Sejarah Lahirnya Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)


Menurut Veithzal Rivai, Manajemen Berbasis Sekolah dipandangan sebagai alternatif dari pola umum pengoperasian sekolah yang selama ini memusatkan wewenang di kantor pusat dan daerah. Manajemen Berbasis Sekolah adalah strategi untuk meningkatkan pendidikan dengan mendelegasikan kewenangan pengambilan keputusan penting dari pusat dan daerah ke tingkat sekolah. Maka pada dasarnya, sistem MBS merupakan sistem manajemen di mana sekolah merupakan unit pengambilan keputusan penting tentang penyelenggaraan pendidikan secara mandiri dan MBS memberikan kesempatan pengendalian lebih besar bagi sekolah, guru, murid, dan orang tua atas proses pendidikan di sekolah mereka.[1]

Esensi pendidikan berbasis masyarakat sejalan dengan keputusan politik desentralisasi pemerintahan. Praksis ini dilegitimasi dalam undang-undang (UU) Nomor 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas yang menyebutkan bahwa “Pendidikan berbasis masyarakat adalah penyelenggaraan pendidikan berdasarkan kekhasan agama, sosial, budaya, aspirasi, dan potensi masyarakat sebagai perwujudan pendidikan dari, oleh, dan untuk masyarakat”. Frasa “potensi masyarakat” bermakna kemampuan masyarakat mendanai program-program pendidikan yang dibangunnya, serta kemampuan orang tua murid menanggung beban pembiayaan ketika mendaftarkan anaknya ke sekolah-sekolah tertentu.

Pasal 55 UU Sisdiknas mempertegas esensi pendidikan berbasis masyarakat ini.

  1. Pertama, masyarakat berhak menyelenggarakan pendidikan berbasis masyarakat pada pendidikan formal dan nonformal sesuai dengan kekhasan agama, lingkungan sosial, dan budaya untuk kepentingan masyarakat.
  2. Kedua, penyelenggara pendidikan berbasis masyarakat mengembangkan dan melaksanakan kurikulum dan evaluasi pendidikan, serta manajemen dan pendanaannya sesuai dengan SNP.
  3. Ketiga, dana penyelenggaraan pendidikan berbasis masyarakat dapat bersumber dari penyelenggara, masyarakat, pemerintah, pemerintah daerah dan/atau sumber lain yang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
  4. Keempat, lembaga pendidikan berbasis masyarakat dapat memperoleh bantuan teknis, subsidi dana, dan sumber daya lain secara adil dari pemerintah dan/atau pemerintah daerah.

Manajemen Berbasis Sekolah lahir di Amerika Serikat ketika para guru berjuang untuk memperbaiki nasibnya dengan dibentuknya Asosiasi Pendidikan Nasional (National Education Association, NEA) pada tahun 1857 M. Pada tahun 1887 guru-guru di New York membentuk sebuah asosiasi kepentingan bersama dan asosiasi yang sama didirikan di Chicago yang dipimpin oleh Margarette Harley. Pada tahun 1903 guru-guru Philadelphia membentuk organisasi Asosiasi Guru-Guru Philadelphia (Philadelphia Teachres Association). Melalui asosiasi ini para guru bangkit untuk meningkatkan martabat hidupnya dan memperoleh gaji lebih baik.

Di Atlanta, guru-guru membentuk Persatuan Guru-Guru Sekolah Negeri Atlanta untuk mengadapi tekanan dari Dewan Kota yang akhirnya memberikan dana lebih untuk pendidikan. Gerakan ini juga dilakukan oleh guru-guru lainnya yang dipelopori tokoh sosialis, Henry Linville, Jhon Dewey, dan Suffrajist Charlotte Perkins Gilman dan membentuk sebuah asosiasi yang berbicara lebih dari sekedar masalah-masalah ekonomi. Tujuannya memberi pilihan bagi guru dalam menentukan kebijakan sekolah (school policy) untuk memperoleh wakil di pentas pendidikan di New York, membantu masalah-masalah sekolah, membersihkan politik Amerika Serikat dari keputusan menyimpang, dan meningkatkan kebebasan diskusi publik dari masalah-masalah pendidikan.

Adapun di Indonesia, Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) baru secara sungguh-sungguh dimulai sejak tahun 1999/2000, yaitu dengan peluncuran dana bantuan yang disebut Bantuan Operasional Manajemen Mutu (BOMM). Dana bantuan ini disetor langsung ke rekening sekolah, tidak melalui alur birokrasi pendidikan di atasnya. Memasuki tahun 2003, dana BOMM dirubah namanya menjadi Dana Rintisan untuk Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) dan program ini dinilai sesuai dengan implementasi otonomi daerah di Indonesia.[2]

Manfaat penerapan MBS: (Kathleen, ERIC Diggest)

  1. Memungkinkan orang-orang yang berkompeten di sekolah untuk mengambil keputusan yang akan meningkatkan pembelajaran.
  2. Memberi peluang bagi seluruh anggota sekolah untuk terlibat dalam pengambilan keputusan penting.
  3. Mendorong munculnya kreativitas dalam merancang bangun program pembelajaran.
  4. Mengarahkan kembali sumber daya yang tersedia untuk mendukung tujuan yang dikembangkan di setiap sekolah.
  5. Menghasilkan rencana anggaran yang lebih realistik ketika orang tua dan guru makin menyadari keadaan keuangan sekolah, batasan pengeluaran, dan biaya program-program sekolah.
  6. Meningkatkan motivasi guru dan mengembangkan kepemimpinan baru di semua level.

Implementation of School-Based Management in Indonesia

by Georges Vernez, Rita Karam, Jeffery H. Marshall

This study provides a quantitative and qualitative status report on the implementation of school-based management (SBM) in Indonesia, identifies factors associated with the successful practices of SBM, and assesses SBM effects on student achievement eight years after its inception. The authors’ findings are based on face-to-face surveys of principals, teachers, school committee members, and parents; surveys of district staff; and a case study.

SBM required a major shift in how people think about schooling and a significant improvement in the capacity of principals, teachers, and the community to provide leadership, develop programmatic alternatives to meet local educational needs, and engage parents and the community in the governance of schools. Implementation of SBM so far has met with limited success.

Although most principals reported that they had the autonomy to make school decisions, they also said that they did not take advantage of it by making significant programmatic and instructional changes. Districts continued to strongly influence school policies and practices. School committee and parental involvement in school affairs was minimal. Both expressed an attitude of noninterference with school matters and deference to school staff. All school-level stakeholders said that they were not well prepared to provide effective leadership.

Improving implementation and the outcomes of SBM in Indonesia will require expanding principal, teacher, and school committee member capacity to implement SBM; increasing school staff ability to make operational and instructional changes; and developing district capacity to support schools and SBM.

Key Findings

  • School Autonomy Is Critical to Successful Implementation of School-Based Management
  • Most principals believed that they had autonomy over their school’s operational, budgetary, programmatic, and instructional decisions.
  • Many principals did not take advantage of this autonomy and routinely sought approval of their district supervisor or other district staff before making decisions.
  • Districts continue to exercise a great deal of influence on school-level policies and operations.
  • Principal Influence and Understanding of SBM Is Especially Critical
  • Principals, teachers, and school committee members had a poor understanding of school-based management (SBM).
  • More than half of principals reported that they either had not received any training in SBM in the past year or found it insufficient and were not well prepared to provide leadership.
  • Parental Influence over School Matters Is Lacking and School Funding Is Uneven
  • Community and parental participation in school affairs remains to be achieved.
  • Parents generally deferred to school staff on school matters.
  • The availability of discretionary resources differed greatly across schools, with some schools reporting receiving less funding per student than other schools.

Recommendations

  • Expand school committee, principal, and teacher capacity to implement school-based management (SBM).
  • Make it easier for school committee members to participate in SBM.
  • Upgrade the knowledge of school committee members.
  • Increase the authority of school committee members.
  • Upgrade principal and teacher capacity to implement SBM.
  • Provide leadership training.
  • Provide principal and teachers with professional development on effective SBM practices.
  • Broaden school autonomy.

Expand school committee, principal, and teacher capacity to implement school-based management (SBM).

  • Assess the need for and provide professional development and use the results to set training priorities.
  • Expand access to teaching aids.
  • Address resource disparities between schools.

Develop district capacity to support SBM.

  • Alter the role of districts to that of an enabler of change.
  • Expand district capacity to provide ongoing technical assistance.
  • Provide staff development to principals, teachers, and school committee members.

Sekian catatan kami, semoga bermanfaat dan menambah ilmu kita.

[1] Veitzal Rivai dkk, Islamic Quality Education Management, (…), hal. 18

[2] Sudarwan Danim, Otonomi Manajemen Sekolah, (Penerbit Alfabeta: Bandung, 2010), hal. 39 – 41

https://www.rand.org/pubs/monographs/MG1229.html

Iman, Taqwa dan Akhlak Mulia Sebagai Tujuan Pendidikan Nasional Menurut UUD 45


Ada beberapa tujuan pendidikan yang pernah muncul dalam sejarah! Plato sangat menekankan pendidikan untuk mewujudkan negara idealnya! Ia mengatakan bahwa tugas pendidikan adalah membebaskan dan memperbaharui; lepas dari belenggu ketidaktahuan dan ketidakbenaran.

Aristoteles mempunyai tujuan pendidikan yang mirip dengan Plato tetapi ia mengaitkannya dengan tujuan negara!

Ia mengatakan bahwa tujuan pendidikan haruslah sama dengan tujuan akhir dari pembentukan negara yang harus sama pula dengan sasaran utama pembuatan dan penyusunan hukum serta harus pula sama dengan tujuan utama konstitusi, yaitu kehidupan yang baik dan yang berbahagia (eudaimonia)

Pada era restorasi Meiji di Jepang tujuan pendidikan dibuat sinkron dengan tujuan negara, pendidikan dirancang untuk kepentingan negara.

Bagaimana Tujuan Pendidikan di Indonesia sesuai UUD 1945?

Pasal 31 Ayat 3 menyebutkan:

“Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta ahlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang.”

Pasal 31 ayat 5 menyebutkan;

“Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menunjang tinggi nilai!nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.”

Penjabaran UUD 1945 tentang pendidikan dituangkan dalam UUD No 20 Tahun 2003. Pasal 3 menyebutkan, “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreati, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

“keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia” dan “mencerdaskan kehidupan bangsa”. kalimat tersebut sangat jelas tertulis dalam Konstitusi kita (UUD 1945) yang merupakan hasil amandemen yang keempat UUD 1945 dan merupakan tujuan negara Indonesia dibentuk jauh berbeda dengan tujuan negara lainnya.

Hak warga negara untuk mendapatkan pendidikan tidak hanya sebatas kewajiban negara untuk menghormati dan melindungi tetapi menjadi kewajiban negara untuk memenuhi hak warga negara tersebut. Karena demikian pentingnya pendidikan bagi bangsa Indonesia, menyebabkan pendidikan tidak hanya semata-mata ditetapkan sebagai hak warga negara saja, bahkan UUD 1945 memandang perlu untuk menjadikan pendidikan dasar sebagai kewajiban warga negara.

Dari Undang-undang tersebut kita sudah dapat menyimpulkan bahwa sebenarnya target utama tujuan pendidikan Indonesia adalah ” meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia” , namun fakta yang terjadi saat ini yang kita saksikan adalah bagaimana anak-anak kita berlomba untuk menjadi pintar dengan cara instan.

Saat ini kita bisa melihat para orang tua begitu bangga apabila anaknya bisa fasih berbahasa inggris, pandai memainkan laptop, Ipad, pandai bermain gitar, piano, berenang dan kegiatan ekstra lainnya. Sementara sisi iman, ketakwaan dan akhlak tidak di isi dengan nilai-nilai agama yang kita anut.

Meskipun mayoritas agama di Indonesia adalah Islam tetapi pelajaran agama Islam hanya diberikan tidak lebih dari 2 jam setiap minggunya. Tidak ada pelajaran bahasa arab dan pelajaran Al Quran bagi para siswa yang belajar di sekolah negeri. Bagi orang tua yang ingin anaknya dapat pelajaran agama maka mau tidak mau harus menyekolahkan anaknya ke sekolah swasta atau sekolah plus Islami yang notabene biayanya sangat mahal sehingga hanya anak-anak yang orang tuanya mampu saja yang bisa bersekolah di sekolah tersebut.

Anggaran pendidikan yang sudah dicanangkan dalam konstitusi yaitu sebesar 20% dari APBN atau APBD ternyata tidak ditargetkan untuk mencapai tujuan utama pendidikan yaitu “meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia” , Pemerintah lebih bangga dengan upaya meningkatkan infrastruktur dan teknologi pendidikan dari pada mengejar kualitas akhlak mulia para siswa, sehingga pada akhirnya siswa Indonesia hanya pintar secara intelektual dan lahiriah tetapi mental dan iman serta akhlak rapuh.

Kita bisa melihat sekarang ini korupsi semakin merajalela, pelanggaran hukum semakin banyak, tawuran semakin menggelora, pornografi semakin merebak, narkoba dimana-mana dan anak-anak kita sudah menjadi generasi instan yang target utama dan cita-citanya adalah menjadi kaya raya dengan cara instan. Anak-anak kita dicetak menjadi generasi yang sangat hedonis dan materialistik sehingga sejak dini sudah diarahkan untuk menggapai cita-cita yang juga berbau materi. Sangat sedikit anak-anak yang bercita-cita untuk menjadi guru ngaji atau ustad karena adanya pemahaman yang dibenturkan dengan materi sehingga anak-anak bercita-cita untuk menjadi sesorang atau profesi yang secara materi berlimpah dan banyak.

Tentunya ini pekerjaan rumah buat kita semua, pekerjaan rumah yang harus dikerjakan secara beriringan antara keluarga dan Pemerintahan sekarang ini. Ada banyak solusi agar tujuan meningkatkan iman, takwa dan akhlak mulia tersebut dapat segera terealisasi, diantaranya dengan membuat kurikulum pendidikan yang lebih besar untuk peningkatan akhlak.

Mata pelajaran agama jamnya harus ditambah. Ada kelas khusus untuk baca Al Quran, Hadist dan bahasa arab khususnya bagi siswa muslim dan begitupun untuk siswa non muslim, sehingga anak-anak kita yang beragama Islam ketika shalat sudah paham dan fasih arti bacaan shalat dan arti Al quran dan banyak hal lain yang bisa disinkronkan agar tujuan pendidikan yaitu “meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia” dapat tercapai.

Upaya untuk melakukan revolusi mental terhadap bangsa kita yang dijadikan kampanye Presiden Jokowi tentunya harus dilakukan secara terstruktur (melibatkan semua struktur Pemerintahan), sistematis (dilakukan secara berjenjang dari mulai pendidikan terendah sampai tertunggi) dan masif (secara serentak dengan melibatkan semua elemen masyarakat).

Semoga Allah SWT membantu bangsa kita agar menjadi lebih baik dalam akhlak dan kepribadiannya.

Bangunlah jiwanya

Bangunlah Badannya

Sumber:

http://referensi.elsam.or.id/2014/11/uu-nomor-20-tahun-2003-tentang-sistem-pendidikan-nasional/

Kajian Malam Rabu di Insists

Mengenal Profil Dr. Abdulgani, MA


Diambil dari forum Aumni Fakultas Ekonomi UI – Pria kelahiran Buktittinggi 14 Maret 1943 ini kembali dipercaya masuk Garuda menjadi Komisaris Utama bersama Emirsyah Satar sebagai Dirut, Maret 2005. Bankir senior lulusan FE-UI 1969 yang dikenal bersih dan berintegritas tinggi, ini saat menjabat Dirut Garuda 1998-2002 berhasil menyelamatkan maskapai penerbangan terkemuka Indonesia itu dari ancaman keterpurukan.

Abdulgani mempunyai prinsip hidup berada di atas rata-rata agar sanggup bersaing dengan ratusan juta rakyat Indonesia lainnya. Kehadirannya di Garuda Indonesia tahun 1998 sesungguhnya bak mengulang saja peritiwa awal terjun sebagai bankir di Bank Dharma Ekonomi, yang kemudian berubah nama menjadi Bank Duta Ekonomi dan terakhir Bank Duta.

Abdulgani yang menyelesaikan pendidikan sekolah dasar di kota kelahiran Bukittinggi tahun 1956, lalu SMP di Jakarta tahun 1959, serta SMEA tahun 1962 juga di Jakarta, memasuki pendidikan tinggi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FE-UI) dan lulus tahun 1969. Lalu tahun 1970 pria ini menikah dengan Irama Sofia, adik kelasnya di FE-UI serta dikaruniai sepasang anak.

Abdulgani tercatat sebagai pegawai Bank Ekspor dan Impor antara tahun 1970 hingga 1972. Ia terpaksa harus meninggalkan Bank Eksim di tahun 1972 sebab sejak akhir tahun 1971 berstatus sebagai pegawai pinjaman dari Bank Eksim yang dipinjamkan melakukan penelitian pada bank swasta nasional Bank Dharma Ekonomi yang sedang dalam kesulitan kondisinya menurun.

Usai melakukan survey dan penelitian bank yang kemudian berganti nama menjadi Bank Duta Ekonomi (BDE) itu kembali kesulitan menemukan pemimpin yang cocok. Abdulgani yang semasa kuliah pernah melakukan tugas magang di People National Bank of Washington, Seattle, AS (1966) kembali dipinjam sebagai pemimpin untuk melakukan konsolidasi awal. Hingga ia selesai melakukan konsolidasi siapa bankir yang tepat didudukkan di Bank Duta Ekonomi masih saja belum ketemu. Maka tak pelak Abdulgani penyuka ukiran dan keramik ini pulalah yang diminta mengisi lowongan dimaksud. Akibatnya ia dibuat bingung memilih antara berkarir di Bank Eksim ataukah BDE yang masa depannya masih tak menentu.

Untuk mengakhiri kebimbangan bungsu dari delapan bersaudara ini menemui sahabat yang sudah dikenal baik Omar Abdalla, yang sedang menjabat Dirut Bank Dagang Negara. Ia dianjurkan menerima tawaran memimpin BDE dengan catatan, bankir muda berusia 28 tahun itu dalam dua tahun pertama sudah harus dapat menyimpulkan berhasil atau gagal bertugas.

Jadilah Abdulgani memimpin BDE sejak tahun 1972, sekaligus meninggalkan Bank Eksim dengan hanya mempertahankan delapan pegawai lama sebab tak punya dana membayar gaji. Sedangkan tenaga-tenaga muda yang pernah direkrut ada yang datang namun hanya bertahan satu dua hari lalu menghilang karena belum menemukan masa depan yang baik di BDE.

Namun keadaan semakin membaik saja. Pada 31 Desember 1984, dengan passiva Rp 392.173.052.000, BDE meraih laba sebelum dipotong pajak Rp 11.527.285.000.

Di Garuda Indonesia kisah sukses menyelamatkan Bank Duta berhasil diulang kembali oleh putra dari Haji Sainan seorang pengusaha kecil asal Bukittinggi. Abdulgani secara bijak menawarkan dua cara penyelamatan dari lilitan utang sebesar 1,8 miliar dolar AS. Yakni pilihan pertama meneruskan kegiatan operasional Garuda Indonesia, atau kedua mempailitkan perusahaan dengan konsekuensi Pemerintah segera mengeluarkan dana segar 800 juta dolar AS untuk membayar utang-utang Garuda.

Berdasarkan business plan yang disusun Pemerintah memilih pilihan pertama yakni melanjutkan operasional Garuda Indonesia. Untuk menyelesaikan utang senilai total 1,8 miliar dolar AS Presiden Habibie memutuskan mengambil alih pembayaran utang PT Garuda Indonesia kepada Bank Exim Amerika Serikat terkait penyewaan 11 pesawat tipe Boeing 737. Untuk pengambil-alihan utang tersebut pemerintahan mengeluarkan dana setiap tahun sebesar 62 juta dolar AS selama delapan tahun. Pengambil-alihan utang oleh Pemerintah bisa dianggap sebagai penyertaan modal pemerintah (PMP) yang baru ke dalam perusahaan.

Nah, karena urusan sewa pesawat diambil alih pemerintah Abdulgani tinggal konsentrasi menggunanakan dana-dana Garuda untuk membayar utang-utang lain yang sudah tertuang dalam Business Plan Garuda Indonesia. Seperti utang senilai 300 juta dollar AS hasil pembelian commercial paper beberapa tahun sebelumnya, yang pernah digunakan untuk menutupi cashflow perusahaan. Juga utang pada sejumlah bank milik pemerintah sebesar 170 juta dollar AS, serta utang lainnya kepada berbagai pemasok berjumlah 280 juta dollar.

Abdulgani berhasil membuktikan komitmennya sesuai business plan perusahaan. Pada satu semester pertama tahun 1999 flag carrier itu berhasil meraih laba kotor 507 miliar. Bahkan Garuda Indonesia pernah mendapatkan penghargaan sebagai maskapai penerbangan asing terbaik dari bandar udara internasional Schipol, Belanda.

Abdulgani mantan Ketua Senat FE-UI 1967-1969 yang turut aktif dalam perjuangan pendirian Orde Baru, bahkan bersama Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) pada Februari 1966 pernah menyelenggarakan Seminar Ekonomi dengan pembicara tokoh-tokoh ekonomi antara lain Frans Seda, Widjojo Nitisastro, Ali Wardhana, Sri Sultan Hamengkubuwono, dan Emil Salim, di tahun 2005 kembali diminta masuk ke Garuda Indonesia. Kepadanya diserahkan tugas penting baru sebagai Komisaris Utama bersama-sama dengan anggota komisaris lain Gunarni Soeworo (mantan Dirut Bank Niaga dan juga Ketua Perbanas sebagai komisaris independen), M Soeparno (mantan Dirut Garuda Indonesia), Bambang Wahyudi (peneliti LPEM-UI), Slamet Riyanto, dan Aries Mufti (direktur PT Permodalan Nasional Madani).

Kembalinya pria penggemar olah raga golf bertubuh sedang dengan tinggi 165 cm dan berat 59 kg ini bersamaan dengan pergantian sususunan direksi Garuda Indonesia dari Indra Setiawan kepada Emirsyah Sattar (mantan direktur keuangan Garuda Indonesia, terakhir menjabat Wakil Direktur Utama Bank Danamon). Abdulgani adalah penganut prinsip ahli di satu bidang agar bisa berada sedikit di atas manusia rata-rata. Sebab jika tidak demikian pemilik suara bariton ini menyebutkan dirinya akan sama saja dengan ratusan juta rakyat Indonesia lainnya. Prinsip berada di atas rata-rata sudah berkali-kali dibuktikan Abdulgani di berbagai ruang dan waktu pengabdian.

Putus kontrak Keluarga Cendana

Adalah Presiden BJ Habibie yang, begitu menggantikan posisi Pak Harto sejak 21 Mei 1998, sebulan kemudian menempatkan Robby Djohan bersama Abdulgani di posisi puncak PT Garuda Indonesia. Tugas keduanya menyelamatkan flag carrier kebanggaan itu dari ancaman keterpurukan akibat lilitan utang 1,8 miliar dolar AS. Robby bankir berpengalaman dan bereputasi agresif menjadi direktur utama �dicabut� dari Bank Niaga, sedangkan Abdulgani yang selalu hati-hati berbicara sebagai anggota direksi berasal dari Bank Duta.

Tak lama hanya enam bulan Robby Djohan kembali ke habitat asli sebagai bankir memimpin Bank Mandiri. Lalu Abdulgani yang kelahiran Bukittinggi 14 Maret 1943 sejak November 1998 diangkat menempati posisi puncak Direktur Utama. Misi masih sama menyelamatkan Garuda Indonesia dari ancaman keterpurukan yang, ketika itu kata Sofyan Djalil seorang staf ahli senior Kementerian Pembinaan BUMN, yang kemudian dipercaya menjadi Menteri Komunikasi dan Informasi Kabinet Indonesia Bersatu, menyebutkan Garuda sudah nyaris kolaps. Tahun 1998 saja kerugian Garuda akibat perbedaan kurs mencapai 46,4 jut adolar AS. Kerugian terbesar Garuda terjadi akibat nilai rupiah terhadap dolar AS jatuh sebab pendapatan Garuda dalam mata uang rupiah sedangkan pengeluaran dalam dolar AS.

Penempatan Abdulgani di posisi puncak, kata Ketua Komisi IV DPR RI ketika itu Burhanuddin Napitupulu terkait karena persoalan Garuda Indonesia adalah persoalan keuangan yang sangat kompleks sehingga jabatan dirut perlu diberikan kepada seorang bankir. Dan Abdulgani yang pernah menyelamatkan Bank Duta dari keterpurukan, Napitupulu memastikan integritas Abdulgani sebagai bankir senior dikenal bersih, terpercaya, dan mumpuni.

Salah satu langkah berani Abdulgani menyehatkan Garuda adalah memutus kontrak-kontrak bisnis dengan perusahaan-perusahaan yang terkait dengan keluarga Cendana. Abdulgani segera mereorganisasi secara sempurna rute-rute penerbangan domestik dan internasional. Ia juga memberdayakan sekaligus memberlakukan skema insentif terhadap karyawan. Skema langkah-langkah restrukturisasi sesuai business plan mulai diimplementasikan. Salah satunya menunjuk Deutchebank sebagai penasehat keuangan untuk merestrukturisasi utang senilai 1 miliar dolar AS ke para kreditor asing, dan menunjuk Lufthansa sebagai penasehat mengembangkan manajemen dan meningkatkan pelayanan penerbangan. Kita sedang mere-enjineering diri, kata Abdulgani singkat menjelaskan bentuk langkah-langkah pembenahannya.

Integritas dan bersihnya Abdulgani benar saja terbukti. Pada tanggal 23 Februari 2002 Abdulgani menghadap kuasa pemerintah selaku pemegang pemegang saham Garuda yakni Menteri Pembinaan BUMN Laksamana Sukardi. Jebolan (Master Degree-nya) dari University of Colorado, Boulder, AS (1998) serta Diploma Program dari The Economics Institute, Boulder, tahun yang sama, ini menyampaikan kepada Laksamana tugasnya menyelamatkan Garuda Indonesia sudah selesai. Komitmen awal mengantar Garuda menjadi lebih baik sudah selesai. Karena itu Abdulgani siap untuk mundur dan digantikan.

Abdulgani yang teguh pada komitmen pengunduran dirinya baru tiga bulan kemudian bersamaan pelantikan Dirut baru Indra Setiawan, pada 6 Mei 2002

Tentang KTSP: Permasalahan, Kelebihan, Kekurangan dan Tantangannya


Curriculum

Perubahan kurikulum di Indonesia hingga sampai pada KTSP  tahun 2006 dan Kurikulum 2013 yang sekarang digalakkan pemerintah menunjukkan kuatnya anggapan bahwa kegagalan penyelenggaraan pendidikan di Indonesia hanyalah disebabkan oleh kesalahan rancangan kurikulum.

Anggapan seperti itu telah mengabaikan faktor lain yang juga ikut mempengaruhi terjadinya kegagalan itu sendiri. Dalam beberapa literatur dijelaskan beberapa faktor yang dimaksud adalah:

  • Kompetensi guru dalam melaksanakan kurikulum
  • Ketidaktersediaan sarana dan prasarana sekolah
  • Kurangnya keterlibatan stakeholder
  • Tidak terciptanya kerjasama yang baik antara perguruan tinggi sebagai pencetak tenaga guru, pemerintah, dan sekolah
  • Sistem evaluasi dan standarisasi nasional dan daerah yang tidak akurat
  • Ketidakjelasan arah serta model pendidikan yang diselenggarakan.

KTSP singkatan dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan merupakan sebuah kurikulum yang dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan, potensi sekolah/daerah, karakteristik sekolah/daerah, sosial budaya masyarakat setempat dan karekteristik peserta didik.

Kemunculan KTSP merupakan suatu jawaban atas tuntutan masyarakat dan realita yang kini dihadapi pendidikan di Indonesia yang seolah mengalami masa suram akibat rendahnya mutu sistem pendidikan di Indonesia.

Menghadapi hal tersebut, perlu dilakukan penataan terhadap sistem pendidikan secara kaffah (menyeluruh), terutama berkaitan dengan kualitas pendidikan, serta relevansinya dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja, dalam hal ini perlu adanya perubahan sosial yang memberi arah bahwa pendidikan merupakan pendekatan dasar dalam proses perubahan itu.

Pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu dan relevansi serta efisiensi manajemen pendidikan. Pemerataan kesempatan pendidikan diwujudkan dalam program wajib belajar 9 tahun. Peningkatan mutu pendidikan diarahkan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia seutuhnya melalui olah hati, olah pikir, olah rasa dan olahraga agar memiliki daya saing dalam menghadapi tantangan global.

Peningkatan relevansi pendidikan dimaksudkan untuk menghasilkan lulusan yang sesuai dengan tuntutan kebutuhan berbasis potensi sumber daya alam Indonesia. Peningkatan efisiensi manajemen pendidikan dilakukan melalui penerapan manajemen berbasis sekolah dan pembaharuan pengelolaan pendidikan secara terencana, terarah, dan berkesinambungan.

Implementasi Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dijabarkan ke dalam sejumlah peraturan antara lain Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Peraturan Pemerintah ini memberikan arahan tentang perlunya disusun dan dilaksanakan delapan standar nasional pendidikan, yaitu:

  • (1)standar isi
  • (2)standar proses
  • (3)standar kompetensi lulusan
  • (4)standar pendidik dan tenaga kependidikan
  • (5)standar sarana dan prasarana
  • (6)standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan
  • (7)standar penilaian pendidikan.

Kurikulum dipahami sebagai seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu, maka dengan terbitnya Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005, pemerintah telah menggiring pelaku pendidikan untuk mengimplementasikan kurikulum dalam bentuk kurikulum tingkat satuan pendidikan, yaitu kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di setiap satuan pendidikan.

Continue reading

Metakognisi


Visual-Thinking2-1920x1080

Problematika di dalam dunia pendidikan saat ini sangatlah beragam salah satunya adalah masalah lemahnya proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran, siswa kurang didorong untuk mengembangkan kemampuan berpikirnya.

Proses pembelajaran di dalam kelas diarahkan kepada kemampuan siswa untuk menghafal informasi, kemudian siswa secara pasif menyerap struktur pengetahuan yang diberikan guru atau yang terdapat dalam buku pelajaran. Pemelajaran hanya sekedar penyampaian fakta, sehingga siswa tidak mampu mengaplikasikan pembelajaran yang ia terima kedalam kehidupan sehari-harinya.

Pada kurikulum 2006 fungsi dan tugas guru adalah sebagai fasilitator dalam kegiatan pembalajaran siswa, adapun peran guru dalam kurikulum 2013 adalah untuk mengedepankan kecerdasan kemandirian siswa. Perumus kurikulum 2013 mengatakan bahwa kurikulum yang sekarang ini lebih menekankan pada kemampuan siswa untuk bersikap mandiri dan tahu apa yang telah dipelajari, apa yang sedang dipelajari, dan apa yang harus dipelajari yang diistilahkan dengan Pengetahuan Metakognitif.

Narasumber Kurikulum 2013 memasukkan Metakognitif mengacu pada pendapat pakar pendidikan yang bernama Lorin W. Anderson dan David R. Krathwohl dalam bukunya A Taxonomy for Learning, Teaching, and Assessing: A Revision of Bloom’s Taxonomy of Education Objectives (Taksonomi untuk Pembelajaran, Pengajaran, dan Penilaian: Revisi Taksnomi Pendidikan Bloom) yang diterbitkan tahun 2001. Mereka memasukkan metakognitif sebagai salah satu jenis pengetahuan. Bahkan, menempatkan metakognitif pada urutan tertinggi di atas pengetahuan faktual, konseptual, dan prosedural.

Metakognisi adalah kemampuan manusia untuk mengendalikan atau pemantauan pikiran, kalau diterapkan dalam dunia pendidikan bahasa aplikasinya adalah kemampuan  peserta didik atau siswa dalam memonitor (mengawasi), merencanakan serta mengevaluasi sebuah proses pembelajaran.

Metakognisi merupakan pengetahuan tentang kognisi secara umum dan kesadaran serta pengetahuan tentang kemampuan kognitif diri sendiri. Jika teori metakognitif diterapkan maka seorang siswa diharapkan bisa bersikap mandiri dalam hal materi atau ilmu yang dipelajari, bersikap jujur terhadap kemampuan masing-masing diri baik kekurangan dan kelebihan yang dimiliki, dan berani mencoba perkara baru guna menggali pengetahuan dan meningkatkan kemampuannya.

Selain itu, siswa yang memiliki metakognisi berarti mengetahui macam-macam strategi untuk menyelesaikan tugas belajarnya, contohnya siswa yang memiliki kemampuan metakognisi bisa menggunakan bermacam strategi untuk memonitor pemahaman mereka saat membaca, siswa juga mengetahui kekuatan dan kelemahan mereka dalam membaca dan selanjutnya memunculkan motivasi diri untuk menyelesaikan tugas membacanya.

Metakognisi penting diajarkan kepada siswa mengingat masih banyak siswa yang lemah dalam penguasaan metakognisi. Padahal metakognisi bisa bermanfaat bagi siswa sampai ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi atau terjun ke masyarakat, dengan metakognisi mereka mempunyai bekal menghadapi dan memecahkan masalah yang dijumpainya.

Quote dari Larry Ferlazzo, yang konsen mengembangkan metakognisi siswa sangat menarik untuk kita cermati untuk mengembangkan metakognisi siswa.

Too-often-we-teach-2l8iyqs

Sumber: internet

 

Lebaran Anak Yatim, Mengusap Kepala Dan Mendoakan Anak


mengusap-kepala-anak-yatim

Nabi Muhammad Saw adalah nabi yang penyayang. Di tengah aktivitas beliau yang super sibuk seperti mengajar, dakwah dan berperang. Beliau masih menyempatkan waktu untuk berkumpul bersama anak kecil. Di antara yang beliau lakukan setiap bertemu anak kecil adalah mengusap kepala dan mendoakan mereka.

Mengusap kepala merupakan salah satu cara untuk menunjukkan kedekatan batin kepada anak sehingga anak merasa mendapatkan pengayoman dan kasih sayang dari orang tua. Hal ini sangat berarti untuk membesarkan hati mereka dan jauh lebih mahal daripada memberi harta dengan sikap kaku dan acuh tak acuh.

Doa yang dimohonkan oleh orang tua untuk anak dan didengar olehnya akan menjalin kedekatan hati dan keakraban antara anak dan orang tua.

Berikut ini beberapa hadits tentang mengusap kepala anak.

عن إدريس بن  محمد بن أنس بن فضالة بن محمد ، قال : حدثنا جدي ، عن أبيه ،  قال : ‘ قدم رسول الله صلى الله عليه وسلم المدينة ، وأنا ابن  أسبوعين ، فأتي بي إليه فمسح على رأسي ، وقال : ‘ سموه باسمي ،

Dari Idris bin Muhammad bin Anas bin Fadhalah bin Muhamad berkata: Telah menceritakan kepada kami kakekku dan ayahnya berkata: Rasulullah Saw datang ke Madinah dan aku baru berumur dua minggu, aku didatangkan kepada Nabi dan beliau mengusap kepalaku dan bersabda: “Berilah dia nama seperti namaku”. (Tahdzib Al-Atsar No 740)

عن سلمة بن وردان قال : رأيت أنس بن مالك يصافح الناس ، فسألني : من أنت ؟ فقلت : مولى لبني ليث ، فمسح على رأسي ثلاثا وقال : بارك الله فيك

Dari Salamah bin Wardan, ia berkata: “Saya melihat Anad bin Malik menjabat tangan orang-orang lalu dia bertanya kepadaku: ‘Siapa Engkau?’ Saya menjawab: ‘Bekas Budak Bani Laits’, Dia lalu mengusap kepalaku tiga kali dan berkata “Semoga Allah memberikan berkah kepadamu”. (HR. Bukhari)

عن يوسف بن عبد الله بن سلام قال : سماني رسول الله صلى الله عليه وسلم يوسف ، وأقعدني على حجره ، ومسح على رأسي

Dari Yusuf bin Abdullah bin Salam berkata: “Rasulullah Saw memberikan nama Yusuf kepadaku dan beliau mendudukkanku di atas pangkuannya dan mengusap usap kepalaku”. (HR. Bukhari)

عن إبراهيم بن مرزوق الثقفي قال : حدثني أبي – وكان لعبد الله بن الزبير فأخذه الحجاج منه – قال : كان عبد الله بن الزبير بعثني إلى أمه أسماء بنت أبي بكر ، فأخبرها بما يعاملهم حجاج ، وتدعو لي ، وتمسح رأسي ، وأنا يومئذ وصيف

Dari Ibrahim bin Marzuq Ats-Tsaqafi berkata: “Abdullah bin Zubair mengutusku pergi kepada ibunya, Asma’ binti Abu Bakar. Saya pun memberitahukan kepadanya perlakuakn Hajjaj kepada mereka. Dia (Asma’) mendoakan aku dan mengusap kepalaku. Saat itu saya seorang budak kecil”. (HR. Bukhari)

أن أم محمد بن حاطب أتت به النبي -صلى الله عليه وسلم- فقالت : “هذا محمد بن حاطب أول من سُمّي بك! فمسح على رأسه، ودعا له بالبركة” رواة مسلم

Diriwayatkan bahwa Ummu Muhammad bin Hatib mendatangi Nabi Muhammad Saw dan berkata: “Ini Muhammad bin Hatib yang pertama diberi nama seperti namamu! Maka Nabi mengusap kepalanya dan mendoakannya dengan keberkahan”. (HR. Muslim)

ابن عباس قال: مسح النبي -صلى الله عليه و سلم- رأسي ودعا لي بالحكمة

Ibnu Abbas berkata: “Nabi Saw mengusap kepalaku dan mendoakanku dengan hikmah”

بشير بن عقربة الجهني قال :أتى أبي إلى النبي -صلى الله عليه وسلم- فقال: من هذا معك يا عقربة ؟ فقال: ابني بحير! قال: ادنُ فدنوت حتى قعدت عن يمينه فمسح على رأسي بيده قال: ما اسمك؟ قلت: بحير! قال: لا, ولكنّ اسمك بشير

Basyir bin Aqrabah Al-Juhni berkata: “Ayahku mendatangi Nabi Saw, beliau bersabda: “Siapa yang bersamamu wahai Aqrabah? Dia menjawab: Anakku Buhair! Nabi bersabda: Dekatkan dia. Maka aku dekatkan sampai aku duduk di sebelah kanan beliau dan mengusap kepalaku dengan tangannya dan berkata: Siapa namamu? Aku menjawab: Buhair, Beliau bersabda: Bukan, namamu adalah Basyir”.

عن عمرو بن حريث قال: مرّ النبي -صلى الله عليه وسلم- بعبد الله بن جعفر وهو يلعب بالتراب, فقال: اللهم بارك له في تجارته

Dari Amru bin Harits berkata: Nabi Saw bertemu Abdullah bin Ja’far yang sedang bermain tanah, lalu beliau berdoa: ‘Ya Allah, berkahilah dalam perdagangannya”.

عن أنس قال: دعا لي رسول الله -صلى الله عليه وسلم- فقال : ا للهم أكثر ماله وولده وأطل حياته

Dari Anas berkata: Rasulullah Saw mendoakanku: “Ya Allah perbanyaklah harta dan anaknya dan panjangkan umurnya”.

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ الْخَلَاءَ فَوَضَعْتُ لَهُ وَضُوءًا قَالَ مَنْ وَضَعَ هَذَا فَأُخْبِرَ فَقَالَ اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

Dari Ibnu Abbas bahwa Nabi Saw pernah masuk ke tempat buang hajat. Ia (Ibnu Abbas) berkata: ‘Saya lalu membawakan untuk beliau tempat bersuci. Beliau bertanya: “Siapa yang melakukan ini disini? Lalu diberitahukan kepada Beliau (orang yang melakukannya), beliau berdoa: “Ya Allah, semoga anak itu Engkau jadikan orang yang faham benar urusan agamanya”. (HR. Bukhari)

 Mengusap Kepala Anak Yatim pada Bulan Muharram

Mengasihi anak yatim, menyantuni mereka, memberikan kebutuhan-kebutuhan mereka termasuk amal kebaikan yang baik untuk dikerjakan sebagai bentuk pemuliaan terhadapnya.

Namun ini dikerjakan secara umum, tanpa menghususkan keutamaannya secara fantastis dan hiperbolis dan hanya dikerjakan pada bulan itu saja.

Nabi pun memerintahkan kita untuk menyayangi anak yatim ketika berjumpa dengan mereka,  dekap dan usap kepalanya, karena bisa melembutkan hati dan mengobati kerasanya hati. Melembutkan hati bukan hanya di bulan Muharram saja tapi kapan saja selama masih hidup, karena hati selalu berbolal balik dan cenderung kepada maksiat.

ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲْ ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَ ﺃَﻥَّ ﺭَﺟُﻠًﺎ ﺷَﻜَﺎ ﺇِﻟَﻰ ﺭَﺳُﻮْﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻗَﺴْﻮَﺓَ ﻗَﻠْﺒِﻪِ، ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻟَﻪُ: ﺇِﻥْ ﺃَﺭَﺩْﺕَ ﺗَﻠْﻴِﻴْﻦَ ﻗَﻠْﺒِﻚَ ﻓَﺄَﻃْﻌِﻢِ ﺍﻟْﻤِﺴْﻜِﻴْﻦَ ﻭَﺍﻣْﺴَﺢْ ﺭَﺃْﺱَ ﺍﻟْﻴَﺘِﻴْﻢِ

Dari Abu Hurairah, bahwasanya ada seseorang yang mengeluhkan kerasnya hati kepada Rasulullah saw, lalu beliau berkata kepadanya: “Jika engkau ingin melembutkan hatimu, maka berilah makan kepada orang miskin dan usaplah kepala anak yatim.” (HR. Ahmad)

Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib ketika masih kecil dan yatim beliau menceritakan,

ﺛُﻢَّ ﻣَﺴَﺢَ ﻋَﻠَﻰ ﺭَﺃْﺳِﻲ ﺛَﻠَﺎﺛًﺎ ﻭَﻗَﺎﻝَ ﻛُﻠَّﻤَﺎ ﻣَﺴَﺢَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺍﺧْﻠُﻒْ ﺟَﻌْﻔَﺮًﺍ ﻓِﻲ ﻭَﻟَﺪِﻩِ

“ … Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap kepalaku sebanyak tiga kali. Setiap kali mengusap beliau berdoa:‘Ya Allah, jadikanlah pengganti Ja’far pada anaknya …“

Redaksi hadits yang biasa dipakai tentang mengusap kepala anak yatim:

وَمَنْ مَسَحَ عَلَى رَأْسِ يَتِيمٍ يَوْمَ عَاشُورَاءَ رُفِعَتْ لَهُ بِكُلِّ شَعْرَةٍ عَلَى رَأْسِهِ دَرَجَةً فِي الْجَنَّةِ

Dan siapa yang mengusap kepada anak yatim pada hari ‘Asyura maka dengan setiap rambutnya diangkat baginya satu derajat di surga.

Redaksi di atas diawali dengan beberapa keutamaan puasa hari ‘Asyura yang sangat fantastis, yakni siapa yang berpuasa hari ‘Asyura maka Allah mencatat  untuknya ibadah selama 60 tahun dengan puasa dan shalat malamnya, ia diberi pahala 10 ribu malaikat dan pahala 10 ribu orang mati syahid. Lalu disebutkan keutamaan puasa hari ‘Asyura yang pelakunya akan diberi pahala sebanyak tujuh langit. Sementara siapa yang memberi berbuka orang mukmin pada hari tersebut seolah-ola ia memberi makan seluru fakir miskin umat nabi Muhammad saw  dan mengeyangkan perut mereka.

Abu Hatim berkata: Ini adalah hadits batil yang tak memiliki sumber. Habib termasuk perawi yang suka memalsukan hadits atas nama orang-orang tsiqat (terpercaya). Haram menulis haditsnya kecuali sebagai menerangkan keburukannya.

Lebaran anak yatim diidentikkan dengan bulan Muharram, karena ada anjuran untuk mengusap kepala anak yatim pada tanggal 10 Muharram yang dikenal dengan hari Asyura. Mengusap kepada anak yatim adalah bahasa ungkapan untuk memberikan santunan dan bantuan kepada mereka.

Anjuran ini memang sangat masyhur dikenal di sebagian masyarakat dan merupakan salah satu diantara amaliyah lainnya seperti puasa, shalat, silaturrahim, menjenguk orang sakit, memakai celak mata, mandi, meluaskan belanja, menziarahi orang alim dan lainnya. Sebagaimana dituliskan dalam kitab I’anatut- Thalibin tentang anjuran amaliyah pada 10 Muharram.

Namun bila dillihat dari dasar pensyariatannya, para ulama hadits umumnya berpendapat bahwa hanya puasa saja yang punya landasan yang kuat dengan hadits-hadits shahih. Yang juga punya dalil adalah meluaskan belanja.

Sedangkan selebihnya hanya didukung oleh hadits-hadits dhaif bahkan sebagiannya maudhu’ dan mungkar. Sehingga tidak bisa diterima pensyariatannya oleh sebagian ulama.

Manfaat Mengusap Kepala Anak

Situs Laha Online menyebutkan sebuah hasil penelitian yang dilakukan oleh National Research Centre di Kairo tentang pengaruh mengusap kepala anak yatim dan mengusap anggota wudhu dengan tangan.

Dr. Neil Solo, mengatakan bahwa sentuhan adalah pengobatan paling efektif di dunia yang bisa memberikan pengaruh positif kepada dua belah pihak, Pemberi sentuh dan yang menerima sentuhan pada waktu yang sama. Daerah kepala adalah perangkat untuk berkomunikasi dengan saraf lain, didalamnya ada sistem saraf, otak di mana semua anggota diarahkan, otak menjadi kehormatan manusia.

Dr. Neil Solo menambahkan bahwa tangan kanan memiliki sinyal positif, ketika seseorang menempatkan tangan di atas kepala anak yatim, sedang terjadi hubungan antara keduanya. Menghapus fikiran negatif yang dibawa anak yatim, dan mengulangi mengusap beberapa kali mampu menghilangkan gelisah yatim dan memberikan keyakinan dan membuat tubuhnya rileks.

Dia menambahkan dengan mengatakan: Proses ini menimbulkan semacam pengobatan alami yang terjadi antara kedua individu. Keajaiban dari mengusap ini mampu mengaktifkan energi yang berbeda pada manusia, dan memberikan efek positif bagi kedua belah pihak, menunjukkan dampak signifikan dari tangan kanan dalam proses mengusap. selesai.

Mengusap kepala anak yatim bisa menghilangkan penyakit hati seperti hati yang keras. Orang yang sedang terserang penyakit hati harus diobati dengan sesuatu yang menjadi lawannya, sifat sombong diobati dengan tawadhu, sifat kikir diobati dengan dermawan, dan kerasnya hati diobati dengan sikap lembut dan kasih sayang.

Situs Asian Parent menyebutkan manfaat mengusap kepala pada bayi, bahwa Bayi bisa merasakan getaran kasih sayang itu dan merasa nyaman karenanya. Cara ini bisa Anda terapkan jika bayi sedang sulit tidur. Syaratnya, bayi harus dalam kondisi sehat dan kenyang. Suasana hati Anda juga harus tenang dan santai, agar bayi merasa betah dalam pangkuan Anda.

Video.

Penjelasan Buya Yahya tentang menyantuni Anak Yatim.

 Referensi:

Mendidik Melalui Sindiran


apa yang dilakukan anak-anak di masa depannya sebagian besar mengikuti orang tua

Setiap manusia mempunyai kelebihan dan kekurangan dan masing-masing mempunyai hati dan perasaan. Adakalanya tertawa dan adakalanya bersedih. Ada juga manusia yang mudah tersinggung dan sakit hati dan ada juga yang cuek bebek. Semuanya tergantung bagaimana menyikapinya.

Rasulullah saw bersabda, “Apa keinginan kaum yang mengatakan begini dan begitu? Sesungguhnya aku shalat dan tidur, aku berpuasa dan berbuka, dan aku pun menikahi wanita. Maka, barangsiapa yang tak senang dengan sunnahku berarti dia bukan golonganku”. (Shahihul Jami’ No.5448)

Sabda Nabi tersebut menyiratkan beberapa hal yang dapat kita jadikan acuan dalam mendidik anak.

  1. Mengatasi kesalahan anak didik melalui sindiran dapat menjaga wibawa anak di mata teman-temannya. Kita tidak perlu menunjukkan kesalahan yang telah dilakukannya karena boleh jadi hal itu akan membuatnya mengulangi kesalahannya sebagai protes dan pembangkangan.
  2. Berpura-pura tidak tahu terhadap kesalahan anak disertai sindiran tanpa menunjukkan dan menerangkan kesalahannya. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan kesempatan agar dia berintrospeksi atas perilakunya dan memperbaiki kesalahannya.
  3. Meluruskan kesalahan anak jangan dilakukan dengan cara menjatuhkan mentalnya karena dapat menimbulkan berbagai kelainan mental.
  4. Pendidik menyampaikan sindiran dengan tali kasih sayang dan tanpa menyebutkan kesalahan anak tersebut. Apakah enak jika menegur anak tanpa ada ikatan kasih sayang? Tentuk tidak.
  5. Jadilah pendidik yang mempunyai ikatan hati dari sudut ayah, kakak atau guru kepada muridnya. Bantulah dia, cintailah dia sebelum anda menegur kesalahannya. Temui dan peluklah anak didik dengan penuh cinta sebelum duduk mendengar penjelasan, insya Allah dia akan membuka hatinya untuk anda.
  6. Pendidik dapat meluruskan berbagai kekeliruan anak yang lainnya.

Hindari Sindiran Tajam dan Menyalahkan

Terkadang Orang tua dan pendidik menyalahkan dengan menggunakan sindiran tajam, mengejek atau bahkan menghina pada saat anak atau murid hendak menyampaikan maksudnya. Orang tua dan pendidik berlaku angkuh, ingin menunjukkan superiotas dan ingin agar anaknya tau bahwa dia lebih tua, bijak dan selalu benar.

Orang tua dan pendidik seperti ini sering memberikan pernyataan yang buruk seperti.

  • Apa kubilang! Ini pasti terjadi
  • Jika saja kamu dapat mendengarkan apa kata Ibu, pasti semuanya tidak akan terjadi.
  • Benarkan apa kataku!
  • Jangan bodoh! Cara itu tidak akan berhasil.

Kebanyakan orang tua tidak mendengarkan anak dengan niat untuk memahami mereka, melainkan untuk menjawab mereka. Maka orang tua biasanya kalau tidak memotong pembicaraan anak, pastilah mereka mempersiapkan kata-kata.

Tentu saja, hal ini akan menghalangi anak untuk menyerap perkataan mereka, karena orang tua menuntut anak seide dengan apa yang didiktekan orang tua kepadanya tanpa penjelasan apa pun!

Kepada orang tua dan pendidik, ada beberapa tips yang bisa dipraktikkan agar bisa lebih tenang dan penuh sadar mendengarkan anak.

  • Jangan tergesa-gesa mengutarakan pandangan anda; kendalikan emosi agar anda bisa menyimpan pendapat anda dan memilih waktu yang tepat.
  • Terbuka untuk menerima ide dan saran baru; cobalah berfikir dengan logika anak; cobalah keluar dari bingkai ide pribadi anda.
  • Pikirkan segala kemungkinan dan cobalah melihat persoalan secara utuh; belajarlah dari apa yang anda dengar dari anak anda.
  • Berhenti berfikir tentang apa yang anda inginkan dari anak anda; pusatkan perhatian anda pada apa yang bisa anda berikan kepada mereka.
  • Biarkan anak merasakan efek diam penuh sadar; ketika berbicara dengan mereka.
  • Ajarkan mereka melalui tindakan bahwa orang yang menyimak tidak kalah pentingnya dengan orang yang sedang berbicara.
  • Biarkan mereka memperbincangkan persoalan pribadi, keluhan, kekhawatiran dan tekanan batin mereka kepada anda.
  • Perhatikan dan dengarkan semua perkataan mereka dengan seksama, menyimak dengan penuh penghormatan adalah pujian sekaligus penghargaan terpenting yang bisa anda berikan kepadanya.
  • Simaklah baik baik dan jangan sampai teralihkan oleh pengaruh luar; baik itu telepon maupun interupsi interupsi lainnya.
  • Simaklah mereka tanpa memvonis, senantiasa bertanya kepada mereka dan meminta penjelasan mereka tentang hal itu.
  • Bukalah jalan bagi mereka untuk melanjutkan pembicaraan dan terus mengungkapkan segala persoalan dan perasaan mereka.
  • Di sela-sela pembicaraan itu, anda bisa mengenali gaya berpkir anak, juga bisa mengenal nilai-nilai sosial yang sedang menjadi trend di masyarakat. Di sela semua itu, anda pun bisa menelurkan ide bermanfaat karena tidak mustahil anda menemukan ide besar di selokan senda gurau.
  • Sementara perkataan anak mendorong anda untuk berbicara, tanyakanlah kepada diri anda, “Apakah kata kata saya akan mengubah budi pekerti mereka? Ataukah perkataan saya hanyalah ungkapan emosional dan ketidaksengajaan saja?

Demikian. Semoga bermanfaat.

Referensi:

  • 10 Kesalahan Orang Tua dalam Mendidik Anak, Kavin Steede, Ph.D
  • Tarbiyah Rasulullah, Najib Khalid Al-‘Amr
  • Human Touch, Dr. Muhammad Muhammad Badri
%d bloggers like this: