Reuni Dan Bukber Alumni Nurul Hadid Tahun 2017


Mengumpulkan kembali kerikil kerikil ukhuwah yang sempat hilang. 

Jumat sore sampai subuh tadi pagi saya mengikuti acara reuni dan buka bersama yang diadakan perkumpulan alumni dari pondok pesantren Nurul Hadid, almamater SMA saya dulu, nama organisasi alumninya IPANA kepanjangan dari Ikatan Pelajar dan Alumni Nurul Hadid wilayah Jabodetabek. 

Saya berangkat dari Jagakarsa jam setengah dua siang menuju SDIT Al-Izzah di Pekayon, Bekasi dan sampai disana kurang lebih jam setengah empat, beberapa titik perjalanan memang agak macet selain itu saya menggunakan google map untuk mengarahkan ke tempat acara. 

Sampai disana alhamdulillah bisa berjumpa dengan para ustadz saya dari Nurul Hadid dan dari sekian ustadz yang saya sangat rindu adalaj Ust Yusuf Sutisna, yang sudah saya anggap seperti orang tua dan guru saya, bimbingan dan arahan beliau ketika bersama sama membangun Nurul Hadid tidak akan pernah saya lupakan. 

Bisa bertemu dengan teman sekelas dulu, kakak kelas dan adik kelas itu menjadi kebahagiaan tersendiri. Menurut Umar bin Khatab ada tiga kriteria sahabat itu, yang pernah tidur bersama, makan bersma dan melakukan perjalanan bersama, melihat kriteria itu semua anak anak pesantren sudah memenuhi syarat dianggap sebagai teman sejati. 

Sebelum berbuka ada tausiah dan nasehat dari Ust Yusuf Sutisna yang mengingatkan kepada seluruh almuni tentang pentingnya silaturahmi antar alumni, dan kelak sahabat bisa menjadi syafaat di akhirat yaitu ketika dia mendapati temannya di dunia tidak ada, maka ia memohon kepada Allah agar temannya di dunia diajak masuk bersamanya ke dalam surga. 

Alhamdulillah, cukup banyak alumni Nurul Hadid dari Jabodetabek yang bisa hadir, namun Ust Yusuf masih mengharap agar tahun depan bisa lebih ramai lagi. 

Selepas shalat tarawih, kami berkumpul membahas agenda Ipana ke depan, di antaranya adalah mengadakan pertemuan antara alumni, santri dan wali santri setiap enam bulan sekali, diadakan di tempat yang lumayan besar dan mengundang pembicara terkenal agar makin semarak. 

IPANA juga diharapkan membantu Pesantren untuk mengelola adik kelas yang sedang liburan agar mengisi waktu luang dengan hal hal bermanfaat seperti kunjungan tokoh, mengisi tausiah atau kultum di masjid atau mushola, mengadakan i’tikaf dan lain sebagainya. 

Itu di antara poin besar yang bisa saya sampaikan, poin lain yang lebih detail dan mendalam bisa ditanyakan kepada panitia. 

Reuni diakhiri dengan kajian subuh dari Ust Yusuf Sutisna tentang Keberkahan bulan Ramadan, selesai kajian ditutup dengan foto bersama. 

Berikut ini beberapa foto kegiatan Ipana Jabodetabek yang sempat diambil hp saya. 

Lebih Penting Dari Khatam Al-Quran


quran

Jangan kau beritahu orang lain, berapa juz kamu hapal dan berapa kali kamu khatam membaca al-Quran. Biarkan mereka melihat al-Quran pada dirimu.

Berilah makan orang yang kelaparan, kasihilah anak yatim, maafkanlah orang yang salah, ajarilah yang tidak tahu, berbaktilah pada orang tuamu, teruslah bersilaturrahim, tersenyumlah buat semua orang, dst.

Yg penting bukan seberapa banyak kamu membaca dan menghapal al-Quran.

Teruslah membaca dan menghapal al-Quran, tapi ingat yg lebih penting adalah, seberapa banyak al-Quran ada padamu.

Apa yang penting bukanlah sebanyak apa capaianmu dalam Al-Quran, tapi sedalam apa Al-Quran mencapai sanubarimu.

Ramadan identik dengan bulan amal dan ibadah, bukan hanya ibadah yang bersifat spiritual saja, tapi juga horisontal antara manusia, tidak kalah banyak pahalanya, membantu orang lain dan membuat orang lain gembira.

Makna tersirat dari ibadah puasa adalah ikut merasakan kehidupan orang lain yang tidak berkecukupan, sakit, pedih dan berbagai macam kesusahan hidup yang dihadapi orang lain.

Menguatkan hal ini saya tersentuh dengan lagu Maher Zain yang dirilis Awakening di awal Ramadan ini, salah satu lagu terbarunya bertemakan Kun Rahma, jadilah orang yang penuh kasih sayang.

Salah satu liriknya berbunyi

Fii rahmatil insaan nastalhimun ihsan

Warrahimuunal muhsinuuna yarhamuhumur rahmaan

Dengan berbuat baik kepada orang lain, kita belajar menjadi manusia sebenarnya

Orang yang berkasih sayang akan mendapatkan balasan kasih sayang Ar-Rahman

Hati Hati Berkomentar


Kecendrungan manusia mau dipandang baik dan tidak ingin dipandang jelek. Inilah salah satu isyarat Nabi Muhammad saw bersabda: “Kebajikan sesungguhnya dalam akhlak mulia dan dosa apa yang terbesit dalam dadamu dan kamu malu tidak suka bila orang lain mengetahuinya ( karena perbuatan buruk )”.

Sungguh zaman sekarang sudah berubah, banyak perubahan perubahan yang terjadi termasuk dalam teori nilai nilaipun mulai bergeser. 

Media sosial apapun bentuknya menjadi salah satu gambaran perubahan zaman yang dahsyat. Setiap orang bisa mengekspresikan apa saja baik tulisan, suara, video, gambar dan lain sebagainya yang dilihat oleh semua orang. Batasan batasan nilai positif negatif semakin bergeser. 

Maka penting sekali kami menyampaikan agar lebih berhati hati dalam memberikan komentar baik dalam sosial media atau tidak. Mari ikuti konsep para Sahabat dan Tabi’in ketika ada orang lain yang berbuat salah. 

Ulama besar, Ibrahim An Nakha’i, beliau mengatakan:

 ” إني لأرى الشيء أكرهه، فما يمنعني أن أتكلّم فيه إلا مخافة أن أُبتلى بمثله”.

“Aku melihat sesuatu yang aku tidak suka, tidak ada yang menahanku untuk berkomentar dan membicarakan dirinya kecuali karena aku khawatir aku yang akan ditimpakan masalahnya dikemudian hari.”

Imam al-Bukhari (w.256H) menyebutkan,
أَرْجُو أَنْ أَلْقَى اللَّهَ وَلَا يُحَاسِبُنِي أَنِّي اغْتَبْتُ أَحَدًا

Aku berharap dapat bertemu dengan Allah (di akhirat nanti) dalam keadaan Dia tidak menghisabku pernah mengumpat siapapun’

Dalam riwayat lain beliau menyebutkan,
مَا اغْتَبْتُ أَحَدًا قَطُّ مُنْذُ عَلِمْتُ أَنَّ الْغَيْبَةَ تَضُرُّ أَهْلَهَا

Aku tidak pernah mengumpat sesiapapun semenjak aku tahu bahawa (perbuatan) menggunjing ini memudaratkan pelakunya (dengan dosa dan azab)’ [Siyar al-A’lam an-Nubala]
Abdullāh bin Mas’ud tidak berani memberikan komentar ketika melihat anjing. Kata beliau:
لو سخرت من كلب، لخشيت أن أكون كلبً

“Jika aku mencela dan merendahkan seekor anjing, aku khawatir aku akan dirubah seperti anjing atau Allāh berikan sifat-sifat buruk anjing itu kepada diriku.”

Hasan Al Basri mengatakan dalam sebuah riwayat yang disampaikan oleh Ibnu Abi Dunya dalam kitabnya Ash Shamt:

كانوا يقولون من رمي أخاه بذنب قد تاب إلى الله منه لم يمت حتى يبتليه الله به

“Para sahabat dan tabi’in memiliki konsep, barang siapa yang mencela saudaranya, karena dosa-dosanya, sedangkan saudaranya itu sudah bertaubat kepada Allāh, maka Si Pencela tidak akan meninggal dunia kecuali dia akan mengalami dosa saudaranya tersebut.”

Konsep di atas muncul berdasarkan hadits Nabi Muhammad SAW yang dihasankan oleh Imam Tirmidzi nomor 2506 dan dihasakan oleh Syaikh Abdul Qadir Al Arna’uth:

لاَ تُظْهِرِ الشَّمَاتَةَ لأَخِيكَ فيعافيه الله وَيَبْتَلِيكَ ».

“Janganlan anda mencela saudara anda terang-terangan karena dosa-dosa dia, karena bisa jadi Allāh akan mengampuni dia dan Allāh akan masukan anda ke dosa tersebut.”

Dari Mu’adz bin Jabal, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,

مَنْ عَيَّرَ أَخَاهُ بِذَنْبٍ لَمْ يَمُتْ حَتَّى يَعْمَلَهُ

“Siapa yang menjelek-jelekkan saudaranya karena suatu dosa, maka ia tidak akan mati kecuali mengamalkan dosa tersebut” (HR. Tirmidzi no. 2505)

Lalu bagaimana sikap kita jika ada yang menghina atau menggunjing kita? Biarkan, nikmati hidup anda dan jangam dibalas, biarkan Allah SWT yang akan membalasnya. 
Simak baik-baik hadits ini:

 وَإِنِ امْرُؤٌ شَتَمَكَ وَعَيَّرَكَ بِمَا يَعْلَمُ فِيكَ فَلاَ تُعَيِّرْهُ بِمَا تَعْلَمُ فِيهِ فَإِنَّمَا وَبَالُ ذَلِكَ عَلَيْهِ

“Jika ada seseorang yang mencela anda karena dia tahu aib-aib anda. Jangan dibalas walaupun anda tahu aib-aib dia. Karena cukuplah caci maki dia kepada kita akan membuat dia terkena bencana dari Allāh Subhanahu wa Ta’ala.” (HR Abu Daud nomor 4084 dan Tirmidzi nomor 2722)

Motivasi Ramadan Islamic Character Development-ICD

Allah Maha Baik, Menutup Aib Kita


Allah Maha Baik, Menutup Aib Kita
 Betapa Allah Maha Baik. Tak hanya sekali, namun berulang kali Allah menutup dosa-dosa kita. Hanya karena masih memiliki rasa malu, Allah tidak membuka identitas kita.

Pernahkah ada seseorang yang nampak baik di hadapan orang lain ?… Apakah benar orang itu baik atau ia tampak baik karena Allah menutup aibnya ?

Jika saja mau jujur, sungguh… itu bukan karena kebaikan kita. Itu semata karena Allah masih menutupi segala aib kita. Kalo kita mau jujur, dosa dan kesalahan kita amat banyak. Jauh melebihi dosa dan kesalahan kita yang diketahui orang lain.

Orang lain mungkin hanya mengetahui aib kita yang terlihat atau terdengar oleh mereka.
Jika saat ini kita tampak hebat dan baik dimata orang, itu hanya karena Allah taala menutupi aib dan keburukan kita. Jika tidak, maka habislah kita. Terpuruk, seterpuruk-terpuruknya. 

Jadi mari berhenti membicarakan aib orang lain.. koreksi diri dan perbaiki diri. 

Bayangkan jika dosa dzalim, dosa berbohong, dosa syirik, dosa zina, dan dosa-dosa lainnya meninggalkan bau busuk dan Allah tampakkan di hadapan manusia lainnya, alangkah hinanya dan busuknya kita dihadapan orang banyak.


“Jika seandainya dosa-dosa itu mengeluarkan bau maka tidak seorangpun yang akan duduk denganku”
(Siyaar A’laam An-Nubalaa’ 6/120).

Allah telah siapkan pintu taubat bagi hamba-Nya yang benar-benar menyesal atas perbuatannya di masa lalunya agar kembali kepada fitrahnya Allah.

Sebuah riwayat pada masa Khalifah Umar bin Khatab menceritakan tentang betapa baiknya Allah Swt yang telah menutup aib kita. 

Seorang laki-laki mendatangi khalifah Umar bin Khatab. Orang lelaki itu menceritakan kisah hidup yang dialaminya, juga putrinya.

”Aku pernah mengubur salah seorang puteri saya hidup-hidup ketika zaman jahiliyah,” papar lelaki itu membuka kisah hidupnya.

“Namun aku sempat mengeluarkannya kembali sebelum dia meninggal dunia. Hingga puteriku dapat merasakan masa Islam dan telah memeluk agama Islam.”

Belum ada yang istimewa dari cerita laki-laki itu, khalifah Umar bin Khatab tetap mendengarkan dengan seksama. Kemudian lelaki itu melanjutkan ceritanya.

”Ketika puteriku memeluk Islam sebagai seorang Muslimah, dia terkena salah satu hukuman had karena berzina, hingga puteriku kemudian mencoba bunuh diri dengan melukai nadinya. Namun saat itu aku sempat mengetahuinya dan menyelamatkan putriku. Aku merawatnya hingga kembali sehat.”

“Kemudian putriku bertaubat dengan sungguh-sungguh, hingga akhirnya putriku minta dicarikan jodoh.”

Khalifah Umar bin Khattab masih belum jelas apa yang dimaksudkan oleh lelaki ini menceritakan kisah hidupnya dan juga kisah hidup putrinya, khalifah Umar mendengarkan dengan sabar.

”Wahai Amirul Mukminin! Apakah aku harus memberitahu calon suaminya tentang keadaan puteriku pada masa lalu?”

Mendengar pertanyaan ini khalifah Umar bin Khatab menjadi jelas maksud dari kedatangan sahabatnya ini. Dengan tegas khalifah Umar bin Khatab lantas menjawab : “Apakah kamu ingin menyingkapkan apa yang telah ditutupi oleh Allah? Demi Allah, jika kamu memberitahukan tentang kisah hidup puterimu kepada seseorang yang ingin menikahinya, kami akan menjadikanmu sebagai contoh hukuman bagi seluruh penduduk negeri karena telah membuka aib seseorang. Lebih baik nikahkanlah puterimu dalam pernikahan yang suci tanpa harus menanggung malu karena aib masa lalunya.”

 

Kisah di atas menjelaskan betapa baiknya Allah kepada kita dengan menutup aib kita. Diri kita ini penuh dengan kekurangan, aib, cacat, dan cela. Maka sibukkan diri ini untuk memeriksa dan menghitung aib sendiri, niscaya hal itu sudah menghabiskan waktu tanpa sempat memikirkan dan mencari tahu aib orang lain. 

Lagi pula, orang yang suka mencari-cari kesalahan orang lain untuk dikupas dan dibicarakan di hadapan manusia, Allah SWT akan membalasnya dengan membongkar aibnya walaupun ia berada di dalam rumahnya.

 Sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Barzah Al-Aslami z dari Rasulullah SAW:

يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَدْخُلِ اْلإِيْمَانُ قَلْبَهُ، لاَ تَغْتاَبوُا الـْمُسْلِمِيْنَ، وَلاَ تَتَّبِـعُوْا عَوْرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنِ اتَّبَعَ عَوْرَاتِهِمْ يَتَّبِعِ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَوْرَاتِهُ، وَمَنْ يَتَّبِعِ اللهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِي بَيْتِهِ

“Wahai sekalian orang yang beriman dengan lisannya dan iman itu belum masuk ke dalam hatinya5. Janganlah kalian mengghibah kaum muslimin dan jangan mencari-cari/mengintai aurat6 mereka. Karena orang yang suka mencari-cari aurat kaum muslimin, Allah akan mencari-cari auratnya. Dan siapa yang dicari-cari auratnya oleh Allah, niscaya Allah akan membongkarnya di dalam rumahnya (walaupun ia tersembunyi dari manusia).” (HR. Ahmad dan Abu Dawud) 




Abdullah bin ‘Umar ra menyampaikan hadits yang sama, ia berkata, “Suatu hari Rasulullah SAW naik ke atas mimbar, lalu menyeru dengan suara yang tinggi:

يَا مَعْشَرَ مَنْ أَسْلَمَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يُفْضِ اْلإِيْمَانُ إِلَى قَلْبِهِ، لاَ تُؤْذُو الْمُسْلِمِيْنَ، وَلاَ تُعَيِّرُوهُمْ، وَلاَ تَتَّبِعُوْا عَوْرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنْ تَتَبَّعَ عَوْرَةَ أَخِيْهِ الْمُسْلِمِ تَتَبَّعَ اللهُ عَوْرَتَهُ، وَمَنْ يَتَّبِعِ اللهُ عَوْرَتَهُ، يَفْضَحْهُ وَلَوْ فِي جَوْفِ رَحْلِهِ

“Wahai sekalian orang yang mengaku berislam dengan lisannya dan iman itu belum sampai ke dalam hatinya. Janganlah kalian menyakiti kaum muslimin, janganlah menjelekkan mereka, jangan mencari-cari aurat mereka. Karena orang yang suka mencari-cari aurat saudaranya sesema muslim, Allah akan mencari-cari auratnya. Dan siapa yang dicari-cari auratnya oleh Allah, niscaya Allah akan membongkarnya walau ia berada di tengah tempat tinggalnya.” (HR. At-Tirmidzi) 

Dari hadits di atas tergambar pada kita betapa besarnya kehormatan seorang muslim. Semoga Allah SWT menjaga aib kita dan menutupnya. Amiin.
Motivasi Ramadan Islamic Character Development-ICD

Berpakaianlah [3]


 

Saat lapar tiba tiba tercium aroma aneka daging bakar yang diolah dengan bumbu, tentu akan tergoda memakannya. 

Saat tergiur untuk memakannya tiba tiba diberitahu bahwa itu sebetulnya daging bangkai.

Pertanyaanya apakah tetap tergiur nafsu memakannya atau langsung hilang selera?. 

Manusia yang normal akan hilang selera, terlebih lagi diberitahukan bahwa itu daging bangkai manusia !!. Aroma harum tadi sudah tak terasa harum, yang ada ingin muntah.

Realita kehidupan justru tidak demikian, malah semakin terasa nikmat dan tetap ingin memakannya. Itulah gambaran Al-Quran tentang membuka aib orang lain. 

Sahabat Rasulullah ‘Amru bin Al-‘Ash Radhiyallahu ‘anhu melewati bangkai seekor bighol ( semacam keledai), lalu beliau berkata: “Demi Allah, salah seorang dari kalian memakan daging bangkai ini (hingga memenuhi perutnya) lebih baik baginya daripada ia memakan daging saudaranya (yang muslim)”.



Hal ini berangkat dari ayat AlQuran “Dan janganlah sebagian kalian mengghibahi sebagian yang lain. Sukakah salah seorang dari kalian memakan daging bangkai saudaranya yang telah mati, pasti kalian membencinya. Maka bertaqwalah kalian kepada Allah, sungguh Allah Maha Menerima taubat dan Maha Pengasih”.  [Al Hujurat :12]

Bayangkan betapa kotornya seseorang pemakan bangkai. Inilah dosa ghibah dijelaskan dalam hadits. 
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwsanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tahukah kalian apakah ghibah itu?”. Sahabat menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. 

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Yaitu engkau menyebutkan sesuatu yang tidak disukai oleh saudaramu”,  

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya: “Bagaimanakah pendapat anda, jika itu memang benar ada padanya ? 

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Kalau memang sebenarnya begitu berarti engkau telah mengghibahinya, tetapi jika apa yang kau sebutkan tidak benar maka berarti engkau telah berdusta atasnya”. 



Membuka aib orang lain sama saja membuka aib diri sendiri, tak ubahnya dengan membuka pakaian sendiri, menyakiti diri sendiri. 

Tragisnya, sudah ada ancaman yang menjijikkan laksana memakan bangkai tetap saja membobgkar aib dan banyak yang tertarik mendengarnya, itupun bila yang diceritakan benar. Apabila tidak benar , jelas lebih parah dosanya dan termasuk fitnah kebohongan terhadap orang lain, tentu lebih menjijikkan lagi. 

Ingat jiwa yang kotor tetap “lahap” memakan bangkai, juga bagi yang mendengarkan ghibah, senang dengan bangkai saudaranya. Tidak menggubris ayat ayat Al-Quran dan hadist Nabi.

 Bila jiwanya bersih akan terasa jijik saat ada yang membuka pakaiannya, membuka aib orang lain. Lihatlah jiwa kita kotor atau bersih? 

Bila kita celupkan pena bertinta kedalam laut apakah akan merubah warna laut ?. Tentu sama sekali tidak merubah. Bahkan tinta sebanyak satu ember atau satu drum tidak mampu merubah warna laut karena laut sangat banyak airnya. Nah sekarang simak kisah ini.

“Dari ‘Aisyah beliau berkata: Aku pernah berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Cukup bagimu dari Shofiyah ini dan itu”. Sebagian rawi berkata Aisyah mengatakan Shofiyah pendek . Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Sungguh engkau telah mengucapkan suatu kalimat, yang seandainya kalimat tersebut dicampur dengan air laut niscaya akan merubahnya”

Bayangkan betapa kotornya membongkar aib orang lain, laksana merubah air laut  !!! ( polusi) 

Betapa banyak yang membuka auratnya sendiri karena lidahnya membicarakan aib orang lain. Bahkan lidahnya merubah laut. Di dalam hadist riwayat At-Tirmidzi, Abu Dawud dan Nasa’i disebutkan laut adalah suci dan mensucikan bahkan bangkai laut halal. 

Ternyata lidah bisa mengotori kesucian laut !. Laksana melemparkan bangkai bangkai manusia ke lautan sehingga terjadi polusi air.

Semestinya kita selalui ingat semua dosa yang kita lakukan pasti akan kembali kepada diri kita sendiri.

 Perhatikan orang yang membuka aib orang lain di depan anda, sesungguhnya ia akan juga membuka aib anda di depan orang lain. Berhati hatilah dengan lidah yang menghancurkan kehidupan dunia dan akhirat. 

Segala keburukan yang kita lakukan akan kembali kepada diri kita itulah surat 17 Al Isra ayat 7 “bila kalian berbuat baik sesungguhnya kalian berbuat baik untuk diri kalian sendiri, bila kalian berbuat keburukan maka kalian berbuat keburukan untuk kalian sendiri”. 



Mari kita berpakaian dengan menjaga lidah kita. ! Saat orang lain berghibah bayangkan anda sedang disuguhkan bangkai saudaramu untuk memakannya. Naudzubillah min dzalik.



Semoga kita terjaga dari dosa ghibah yang dibangun diatas keangkuhan merasa lebih baik.

Ya Allah bimbinglah kami kepada Akhlak yang mulia.

Motivasi Ramadan bersama Ust.Arifin Jayadiningrat |Direktur Islamic Character Development-ICD

Yang Spesial Di Ramadan Ini



Ada beberapa hal berbeda yang saya rasakan di Ramadan ini. 

1. Buka Puasa gak sendiri lagi. 

Ramadan ini tahun pertama saya dan istri buka puasa dan sahur bersama, sudah ada yang bangunin sahur dan sudah ada yang siapin buka, baca Alqur’an juga sudah ada yang menemani. 

Ramdan semakin spesial, kami tidak memasak yang berlebihan ketika puasa, cukup dengan menu sehari hari seperti bulan yang lain. 

2. Lebih banyak waktu untuk membaca dan mengulang hafalan Al-Quran. 

Awal Ramadan ini Ust.Arifin Jayadiningrat mengadakan umroh dengan travel beliau BMW, dan karena beliau umroh, tahun ini gak ada Sanlat ICD Camp, kecuali yang sudah rutin di Sanlat 3R di sekolah Highscope. 

Ingin saya manfaatkan waktu yang ada untuk lebih banyak membaca dan mengulang hafalan Al-Quran. 

3. Full Ramadan di Jakarta. 

Tahun ini saya dan istri rencana pulang ke Magelang habis lebaran karena istri gak mau seperti saya tahun lalu, 3 hari dua malam di dalam bus, selain itu juga pertimbangan harga, konon tiket bus dua atau tiga hari lebaran sudah agak turun. Alhamdulillah bisa i’tikaf full di Masjid As-Salam Kementrian PU, tempat saya dan jamaah Ust Arifin mengadakan i’tikaf setiap tahun. 

4. Tidak membeli baju untuk Idul Fitri. 

Saya biasa gak beli baju baru waktu idul fitri, saya biasa pakai baju yang paling bagus yang saya punya untuk berlebaran. Tahun ini saya mau ajarin ke istri kalau lebaran gak mesti baru, kalau yang ada masih bisa dipakai, kenapa tidak? Yang penting masih bagus, sopan dan gak bolong bolong kan bajunya? 

Toh kami juga belum dikaruniai momongan jadi belajar hemat dari sekarang, menggunakan uang yang ada untuk persiapan ke depan. 

[Video] Kumpulan Lengkap Serial Animasi Ramadhan: رجال حول الرسول


Saya ingin berbagi video youtube kartun islami yang akan tayang selama Ramadhan ini, seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, temanya tentang para Sahabat Nabi Saw. 

Insya Allah link ini akan terus diupdate sampai akhir Ramadhan. 

Serial Pertama: Masuk Islamnya Hamzah bin Abdul Muthalib dan Perannya dalam Membela Dakwah Nabi Muhammad Saw 

https://youtu.be/iOdE71J_uKA

Serial Kedua: Masuk Islamnya Thufail bin Amru

%d bloggers like this: