How does Spirituality Influence Human Behavior?


Can someone guide me towards some theories that explain the influence of spirituality on individual human behavior?

And give your views on the influence of spirituality on the reflective attitude and the influence of spirituality on moral values?

Thank you.

Read answers by scientiest at my ResearchGate here

How important is the reflective practice in teaching Islamic Religious Education?


Heien Retter

I am not a Muslim, but I think that a reflected practice is important for every religion. Because religion can only really live in a reflected relationship.

Hamid Gadouri

I fully agree with Hein Retter, if the teachings and impact of religion such as Islam, Christianity, or any religion do not appear to people’ life, this distorts and gives a bad image of this person’s religion. Therefore, the morality of any person is related to the extent of his respect for the teachings of his religion regardless of the validity of this religion. At least to respect and apply the dictates of the religious book that belongs to  …

Link

What are the indicators of Islamic religious behavior instruments?


I am developing an instrument of Islamic religious behavior based on the hadith of Gabriel which divides Islam into 3 dimensions: Islam, Iman and Ihsan.In your opinion, what are the indicators in Islam, Iman and Ihsan that I can include. Thank you

Answer

Jasmen Omersic

As far as behaviour is concerned, you may take into account the five pillars of Islam (shurut al-Islam) for Islam, for Iman that would be the pillars of belief (shurut al-Iman), and for ihsan you may take the overall of both pillars and look into the objectives of Shariah based on the analysis of darruriyyat, hajiyyat and tahsiniyyat. That would determine the Ihsan.You may even develop the framework based on objectives of Shariah for what you have books available in plenti such as Shatibi’s, Ghazali’s books on maqasid.

Links

Journal about Islamic Religiosity

  • Religiosity among Muslims: A Scale Developtment and Validation Study (link)
  • The Five Dimensions of Muslim Religiosity. Result of an Empirical Study by Yasemin El-Menouar (link)
  • The Attitudes Toward Islam Scale by Abdullah Sahin and Leslie J Francis (link)
  • Understanding the relogioys behavior of Muslims in the Netgerlands and the UK by Dr Ayse Guveli and Dr Lucinda Platt (link)
  • Muslim Daily Religiosity Assessment Scale (MUDRAS): A New Instrument for Muslim Religiosity Research and Practice (link)
  • The Development and Validation of a Qur’an-Based Instrument to Assess Islamic Religiosity: The Religiosity of Islam Scale by Jana-Masri and Paul E. Priester (link)
  • Sikap dan Perilaku Keagamaan Mahasiswa Islam di Daerah Istimewa Yogyakarta oleh Mami Hajaroh (link)

Silakan ditambahkan di kolom komentar jika Anda mendapatkan jurnal terkait. Semoga bisa membantu teman lain yang sedang mencari tema jurnal yang sama.

Epistemologi Penelitian Kuantitatif


Metode kuantitatif dinamakan metode tradisional, karena metode ini sudah cukup lama digunakan sehingga sudah mentradisi sebagai metode untuk penelitian. Metode ini disebut sebagai metode positivistik karena berlandaskan pada filsafat positivisme. Metode ini sebagai metode ilmiah/scientific karena telah memenuhi kaidah-kaidah ilmiah yaitu konkrit, obyektif, terukur, rasional, dan sistematis. Metode ini juga disebut metode discovery, karena dengan metode ini dapat ditemukan dan dikembangkan berbagai iptek baru. 

Penelitian kuantitatif merupakan salah satu jenis penelitian yang spesifikasinya adalah sistematis, terencana, dan terstruktur dengan jelas sejak awal hingga pembuatan desain penelitiannya. Definisi lain menyebutkan penelitian kuantitatif adalah penelitian yang banyak menuntut penggunaan angka, mulai dari pengumpulan data, penafsiran terhadap data tersebut, serta penampilan dari hasilnya. Demikian pula pada tahap kesimpulan penelitian akan lebih baik bila disertai dengan gambar, table, grafik, atau tampilan lainnya. Penelitian kuantitatif didasari oleh filsafat positivisme yg menekankan fenomena fenomena objektif dan dikaji secara kuantitatif. Maksimalisasi objektivitass desain penelitian ini dilakukan dengan menggunakan angka-angka, pengolahan statistik, struktur dan percobaan terkontrol. (Sukmadinata, N, 2013)

Menurut Sugiyono (14:2015), metode penelitian kuantitatif merupakan metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, teknik pengambilan sampel pada umumnya dilakukan secara random, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan.

Filsafat positivisme memandang realitas/gejala/fenomena itu dapat diklasifikasikan, relatif tetap, konkrit, teramati, terukur, dan hubungan gejala bersifat sebab akibat. Penelitian pada umumnya dilakukan pada populasi atau sampel tertentu yang representatif. Proses penelitian bersifat deduktif, di mana untuk menjawab rumusan masalah digunakan konsep atau teori sehingga dapat dirumuskan hipotesis. Hipotesis tersebut selanjutnya diuji melalui pengumpulan dan lapangan. Untuk mengumpulkan data digunakan instrumen penelitian. Data yang telah terkumpul selanjutnya dianalisis secara kuantitatif dengan menggunakan statistik deskriptif sehingga dapat disimpulkan  hipotesis yang dirumuskan terbukti atau tidak. Penelitian kuantitatif pada umumnya diambil sampel random, sehingga kesimpulan hasil penelitian dapat digeneralisasikan pada populasi di mana sampel tersebut diambil.

Penelitian kuantitatif merupakan studi yang diposisikan sebagai bebas nilai(value free). Dengan kata lain, penelitian kuantitatif sangat ketat menerapkan prinsip-prinsip objektivitas. Objektivitas itu diperoleh antara lain melalui penggunaan instrumen yang telãh diuji validitas dan reliabilitasnya. Peneliti yang melakukan studi kuantitatif mereduksi sedemikian rupa hal-hal yang dapat membuat bias, misalnya akibat masuknya persepsi dan nilai-nilai pribadi. Jika dalam penelaahan muncul adanya bias itu, penelitian kuantitatif akan jauh dari kaidah-kaidah teknik ilmiah yang sesungguhnya (Sudarwan Danim, 2002: 35) dalam (Musafa Nanang, 2012)

Dalam hal pendekatan, penelitian kuantitatif lebih mementingkan adanya variabel-variabel sebagai objek penelitian dan variabel-variabel tersebut harus didefenisikan dalam bentuk operasionalisasi variable masing-masing. Reliabilitas dan validitas merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi dalam menggunakan pendekatan ini karena kedua elemen tersebut akan menentukan kualitas hasil penelitian dan kemampuan replicasi serta generalisasi penggunaan model penelitian sejenis. Selanjutnya, penelitian kuantitatif memerlukan adanya hipotesa dan pengujian yang kemudian akan menentukan tahapan-tahapan berikutnya, seperti penentuan teknik analisa dan formula statistik yang akan digunakan. Juga, pendekatan ini lebih memberikan makna dalam hubungannya dengan penafsiran angka statistic bukan pada makna secara kebahasaan dan kulturalnya. (Musafa Nanang, 2012).

Penggunaan Metode Kuantitatif

Menurut Sugiono (2015:34) Metode Kuantitatif digunakan apabila:

  1. Bila masalah yang merupakan titik tolak penelitian sudah jelas. Masalah adalah penyimpangan antara yang seharusnya dengan yang terjadi, antara aturan dengan pelaksanaan, antara teori dan praktek, antara rencana dengan pelaksanaan.
  2. Bila peneliti ingin mendapatkan informasi yang luas dari suatu populasi. Metode penelitian kuantitatif cocok digunakan untuk mendapatkan informasi yang luas tetapi tidak mendalam.
  3. Bila ingin diketahui pengaruh perlakuan/treatment tertentu terhadap yang lain. Untuk kepentingan ini metode eksperimen paling cocok digunakan.
  4. Bila peneliti bermaksud menguji hipotesis penelitian.
  5. Bila peneliti ingin mendapatkan data yang akurat.
  6. Bila ingin menguji terhadap adanya keragu-raguan tentang validitas pengetahuan, teori, dan produk tertentu.

Kompetensi Peneliti Kuantitatif

  1. Memiliki wawasan yang luas dan mendalam tentang bidang pendidikan yang akan diteliti.
  2. Mampu melakukan analisis masalah secara akurat, sehingga dapat ditemukan masalah penelitian pendidikan yang betul-betul maslah.
  3. Mampu menggunakan teori pendidikan yang tepat sehingga dapat digunakan untuk memperjelas masalah yang diteliti, dan merumuskan hipotesis penelitian.
  4. Memahami berbagai jenis metode penelitian kuantitatif, seperti metode survey, eksperimen, action research, expost facto, evaluasi dan R & D.
  5. Mampu menyusun instrument baik test maupun nontest untuk mengukur berbagai variabel yang diteliti, mampubmenguji validitas dan reliabilitas instrumen.
  6. Mampu mengumpulkan data dengan kuesioner, maupun dengan wawancara, observasi, dan dokumentasi.
  7. Mampu menyajikan data, menganalisis data secara kuantitatif untuk menjawab rumusan masalah dan menguji hipotesis penelitian yang telah dirumuskan.
  8. Mampu memberikan interpretasi terhadap data hasil penelitian maupun hasil pengujian hipotesis.
  9. Mampu membuat laporan secara sistematis, dan menyampaikan hasil penelitian ke pihak-pihak yang terkait.
  10. Mampu membuat abstraksi hasil penelitian, dan membuat artikel untuk dimuat ke dalam jurnal ilmiah.
  11. Mampu mengkomunikasikan hasil penelitian kepada masyarakat luas.

Dalam penelitian kuantitatif diyakini adanya sejumlah asumsi sebagai dasar dalam melihat fakta atau gejala.

Asumsi-asumsi yang dimaksud adalah:

  1. objek-objek tertentu mempunyai keserupaan satu sama lain, baik bentuk, struktur, sifat maupun dimensi lainnya.
  2. suatu benda atau keadaan tidak mengalami perubahan dalam jangka waktu tertentu.
  3. Suatu gejala bukan merupakan suatu kejadian yang bersifat kebetulan, melainkan merupakan akibat dari faktor-faktor yang mempengaruhinya (Jonathan Sarwono, 2011).

Sejalan dengan penjelasan di atas, secara epistemologi paradigma kuantitatif berpandangan bahwa sumber ilmu terdiri dari dua hal, yaitu pemikiran rasional dan empiris. Karena itu, ukuran kebenaran terletak pada koherensi(sesuai dengan teori-teori terdahulu) dan korespondensi (sesuai dengan kenyataan empiris). Kerangka pengembangan ilmu itu dimulai dengan proses perumusan hipotesis yang dideduksi dari teori, kemudian diuji kebenarannya melalui verifikasi untuk diproses lebih lanjut secara induktif menuju perumusan teori baru. Jadi, secara epistemologis pengembangan ilmu itu berputar mengikuti siklus, logico, hipotetico dan verifikatif.

Ada tiga hal mendasar yang harus diketahui dalam penelitian kuantitatif yaitu aksioma, karakteristik penelitian dan proses penelitian.

Aksioma (Pandangan Dasar)

Aksioma meliputirealitas, hubungan peneliti dengan yang diteliti, hubungan variable, kemungkinan generalisasi dan peranan nilai.


Aksioma Dasar

Metode Kuantitatif
Sifat Realitas Dapat diklasifikasikan, konkrit, teramati, terukur
Hubungan peneliti dengan yang diteliti Independen, supaya terbangun obyektivitas
Hubungan variabel Kausalitas (sebab-akibat)
Kemungkinan Generalisasi Cenderung membuat generalisasi
Peranan nilai Cenderung bebas nilai

Karakteristik Penelitian

Menurut Sugiyono (2015:23-24) Penelitian kuantitatif memiliki beberapa karakteristik berikut:

  1. Desain
  2. Spesifik, jelas, rinci
  3. Ditentukan secara mantap sejakawal
  4. Menjadi pegangan langkah demi langkah.
  5. Tujuan
  6. Menunjukkan hubungan antar variable
  7. Mengujiteori
  8. Mencari generalisasi yang memiliki nilai prediktif
  9. Tehnik Pengumpulan data
  10. Kuesioner
  11. Observasi dan wawancara terstruktur
  12. InstrumenPenelitian
  13. Tes, angket, wawancara terstruktur
  14. Instrument yang telah terstandar
  15. Data
  16. Kuantitatif
  17. Hasil pengukuran variable yang dioperasionalkan dengan menggunakan instrument
  18. Sampel
  19. Besar
  20. Representatif
  21. Sedapat mungkin random
  22. Ditentukan sejak awal
  23. Analisis
  24. Setelah sèlesai pengumpulan
  25. Deduktif
  26. Menggunakan statistik
  27. Hubungan dengan Responden
  28. Dibuat berjarak, bahkan sering tanpa kontak supaya obyektif
  29. Kedudukan peneliti lebih tinggi daripada responden
  30. Jangka pendek sampai hipotesis dapat ditemukan.
  31. Usulan Desain
  32. Luas dan rinci
  33. Literatur yang berhubungan dengan masalah dan variabel yang diteliti.
  34. Prosedur yang spesifik dan rinci langkah-langkahnya
  35. Masalah dirumuskan dengan spesifik dan jelas
  36. Hipotesis dirumuskan dengan jelas
  37. Ditulis secara rinci danjelas sebelum terjun ke lapangan
  38. Kapan penelitian dianggap selesai?
  39. Setelah semua kegiatan yang direncanakan dapat diselesaikan
  40. Kepercayaan terhadap hasil Penelitian
  41. Pengujian validitas dan realiabilitas instrument

Prosedur Penelitian Kuantitatif

Diagram Prosedur Penelitian Kuantitatif menurut Sugiyono

Adapun penjelasan mengenai prosedur penelitian kuantitatif ialah sebagai berikut:

Dalam penelitian kuantitatif, masalah yang dibawa oleh peneliti harus sudah jelas. Menurut Tuckman, setiap penelitian yang akan dilakukan harus selalu berangkat dari masalah, walaupun diakui bahwa memilih masalah penelitian merupakan hal yang paling sulit dalam proses penelitian (Sugiyono: 52).

Langkah ke 1

Rumusan masalah merupakan suatu pertanyaan yang akan dicarikan jawabannya melalui pengumpulan data. Dengan pertanyaan ini maka akan dapat memandu peneliti untuk kegiatan penelitian selanjutnya.

Langkah ke 2

Landasan teori ini perlu ditegakkan agar penelitian itu mempunyai dasar yang kokoh dan bukan sekedar perbuatan coba-coba. Adanya landasan teori merupakan ciri bahwa penelitian itu cara ilmiah untuk mendapatkan data. Teori yang digunakan berfungsi untuk memperjelas masalah yang diteliti, sebagai dasar untuk merumuskan hipotesis dan sebagai referensi untuk menyusun instrumen penelitian.

Langkah ke 3

Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian. Dikatakan sementara, karena jawaban yang diberikan baru didasarkan pada teori yang relevan, belum didasarkan pada fakta-fakta empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data. Bila dilihat dari eksplanasinya, bentuk hipotesis penelitian yaitu hipotesis deskripsi (variabel mandiri), komparatif (perbandingan), dan asosiatif (hubungan). Hipotesis deskripsi adalah jawaban sementara terhadap masalah deskriptif yang berkenaan dengan variabel mandiri, hipotesis komparatif adalah jawaban sementara terhadap masalah komparatif (variabelnya sama tetapi populasi atau sampelnya berbeda atau keadaan itu terjadi pada waktu yang berbeda), hipotesis asosiatif adalah adalah jawaban sementara terhadap masalah asosiatif (yang menanyakan hubungan antara dua variabel atau lebih).

Langkah ke 4

Hipotes yang masih merupakan jawaban sementara, selanjutnya harus dibuktikan kebenarannya dengan pengumpulan data. Pengumpulan data dapat dilakukan melalui wawancara (apabila peneliti ingin menemukan permasalahan yang harus diteliti dan mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam serta jumlah respondennya sedikit/kecil), angket (teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya) dan observasi (digunakan bila penelitian berkenaan dengan perilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala alam dan bila responden yang diamati tidak terlalu besar).

Pengumpulan data dilakukan pada populasi tertentu yang telah ditentukan oleh peneliti. Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi bukan hanya orang, tetapi juga obyek dan benda-benda alam yang lain. Populasi juga bukan sekedar jumlah yang ada pada obyek/subyek yang dipelajari, tetapi meliputi seluruh karakteristik/sifat yang dimiliki oleh subyek atau obyek itu.

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Bila populasi besar dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, misalnya karena keterbatasan dana, tenaga dan waktu, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu. Apa yang dipelajari dari sampel itu, kesimpulannya akan dapat diberlakukan untuk populasi. Untuk itu sampel yang diambil dari populasi harus betul-betul representatif (mewakili).

Meneliti adalah mencari data yang teliti/akurat. Untuk itu peneliti perlu menggunakan instrumen penelitian. Instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati. Secara spesifik semua fenomena ini disebut variabel penelitian. Variabel-variabel dalam ilmu alam misalnya panas, maka instrumennya adalah calorimeter, variabel panjang maka instrumennya adalah mistar (meteran), variabel berat maka instrumennya adalah timbangan berat. Sedangkan instrumen penelitian dalam bidang sosial, khususnya bidang pendidikan yang sudah baku sulit ditemukan. Untuk itu, peneliti harus mampu membuat instrumen yang akan digunakan untuk penelitian. Menetapkan variabel-variabel yang diteliti. Dari variabel-variabel tersebut diberikan definisi operasionalnya, dan selanjutnya ditentukan indikator yang akan di ukur. Dari indikator ini kemudian dijabarkan menjadi butir-butir pertanyaan atau pernyataan. Untuk memudahkan penyusunan instrumen, maka perlu digunakan “matrik pengembangan instrumen” atau “kisi-kisi instrumen”.

Agar instrumen dapat dipercaya, maka harus diuji validitas dan reabilitasnya. Terdapat tiga cara pengujian validitas instrumen, yaitu pengujian validitas konstrak, pengujian validitas isi dan pengujian validitas eksternal.

Pengujian Validitas Konstrak

Untuk menguji validitas konstrak, dapat digunakan pendapat dari ahli. Para ahli diminta pendapatnya tentang instrumen yang telah disusun itu. setelah pengujian konstrak dari para ahli dan berdasarkan pengalaman empiris di lapangan selesai, maka diteruskan dengan uji coba instrumen. Instrumen tersebut dicobakan pada sampel dari mana populasi diambil. Setelah data ditabulasikan, maka pengujian validitas konstruksi dilakukan dengan analisis faktor, yaitu dengan mengkorelasikan antar skor item instrumen dalam suatu faktor, dan mengkorelasikan antar skor faktor dengan skor total.

Pengujian Validitas Isi

Pengujian validitas isi dapat dilakukan dengan membandingkan antara isi instrumen dengan materi pelajaran yang telah diajarkan. Untuk instrumen yang akan mengukur efektivitas pelaksanaan program, maka pengujian validitas isi dapat dilakukan dengan membandingkan antara isi instrumen dengan isi atau rancangan yang telah ditetapkan. Secara teknis pengujian validitas isi menggunakan kisi-kisi instrumen. Pada setiap instrumen baik test maupun non test terdapat butir-butir pertanyaan atau pernyataan. Untuk menguji validitas butir-butir instrumen lebih lanjut, setelah dikonsultasikan dengan ahli, selanjutnya diujicobakan, dan dianalisis dengan analisis item atau uji beda.

Pengujian Validitas Eksternal

Validitas eksternal instrumen diuji dengan cara membandingkan (untuk mencari kesamaan) antara kriteria yang ada pada instrumen dengan fakta-fakta empiris yang terjadi di lapangan.

Sedangkan pengujian reliabilitas instrumen dapat dilakukan secara eksternal dan internal. Secara eksternal pengujian dapat dilakukan dengan rest-retest, equivalent, dan gabungan keduanya.

Test-Retest

Instrumen penelitian yang reliabilitasnya diuji dengan tes-retest dilakukan dengan cara mencobakan instrumen beberapa kali pada responden. Instrumennya sama, respondennya sama dan waktunya yang berbeda. Bila koefisien korelasi positif dan siginfikan maka instrumen tersebut sudah dinyatakan reliabel.

Ekuivalen

Instrumen yang ekuivalen adalah pertanyaan yang secara bahasa berbeda, tetapi maksudnya sama. Pengujian reliabilitas instrumen dengan cara ini cukup dilakukan sekali, tetapi instrumennya dua, pada responden yang sama, waktu sama, instrumen berbeda. Reliabilitas instrumen dihitung dengan cara mengkorelasikan antara data instrumen yang satu dengan data instrumen yang dijadikan equivalent. Bila korelasi positif dan signifikan, maka instrumen dinyatakan reliabel.

Gabungan

Pengujian reliabilitas ini dilakukan dengan cara mencobakan dua instrumen yang equivalent beberapa kali, ke responden yang sama. Reliabilitas instrumen dilakukan dengan mengkorelasikan dua instrumen, setelah itu dikorelaksikan pada pengujian kedua, dan selanjutnya dikorelasikan secara silang.

Jika dengan dua kali pengujian dalam waktu berbeda, akan dapat dianalisis enam koefisien reliabilitas. Bila keenam koefisien korelasi itu semuanya positif dan siginfikan, maka dapat dinyatakan bahwa instrumen tersebut reliabel.

Secara internal pengujian dapat dilakukan dengan menganalisis konsistensi butir-butir yang ada pada instrumen tertentu. Pengujian reliabilitas dengan internal consistency, dilakukan dengan cara mencobakan instrumen sekali saja, kemudian yang data diperoleh dianalisis dengan teknik tertentu. Hasil analisis dapat digunakan untuk memprediksi reliabilitas instrumen.

Langkah ke 5

Setelah data terkumpul selanjutnya dianalisis. Analisis diarahkan untuk menjawab rumusan masalah dan hipotesis yang diajukan. Teknik analisis data dalam penelitian kuantitatif menggunakan statistik. Statistik yang digunakan dapat berupa statistik deskriptif dan inferensial/induktif. Statistik inferensial dapat berupa statistik parametris dan statistik nonparametris.

Statistik deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi. Statistik deskriptif dapat digunakan bila peneliti hanya ingin mendeskripsikan data sampel, dan tidak ingin membuat kesimpulan yang berlaku untuk populasi dimana sampel diambil.

Statistik inferensial adalah teknik statistik yang digunakan untuk menganalisis data sampel dan hasilnya diberlakukan untuk populasi. Statistik ini akan cocok digunakan bila sampel diambil dari populasi yang jelas, dan teknik pengambilan sampel dari populasi itu dilakukan secara random.

Pada statistik inferensial terdapat statistik parametris dan nonparametris. Penggunaan statistik parametris dan nonparametris tergantung pada asumsi dan jenis data yang akan dianalisis. Statistik parametris memerlukan terpenuhi banyak asusmsi. Asumsi yang utama adalah data yang akan dianalisis harus berdistribusi normal. Selanjutnya dalam penggunaan salah satu test mengharuskan data dua kelompok atau lebih yang diuji harus homogen, dalam regresi harus terpenuhi asumsi lineritas. Statistik nonparametris tidak menuntut terpenuhi banyak asumsi, misalnya data yang akan dianalisis tidak harus berdistribusi normal. Statistik parametris mempunyai kekuatan yang lebih daripada statistik nonparametris,bila asumsi yang melandasi dapat terpenuhi. Statistik parametris kebanyakan digunakan untuk menganalisis data interval dan rasio, sedangkan statistik nonparametris digunakan untuk menganalisis data nominal, ordinal.

Data hasil analisis selanjutnya disajikan dan diberikan pembahasan. Penyajian data dapat menggunakan tabel, tabel distribusi frekuensi, grafik garis, grafik batang, piechart (diagram lingkaran), dan pictogram.

Langkah ke 6

Setelah hasil penelitian diberikan pembahasan, maka selanjutnya dapat disimpulkan. Kesimpulan berisi jawaban singkat terhadap setiap rumusan masalah berdasarkan data yang telah terkumpul. Apabila rumusan masalah ada lima, maka kesimpulannya juga ada lima. Peneliti juga harus memberikan saran-saran. Melalui saran-saran tersebut diharapkan masalah dapat terpecahkan. Saran yang diberikan harus berdasarkan kesimpulan hasil penelitian.

Apabila hipotesis penelitian yang diajukan tidak terbukti, maka perlu di cek apakah ada yang salah dalam penggunaan teori, instrumen, pengumpulan, analisis data, atau rumusan masalah yang diajukan.

Sumber: Resume Materi Kuliah Quantitative Analysis di SPs UIN Jakarta

Berpikr Kritis dan Kreatif Sebagai Bagian dari Kemampuan Berpikir Reflektif


proses berpikir

Pendahuluan

Pengetahuan adalah segala sesuatu yang ditangkap manusia mengenai objek sebagai hasil dari proses mengetahui baik melalui indra maupun akal. Jadi, segala sesuatu yang kita lihat, kita rasakan, kita pikirkan merupakan pengetahuan.

Pengetahuan juga didapat dari proses berpikir. Proses berpikir tersebut merupakan kemampuan manusia dalam menggunakan akal untuk memahami lingkungannya. Tanpa berpikir manusia tidak bisa diakui keberadaannya seperti yang dikemukakan oleh René Descartes yaitu Je pense donc je suis atau Cogito Ergo Sum, yang berarti Saya berpikir maka saya ada. Keberadaan saya diakui karena saya berpikir. Dari kemampuan berpikirlah, manusia mampu mengembangkan pengetahuan. Untuk mengembangkan pengetahuan manusia melakukan proses berpikir ilmiah yaitu berpikir sesuai dengan kaidah-kaidah keilmiahan.

Berpikir dilakukan di bidang apapun dan kesempatan apapun, begitu juga di bidang pendidikan. Begitu banyak pakar pendidikan yang telah memikirkan bagaimana cara untuk mengembangkan pendidikan karena pendidikan adalah proses yang terus menerus berubah atau berkembang menyesuaikan kebutuhan perkembangan zaman dan perkembangan teknologi.

Akal pikiran yang dimiliki manusia, menyebabkan manusia dapat menciptakan pengetahuan, namun bukan jaminan manusia memilki pengetahuan secara otomatis, karena pikiran manusia hanyalah ruang kosong yang harus diisi dengan pengetahuan. 


Penelitian menempatkan posisi yang paling urgen dalam ilmu pengetahuan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Penggunaan cara-cara ilmiah dalam sebuah aktivitas menjawab rasa ingin tahu, tidak saja memerhatikan kebenaran ilmiah (scientific truth), akan tetapi juga mempertimbangkan cara-cara untuk memperoleh kebenaran itu, cara itu adalah penelitian ilmiah (scientific research) atau disebut dengan metode penelitian. 

Metode ilmiah merupakan prosedur atau langkah-langkah sistematis dalam mendapatkan pengetahuan ilmiah atau ilmu. Ilmu merupakan pengetahuan yang didapatkan melalui metode ilmiah. Metode adalah suatu prosedur atau cara untuk mengetahui sesuatu dengan langkah-langkah yang sistematis. Garis besar langkah-langkah sistematis keilmuan menurut John Dewey adalah metode berpikir reflektif (reflective thinking) yang terdiri dari mencari, merumuskan, dan mengidentifikasi masalah

  1. Menyusun kerangka pemikiran (logical construct).
  2. Merumuskan hipotesis (jawaban rasional terhadap masalah).
  3. Menguji hipotesis secara empirik.
  4. Melakukan pembahasan.
  5. Menarik kesimpulan.

Pembahasan

Pengertian Berpikir Reflektif


Berpikir reflektif (reflective thinking) merupakan bagian dari metode penelitan yang dikemukakan oleh John Dewey. Pendapat Dewey menyatakan bahwa pendidikan merupakan proses sosial dimana anggota masyarakat yang belum matang (terutama anak-anak) diajak ikut berpartisipasi dalam masyarakat. Tujuan pendidikan adalah memberikan kontribusi dalam perkembangan pribadi dan sosial seseorang melalui pengalaman dan pemecahan masalah yang berlangsung secara reflektif (Reflective Thinking).

Menurut John Dewey metode reflektif di dalam memecahkan masalah, yaitu suatu proses berpikir aktif, hati-hati, yang dilandasi proses berpikir ke arah kesimpulan-kesimpulan yang definitif melalui lima langkah yaitu :

  1. Siswa mengenali masalah, masalah itu datang dari luar diri siswa itu sendiri.
  2. Selanjutnya siswa akan menyelidiki dan menganalisa kesulitannya dan menentukan masalah yang dihadapinya.
  3. Lalu dia menghubungkan uraian-uraian hasil analisisnya itu atau satu sama lain, dan mengumpulkan berbagai kemungkinan guna memecahkan masalah tersebut. Dalam bertindak ia dipimpin oleh pengalamannya sendiri.
  4. Kemudian ia menimbang kemungkinan jawaban atau hipotesis dengan akibatnya masing-masing.
  5. Selajutnya ia mencoba mempraktekkan salah satu kemungkinan pemecahan yang dipandangnya terbaik. Hasilnya akan membuktikan betul-tidaknya pemecahan masalah itu. Bilamana pemecahan masalah itu salah atau kurang tepat, maka akan di cobanya kemungkinan yang lain sampai ditemukan pemecahan masalah yang tepat.

Konsep reflektif dari John Dewey berkenaan dengan kemampuan berfikir reflektif dan bersikap reflektif. Kemampuan berfikir reflektif terdiri atas lima komponen yaitu: 

  1. recognize or felt difficulty/problem, merasakan dan mengidentifikasikan masalah;
    1. location and definition of the problem, membatasi dan merumuskan masalah;
    2. suggestion of posible solution, mengajukan beberapa kemungkinan alternatif solusi pemecahan masalah;
    3. rational elaboration of an idea, mengembangkan ide untuk memecahkan masalah dengan cara mengumpulkan data yang dibutuhkan;
    4. test and formation of conclusion, melakukan tes untuk menguji solusi pemecahan masalah dan menggunakannya sebagai bahan pertimbangan membuat kesimpulan.

Sikap reflektif yang tidak dapat dilepaskan dari kemampuan berfikir reflektif, dikembangkan berdasarkan konsep awal dari Dewey yang telah diperluas dan diaplikasikan oleh beberapa praktisi di bidang pendidikan guru.

Dalam artikel jurnal Teaching and Teacher Education (vol.12.no.1, Januari 1996), Helen L. Harrington cs mengemukakan dan mengembangkan tiga komponen sikap reflektif yaitu: 

  1. Openmindedness atau keterbukaan, sebagai refleksi mengenai apa yang diketahui, dalam pembelajaran ada tiga pola dasar yaitu pola berfokus pada guru, siswa, dan inklusif;
  2. Responsibility atau tanggung jawab, sebagai sikap moral dan komitmen profesional berkenaan dengan dampak pembelajaran pada siswa saja, siswa dan guru, serta siswa, guru dan orang lainnya;
  3. Wholeheartedness atau kesungguhan dalam bertindak dan melaksanakan tugas, dengan cara pembelajaran langsung guru, proses interaktif, dan proses interaktif yang kompleks.

Kemampuan berpikir reflektif terdiri dari kemampuan berpikir kritis dan berpikir kreatif sama seperti kemampuan berpikir lainnya.

A.      Berpikir Kritis

Krulik dan Rudnick (NCTM, 1999) mengemukakan bahwa yang termasuk berpikir kritis adalah berpikir yang menguji, mempertanyakan, menghubungkan, mengevaluasi semua aspek yang ada dalam suatu situasi ataupun suatu masalah. Sebagai contoh, ketika seseorang sedang membaca suatu naskah ataupun mendengarkan suatu ungkapan atau penjelasan ia akan berusaha memahami dan coba menemukan atau mendeteksi adanya hal-hal yang istimewa dan yang perlu ataupun yang penting.

Demikian juga dari suatu data ataupun informasi ia akan dapat membuat kesimpulan yang tepat dan benar sekaligus melihat adanya kontradiksi ataupun ada tidaknya konsistensi atau kejanggalan dalam informasi itu. Jadi dalam berpikir kritis itu orang menganalisis dan merefleksikan hasil berpikirnya. Tentu diperlukan adanya suatu observasi yang jelas serta aktifitas eksplorasi, dan inkuiri agar terkumpul informasi yang akurat yang membuatnya mudah melihat ada atau tidak ada suatu keteraturan ataupun sesuatu yang mencolok.

Menurut Ennis (1996), berpikir kritis sesungguhnya adalah suatu proses berpikir yang terjadi pada seseorang serta bertujuan untuk membuat keputusan-keputusan yang masuk akal mengenai sesuatu yang dapat ia yakini kebenarannya serta yang akan dilakukan nanti. Seseorang pada suatu saat tertentu akan selalu harus membuat keputusan, oleh karena itu kemampuan berpikir kritis harus dikembangkan, terutama ketika dalam membuat keputusan itu ia sedang berhadapan dengan suatu situasi kritis, terdesak oleh waktu serta apa yang dihadapi itu tidaklah begitu jelas dan rumit. Hal ini biasanya terjadi jika seseorang dihadapkan pada beberapa pilihan keputusan yang mungkin, dan dia harus memilih manakah yang terbaik dari sekian pilihan tersebut.

Demikian juga dalam hal berpikir kritis, keputusan yang akan diambil itu haruslah didasarkan pada informasi yang akurat serta pemahaman yang jelas terhadap situasi yang dihadapi. Misalnya dalam membuat suatu keputusan dalam memilih suatu strategi atau suatu teorema dalam matematika untuk membuktikan suatu statemen untuk menghasilkan suatu kesimpulan yang benar, maka hal ini harus didasarkan pada informasi yang diketahui atau yang bersumber dari apa yang dketahui serta sifat-sifat matematika yang relevan dengan masalah yang dihadapi. Sebab, jika keputusan itu tidak didasarkan pada informasi serta asumsi yang benar, maka kesimpulan itu tidak memiliki dasar yang benar.

Ada enam unsur dasar yang perlu dipertimbangkan dalam berpikir kritis (Ennis, 1996), disingkat FRISCO, yaitu: fokus , alasan, kesimpulan, situasi, kejelasan dan pemeriksaan secara keseluruhan. Jika keseluruhan unsur ini telah dipertimbangkan secara matang maka orang dapat membuat keputusan yang tepat. 

B. Berpikir Kreatif

Berpikir kreatif adalah suatu kemampuan berpikir yang berawal dari adanya kepekaan terhadap situasi yang yang sedang dihadapi, bahwa di dalam situasi itu terlihat atau teridentifikasi adanya masalah yang ingin atau harus diselesaikan. Selanjutnya ada unsur originalitas gagasan yang muncul dalam benak seseorang terkait dengan apa yang teridentifikasi.

Hasil yang dimunculkan dari berpikir kreatif itu sesungguhnya merupakan suatu yang baru bagi yang bersangkutan serta merupakan sesuatu yang berbeda dari yang biasanya dia lakukan. Untuk mencapai hal ini orang harus melakukan sesuatu terhadap permasalahan yang dihadapi, dan tidak tinggal diam saja menunggu.

Dalam keadaan yang ideal, manakala siswa dihadapkan (oleh guru) pada suatu situasi, siswa diminta untuk melakukan suatu observasi, eksplorasi, dengan menggunakan intuisi serta pengalaman belajar yang mereka miliki, dengan hanya sedikit panduan atau tanpa bantuan guru (Sobel, dan Maletsky, 1988). Tetapi pendekatan seperti ini khususnya tidak hanya cocok bagi siswa yang pandai, namun memberikan suatu pengalaman yang diperlukan bagi mereka di kemudian hari dalam melakukan penelitian.

Berpikir kreatif juga nampak dalam bentuk kemampuan untuk menemukan hubungan-hubungan yang baru, serta memandang sesuatu dari sudut pandang yang berbeda dari yang biasanya (Evans, 1999).

Evans (1991) mengemukakan bahwa berpikir kreatif terdeteksi dalam empat bentuk yaitu : kepekaan (sensitivity), kelancaran (fluency), keluwesan (flexibiliy), dan keaslian (originality).Berkaitan dengan kepekaan, keaslian, kelenturan serta kelancaran dalam proses berpikir yang melahirkan gagasan (kreatif) dipandang perlu adanya suatu tindakan lanjut untuk membenahi serta menata dengan baik atau teratur dan rinci apa yang telah dihasilkan. Hal ini perlu dilaksanakan agar individu tidak kehilangan momentum dalam suasana belajar, terutama sebelum ia sempat lupa akan ide-ide yang bagus yang muncul. Penantaan yang teratur dan rinci ini membuka kesempatan padanya untuk sewaktu-waktu dapat mengulangi atau membaca serta mengkaji kembali apa yang ia hasilkan

Proses berpikir refleksi ini pernah diperkenalkan oleh John Dewey. Ia mengemukakan proses berpikir tersebut melalui langkah-langkah, berikut ini:

  1. The felt need, yaitu suatu kebutuhan
  2. The problem, yaitu menetapkan masalah
  3. The hyphothesis, yaitu menyusun hipotesis
  4. Collection of data as avidance, yaitu merekam data untuk pembuktian
  5. Concluding belief, yaitu membuat kesimpulan yang diyakini kebenarannya
  6. General value the conclusion, yaitu memformulasikan kesimpulan secara umum

John Dewey dalam menerapkan konsep pragmatisme secara eksperimental dalam memecahkan masalah dengan 5 langkah utama yaitu: 

1.   Adanya suatu kesulitan yang dirasakan.

Kesulitan mungkin dirasakan dengan adanya kepastian yang memadai, sehingga hal ini menyebabkan akal budi memikirkan pemecahannya yang mungkin atau menimbulkan kegelisahan atau kejutan yang tidak jelas sehingga baru kemudian mencetuskan upaya yang pasti untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Pada langkah ini pebelajar mempunyai pengalaman langsung dari keterlibatannya artinya dalam tahap ini, pebelajar merasakan adanya permasalahan setelah mengalami langsung situasi belajar.

2.    Menentukan letak dan batas kesulitan

Langkah ini menuntun pebelajar untuk berfikir kritis yang terkendali dan pemikiran yang tidak terkendali. Berdasarkan pengalaman pada langkah pertama tersebut pebelajar mempunyai masalah khusus yang merangsang pikirannya, dalam langkah ini pebelajar mencermati permasalahan dan timbul upaya mempertajam masalah sampai pada menentukan faktor-faktor yang diduga menyebabkan timbulnya masalah.

3.    Saran pemecahan yang mungkin

Pebelajar mempunyai atau mencari informasi yang diperlukan untuk memecahkan masalah tersebut, dalam langkah ini pebelajar memikirkan dan merumuskan penyelesaian masalah dengan mengumpulkan data-data pendukung.

4.   Pengembangan melalui penalaran dari langkah ketiga

Pada langkah ini pebelajar mengembangkan berbagai kemungkinan dan solusi tentatif untuk memecahkan masalah, pebelajar berusaha untuk mengadakan penyelesaian masalah dengan memunculkan hipotesis penyelesaian masalah.

5.   Melakukan pengamatan dan percobaan lebih lanjut

Pada langkah kelima mengarahkan pada penerimaan atau penolakan kesimpulan mengenai keyakinan atau kesangsian. Artinya pebelajar menguji kemungkinan dengan jalan menerapkannya untuk memecahkan masalah sehingga pebelajar menemukan sendiri keabsahan temuannya, pebelajar mencoba menyelesaikan permasalahan dengan menguji hipotesis yang sudah disusunnya dan kemudian menarik kesimpulan. Menguji hipotesis dilakukan dengan eksperimen, pengujian dan perekaman data di lapangan. Data-data dihubungkan satu dengan yang lain agar nantinya ditemukan keterkaitan antar data tersebut dengan melakukan analisis. Berdasarkan analisis data tersebut kemudian ditarik kesimpulan yang mendukung atau menolak hipotesis (Yusufhadi, 2005 :129).


Dari langkah di atas, Dewey berusaha menyusun suatu teori yang logis dan tepat berdasarkan konsep, pertimbangan, penyimpulan dalam bentuknya yang beraneka ragam, dalam arti alternatif. Menurutnya apa yang dikatakan benar adalah apa yang pada akhirnya disetujui oleh semua orang yang menyelidikinya. Jadi menurut Dewey, kesimpulan penelitian yang dihasilkan haruslah berlaku secara umum tidak hanya untuk kasus tertentu saja.

Kegiatan berpikir timbul karena adanya gangguan terhadap situasi yang menimbulkan masalah bagi manusia (langkah 1,2) untuk memecahkannya disusun hipotesis sebagai bimbingan bagi tindakan berikutnya. Dewey menegaskan bahwa berpikir ilmiah merupakan alat untuk memecahkan masalah, yang kemudian disebut metode ilmiah. Metode ilmiah tersebut oleh Dewey disebut dengan reflective thinking. Langkah-langkah metode ilmiah menurut Nana (2007) adalah sebagai berikut:

  1. Mengidentifikasi masalah
  2. Merumuskan dan membatasi masalah
  3. Menyusun hipotesis
  4. Mengumpulkan dan menganalisis data
  5. Menguji hipotesis dan menarik kesimpulan

Hubungan antara Filasafat Ilmu dengan Berpikir Reflektif

Menurut Endang Komara (2010) dalam Endang Komara’s Blog menyatakan bahwa hubungan antara filsafat ilmu dengan metode penelitian yang didalamnya terdapat urutan berpikir reflektif  adalah filsafat ilmu menjelaskan tentang duduk perkara ilmu atau science itu, apa yang menjadi landasan asumsinya, bagaimana logikanya (doktrin netralistik etik), apa hasil-hasil empirik yang dicapainya, serta batas-batas kemampuannya. Sedangkan Metodologi penelitian menjelaskan tentang upaya pengembangan ilmu berdasarkan tradisi-tradisinya, yang terdiri dari dua bagian, yaitu deduktif maupun induktif. Demikian pula tentang hasil-hasil yang dicapai, yang disebut pengetahuan atau knowledge, baik yang bersifat deskriptif (kualitatif dan kuantitatif) maupun yang bersifat hubungan (proporsi tingkat rendah, proporsi tingkat tinggi, dan hukum-hukum).

Filsafat ilmu maupun metodologi penelitian bersifat mengisi dan memperluas cakrawala kognitif tentang apa yang disebut ilmu, yang diharapkan akan menimbulkan pengertian untuk berdisiplin dalam berkarya ilmiah, sekaligus meningkatkan motivasi sebagai ilmuwan untuk melaksanakan tugas secara sungguh-sungguh.

Filsafat Ilmu menurut Beerling (1988:1-4) adalah penyelidikan tentang ciri-ciri mengenai pengetahuan ilmiah dan cara-cara untuk memperoleh pengetahuan. Filsafat ilmua erat kaitannya dengan filsafat pengetahuan atau epistemologi, yang secara umum menyelidiki syarat-syarat serta bentuk-bentuk pengalaman manusia, juga mengenai logika dan metodologi.

Metode ilmiah merupakan prosedur atau langkah-langkah sistematis dalam mendapatkan pengetahuan ilmiah atau ilmu. Ilmu merupakan pengetahuan yang didapatkan melalui metode ilmiah. Metode adalah suatu prosedur atau cara untuk mengetahui sesuatu dengan langkah-langkah yang sistematis. Garis besar langkah-langkah sistematis keilmuan menurut Soetriono dan SRDm Rita Hanafie (2007:157) sebagai berikut:

  1. Mencari, merumuskan, dan mengidentifikasi masalah.
  2. Menyusun kerangka pemikiran (logical construct).
  3. Merumuskan hipotesis (jawaban rasional terhadap masalah)
  4. Menguji hipotesis secara empirik.
  5. Melakukan pembahasan.
  6. Menarik kesimpulan.

Tiga langkah pertama merupakan metode penelitian, sedangkan langkah-langkah selanjutnya bersifat teknis penelitian. Dengan demikian maka pelaksanaan penelitian menyangkut dua hal, yaitu hal metode dan hal teknis penelitian. Namun secara implisit metode dan teknik melarut di dalamnya.

1.  Mencari, Merumuskan Dan Mengidentifikasi Masalah.

Yaitu menetapkan masalah penelitian, apa yang dijadikan masalah penelitian dan apa obyeknya. Menyatakan obyek penelitian saja masih belum spesifik, baru menyatakan pada ruang lingkup mana penelitian akan bergerak. Sedangkan mengidentifikasi atau menyatakan masalah yang spesifik dilakukan dengan mengajukan pertanyaan penelitian (research question), yaitu pertanyaan yang belum dapat memberikan penjelasan (explanation) yang memuaskan berdasarkan teori (hukum atau dalil) yang ada.

Misalnya menurut teori dinyatakan bahwa tidak semua orang akan bersedia menerima suatu inovasi, sebab ada golongan penolak inovasi (laggard). Tetapi pada kenyataannya (faktual) terdapat inovasi yang mudah diterima sehingga tidak mungkin ada golongan yang menolaknya (laggard). Oleh karena itu pertanyaan penelitiannya dapat diidentifikasikan pada situasi mana atau pada kondisi mana tidak ada golongan laggard. Dengan mengidentifikasi situasi atau kondisi yang memungkinkan atau tidak memungkinkan secara lebih lanjut berarti telah merumuskan masalah penelitian.


Cara yang paling sederhana untuk menemukan pertanyaan penelitian (research question) adalah melalui data sekunder. Wujudnya berupa beberapa kemungkinan misalnya:

  • Melihat suatu proses dari perwujudan teori.
  • Melihat linkage dari proposisi suatu teori, kemudian bermaksud memperbaikinya.
  • Merisaukan keberlakuan suatu dalil atau model di tempat tertentu atau pada waktu tertentu.
  •  Melihat tingkat informative value dari teori yang telah ada. Kemudian bermaksud meningkatkannya.
  • Segala sesuatu yang tidak dapat dijelaskan dengan teori yang telah ada atau belum dapat dijelaskan secara sempurna.
2.   Menyusun Kerangka Pemikiran

Yaitu mengalirkan jalan pikiran menurut kerangka yang logis atau menurut logical construct. Hal ini tidak lain dari mendudukperkarakan masalah yang diteliti (diidentifikasi) dalam kerangka teoretis yang relevan dan mampu menangkap, menerangkan, serta menunjukkan perspektif terhadap masalah itu. Upaya ditujukan untuk menjawab atau menerangkan pertanyaan peneltian yang diidentifikasi.

Cara berpikir (nalar) kearah memperoleh jawaban terhadap masalah yang diidentifikasi ialah dengan penalaran deduktif. Cara penalaran deduktif ialah cara penalaran yang berangkat dari hal yang umum (general) kepada hal-hal yang khusus (spesifik). Hal-hal yang umum ilah teori/dalil/hukum, sedangkan hal yang bersifat khusus (spesifik) tida lain adalah masalah yang diidentifikasi.

3.   Merumuskan Hipotesis.

Hipotesis adalah kesimpulan yang diperoleh dari penyusunan kerangka pemikiran, berupa proposisi deduksi. Merumuskan berarti membentuk proposisi yang sesuai dengan kemungkinan-kemungkinan serta tingkat-tingkat kebenarannya. Bentuk-bentuk proposisi menurut tingkat keeratan hubungannya (linkage) serta nilai-nilai informasinya (informative value). Jika dikaji kembali kalimat-kalimat proposisi, baik berupa teori maupun hipotesis, ternyata kalimat-kalimat itu mengandung juga komponen, yaitu komponen antiseden, konsekuen, dan depedensi.

4.   Menguji hipotesis

Yaitu membandingkan atau menyesuaikan (matching) segala yang terkandung dalam hipotesis dengan data empirik. Pembandingan atau penyesuaian itu pada umumnya didasarkan pada pemikiran yang beranggapan bahwa di alam ini suatu peristiwa mungkin tidak terjadi secara tersendiri. Dengan kata lain, suatu sebab mungkin akan menimbulkan beberapa akibat, atau mungkin pula suatu akibat ditimbulkan oleh beberapa penyebab.

Pengujian hipotesis dalam penelitian mutakhir mempergunakan metode matematika/statistika, dengan mempergunakan rancangan uji hipotesis yang telah tersedia. Dengan kata lain, peneliti tinggal memilih rancangan uji mana yang tepat dengan hipotesisnya. Meskipun demikian jika peneliti tidak memahami sifat-sifat data/informasi (variabel) yang akan diukur maka akan sulit baginya untuk memilih rancangan uji statistik.

5.   Membahas Dan Menarik Kesimpulan.

Dalam membahas sudah termasuk pekerjaan interpretasi terhadap hal-hal yang ditemukan dalam penelitian. Dalam interpretasi, pikiran kita diarahkan pada dua titik pandang. Pertama, kerangka pemikiran yang telah disusun, bahkan ini harus merupakan frame of work pembahasan penelitian. Kedua, pandangan diarahkan ke depan, yaitu mengaitkan kepada variabel-variabel dari topic aktual. Pembahasan tidak lain adalah mencocokkan deduksi dalam kerangka pemikiran dengan induksi dari empiric (hasil pengujian hipotesis), atau pula kepada induksi yang diperoleh orang lain (hasil penelitian orang lain) yang relevan. Bagaimana hasil dari mencocokkan ini, apakah cocok (parallel atau analog), atau sebaliknya (bertentangan atau kontradiktif). Apabila ternyata bertentangan atau tidak cocok maka perlu dilacak di mana letak perbedaan atau pertentangan itu dan apa kemungkinan penyebabnya.

6.  Kesimpulan.

Kesimpulan penelitian adalah penemuan-penemuan dari hasil interpretasi dan pembahasan. Penemuan dari interpretasi dan pembahasan harus merupakan jawaban terhadap pertanyaan penelitian sebagai masalah, atau sebagai bukti dari penerimaan terhadap hipotesis yang diajukan. Pernyataan-pernyataan dalam kesimpulan dirumuskan dalam kalimat yang tegas dan padat, tersusun dari kata-kata yng baik dan pasti, sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan tafsiran yang berbeda (apa yang dimaksud oleh peneliti harus ditafsirkan sama oleh orang lian). Pernyataan tersusun sesuai dengan identifikasi masalah tahu dengan susunan hipotesisnya.

Manfaat Berpikir Reflektif dalam Filsafat Ilmu

Manusia berfikir karena sedang menghadapi masalah, masalah inilah yang menyebabkan manusia memusatkan perhatian dan tenggelam dalam berpikir untuk dapat menjawab dan mengatasi masalah tersebut, dari masalah yang paling sumir/ringan hingga masalah yang sangat “Sophisticated”/sangat muskil.

Kegiatan berpikir manusia pada dasarnya merupakan serangkaian gerak pemikiran tertentu yang akhirnya sampai pada sebuah kesimpulan yang berupa pengetahuan

.

Berpikir reflektif dalam filsafat ilmu bermanfaat dalam:

  1. Menemukan pertanyaan penelitian (research question) melalui data sekunder.
  2. Melihat suatu proses dari perwujudan teori
  3. Melihat linkage dari proposisi suatu teori, kemudian bermaksud memperbaikinya.tertentu.
  4. Melihat tingkat informative value dari teori yang telah ada. Kemudian bermaksud meningkatkannya.
  5. Menjelaskan segala sesuatu yang tidak dapat dijelaskan dengan teori yang telah ada atau belum dapat dijelaskan secara sempurna.
  6. Menyusun kerangka pemikiran yaitu mengalirkan jalan pikiran menurut kerangka yang logis atau menurut logical construct. Hal ini tidak lain dari mendudukperkarakan masalah yang diteliti (diidentifikasi) dalam kerangka teoretis yang relevan dan mampu menangkap, menerangkan, serta menunjukkan perspektif terhadap masalah itu. Upaya ditujukan untuk menjawab atau menerangkan pertanyaan peneltian yang diidentifikasi.

Kesimpulan

  1. Berpikir reflektf adalah merupakan bagian dari metode penelitan yang dikemukakan oleh John Dewey yaitu suatu proses berpikir aktif, hati-hati, yang dilandasi proses berpikir ke arah kesimpulan-kesimpulan yang definitif melalui lima langkah yaitu :

      a.      Menyusun kerangka pemikiran (logical construct)
      b.      Merumuskan hipotesis (jawaban rasional terhadap masalah).
      c.      Menguji hipotesis secara empirik.
      d.      Melakukan pembahasan.
      e.      Menarik kesimpulan. 

  • Hubungan antara Filsafat Ilmu dengan berpikir kreatif adalah hubungan antara filsafat ilmu dengan metode penelitian yang didalamnya terdapat urutan berpikir reflektif  adalah filsafat ilmu menjelaskan tentang duduk perkara ilmu atau science itu, apa yang menjadi landasan asumsinya, bagaimana logikanya (doktrin netralistik etik), apa hasil-hasil empirik yang dicapainya, serta batas-batas kemampuannya.

Sedangkan Metodologi penelitian menjelaskan tentang upaya pengembangan ilmu berdasarkan tradisi-tradisinya, yang terdiri dari dua bagian, yaitu deduktif maupun induktif yang didalamnya terdiri dari  menyusun kerangka pemikiran (logical construct), Merumuskan hipotesis (jawaban rasional terhadap masalah), Menguji hipotesis secara empirik, Melakukan pembahasan Menarik kesimpulan.

Daftar Pustaka


Anwar, Saeful. 2007. Filsafat Ilmu Al-Ghazali: Dimensi Ontologi dan Aksiologi. Bandung: Pustaka Setia.
Beerling. 1988. Filsafat Dewasa Ini. Terj. Hasan Amin. Jakarta: Balai Pustaka.Kattsof, Louis. 1987. Element of Pholosophy. Terj.Soemargono. Yogyakarta: Tiara Wacana.
 Endang_komara’s blog
Suriasumantri, Jujun S. 1986. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Soetriono dan SRDm Rita Hanafie. 2007. Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian. Yogyakarta: Andi

Ujian Proposal Tesis Jumal Ahmad


Tanggal 21 Januari 2019 menjadi hari bersejarah dimulainya perjuangan saya menyelesaikan Tesis di SPs UIN Jakarta dengan memulai langkah pertama yaitu Ujian Proposal Tesis.

Berikut ini informasi resmi dari SPs tentang hari, waktu dan peserta ujian proposal tesis, termasuk nama saya di urutan ke enam.

proposal tesis

Sebelum sidang proposal tesis, seringkali kita mengalami demam panggung. Hal ini disebabkan beberapa hal seperti, ketakutan karena belum menguasai materi dan teori atau kurang nyaman dengan kondisi ruangan.

Ketakutan ini bisa dilawan dengan menerapkan hal-hal sebaliknya yaitu, jangan berharap yang tidak-tidak, berlatih sidang di rumah atau di depan teman, menguasai teori, dan lawan ketakutan.

Beberapa pertanyaan yang sering ditanyakan penguji;

  1. Latar belakang masalah dan rumusan masalah.
  2. Relevansi teori dengan masalah penelitian.
  3. Kerangka konseptual.
  4. Metodologi penelitian.
  5. Penguasaan materi proposal.

Tips Menghadapi Ujian Proposal Tesis

  1. Siapkan Mental
  2. Siapkan Proposal Penelitian
  3. Siapkan Presentasi

Saya upload slide yang saya presentasikan di SlideShare dan saya sertakan di makalah ini. Sebenarnya masih banyak perbaikan yang saya buat setelah ujian proposal ini. Sengaja saya upload untuk disimpan dan agar mudah diakses kembali.

Berpikir Reflektif


Berpikir Reflektif

Generasi Z adalah generasi yang besar dengan internet. Internet telah menjadi bagian dan gaya hidupnya. Mereka melek teknologi, pengguna teknologi mobile, mudah mengadopsi dan mengadaptasi. Tugas-tugas pembelajaran dengan pertanyaan apa, kapan, dan bagaimana sudah tidak sesuai lagi dengan pembelajar generasi Z karena jawaban itu akan mudah diperoleh dengan hanya mengetik kata kunci di smartphone mereka. Tugas-tugas pembelajaran harus menuntut mereka berpikir reflektif dan sekaligus responsif terhadap teknologi.

Dalam KBBI, Berpikir adalah menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan dan memutuskan sesuatu; menimbang-nimbang dalam ingatan. Dalam Oxford Andvanced Learner’s Dictionary of Current English dijelaskan bahwa makna Reflektif adalah tending to think deeply about thing and capable of reflecting something, artinya bahwa berpikir reflektif adalah upaya atau kemampuan berpikir atau memikirkan sedalam-dalamnya mengenai atau tentang sesuatu.

Ada beberapa model berpikir dari yang simpel sampai kompleks; yaitu menghafal, pemikiran intuitif, pemikiran inovatif, pemikiran konseptual, pemikiran implementasi dan berpikir kritis atau disebut juga berpikir reflektif.

  1. Menghafal, mengambil informasi / pengetahuan yang telah direkam sebelumnya. Menghafal adalah kegiatan berpikir yang paling sederhana.
  2. Pemikiran intuitif, kemampuan untuk mengambil apa yang Anda rasakan atau rasakan sebagai kenyataan dan, tanpa pengetahuan atau bukti, secara tepat dijadikan keputusan akhir.
  3. Pemikiran inovatif, Menghasilkan ide-ide baru atau cara-cara baru untuk menciptakan kemungkinan dan peluang.
  4. Pemikiran konseptual, Kemampuan untuk menemukan koneksi atau pola antara ide-ide abstrak kemudian mengumpulkannya untuk membentuk gambaran yang lengkap.
  5. Pemikiran implementasi, Kemampuan untuk mengorganisasikan ide dan rencana dengan cara yang dilakukan secara efektif.
  6. Berpikir kritis, Proses mental untuk menganalisis situasi secara objektif dengan mengumpulkan informasi dari semua sumber yang mungkin, dan kemudian mengevaluasi aspek yang nyata dan tidak berwujud, serta implikasi dari setiap tindakan.

Berpikir reflektif adalah cara berpikir yang berbeda yang lebih maju daripada berpikir kritis. Berpikir kritis dan berpikir reflektif sering digunakan secara sinonim. Pemikiran reflektif, di sisi lain, adalah bagian dari proses berpikir kritis yang mengacu khusus pada proses menganalisis dan membuat penilaian tentang apa yang telah terjadi.

Dewey (1933) mengemukakan bahwa pemikiran reflektif adalah pertimbangan yang aktif, gigih, dan hati-hati terhadap suatu keyakinan atau bentuk pengetahuan yang diharapkan, dari dasar-dasar yang mendukung pengetahuan itu, dan kesimpulan lebih lanjut dari mana pengetahuan itu mengarah. Peserta didik menyadari dan mengontrol pembelajaran mereka dengan secara aktif berpartisipasi dalam pemikiran reflektif – menilai apa yang mereka ketahui, apa yang mereka perlu ketahui, dan bagaimana mereka menjembatani kesenjangan itu – selama situasi belajar.

Singkatnya, berpikir kritis melibatkan berbagai keterampilan berpikir yang mengarah pada hasil yang diinginkan dan pemikiran reflektif berfokus pada proses membuat penilaian tentang apa yang telah terjadi.

Namun, pemikiran reflektif adalah yang paling penting dalam mendorong pembelajaran selama situasi penyelesaian masalah yang kompleks karena memberikan siswa kesempatan untuk mundur dan berpikir tentang bagaimana mereka benar-benar memecahkan masalah dan bagaimana satu set strategi pemecahan masalah tertentu disesuaikan untuk mencapai tujuan mereka.

Bagi Dewey, berpikir adalah pemecahan masalah dan paradigmanya telah disebut dengan beragam; pemecahan masalah, berpikir kritis, berpikir reflektif, berpikir fungsional, pemikiran ilmiah, tindakan lengkap pemikiran dan metode kecerdasan – Tanner & Tanner, 2007: 57

Jika kita mengikuti Dewey, berpikir kritis dimotivasi oleh suatu masalah. Itu pasti masalah nyata, masalah siswa itu sendiri. Itu pasti masalah yang terkait dengan kehidupannya – dalam konteks mereka.

Pemikiran reflektif tidak hanya menyiratkan pemecahan masalah, tetapi juga mencakup, misalnya, merenungkan kebesaran Allah, apresiasi keagungan alam, merefleksikan perkembangan siswa di semua bidang kehidupan, penemuan sastra yang indah, meditasi Firman Tuhan, dll. Berpikir reflektif membantu menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik.

Metode pembelajaran yang dilakukan oleh guru cenderung didominasi metode tertentu, sehingga siswa pasif dalam proses pembelajaran. Guru hanya meningkatkan pengetahuan kognitif siswa dengan memberi hafalan-hafalan teori dari materi yang ada.

Dalam buku Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren Prof. Dr. Mastuhu, M.Ed menulis bahwa dunia pesantren dan pendidikan Islam umumnya masih cenderung menerapkan metode belajar dengan sistem hapalan, tanpa disertai dengan pengembangan wawasan, penalaran, dan kemampuan berfikir sistematik dan kritis. Akibatnya mereka hanya menjadi konsumen ilmu yang terkadang kurang relevan dengan zaman, dan tidak berani tampil sebagai produsen ilmu.

Prof. Dr. Mastuhu, M.Ed juga menyebutkan beberapa  masalah dalam pendidikan  umumnya dan pendidikan Islam pada khususnya. antara lain adalah pendidikan kita memetingkan produk final daripada proses, mengutamakan pengembangan pemikiran model “linear” daripada model “lateral”, mengutamakan pemikiran “reaktif” daripada “proaktif”. Pemikiran reaktif tidak pernah mampu keluar dari struktur kondisi dan aturan yang ada, sedang pemikiran “proaktif” mampu keluar dari struktur kondisi dan aturan itu dan selalu berupaya mencari jalan baru, berorientasi pada What to think dan bukan How to think.[1]

Banyak lembaga pendidikan yang belum melakukan analisa kritik terhadap apa yang sudah mereka lakukan, sehingga tidak merasakan kesalahan atau kekurangannya padahal itu sangat penting dalam perkembangan sistem pendidikan.

Menyelenggarakan pendidikan bermutu diperlukan kegiatan evaluasi diri yang dilaksanakan secara konsisten dalam periode-periode tertentu oleh institusi agar diketahui kelemahan, penyimpangan, kekuatan, dan peluang bisa diperbaiki.[2]

Pendidikan di Indonesia masih belum menanamkan afeksi (affection) dalam pembelajaran yaitu kemampuan untuk merasakan apa yang dipelajari di kelas yang kemudian direfleksikan dalam kehidupan sehari-hari.  Akibat dari kurangnya refleksi ini, kita melihat murid tidak merasakan apa yang mereka pelajari di kelas sebagai sesuatu yang bermanfaat untuk kehidupannya.

Pendidikan adalah menyiapkan bekal hidup manusia, agar  ia mampu menjalani kehidupannya masa kini sekaligus mampu mempersiapkan masa depannya. Kehidupan adalah realita yang bisa saja dipenuhi aneka masalah. Semua masalah itu harus dihadapi manusia; jika tidak, ia akan menumpuk sehingga beban hidupnya semakin berat.[3]

Maka pendidikan harus lebih banyak menjadi pendidikan kehidupan dan perbuatan daripada sekedar pendidikan hafalan dan ucapan.  sebagaimana pilar-pilar pendidikan UNESCO untuk membangun pendidikan bermartabat yaitu belajar untuk mengetahui (learning to know), belajar untuk melakukan pekerjaan (learning to do), belajar untuk hidup bersama satu sama lain secara kolaboratif, rukun dan damai (learning to live together), dan belajar untuk menjadi diri sendiri (learning to be). Para pakar di Indonesia menambahkan satu pilar, yakni belajar untuk mengabdi (learning to worship) kepada Yang Maha Kuasa. Keempat pilar dan satu pilar tersebut merupakan modal untuk membangun Indonesia seutuhnya yang memiliki kecerdasan tinggi dan berkepribadian luhur sehingga mampu membangun diri sendiri dan masyarakat yang bermartabat.[4]

Garin Nugroho ketika memberikan orasi budaya bertema “Pendidikan Karakter Kunci Kemajuan Bangsa” di Jakarta tanggal 3 Maret 2010 mengatakan bahwa saat ini dunia pendidikan Indonesia belum mampu mendorong pembangunan karakter bangsa. Hal ini disebabkan oleh ukuran-ukuran dalam pendidikan tidak dikembalikan pada karakter peserta didik, tapi dikembalikan kepada pasar. [5]

Senada dengan Prof. Dr. Mastuhu, M.Ed yang melihat kurangnya perhatian pemerintah kepada partai yang mengusunya daripada rakyat, beliau mengatakan ‘Loyalitas para pelaksana demokrasi terhadap rakyat kalah tinggi terhadap partai yang menghantarkannya ke kursi kekuasaan, sehingga dalam setiap kebijakan lebih menekankan kepada keuntungan golongannya bahkan menggunakan dismal science, yaitu cara pandang yang sempit dalam menyelesaikan suatu masalah.’[6]

Maka, saya bermaksud meneliti tentang Reflection dalam rencana tesis saya yaitu kemampuan untuk mengetahui kualitas diri sendiri, belajar dari yang lalu dan mampu mempernbaiki diri untuk masa depan yang lebih baik tanpa intervensi faktor eksternal (orang lain) dan  mengkaji tema ini dari sudut Islam yang dikaji dari Al-Quran dan Hadits  dan ilmu pengetahuan barat tentang pendidikan karakter.

Berpikir Reflektif dalam Alquran

Al-Quran telah menyampaikan metode pendidikan dan pembangunan karakter yang sempurna untuk menjadi  manusia yang mulia dan bertaqwa.[7] Hadits Nabi juga mengambarkan dengan jelas bagaimana praktek Nabi Muhammad SAW dalam membangun akhlak/karakter sesuai petunjuk Al-Quran.[8]

Salah satu Ayat Al-Quran yang menjadi landasan dalam Meta-Level Reflection adalah Al-Quran Surat Al-Hasyr : 18.

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan”.

Dalam sebuah hadits disebutkan siapa yang paling cerdas? Lalu Nabi Muhammad Saw menyebutkan adalah yang mampu menahan nafsunya dan mencari bekal untuk kehidupan setelah di dunia.

Orang yang cerdas adalah orang yang mampu menahan nafsunya dan meyiapkan bekal untuk kehidupan sesudah kematian. (HR. At-Tirmidzi dan Hakim)

Ayat dan hadits di atas menjadi pijakan dalam Meta-Level Reflection yaitu (1) mampu mengukur kekurangan diri sendiri, (2) mampu mengukur kelebihan diri sendiri, (3) belajar dari kesalahan dan dan (4) apa yang harus dilakukan ke depan (what I need, What I have to do), selanjutnya mengeluarkan komitmen (iltizamun nafsi) atau kemampuan mengikat diri dengan disiplin.

Anak didik belajar membaca kekurangan dan kelebihan dirinya sendiri. Sementara pendidikan saat ini, sekolah berlomba mencari anak didik, sementara karakter pribadi anak tidak dikembangkan, yang harus dibangun adalah kemampuan merefleksikan diri sendiri dan anak mampu hidup di kondisi terburuk sekalipun.

Perkembangan anak muncul dari faktor eksternal, secara formal seperti buku, nasehat guru, dan informal seperti aturan sekolah atau pesantren, disilpin-disiplin di sekolah atau pesantren. Tidak ada komitmen dalam diri anak sementara komitmen akan masuk jika timbul dari dalam diri (internal). Nilai-nilai luhur apapun yang ditanam pada diri anak seperti menghormati, tanggung jawab, integritas dan lain sebagainya tidak akan berhasil selama tidak ditanam dari diri anak (internal). Problematika saat ini adalah pejabat, pemimpin dan yang dipimpin tidak bisa mengoreksi kesalahan diri sendiri, tidak bisa menentukan masa depan mana yang harus dilakukan yang terbaikm karena tidak ada kemampuan membaca kekurangan diri sendiri, itulah yang harus diasah dalam pendidikan karakter yaitu Meta-Level Reflection.

….
https://twitter.com/JumalAhmad/status/1064845215356186626?s=19

[1] Prof. Dr. Mastuhu, M.Ed, Menuju Paradigma Baru Pendidikan Indonesia dalam buku Keluar dari Kemelut Pendidikan Nasional: Menjawab Tantangan Kualitas Sumberdaya Manusia Abad 21, PT. Internusa, Jakarta, cet. 1 Juni 1997, hal.80-82

[2] Immawati Muflichah, S.Ag, Review: Menata Ulang Sistem Pendidikan Nasional Dalam Abad 21 Prof. Dr. Mastuhu, M.Ed link http://sanaky.staff.uii.ac.id/2012/07/13/menata-ulang-pemikiran-sistem-pendidikan-nasional-dalam-abad-21/#_ftn10 (diakses 13 Juli 2017)

[3] Dr. Muhammad Muhammad Badri, Sentuhan Jiwa untuk Anak Kita, (Daun Publishing, Bekasi, 2015), hal.4

[4] Dr. Muhammad Yaumi, M. Hum., MA dan Dr. Nurdin Ibrahim, M.Pd, Pembelajaran Berbasis Kecerdasan Jamak (Multiple Intelligence), (Jakarta, Prenada Media Group, 2013), hal. 4

[5] Masnur Muslich, Pendidikan Karakter: Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional, (Jakarta, Bumi Aksara, Cet.V, 2015), hal.2

[6] Odink, Sistem Pendidikan Nasional Visioner oleh: Prof. Dr. Mastuhu, M.Ed link: https://odink.wordpress.com/2008/10/30/sistem-pendidikan-nasional-visioner-oleh-prof-dr-mastuhu-med/ (diakses tanggal 12 Juli 2017)

[7] Sayid Qutub, Manhaj Tarbiyah Islamiyah, (Mesir, Dar Shorok, cet. 14 th. 1993), hal.8

[8] Prof. Dr. Abdul Karim Bakkar, ‘Ashruna wal A’ish fii Zamanis Sya’b, (Damsyiq, Darul Qalam, Cet. 1, th. 200), hal. 209.

%d bloggers like this: