What is the difference between Religiosity and Religiousness?


Photo by Victor Lavaud on Pexels.com

Even after studying some literature I am still confused about the difference between religiosity and religiousness. Is it true that religiousness has something in common with spirituality? can anyone please comment?

John J Carr

I don’t think that there is any difference between the two words – either their denotation or their connotation.Religion can be an expression of spirituality – but spirituality is not necessarily expressed in “religious” ways.I understand religion to be ” a set of beliefs concerning the cause, nature, and purpose of the universe, especially when considered as the creation of a superhuman agency or agencies, usually involving devotional and ritual observances, and often containing a moral code governing the conduct of human affairs.” (Oxford)

Bernard Wills

Well ‘religiosity’ usually has a negative connotation…it implies an empty formal piety without inner inspiration

Ramazan Bicer

Religiousness is a healthy thinker, not in practice, but in faith. Accordingly, a religious person has a strong belief. Peoples are religiousness, but rulers are religiosity.Religiousness is individual, but religiosity is in the public sphere, social.

Jacinto Jesus Rodriguez Perez

In spanish, both words are translate by: “religiosidad” so, for me, is difficult to see any difference between them.

Bernadr Wills

Well in English there is a slight difference in connotation that may not exist in other languages…religiosity implies showy, ostentatious piety…like the Pharisee who wants everyone to see him praying…of course sometime ‘religiosity’ is used as a synonym for ‘religious’ by students for instance…they are straining for what they think is the more pretentious word….I usually cross it out when they do

Repy this discussion in ResearchGate

https://www.researchgate.net/post/What_is_the_difference_between_religiosity_and_religiousness

Kiat Menulis Tesis dari Umberto Eco


How to Write a Thesis terbit pada 1977 dalam bahasa Italia. Sejak itu, buku itu sudah dicetak ulang setidaknya 23 kali dan diterjemahkan ke 17 bahasa. Tapi baru pada tahun 2015 buku itu diterjemahkan oleh MIT Press, ke bahasa Inggris. Meskipun sudah hampir empat puluh tahun umurnya dan ditulis terutama untuk jurusan-jurusan bidang humaniora, ia masih relevan dibaca luas, dan tak hanya oleh mahasiswa. “A guide to thesis writing that is a guide to life,” begitu sebuah ulasan di New Yorker merangkumnya.

How to Write a Thesis tidak hanya sekadar panduan menulis yang mencerahkan: ia jahil juga jenaka. Eco, misalnya, berkata bahwa buku itu bukan buat mahasiswa yang menulis tesis ala sistem kebut semalam. Untuk orang semacam demikian, Eco menyarankan orang itu berhenti membaca bukunya dan ikuti satu dari dua kiat ini: a) Investasi uangmu buat menyewa jasa menulis tesis; b) Salin tesis yang ditulis beberapa tahun lalu untuk universitas lain. “Keduanya adalah langkah putus asa,” ucapnya.

Kiat itu hanya sebagian kecil dari How to Write a Thesis. Berikut kiat-kiat lain Eco yang layak dibagi.

1. Tesis adalah tentang perjalanan

Tesis bukan tes. Ia bukan dimaksudkan untuk menguji apakah standar kompetensi seorang mahasiswa setelah lulus dari jurusan yang ia ambil. Ia bertujuan mendorong mahasiswa untuk dapat membuat sesuatu dari edukasi yang ia dapat. Tesis adalah perkara proses.

Itu sebabnya Eco berfokus pada bagaimana, tentang teknik dalam menulis tesis, ketimbang pada pertanyaan ontologis apa itu tesis. Lika-liku perjalanan menulis tesis–dari jalan yang kamu tempuh hingga berbagai cara yang kamu jalani untuk sampai tujuan–akan jauh lebih penting dan berguna nantinya ketimbang produk akhir yang dihasilkan.

Tesis nantinya tidak hanya memberikan bekal pengetahuan akademik, melainkan juga kemampuan profesional. Bagaimana mengidentifikasi topik, mengumpulkan data, menyusun dokumen, hingga menyampaikan pemikiran pada pembaca: memantapkan dan mengendapkan langkah-langkah itu akan berguna buat pekerjaan kamu selanjutnya, entah sebagai pemandu wisata atau direktur perusahaan.

2. Topik adalah urusan sekunder

Memikirkan topik adalah salah satu fase paling menjengkelkan dalam menulis tesis. Kamu tentu ingin mencari judul yang brilian, yang memikat, dan jika bisa, yang berfaedah buat kehidupan jutaan umat manusia. Apalagi tesis juga seperti pacarmu: waktu berbulan-bulan akan kamu habiskan berdua dengannya.

Lalu angin bertiup, daun beterbangan, dan minggu demi minggu pun berlalu sampai kamu mulai panik dan memutuskan untuk ya sudahlah dengan topik kamu.

Oleh karena perjalanan menulis tesis itu sendiri lebih penting daripada tujuan, maka topik tesis bagi Eco tidaklah lebih penting daripada bagaimana kamu menuliskannya. “Topik adalah hal sekunder dibanding metode riset dan pengalaman aktual menulis tesis itu sendiri,” katanya. Ia lanjut mengingatkan, bahwa selama mahasiswa bekerja dengan giat, sesungguhnya tidak ada topik yang benar-benar jelek. Maka berhenti berlama-lama mencari ide topik yang cemerlang. Tentukan dan kerjakan.

3. Menulis tesis yang bisa kamu tulis

Kiat ini terdengar mubazir. Tentu saja seseorang tidak mungkin menuliskan sesuatu yang tidak bisa ia tulis. Tapi sebetulnya begini maksud Eco: jangan memilih topik yang menyusahkan dirimu sendiri.

Topik yang kamu pilih, misalnya, akan jauh lebih memudahkan jika ia mencerminkan studi dan pengalaman kamu selama ini, sehingga kamu tidak perlu membangun pemahamanmu dari nol. Lalu, pertimbangkan akses atas sumber-sumber yang dibutuhkan. Alangkah sulitnya jika kamu jauh-jauh studi di Amerika lalu berencana membuat tesis tentang Indonesia, tapi kamu tidak berniat mengunjungi Indonesia selama studi padahal sumber-sumber primermu ada di Indonesia. Satu hal lagi: kamu mesti berpengalaman dengan kerangka metodologi yang akan kamu gunakan. Jika kamu berniat menganalisis karya-karya sonata Bach, misalnya, kamu semestinya sudah akrab dengan berbagai teori dan analisis yang umum dipakai di bidang musik.

4. Monograf versus Survei, Historis versus Teoretis, dan Lama versus Kontemporer

Jawaban dari pilihan-pilihan ini hanya preferensi dan akan bergantung pada bidang studi yang dipilih. Bukan hal mutlak, tapi layak dipertimbangkan.

Monograf versus survei? Monograf. Salah satu godaan terbesar dalam menulis tesis adalah keinginan membuat survei yang luas. Misalnya: “Analisis Pengaruh Perkembangan Teknologi Digital di Abad ke-21” atau “Studi Arsitektur Kontemporer di Indonesia.” Judul-judul semacam itu bukan hanya terlalu luas, tapi juga mustahil ditulis. Sebaliknya, menulis topik yang spesifik pada satu atau dua tokoh, atau pada jangka waktu tertentu, tidak berarti tidak mengizinkan kamu untuk mengkaji hal yang lebih luas. “Studi Lokalitas Karya-karya Arsitektur Andro Kaliandi” akan mengharuskanmu memahami konteks arsitektur pada masa Andro berkarya, konteks tempat karya-karya Andro berada, dan konteks kultural tokoh Andro itu sendiri. Ia memberikan fokus studi tanpa mengorbankan kehausanmu akan pengetahuan yang luas.

Historis versus teoretis? Historis. Beberapa bidang studi mengharuskan topik yang teoretis. Topik-topik bidang matematika, misalnya, mungkin mengharuskan mahasiswa untuk menspekulasikan formula tertentu. Atau topik filsafat tentang asal-usul kehendak manusia dan eksistensi Tuhan. Tanpa bermaksud membatasi topik-topik semacam itu, Eco mengingatkan akan sulitnya mengembangkan pemikiran-pemikiran teoretis tanpa menjadikan pemikiran orang lain sebagai pijakan awal, kecuali kamu jenius tingkat dewa. Maka berangka dari studi historis, termasuk untuk hal-hal teoretis, misalnya “Asal-usul Kehendak Manusia berdasarkan Pemikiran Immanuel Kant,” akan menolongmu karena ia memberikan pijakan awal sambil memungkinkan kamu mengembangkan spekulasi-spekulasi teoretis di bab-bab lanjutan dan tanpa mengurangi bobot utama tesis itu sendiri.

Lama versus kontemporer? Lama. Eco memaksudkan “lama” bukan sebagai “jadul” atau “antik,” melainkan bahwa topik tersebut telah banyak dikaji oleh studi-studi lain. Tesis tentang hal-hal kontemporer menurutnya akan selalu lebih sulit dibanding topik lama yang kajiannya sudah solid, oleh sebab daftar bibliografi yang lebih tipis dan sumber data dan bacaan yang lebih sulit dicari. Di sisi lain, tidak perlu pula cemas memilih topik-topik lama, meskipun terkesan usang dan membosankan. Topik tesis Karl Marx, misalnya, adalah tentang perbedaan pemikiran dua filsuf Yunani, Epikurus dan Demokritus. Studinya itu jadi modal ia mengembangkan pemikirannya mengenai materialisme.

5. Melakukan Penelitian

sfjsfs

6. Work Plan dan Kartu Indeks

kfskfskf

7. Menulis Tesis

jkfsfs

8. Draf Akhir

ksfnsfks

*Pembahasan no 6 – 8 akan saya sempurnakan segera. Semoga pembahasan sebelumnya bermanfaat.

Fitur Baru ResearchGate untuk Eksplor Referensi Publikasi


ResearchGate adalah sebuah situs web jejaring sosial gratis dan alat kolaborasi bagi para ilmuwan sains dari segala jenis disiplin ilmu pengetahuan yang dibuat oleh Dr. Ijad Madisch.

Saat membuka kembali akun RG saya, ada informasi fitur baru yang masuk ke laman dashborad akun RG. Fitur ini sangat membantu karena terkait referensi dalam sebuah publikasi.

Jadi, ketika kita membaca full text dari Reseachgate , Anda dapat melihat sumber asal makalah jurnal dengan mengklik nama pengarang yang ditandai dengan cetak tebal kemudian klik view di bagian kanan pojok. Anda bisa membacanya di tab baru atau membacanya nanti ketika membuka ulang.

Fitur ini tentu sangat membantu ya…

Contoh dibawah ini, ketika membaca full teks dan menemukan tulisan referensi bercetak tebal seperti ini, Anda bisa klik view untuk membaca sumber artikel utamanya.

Sekian.

Menyebarkan Kuesioner Penelitian ke Kelas Mahasiswa


Gambar terkait

Kuesioner atau Angket kita definisikan sebagai suatu pengumpulan data dengan memberikan atau menyebarkan daftar pertanyaan atau pernyataan kepada responden dengan harapan responden memberikan respon atas daftar pernyataan tersebut.

Dua sifat Kuesioner:

  • Angket Terbuka, apabila jawaban tidak ditentukan sebelumnya (responden mengisi jawaban sendiri). Angket ini tidak berstruktur dan disajikan dalam bentuk sederhana sehingga responden dapat memberikan respon sesuai dengan kehendak dan keadaannya. Contoh: Apakah saudara seorang mahasiswa, jika ya apakah pandangan saudara terhadap kenaikan BBM?
  • Angket tertutup, apabila alternatif jawaban telah disediakan dan responden tinggal memilih jawaban. Angket disajikan dalam bentuk dimana responden bisa memberikan tanda centang pada kolom yang sesuai. Contoh: Pernahkah Anda memperoleh penataran yang menunjang tugas Anda mengajar? A. Pernah, B. Tidak pernah.

Kelebihan metode Kuesioner

  • Jawaban responden lebih objektif karena responden kurang memperoleh pengaruh dari pihak luar.
  • Data dapat diperoleh secara sistematis karena pertanyaan dapat disusun terlebih dahulu.
  • Responden memperoleh kesempatan berpikir secara leluasa sehingga jawaban responden lebih masak dan mendalam.
  • Responden mempunyai keberanian menjawab pertanyaan karena kuesioner biasanya bersifat anonim.

Kelebihan metode Kuesioner

  • Jawaban responden lebih objektif karena responden kurang memperoleh pengaruh dari pihak luar.
  • Data dapat diperoleh secara sistematis karena pertanyaan dapat disusun terlebih dahulu.
  • Responden memperoleh kesempatan berpikir secara leluasa sehingga jawaban responden lebih masak dan mendalam.
  • Responden mempunyai keberanian menjawab pertanyaan karena kuesioner biasanya bersifat anonim.

Kelemahan metode Kuesioner

  • Ada kemungkinan angket diisi oleh orang lain
  • Hanya diperuntukkan bagi yang dapat melihat saja
  • Responden hanya menjawab berdasarkan jawaban yang ada saja
  • Responden hanya menjawab berdasarkan apa yang diketahui bukan apa yang seharusnya
  • Walaupun dibuat anonim, kadang-kadang responden dengan sengaja memberikan jawaban yang tidak betul atau tidak jujur.
  • Pilihan jawaban mungkin tidak mencakup apa yang terkandung dalam hati responden.
  • Apabila ada jawaban kuesioner tidak jelas maka penyelidik membutuhkan waktu lama untuk memperbaiki jawaban tersebut.

Uji kuesioner Anda

Uji kuesioner Anda dengan melakukan validitas konstruk dan validitas isi. Validitas konstruk adalah pengujian validitas yang dilakukan dengan melihat kesesuaian konstruksi butir yang ditulis dengan kisikisinya. Uji validitas konstruk dapat dilakukan melalui dua cara: Pertama, dengan memberikan definisi pada konsep yang akan diukur berdasarkan konsep yang tertulis dalam literatur. Kedua, untuk memperkuat hasil validitas konstruk tersebut, konsultasikan konsep tersebut dengan ahli-ahli yang kompeten dalam bidang konsep yang akan diukur.

Validitas isi yaitu pengujian validitas yang dilakukan atas isinya untuk memastikan apakah butir angket mengukur secara tepat keadaan yang ingin diukur. Pengujian validitas isi dapat dilakukan dengan meminta pertimbangan ahli atau pertimbangan dosen pembimbing. Selain itu, dapat juga dilakukan dengan meminta sahabat atau kerabat terdekat Anda untuk mengisi kuesioner tersebut (jangan menghitung hasilnya!), dan lakukan revisi jika diperlukan. Untuk menguji kuesioner, setidaknya mintalah bantuan 5-10 sahabat dan/atau kerabat Anda. Setelah mereka selesai mengisi kuesioner, ajukan pertanyaan-pertanyaan di bawah ini untuk mendapatkan umpan balik yang Anda butuhkan: Apakah kuesioner ini mudah dipahami? Apakah ada pertanyaan yang membingungkan? Apakah kuesioner ini mudah diakses? (Terutama jika kuesioner tersebut Anda sebarkan daring). Apakah kuesioner ini layak untuk diisi? Apakah Anda merasa nyaman menjawab pertanyaan-pertanyaan di dalam kuesioner? Apakah saran yang bisa Anda berikan untuk memperbaiki kualitas kuesioner ini?

Saat ini saya sedang melaksanakan penelitian untuk master saya dengan konsentrasi pendidikan. Metode yang saya ambil dalam penelitian ini adalah penelitian kombinasi kuantitatif dan kualitatif. Ada beberapa pendekatan dalam metode kombinasi dan yang saya gunakan dalam penelitian ini adalah …

Kali ini saya ingin menyampaikan beberapa tips atau cara yang sedang saya gunakan untuk menyebarkan kuesioner dalam bentuk kertas, saya tekankan kertas karena ada juga penyebaran kuesioner menggunakan format Goolge Form. Saya menyerahkan kuesioner secara pribadi agar dapat membangun hubungan dan memotivasi responden.

Tahap pertama;

Meminta surat pengantar ke sekolah pascasarjana untuk mendapatkan surat izin penelitian.

Tahap kedua;

Menyerahkan surat pengantar dari sekolah pasca ke fakultas tarbiyah dan sambil menunggu informasi selanjutnya.

Tahap ketiga;

Setelah mendapatkan persetujuan penelitian dari Dekan kemudian menyerahkan surat yang sama ke ketua jurusan.

Tahap keempat;

Mendapatkan nomor ketua kelas. Kemudian menyampaikan keinginan untuk masuk ke kelas menyebarkan kuesioner. Di dalam kelas nanti disampaikan maksud dan tujuan kuesioner ini kemudian pastikan responden mengisi semua kuesioner dan terakhir mengucapkan terima kasih kepada ketua kelas dan dosen jika ada di dalam kelas.

Demikian sharing dari saya. Terima kasih.

Foto di salah satu kelas FITK UIN Jakarta ketika mengisi kuesioner saya.

Subjektivitas Keagamaan


Saya mencari penjelasan tentang Religious Subjectivity atau Subjektivitas Keagamaan. Apakah Subjektivitas keagamaan hanya perasaan bahwa agamanya yang benar yang lain salah.

Terima kasih atas bantuannya.

https://www.researchgate.net/post/Apakah_referensi_yang_menjelaskan_tentang_Subjektivitas_Keagamaan

How to import SPSS file into LISREL 8.8 (Student version)?


I am new to SEM. I am using LISREL 8.8 (Student Version). I load an SPSS .sav file from SPSS version 22.0. When loading the .sav file I get an error ‘the file is not correct PRELIS system file!’ Trying to load the data in other output formats (comma-delimited data, tab-delimited and excel file in 97-2003) did not work out either.

Sometimes when it can get into PRELIS data, only the appearance of blank data without any data content.

Could anyone help me with this? How can I load my data?

Thanks a lot!

——————–

Jumal Ahmad

https://www.researchgate.net/post/How_to_import_SPSS_file_into_LISREL_Student_version

Blogging my Research


Beberapa minggu ini saya off dari menulis blog karena alasan ingin fokus ke penelitian Tesis sampai saya meng-uninstall beberapa aplikasi sosial media dari handphone Android, dengan alasana agar bisa fokus dan tidak terdistraksi.

Sampai saat ini saya masih setia dengan program uninstall sosial media karena saya merasakan sendiri gangguan dan tidak fokus. Dan ingin mengambil satu fokus keprogram blog sebagai perilaku yang memberikan manfaat.

Blogging penelitian bisa menghasilkan pembaca yang berpotensi besar dengan biaya yang sangat, sangat rendah, dan relatif banyak usaha. Dengan platform seperti WordPress (yang saya gunakan di sini), Anda dapat membuat blog dan membuat artikel pertama Anda online dalam waktu tidak lebih dari 10 menit.

Penelitian terbaru dari Bank Dunia telah menunjukkan bahwa blogging tentang artikel penelitian dapat menyebabkan ratusan pembaca baru ketika sebelumnya hanya ada segelintir. Blogging penelitian adalah cara yang bagus untuk membangun pengetahuan tentang pekerjaan Anda, menumbuhkan pembaca artikel yang bermanfaat dan laporan penelitian, membangun sitasi, dan untuk mendorong debat lintas akademisi, pemerintah, masyarakat sipil dan masyarakat pada umumnya.

Blogging penelitian ibarat Jurnal sebagai alat untuk refleksi. Jurnal penelitian menawarkan tempat untuk pemikiran kritis dan evaluatif, karena acara dan percakapan ditinjau kembali – dan dimuat ulang. Jurnal adalah tempat interpretasi terjadi. Mereka sering merupakan tempat di mana analisis dimulai dan dikembangkan. Menulis dan membuat sketsa dalam jurnal adalah cara untuk memproses pengalaman, membawa acara dan percakapan ke dalam dialog dengan ide-ide yang diambil dari membaca, dengan ide-ide yang dibentuk melalui penelitian sebelumnya.

Menulis jurnal serta catatan lapangan adalah proses yang menghabiskan waktu. Itulah mengapa etnografi membutuhkan pelibatan seluruh jiwa dan raga. Anda mencatat dan membuat gambar di siang hari, dan kemudian di malam hari, Anda menyelesaikan log kejadian, dan menulis pemikiran langsung di jurnal Anda.M

Menyimpan catatan harian dan jurnal berarti Anda dapat menangkap poin-poin di mana informasi hilang, dan Anda dapat memutuskan bahwa besok Anda akan mengejar masalah tertentu yang muncul dari penjurnalan.

Berikut ini empat alasan utama kenapa Anda harus menulis blog tentang penelitian Anda:

  1. Meningkatkan tulisan Anda. Menulis lebih sulit daripada yang terlihat. Anda tahu ini jika Anda pernah mencoba membuat blog atau menulis di luar area penelitian Anda.
  2. Anda akan belajar berbicara dengan audiens yang lebih luas dan lebih umum. Blog akademik cenderung berfokus pada topik dan penelitian profesional. Mampu berbicara tentang penelitian Anda dalam bahasa yang sederhana dan jelas akan membantu Anda tidak hanya dengan menulis, tetapi juga dengan interaksi publik dan pribadi Anda dengan orang lain.
  3. Ini bagus untuk CV atau resume Anda. Ingin pekerjaan baru? Mencoba mendaratkan hibah penelitian itu? Mencari kolaborator baru? Semakin baik blog Anda dan semakin banyak interaksi yang Anda miliki dengan para peneliti dan ilmuwan lain, semakin besar kemungkinan Anda telah membuka pintu untuk kolaborasi.
  4. Membantu menghasilkan ide-ide baru. Blogging mengharuskan Anda melenturkan otot-otot menulis, menulis di luar apa yang Anda ketahui, dan menulis dengan kredibel. Bagaimana ide-ide baru terjadi? Menurutmu. Bagaimana menurut Anda? Anda menulis. Dan menulis dan menulis dan menulis. Menulis memaksa otak Anda untuk mencerna informasi baru, mensintesis informasi baru meningkatkan pemikiran dan voila Anda! Anda punya ide baru. Sepanjang waktu.

Maka, kini saya kembali menulisndi blog dan berusaha menuliskan perkembangan penelitian Tesis sederhana Saya di blog ini. Terima kasih.

Sumber:

https://www.masterstudies.com/article/why-you-should-blog-about-your-research/

%d bloggers like this: