang mufasir mempunyai pemahaman yang mendalam yang mampu membantunya untuk mentarjih makna atau menyimpulkan makna sesuai dengan nash syari’at.

Dr Az-Zahabi mengatakan bahwa pemahaman yang mendalam dan pengetahuan yang luas adalah fadhilah Allah yang Ia berikan pada siapa yang Ia kehendaki. Banyak ayat al-Quran yang dalam maknanya dan maknanya tersembunyi. Tidak bisa diketahui kecuali orang yang telah diberi pemahaman dan cahaya bashirah. Dan Ibnu Abbas salah seorang yang paling banyak memiliki hal ini. Ini masuk dalam berkah dari doa’ Nabi SAW : “Ya Allah faqihkanlah ia dalam agama dan ajarilah ia ta’wil.”[2]

[3] Kemampuan Untuk Mentarjih dan Menjama’ di antara perkataan-perkataan

Wajib bagi orang yang bergelut dalam tafsir agar mampu dalam mentarjih jika ada dalil yang saling betentangan dan mampu menjama’perkataan dan menimbang pendapat-pendapat ketika terjadi ikhtilaf, mengetahui hakikat perbedaan perkataan tersebut, karena kebanyakan perbedaan dalam ikhtilaf tanawu’ bukan ikhtilaf tadhath. Sekaligus memperhatikan cara mentarjih ketika ihtimal.

Ibnu Qudamah mengatakan bahwa wajib bagi seorang mujtahid -dalam setiap masalah dan tafsir- agar melihat pada ujma’, jika ia telah mendapatkannya, ia tidak butuh untuk melihat pada selainnya.”[3] Hal itu karena ijma’ ulama adalah macam tafsir yang paling tinggi.

Di antara para mufasir yang banyak mentarjih dan menjama’ dalam tafsirnya adalah Ibnu Jarir, Imam al-Qurtubi, dan Ibnu Atiyah.


[1] Hilyatul Auliya’ 10/15

[2] Tafsir wal Mufasirun 1/41

[3] Raudhatun Nadhir wa Jannatul Manadhir 2/456

Syarat Mufassir: Syarat Syar’iyyah dan Akhlaqiyah [1]


tafsir3[1] Benar Aqidahnya

Imam Ibnu Jarir berkata: “Ketahuilah bahwa termasuk dari syarat seorang Mufasir adalah benar aqidahnya terlebih dahulu kemudian melazimi sunnah.”[1]

 

Imam Zarkasyi berkata: “ketahuilah bahwa seorang peneliti tidak akan bisa memahami makna wahyu secara haqiqi, tidask akan ditamopakkan rahasia ilmu yang ghaib sedangkan dihatinya ada bid’ah, berkubang dalam dosa, atau dalam hatinya ada kesombongan, hawa nafsu dan kecondongan pada dunia.”[2] Continue reading

Syarat-Syarat Mufassir


islamic-Wallpapers-with-Quranic-Verses-Pictures

“Keutamaan Al-Quran dan Kalam Allah atas perkataan yang lain ibarat keutamaan Allah atas makhluk-Nya” ini adalah hadits Nabi yang menyebutkan keutamaan Al-Quran termasuk pula keutamaan dari Ilmu Tafsir sendiri karena keutamaan ilmu sebanding dengan isinya dan isi pembahasan dari Ilmu Tafsir adalah Al-Quran.

Selanjutnya kami ingin mencoba memposting artikel berseri tentang syarat dan adab seorang Mufasir yang sempat saya ringkas dan terjemahkan dari buku hasil disertasi karya anak bangsa yang  berjudul ‘Al-Mufassir, Syurutuhu, Adabuhu wa Mashadiruhu’ diterbitkan oleh Universitas Madinah oleh Ustadz Muhammad Qusyairi Suhail.

Pembasahan tentang masalah syarat Mufasir dan adab-adabnya termasuk pemabahasan yang jarang, karena para ulama menyebutkannya terpencar-pencar dan sedikit sekali yang mengumpulkannya dalam satu buku, dan tujuan penulisan buku ini salah satunya adalah mengumpulkan syarat-syarat dan hal lain tentang seorang mufasir dalam satu buah buku.

Tafsir adalah kunci dari harta karun Al-Quran yang diturunkan untuk memperbaiki manusia, memuliakannya dan juga alam semesta. Tanpa Tafsir tidak mungkin kita akan sampai pada harta karun ini.

Maka kita dapatkan sebab kemunduran umat Islam pada hari ini, sekalipun al-Quran ada di tangan mereka, berjuta-juta Hufaz ada, jumlah mereka banyak Sedangkan para Salaf mereka mendapatkan kesuksesan yang besar meskipun jumlah mereka sedikit, dunia sempit, hidup sulit, mushaf sulit didapat dan para hufaz juga belum banyak. Rahasia mereka adalah karena mereka sungguh-sungguh belajar al-Quran, mereka keluarkan harta karun hidayahnya yang dibangun diatas fitrah mereka yang masih suci, kemampuan bahasa mereka yang bagus, Rasul menerangkan kepada mereka al-Quran dengan perkatan, amal dan akhlaqnya.

Oleh karena itu kita dapatkan para salaf dahulu mementingkan untuk menghafal Al-Quran dan mereka sudah faham sebelum hafal lalu mereka mengamalkannya dan mereka mendapat hidayah.

  • Ibnu Mas’ud berkata: “Laki-laki di antara kami jika belajar 10 ayat tidak menambah hingga ia mengetahui maknanya dan mengamalkannya.”
  • Anas bin Malik berkata: “Seorang laki-laki jika telah hafal al-Baqarah dan Ali Imran dihormati.”
  • Ibnu Umar butuh waktu beberapa tahun untuk menghafal al-Baqarah
  • Sa’ad bin Jubai: “Barangsiapa yang membaca al-Quran dan belum menafsirkannya, ia seperti orang yang buta atau badui.”
  • Mujahid berkata: “Manusia yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling tahu dengan apa yang Ia turunkan.”
  • At-Thabari berkata: “Sungguh aku heran terhadap orang yang membaca al-Quran dan belum tahu tafsirnya, bagaimana ia bisa merasa lezat ketika membacanya?.”

Untuk lebih mengetahui pentingnya Tafsir ini kami sampaikan perkataan Ibnu Abbas, ia berkata bahwa Tafsir itu ada 4; yang diketahui orang arab, tafsir yang tidak mungkin orang tidak mengetahuinmya, tafsir yang hanya diketahui para ulama dan tafsir yang hanya diketahui oelh Allah SWT saja.”

Ilmu Tafsir menjadi mulia karena dua hal.

  • Pertama, maudhunya adalah al-Quran.
  • Kedua, Tafsir adalah ilmu yang pertama kali dipelajari oleh para ulama sebelum ilmu yang lain

Selanjutnya, Syarat-syarat Mufasir tersebut kami lampirkan disini dan Insya Allah akan kami bahas lebih lanjut di postingan selanjutnya.

  1. Syarat Syar’iyyah dan Akhlaqiyah.
  2. Syarat ‘Aqliyyah.
  3. Syarat Ilmiyyah.
  4. Syarat Cabang Sesuai Jenis Tafsirnya.

Mengenal Nama-Nama Mufasir Masa Sahabat dan Tabi’in


tafsir sahabat dan tabiinKata orang ‘tak kenal maka kenalan’, peribahasa itu saya pakai di postingan ini buat lebih mengenal nama-nama Ahli tafsir masa Sahabat dan Tabi’in, semoga dengan lebih mengenal mereka akan menambah khazanah keilmuan mendekatkan kita untuk lebih mengenal ulama-ulama Islam  dalam bidang tafsir. Continue reading

Al-Quran Sebagai Pedoman Hidup


alquran sebagai pedoman hidupPendahuluan

Al-Qur’an adalah kitab suci umat islam yang diturunkan oleh Allah SWT melalui Malikat Jibril secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad SAW. Al-Qur’an  merupakan kitab suci terakhir A-Qur’an isinya mencakup seluruh inti wahyu yang telah diturunkan kepada para nabi dan rasul sebelumnya. Al-Qur’an adalah mukjizat nabi Muhammad SAW yang terbesar diantara mukjizat-mukjizat lainnya.

  Continue reading

Tokoh-Tokoh Penting Peletak Dasar Kitab Talmud


24 Pasal Protokolat Zionisme Dari Kongres Zionis Di Bassel, Swiss Tahun 1897Dari apa yang telah kami sampaikan dalam blog ini tentang sejarah Talmud dan pengaruhnya di dunia dan Islam khususnya, dapat diambil kesimpulan bahwa kitab Talmud adalah suatu komposisi unik yang dirangkum dari pandangan-pandangankontradiktif melalui permisalan dan hukum-hukum yang dibuat para Hakhom. Dalam segi hukum-hukumnya, Talmud sangat jauh berbeda dengan kitab Taurat. Continue reading

%d bloggers like this: