• Selamat datang di blog Jumal Ahmad. Saya sedang meneliti tentang Meta-Level Reflection dalam Pembangunan Karakter. Semoga dimudahkan dan bermanfaat.

  • Categories

Dua Juta Pembaca


Alhamdulillah, semakin hari semakin banyak yang mengunjungi dan membaca blog sederhana ini, dan hari ini jumlah pengunjung (viewer) sudah mencapai dua juta pembaca.

Jumlah pengunjung tiap tahunnya naik turun dan alhamdulillah cenderung naik. Tahun 2011 jumlah pengunjung 20.065, tahun 2012 jumlah pengunjung 89.435, tahun 2013 jumlah pengujung 200.958, tahun 2014 jumlah pengunjung 97.441, tahun 2015 jumlah pengunjung 406.560, tahun 2016 jumlah pengunjung 469.631 dan di tahun 2017 jumlah pengunjung sebanyak 640.302 pembaca.

Berikut diagram balok stats pengunjung dari 2012 – 2017

Situs danetsoft menulis review blog ini aman dari mallware dan materi bisa diterima semua umur.

Ahmadbinhanbal.wordpress.com is a malware-free website without age restrictions, so you can safely browse it.

Informasi ini penting saya sampaikan, agar pembaca merasa nyaman dan percaya berkunjung di blog ini.

Terima kasih atas perhatian semua pembaca blog sederhana ini, semoga di tahun 2018 lebih baik lagi. Amiin.

Ngeblog untuk Desa


Waktu pulang ke kampung seperti sekarang, sering saya manfaatkan untuk mencari bahan yang bisa saya tulis tentang desa. Memperkenalkan desa lewat blog.

Desa saya terletak di ketinggian 1500 Mdpl dan di atasnya tidak ada lagi desa yang lain, hanya kebun miilik orang desa selanjutnya hutan belantara.

Kebanyakan pekerjaan masyarakat disini sebagai petani sayur. Sayur dan tanaman tumbub subur di tempat kami, di antara tanaman yang jadi andalan kami adalah Kubis, Loncang, Bawang Merah dan Bawang Putih, Wortel. Hasil bawang Putih di desa kami termasuk yang terbaik di Magelang.

Beberapa bulan yang lalu setiap petani di Adipuro lewat kelompok Tani, diberikan beberapa ton bawang putih dan satu plastik besar moksa, harapannya jika waktu menanam sudah tiba, masyarakat bisa menanam dari bibit tersebut.

Semoga proyek swasembada bawang putih berjalan lancar dan harganya sesuai dengan biaya tanam masyarakat.

Tanaman Tin dan Zaitun di tempat saya bisa tumbuh subur, hal itu dibuktikan adik saya yang mencoba menanam Tin di depan rumah dan hasilnya bagus, daunnya lebih lebar, segar dan cepat berbuah berbeda dengan yang dia tanam di Jonggol.

Pohon Zaitun juga demikian, di Adipuro hasilnya lebih bagus. Tin dan Zaitun belum menjadi pilihan alternatif masyarakat Adipuro, mereka lebih memilih tanaman yang sudah jelas pasarannya, sementara ini Tin dan Zaitun belum ada.

*Nanti akan diupdate lagi.

Analisa Pengaruh Al-Qawaid Al-Ushuliyyah Dan Fiqhiyyah Terhadap Perbedaan Pendapat Dalam Fiqih (Kasus Hukuman Untuk Tindak Pidana Korupsi)


Abstrak

Penulisan karya tulis ini bertujuan untuk memaparkan pengaruh Qawaid Ushuliyyah dan Qawaid FIqhiyyah terhadap perbedaan pendapat dalam fiqih yaitu kasus hukuman untuk tindak pidana korupsi. Adapun yang menjadi latar belakang penulisan ini untuk mengetahui istilah dalam Al-Quran dan Hadits yang pengertian dan unsurnya terkandung dalam pengertian korupsi. Istilah tersebut adalah: ghulul (penggelapan), risywah (suap), ghasab (mengambil secara paksa hak/harta orang lain), sariqah (pencurian), dan khiyânah (pengkhianatan). Dari ayat tersebut dikeluarkan hukum korupsi dengan didukung kaidah fiqih dan ushul fiqih yang sesuai.

Hukuman tindak pidana korupsi bisa dalam bentuk ta’zir (hukuman yang dianggap setimpal dan menjerakan menurut ijtihad hakim) dan bisa dianalogikan dengan tindak pencurian, walaupun tidak sama persis. Namun, jika korupsi dinilai sebagai pencurian besar (as-sariqah al-kubra), maka tindak pidana korupsi adalah tindak hirabah atau qath al-thariq (perampokan). Alasannya karena kerusakan (mafasid) dari korupsi bersifat masif dimana yang diakibatkan korupsi lebih besar daripada kerusakan pencurian biasa yang bersifat individual.

Kata Kunci: Korupsi, Qawaid Ushul, Qawaid Fiqih

Selengkapnya:

PDF

I’rab Hamdan Naaimin Hamdan Syaakiriin


Redaksi puji pujian Hamdan Naa’imin Hamdan Syaakirin sering diucapkan sebelum berdoa. Namum redaksi doa di atas yaitu kata ‘Naaimiin‘ kurang pas secara bahasa, mestinya Mun’imiin, karena fiil madhiya adalah ruba’i atau empat huruf: أنعم – ينعم – فهو منعم yang bisa diartikan orang yang mengharapkan nikmat.

Hal ini mungkin karena mengikuti bentuk fail syaakirin, kemudian disamakan dengan naa’imin padahal yang benar mun’imin.

Berikut ini i’rab sederhana dari

حمدا شاكرين

حمدا : مصدر مؤكد حذف عامله وجوبا والتقدير أحمد حمدا أو حمدت حمدا وهو مفعول مطلق منصوب بالفتحة لفعل محذوف.

شاكرين: حال

Contoh redaksi lain yang mirip adalah:

حمدا لله وشكرا

i’rabnya sebagai berikut:

حمدا : مفعول مطلق منصوب بالفتحة لفعل محذوف

لله : لفظ الجلالة اسم مجرور وعلامة جره الكسرة لإنها مضاف إليه

و: حرف عطف مبني على الفتح، لا محل له من الإعراب

شكرا: مفعول مطلق منصوب بالفتحة لفعل محذوف

Karena redaksi Naa’imin kurang pas, maka lebih selamatnya mengganti redaksi hamdan naaimin hamdan syaakirin menjadi hamdan haamidin hamdan syaakirin dan saya dapatkan dalam beberapa contoh doa.

Atau menghilangkannya dan langsung membaca seperti berikut:

Bismillahirrahmaaninraahiim

Alhamdulillahi Rabbil Aalamiin. Hamdan yuwaafii niamahu was yukaafi-u maziidah. Yaa rabbanaa lakal hamdu wa lakal syukru kamaa yanbaghii li jalaali wajhika was adziimi sulthaanika.

“Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ya Allah Kami persembahkan kepada-Mu seluruh bentuk pujian yang layak dengan kebesaran dan keagungan-Mu atas seluruh nikmat dan karunia yang Engkau anugerahkan kepada kami .”

Redaksi di atas disebutkan dalam sebuah Hadits yang menyebutkan keutamaan pujian tersebut.

Dari Abu An-Nashr at-Tammar berkata, “Adam As berkata: Tuhanku, aku sibuk mencari nafkah, maka ajarilah aku rangkaian pujian dan tasbih. Lalu Allah mewahyukan kepadanya: “Wahai Adam, di pagi hari bacalah tiga kali dan di sore hari bacalah tiga kali Alhamdulillah Hamdan yuwaafii niamahu was yukaafi-u maziidah. Yaa rabbanaa lakal hamdu wa lakal syukru kamaa yanbaghii li jalaali wajhika was adziimi sulthaanika itulah rangkuman pujian.

Makna lafal yuwaafii niamahu adalah pujian yang menyusul nikmat sehingga semua nikmat datang bersamaan dengan pujian ini.

Dan lafal yukaafi-u maziidah berarti menyamai penambahan nikmat itu, artinya seseorang melakukan syukur yang melebihi nikmat dan kebaikan Allah. []

Resolusi Ibadah


Diceritakan oleh Sahl bin Saad, bahwasanya Rasulullah SAW pernah datang ke rumah Fathimah. Namun, beliau tidak mendapati Ali. Beliau pun bersabda, “Di mana putra pamanmu?” Fathimah menjawab, “Telah terjadi sesuatu antara aku dan dia. Ia marah, lalu keluar dan tidak qoilulah (tidur siang) di sisiku.”

Kemudian Nabi SAW berkata kepada seseorang, “Coba cari, di mana dia?” orang tersebut datang seraya berkata, “Wahai Rasulullah, ia sedang tidur di masjid.” Nabi pun datang, dan saat itu Ali sedang berbaring. Sementara kainnya telah terjatuh dari sisinya dan debu telah mengenai dirinya. Nabi SAW membersihkan debu tersebut dan bersabda, “Bangunlah wahai Abu Turab, bangunlah wahai Abu Turab,” (Muttafaq alaih).

Saya ingin seperti Ali ra ketika masalah datang, yang menjadi tempat mengadunya adalah masjid, bukan tempat yang lain.

Saya pun ingin bergegas ke Masjid ketika adzan berkumandang, selama ini lebih sering menunda nunda dan sampai masjid sudah masbuq (terlambat Shalat).

Berangkat ke Masjid, berjalan dan melihat sekitar di Perjalanan ke masjid membuat hati merefleksikan diri, bahwa banyak karunia Allah yang sudah diberikan yang jarang disyukuri, diantaranya nikmat ketika kita bisa Shalat ke Masjid, betapa banyak manusia yang tidak diberikan nikmat ini.

Ketika pulang ke rumah kecil, kita menjadi lebih lembut kepada istri, lebih memahami kesusahan dan perjuangan yang dilakukan istri untuk kita.

Dengan shalat berjamaah kebutuhan khusyu’ bagi masing-masing orang yang shalat dapat ditutupi oleh salah satu makmum yang bisa khusyu’, bila semua makmum tidak ada yang khusyu’ maka kebutuhan khusyu’ semua jamaah itu dicukupi oleh Imamnya. Maka shalat berjamaah memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk dikatagorikan sah dibanding shalat sendiri. Kalau shalat kita sah, Insya Allah shalat itu akan menjauhkan kita dari perbuatan yang tidak terpuji.

Dalam Hadits lain terkait Shalat berjamaah, Nabi pernah menyatakan: Barangsiapa yang selalu menjaga shalatnya dengan berjamaah tidak akan terkena kefaqiran selamanya.

Arti fakir terdikotomi ke dalam fakir hati dan fakir harta. Untuk fakir harta, mungkin kita semua sudah memahaminya. Sementara mereka yang fakir hati adalah orang-orang yang selalu diliputi perasaan tidak puas atas apa yang ada dalam dirinya dan tidak mampu bersyukur.

Dengan selalu menjalankan shalat secara berjamaah, minimal dengan pasangan nikahnya sendiri, Allah melalui lisan Rasulullah memberikan jaminan terbebas dari kefakiran baik kefakiran harta maupun hati.

Semoga bermanfaat. []

Keponakan Baru Lagi


Pertengahan Januari tahun lalu saya punya keponakan baru dari adik saya yang ketiga, dan akhir Desember tahun 2017 kemarin saya kembali diberikan Allah keponakan baru dari adik saya yang kedua.

Alhamdulillah, bertambah lagi anggota keluarga besar kami, tak lupa saya mendoakan:

بَارَكَ اللهُ لَكَ فِي المَوهُوبِ لَكَ , وَشَكَرْتَ الوَاهِبَ , وَبَلَغَ أَشُدَّهُ , وَرُزِقْتَ بِرَّهُ

“Semoga Allah memberkahi anak yang dianugerahkan kepadamu, semoga kamu bisa mensyukuri Sang Pemberi (Allah), semoga cepat besar dan dewasa, dan engkau mendapatkan baktinya si anak.”

Setelah istri dari adik saya lahiran, saya meminta istri pulang ke Magelang untuk membantu orang tua dan adik di rumah yang pasti riweh menerima tamu, yang bukan hanya dari desa saja tapi juga desa tetangga. Saya tidak bisa ikut pulang karena ada aktifitas yang masih menjadi tanggungan.

Bertambah bahagia ketika mendengar dua teman saya di Nurul Hadid lahir putra mereka dengan sehat dan selamat. Teman saya Syamsi di Bekasi dan Marwan di Bandung.

Terakhir, teriring doa bagi adik dan teman yang baru dikaruniai amanah agar kelak dimampukan oleh Allah mendidik dengan sebaik-baiknya dan semoga saya dan istri disegerakan menyusul diberikan momongan, amiin.

Akhir Tahun..


Ketika kita mengingat-ingat kembali masa-masa yang telah lalu, dengan segala rintangan yang menyertai hidup dan berbagai ketakutan-ketakutan yang menyentak kehidupan, maka pasti suatu waktu kita pernah merasakan sekejap kebahagiaan yang menghapus linangan air mata, secercah kegembiraan yang mengembalikan rasa aman, dan sedetik kesenangan yang melepas kedukaan.

Continue reading

%d bloggers like this: