Yuk… Jalan Sehat Di LebaRun 2017


Alhamdulillah segala puji bagi Allah swt, kegiatan dzikir nasional hari kemarin berjalan lancar bahkan dipenuhi dengan keberkahan dari Allah swt lewat hujan yang mengguyur peserta dzikir nasional. 

Acara ini ada nuansa politisnya yaitu mengajak umat Islam di Jakarta khususnya untuk memlilih pemimpin yang muslim saja. Fatwa dari ulama Timur Tengah,  dari NU dan Muhammadiyah tentang larangan memilih pemimpin non muslim bisa anda baca di postingan sebelumnya. 

Acara sebelumnya adalah longmarch dari Monas ke HI yang kemudian dipindahkan ke Istiqlal.  Hikmahnya banyak, yang jelas kemarin Jakarta hujan deras sehingga umat bisa bernaung di Masjid terbesar di Indonesia. 

Maka jika longmarch ini ditiadakan dan diganti, saya ingin mengajak umat Islam untuk ikut serta di event lebarun, yaitu event dakwah yang dibalut dengan event lari dan famwalk. 

Tahun lalu acara ini sukses diadakan di lapangan masjid Al-Azhar dan mengambil rute lari 5 dan 9 K dari Al-Azhar. Tahun ini Aksi Peduli Bangsa bekerja sama dengan IMRR (Indonesia Muda Road Runner) akan mengadakan kembali di tanggal 15 dan 16 Juli, tepatnya minggu ke 3 lebaran. 

Di hari sabtu adalah pengambilan race pack, selain itu akan dibuat acara lain yaitu finalisasi lomba Pidato bahasa Inggris tingkat SMP dan Karya Ilmiah Remaja untuk tingkat SMA. 

Hari Ahadnya ada lomba lari dan orasi dari para kyai dan ustadz serta musik Islami untuk menghibur peserta dan penonton. 

Selain itu juga ada bazar makanan dan produk selama acara. 

Itu gambaran tahun lalu yang tidak jauh beda di event nanti. 

Seluruh panitia sedang bekerja keras untuk mendapatkan sponsorship bagus untuk event ini. 

Dana yang terkumpul dari event ini akan digunakan untuk pembangunan daerah pedalaman di Indonesia seperti di Mentawai yang sekarang sedang menjadi proyek Aksi Peduli Bangsa. 

Semoga, umat Islam yang datang di Istiqlal ini bisa hadir di LebaRun nanti… Kita lari bersama, funwalk bersama dan mendengarkan tausiah bersama. 

Doakan panitia agat dimudahkan dapat sponsorship ya… 

Mau lihat koleksi foto event tahun lalu? Sila buka IG: lebarun_apb, Twitter:lebarunID dan web di lebarun.com.

Sampai jumpa di lebarun nanti.. 🏁🏃🏃🏃

Tentang Fatwa Dar Ifta’ Mesir, Bolehnya Pemimpin Non Muslim


Hari ini sedang diviralkan kembali fatwa dari Dar Ifta’ Mesir tentang bolehnya pemimpin dari non muslim yang dikeluarkan pada 12 Oktober 2016 yang lalu.  Fatwa ini menjadi senjata pendukung Ahok untuk memenangkan jagoannya di Pilkada besok. Banyak cara mereka gunakan, sebelumnya dengan menghadirkan ulama liberal dari Mesir sampai menyebarkan fatwa yang mendukung.

 
Jika pertanyaan itu dikaitkan dengan konteks Pilkada DKI besok kurang relevan, karena DKI memiliki calon lain dari umat Islam, dari tiga calon, 2 dari kalangan Islam yaitu Agus Silvy dan Anies Sandi. Sementara pertanyaan ditujukan tentang non muslim yang menjadi pemimpin dan tidak ada pemimpin muslim yang maju dalam pemilihan.

Berikut isi permintaan fatwa (istifta’) yang diajukan oleh pemohon.

Isi pertanyaan: “Apa hukum pencalonan non Muslim untuk jabatan gubernur di daerah yang mayoritasnya berpenduduk Muslim tetapi negara memiliki sistem demokratis yang membolehkan semua warganegara, Muslim ataupun non Muslim, untuk mencalonkan diri dalam pemilihan umum secara langsung? Apa pendapat fiqih terhadap status gubernur maupun anggota parlemen seperti dalam khazanah fiqih Islam?”

Dalam surat jawaban bernomor 983348 atas istifta (permohonan fatwa) tersebut, Lembaga Fatwa Mesir berfatwa:

“Konsep penguasa/pemegang wewenang (al-hakim) dalam negara modern telah berubah. Dia sudah menjadi bagian dari lembaga dan pranata (seperti undang-undang dasar, peraturan perundang-undangan, eksekutif, legislatif, yudikatif) yang ada, sehingga orang yang duduk di pucuk pimpinan lembaga dan institusi seperti raja, presiden, kaisar atau sejenisnya tidak lagi dapat melanggar seluruh aturan dan undang-undang yang ada. Maka itu, pemegang jabatan dalam situasi seperti ini lebih mirip dengan pegawai yang dibatasi oleh kompetensi dan kewenangan tertentu yang diatur dalam sistem tersebut.

Pemilihan orang ini dari kalangan Muslim maupun non Muslim, laki-laki maupun perempuan, tidak bertentangan dengan hukum-hukum syariah Islam, karena penguasa/pimpinan ini telah menjadi bagian dari badan hukum (syakhsh i’itibari/rechtspersoon) dan bukan manusia pribadi (syakhsh thabi’i/natuurlijke persoon).” Wallahu A’lam.

Negara Indonesia terdiri banyak agama, boleh saja semua mencalonkan jadi pemimpin asal pribadinya baik. Tetapi perlu diingat sebagai muslim berkewajiban memilih pemimpin dari golongannya hukumnya wajib. Masalah hasilnya siapa yang menang itulah pilihan rakyat. karena negara demokrasi.

Memilih non muslim bisa terjadi jika tidak ada calon dari umat Islam, memilih orang yang lebih  memberikan manfaat atau lebih sedikit bahanya’. Adapun jika ada calon muslim maka hukumnya jelas haram memilh pemimpin non muslim. Hal ini sebagaimana fatwa lain yang dikeluarkan oleh Syaikh Shalih Al-Munajjid, ketika ada seseorang yang memintakan fatwa memilih pemimpin antara yang Islam dan non Islam

Isi Pertanyaan: Dalam suatu pemilihan ada seorang calon dari non muslim. Dan ada calon lain dari muslim. Apa yang harus saya pilih sesuai ajaran agama Islam?

Dalam surat jawaban fatwa bernomor 146432 Syaikh Shalih Al-Munajjid dan team menjawab.

“Segala puji bagi Allah.
Tidak boleh memilih pemimpin non muslim jika ada calon pemimpin dari muslim. Karena larangan orang kafir memimpin orang Islam sudah menjadi Ijma’ (konsensus).  Sebagaimana firman Allah ‘Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.’ (Qs. An-Nisa’:141)
Dalam ‘Maushu’ah Fiqhiyyah’ jilid 6 hal 218 menyebutkan syarat-syarat seorang pemimpin: Ahli Fiqih telah membuat syarat-syarat seorang pemimpin, di antaranya ada yang disepakati dan ada yang tidak.

Adapun syarat-syarat yang disepakati adalah:

  1. Islam. Karena menjadi syarat diterimanya persaksian dan sahnya sebuah kepemimpinan. Allah swt berfirman ‘Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.’ Dan kepemimpinan sebagaimana dijelaskan Ibnu Hazm adalah ‘Cara paling agung dalam menjaga maslahat umat Islam’.
  2. Mukallaf. Yaitu berakal, baligh maka tidak sah seorang pemimpin dari anak kecil dan orang gila. Mereka berdua tidak berhak menjadi pemimpin muslim, dalam sebuat atsar disebutkan ‘Minta berlindunglah kepada Allah jika sampai umur di atas tujuh puluh tahun dan dari kepemimpinan anak kecil’.
  3. Laki-laki. Maka tidak boleh seorang wanita memimpin. Sebagaimana sebuah hadits ‘tidak akan beruntung suatu kaum yang dipimpin seorang wanita’. Selain itu posisi ini membutuhkan tenaga dan kemampuan fisik yang kuat jauh dari kemampuan dan tabiat perempuan, terkadang pemimpin harus memimpin tentara dan memimpin perang.
  4. Kompeten. Kompeten disini berarti mampu dan berani, bisa memimpin perang, politik dan had.
  5. Merdeka. Tidak sah seorang budak atau pembantu menjadi pemimpin karena dia sibuk untuk melayani tuannya.
  6. Badan sehat dan tidak cacat dan tidak menghalanginya untuk bergerak mengerjakan tugas seorang pemimpin. Selesai.’

Syiakh Ibnu Jibrin pernah ditanya tentang hukum ‘Seorang muslim ikut terlibat dalam hukum atau memilih calon seorang hakim’

Maka dijawab oleh beliau: “Tidak boleh seorang muslim memilih pemimpin dari orang kafir yang akan menjadi pemimpin dari urusan umat Islam, karena itu menjadi bagian dari menolong dan berwali kepada orang kafir, padahal Allah swt telah memutus hubungan cinta antara kita dan orang kafir sekalipun dari karib kerabat, sebagaimana firman Allah, ‘Janganlah kamu menjadikan bapak-bapak dan saudara-saudara kalian wali jika mereka lebih mencintai kekafiran daripada keimanan’.
Akan tetapi jika seorang muslim ikut dalam hukum yang bisa membantu umat Islam, dan jika ditinggalkan akan membuat bahaya dan kesempitan bagi orang Islam maka diperbolehkan dengan niat ini. Adapun memilih pemimpin kafir jelas tidak boleh karena menyetujui orang kafir memimpin orang Islam.”.

Adapun jika tidak ada orang Islam dan orang Islam melihat ada manfaat dalam memilih, maka tidak apa memilih orang yang lebih  memberikan manfaat atau lebih sedikit bahanya’. Selesai nukilan dari situs dengan sedikit diringkas.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) menjadi salah satu rujukan terpenting umat Islam seluruh NKRI untuk mengetahui jawaban setiap permasalahan hukum-hukum Islam. Oleh karenanya kita patuh pada fatwa dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Dalam fatwanya tentang ‘Memilih Pemimpin dalam Pemilu’ (Keputusan Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa Se-Indonesia di Padang Panjang 29 Muharram 1430 H/ 26 Januari 2009) menyebutkan.

Penggunaan Hak Pilih dalam Pemilihan Umum

  1. Pemilihan Umum dalam pandangan Islam adalah upaya untuk memilih pemimpin atau wakil yang memenuhi syarat syarat ideal bagi terwujudnyc cita-cita bersama sesuai dengan aspirasi umat dan kepentingan bangsa.
  2. Memilih pemimpin dalam Islam adalah kewajiban untuk menegakkan Imamah dan Imarah dalam kehidupan bersama.
  3. Imamah dan Imarah dalam Islam menghajatkan syarat-syarat sesuai dengen ketentuan agama agar terwujud kemaslahatan dalam masyarakat.
  4. Memilih pemimpin yang beriman, bertakwa, jujur (shidiq) terpercaya (amanah), aktif dan aspiratif (tabligh), mempunyai kemampuan (fathonah) dan memperjuangkan kepentingan umat Islam hukumnya adalah wajib.
  5. Memilih pemimpin yang tidak memenuhi syarat-syarat sebagaimana disebutkan dalam butir 4 (empat) atau tidak memilih sama sekali padahal ada calon yang memenuhi syarat hukumnya adalah haram.

Rekomendasi:
Umat Islam dianjurkan untuk memilih pemimpin dan wakil wakilnya yang mengemban tugas amar ma’ruf nahi mungkar

Implementasi Fatwa MUI dan Rekomendasinya:

  1. Dalam Pemilu umat Islam wajib memilih pemimpin (presiden/ Gubernur/ Bupati/ Walikota) yang beriman dan bertakwa kepada Allah swt dan kebijakan pemerintahannya.
  2. Haram hukumnya bagi umat Islam memilih pemimpin yang tidak beriman dan tidak bertakwa kepada Allah swt.
  3. Umat Islam haram menerima uang/ suap dalam bentuk apapun untuk memilih calon pemimpin yang diharamkan oleh agama Islam.
  4. Umat Islam harus bersatu dalam memilih pasangan calon pemimpin Muslim dalam seluruh tingkatan pemerintahan.
  5. Umat Islam wajib menggunakan hak pilihnya dalam pemilu untuk mewujudkan kepemimpinan Muslim yang shalih dalam berbagai tingkatan pemerintahan.

Selain itu, kami kuatkan fatwa di atas dengan Fatwa Bahtsul Masail NU dan Fatwa Majlis Tarjih Muhammadiyah.

Fatwa NU tentang Memilih Pemimpin Non Muslim

Keputusan Bahtsul Masail Ad-Diniyyah Al-Waqi’iyyah NU XXX NU
Di PP Lirboyo Kediri Jawa Timur Tanggal 21-27 November 1999

A. Pertanyaan
Bagaimana hukum orang Islam mengusahakan urusan kenegaraan kepada orang non Islam?

B. Jawaban
Orang Islam tidak boleh mengusahakan urusan kenegaraan kepada orang non Islam kecuali dalam keadaan darurat.

Fatwa Majlis Tarjih Muhammadiyah: Kepemimpinan

Majelis Tarjih Muhammadiyah dalam sidangnya pada hari Jum’at, 12 Zulkaidah 1430 H / 30 Oktober 2009 seputar Memilih Partai Politik dan Calon Legislatif butir 3 menyebutkan :

Perkembangan politik di Indonesia memang berjalan sangat dinamis. Saat ini, masyarakat tidak lagi memilih wakil rakyat dengan memilih partainya, melainkan langsung memilih orang yang mengajukan diri menjadi Calon Legislatif melalui partai-partai politik. Calon legislatif atau calon wakil rakyat adalah salah satu bagian dari kepemimpinan.

Dalam memilih calon pemimpin, tentu umat Islam harus mempertimbangkannya masak-masak, tidak boleh gegabah. Apalagi hanya memandang status, pekerjaan dan aktifitasnya selama ini. Syarat utama seorang pemimpin yang layak dipilih adalah Muslim. Allah swt berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” [QS. al-Maidah (5): 51]

Adapun syarat-syarat lain di antaranya adalah amanah, memiliki kapabilitas dan kompetensi, memahami dan membela aspirasi umat Islam, serta khusus bagi warga Muhammadiyah, hendaknya memilih calon pemimpin yang mendukung atau sejalan dengan dakwah amar ma’ruf nahi munkar dan tajdid yang dikembangkan oleh Muhammadiyah.

Tausyiyah MUI Menghadapi Pilkada Serentak

Sehubungan dengan akan dilaksanakannya agenda pemilukada secara serentak pada tanggal 15 Februari 2017, dan mengingat tanggung jawab warga negara untuk berpartisipasi menggunakan hak pilihnya, maka Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia menyapaikan taushiyah sebagai berikut :

  1. Menghimbau kepada mayarakat, khusunya umat Islam untuk menjaga situasi agar tetap aman, damai dan terbangun suasana kehidupan yang penuh harmoni. Masyarakat agar ikut serta mengawasi proses pelaksanaan pemilukada, sehingga mencegah potensi terjadinya kecurangan dan gangguan keamanan.
  2. Meminta kepada umat Islam untuk menggunakan hak pilihnya secara bertanggung jawab, sesuai dengan tuntunan agama. Sebagaimana Hasil Ijtima Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia Tahun 2009; Memilih pemimpin menurut ajaran Islam adalah kewajiban untuk menegakkan imamah dan imarah dalam kehidupan bersama.
  3. Dalam menggunakan hak pilihnya, Umat Islam wajib memilih pemimpin yang beriman dan bertakwa, jujur (siddiq), terpercaya (amanah), aktif dan aspiratif (tabligh), mempunyai kemampuan (fathonah), dan memperjuangkan kepentingan umat Islam.
  4. Kepada seluruh Umat Islam yang sedang belajar di pesantren/perguruan tinggi atau bekerja di luar tempat asalnya untuk dapat meminta izin pulang ke daerah asalnya guna menunaikan hak pilihnya sebagai wujud tanggung jawab berbangsa dan bernegara.
  5. Meminta kepada segenap pimpinan pesantren/lembaga pendidikan dan tempat bekerja untuk dapat mengizinkan santri/murid atau pekerja yang memiliki hak pilih untuk dapat menunaikan haknya di daerah masing-masing sebagai wujud partisipasi dalam kehidupan politik.
  6. Mengajak segenap Umat Islam untuk bermunajat memohon kepada Allah Subhanahu Wata’ala agar semua proses pemilukada serentak bisa terlaksana secara jujur, adil, aman dan damai serta menghasilkan pemimpin-pemimpin yang takut hanya kepada Allah dan berjuang sepenuh tenaga mewujudkan bangsa dan negara yang adil dan makmur dalam lindungan Allah Subhanahu Wata’ala (baldatun thayyibatun warabbun ghafur).

Wallahu al-musta’an wa’alaihi at-tuklan.
Jakarta, 13 Jumadil Awal 1438 H | 10 Februari 2017 M

Berikut Screenshoot nya

Sumber:
https://islamqa.info/ar/146432
http://www.fatwatarjih.com/2011/09/memilih-partai-politik.html
https://www.nahimunkar.com/gus-sholah-keputusan-muktamar-nu-lirboyo-orang-islam-tidak-boleh-memilih-pemimpin-non-islam/

http://www.suaramuhammadiyah.id/2017/02/11/ini-tausiyah-mui-hadapi-pemilukada-serentak/

Yahya Al-Buwaithi Dan Kriminalisasi Ulama


Pada zaman dahulu, kriminalisasi terhadap para ulama sudah ada, diistilahkan dengan ‘Mihnah‘ yaitu penguasa menangkap seseorang dengan tuduhan kemudian menginterogasinya dengan pertanyaan-pertanyaan sampai mereka setuju dengan pendapat penguasa. 

Mihnah yang paling dahsyat adalah ketika terjadi fitnah Khalqul Quran yaitu anggapan bahwa Al-Quran adalah Makhluk. Fitnah antara ulama dan penguasa. 

Ulama ulama yang ingin aman dan takut dihukum, menyatakan bahwa Al-Quran itu makhluk, dan orang orang yang tetap berpegang teguh dan enggan membuat umat sesat tetap mengatakan bahwa Al-Quran bukanlah makhluk. 

Ulama yang dikenal berada di garda depan dalam fitnah ini ada empat yaitu Imam Ahmad bin Hanbal. Pembaca yang ingin mengetahui perjuangan beliau, silahkan seacrh di blog ini tentang Ahmad bin Hanbal, sudah kami tuliskan beberapa tulisan tentang fitnah antara beliau dan penguasa kala itu. 

Kedua, Muhammad bin Nuh bin Maimun yang wafat ketika perjalanan dibawa ke penjara, ketiga,  Nu’aim bin Hammad Al-Khuza’i yang wafat di penjara dan yang keempat, Imam Al-Buwaithi. 

Kami ingin memperkenalkan Imam Al-Buwaithi, maka berikut ini kami tuliskan sedikit tentang biografi beliau dan bagaimana kesabarannya menghadapi fitnah. Imam Ahmad dan Imam Al-Buwaithi layak menjadi contoh dalam menghadapi ujian terhadap penguasa. 

Namanya Yusuf bin Yahya Al-Buwaithi atau lebih dikenal dengan Imam Al-Buwaithi. Salah seorang ulama tertinggi dalam mazhab Syafi’i. 

Dr. Utsman Abdurrahman, dosen di Universitas Al-Azhar menyebutkan bahwa Al-Buwaithi lahir pada tahun 231 H di sebuah desa bernama Buwaith di Mesir, ada juga yang mengatakan beliau tidak lahir di Buwaith, beliau pernah belajar Kitab Al-Buwaithi sehingga dinasabkan ke beliau dan beliau lahir di kota Asyuth. 

Ketika kecil beliau mulai belajar menghafal Al-Quran, kemudian belajar fiqih, tafsir, ilmu kalam, bahasa Arab dan ilmu yang lain. Bersandar pada mazhab Imam Malik kemudian berpindah ke mazhab Syafi’i setelah Imam Syafi’i datang dan tinggal di Mesir. 

Al-Buwaithi menjadi murid spesial Imam Syafi’i sampai beliau wafat. Dan menjadi orang yang menyebarkan mazhab Syafi’i kepada masyarakat. 

Jika saat ini di Indonesia ada laskar pembasmi maksiat seperti FPI, ternyata di Kairo dulunya ada lembaga penegak “Nahi Mungkar”yang dipimpin langsung Imam Al-Buwaithi atas perintah gurunya, Imam Syafi’i. Bergotong-royong bersama aparat setempat lembaga tersebut membasmi maksiat. 

Imam Al-Buwaithi juga memiliki kebiasaan membangun fasilitas umum untuk masyarakat, dan tidak jarang beliau mendapatkan kepercayaan dari Imam Syafi’i untuk berfatwa.

Suatu hari, datanglah seseorang kepada Imam Syafi’i untuk meminta fatwa atas garis pembatas tanah namun Imam Syafi’i tidak menjawab tetapi beliau membawa permasalahan tersebut kepada Imam Al-Buwaithi seraya berkata,“Orang ini (Imam Al-Buwaithi) adalah lisanku ”.

Menjelang detik-detik kepergian imam Syafi’i, Al-Humaidi sebagai murid yang dituakan mendekat ke ranjang imam Syafi’i, dia memohon agar sang guru menunjuk pewaris majlisnya sebab dia khawatir akan adanya perselisisihan kelak sepeninggalan beliau. “Tidak ada yang lebih berhak atas majlisku selain Al-Buwaithi” ujar Sang Guru. 

Beliau berwasiat pada para muridnya untuk terus berada di majlis imam Al-Buwaithi. Oleh karena itulah Imam Al-Buwaithi selalu menggantikan peranan Imam Syafi’i dalam segala hal setelah beliau wafat. Puncaknya, tidak sedikit para murid Al-Buwaithi yang menjadi imam dan menyebar keseluruh penjuru dunia.

Bersamaan dengan derajat dan kemasyhuran Imam Al-Buwaithi yang terus naik daun, tidak sedikit orang yang dengki dan ingin menjatuhkan beliau.

Abu Laits Al-Hanafi iri dengan pangkat dan derajat Imam Al-Buwaithi dalam mazhab Syafi’i dan disisi manusia. Maka dia melaporkan kepada Khalifah Al-Watsiq dan ketika itu sedang terjadi fitnah Khalqul Quran.

 Abu Laits ingin menjebak Al-Buwaithi dengan pertanyaan seputar Khalqul Quran, pertanyaan ini memang diujikan kepada semua ulama kala itu, bagi yang tidak setuju dengan penguasa akan dipenjara. 

 Tatkala kota Baghdad jatuh dalam cengkraman Mu’tazilah, mereka menyebarkan doktrin bahwa Al-Qur’an adalah makhluk dan menyiksa dengan kejam bagi siapa saja yang berselih paham dengan mereka. Banyak ulama Baghdad yang menyerah dan terpaksa mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk sebab tak kuasa menerima siksaan tersebut.

 Abu Bakar Al-Asyam sebagai hakim tinggi kaum Mu’tazilah menyurati hakim agung Ahmad bin Abi Daud untuk menangkap Al-Buwaithi. Imam Al-Buwaithi menegaskan pada gubernur Mesir: ”Pengikutku berjumlah ratusan ribu, sesatlah mereka jika aku berpura-pura hanya agar selamat dari siksa”. Maka dibelenggulah Imam Al-Buwaithi dan digiring ke Baghdad.

 Gubernur Mesir Al-Watsiq Billah yang sangat menghormati Al-Buwaithi hanya dapat berpangku tangan melihat kembali kejadian yang pernah menimpa Imam Ahmad bin Hambal hingga merenggut nyawanya atas Imam Al-Buwaithi.

Imam Robi’ bin Sulaiman berkata: “Aku melihat Imam Al-Buwaithi dinaikkan ke bighal, di lehernya terdapat belenggu seberat empatpuluh pon. Tangan kakinya dililit dengan borgol, antara belenggu leher dan borgol terdapat rantai besi terurai seberat empat puluh pon, di saat itu Imam Al-Buwaithi berkata:“Allah ciptakan makhluknya dengan berfirman ‘KUN’ maka terjadilah, seandainya firman ‘KUN’ ini makhluk, berarti Kholiq menciptakan makhluk yang akan menciptakan makhluk (lagi), andai aku bertemu Al-Watsiq, akan aku sampaikan ini padanya”.

Allahu Akbar, para pembaca sekalian, inilah akhlak ulama yang harus kita ikuti, tidak takut dalam membela kebenaran sekalipun kepada penguasa.   Jalan mana yang ingin kalian ikuti? 

Sayangnya justru karena ucapan tersebut Imam Al-Buwaithi dihalang-halangi agar tidak berjumpa Al Watsiq Billah. Salah seorang pengawal Mu’tazilah mencatat ucapan dan hujjah beliau kemudian melaporkannya pada Hakim Agung Ahmad bin Abi Daud, ia pun kaget mengetahui betapa cerdas Imam Al Buwaithi hingga mampu merubah faham Mu’tazilah hanya dengan beberapa kalimat, maka Ahmad bin Abi Daud semakin menghalangi Imam Al-Buwaithi untuk berjumpa Al-Watsiq Billah.

Mewarisi ketajaman logika Imam Syafi’i, kefasihan berbahasa dan kesantunan akhlaknya menjadi sebab Al-Buwaithi diisolasi. Para pembesar Mu’tazilah khawatir hal tersebut akan merenggut perhatian Khalifah yang selama ini mereka nikmati. 

Sungguh berbahaya, Imam Al-Buwaithi dikurung dalam penjara bawah tanah selama 4 tahun. Beliau paling tersiksa ketika tidak diperbolehkan beribadah dan sulit menentukan waktu sholat, hingga beliau menjadikan waktu-waktu siksa cambukan sebagai patokan waktu shalat karena sudah berbulan-bulan tidak pernah melihat matahari.

Meski demikian, beliau masih melakukan kebiasaannya seperti membaca Al-Qur’an, berdzikir dan salat malam secara sembunyi-sembunyi, tidak ada waktu kosong yang disia-siakannya.  

Setelah lama meringkup dalam gelapnya buih bawah, disiksa di penjara akibat tidak mau merubah pendapatnya, Imam Al-Buwaithi masih sempat menuliskan surat bertintakan darahnya di atas kain kumal yang beliau kirim pada seorang Imam di Mesir bernama Abu Bakar Al-Asham, yang di kemudian hari Imam tersebut membacakannya di depan majlis “Aku terhalang untuk bersuci dan beribadah, berdoalah agar Allah memberi karunia jalan terbaik bagi hamba lemah sepertiku.” Tidak ada manusia yang tidak mengetahui surat beliau. 

Tidak lama berselang, Imam Al-Buwaithi dipanggil oleh Sang Khalik pada bulan Rojab tahun 231 H. Kepergian pahlawan kebenaran itu membuat para tokoh agama dari penjuru dunia terlebih ulama Mesir merasakan oase ilmu pengetahuan yang tak pernah kering ini hilang tertimbun. 

Dan benarlah firasat Imam Syafi’i tentang murid-muridnya yang beliau ungkapkan ketika masih hidup.  Suatu hari Imam Syafi’i berkata kepada muridnya Al-Muzanni dan Al-Buwaithi, Beliau melihat kepada Al-Muzanni dan berkata, ‘Engkau akan mati karena berdebat’ dan kepada Al-Buwaithi ‘Engkau akan mati dalam penjara’
Dan benar, Imam Al-Buwaithi menghembuskan nafas terakhir di dalam penjara menjadi kenyataan.

Perjalanan Imam Al-Buwaithi mulai dari nol hingga wafat dapat menjadi suri tauladan bagi umat manusia bahwa memperjuangkan Islam mencapai membutuhkan pengorbanan dan berton-ton cucuran keringat.

 Keberanian beliau untuk menyatakan kebenaran sebagai sikap kepahlawanan juga merupakan hal yang sulit ditiru oleh orang lain. [] 

Al-Quran Sebagai Penawar Epilepsi


Saya ingin mengenang kembali ketika beberapa tahun yang lalu diberikan kesempatan untuk mengajarkan Al-Quran di salah satu pesantren di puncak Bogor. 


Tempat ini sangat spesial karena saya dipertemukan oleh Allah dengan orang-orang yang spesial. Bagaimana tidak, mereka yang berasal dari keluarga berkekurangan bahkan sebagian mengalami sakit yang sepertinya tidak mungkin bisa menghafal Al-Quran. 

Mengingat mereka dan semangat mereka menghafal Al-Quran selalu menjadi pelecut agar diri ini lebih semangat lagi menjaga hafalan Al-Quran, dan sengaja saya tuliskan kembali agar pembaca yang mungkin juga sedang menghafal Al-Quran juga bisa tergugah untuk berjuang menyelesaikan dan menjaga hafalan Al-Qurannya. 

Saya tidak akan pernah lupa dengan dia, seorang anak laki laki yang tegar menghadapi hidup, mau menghafal Al-Quran meskipun dia sedang sakit epilepsi. 

Ya, dia sedang sakit epilepsi, kita pasti heran dan terkagum, menghafal itu menggunakan otak, lalu bagaimana bisa menghafal jika otak kita terganggu, apalagi epilepsi dimana otak mengalami gangguan karena pelepasan muatan listrik yang tidak terkontrol. 

Duhai, besarnya nikmat Allah baru akan terasa ketika nikmat itu telah tiada. Seperti santri saya ini, saya tidak menyangka bahwa dibalik sifat pendiam dan senyumnya, dia sudah dari SD menderita epilepsi. 

Penyakit ini dia derita karena perlakuan kurang baik yang dulu pernah diterima dari ibu tirinya, sampai akhirnya bapak dan ibu tirinya sadar akan kesalahan mereka, kemudian mereka masukkan santri saya ini di pesantren untuk belajar agama dan menyembuhkan penyakitnya. 

Ketika penyakit epilepsinya kambuh, dia harus minum obat anti kejang setiap hari seperti fenobarbital atau diazepam, masalah akan timbul ketika obatnya habis, kadang dalam semalam dia bisa kejang (santri menyebutnya kumat) sampai tiga kali dalam semalam dan dengan tidak sadar menjedotkan kepalanya berkali-kali ke lantai sampai kepalanya bentol-bentol, pernah dalam sehari dia kumat sampai delapan kali dan bikin saya sampai menangis ketika itu lantaran ingat dengan perjuangan anak ini untuk menghafal Al-Quran.

Epilepsi adalah sekelompok gangguan neurologis yang terjadi dalam jangka waktu yang panjang dan ditandai dengan adanya serangan-serangan epileptik. 

Epilepsi sangat mempengaruhi perkembangan otak anak, karena otak yang berkembang sangat rentan terhadap perubahan dari luar dan dari dalam tubuh. 

Umumnya anak epilepsi akan terganggu fungsi kognitifnya, yaitu kemampuan belajar, menerima informasi dan mengelola informasi dari lingkungan. Juga kesulitan dalam memusatkan perhatian dan dan mengingat. 

Maka yang saya cobakan kepada santri saya ini, sesuai arahan yang saya baca di artikel artikel tentang epilepsi yaitu dengan menstimulasi fungsi kognitifnya melalui latihan fisik seperti jalan pagi menglilingi vila dan latihan otak dengan menghafal Al-Quran. 

Secara intens saya temani mereka menghafal Al-Quran. Saya gunakan metode Sabak, Sabki dan Manzil untuk mengontrol hafalan santri. 

Sebelum subuh, jam 3 pagi kami sudah membangunkan santri untuk menyiapkan hafalan yang akan disetorkan nanti habis subuh (Hafalan Baru/Sabak). 

Habis subuh kami team asatidz menerima setoran hafalan dari santri sampai jam tujuh pagi. Kemudian jam sepuluh kami berkumpul lagi di masjid untuk mengulang hafalan yang sudah disetorkan kemarin dan diseotorkan tadi pagi (Hafalan kemarin +hari ini/ Sabki) 

Siang hari mereka tidur siang, dan habis ashar kami berkumpul lagi di masjid, disini semua santri saling mengulang hafalan satu juz yang pernah mereka hafalkan, istilahnya Manzil. 

Dan pada malam hari setelah shalat Isya, santri berkumpul lagi di masjid sampai jam sembilan untuk menyiapkan hafalan mereka besok. 

Maka kurang lebih empat kali pertemuan untuk menghafal Al-Quran, dengan pertemuan yang intens ini, santri selalu dikondisikan untuk dekat dengan Al-Quran. 

Saya sering menyampaikan kepada santri yang sedang sakit epilepsi untuk menanamkan keyakinan bahwa penyakitnya akan sembuh dengan Al-Quran. Allah Swt menyatakan bahwa di dalam Al-Quran terdapat obat penawar bagi orang-orang yang beriman. Bukan saja untuk mengatasi penyakit ruhani, akan tetapi juga untuk mengobati penyakit jasmani. Obat itu begitu dekat dengan kita. Kesembuhan dengan Al-Quran bukan hanya teori, dan saya akan membuktikannya. 

Untuk memberi motivasi kepadanya, sering saya bacakan hadits dari Rasulullah Saw yang menceritakan seorang wanita yang datang kepada Rasulullah SAW. Wanita itu meminta didoakan Rasulullah agar bisa sembuh dari penyakit epilepsi yang dideritanya.

Sebenarnya, bisa saja Rasulullah mendoakan wanita itu dan tentu sudah pasti dikabulkan Allah SWT. Tapi, Rasulullah memberikannya sebuah tawaran. “Jika engkau mau, engkau bisa bersabar dan bagimu surga. Tapi, jika engkau mau sehat, aku akan mendoakanmu agar Allah menyembuhkanmu,” sabda Rasulullah.

Ternyata, wanita itu memilih untuk bersabar. “Aku pilih bersabar. Tapi, doakanlah aku, ketika penyakit epilepsiku kambuh, jangan sampai auratku tersingkap,” tuturnya. Kemudian, Rasulullah pun mendoakannya. (HR Bukhari dan Muslim).

Hadits ini terus saya tanamkan padanya untuk menjadi motivasi bersabar dengan ujian Allah. 

 
Satu hal yang saya kagumi dari santri ini adalah semangat dan perjuangannya dalam menghafal Al-Quran, setiap apa yang disuruh oleh ustadz atau target hafalan yang diminta oleh ustadz selalu dia penuhi, bahkan sekalipun malamnya dia harus berjibaku melawan penyakitnya itu, pagi hari dia masih bisa mendatangi saya dan setoran hafalan hari itu kepada saya. 

Subhanallah…setiap ingat santri ini, semangat saya untuk menghafal atau mengulang hafalan Al-Quran pun juga selalu bertambah.

Alhamdulillah dengan Al-Quran, obat herbal dan cara cara penyembuhan epilepsi yang saya baca, berpengaruh kepada santri saya, di akhir kelas tiga SMP, dia sudah sembuh meskipun belum total dan akan meneruskan belajarnya di pesantren daerah Bogor kota. 

Saya hilang kontak dengan beberapa santri saya, termasuk yang pernah sakit epilepsi ini, saya hanya berdoa agar dia diistiqamahkan dalam menghafal Al-Quran. 

Semoga menjadi inspirasi dan semangat untuk menjaga dan menghafal Al-Quran. Terima kasih. 
 

Super Intelligent Software, Inti Cinta Dalam Diri Manusia


Manusia memiliki medan magnet, medan magnet artinya daerah sekitar yang masih dipengaruhi oleh magnet. Seseorang akan memancarkan medan magnet kepada sekitarnya, sehingga orang disekitarnya akan merasakan gekombang elektro magnet dari orang tersebut. 

Sebagai contoh, Orang yang bahagia akan memancarkan gelombang kebahagiaan kepada orang yang disekitarnya, sebaliknya orang yang sedih akan memancarkan gelombang kesedihan kepada orang disekitarnya pula. 

Dalam Medan magnet manusia terdapat inti cinta yang disebut Super Intelligent Software (SIS), inti inilah yang menjadikan seorang ibu mencintai anaknya, lelaki perempuan menyayangi pasangannya. 

Ada energi kuantum yang harus diberikan kepada setiap sel dalam tubuh. Setiap pertemuan protein laki – laki dan protein wanita akan dimasuki super intelligent software.
Jika manusia meninggal dan perangkat keras seorang manusia berhenti berfungsi, tidak ada reaksi neuron dan proton, akibatnya tidak ada lagi Medan Magnet dan Super Intelligent Sofware (SIS) pun hilang.

Lalu kemanakah Super Intelligent Software itu? Prof. BJ. Habibie berkeyakinan bahwa Super Intelligent Software itu mencari Medan Magnet yang compatible dengan Super Intelligent Software kita dan Medan Magnet yang compatibel ada dua yaitu:

1. Magnet ibunya

2. Medan Magnet disebabkan Cinta Ilahi, cinta yang manuggal sepanjang masa.

Mungkin karena itulah kenapa jika ibu atau pasangan yang kita cintai hilang dari kehidupan, kita akan tetap  merasakan kehadirannya. 
Bahkan terkadang seseorang bisa ‘kemasukan’ sifat dari pasangannya. 

Saya ambil contoh dari pak Habibie, beliau pernah bercerita kalau dia orangnya urakan, tidak suka tepat waktu dan tidak disiplin. Setelah istrinya meninggal, seakan akan ada perubahan, beliau menjadi lebih disiplin dan tepat waktu, seakan akan jiwa Ainun masuk dalam dirinya. 

*Sumber: Ceramah Prof Habibie di Haul Ainun yang kelima. 

Menghafal Al-Quran Di Atas Motor


“Hidup dalam naungan Al-Qur’an adalah nikmat. Nikmat yang hanya diketahui oleh siapa yang telah merasakannya. Nikmat yang akan menambah usia, memberkahi dan menyucikannya.” (Asy-Syahid Sayyid Quthb).

Nikmatnya hanya akan diketahui oleh yang pernah merasakanya….., so yg gak pernah merasakan maka ia tak akan tahu bagaimana nikmatnya sesuatu itu. 

Membaca Al-Quran adalah kunci dari kesuksesan umat Islam terdahulu. Makanya, Imam Syahid Hasan Al-Banna mengatakan, “Usahakan agar Anda memiliki wirid harian yang diambil dari kitabullah minimal satu juz per hari dan berusahalah agar jangan mengkhatamkan Al-Qur’an lebih dari sebulan dan jangan kurang dari tiga hari”. 

Dari Ibnu Abbas r.a., beliau mengatakan ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah saw. “Wahai Rasulullah, amalan apakah yang paling dicintai Allah?” Beliau menjawab, “Al-hal wal murtahal.” Orang ini bertanya lagi, “Apa itu al-hal wal murtahal, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Yaitu yang membaca Al-Qur’an dari awal hingga akhir. Setiap kali selesai ia mengulanginya lagi dari awal.” (HR. Tirmidzi).

Kegiatan membaca ayat suci Al-Qur’an memang harus menjadi rutinitas setiap hari. Membaca Al-Qur’an selain membuat hati menjadi tenang juga memiliki faedah yang luar biasa. Selain membaca Al-Qur’an, Tasmi (menyimak bacaan Al-qur’an), sekedar mendengarkan orang lain membacanya juga memperoleh pahala. Menghapal ayat-ayat Al-Qur’an mesti kita lakukan.

Hal-hal unik ketika menghapal Ayat-ayat Al-Qur’an setiap orang berbeda-beda. Ketika menghafal Al-Quran saya lebih suka mendengarkan bacaan Al-Quran berkali kali sebelum akhirnya menghafal. 

Maka kemana saja pergi dan jika memungkinkan, saya biasakan mendengarkan Al-Quran termasuk di atas kendaraan dalam perjalanan. Menurut saya lebih asyik, soalnya kita bisa sambil “Clinga-Clingu” melihat keindahan alam sekitar jalan raya dan tetap fokus dalam berkendara sembari mengucapkan ayat-ayat Al-Qur’an yang kita hapal.

Beberapa hari ini saya sedang mengulang surat Ibrahim dan An-Nahl. Menurut saya baik sekali menghafalnya di atas kendaraan. Daripada membawa kendaraan bengong, mikirin yang“enggak-enggak”, pikiran kosong, bosen melanda, hmm lebih baik alternatif yang tepat yaitu sambil “Menghafal ayat-ayat suci Al-Qur’an”. 

Semoga dengan dekatnya kita terutama para pemuda dengan Al-Quran akan membangkitkan kembali kejayaan Islam yang sudah lama hilang.[] 

Imamah Dalam Syiah


​Imamah merupakan bahasa Arab yang berakar dari kata imam. Kata imam sendiri berasal dari kata “amma” yang berarti “menjadi ikutan”. Kata imam berarti “pemimpin atau contoh yang harus diikuti, atau yang mendahului”. Orang yang menjadi pemimpin harus selalu di depan untuk diteladani sebagai contoh dan ikutan. Kedudukan imam sama dengan penanggung jawab urusan umat.

Kata imam yang berarti pemimpin, bisa digunakan untuk beberapa maksud, yaitu pemimpin dalam arti negatif yang mengajak manusia kepada perbuatan maksiat, pemimpin dalam arti luas dan bersifat umum, dan pemimpin yang bersifat khusus yakni pemimpin spiritual.

Kata imam yang berarti pemimpin dalam arti luas dan bersifat umum bisa digunakan untuk sebutan pemimpin pemerintahan atau pemimpin politik (sekuler), dan bisa pula untuk pemimpin agama. Sedangkan dalam arti pemimpin yang bersifat khusus, yakni sebagai pemimpin spiritual, bisa saja berimplikasi politik karena dipengaruhi oleh tuntutan keadaan. Karena, pada kenyataannya, upaya melaksanakan ajaran agama dalam kehidupan bermasyarakat dalam ajaran Islam, tidak hanya menyangkut pribadi tapi juga kehidupan kolektif, sebab itu, urusan seorang imam bisa berdimensi politis.

Nabi Muhammad SAW misalnya, pada awalnya lebih berfungsi sebagai nabi dan rasul dalam makna sempit, yakni pemimpin spiritual yang menerima wahyu untuk disampaikan kepada umat manusia. Kemudian, dalam perkembangan berikutnya, pada periode Madinah, kedudukan beliau mulai bersifat politis, sebab beliau juga melaksanakan tugas politik dan pemerintahan sebagai pemimpin atau kepala negara bagi masyarakat Madinah.

Secara istilah, imam adalah seorang yang memegang jabatan umum dalam urusan agama dan juga urusan dunia sekaligus. Dengan demikian Islam tidak mengenal pemisahan mutlak agama dan negara, dunia dan akhirat, mesjid dan istana, atau ulama dan politikus. 

Inilah yang menjadikan Ahlus Sunnah, melarang memilih pemimpin selain Islam karena pemimpin mengatur kehidupan beragama dan mengatur segala urusan umat yang berhubungan dengan pranata-pranata sosial, politik, keamanan, ekonomi, budaya, dan seluruh kebutuhan interaksi umat lainya.

Hampir seluruh kelompok dan sekte Islam sepakat bahwa Imamah (kepemimpinan) merupakan kebutuhan kemanusiaan serta kewajiban agama, di mana tidak mungkin sebuah masyarakat di manapun saja mereka berada dapat menjalani kehidupan mereka dengan ideal kecuali di bawah naungan sebuah negara atau pemerintahan.

Dalam sebuah masyarakat pasti dibutuhkan rakyat yang dipimpin, tempat tinggal di mana mereka hidup, serta pemimpin yang akan memimpin dan mengatur seluruh urusan rakyatnya.

Meskipun mereka berselisih paham tentang kedudukan kepemimpinan tersebut, mayoritas kelompok Islam mengatakan bahwa pemerintahan merupakan kebutuhan manusia dan kewajiban agama yang masuk dalam kaidah: “Jika sebuah kewajiban tidak sempurna kecuali dengan terpenuhinya satu hal, maka hal tersebut hukumnya menjadi wajib”

Syiah memiliki sebuah keyakinan yang sudah mendarah daging bahwa Imamah atau kepemimpinan termasuk pokok dari pokok-pokok agama (ashlun min ushuluddin), tidak dianggap sempurna keimanan seseorang kecuali dengan meyakini adanya imamah, orang yang tidak mau mengimani dianggap kafir! 

Mereka meletakkan Imamah hanya pada Ali dan anak-anaknya dari keturunan Fatimah yang berjumlah sekitar 12 imam yang dimulai dari Ali bin Abi Thalib dan berakhir pada “Al-Mahdi Al-Muntadhar” yang mereka yakini sudah bersembunyi sejak 1100 tahun yang silam dan akan hidup sampai hari kiamat nanti…oleh sebab itu mereka dikenal dengan Syiah Imamiyyah atau Itsna Asariyah.

Berkenaan dengan keyakinan Syiah tentang Imamah sebagai pokok agama, mereka mengimani bahwa para imam itu ismah (terjaga dari dosa), mereka selalu ditolong Allah, dan mereka mengetahui perkara ghaib. Mereka sematkan sifat-sifat rububiyah yang hanya dipunyai Allah swt saja, meyakini bahwa Imamah itu seperti kenabian, bahkan lebih tinggi posisi dan derajatnya, sebagaimana disebutkan di kitab-kitab mereka.

Maka secara global bisa kita ketahui bahwa Imamah dalam Syiah itu diwariskan kepada anak-anak Ali ra, berpindah dari Imam kepada anakya yang paling besar. [] 

%d bloggers like this: