Analisis Fatwa MUI No. 53 Tahun 2014 tentang Hukuman Mati bagi Produsen, Bandar dan Pengedar Narkoba


Penyalahgunaan narkotika dan peredaran gelap narkotika merupakan permasalahan yang masih dihadapi oleh negara-negara di dunia termasuk Indonesia. Penyalahgunaan narkotika di luar kepentingan pelayanan kesehatan dan atau untuk pengembangan ilmu pengetahuan adalah perbuatan melawan hukum dan membahayakan keselamatan jiwa manusia.

Bahaya penyalahgunaan narkotika tidak terbatas pada diri pecandu, melainkan dapat menimbulkan gangguan terhadap tata kehidupan masyarakat yang bisa berdampak pada runtuhnya suatu bangsa dan tatanan masyarakat.

Berdasarkan hal tersebut guna meningkatkan upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana Narkotika, MUI mengeluarkan Fatwa MUI No. 53 Tahun 2014 tentang Hukuman Mati bagi Produsen, Bandar dan Pengedar Narkoba. Dikarenakan tidak ada teks yang jelas dalam Alqur’an maupun Hadits, maka dalam menetapkan keharaman narkotika, sebagian ulama mengqiyaskan narkotika dengan khamr, karena keduanya mempunyai persamaan illat yaitu sama-sama dapat menghilangkan akal dan dapat merusak badan. Dan pada kenyataannya efek  narkotika lebih dahsyat dibanding denggan khamr.

PDF

Link Terkait:

https://mui.or.id/wp-content/uploads/2017/02/Hukuman-Bagi-Produsen-Bandar-Pengedar-dan-Penyalahguna-Narkoba.pdf

https://www.republika.co.id/berita/nasional/hukum/15/05/07/nnyxv5-mui-fatwa-hukuman-mati-jadi-referensi-hukum-di-indonesia

https://www.nahimunkar.org/mui-negara-boleh-jatuhkan-hukuman-mati-bagi-bandar-narkoba/

Intervensi Agama dan Spiritual dalam Perawatan Kesehatan Mental: Tinjauan Sistematis dan Meta-Analisis dari Uji Klinis Terkontrol Acak


Agama, Spiritual dan Kesehatan Mental

Meskipun interkoneksi antara agama, spiritualitas dan praktek medis telah terjadi sepanjang sejarah, hanya dalam dekade terakhir literatur ilmiah telah menunjukkan peran penting dari religiusitas/spiritualitas (R/S) dalam kesehatan fisik dan mental pasien (Koenig et al. 2012) .

Namun, mendefinisikan konsep yang kompleks dan saling berhubungan seperti spiritualitas dan religiusitas tidaklah mudah karena tidak ada definisi universal yang diterima oleh peneliti (Cook, 2004). Sullivan (1993) mendefinisikan spiritualitas sebagai fitur individu dan unik yang menghubungkan diri dengan alam semesta dan orang lain, dan mungkin atau mungkin tidak termasuk keyakinan pada dewa.

Puchalski (2012) menggambarkan spiritualitas sebagai cara untuk menemukan makna dan tujuan hidup dengan menghubungkan diri manusia dengan yang suci. Selain itu, Koenig dkk. (2012) mendefinisikan spiritualitas sebagai ‘sesuatu yang dibedakan dari humanisme, nilai-nilai, moral, dan kesehatan mental, dengan hubungannya yang sakral, transenden’ dan agama itu ‘melibatkan keyakinan, praktik, dan ritual yang terkait dengan transenden, di mana transenden adalah Tuhan’.

Kurangnya konsensus ini menyebabkan kesulitan dalam membandingkan hasil antara studi (Lucchetti et al. 2013). Namun demikian, beberapa penelitian telah menunjukkan korelasi positif antara R/S dan pencegahan berbagai penyakit dengan bukti peningkatan kualitas hidup dan peningkatan kelangsungan hidup (Sawatzky et al. 2005; Chida et al. 2009).

Makalah yang berbeda telah melaporkan korelasi antara kehadiran agama yang lebih besar dan peningkatan kekebalan tubuh atau imunitas (Bormann & Carrico, 2009), tekanan darah rendah dan komplikasi jantung pada pasien pasca operasi (Lucchetti et al. 2011; Masters & Hooker, 2013) dan korelasi dengan remisi kanker (Ando et al. 2010; Ka’opua dkk. 2011).

Artikel lengkap: PDF

Sumber: Gonçalves, J. P. B., Lucchetti, G., Menezes, P. R., & Vallada, H. (2018). Religious and spiritual interventions in mental health care : a systematic review and meta-analysis of randomized controlled clinical trials, Psychological Medicine (2015), 45 : 2937–2949.

Penelitian Menunjukkan Iman Kepada Allah Memberikan Kebahagiaan dan Ketenangan


Tahun 2013, Stephen Cranney dari Univertas Pensilvania mengadakan penelitian tentang sejauh mana hubungan antara iman kepada Allah dan kebahagiaan. Hasilnya dia menemukan bahwa orang yang percaya kepada Tuhan lebih bahagia dan lebih punya kekuatan hidup daripada orang yang tidak percaya adanya Tuhan. Penelitian ini menjadi penting karena menolak pendapat Sigmund Freud yang mengatakan bahwa seseorang bisa saja hidup bahagian dan tenang tanpa percaya adanya Tuhan.

Tahun 2006, Andrew Clark dan Orsolya Lelkes dengan mengesampingkan penelitian ilmiah yang ada menyebutkan bahwa iman kepada Allah adalah cara paling singkat mendapatkan kebahagiaan. Dalam Muktamar Royal Economic Society yang diadakan tahun 2008, beberapa peneliti menyampaikan presentasi bahwa perilaku tidak ber-Tuhan (ateisme) membuat hidup tidak bahagia, berlawanan dengan keimaman yang memberikan manusia kebahagiaan dan kekuatan pada manusia.

Norenzayan dari Departemen Psikologi Universitas British of Columbia juga menemukan bahwa orang yang beriman lebih suka menolong, jujur dan banyak memberi.

Penelitian di atas sejalan dengan Al-Quran, Allah SWT telah berjanji bahwa orang yang beriman akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (97)

“Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepada kehidupan yang baik, dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih dari apa yang telah mereka kerjakan. (Qs. An-Nahl: 97).

Sumber:

Do People Who Believe in God Report More Meaning in Their Lives? The Existential Effects of Belief. Link https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3979581/

Religion makes people helpful and generous. Link: http://www.physorg.com/news142174482.html

Higher purpose: Study finds belief in God linked to having sense of purpose in life. Link: https://www.deseretnews.com/article/865588795/Higher-purpose-Study-finds-belief-in-God-linked-to-having-sense-of-purpose-in-life.html

علماء الغرب: الإيمان بالله يمنحك السعادة والاستقرار. Link: http://www.kaheel7.com/ar/index.php/2012-12-04-18-20-16/840-2013-01-19-00-38-03

Pengertian dan Cara Membentuk Mindset


Mindset adalah posisi atau pandangan mental seseorang yang mempengaruhi pendekatan orang tersebut dalam menghadapi suatu fenomena. Mindset terdiri dari seperangkat asumsi, metode, atau catatan yang dimiliki oleh seseorang atau kelompok yang tertanam dengan sangat kuat. Menurut Mulyadi (2007:71), mindset merupakan sikap mental mapan yang di bentuk melalui pendidikan, pengalaman dan prasangka.

Menurut Gunawan (2007:14), mindset adalah beliefs that affect somebody’s attitude; a set of beliefs orang a way of thinking that determine somebody’s behavior and outlook (kepercayaan-kepercayaan yang mempengaruhi sikap seseorang; sekumpulan kepercayaan atau suatu cara berpikir yang menentukan perilaku dan pandangan, sikap, dan masa depan seseorang).

Komponen Mindset

Mindset terdiri dari tiga komponen pokok (Carol S Dweck, 2006), yaitu:

a. Paradigma

Paradigma adalah cara yang digunakan oleh seseorang di dalam memandang sesuatu. Paradigma merupakan sistem keyakinan dasar atau cara memandang dunia yang membimbing peneliti tidak hanya dalam memilih metode tetapi juga cara-cara fundamental yang bersifat ontologis dan epistomologis.

Suatu paradigma dapat dipandang sebagai seperangkat kepercayaan dasar (atau yang berada di balik fisik yaitu meta-fisik) yang bersifat pokok atau prinsip utama. Suatu paradigma dapat dicirikan oleh respon terhadap tiga pertanyaan mendasar yaitu pertanyaan ontologi, epistomologi, dan metodologi (Guba, 1990:18).

b. Keyakinan Dasar

Keyakinan Dasar adalah kepercayaan yang dilekatkan oleh seseorang terhadap sesuatu. Jika kita mengerjakan sesuatu yang kita yakini, kita akan mengerjakan sepenuh hati. Keyakinan adalah suatu sikap yang ditunjukkan oleh manusia saat ia merasa cukup tahu dan menyimpulkan bahwa dirinya telah mencapai kebenaran. Karena keyakinan merupakan suatu sikap, maka keyakinan seseorang tidak selalu benar atau, keyakinan semata bukanlah jaminan kebenaran. Jika keyakinan tidak ada maka keraguan akan muncul, dan kesalahan akan sering kali menghalangi. keyakinan sangat penting dalam kehidupan seperti keyakinan dalam memeluk agama (Nova, 2011).

c. Nilai Dasar

Nilai Dasar adalah sikap, sifat, dan karakter yang dijunjung tinggi oleh seseorang, sehingga berdasarkan tersebut nilai-nilai tersebut seseorang dibatasi. Nilai atau value adalah kepercayaan atau keyakinan yang di praktekan dalam bentuk tingkah laku oleh orang dalam kehidupan sehari-hari. Terdapat 10 tipe nilai yang disebut sebegai motivational type of value yaitu: Power, achievement, hedonism, stimulation, self-direction, universalism, traditional, conformity, dan security.

Jenis-jenis Mindset

Carol Dweck (2006) menyatakan bahwa terdapat dua macam Mindset, yaitu:

a. Fixed Mindset (Mindset Tetap)

Mindset tetap (Fixed mindset) ini didasarkan pada kepercayaan bahwa kualitas-kualitas seseorang sudah ditetapkan. Jika seseorang memiliki sejumlah inteligensi tertentu, kepribadian tertentu, dan karakter moral tertentu.

Ciri-ciri dari orang dengan mindset tetap (fixed mindset) adalah sebagai berikut:

  1. Memiliki keyakinan bahwa inteligensi, bakat, sifat adalah sebagai fungsi hereditas/keturunan.
  2. Menghindari adanya tantangan.
  3. Mudah menyerah.
  4. Menganggap usaha tidak ada gunanya.
  5. Mengabaikan kritik.
  6. Merasa terancam dengan kesuksesan orang lain.

b. Growth Mindset (Mindset Berkembang)

Mindset berkembang (growth mindset) ini didasarkan pada kepercayaan bahwa kualitas-kualitas dasar seseorang adalah halhal yang dapat diolah melalui upaya-upaya tertentu. Meskipun manusia mungkin berbeda dalam segala hal, dalam bakat dan kemampuan awal, minat, atau temperamen setiap orang dapat berubah dan berkembang melalui perlakuan dan pengalaman.

Ciri-ciri dari orang dengan mindset berkembang (growth mindset) adalah sebagai berikut:

  1. Memiliki keyakinan bahwa intelegensi, bakat, dan sifat bukan merupakan fungsi. hereditas/keturunan.
  2. Menerima tantangan dan bersungguh-sungguh menjalankannya.
  3. Tetap berpandangan ke depan dari kegagalan
  4. Berpandangan positif terhadap usaha.
  5. Belajar dari kritik.
  6. Menemukan pelajaran dan mendapatkan inspirasi dari kesuksesan orang lain.

Cara Membentuk Mindset

Untuk membentuk mindset dapat dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Trendwatching. Pada tahap ini manajemen puncak melakukan pengamatan berbagai tren pemacu perubahan yang akan terjadi di masa depan. Terdapat empat pemacu perubahan yang berdampak terhadap lingkungan organisasi.
  2. Envisioning. Envisioning adalah kemampuan kita untuk menggambarkan dampak perubahan dalam lingkungan bisnis yang diakibatkan oleh berbagai pemacu perubahan yang telah di amati dalam trendwatching.
  3. Perumusan Paradigma. Oleh karena lingkungan organisasi di gambarkan karakteristiknya sebagai lingkungan di dalamnya customer, maka paradigma yang sesuai dengan lingkungan customer value strategy, suatu pandangan untuk bertumbuh di tentukan oleh kemampuan organisasi tersebut dalam menyediakan value terbaik bagi customer.
  4. Perumusan Mindset. Mindset terdiri dari tiga komponen: paradigma, keyakinan dasar dan nilai dasar. Oleh karena itu, dalam merumuskan mindset, setelah paradigma dirumuskan, kemudian dirumuskan keyakinan dasar dan nilai dasar yang sesuai dengan paradigma tersebut. Berdasarkan paradigma customer value strategy, kemudian dibangun customer value mindset dan berdasarkan paradigma pula continious improvement dibentuk dalam dua mindset: continious improvement mindset dan opportunity mindset.

Daftar Pustaka

  • Adi W. Gunawan. 2007. The Secret of Mindset. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
  • Mulyadi. 2007. Sistem Perencanaan dan Pengendalian Menejemen. Salemba Empat. Jakarta.
  • C. S. Dweck. 2006. Mindset: The New Psychology of Success. Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta.
  • Guba. Egon. 1990. The Paradigm DiaIog. London Sage.
  • Nova, Firsan. 2011. Crisis Public Relatons Bagaimana PR Menangani Krisis Perusahaan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Ditulis ulang dari kajianpustaka.com

Jangan Menyebarkan Gambar Sadis


Saat ini sedang ada krisis dan pembantaian di Rohingya. Biasanya banyak yang menginginkan melihat gambar korban. Namun saya menghimbau kepada seluruh aktifis blogger dan sosial media untuk tidak ikut-ikutan menyebarkan (mem-forward) gambar-gambar yang berdarah-darah dan sadis.

Sebuah penelitian psikologi menunjukkan bahwa seseorang justru menjadi bersikap sadis ketika melihat darah. Yang terjadi bukan simpati tetapi kemarahan yang lebih dekat dengan nafsu sadis. Daya nalar akan menurun ketika nafsu sadis lebih dikontrol oleh setan.

Pilihlah gambar yang menunjukkan kebiadaban sebuah perang, tetapi bukan tubuh yang tercabik-cabik. Bukan merahnya darah. Sebuah asap mengepul sudah mengena dihati. Hindarkan tontonan sadis pada anak-anak. Boleh saja memberikan bagaimana runtuhnya bangunan atau retaknya tanah akibat gempa. Tapi janganlah berlebihan.

Saya pun geram dengan kebiadaban pemerintah Myanmar. Tetapi kalau saja rekan-rekan setuju sebaiknya Blogger tidak ikut-ikutan menyebarkan kemarahan. Kemarahan bagaimanapun lebih tergiring oleh nafsu ketimbang ghiroh dalam membela kebenaran.

Mungkin banyak berita yang sifatnya benar dan sifatnya aspal (asli tapi palsu). Repotnya hal ini membuat keseluruhan berita dianggap sebagai hoax. Makanya lebih baik foto foto kejadian di Myanmar yg palsu agar tidak disertakan. Kegeraman umat Islam terhadap kejadian di Myanmar harus dapat dikendalikan. Namun juga jangan dikekang.

Banyak yang lalu sibuk bicara agar mengurusi Indonesia saja. Suatu hal yg baik. Namun sayangnya tidak konsisten. Pada saat ada berita bom bunuh diri di Perancis, Inggris, atau pembunuhan Hebdo, semua sibuk pasang tagar I am Charlie, I am France.

Sebaliknya umat muslimin juga harus lebih waspada. Banyak yg ingin negeri ini tidak rukun. Jadi harus benar benar mengelola informasi dengan baik. Termakan hoax adalah manusiawi. Siapa di era digital ini yg tidak termakan hoax? Makin kita melek internet, makin rentan kita memakan hoax.

Makanya tidak boleh emosional. Saring berita sebelum disebarkan.

Pancasila Kegagalan


  1. Kegagalan itu sebab-sebabnya tidak bisa dihitung dengan jari. Usaha kita bisa gagal karena ulah kita sendiri, ulah orang lain atau “ulah” perubahan yang variabelnya banyak.
  2. Kegagalan itu merupakan akibat dari usaha kita yang tidak bisa kita pilih. Kalau kita memiliki kemampuan untuk memilih, pastilah kita akan memilih keberhasilan.
  3. Kegagalan itu pernah menimpa seluruh umat manusia di dunia inj, baik dari kelompok manusia yang berprestasi tinggi di bidangnya atau orang yang berprestasi rendah.
  4. Kegagalan itu adalah materi yang menawarkan petunjuk atau kesempatan. Kalau kita memilih untuk menggunakan petunjuk itu sebagai penerang atau pembangkit, maka materi itu akan membawa kita pada kebangkitan, pencerahan, dan keberhasilan.
  5. Kegagalan yang menimpa kita pada hakikatnya tidak menentukan nasib langkah kita. Apa yang menentukan nasib langkah kita atau nasib usaha kita adalah apa yang kita lakukan setelah kegagalan menimpa kita.

Sumber: Tiada Musibah Tanpa Hikmah, AN. Ubaedy, 2008.

Paradigma Dan Pandangan Hidup Islam (Islamic Worldview)


Istilah paradigma tergolong sangat jarang digunakan dalam percakapan yang kita lakukan sehari – hari. Meskipun begitu, kita tetap harus mengetahui makna / arti kata paradigma yang sebenarnya, sehingga ketika istilah ini digunakan, kita dapat mengetahui apa makna / artinya.

Paradigma dalam disiplin intelektual adalah cara pandang orang terhadap diri dan lingkungannya yang akan mempengaruhinya dalam berpikir (kognitif), bersikap (afektif), dan bertingkah laku (konatif). Paradigma juga dapat berarti seperangkat asumsi, konsep, nilai, dan praktik yang di terapkan dalam memandang realitas dalam sebuah komunitas yang sama, khususnya, dalam disiplin intelektual.

Kata paradigma sendiri berasal dari abad pertengahan di Inggris yang merupakan kata serapan dari bahasa Latin pada tahun 1483 yaitu paradigma yang berarti suatu model atau pola; bahasa Yunani paradeigma (para+deiknunai) yang berarti untuk “membandingkan”, “bersebelahan” (para) dan memperlihatkan (deik).

Paradigma diartikan sebagai anggapan paling mendasar yang menentukan cara berfikir, cara mengandaikan dan cara bekerja penganut teori yang menggunakannya.

Istilah paradigma cenderung merujuk kepada dunia pola pikir atau pun teknis penyelesaian masalah yang dilakukan oleh manusia.

Istilah yang satu ini pertama kali diperkenalkan oleh seorang ilmuan bernama Thomas Kuhn melalui buku buatannya yang berjudul The Structure of Scientific Revolution.

Saat pertama kali diperkenalkan, istilah Paradigma tidak dijelaskan secara gamblang oleh Thomas Khun. Konsep ini kemudian dipopulerkan oleh Robert W Friedrichs dalam bukunya a sociology of sociology. Tujuan utama Kuhn dalam bukunya The Structure of Scientific Revolution adalah menantang asumsi yang berlaku umum dikalangan ilmuan mengenai perkembangan ilmu pengetahuan.

Kalangan ilmuan umumnya berpendirian bahwa perkembangan atau kemajuan ilmu pengetahuan terjadi secara kumulatif. Kuhn membuat tesis yang membantah itu, menurutnya ilmu pengetahuan bukanlah terjadi secara kumulatif tetapi secara revolusi.

Kuhn melihat bahwa ilmu pengetahuan pada waktu tertentu didominasi oleh satu paradigma tertentu. Yakni suatu pandangan yang mendasar tentang apa yang menjadi pokok persoalan (subject matter) dari satu cabang ilmu.

Pada waktu itu, paragima hanya diutarakan sebagai termonologi kunci yang dipakai dalam model perkembangan ilmu pengetahuan saja. Paradigma masuk dalam alam fisik/ science. Ketika ada gejala alam yang tidak bisa diterangkan oleh normal science maka timbul new science dan muncul paradigma baru dan terjadilah paradigm shift.

Wordlview berbeda dengan paradigma. Worldview lebih dalam dari paradigma. Prof Bambang Sugiharto menyamakan worldview dengan falsafah dan ideologi yaitu sistem gagasan dasar/pokok mengenai kehidupan yang dihayati sebagai pegangan.

Paradigma bisa berubah-ubah sementara worldview sifatnya tetap dan tidak akan pernah bisa berubah misalnya seperti kiblat, rukun iman, islam, solat lima waktu ini tidak bisa berubah.

Islamic Worldview adalah pandangan hidup Islam yang tidak berubah oleh ruang dan waktu. Ia merupakan usul Islam, muhkam Islam, tsawabit islam dan intipati Islam.

Termasuk dalam Wordlview adalah fisik, metafisik, kewujudan dan perbincangan tinggi dalan kalam. Metafisik dalam Islam banyak dibahas oleh mutakallim, filosof dan ahli tasawuf.

Fundamental element of Islamic Wordlview (unsur unsur mendasar dalam Wordlview islam: the nature of God (ma’rifatullah), the nature of revelation (wahyu), the nature of his creation (alam), the nature of man and his psychology of human soul (manusia dan psikologi jiwa manusia), the nature of knowledge (ilmu pengetahuan), the nature of religion (agama), the nature of freedom (kebebasan), the nature of value and virtues (nilai dan akhlak), the nature of happines (bahagia)

Pergeseran paradigma (shifting paradigm) tidak terjadi pada elemen fundamental worldview Islam. Namun yang berubah hanyalah interpretasi dan elaborasi di sekitar worldview yang mana adalah suatu keharusan karena berkembangnya zaman dan wilayah yang berbeda-beda namun tetap bersumber pada sumber yang tidak berubah, yaitu Al Qur’an dan Hadits.

*mohon maaf paparan kami belum lengkap, insya Allah akan terus dilengkapi.

Sumber:

Wikipedia/paradigma

Filsafat Ilmu, Bambang Sugiharto

Struktur Pemikiran Islam, Ugi Suharto

%d bloggers like this: