• Selamat datang di blog Jumal Ahmad. Saya sedang meneliti tentang Meta-Level Reflection dalam Pembangunan Karakter. Semoga dimudahkan dan bermanfaat.

  • Categories

Jarimu Harimaumu


Hari ini kita sedang ramai dengan ujaran kebencian dari situs bernama seword yang tidak hati hati menulis hoax dan tanpa menyertakan fakta. Jika dulu ada pepatah “Mulutmu harimumu” konteks sekarang menjadi “Jarimu harimaumu”.

Pentingnya kehati hatian dalam menulis di sosial media, karena perbuatan penghinaan yang dilakukan terhadap di dalam dunia maya (virtual) akan berdampak sangat besar didalam kehidupan nyata (real). Akibat dari perang ejekan tersebut memungkinkan timbulnya provokasi yang berakibat pada terjadinya gesekan antar perorangan atau masyarakat.

Majalah Time menulis bahwa masalah hoax atau fake news menjadi masalah besar sejak pemilihan gubernur Jakarta beberapa waktu lalu.

Dalam agama, mulut yang di dalamnya ada lidah, harus dijaga dengan ketat. Karena kolaborasi antara mulut dan lidah sangatlah kompak. Lidah dan mulut bisa bicara apa saja, kadang tanpa bisa mengerem. Apalagi disertai dengan kemarahan, maka lidah akan mengolah kata-kata yang sangat menyakitkan disembur oleh mulut keluar tanpa rem. Oleh karena itu, Nabi memperingtakan; “Tahanlah lidahmu!” Artinya, kalau tidak bicara yang baik-baik dan bermanfaat, maka lebih baik diam.

Bakar Abu Zaid menyebutkan dalam buku “Mu’jam Al-Manahi Al-Lafdhiyyah” ketika membahas lafadh Yaa Kalb… , Said bin Musayib mengatakan: “Jangan engkau mengatakan hei keledai, hei anjing, hei babi pada saudaramu karena di akhirat nanti akan ditanya oleh Allah swt ‘Apakah kamu kira Aku menciptakan keledai, anjing atau babi?’ (HR. Ibnu Abi Syaibah).

Imam Nawawi mengatakan bahwa perkataan seperti ini (kotor/buruk) jelek karena dua hal 1) dusta 2) menyakiti.

Mari menyimak nasehat berharga Nabi Muhammad SAW kepada Muadz bin Jabal tentang pentingnya menjaga lisan.

أَلاَ أُخْبِرُكَ بِمَلاَكِ ذَلِكَ كُلِّهِ ؟ فَقُلْتُ : بَلىَ يَا رَسُوْلَ اللهِ . فَأَخَذَ بِلِسَانِهِ وَقَالِ : كُفَّ عَلَيْكَ هَذَا. قُلْتُ : يَا نَبِيَّ اللهِ، وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُوْنَ بِمَا نَتَكَلَّمَ بِهِ ؟ فَقَالَ : ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ، وَهَلْ يَكُبَّ النَاسُ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوْهِهِمْ –أَوْ قَالَ : عَلىَ مَنَاخِرِهِمْ – إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ . [رواه الترمذي وقال : حديث حسن صحيح]

Maukah kalian aku beritahukan sesuatu (yang jika kalian laksanakan) kalian dapat memiliki semua itu ?, saya berkata : Mau ya Rasulullah. Maka Rasulullah memegang lisannya lalu bersabda: Jagalah ini (dari perkataan kotor/buruk). Saya berkata: Ya Nabi Allah, apakah kita akan dihukum juga atas apa yang kita bicarakan ?, beliau bersabda: Adakah yang menyebabkan seseorang terjerumus wajahnya di neraka –atau sabda beliau : diatas hidungnya- selain buah dari yang diucapkan oleh lisan-lisan mereka. (Riwayat At-Tirmidzi dan dia berkata: Haditsnya hasan shahih)

Lalu bagaimana dengan jari-jari?

Pada dasarnya sama. Jari-jari tangan juga luar biasa. Orang akan melihat, bahwa jari-jari itu lembut, lentik dan kecil-kecil tapi jika bersatu mereka akan menjadi kuat.

Kekuatan jari-jari inilah yang juga tidak boleh dimanfaatkan dengan sembarangan. Seperti untuk menulis kalimat yang menabur kebencian, menuliskan hoax dan tanpa fakta, seakan akan si penulis tidak sadar bahwa tulisannya akan tersebar dan dibaca banyak orang.

Perhatikan tips berikut ketika mendapatkan status atau pesan.

  1. Ragukan semua informasi yang beredar sampai anda menemukan berita pembanding dari media terpercaya/kredibel.
  2. Jangan mudah emosi terhadap berita yang anda baca dan langsung menyebarkannya.
  3. Tanyakan berita/info yang anda dapatkan. Apakah ini benar? Apakah ini bermanfaat? Apakah sesuai dengan akal sehat dan hati nurani? Apakah tidak menimbulkan kebencian orang lain? Apakah akan memecah belah bangsa?
  4. Intinya ricek – ricek dan ricek.

Perintah cek dan ricek disebutkan dalam Al-Quran Surat Hujurat ayat 6.

“Wahai orang-orang yang Beriman, apabila datang seorang fasiq dengan membawa suatu informasi maka periksalah dengan teliti agar kalian tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum karena suatu kebodohan, sehingga kalian menyesali perbuatan yang telah kalian lakukan.” (QS. Al-Hujurat: 6)

Ayat ini mengajarkan kepada kita agar berhati-hati dalam menerima berita dan informasi. Karena benar dan tidaknya informasi akan menentukan penilaian dan cara menyikapinya. Jika informasi akurat sehingga membuahkan pengetahuan yang memadai, maka akan memunculkan penalian yang benar dan sikap yang tepat. Sebaliknya, jika informasi itu tidak akurat akan mengakibatkan munculnya penilaian dan keputusan yang salah. Dan giliran selanjutnya, muncul kezaliman di tengah masyarakat.

Perintah memeriksa suatu berita diungkapkan dengan kalimat ( فَتَبَيَّنُوا ) yang berasal dari kata al-tabayyun. Sementara Hamzah dan al-Kisa’i membacanya dengan ( فَتَثَبَّتُوْا ) yang berasal dari kata al-tatsabbut. Keduanya memiliki makna yang mirip.

Asy-Syaukani di dalam Fath al-Qadir menjelaskan, tabayyun maknanya adalah memahami dan memeriksa dengan teliti. Sedangkan tatsabbut artinya tidak terburu-buru mengambil kesimpulan seraya melihat berita dan realitas yang ada sehingga jelas apa yang sesungguhnya terjadi. Atau dalam bahasa lain, berita itu harus dikonfirmasi, sehingga merasa yakin akan kebenaran informasi tersebut untuk dijadikan sebuah fakta.

Tentang pentingnya moral dan budi pekerti.

Ibnu Mubarak mengatakan “Saya belajar budi pekerti selama 30 tahun dan belajar ilmu selama 20 tahun”.

Imam Syafi’i mengatakan “Ilmu itu bukan yang dihafal tapi apa yang bisa bermanfaat”.

Sebagian salaf mengatakan kepada anaknya “Wahai anakku, sekiranya engkau belajar satu bab budi pekerti lebih aku sukai daripada engkau belajar 70 bab ilmu”.

Makhlad bin Husain berkata kepada Ibnu Mubarak “Kita lebih banyak butuh pada adab daripada banyaknya hadits”.

Hadits dalam pct berikut juga layak dijadikan acuan agar lebih hati hati menyebarkan berita.

Menulis Karya Ilmiah Bersama Shierly Ann Baker


Ibu Sharley menjelaskan pentingnya ‘WHY’ dalam menulis sebuah jurnal atau tugas ilmiah, bukan hanya sampai pada ‘How’ dan ‘What’ saja. Artinya mengapa kita memilih tema itu dan pertanyaan sejenisnya menjadi penting. Maka sebelum menulis tugas ilmiah harus dimulai dari outline dan clustering.

Membuat outline terdiri dari:

  1. Main Point
  2. Supporting Details

Dan clustering seperti diagram yang berpusat dari satu main point kemudian menyebar spporting detail.

Sejak awal tahun 1980-an belajar menulis mulai berpindah dari menulis produk kepada proses menulis. Secara garis besar proses menulis terdiri dari Prewriting – Writing – Evaluating – Revising – Evaluating & Editing dan Terakhir Publishing.

Presentation1

Dan berikut ini penjelasan dari poin di atas yang saya ambilkan dari High performance-nya.

Advanced for Essay Writing

  • An intriduction statement or paragraph, that leads logically into a thesis statement.
  • A thesis statement that expresses the controlling idea of the essay.
  • An appropriate number of body paragraphs with and effective concluding paragraph.
  • The use of an appropriate rhetorical method.
  • The use of mature transitions both within and between parapgraphs.
  • Body paragraphs which each contain a topic sentence and specific, logical example.
  • Mature vocabulary development.
  • More mature sentences than simple sentences.
  • Generally correct coordination and subordination with some punctuation errors.
  • Generally correct manipulation of verb tenses.
  • Use of paralellism corrective conjunctions and verbal phrases with some errors.
  • Generally between 10 and 20 word level errors, including agreement, plural forms, word forms, word choice, pronoun reference, spelling, articles and prepositions.

High Performance for Writing Organization

  • Evidence of Planning
  • A logical and effective sequence of ideas while showing several facets to any single idea.
  • Effective transitions that facilite smooth movement between ideas
  • A sustained idea or theme from the begining, through the middle, and to the end.
  • Main points are focused and identified easily.

High Performance for Writing Development

  • A planned method in the development of a theme, moving from a definite beginning to a definitive end
  • Emphasizes and ellaborates several facets of each idea.
  • The details for each main point develop in proportion to their importance within the details.
  • Appropriate extensive or less than extensive detail, depending on the target audience of the writing.
  • Arguments, examples, facts, opinions, and details support the main poins and lend credibility to each point.

High Performance for Writing Mechanics: Proofreading/ Editing

  • A board range of effective usage and a variety of structure within sentences.
  • Sentence length controlled to suite the topic and type of writing.
  • Spelling and punctuation are consistenly correct.
  • Writer can use punctuation for a desired effect.
  • Mechanics are used to enhance style and produce clarity

High Performance for Writing Diction

  • Words choosen dor effect
  • Mood established and maintained through precise word choice.
  • Level usage sustained and appropriate for the intended audience.
  • Puns, cliches and slang may be inconporated to gain desired effect.
  • Varied words and usage replace ineffective repetition.
  • Effective transitional devices create a smooth flow within the prose.
  • An economy of words assits the development of the ideas.

Literature Review Guidlines

  • Choose a topic.
  • Compile a working reference list.
  • Read and summarize the materials gathered.
  • Write the literature review.
  • Prepare the reference list.
  • Carefully edit your writing.
  • Be proud of your work

Sumber: Academic Writing tanggal 28 dan 29 September di SPs UIN Jakarta.

Apakah Portal Garuda Dikti Masih Aktif?


Beberapa hari ini saya kebingungan untuk mencari web jurnal Indonesia yang menyediakan tempat untuk mengunggah karya ilmiah secara mandiri. Dan setelah mencari-cari info ada di portal garuda. Namun ketika saya cari lewat mesin pencari akan ditemukan 2 portal yang hampir mirip yaitu garuda dan portalgaruda.

Apakah kedua portal tersebut berbeda? ya berbeda.

Portal Garuda yang beralamatkan di http://garuda.dikti.go.id dikelola oleh Dikti. Garuda disini singkatan Garba Rujukan Digital yang merupakan portal penemuan referensi ilmiah dan umum karya bangsa Indonesia, yang memungkinkan akses e-journal dan e-book domestik, tugas akhir mahasiswa, laporan penelitian, serta karya umum. Portal ini dikembangkan oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat Dikti Kemdiknas RI. (sumber: http://garuda.dikti.go.id/). Namun sayang sekali, berkali-kali saya mencoba membuka link-nya tidak berhasil. Mungkin webnya tak terurus dan mati suri.

garuda dikti

Sedangkan Portal Garuda yang kedua beralamatkan di http://www.portalgaruda.org dikelola oleh IAES (Institute of Advanced Engineering and Science) Indonesian Section. Portal Garuda yang disini mengindex publikasi dari penerbit jurnal di Indonesia. Pada halaman depan situs tersebut juga dengan jelas terpampang tulisan IPI: Indonesian Publication Index.

Portal Garuda yang bisa diakses.

portal garuda

Di Portal Garuda Dikti, semua PT dapat mengunggah karya ilmiahnya baik secara mandiri dan atau menggunakan OAI dan artikel yang diunggah meliputi karya ilmiah dosen, mahasiswa, tugas akhir, laporan penelitian, ebook. Tapi di Portal Garuda IPI (IAES) hanya penerbit/pengelola jurnal dan memiliki ISSN serta telah mendaftar (registrasi) ke IPI yang dapat mengunggah karya ilmiahnya baik secara mandiri dan atau menggunakan OAI dan artikel yang diunggah hanya artikel jurnal.

Saya ingin upload tulisan tugas kuliah saya yang sudah direvisi bisa di upload di portal umum agar bisa dibaca banyak orang. Setelah gagal di portal garuda dikti saya belum tahu ke portal lainnya, adakah yang bisa memberikan saran?

Demikian sedikit tulisan dari saya, semoga portal garuda Dikti bisa aktif lagi, karena portal ini sangat membantu bagi masyarakat yang berkecimpung dalam dunia akademis, pendidikan, penelitian dan sebagainya.

***

Setelah mencari terus, memang portal garuda dikti sudah mati. Konfirmasi ini saya dapatkan dari Prosiding Konferensi Perpustakaan Digital Indonesia ke- 8 di Bogor tahun 2015.

Salah satu yang menjadi bahasa konferensi ini adalah butuhnya portal baru untuk jurnal di Indonesia. Hal itu karena.

  1. Belum ada portal yang mengindeks seluruh jenis koleksi (jurnal, ILS, grey literature/ digital library). Portal Garuda hanya khusus untuk jurnal dan Garuda dikti sudah tidak aktif lagi.
  2. Belum ada portal yang sangat mudah digunakan pengguna dengan fitur informasi yang sangat kaya. Portal Garuda sudah bagus user interface-nya, namun belum lengkap informasi yang disajikan.
  3. Belum ada portal yang mobile friendly, padahal saat ini mobile device semakin banyak digunakan oleh pengguna. Portal Garuda didesain untuk browser desktip dan untuk usability, portal harus semakin berorientasi pada pengguna.

Requirement untuk Portal baru:

  1. Mencakup semua jenis repository dan koleksi (jurnal, Ils, digital library)
  2. Simple, mudah digunakan, powerful search engine, diperkaya dengan faceted search, dan informasi yang lengkap.
  3. Mendukung mobile device (smartphone, tablet)
  4. Informasi tentang pengarang, citation index, dan statistik yang penting dan menarik kontributor.
  5. Didukung oleh sistem tang memungkinkan portal berkembang untuk jangka panjang.

Guna mengatasi hal itu, perpustakaan Nasional membuat proyek Indonesia OneSearch atau IOS yaitu sebuah pintu pencarian tunggal untuk semua koleksi publik dari perpustakaan, museum, dan arsip di seluruh Indonesia. Selain itu, portal ini juga menyediakan akses ke sumber elektronik internasional (e-resources) yang dilanggan oleh Perpusnas RI untuk semua anggota yang terdaftar.

Untuk bergabung dengan IOS, setiap repositori harus menyediakan API berbasis OAI-PMH (Open Archive Initiatives), sebuah protokol pengambilan metadata yang sudah digunakan oleh 75% lebih repositori di dunia.(http://onesearch.id/Repositories/Ios)

Proyek ini sudah dimulai pada tahun 2015 dengan membentuk tim, masukan dari komunitas, kerjasama dan sosialisasi. Tahun 2016 dengan kampanye tentang sharing ful-teks dan demo manfaat content analysis untuk pengguna dan pada tahun 2017 dengan ujicoba dan sosialisasi NoPlagiarism ke dosen dan mahasiswa di Perguruan Tinggi dan kampanye anti-plagiarism.

Makalah dan presentasi di KPDI 8 bisa dilihat di link Prosiding KPDI 8. Dan presentasi Bapak Ismail Fahmi berikut:

Penampilan OneSearch.id

ios-2-500

Wiki.onesearch.id

wiki-500

Readmine.onesearch.id

redmine-500

Peradilan Agama dalam Wadah Negara Pancasila: Dialog tentang RUUPA


RUUPA adalah pertama kalinya pemerintah mengajukan RUU yang muatannya khusus mengatur kepentingan hukum bagi sebagian warga negara, yaitu umat Islam Indonesia. Sekalipun berdasarkan perundang-undangan yang yang berlaku, secara gamblang eksistensi Peradilan Agama mendapat jaminan, dan bahkan selama seabad lebih telah berfungsi tanpa pernah digugat oleh pihak mana pun juga.

Kehadiran RUUPA tak urung mendapat reaksi keras, ia dinilai tidak senafas dengan Pancasila, UUD 45 dan Wawasan Nusantara. Lebih dari itu, pengajuannya disinyalir sebagai upaya terselubung menghidupkan kembali Piagam Jakarta. Penilaian dan sinyalemen inilah yang kemudian mengundang dialog yang panas di antara kalangan yang menerima dan menolak RUUPA.

Sebelum ada RUUPA, pengadilan agama hanya mengurusi masalah Nikah, Talak, Cerai dan Rujuk saja. Setelah dibuatkan UU baru ini, mengatur bukan hanya sebatas perkawinan dan perceraian, tapi juga segala akibatnya, selain itu juga menurunkan pasal pasal yang mengatur tentang wasiat, waris, hibah, wakaf dan shadaqah.

Perdebatan tentang RUUPA ini muncul pada tahun 1989-an, namun layak kita maknai pada hari ini, bagaimana perbedaan pendapat waktu itu disampaikan dalam suasana dialogis, sehingga perbedaan perndapat dan pertentangan yang naik ke permukaan tidak sedikit pun mempengaruhi persatuan dan kesatuan bangsa. Selain itu RUUPA juga menjadi tambahan literatur bagi siapa saja yang memninati studi hukum Islam.

Otoritas Negara dalam Pelaksanaan Hukum Islam bagi Pemeluknya, Konsekuensi Obyektif Negara Pancasila

Magnis Susesono SJ menulis artikel di Kompas yang mengkhawatirkan bahwa RUUPA yang akan dibuat secara formal didasarkan pada pandangan salah satu agama saja, sehingga yang menjadi penafsir dan pembatas keberlakuannya adalah salah satu agama dan bukan lagi negara. Dia juga menulis bahwa Peradilan Agama akan menggerogoti kedaulatan negara, “…Negara menjadi taat kepada hukum bukan bikinan sendiri. Itu pun merupakan suatu pengurangan kedaulatan negara. Dengan pengadaan peradilan agama sebagai peradilan negara bisa menggerogoti kedaulatan dan dengan demikian ketahanannya sendiri”.[1]

Heru Santoso membantahnya dengan menulis bahwa Peradilan Agama tidak akan menggerogoti negara karena eksistensi peradilan agama sudah dirasa perlu oleh pemegang kedaulatan tertinggi yaitu MPR yang merupakan penjelmaan rakyat Indonesia[2].Yusril Ihza M menulis bahwa Peradilan Agama awalnya memang milik kesultanan Islam sejak zaman pra-kolonial kemudian setelah merdeka dikukuhkan oleh RI, maka Peradilan Agama bukan berarti penyerahan kewenangan negara kepada bukan negara, malah ‘pengambilalihan’ oleh negara, sehingga kedaulatan, kewenangan dan wibawa negara bukannya merosot, tetapi semakin kukuh dan tegak.[3]

Prof, H. Mohammad Daud Ali, SH menjelaskan bahwa sejak tahun 1882 sudah didirikan Peradilan Agama di Jawa dan Madura, sejak tahun 1337 didirikan Mahkamah Qadhi di Kalimantan. Tahun 1980 nama pengadilan pengadilan agama disatukan dengan nama Peradilan Agama untuk seluruh Indonesia. Berdasarkan UU No 14 tahun 1970 kedudukan Peradilan Agama disamakan dengan peradilan militer dan peradilan tata usaha, tapi dalam kenyataannya masih memiliki kekurangan, dan RUUPA hendak melengkapi kekurangan-kekurangan tersebut[4]. Prof. Rasjidi menulis berdasarkan UU No 14 Tahun 1970 bahwa PA masuk dalam peradilan khusus yang berada di bawah pengawasan Mahkamah Agung dengan demikian PA adalah bagian dari peradilan negara dalam sistem peradilan nasional.[5]

 

RUUPA dan Orbit Konstitusional Ideologis Negara Republik Indonesia

Widojo menulis di Majalah Hidup bahwa RUU bertentangan dengan Pancasila, RUUPA diskriminasi terhadap warga negara, menurutnya kalau orang Islam membagi waris atau nikah dengan hukum Islam, dan kalau mereka bersengketa PA memutuskannya dengan hukum Islam, maka Indonesia berubah menjadi Negara Islam.[6]

Tulisan S. Widojo di atas mendapat tanggapan dari Yusril Ihza M yang menganggap logika berpikirnya kurang lurus, dan Yusril memberikan bukti bahwa agama diurus Pemerintah melalui Kementrian PPK yang disetujui semua anggota PPKI yang hadir. Termasuk di dalamnya dua orang kristen yaitu Latuharhary dan Ratulangie, orang Hindu Dharma seperti I Goeti Ktut Poedja dan beragama Budha seperti Yap Tjwan Bing. Termasuk pula yang setuju adalah Sayoeti Melik sendiri yang sejak muda mengaku seorang Marxis-Leninis.[7]

Tanggapan dari M. Natsir menyebutkan bahwa RUUPA tersebut hanya memberikan sarana hukum untuk melaksanakan sebagian kecil saja dari syariat agama Islam dan sama sekali tidak menganggu siapapun yang beragama lain.[8]

Agar tidak ada dualisme hukum dalam negara Indonesia, menurut P.J Suwarno Peradilan Agama hendaknya berisi muatan pokok yang mengatur hubungan antar umat beragama yang diakui di Indonesia. Maka kompetensi pokok peradilan agama mengadili perkara atau sengketa antar umat beragama diselesaikan masing-masing. Adapun keputusan Peradilan Agama intern umat beragama memerlukan executoir verklaring dan Peradilan Umum untuk mendapatkan dasar hukum berlakunya di Indonesia. Executoir verklaring dibuat untuk mencegah timbulnya dualisme hukum dalam satu negara hukum berdasarkan Pancasila dan UUD 45.[9]

 

Peradilan Agama dalam Kerangka Sistem dan Tata Hukum Nasional

Eksistensi dan kedudukan hukum Peradilan Agama di zaman Indonesia merdeka, selain diakui dan dicantumkan dalam PP No.45 tahun 1957 (pelaksanaan dari UU No.1 Tahun 1951), diakui dan dicantumkan pula dalam UU No.14 tahun 1970 LN 1970-74 (ketentuan-ketentuan pokok Kekuasaan Kehakiman), dalam PP No. 1 tahun 1974, LN 1974-1 (perkawinan), dalam PP No. 28 tahun 1977, LN 1977-38 (Perwakafan Tanah Milik) yang merupakan pelaksanaan dari UU No. 5 tahun 1960, LN 1960-104 (peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria), dalam UU NO. 14 tahun 1985, LN 1985-73 (Mahkamah Agung). Semua PP tersebut termasuk dari zaman penjajahan, mengartikan Peradilan Agama adalah Peradilan Islam, tidak pernah ada tafsiran lain, atau beranggapan bahwa UU tentang Peradilan Agama itu tidak perlu.[10]

Mulya Lubis menulis catatan tentang RUPPA bahwa dalam konteks cita-cita hukum nasional RUUPA mengarah tumbuhnya satu kekuasaan kehakiman yang bebas, merdeka, adil dan mandiri. Peradilan Agama seharusnya merupakan bagian integral dari kekuasaan kehakiman tersebut. Dan menulis catatan penutup bahwa persoalan pokok saat ini adalah mewujudkan suatu peradilan yang kuat dan berwibawa, suatu tempat untuk memperoleh keadilan.[11]

Ismail Suny menulis bahwa RUUPA tidak menimbulkan dualisme dalam kekuasaan kehakiman, karena UUD 45 pasal 24 memungkinkan adanya Mahkamah Agung dan lain lain Badan Kehakiman asal diatur dengan Undang Undang. UU No. 14/1974 telah mengatur adanya peradilan umum mengebaik perkara perdata, maupun perkara pidana. Dan peradilan agama adalah peradilan khusus yang mengadili perkara-perkara tertentu dan mengenai golongan rakyat tertentu.

Di negara Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 45, setiap produk hukum harus bersumber dan dijiwai oleh Pancasila sebagai sumber hukum. Oleh karena RUUPA merupakan pengamalan Pancasila dan UUD 45 maka sudah tepat untuk disetujui sebagai UU yang berlaku.

Kemudian menurut beliau RUUPA telah sesuai dengan UUD 45, UU No. 14/1974, UU No.1/1974 dan UU No. 14/1985. Tidak benar RUUPA ini menimbulkan dualisme, yakni peradilan negara yang menegakkan hukum negara dan peradilan agama yang menegakkan hukum Agama Islam. Sebagaimana adanya peradilan militer tidak berarti, telah terbentuknya negara militer.[12]

 

Aspek-Aspek Fundamental dalam Upaya Pembangunan dan Pembaruan Hukum Nasional

Ada 3 dimensi pembangunan hukum nasional. Pertama, dimensi pemeliharaan, yaitu suatu dimensi untuk memelihara tatanan hukum yang ada, walaupun sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan keadaan. Contohnya, sebagian besar hukum yang berlaku di masa Hindia Belanda masih tetap berlaku dewasa ini. Kedua, dimensi pembaharuan, yaitu suatu dimensi yang merupakan usaha untuk lebih meningkatkan dan menyempurnakan pembangunan hukum nasional. Ketiga, dimensi penciptaan yang berarti dimensi dinamika dan kreativitas.[13]

Dalam menyusun hukum nasional dapat dipergunakan bahan-bahan hukum adat, hukum Islam, hukum Barat yang telah ada di Indonesia, bahkan terbuka pula kemungkinan untuk menggunakan sumber-sumber hukum dari negara-negara lain yang semula tidak dikenal di negara kita, dan hukum internasional, apabila bahan tersebut sesuai dan serasi dengan kebutuhan hukum seluruh rakyat pada masa mendatang dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila.[14]

Wawasan Nasional dalam membangun hukum di Indonesia ada 3 yaitu: Wawasan Kebangsaan, Nusantara Nusantara, dan Wawasan Bhineka Tunggal Ika. Wawasan Kebangsaan hukum Nasional hendaknya berorientasi penuh pada aspirasi dan kepentingan bangsa serta mencerminkan cita-cita hukum, tujuan dan fungsi hukum, ciri dan tujuan kehidupan berbangsa serta bernegara Indonesia. Wawasan Nusantara hukum Nasional berarti adanya satu kesatuan hukum nasional, maka unifikasi di bidang hukum harus sejauh mungkin dilaksanakan. Untuk itu perlu diciptakan iklim kehidupan di segala bidang yang dapat mendorong tumbuhnya kesadaran hidup di bawah satu hukum bagi semua golongan masyarakat.

Disamping Wawasan Kebangsaan, Wawasan Nusantara, perlu juga Wawasan Bhineka Tunggal Ika sehingga unifikasi hukum yang diusahakan itu sekaligus juga menjamin tertuangnya aspirasi, nilai-nilai dan kebutuhan hukum kelompok masyarakat ke dalam sistem hukum nasional, yang dengan sendirinya harus sesuai atau tidak bertentangan dengan aspirasi dan kehidupan berbangsa dan bernegara.[15]

Sumber:

Peradilan Agama dalam Wadah Negara Pancasila: Dialog tentang RUUPA oleh Drs. H. Zuffran Sabrie dan Pengantar: Prof. Dr. H. A. Ghani Abdullah, SH.

*Tugas Islamic Law di Sps UIN Jakarta

Artikel dalam format Pdf

[1] Franz Magnis Suseno SJ, Seputar Rencana UU Peradilan Agama, Kompas, 16 Juni 1989

[2] Heru Santoso, Seputar RUU Peradilan Agama yang Berputar-Putar, Kompas, 21 Juni 1989

[3] Yusril Ihza Mahendra, Kedaulatan Negara dan Peradilan Agam, Pelita, 27 Juni 1989

[4] Prof, H. Mohammad Daud Ali, SH. Hukum Islam dan Peradilan Agama: Keberlakuan dan Keberadaannya di Indonesia, Panji Masyarakat, No. 604, 1-10- Maret 1989

[5] Prof. Rasjidi, Seputar Rencana UU Peradilan Agama, Panji Masyarakat, No.616, 19 Juni 1989

[6] S. Widjojo, Kesaktian Pancasila dalam Tantangan, Majalah Hidup, No. 15 Maret 1989

[7] Yusril Ihza Mahendra, Catatan Buat Majalah Hidup, Panji Masyarakat, No.616, 1-10 Juli 1989

[8] M. Natsir, Tanpa Toleransi Tak kan Ada Kerukunan, Serial Media Dakwah, Agustus 1989

[9] P.J. Suwarno, Peradilan Agama di Negara Pancasila, Suara Pembaruan, 6 April 1989

[10] Marulak Pardede, SH, Eksistensi dan Kedudukan Hukum Peradilan Agama dalam Tata Hukum Indonesia, Angkatan Bersenjata, 24 Agustus 1989

[11] T. Mulya Lubis, Cita-Cita Hukum Nasional dan RUUPA, Kompas, 23 dan 24 Juni 1989

[12] Prof. Dr. Islamil Suny, SH.MCL, Sekitar RUUPA, Suara Muhammadiyah No. 11/69/1989 dan 13/69/1989

[13] Ismail Saleh, Wawasan Pembangunan Hukum Nasional, Kompas, 1 dan 2 Juni 1989

[14] Ismail Saleh, Eksistensi Hukum Islam dan Sumbangannya Terhadap Hukum Nasional, Kompas, 1 dan 2 Juni 1989

[15] H. Mohammad Daud Ali, RUUPA, GBHN, Wawasan Nusantara dan Pembangunan Hukum Nasional, Pelita, 18 dan 19 Juli 1989

 

 

Apakah Perbedaan Fix Mindset dan Growth Mindset


Kita bisa menelaah tentang mindset menjadi 2 bagian. Yang pertama adalah Fixed Mindset, atau cara berpikir yang statis/sama. Dan yang kedua adalah Growth Mindset yaitu mindset yang sudah berkembang.

Orang fix mindset cenderung menghindar ketika ada tantangan baru, menutup diri dan mengatakan tidak bisa dan tidak mungkin. Sementara growth mindset menyukai tantangan dan dijadikan lahan untuk belajar dan upgrade diri.

Orang fix mindset tidak menyukai perubahan, tidak senang, menyalahkan keadaan atau menyalahkan orang lain. Cenderung suka marah marah dan menjadi stress. Sementara growth mindset selalu siap menerima perubahan, karena dia tahu, hanya perubahan yang membuat dia semakin maju.

Orang fix mindset selalu mencari alasan, ketika diberi masalah dia mencari alasan. Sementara growth mindset selalu mencari solusi, ketika diberi masalah dia mencari solusi apa yang bisa diberikan dan memecahkan masalah.

Orang fix mindset melihat peluang sebagai masalah, sementara growth mindset justru melihat dan menganggap masalah sebagai peluang.

Orang fix mindset anti kritikan, ketika ada yang mengkritik dia justru marah, jengkel dan stress. Sementara growth mindset siap belajar dan siap dievaluasi. Ketika menerima kritikan, bukan marah justru diam dan mencoba mengevaluasi diri.

Fixed Mindset sangat menyukai comfort zone atau zona nyaman. Sementara growth mindset anti comfort zone, atau siap untuk maju.

Fixed Mindset merasa setiap usaha yang dilakukan sia sia. Sementara growth mindset merasa bahwa kegagalan adalah pembelajaran. Ia merasa bahwa tidak ada usahanya yang sia-sia. Tapi dari setiap usahanya, pasti ada pembelajaran yang dia peroleh untuk maju menuju masa depannya.

Al-Quran merupakan kitab suci dan Wahyu dari Allah SWT sudah membahas tentang growth mindset dan fix mindset. Contoh growth mindset seperti dalam ayat 18 Surat Al-Hasyr: “Hai orang orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah dilakukannya untuk hari esok”. Alquran mengajak pembacanya mempunyai visi dan berfikir ke depan.

Dan contoh ayat tentang fix mindset adalah kisah Nabi Syuaib bersama umatnya ketika mereka menolak dakwah Nabi Syuaib dan mengatakan “Wahai Syuaib, apakah shalat mu yang menyuruhmu supaya kami meninggalkan apa yang disembah oleh nenek moyang kami, atau melarang kami melakukan apa yang kami kehendaki terhadap harta kami?” Ayat 87 Surat Huud, dan masih banyak lagi contohnya.

Video Pixar yang saya angkat menjadi title tulisan ini bisa anda lihat dilink berikut. Sejak tahu video ini, sering saya putar ketika sedang gak ada mood atau ketika butuh hiburan ringan yang memotivasi. Alhamdulillah gak pernah bosan lihat terus video ini.

Charol Dweck adalah psikolog Amerika yang pertama kali mengenalkan apa itu growth mindset dan fix mindset lewat bukunya. Banyak perubahan saya rasakan setelah membaca bukunya.

Keterangan Charol Dweck bisa anda dapatkan di YouTube dan secara ringkas bisa anda lihat di gambar berikut.

Tabel perbedaan fix mindset dan growth mindset bisa dilihat disini

WordPress.com + Google Photos


Sekarang di WordPress.com kita sudah bisa mengkoneksikan WP dengan Google Photos dan upload foto ke WP seperti dari Gallery.

Info lengkapnya bisa ansa baca di link ini: https://en.blog.wordpress.com/2017/09/26/upload-once-blog-anywhere-photos-from-google/

Koneksi keduanya sangat membantu karena Google photos sudah digunakan sekitar 500 juta orang dan WP lebih dari 75 Juta.

Saya coba fitur ini di WP Android, namum belum saya temukan icon untuk koneksi ke Google Photos meskipum sudah saya update versi Android WP saya.

Kemungkinan fitur ini baru ada di versi desktop dan belum ada di versi Android. Kita tunggu saja perkembangannya.

Klarifikasi Nouman Ali Khan Atas Kasus Yang Menimpanya


Pagi ini Twitter ramai tentang kasus yang menimpa Ustadz muda dari Amerika yang terkenal lewat dakwah Al-Quran nya di laman Youtube.

Info kasus yang cukup mewakili ada di link ini: https://en.dailypakistan.com.pk/world/religious-speaker-nouman-ali-khan-accused-of-inappropriate-interactions-with-female-followers/

Ini klarifikasi dari beliau di FB Albayyinah: https://m.facebook.com/noumanbayyinah/posts/1124992947633446

Keterangan dari Navaid Aziz: https://m.facebook.com/navaidaziz/posts/10155759635476477

Post di reddit: https://www.reddit.com/r/islam/comments/71o7io/nouman_ali_khan_accused_of_predatory/

Post di geo.tv https://www.geo.tv/latest/159657-nouman-ali-khan-asks-for-theatre-free-environment-for-investigations-ag

Simak juga video berikut https://youtu.be/sRiQkArAgdY

Terlepas dari kasus itu, kita semua sangat berterima kasih atas jasa Ust Nouman Ali Khan dalam dakwahnya, hendaknya kita lebih bijaksana melihat kesalahan orang lain. Setiap orang pasti bisa melakukan kesalahan sampai ustadz sekalipun. Semoga bermanfaat.

***

Terima kasih atas perhatian pembaca terhadap tulisan dan link yang kami share. Agar lebih manfaat saya berikan bonus quote NAK dari telegram NAK Indo yaitu t.me/nakindonesia.

%d bloggers like this: