Adab Pelajar Ilmu Hadits


Adab Pelajar Ilmu HaditsAdab Thalibul Hadits min “al-Jami’” Lil Khatib, buku ini mengambil inti sari serta pilihan-pilihan yang diambl dari kitab al-Jami; li Akhaqir Rawi yang dikarang oleh Khatib al-Baghdadi, pengarang buku ini adaah Syaikh Bakar bin Abdulah Abu Zaid, salah satu ulama yang memiliki perhatian yang intens terhdap hadits dan ilmu hadits. Dan beberapa terjemahan dari buku ini saya hadirkan kepada pembaca, khususnya bagi para penuntut ilmu di pesantren agar nasihat dan tips belajar dalam buku ini bisa bermanfaat. Continue reading

Kenikmatan Hidup


kenikmatan dalam hidupSetiap manusia, apalagi sebagai muslim, tentu mendambakan kehidupan yang menyenangkan di dunia ini, bahkan kalau perlu seolah-olah dunia ini menjadi milik kita. Untuk bisa merasakan kehikmatan hidup di dunia ini, ada tiga perkara yang harus dicapai oleh seorang muslim, hal ini disebutkan dalam hadis Nabi, “Barangsiapa yang di pagi hari sehat badannya, tenang jiwanya, dan dia mempunyai makanan di hari itu, maka seolah-olah dunia ini dikaruniakan kepadanya.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah). Continue reading

Perkembangan Studi Al-Quran di Indonesia


543160_595730630443910_2075263668_nAl- Qur’an adalah sumber utama hukum Islam sejak generasi Sahabat hingga kini, Meskipun mereka hidup di jaman dan tempat yang berbeda, namun hasil kajian yang dituangkan para ulama dalam kitab-kitab tafsirnya secara prinsip tidak jauh berbeda. Adanya beberapa perbedaan penafsiran di kalangan para ulama yang bermartabat lebih bersifat variatif dan bukan kontra-diktif. Sebab dalam menafsirkan ayat-ayat, mereka mengacu pada prinsip dan kaedah ‘Ulum al-Qur’an yang benar, yang diwariskan secara terpercaya dari generasi ke generasi. Perkembangan prinsip kajian al-Qur’an melalui metode sanad (mata rantai) dari ulama-ulama yang bermartabat senantiasa disandarkan pada konsep wahyu. Landasan sanad yang terbina dalam tradisi keilmuan Islam dengan sendirinya tidak memberi ruang bagi berkembangnya paham relativisme dan spekulasi akal yang tidak bertanggung jawab. Dalam sebuah atsar, Abu Hurairah  menuturkan: “Sesungguhnya ilmu ini (sanad) adalah agama. Oleh sebab itu, perhati-kanlah dari siapa kamu mengambil agamamu.” Continue reading

Abu Hurairah: Gudang Perbendaharaan Pada Masa Wahyu


abu hurairah

Tidak asing lagi dikalangan umat ini, tentang sahabat yang sangat erat dengan dunia periwayatan hadits dan beliau pula diantara para sahabat yang paling banyak meriwayakan hadits Rosulullah saw, dialah Abu Hurairah ra.

Asal Usul Gelar Abu Hurairah

Nama yang disandang beliau pada masa jahiliyah adalah Abdu Syamsi. Setelah beliau masuk Islam, Allah SWT memuliakan dirinya dengan bertemu Rosulullah saw. Kemudian Rosulullah saw mengganti namanya dengan Abdurrahman.

Adapun gelar Abu Hurairah ra karena kegemarannya bermain dengan anak kucing. Diceritakan pada suatu masa ketika Abu Hurairah ra bertemu Rasullullah saw dia ditanyai tentang apa yang ada dalam lengan bajunya. Apabila dia menunjukkan anak kucing yang ada dalam lengan bajunya, lantas dia diberi gelar Abu Hurairah ra oleh Rasullullah saw. Semenjak itulah, dia lebih suka dikenali dengan gelaran Abu Hurairah ra.

Masuk Islamnya Abu Hurairah ra

Abu Hurairah ra memeluk Islam pada tahun ke-7 Hijriyah ketika Rasulullah saw berada di Khaibar, ia memeluk Islam dengan perantaraan tangan Thufail bin Amru Ad-Dausiy. Semenjak ia bertemu dengan Nabi saw, ia berbai’at kepadanya dan hampir-hampir tidak pernah berpisah darinya kecuali pada saat-saat tertentu seperti waktu tidur. Begitulah kehidupannya selama kurang lebih empat tahun dalam menemani Rosulullah saw. Dan karena itulah, beliau mempunyai perbendaharaan yang sangat menakjubkan dalam meriwayatkan hadits.

Kelebihannya dalam Hafalan dan Ingatan

Abu Hurairah ra termasuk salah seorang sahabat Nabi yang mempunyai bakat-bakat istimewa. Beliau ra mempunyai kemampuan dan kekuatan yang luar biasa dalam hal hafalan dan ingatan. Kelebihan yang dimilikinya bisa menangkap apa yang didengarnya sedang ingatannya sangat kuat untuk menghafal dan menyimpan. Didengarnya, ditampungnya lalu terpatri dalam ingatannya hingga dihafalnya, hampir tak pernah dia melupakan apa yang telah didengarnya, sekalipun usianya semakin bertambah. Itu terjadi setelah Allah mengabulkan do’a Rosulullah saw untuk Abu Hurairah ra supaya diberi kelebihan dalam menghafal.

Walaupun demikian, dulunya Abu Hurairah ra mempunyai ingatan yang lemah lalu beliau mengadu kepada Rasulullah. Kemudian Rasulullah saw mendoakan agar Abu Hurairah ra diberkati dengan daya ingatan yang kuat. Semenjak hari itulah Abu Hurairah dikaruniai dengan daya ingatan yang kuat yang membolehkan beliau meriwayatkan jumlah hadis terbanyak di kalangan para sahabat.

Mengapa Abu Hurairah ra termasuk Sahabat yang paling banyak meriwayatkan Hadits

Abu Hurairah ra berjaya meriwayatkan banyak hadits disebabkan beliau sentiasa berdampingan dengan Rasulullah selama tiga/empat tahun, selepas memeluk Islam. Ini sebagaimana yang di riwayatkan olehnya :

“… sesungguhnya saudara kami dari golongan Muhajirin sibuk dengan urusan mereka di pasar sedangkan  orang-orang Ansar sibuk bekerja di ladang mereka sementara aku seorang yang miskin sentiasa bersama Rasulullah saw ‘Ala Mil’i Batni. Aku hadir di majlis yang mereka tidak hadir dan aku hafal pada masa mereka lupa.” (Al-Bukhari)

Tuduhan yang ditujukan kepada Abu Hurairah ra

Sewaktu datang para pemalsu-pemalsu hadits yang dengan sengaja membuat hadits-hadits bohong, seolah-olah datang dari Rosulullah saw. Mereka memperalat dan menyalahgunakan nama Abu Hurairah dalam periwayatan hadits-hadits palsu itu. Dengan kelakuan mereka ini, hampir-hampir Abu Hurairah ra diragukan tentang kelebihannya dalam meriwayatkan hadits. Sampai-sampai Khalifah Umar bin Khattab ra pernah melarang Abu Hurairah ra untuk menyampaikan hadits dan hanya membolehkannya menyampaikan ayat Al-Quran. Hal itu disebabkan karena tersebarnya khabar angin tersebut. Larangan khalifah baru dibatalkan setelah Abu Hurairah ra mengutarakan hadits mengenai bahaya hadits palsu.

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

“Barangsiapa yang berdusa terhadap saya dengan sengaja, maka hendaklah dia mempersiapkan tempat duduknya di dalam api neraka.” (Al-Bukhari, Muslim, Ibnu Hibban, Abu Dawud, At-Tirmizi, Ibnu Majah, Ad-Darimi, dan Ahmad)

Penolakan Kaum Orientalis dan Syi’ah terhadap Hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah ra

Diantara golongan yang mempertikaikan tentang kesahihan hadits-hadits yang disampaikan oleh Abu Hurairah ra adalah golongan orientalis barat yang telah membuat kritikan terhadap hadits dan para perawinya termasuk Abu Hurairah ra. Tuduhan mereka kepada beliau telah mempengaruhi beberapa penulis Islam seperti Ahmad Amin dan Mahmud Abu Rayyuh untuk mengkritik kedudukan Abu Hurairah sebagai perawi hadits. Tuduhan-tuduhan ini telah disanggah oleh Mustafa As Sibai dalam al Sunnah wa Makanatuha halaman 273-283.

Selain dari golongan ini, terdapat juga kritikan yang kuat daripada golongan syiah. Diantara sebab-sebab yang memungkinkan kaum syi’ah menolak hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah ra adalah:

  1. Abu Hurairah ra merupakan penyokong Ustman bin Affan ra.
  2. Beliau ra pernah menjadi pegawai dinasti Umayah.
  3. Beliau ra tidak meriwayatkan hadits yang menyatakan pujian atau pengistimewaan kepada Ali ra.

Jabatannya Sebagai Gubernur

Pada masa pemerintahan Umar bin Khathab ra, Abu Hurairah ra diangkat menjadi gubernur Bahrain. Sebagaimana diketahui bahwa Umar adalah orang yang sangat keras dan teliti. Apabila dia menangkat seseorang menjadi pegawainya sedang orang itu hanya mempunyai dua pasang pakaian, maka ketika orang yang diangkat melepaskan jabatannya, ia harus mempunyai dua pasang pakaian pula. Kalau ada kelebihan harta baginya maka ia akan menerima introgasi dari Umar walaupun dengan jalan yang halal.

Hal demikian juga dialami oleh Abu Hurairah ra, ia dipanggil ke Madinah untuk diintrogasi yang akhirnya Umar ra mencopot jabatannya karena tuduhan mengumpulkan harta negara. Akan tetapi, pada suatu saat Umar ra kembali memanggilnya dan menawarkan kepadanya jabatan yang baru. Namun Abu Hurarah ra tidak menerima tawarannya dan meminta maaf atas hal itu. Alasan Abu Hurairah ra adalah supaya kehormatannya tidak sampai tercela, hartanya tidak dirampas, dan pungungnya tidak dipukul. Dan juga karena ketakutannya kepada Allah ketika memutuskan sesuatu tanpa ilmu dan berbicara tanpa rasa kasihan.

Wafatnya Abu Hurairah ra

Di kota yang penuh cahaya (Al-Madinatul Munawwarah), dia mengembuskan nafas terakhirnya pada 58 atau 59 Hijriyah. Ketika itu usianya dalam 78 tahun. Beliau dimakamkan di pemakaman Baqi’.

Peninggalan Abu Hurairah ra

Jumlah hadits yang dikumpulkan Abu Hurairah ra sebanyak 5.374 hadits dan jumlah ini paling banyak diantara jumlah yang dikumpulkan sahabat-sahabat yang lain. Hadits Abu Hurairah r.a. yang disepakati Imam Bukhari dan Muslim berjumlah 325 hadits, oleh Bukhari sendiri sebanyak 93 hadits sedangkan oleh Muslim 189 hadits. Hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah ra juga terdapat dalam kitab-kitab hadits lainnya.

%d bloggers like this: