Hidup Itu Apa? 


Kita tahu bahwa semua akan ditutup dengan kematian.

Kematian akan membuka “lembaran2 hidup” di dunia untuk dibalas.

Perhatikan surat AlKahfi ayat 49

Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: 

“Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang juapun”.



Sekecil apapun akan tercatat.
Maka hidup itu laksana MENULIS LEMBARAN LEMBARAN BUKU..
Mari kita “tulis” dengan KEBAIKAN tanpa henti.

ICD –  Islamic Character Development

Tashrif Lughawi Dengan Quthrub


Pelajaran mondok yang sering dianggap susah oleh santri ada dua; Nahwu dan Shorof. Seperti Fisika dan Matematika dalam pelajaran eksakta. 

Nahwu banyak sekali kaidah kaidah yang harus dihafal dari yang paling dasar, seperti pengertian huruf, kalimat, madhi, mudhari, amr, fail, maful, khabar, mutaadi.

Banyak teman teman yang nyerah di kelas kalau ustadz Nahwu sedang mengajar, ditambah parah kalau cara ngajarnya tidak enak dan membosankan. Ugh.

Shorof juga demikian, kudu banyak hafalan, terutama tashrif lughawi dan istilahi. 

Tashrif Lughawi itu bentuk perubahan kalimat ke kalimat yang lain berdasarkan bentuk mufrad, mutsanna, jama’, mudzakkar, muannats, ghaib, ghaibah, mukhatab, mukhatabah. 

Tashrif Istilahi yaitu bentuk perubahan suatu kata dari fiil madhi sampai isim alat.

Dulu waktu masih belajar Shorof dan Nahwu, muncul dalam bayangan saya, bagaimana jika ada software untuk belajar tashrif, pasti akan membuat belajar semakin mudah. 

Ketika berkenalan dengan Quthrub, wah.. Ibarat menemukan harta berharga, senang sekali. Ini bisa bantu santri yang mau belajar tashrif lughawi. 

Maka saya selalu tulis updtae dari aplikasi ini, semoga bisa membantu mereka yang sedang dan ingin belajar bahasa Arab. 

Bahagia Tak Harus Kaya


​Bahagia menurut KBBI (kamus besar bahasa indonesia), keadaan atau perasaan senang dan tentram. Dari pengertian ini, bahagia tidak ada sangkut pautnya dengan harta melimpah ruah. Tapi urusannya dengan hati. Kalau hati kita merasa bahagia, saat itu juga kita bahagia. Tidak peduli punya uang atau tidak, yang penting bahagia.

Saya lahir di desa terpencil, di kaki Gunung Sumbing.  Namanya dusun Prampelan dan tahun 2009 berubah menjadi Desa Adipuro. 

Tidak ada lagi desa yang posisinya lebih tinggi. Maknanya, itulah desa paling dekat dengan puncak gunung Sumbing Kabupaten Magelang Jawa Tengah. 

Banyak hal yang berkesan saat melihat langsung kondisi masarakat. Secara umum masarakatnya santun dan berprasangka baik kepada orang yang ditemuinya meskipun baru pertama kali.

Saat menyempatkan jalan jalan, anda akan akan bertemu dengan penduduk setempat yang usianya cukup lanjut, bahkan banyak yang sudah tidak bergigi  karena faktor usia. 

Mereka masih terlihat sehat, trbukti masih kuat membawa hasil kebun untuk dijual ke pasar sekitar. Rumah tinggal mereka rata rata kecil dan sangat sederhana, mencerminkan masarakat tidak berduit. 

Meski sedikit duit, jangan ditanya soal bahagia. Memurutku mereka sangat bahagia. Hal itu terbukti dari kehidupannya yang damai, kesehatan yang terjaga  bahkan dari raut wajahnya  tidak mencerminkan kesedihan dan kecemasan sama sekali. 

Rahasia kebahagiaan mereka ternyata terletak pada kepandaian mereka menerima dan mensyukuri pemberian Allah meskipun pemberian itu hanya sedikit. 
Hikmah yang dapat kita ambil, bahwa bahagia itu tidak harus kaya.
 
Bahagia adalah kemampuan seseorang menerima pemberian Allah apa adanya. Bahagia itu nrima  ing pandum, demikian kata orang Jawa.

Ternyata bahagia dalam kontek nrima ing pandum  telah dijelaskan ulama besar Imam asy-Syafi’i rahimahullah. Beliau mengatakan, “Apabila Anda memiliki hati yang merasa puas dengan pemberian Allah, Anda adalah raja di dunia ini”. 

Hal yang senada, juga disabdakan baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا قَلَّ وَكَفَى خَيْرٌ مِمَّا كثُرَ وَأَلْهَى

“Sesungguhnya yang sedikit dan mecukupi lebih baik daripada yang banyak namun melalaikan.” [Lihat Shahih al-Jami’ no. 5653] .

Selain faktor kebahagiaan, nrima ing pandum juga bukti ketaqwaan seseorang. 

Berkenaan dengan hal tersebut Sahabat Aly Radhiyallahu anhu, ketika menjelaskan 4 indikasi taqwa,  salah satunya beliau mengatakan 
 القناعة بالقليل 

Al qona’atu bil qolil
Merasa  cukup atas pemberian Allah, meskipun sedikit, itulah taqwa. 

Saat bertemu dengan beberapa orang tua yang masih energik, baik dalam hal bekerja di ladang atau jamah shalat shubuh di masjid, sungguh pemandangan yang mengharukan. 

Silahkan simak foto foto berikut.. 

Hiraukan Stats-mu


Di buku terbaru Brili Agung ke 25 berjudul Penyihir Aksara, ada bab menarik yang dia kasih judul Ritual. Dan ada sub bahasan tentang Asah Tongkatmu dimana saja, kapan saja. 

 Saya belum dapat bukunya, baru FAQ yang dikirim di group WA Menulis Online. Maksud yang bisa saya tangkap, menulislah dimana saja dan kapan saja. 

Jika menulis di media blog, kadang merasa kurang semangat jika pembaca atau pengunjung blog (stats) sedikit, sampai gak enak makan, gak enak tidur. 😊😊😊

Saya pernah mengalaminya, sampai suatu saat saya membaca tulisan dari Luca Sartoni, yang rutin menulis diblognya setiap hari. 

Dia memberi saran agar menghiraukan stats dan teruslah menulis. Ketika dipraktekkan, benar sekali, mau dibaca atau tidak, gak masalah. Sekarang,bisa menulis saja sudah bikin bahagia. 

Selamat menulis dan hiraukan stats-mu 👍👍👍

Setu Babakan


Tempat ini tidak jauh dari kontrakan kecil saya. Hanya beberapa meter dari gang rumah, saya sudah bisa berada di depan pintu utama Setu Babakan. 

Dari pintu utama saya jalan menyusuri rumah warga dan sesekali melihat budaya betawi yang ada disana. 

Masuk kawasan setu babakan, ada penjaga karcis yang menjaga pintu masuk. Biaya masuk 2 ribu untuk motor, 5 ribu untuk mobil dan tanpa bayar untuk pejalan kaki. 

Setu Babakan ini semacam waduk buatan, di sekelilingnya banyak kuliner dan arena bermain. Contohnya, ada kapal kapalan kecil untuk yang mau naik perahu sampai ke tengah setu babakan. Kuliner khas Betawi seperti kerak telor tersedia di sepanjang jalan yang mengelilingi Setu Babakan. 

Kami dapat kesempatan berkunjung ke wisma budaya Setu Babakan. Di tempat itu sedang berlangsung latihan silat tradisional dari Betawi yaitu BEKSI yang kebanyakan diikuti anak lelaki walaupun ada 2 atau 3 anak perempuan. 

Di sisi yang lain, ada panggung kecil yang memamerkan tarian jaipong oleh anak anak kecil yang lincah dan cantik. 

Jalan jalan ke tempat wisata budaya seperti ini lebih bermanfaat daripada hanya jalan jalan ke pusat perbelanjaan, ada ilmu dan pengetahuan yang setidaknya bisa kita dapat. 

Tempat budaya seperti ini yang layak dijaga dan diramaikan. Mengenal budaya setempat dan menghidupkan mata pencaharian masyarakat sekitar. [] 

Selamat datang… 👍😊

Luas…

Jembatan menuju pulau buatan…

Silat Betawi Beksi

Latihan Beksi

Tari Jaipong

Desa Adipuro Sebagai Kawasan Wisata Islami


​Pariwisata  pada  umumnya  hanya  menyediakan  fasilitas  untuk  mencapai kesenangan.  Agama  Islam  memberikan  petunjuk  dengan  turunya  Al-Quran  dan ditunjuknya  Nabi  Muhhammad  SAW  sebagai    Rasulullah,  dimana  Al-Quran berperan  sebagai  firman  Allah  atau  perkataan  Allah  dan  Nabi  Muhammd  SAW sebagai  utusan  Allah  untuk  memberi  petunjuk  kepada  manusia.  

Wisata  Islami adalah  kegiatan  perjalanan  dengan  tujuan  rekreasi,  pengembangan  pribadi, atau  mempelajari  keunikan daya  tarik  wisata  yang  sesuai  peraturan agama  Islam. 

Pariwisata  berdasarkan  undang-undang  RI  No  10  Tahun  2009  merupakan berbagai  macam  kegiatan  wisata  dan  didukung  berbagai  fasilitas  serta  layanan yang  disediakan  oleh  masyarakat, pengusaha, pemerintah, dan  Pemerintah  Daerah. 

Pariwisata  secara  langsung  mempengaruhi    ekonomi,  sosial,  kebudayaan dan  religiusitas.  Islam  memandang  pariwisata  konvensional  hanya  memenuhi kebutuhan  kesenanghan  lahiriyah  sehingga  wisatawan  cenderung  konsumtif.

 Adapun wisata  Islami  dapat  membentuk  sebuah  peradaban  karena pelaku  secara  langsung  berinteraksi  satu  sama  lain.  Ketika  terjadi  interaksi  antar pelaku maka  terjadilah komunikasi  yang  terintegrasi. Komunikasi manusia  dengan alam  dapat  menjadi  integrasi  antara  makhluk  dan  penciptanya. Sedangkan  komunikasi  antara  manusia  dapat  menghasilkan  sosioreligius sehingga mencapai derajat manusia yang lebih tinggi.  

Bentuk bentuk Wisata Islami di Adipuro. 

Saya ingin menggambarkan bentuk wisata yang mungkin bisa diterapkan dan dikembangkan di desa Adipuro dengan basis kebudayaan yang sudah berjalan disana. 

  • Wisata Ayat Ayat Kauniyah. Menikmati kondisi alam dan merenungi ciptaan Allah SWT, alam desa yang masih pure dan sejuk, gunung Sumbing yang tinggi menjulang dan hamparan pepohonan terlihat luas adalah sarana yang pas untuk mendekatkan diri dengan kemahakuasaan Allah SWT. Menambah ketenangan jasmani dan rohani. 
  • Wisata Ayat Kauliyah. Belajar ilmu agama di pesantren atau masjid yang ada di Adipuro, atau berdikusi dengan tokoh agama disana. Menghafal Al-Quran di Adipuro, disana sudah berdiri beberapa pesantren yang fokus menghafal Al-Quran, diantaranya pesantren Luqman Al-Hakim dan TPA Nurussalam. 
  • Event Islami. Beberapa yag sudah rutin adalah lomba marawis, lomba TPA, muludan setiap bulan maulid nabi, saparang setiap setiap bulan shafar untuk mensyukuri nikmat Allah dan tujuj belasan di lapangan Adipuro. 
  • Event Ramadhan. Tadarusan, Tarawih berjamaah, Kuliah Subuh dan mendaki Sumbing di tanggal 21 Ramadhan, takbir keliling. 
  • Spot Wisata di Adipuro. Pihak desa sudah mengembangkan beberapa spot disana, seperti Gardu Pandang di Munthuk. Objek lainnya adalah jalur pendakian Sumbing. Spot yang lain juga banyak seperti kali kanci, kali legok dan lainnya. 
  • Harapannya, agar dibuat aturan oleh pihak desa yang mengatur sopan santun ketika masuk desa dan atau ke tempat wisata, di antaranya di larang mabuk, pacaran dan untuk perempuan agar memakai jilbab. 

Sekian tulisan dari saya untuk sekedar menambah apa yang sudah ditulis kemarin. Semoga bermanfaat, bagi teman yang seddsa dengan saya… Mari jadikan desa kita baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur berkah dan diridhai Allah, semua bisa, dimulai dari diri pribadi kita. 

Gagal Kajian di INSISTS 


Waktu dulu nyantri di Alislam Bekasi, cukup banyak saya bergaul dengan pemikiran pemikiran islam dan liberal dalam masalah tafsir khususnya. Waktu itu semua mahasiswa harus ambil jurusan yang akan jadi fokus kuliahnya. 

Dan saya mengambil tafsir, waktu itu sedang heboh isu hermeneutika dan tafsir liberal di beberapa kampus islam, saya terusik untuk lebih mendalami bagaimanakah metode tafsir yang benar? Selain itu, mengambil jurusan tafsir juga untuk membantu saya lebih mudah menghafal Al-Quran. 

Di akhir kuliah dan sebagai syarat kelulusan, mahasiswa harua membuat project paper dalam dua bahasa; Indonesia dan Arab. 

Dalam bahasa Indonesia saya membahas tentang fitnah khalqul quran pada masa Imam Ahmad dan dilakukan studi perbandingan dengan pelecehan Alquran yang dilakulan kaum Liberal. Pemikiran pemikiran liberal di Indonesia dan di Luar negeri saya bahas, dan diantara rujukan saya adalah tulisan para pakar di Insits.

Lalu di Bahasa Arab, saya meneliti metode tafsir yang dipakai oleh Ibnu Taimiyah yang tersebar dalam buku bukunya dan pandangan beliau tentang metode tafsir yang menyimpang seperti tafsir bathini oleh Syiah, tafsir Muktazilah dan lainnya. 

Nah, di kajian dwi mingguan yang diadakan INSISTS kali ini mengangkat tema menarik tentang tafsir kontemporer dan diampu pemateri yang bagus yaitu Dr. Mukhlis Hanafi saya ingin ilmunya bisa menambah pengetahuan yang saya dapat dulu. 

Namun sayang, saya gagal mencari alamat INSISTS, mencari dengan bantuan Google Map hanya membuat bingung saja, ketika sudah dekat dengan Tempatnya seperti yang ada di GMap, ketika saya tanya orang disana, mereka memberikan keterangan yang tidak jelas, dan saya hanya mutar muter saja di jalan kalibata utara. 

Akhirnya karena sudah jam 11 lebih, saya pulang dan jika ada kesempatan kajian lagi akan saya coba never give up. 👍👍👍

Event INSISTS ini baru yang pertama akan saya ikuti, jadi maklum ya kalau sampai kesasar dan tidak ketemu tempatnya. Event sebelmnya yang pernah saya ikuti adalah Seri Islamic Science bersama Prof Lettink di UI Depok yang dilaksanakan selama dua hari berturut turut. 

Alhamdulillah wa Syukrulillah… Semoga amalan dan niat hari ini diterima Allah SWT, amiin… 

%d bloggers like this: