Tasawuf Modern Hamka


Buya Hamka

Hamka adalah akronim kepada nama besar Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah. Dia adalah ulama, aktivis politik dan penulis Indonesia yang terkenal.

Beliau lahir di kampong Molek, Maninjau, Sumatera Barat, pada 17 Februari 1908. Ayahnya adalah Syekh Abdul Karim bin Amrullah, seorang pelopor gerakan pembaharuan di Minangkabau, sekembalinya dari Makah 1906.

Dilihat dari nasab keturunannya, Hamka adalah keturunan tokoh ulama Minangkabau. Kakek Hamka sendiri, Syekh Muhammad Amrullah adalah penganut tarekat mu’tabarah Naqsyabandiyah yang sangat disegani dan dihormati, bahkan dipercaya memiliki kekeramatan dan disebut-sebut sebagai wali.

Syaikh Muhammad Amrullah mengikuti jejak ayahnya Tuanku Syekh Pariaman dan saudaranya Tuanku Syekh Gubug Katur. Ia pernah berguru di Makah dengan Sayyid Zaini, Syaikh Muhammad Hasbullah, bahkan ikut belajar kepada mereka yang lebih muda seperti Syekh Ahmad Khatib dan Syekh Taher Jalaludin.

Akan tetapi ayah Hamka, Syaikh Abdul Karim Amrullah yang biasa dipanggil dengan sebutan Haji Rasul, memiliki pemahaman yang berbeda dengan pendahulunya. Meskipun sama-sama belajar di Makah, Haji Rasul terkenal sangat menolak praktek-praktek ibadah yang pernah dilakukan dan di dakwahkan ayah dan kakeknya. Ia terkenal sebagai tokoh pembaharu. Dalam kondisi dan situasi yang penuh dengan pertentangan antara kaum muda dan kaum tua itulah Hamka dilahirkan dan melihat sendiri sepak terjang yang dilakukan ayahnya.

Pada kenyataannya, Hamka sendiri banyak mengikuti cara berfikir ayahnya dalam memahami pokok-pokok agama Islam, meskipun berbeda dalam sisi pendekatan. Haji Rasul keras, sementar Hamka lebih santun.

Hamka mengawali masa pendidikannya di dalam pengawasan langsung sang ayah. Ia mulai mempelajari Al-Qur’an dari orang tuanya hingga usia enam tahun, yang ketika itu berpindah rumah dari Maninjau ke Padang Panjang di tahun 1948. Setahun kemudian di usia Hamka yang ke tujuh tahun sang ayah memasukkannya ke sekolah desa. Di sekolah desa itu ia hanya menjalaninya selama tiga tahun. Di sisi lain ia juga mendapatkan pendidikan di sekolah sekitarnya (sekolah-sekolah agama di Padang Panjang dan Parabek dekat Bukit Tinggi) kira-kira tiga tahun lamanya pula.

Para sejarawan mengenal Hamka dengan semangat otodidaknya yang gigih. Ia belajar sendiri tentang buku-buku yang menurutnya penting. Ilmu-ilmu seperti Filsafat, Sastra, Sejarah, Sosiologi dan Politik, baik yang datang dari Islam maupun Barat ditelaahnya dengan bermodal pendidikan yang pernah diterimanya.

Ketika Hamka berusia 16 tahun, pencarian ilmunya dilanjutkan dengan hijrah ke tanah Jawa pada tahun 1924. Di Jawa ia berinteraksi dengan beberapa tokoh Pergerakan Islam modern seperti H. Oemar Said, Tjokroaminoto, Ki Bagus Hadikusumo (ketua Muhammadiyah 1944-1952), R.M Soerejo, Pranoto (1871-1959), dan KH. Fakhrudin (ayah dari KH. Abdur Razzaq).

Definisi Tasawuf

Pengertian Tasawuf yang kita kenal selama ini adalah Tasawuf para sufi yang meninggalkan dunia bahkan membenci dunia. Sebagaimana yang dilakukan oleh para sufi pada abad ke dua dan ketiga yang benar-benar mensucikan diri dari keduniaan dan menyatukan diri dengan tuhan.

Menfanakan dirinya serta mengkekalkan zat tuhan sehingga banyak pemikiran dan amalan Tasawuf yang susah diterima oleh orang awam, lantaran dalamnya pemaknaan dan kecintaan kepada tuhan sehingga menghilangkan kecintaan terhadap dunia dan dirinya.

Tasawuf modern yang akan kita bahas adalah mengenai pemikiran Hamka tentang memaknai Tasawuf yang sebenarnya. Bertasawuf Hamka adalah peimplementasian zuhud dan pemurnian aqidah sesuai dengan Al-Quran dan Hadist.

Tasawuf yang dikemukakan Hamka bukanlah tasawuf sebagaimana yang difahami kebanyakan orang. Tasawuf yang dikembangkan Hamka adalah tasawuf yang memiliki basis pada koridor syari’at agama (Tasawwûf Masyru’).
Oleh sebab itulah, di dalam penilaian Hamka, tasawuf tidaklah memiliki sumber lain melainkan bersumber murni dari Islam. Dirinya sangat menekankan setiap individu untuk melakukan pelaksanaan tasawuf, agar tercapai budi pekerti yang baik sebagaimana Hamka mendefinisikan tasawuf seperti yang di uraikan oleh al-Junaid yaitu; “Keluar dari budi pekerti yang tercela, dan masuk kepada budi pekerti yang terpuji.”

Sebagaimna ilmu Tasawuf yang kita pahami selama ini, suatu ilmu yang mengkaji tentang cara mensucikan diri dari dosa dan dunia untuk mendekatkan diri kepada tuhan. Tasawuf lahir akibat gaya hidup orang semakin hedonis dan glamor yang semakin jauh dari tuhan. Dan gaya hidup yang penuh dengan kecintaan terhadap dunia dan kering akan rohaniah.

Untuk mendekatkan diri kepada Allah para ahli sufi memiliki cara dan metode masing masing seperti: mengawali dengan tobat dari dosa dengan tobat nasuha, lalu melepaskan kecintaan pada dunia atau (zuhud) dan latihan rohani yang lain yang pada puncaknya mencapai ma’rifat.

Dalam Tasawuf ini banyak hal yang tidak bisa dicerna dengan akal karena semua berhubungan dengan rasa cinta yang sangat tinggi pada tuhan. Tasawuf juga tidak mengikatkan diri pada aturan baku syari’ah. Oleh karena itu banyak ahli Fiqih yang kadang tidak paham dengan para sufi dan menganggap mereka musyrik dan sesat.

Pada Tasawuf Modern, Hamka memberikan perspektif baru dalam bertasawuf, menurut Hamka kebahagiaan itu adalah agama, dan agama itu adalah aqidah. Aqidah yang baik melahirkan akhlakul karimah. Hamka dalam bertasawuf tidak sama seperti sufi pada aliran Tasawuf yang lain. Tasawufnya Hamka tetap berpegang pada sumber pokok ajaran Islam yaitu Alquran dan Hadist, sebagaimana yang dijalankan dan di contohkan Rasulullah SAW.

Dalam bukunya “Prinsip dan Kebijaksanaan Dakwah Islam”, Hamka menjelaskan bahwa tasawuf adalah: “Shifa’ul Qalbi, artinya membersihkan hati, pembersihan budi pekerti dari perangai-perangai yang tercela, lalu memperhias diri dengan perangai yang terpuji.”
Dalam bukunya yang lain seperti Tasawuf Modern, Hamka menjelaskan pula bahwa, “Kita tegakkan maksud semula dari tasawuf yaitu membersihkan jiwa, mendidik dan mempertinggi derajat budi, menekan segala kelobaan dan kerakusan, memerangi sahwat yang terlebih dari keperluan untuk keperluan diri”.

Terdapat juga dalam buku “Tasawuf dari Abad ke Abad”, di mana Hamka menjelaskan definisi tasawuf sebagai, “Orang yang membersihkan jiwa dari pengaruh benda dan alam, supaya dia mudah menuju Allah.”

 

Tasawuf Modern lebih mememurnikan aqidah yang terlepas dari praktek bid’ah, syirik dan kurafat. Hamka juga tidak melakukan tingkatan-tingkatan rohaniyah yang dilakukan para sufi yang dahulu. Dan juga tidak pernah mengalami peristiwa mistik dan lainnya. Tasawuf menurut Hamka bisa menjadi positif dan negatif.

 

Tasawuf jadi negatif jika:

  • Dilaksanakan dalam kegiatan yang tidak digariskan Alquran dan Hadist. Contoh, mengharamkan diri terhadap hal yang dihalalkan Allah.
  • Dilaksanakan pada kegiatan yang berlandaskan pada pandangan “dunia harus dibenci”.

Tasawuf bisa positif jika :

  • Dijalankan berdasarkan tuntunan Alquran dan Hadist.
  • Dilaksanakan atas kepedulian yang tinggi. Mengangkat kembali roh tasawuf dengan zuhud. Zuhud yang dimaksud adalah gaya hidup yang tidak berorentasi pada dunia.

Ada 5 macam Tasawuf menurut Hamka:

  • Tasawuf = Zuhud
  • Tasawuf = Tarekat Sufi
  • Tasawuf = Kebatinan
  • Tasawuf = Penyucian Jiwa
  • Tasawuf = Ibadah Tingkat Tinggi (Ihsan)

Hamka merumuskan Tasawuf ke dalam 4 struktur Tasawuf yang didefinisikan sebagai berikut:

  • Konsep tentang tuhan dengan manusia – Hubungan tuhan dan manusia tetap sebagai khaliq dan makhluk. Oleh karena itu manusia harus melakukan peribadatan sesuai dengan tuntunan Alquran dan Hadist.
  • Jalan Tasawuf – Zuhud adalah sikap bertasawuf yang harus dikedepankan dalam melaksanakan peribadatan serta aqidah yang benar.
  • Penghayatan Tasawuf – Hamka menyimpulkan bahwa jalan Tasawuf itu adalah sikap zuhud yang benar dalam baribadah. Ibadah yang dilaksanakan dengan sungguh-sungguh mengantarkan orang pada pengalaman bertasawuf dalam wujud ketaqwaan
  • Refleksi Tasawuf – Tujuan akir dari bertasawuf menurut Hamka adalah tercapainya kepekaan sosial yang tinggi. Seorang sufi akan mencapai karomah dalam bentuk sosial releguis, yaitu dorongan untuk membantu orang dilandaskan pada ketaqwaan pada Allah

 

Demikianlah ulasan tentang ilmu Tasawuf Modern berdasarkan perspektif Hamka. Pemikiran ini dituliskan dalam bukunya dengan judul “ Tasawuf Modern”  yang menurut Hamka penting untuk dikenalkan kembali pada masyarakat saat ini, Agar tumbuh kepekaan sosial yang tinggi atas dasar kecintaan pada Allah.

Sumber:

  • Seminar Sehari tentang Buya Hamka di Insist
  • Artikel di internet

 

Jangan Mudah Menuduh Orang Lain Tidak Sesuai Sunah Nabi



Renungan sebuah peristiwa.

(( كَانَ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ يَؤُمُّهُمْ فِي مَسْجِدِ قُبَاءَ فَكَانَ كُلَّمَا افْتَتَحَ سُورَةً يَقْرَأُ لَهُمْ فِي الصَّلَاةِ فَقَرَأَ بِهَا افْتَتَحَ بِقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ حَتَّى يَفْرُغَ مِنْهَا ثُمَّ يَقْرَأُ بِسُورَةٍ أُخْرَى مَعَهَا وَكَانَ يَصْنَعُ ذَلِكَ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ فَكَلَّمَهُ أَصْحَابُهُ فَقَالُوا: إِنَّكَ تَقْرَأُ بِهَذِهِ السُّورَةِ ثُمَّ لَا تَرَى أَنَّهَا تُجْزِئُكَ حَتَّى تَقْرَأَ بِسُورَةٍ أُخْرَى فَإِمَّا أَنْ تَقْرَأَ بِهَا وَإِمَّا أَنْ تَدَعَهَا وَتَقْرَأَ بِسُورَةٍ أُخْرَى، قَالَ: مَا أَنَا بِتَارِكِهَا إِنْ أَحْبَبْتُمْ أَنْ أَؤُمَّكُمْ بِهَا فَعَلْتُ وَإِنْ كَرِهْتُمْ تَرَكْتُكُمْ وَكَانُوا يَرَوْنَهُ أَفْضَلَهُمْ وَكَرِهُوا أَنْ يَؤُمَّهُمْ غَيْرُهُ فَلَمَّا أَتَاهُمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبَرُوهُ الْخَبَرَ فَقَالَ: يَا فُلَانُ مَا يَمْنَعُكَ مِمَّا يَأْمُرُ بِهِ أَصْحَابُكَ وَمَا يَحْمِلُكَ أَنْ تَقْرَأَ هَذِهِ السُّورَةَ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أُحِبُّهَا، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ حُبَّهَا أَدْخَلَكَ الْجَنَّةَ. قَالَ أَبُو عِيسَى: هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ صَحِيحٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ مِنْ حَدِيثِ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ عَنْ ثَابِتٍ وَرَوَى مُبَارَكُ بْنُ فَضَالَةَ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَجُلاً قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أُحِبُّ هَذِهِ السُّورَةَ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ، فَقَالَ: إِنَّ حُبَّكَ إِيَّاهَا يُدْخِلُكَ الْجَنَّةَ ))

[الترمذي عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِك]

حديث عائشة ـ رضي الله عنها ـ في صحيح ابن حبان دون ذكر لفظ (صفة)، ولفظه: عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ رَجُلًا عَلَى سَرِيَّةٍ، فَكَانَ يَقْرَأُ لِأَصْحَابِهِ فِي صَلَاتِهِمْ {قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ} ، فَلَمَّا رَجَعُوا ذَكَرُوا ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: ” سَلُوهُ لِأَيِّ شَيْءٍ صَنَعَ هَذَا “؟ فَسَأَلُوهُ، فَقَالَ: أَنَا أُحِبُّ أَنْ أَقْرَأَهَا، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” أَخْبِرُوهُ أَنَّ اللَّهَ يُحِبُّهُ.

Terjamahan👆kejadian pada masa Nabi Muhammad SAW. 

Diriwayatkan dari Anas bin Malik ada seseorang dari kalangan Al Anshor menjadi imam di Masjid Quba.

Setiap kali menjadi imam bagi kalangan Al Anshar, selalu memulai baca surat al Ikhlas ( setelah Al Fatihah).

Setelah itu barulah membaca surat lainnya. Dan imam ini selalu mengerjakan hal tersebut setiap rakaat.

Maka para sahabatnya mengingatkannya dengan berkata,  “sesungguhnya engkau membaca surat Al Ikhlas lalu kamu  melihat bahwa surat Al Ikhlas menjadi pahala dilanjutkan dengan surat lainnya. 

Maka baca dengan surat Al Ikhlas atau kamu tinggalkan surat Al Ikhlas langsung kamu baca surat yang lainnya.

(ini permintaan para sahabatnya karena Nabi tidak mencontohkan shalat seperti ini).

Imam itu menjawab, “sekali kali aku tidak akan meninggalkannya, kalau kalian masih suka aku jadi imam maka aku jadi imam. Tetapi bila kalian tidak suka aku jadi imam, ya saya akan tinggalkan kalian, ( tidak lagi jadi imam). 

Sementara kawan kawan al Anshar melihat orang ini adalah yang terbaik diantara mereka, dan belum ada cocok selainnya untuk menjadi imam.

Disaat Nabi datang kepada mereka, merekapun melaporkan apa yang terjadi ( karena Nabi belum mencontohkan sholat seperti imam mereka). 

Lalu dipanggil imam tersebut dan ditanya Nabi, “Wahai Fulan!  Faktor apa yang menahan kamu untuk tidak menjalankan perintah permintaan kawan kawanmu ( meninggalkan bacaan surat Al Ikhlas setiap rakaat). 

Dan apa penyebab menjadikan kamu selalu membaca surat al Ikhlas setiap rakaat  ?”.

Orang ini menjawab pertanyaan Nabi, “Wahai Rasulullah sesungguhnya aku sangat mencintai surat Al Ikhlas.”
Lalu Nabi bersabda “Sesungguhnya cinta terhadap surat Al-Ikhlas penyebab kamu masuk sorga”. (HR At Tirmidzi). 

🌸🌸🌸

Riwayat yang lain kisah dari Aisyah, RA dari riwayat Ibn Hibban,

Rasulullah sallaAllahu alaihi wa salam, mengutus seseorang dalam peperangan. 

Dan ia setiap menjadi imam, dalam sholat sholat, yaitu  selalu membaca surat al Ikhlas. Saat kembali ke Madinah mereka menceritakan kepada Nabi saw, lalu belliau berkata “tanyalah kalian kepada imam ini “.
Ia menjawab karena ia sangat mencintai surat al Ikhlas.

Lalu Nabi mengatakan “beritahukan kepadanya bahwa Allah mencintainya”.

💗💗💗🌸🌸🌸👆❤❤❤❤❤❤❤❤

Coba renungkan kasus diatas. Bila terjadi zaman sekarang pasti dianggap bidah dan tidak ikuti sunnah. 

Maka jangan mudah menuduh orang lain sesat hanya karena tidak dicontohkan Nabi  lalu menepuk dada “kami yang sesuai sunah Nabi”.

Padahal orang yang dianggap sesat ternyata mereka punya dalil, yang mengandung pemahaman berbeda. Bisa jadi justru lebih dicintai Allah!. 

Sudah saatnya menghormati perbedaan dalam soal furu’. Saling mencintai dan saling menghargai.
Jangan merasa paling benar dan paling suci atau paling sesuai dengan sunah Nabi. !!.

((أَنَّ رَجُلاً سَمِعَ رَجُلاً يَقْرَأُ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ يُرَدِّدُهَا فَلَمَّا أَصْبَحَ جَاءَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ وَكَأَنَّ الرَّجُلَ يَتَقَالُّهَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّهَا لَتَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ))

[البخاري عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ]

Riwayat lainnya : Hadist Riwayat Bukhori dari Abu Saad al Khudzri bahwa ada seorang mendengar selalu membaca surat Al Ikhlas diulang ulang.

 Maka pada keesokan paginya ia datangi Rasulullah saw dan menceritakan hal itu seakan akan mengatakan yang sama (mempraktekan apa yang ia dengar ). 

Rasulullah bersabda “Demi jiwaku yang didalam tanganNya sesungguhnya surat al Ikhlas sama dengan 1/3 Al Quran.” 

Mari hormati perbedaan pendapat. Jangan nuding nuding semua perbuatan bidah, sesat dan neraka! .

Selama ada dasar dalil maka jangan memaksakan pendapat diri sendiri terhadap orang lain. Intinya jangan merasa paling benar sendiri !!


Oleh: Islamic Character Development-ICD 

Sehari Bersama Buya Hamka


Buya Hamka, sosok ulama inspirartif dan menjadi rujukan ulama di Indonesia, Malaysia dan Singapura.

Buya Hamka dalam buku buknya selalu memberikan semangat pada generasi muda pada waktu itu untuk berjuang mengisi dan mempertahankan kemerdekaan, dengan memakai dasar yang kukuh dalam jiwa mereka.

Maka buku buku Buya Hamka tidak pernah lekang di makan zaman dan usia. Semangatnya terus membara dalam karya karyanya.

Senang sekali hari ini bisa ikut hadir di seminar sehari yang diadakan INSISTS Jakarta, dan membahas khusus semua perihal Buya Hamka.

Semoga, sehari bersama Buya Hamka, semakin mengenalkan saya pada pribadi hebat beliau.

Materi seminar bisa dilihat di flyer ini.

Insya Allah, ilmu yang saya resume di seminar ini akan saya share di blog sederhana ini. Terima kasih.

Alhamdulillah, seminar hari ini berjalan sukses. Saya mendapatkan beberapa bingkisan buku dari panitia yaitu buku Dari Lembah Cita Cita karya Buya Hamka dan buku karya Dr. Adian Husaini berjudul Mewujudkan Indonesia Adil dan Beradab.

Satu lagi bingkisan sertifikat dari INSISTS.

IMG_20170610_171446

Latah Hanya Ada Di Asia Tenggara


Saya ambil dari psycocollect.com, penggalan tulisan ketika membahas Budaya Latah di Media Sosial. 

Apa yang menjadi definisi latah memiliki banyak konotasi baik di dalam bidang kedokteran, psikologi, psikososial, psikoanalisis, sosial maupun antropologi, namun para ahli sepakat bahwa latah adalah: reaksi sensitif dalam merespon stimulus yang berasal dari luar diri. Apa yang menjadi perdebatan dan pertentangan para ahli adalah, bahwa latah hanya ditemukan di wilayah Asia Tenggara.

 Oleh karenanya studi mengenai latah menjadi menarik bagi sebagian besar ahli-ahli berbagai disiplin tersebut. Karena latah tidak didapatkan di semua wilayah maka ada asumsi-asumsi yang muncul bahwa latah dapat bersifat genetis maupun budaya.

Polemik apakah latah bersifat kolektif atau individual menjadi pertentangan oleh para ahli, sebagian percaya latah dapat dialami siapa saja di belahan dunia manapun tanpa melihat latar belakang budaya. 

Namun penelitian lain menemukan data latah hanya ditemukan di bagian asia tenggara, yang membentang dari semenanjung Malaysia (Kelantan dan Trengganu), orang-orang pedalaman Semai di dataran tinggi semenanjung Malaysia, Serawak, Singapura, Dayak Iban hingga membentang sampai ke wilayah Jawa (Abdul Kadir: 2009).

 Namun latah juga ditemukan di suku-suku pedalaman Amerika Selatan. Bahkan Gimlette (1912), Winzeller (1995), dan Kenny (1978) menelusuri secara genealogi peristiwa ini, hingga menyimpulkan bahwa latah adalah penyakit yang paling kuno karena hanya ditemukan pada masyarakat terbelakang, berkembang dan terjajah.

 Hasil dari penelitiannya adalah latah memiliki hubungan dekat dengan masa kolonial yaitu pertemuan pertama masyarakat di suatu daerah dengan pendatang, dimana perbedaan warna kulit, tubuh, tinggi badan dan bahasa menyebabkan masyarakat lokal terkejut (shock). 

Berbeda halnya dengan temuan Geertz (1968), umumnya latah di Jawa hanya ditemui pada masyarakat kelas bawah, dan tidak ditemui pada orang-orang keraton atau kalangan keluarga Belanda di Jawa (Geertz,1968: 96). 
Geertz mensinyalir bahwa latah di Jawa dibawa oleh perempuan yang bekerja sebagai pembantu di kalangan keluarga Belanda.

Adapun dari penelusuran para ahli mengenai latah sebagaimana yang diketengahkan oleh Geertz (1968:96), latah awalnya dianggap sebagai bentuk keterpanaan (startling), peniruan, dan sekaligus bentuk pengejekan (mimicry) kepada kaum kolonial yang berbeda secara fisik dengan pribumi. Namun kaum kolonial tersebut lebih superior dari pada kaum pribumi.

Melalui hal ini beberapa ahli mengemukakan pendapat bahwa latah memiliki hubungan dengan kondisi psikologis dan lingkungan sosial. Latah berhubungan dengan tingkat kematangan seseorang, umumnya seseorang yang menderita latah sebagai mana yang dilaporkan oleh Winzeller juga dipengaruhi dari lingkungan keluarga. 

Geertz menambahkan dari sisi lain latah berkaitan erat dengan faktor budaya, karena latah muncul sebagai bentuk penerimaan individu di ranah sosialnya. Latah merupakan solusi untuk dapat diterima di lingkungan sosial, sebagai ekspresi diri dari kekangan-kekangan sosial seperti; tabu, wacana seksual, kelas dan etnis.

***

Semoga bisa menambah ilmu untuk kita tentang pengertian latah yang sudah sangat membudaya hari ini. 

Sejarah Masuknya Islam Ke Bumi Sikerei Mentawai


Meskipun umat Islam terbesar di dunia ada di Indonesia, keberadaan umat Islam di atas Bumi Sikerei-Mentawai tergolong minoritas. Umat Islam di Mentawai hanya sekitar lima persen.

Sejarah masuknya Islam di Mentawai belum bisa dibuktikan secara tertulis atau peninggalan benda kuno. Namun beberapa sumber (tokoh Islam) menjelaskan, bahwa Islam masuk ke Mentawai sekitar tahun 1800 terletak di Pasar Puat Pulau Pagai Utara.

Namun menurut catatan Buya Masoed Abidin, seorang tokoh Muslim Sumatera Barat dalam bukunya, “Islam Dalam Pelukan Muhtadin Mentawai” menuliskan, Mentawai sudah didiami oleh orang-orang Islam (Melayu) duaratus tahun lebih dahulu (1792, di Tunggul, Selat Sikakap, Pagai) menurut John Crisp ).

Padahal Misionaris Kristen/Protestan baru mengenal Mentawai tahun 1901 di bawah Pendeta August Lett dan rekannya A. Kramer dari Jerman. 

Pastor Katolik baru menjejakkan kaki di kepulauan ini tahun 1954 di bawah Pastor Aurelio Cannizzaro. Menurut Buya Masoed, bedanya, Misionaris Kristen masuk dengan Pendeta dan Pastor, sedang Islam masuk melalui orang-orang penganut Islam itu.

Kemudian Islam berkembang di Pulau Sipora tahun 1930. Jejak ini dilacak berdasarkan pengakuan warga pribumi Mentawai sejak tahun 80 an sudah di Mentawai bersama keluarga menganut ajaran Islam. 

Dalam perkembangannya, Islam di Mentawai sudah mulai maju. Hal ini dibuktikan adanya beberapa organisasi Islam dan sekolah berbasis pendidikan Islam.

Aktivitas gerakan dakwah Islam di Mentawai pun mulai menyebar ke seluruh pelosok Bumi Sikerei. 
Meski Mentawai terdiri hanya empat kecamatan –Kec. Siberut Utara, Siberut Selatan, Sipora dan Kec. Pagai Utara Selatan– namun posisinya berjarak lebih kurang antara 90 hingga 120 mil laut dari pantai Padang. Tak ada hubungan transportasi langsung dari Pariaman (ibu kabupaten) ke gugusan kepulauan ini. 

Yang ada hanya hubungan kapal perintis atau kapal kayu (antar pulau) dari Muara (Padang) dan Bungus (Teluk Kabung) menuju keempat kecamatan ini. Itupun sampai sekarang (1996), belum ada hubungan rutin setiap hari. Baru terhitung dua atau tiga kali setiap minggunya.

Meski demikian, sarana transportasi ini sudah tergolong maju dibandingkan tiga dasawarsa yang lalu, dimana untuk mendatangi pulau-pulau tersebut hanya ada beberapa kali dalam sebulan. Sekolah, kantor pos, puskesmas, pasar dan kantor telephon sudah ada di sini. 

Listrik pun telah masuk meski hanya pada malam hari. Meski jalannya lebar-lebar, tidak ada kendaraan roda empat, kendaraan roda dua pun masih bisa dihitung dengan jari.

Sumber: Hidayatulloh.Com

 Di kecamatan Siberut, keadaan sudah lebih baik, masjid sudah dibangun dan pengajian anak anak dan ibu ibu sudah ramai. 

Jauh berbeda ketika kita masuk ke pedalaman yang memakan waktu sampai 6 jam di atas sampan kayu, kehidupan masih primitif dan pakaian layak pakai masih jarang.
Seperti laporan beberapa dai dari YMPM yang kami posting kemarin, 120 dai kehabisa logistik dan kurang dana untuk menyemarakkan dakwah di pedalalaman. 

Semoga degan kepedulian semua masyarakat Indonesia, saudara kita di pedalaman Mentawai bisa lebih baik lagi. 

Berikut ini beberapa foto Masyarakat di Pedalaman Mentawai. 

Perjuangan Da’i Pedalaman Mentawai di Bulan Ramadan


Umat Islam di bulan Ramadan ini banyak tergerak untuk mengeluarkan sedekah dan infaknya ke berbagai lembaga dan yayasan Islam, ini merupakan hal positif yang semoga mampu menambah pundi amal kita di akhirat nanti. 

Di bulan yang penuh rahmat, di bulan yang penuh amal shalih ini Nabi SAW menyedekahkan hartanya lebih banyak dari bulan lainnya bahkan diibaratkan seperti angin. 

Disini saya ingin menawarkan amal shalih dan amal jariah berupa bantuan umat Islam kepada saudara saudara kita yang sedang berdakwah di pedalaman Mentawai. 

Informasi yang kami terima 120 dai di pedalaman Mentawai kehabisan logistik dan membutuhkan dana untuk menyemarakkan dakwah di pedalaman. Silahkan membaca keterangan lengkapnya di bawah ini. 

Dengan berjalan kaki selama dua jam mendaki gunung untuk mendapatkan sinyal telpon, siang tadi Da’i Pedalaman YMPM yang ditempatkan di Pedalaman Siberut maupun di Sikabaluan menyampaikan kondisi yang sedang mereka hadapi.

Bahwa persediaan berbuka dan sahur mereka di hari ke 10 Ramadhan ini sudah mulai habis. Para Da’i pedalaman berharap agar kendala yang sedang mereka hadapi dengan habisnya ransum mereka untuk berbuka dan sahur dapat segera dibantu mengatasinya.

Disamping kendala ketersediaan Ransum berbuka dan sahur di pedalaman, para Da’i juga menyampaikan agar mereka bisa dibantu untuk pengadaan solar untuk menghidupkan genset.

Tanpa adanya genset suara azan, shalat berjama’ah, ceramah agama, shalat taraweh dan kegiatan keagamaan lainnya kurang semarak sehingga syiarnyapun kurang dirasakan oleh para Muallaf.

Mereka mengharapkan agar solar dapat segera dikirim supaya program keagaamaan di pedalaman Mentawai dapat berjalan dengan sebaik mungkin.

Selain Ransum untuk berbuka dan sahur, pengadaan solar, para Da’i juga berharap kalau bisa ada semacam hadiah ringan yang diberikan kepada para muallaf yang rajin beribadah, aktif dalam kegiatan Ramadhan, muallaf yang dapat menjawab pertanyaan dan lain sebagainya.

Harapan dari Da’i pedalaman ini menjadi tanggung jawab bagi kami sebagai Pengurus Yayasan muslim Peduli mentawai (YMPM) yang telah memberangkatkan sebanyak 120 orang da’i untuk disebar ke pedalaman-pealaman Mentawai baik di Siberut, Sipora, Sikabaluan dan daerah lainnya hingga ke daerah paling pelosok Mentawai.

Sebelum memberangkatkan 120 orang da’i pedalaman, Pengurus YMPM mengalami kendala dana yang sangat besar.

Donasi yang terkumpul untuk memberangkatkan Da’i pedalaman pada hari H keberangkatan Da’i Pedalaman hari Jum’at, 26 Mei 2017 waktu itu dana yang terkumpul hanya RP. 82.000.000,- (delapan puluh dua juta rupiah), sementara biaya yang diperlukan sebanyak Rp. 900.000.000,- (sembilan ratus juta rupiah).

Jujur kami katakan bahwa terasa berat beban dakwah yang sedang kami pikul untuk menjalankan misi dakwah di Mentawai Ramadhan 1438 H/2107 M ini.

Bahkan selama tujuh tahun berdakwah di Mentawai inilah beban dakwah yang paling berat terasa oleh kami sebagai Pengurus Yayasan Muslim Peduli mentawai (YMPM). 


Rasanya kami tidak kuat menjalankan program yang sangat berat ini. Namun kami tidak mungkin membatalkan program mulia ini atau mengurangi jumlah Da’i yang dikirim, sebab kami merasakan betul dengan hati nurani dan keimanan yang ada dalam diri kami bahwa ribuan Muallaf Mentawai sedang berharap untuk kami mengirimkan Da’i Ramadhan.


Bahkan banyak diantara ketua Muallaf Mentawai yang berderai air mata meminta kepada kami agar kami mengirimkan Da’i Ramadhan ke Perkampungan mereka seperti tahun-tahun sebelumnya.

Di saat beban berat menumpuk di kepala, bahkan fikiran terasa lelah memikirkannya kami tetap berjuang membangun keoptimisan, kami tidak boleh lemah semangat, kami harus berani dan kuat menjalankan perjuangan dakwah ini.

Sebab untuk masuk ke syorga Allah swt tidak mudah untuk mendapatkannya perlu perjuangan dan pengorbanan yang besar.

Akhirnya sampailah kami pada kesimpulan bahwa bagi YMPM kendala dana yang dihadapi jangan sampai dakwah untuk membina muallaf, menghidupkan semarak Ramadhan, syiar Islam dan kegiatan keagamaan menjadi terhalang. Untuk itu program dakwah harus tetap jalan mana tau ini adalah perjuangan akhir dalam kehidupan kita. Allahu A’lam bis showab.

Karena dana yang terkumpul baru Rp. 82.000.000,- kami harus memberanikan diri untuk mencarikan jalan keluar dari semua ini. Akhirnya sesaat sebelum kami memberangkatkan 120 orang Da’i kepedalaman mentawai kami mendapatkan uang pinjaman RP. 100.000.000,- (seratus juta rupiah).

Total uang semuanya Rp. 182.000.000,- (seratus delapan puluh dua juta rupiah), Uang Rp. 182.000.000,- ini kami berikan kepada masing-masing koordinator Da’i di masing-masing Pulau. Ustad Abu Dzay di Siberut, Ustadz Hamzah di Sipora, Ustadz Zaid di Sikabaluan.

Ustadz di masing-masing pulau memberikan uang kepada masing-masing Da’i untuk biaya hidup mereka khususnya untuk sahur dan berbuka di pedalaman Mentawai. 
Untuk uang awal masing-masing Da’i dibekali Rp. 1.000.000,- (satu juta rupiah) / Da’i. Dan bagi Da’i-Da’i yang dikirim ke daerah yang sangat jauh seperti di Pantai barat Sikabaluan masing-masing Da’i dibekali Rp. 1.500.000,- (satu juta lima ratis ribu rupiah).

Sisanya dipergunakan untuk biaya transportasi Padang Mentawai dan Mentawai ke Pedalaman, serta untuk konsumsi Da’i.

Uang Rp. 1.000.000,- s/d 1.500.000,- / Da’i jauh dari cukup. Mestinya Pengurus YMPM memberikan uang minimal Rp. 2.000.000,- s/d 3.000.000 /Da’i untuk biaya 15 hari di pedalaman. Namun karena terkendala biaya pengurus YMPM hanya mampu memberikan uang awal Rp. 1.000.000,- s/d 1.500.000,- / Da’i.

Setelah berada selama 10 hari di Pedalaman Mentawai dalam rangka membina Muallaf, Menghidupkan semarak Ramadhan, Mendakwahkan agama Allah dan mensyiarkan Islam bekal awal yang diberikan kepada masing-masing Da’i sepuluh hari silam sesaat sebelum mereka akan berlayar ke Pedalaman Mentawai tentu telah habis, apalagi biaya hidup di Mentawai jauh lebih mahal ketimbang biaya hidup di tempat kita.

Pengurus YMPM bermaksud insya Allah akan memberikan bekal untuk biaya hidup tahap dua kepada 120 orang Da’i.

Semakin cepat muhsinin tergerak hati untuk membantu perjuangan dakwah Mentawai ini, insya Allah semakin cepat pula bisa kita berikan uang buat pejuang dakwah kita para hafid qur’an yang sedang berjuang di pedalam Mentawai.

Hingga sekarang dana yang terkumpul oleh Pengurus YMPM Rp. 200.000.000,- (Dua ratus juta rupiah).
Untuk kesuksesan program pengiriman Da’i Pedalaman kita masih kekurangan dana Rp. 700.000.000,- (tujuh ratus juta rupiah).
Biaya yang sangat banyak ini baru untuk program pengiriman Da’i Pedalaman. 

Belum masuk program melanjutkan pembangunan 4 masjid yang sedang di bangun YMPM, Sekolah Islam, Pusat Pembinaan Muallaf, Biaya Pendidikan Muallaf, Santunan anaknyatim, paket lebaran muallaf dan lain sebagainya.

Karena sangat besar dan sangat berat tanggung jawab perjuangan dakwah Mentawai yang sedang di pikul oleh Pengurus YMPM, maka pengurus YMPM terus mengajak muhsinin untuk senantiasa membantu syiar dakwah yang penuh berkah ini.

Semoga Allah swt memberikan keberkahan Ramadhan kepada kita semua, Allah swt menghapuskan seluruh dosa-dosa kita, dan menjadikan kita hamba-hamba-NYA yang bertakwa kepada-NYA. Amin…

Perjuang membela agama Allah swt penuh dengan perjuangan dan pengorbanan. Mari kita gapai rahmat Allah swt dengan saling berbagi bersama para Muallaf.

Hari ini Muallaf membutuhkan kita, yakinlah di padang mahsar nanti kita yang membutuhkan para Muallaf.
Semoga melalui harta kita iman dan Islam muallaf semakin kuat. Amin.

Donasi Untuk Pengiriman Da”i Pedalaman. Yayasan Muslim Peduli Mentawai (YMPM) Ramadhan 1438 H/2017 M. 

Bank Nasional Indonesia Syariah.

Cab. Bukittinggi.

No. Rek. 0397762727
– Bank Syariah Mandiri. 

Cab. Payakumbuh.

No. Rek. 7083758238
Atas Nama : YAYASAN MUSLIM PEDULI MENTAWAI. 

Semoga zakat, infaq, shadaqahnya mendapatkan rahmat dari Allah SWT dan Allah swt memasukkan kita ke dalam syorga-NYA. Amin. 

Konfirmasi via SMS/ WA :

  • Ust. M. Shiddieq (Ketua YMPM). Hp. 085364296465
  • Umar Al Faruq (Ketua Penasehat YMPM). Hp. 082383600611
  • Ust Abu zaky (Waka. YMPM). Hp. 085374624550. 
  • Ust. Abu Daud Al Fatih (Sekretaris YMPM). Hp. 081319725515
  • Ust. Zaid Abu Khanza (Bendahara YMPM). Hp. 085263000379
  • Ust. Hamzah Abu Maryam (Datinfo YMPM). Hp. 082386321556. 

***

Saya sifatnya membantu menyebarkan informasi kegiatan dan perkembangan da’i di Mentawai dan kegiatan pengiriman da’i oleh Yayasan Muslim Peduli Mentawai, semoga banyak umat Islam yang tergerak membantu. 

Link sumber: tribun sumbar dan chat dengan pengurus YMPM. 

Fatwa Lengkap MUI Tentang Hukum dan Pedoman Bermuamalah Melalui Media Sosial


Media Sosial saat bisa bisa melipat gandakan pahala kita, nyaris tanpa biaya dan lebih mudah. Berbagi kebaikan dan inspirasi di FB, Twitter, Instagram dan jejaring lainnya.  Semakin tersebar, semakin banyak pahala kita.

Ada pula yang memilih menjadikan sosial media sebagai sarana penabur keburukan: mencela, mengolok bahkan membunuh karakter orang lain.

Seberapa besarkah amal yang dimiliki seorang hamba hingga berani menyebarkan ketidakbenaran. Amal tak seberapa, semoga tak menguap sia sia.

Semakin banyak follower, semakin banyak yang terpengaruh, maka dosa pun semakin banyak dan menyebar. Ini namanya DOSA JARIYAH.

Rasulullah saw bersabda, “Dan barangsiapa mengajak kepada kesesatan, maka ia akan mendapat dosa seperti orang yang mengikutinya dengan tidak mengurangi sedikitpun dosa dosa mereka”. (HR. Muslim) 

Maka bijaklah dalam bersosial media, pun dalam keseharian. Berlindung kepada Allah swt dari menjadi agen fitnah dan hoax.
Alhamdulillah, MUI kemarin sudah menerbitkan fatwa no 24 tahun 2017 tentang Hukum dan Pedoman Bermuamalah Melalui Media Sosial.

Ketua Umum MUI, KH Ma’ruf Amin berharap fatwa ini bisa menjadi pedoman umat muslim dalam menggunakan media sosial. Ia berharap konten-konten yang meresahkan masyarakat tidak lagi ada di media sosial, sehingga kehidupan dapat berjalan dengan lebih baik.

“Sudah menjadi tanggung jawab bersama untuk menjaga dan merawat keutuhan dan kesatuan bangsa ini. Jadi kami membuat fatwa ini sebagai rekomendasi supaya ada tindak lanjut peraturan perundang-undangan dari pemerintah,” tutur Ma’ruf Amin.

Ma’ruf Amin juga mengatakan “Fatwa ini tidak untuk mematikan, tetapi mengatur serta mengendalikan. Kemudian meluruskan cara berpikir dan tutur kata di media sosial,”

Fenomena berita hoax, fitnah, ghibah dan bullying di media sosial, sambung Ma’ruf, efek sistem demokrasi yang kebablasan. Sehingga berbagai konten di media sosial tidak terkendali.

“Fatwa ini bertujuan untuk meluruskan, mengembalikan apa yang tidak terkendali di media sosial belakangan ini. Salah satunya karena kebebasan yang kebablasan,” kata Ma’ruf.

MUI dan Ma’ruf Amin berharap fatwa ini menjadi rujukan bagi pemerintah membuat aturan atau regulasi berperilaku di media sosial. Serta menjadi acuan bagi kepolisian untuk menegakkan aturan jika terjadi pelanggaran di media sosial.

Berikut ini fatwa lengkap MUI tentang hukum dan pedoman muamalah melalui media sosial:


MEMUTUSKAN

Menetapkan: FATWA TENTANG HUKUM DAN PEDOMAN BERMUAMALAH MELALUI MEDIA SOSIAL

Pertama: Ketentuan Umum:
Dalam Fatwa ini, yang dimaksud dengan:

  1. Bermuamalah adalah proses interaksi antarindividu atau kelompok yang terkait dengan hablun minannas (hubungan antarsesama manusia) meliputi pembuatan (produksi), penyebaran (distribusi), akses (konsumsi), serta penggunaan informasi dan komunikasi.
  2. Media sosial adalah media elektronik, yang digunakan untuk berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi dalam bentuk blog, jejaring sosial, forum, dunia virtual, dan bentuk lain.
  3. Informasi adalah keterangan, pernyataan, gagasan, dan tanda-tanda yang mengandung nilai, makna, dan pesan, baik data, fakta, maupun penjelasannya yang dapat dilihat, didengar, dan dibaca yang disajikan dalam berbagai kemasan dan format sesuai dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi secara elektronik ataupun nonelektronik.
  4. Gibah adalah penyampaian informasi faktual tentang seseorang atau kelompok yang tidak disukainya.
  5. Fitnah (buhtan) adalah informasi bohong tentang seseorang atau tanpa berdasarkan kebenaran yang disebarkan dengan maksud menjelekkan orang (seperti menodai nama baik, merugikan kehormatan orang).
  6. Namimah adalah adu domba antara satu dengan yang lain dengan menceritakan perbuatan orang lain yang berusaha menjelekkan yang lainnya kemudian berdampak pada saling membenci.
  7. Ranah publik adalah wilayah yang diketahui sebagai wilayah terbuka yang bersifat publik, termasuk dalam media sosial seperti Twitter, Facebook, grup media sosial, dan sejenisnya. Wadah grup diskusi di grup media sosial masuk kategori ranah publik.


Kedua: Ketentuan Hukum

Kedua: Ketentuan Hukum

  1. Dalam bermuamalah dengan sesama, baik di dalam kehidupan riil maupun media sosial, setiap muslim wajib mendasarkan pada keimanan dan ketakwaan, kebajikan (mu’asyarah bil ma’ruf), persaudaraan (ukhuwah), saling wasiat akan kebenaran (al-haqq), serta mengajak pada kebaikan (al-amr bi al-ma’ruf) dan mencegah kemungkaran (al-nahyu ‘an al-munkar).
  2. Setiap muslim yang bermuamalah melalui media sosial wajib memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
  • Senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan, tidak mendorong kekufuran dan kemaksiatan.
  • Mempererat ukhuwah (persaudaraan), baik ukhuwah Islamiyah (persaudaraan keislaman), ukhuwwah wathaniyyah (persaudaraan kebangsaan), maupun ukhuwwah insaniyyah (persaudaraan kemanusiaan).
  • Memperkokoh kerukunan, baik intern umat beragama, antarumat beragama, maupun antara umat beragama dengan pemerintah.

3. Setiap muslim yang bermuamalah melalui media sosial diharamkan untuk:

  • Melakukan gibah, fitnah, namimah, dan penyebaran permusuhan.
  • Melakukan bullying, ujaran kebencian, dan permusuhan atas dasar suku, agama, ras, atau antargolongan.
  • Menyebarkan hoax serta informasi bohong meskipun dengan tujuan baik, seperti info tentang kematian orang yang masih hidup.
  • Menyebarkan materi pornografi, kemaksiatan, dan segala hal yang terlarang secara syar’i.
  • Menyebarkan konten yang benar tetapi tidak sesuai tempat dan/atau waktunya.

4. Memproduksi, menyebarkan dan/atau membuat dapat diaksesnya konten/informasi yang tidak benar kepada masyarakat hukumnya haram.

5. Memproduksi, menyebarkan dan/atau membuat dapat diaksesnya konten/informasi tentang hoax, gibah, fitnah, namimah, aib, bullying, ujaran kebencian, dan hal-hal lain sejenis terkait pribadi kepada orang lain dan/atau khalayak hukumnya haram.

6. Mencari-cari informasi tentang aib, gosip, kejelekan orang lain atau kelompok hukumnya haram kecuali untuk kepentingan yang dibenarkan secara syar’i.

7. Memproduksi dan/atau menyebarkan konten/informasi yang bertujuan untuk membenarkan yang salah atau menyalahkan yang benar, membangun opini agar seolah-olah berhasil dan sukses, dan tujuan menyembunyikan kebenaran serta menipu khalayak hukumnya haram.

8. Menyebarkan konten yang bersifat pribadi ke khalayak, padahal konten tersebut diketahui tidak patut untuk disebarkan ke publik, seperti pose yang mempertontonkan aurat, hukumnya haram.

9. Aktifitas buzzer di media sosial yang menjadikan penyediaan informasi berisi hoax, gibah, fitnah, namimah, bullying, aib, gosip, dan hal-hal lain sejenis sebagai profesi untuk memperoleh keuntungan, baik ekonomi maupun nonekonomi, hukumnya haram. Demikian juga orang yang menyuruh, mendukung, membantu, memanfaatkan jasa dan orang yang memfasilitasinya.

Ketiga: Pedoman Bermuamalah
Ketiga: PEDOMAN BERMUAMALAH

A. PEDOMAN UMUM

  1. Media sosial dapat digunakan sebagai sarana untuk menjalin silaturahmi, menyebarkan informasi, dakwah, pendidikan, rekreasi, dan untuk kegiatan positif di bidang agama, politik, ekonomi, dan sosial serta budaya.
  2. Bermuamalah melalui media sosial harus dilakukan tanpa melanggar ketentuan agama dan ketentuan peraturan perundang-undangan.
  3. Hal yang harus diperhatikan dalam menyikapi konten/informasi di media sosial, antara lain:
  • Konten/informasi yang berasal dari media sosial memiliki kemungkinan benar dan salah.
  • Konten/informasi yang baik belum tentu benar.
  • Konten/informasi yang benar belum tentu bermanfaat.
  • Konten/informasi yang bermanfaat belum tentu cocok untuk disampaikan ke ranah publik.
  • Tidak semua konten/informasi yang benar itu boleh dan pantas disebar ke ranah publik.


B. PEDOMAN VERIFIKASI KONTEN/INFORMASI 

  1. Setiap orang yang memperoleh konten/informasi melalui media sosial (baik yang positif maupun negatif) tidak boleh langsung menyebarkannya sebelum diverifikasi dan dilakukan proses tabayun serta dipastikan kemanfaatannya.
  2. Proses tabayun terhadap konten/informasi bisa dilakukan dengan langkah sebagai berikut:
  •  Dipastikan aspek sumber informasi (sanad)-nya, yang meliputi kepribadian, reputasi, kelayakan, dan keterpercayaannya.
  • Dipastikan aspek kebenaran konten (matan)-nya, yang meliputi isi dan maksudnya.
  • Dipastikan konteks tempat dan waktu serta latar belakang saat informasi tersebut disampaikan.

3. Cara memastikan kebenaran informasi antara lain dengan langkah:

  • Bertanya kepada sumber informasi jika diketahui
  • Permintaan klarifikasi kepada pihak-pihak yang memiliki otoritas dan kompetensi.

4. Upaya tabayun dilakukan secara tertutup kepada pihak yang terkait, tidak dilakukan secara terbuka di ranah publik (seperti melalui grup media sosial), yang bisa menyebabkan konten/informasi yang belum jelas kebenarannya tersebut beredar luar ke publik.

5. Konten/informasi yang berisi pujian, sanjungan, dan/atau hal-hal positif tentang seseorang atau kelompok belum tentu benar, karenanya juga harus dilakukan tabayun.

C. PEDOMAN PEMBUATAN KONTEN/INFORMASI 

  1. Pembuatan konten/informasi yang akan disampaikan ke ranah publik harus berpedoman pada hal-hal sebagai berikut:
  •  Menggunakan kalimat, grafis, gambar, suara dan/atau yang simpel, mudah dipahami, tidak multitafsir, dan tidak menyakiti orang lain.
  • Konten/informasi harus benar, sudah terverifikasi kebenarannya dengan merujuk pada pedoman verifikasi informasi sebagaimana bagian A pedoman bermuamalah dalam fatwa ini.
  • Konten yang dibuat menyajikan informasi yang bermanfaat.
  • Konten/informasi yang dibuat menjadi sarana amar makruf nahi mungkar dalam pengertian yang luas.
  • Konten/informasi yang dibuat berdampak baik bagi penerima dalam mewujudkan kemaslahatan serta menghindarkan diri dari kemafsadatan.
  • Memilih diksi yang tidak provokatif serta tidak membangkitkan kebencian dan permusuhan.
  • Kontennya tidak berisi hoax, fitnah, gibah, namimah, bullying, gosip, ujaran kebencian, dan hal lain yang terlarang, baik secara agama maupun ketentuan peraturan perundang-undangan.
  • Kontennya tidak menyebabkan dorongan untuk berbuat hal-hal yang terlarang secara syar’i, seperti pornografi, visualisasi kekerasan yang terlarang, umpatan, dan provokasi.
  • Kontennya tidak berisi hal-hal pribadi yang tidak layak untuk disebarkan ke ranah publik.

2. Cara memastikan kemanfaatan konten/informasi antara lain dengan jalan sebagai berikut:

  • Bisa mendorong kepada kebaikan (al-birr) dan ketakwaan (al-taqwa).
  • Bisa mempererat persaudaraan (ukhuwah) dan cinta kasih (mahabbah).
  • Bisa menambah ilmu pengetahuan.
  • Bisa mendorong untuk melakukan ajaran Islam dengan menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
  • Tidak melahirkan kebencian (al-baghdla’) dan permusuhan (al-‘adawah).

3. Setiap muslim dilarang mencari-cari aib, kesalahan, dan atau hal yang tidak disukai oleh orang lain, baik individu maupun kelompok, kecuali untuk tujuan yang dibenarkan secara syar’i seperti untuk penegakan hukum atau mendamaikan orang yang bertikai (ishlah dzati al-bain).

4. Tidak boleh menjadikan penyediaan konten/informasi yang berisi tentang hoax, aib, ujaran kebencian, gosip, dan hal-hal lain sejenis terkait pribadi atau kelompok sebagai profesi untuk memperoleh keuntungan, baik ekonomi maupun nonekonomi, seperti profesi buzzer yang mencari keutungan dari kegiatan terlarang tersebut.
D. Pedoman Penyebaran Konten/Informasi 

D. PEDOMAN PENYEBARAN KONTEN/INFORMASI

  1. Konten/informasi yang akan disebarkan kepada khalayak umum harus memenuhi kriteria sebagai berikut:
  •  Konten/informasi tersebut benar, baik dari sisi isi, sumber, waktu dan tempat, latar belakang serta konteks informasi disampaikan.
  • Bermanfaat, baik bagi diri penyebar maupun bagi orang atau kelompok yang akan menerima informasi tersebut.
  • Bersifat umum, yaitu informasi tersebut cocok dan layak diketahui oleh masyarakat dari seluruh lapisan sesuai dengan keragaman orang/khalayak yang akan menjadi target sebaran informasi.
  • Tepat waktu dan tempat (muqtadlal hal), yaitu informasi yang akan disebar harus sesuai dengan waktu dan tempatnya karena informasi benar yang disampaikan pada waktu dan/atau tempat yang berbeda bisa memiliki perbedaan makna.
  • Tepat konteks, informasi yang terkait dengan konteks tertentu tidak boleh dilepaskan dari konteksnya, terlebih ditempatkan pada konteks yang berbeda yang memiliki kemungkinan pengertian yang berbeda.
  • Memiliki hak, orang tersebut memiliki hak untuk penyebaran, tidak melanggar hak seperti hak kekayaan intelektual dan tidak melanggar hak privasi.

2. Cara memastikan kebenaran dan kemanfaatan informasi merujuk pada ketentuan bagian B angka 3 dan bagian C angka 2 dalam Fatwa ini.

3. Tidak boleh menyebarkan informasi yang berisi hoax, gibah, fitnah, namimah, aib, ujaran kebencian, dan hal-hal lain sejenis yang tidak layak sebar kepada khalayak.

4. Tidak boleh menyebarkan informasi untuk menutupi kesalahan, membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar, membangun opini agar seolah-olah berhasil dan sukses, dan tujuan menyembunyikan kebenaran serta menipu khalayak.

5. Tidak boleh menyebarkan konten yang bersifat pribadi ke khalayak, padahal konten tersebut diketahui tidak patut untuk disebarkan ke ranah publik, seperti ciuman suami istri dan pose foto tanpa menutup aurat.

6. Setiap orang yang memperoleh informasi tentang aib, kesalahan, dan/atau hal yang tidak disukai oleh orang lain tidak boleh menyebarkannya kepada khalayak, meski dengan alasan tabayun.

7. Setiap orang yang mengetahui adanya penyebaran informasi tentang aib, kesalahan, dan atau hal yang tidak disukai oleh orang lain harus melakukan pencegahan.

8. Pencegahan sebagaimana dimaksud dalam angka 7 dengan cara mengingatkan penyebar secara tertutup, menghapus informasi, serta mengingkari tindakan yang tidak benar tersebut.

9. Orang yang bersalah telah menyebarkan informasi hoax, gibah, fitnah, namimah, aib, ujaran kebencian, dan hal-hal lain sejenis kepada khalayak, baik sengaja atau tidak tahu, harus bertobat dengan meminta maupun kepada Allah (istighfar) serta; (i) meminta maaf kepada pihak yang dirugikan (ii) menyesali perbuatannya; (iii) dan komitmen tidak akan mengulangi.

Keempat: Rekomendasi 

  1. Pemerintah dan DPR RI perlu merumuskan peraturan perundang-undangan untuk mencegah konten informasi yang bertentangan dengan norma agama, keadaban, kesusilaan, semangat persatuan dan nilai luhur kemanusiaan.
  2. Masyarakat dan pemangku kebijakan harus memastikan bahwa perkembangan teknologi informasi dan komunikasi didayagunakan untuk kepentingan kemaslahatan dan mencegah kemafsadatan.
  3. Pemerintah perlu meningkatkan upaya mengedukasi masyarakat untuk membangun literasi penggunaan media digital, khususnya media sosial dan membangun kesadaran serta tanggung jawab dalam mewujudkan masyarakat berperadaban (mutamaddin).
  4. Para ulama dan tokoh agama harus terus menyosialisasikan penggunaan media sosial secara bertanggung jawab dengan mendorong pemanfaatannya untuk kemaslahatan umat dan mencegah mafsadat yang ditimbulkan.
  5.  Masyarakat perlu terlibat secara lebih luas dalam memanfaatkan media sosial untuk kemaslahatan umum.
  6. Pemerintah perlu memberikan teladan untuk menyampaikan informasi yang benar, bermanfaat, dan jujur kepada masyarakat agar melahirkan kepercayaan dari publik.

Kelima: Ketentuan Penutup 

  1. Fatwa ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata dibutuhkan perbaikan, akan diperbaiki dan disempurnakan sebagaimana mestinya.
  2. Agar setiap muslim dan pihak-pihak yang memerlukan dapat mengetahuinya, mengimbau semua pihak untuk menyebarluaskan fatwa ini.

Ditetapkan di: Jakarta
Pada tanggal: 16 Sya’ban 1438 H
13 Mei 2017 

MAJELIS ULAMA INDONESIA
KOMISI FATWA

Klik link ini untuk mengunduh file Pdf Fatwa MUI tentang media sosial. 
Sumber: Situs MUI dan situs berita liputan6, detik dan moslemtoday. 

%d bloggers like this: