Pancasila Kegagalan


  1. Kegagalan itu sebab-sebabnya tidak bisa dihitung dengan jari. Usaha kita bisa gagal karena ulah kita sendiri, ulah orang lain atau “ulah” perubahan yang variabelnya banyak.
  2. Kegagalan itu merupakan akibat dari usaha kita yang tidak bisa kita pilih. Kalau kita memiliki kemampuan untuk memilih, pastilah kita akan memilih keberhasilan.
  3. Kegagalan itu pernah menimpa seluruh umat manusia di dunia inj, baik dari kelompok manusia yang berprestasi tinggi di bidangnya atau orang yang berprestasi rendah.
  4. Kegagalan itu adalah materi yang menawarkan petunjuk atau kesempatan. Kalau kita memilih untuk menggunakan petunjuk itu sebagai penerang atau pembangkit, maka materi itu akan membawa kita pada kebangkitan, pencerahan, dan keberhasilan.
  5. Kegagalan yang menimpa kita pada hakikatnya tidak menentukan nasib langkah kita. Apa yang menentukan nasib langkah kita atau nasib usaha kita adalah apa yang kita lakukan setelah kegagalan menimpa kita.

Sumber: Tiada Musibah Tanpa Hikmah, AN. Ubaedy, 2008.

Paradigma Dan Pandangan Hidup Islam (Islamic Worldview)


Istilah paradigma tergolong sangat jarang digunakan dalam percakapan yang kita lakukan sehari – hari. Meskipun begitu, kita tetap harus mengetahui makna / arti kata paradigma yang sebenarnya, sehingga ketika istilah ini digunakan, kita dapat mengetahui apa makna / artinya.

Paradigma dalam disiplin intelektual adalah cara pandang orang terhadap diri dan lingkungannya yang akan mempengaruhinya dalam berpikir (kognitif), bersikap (afektif), dan bertingkah laku (konatif). Paradigma juga dapat berarti seperangkat asumsi, konsep, nilai, dan praktik yang di terapkan dalam memandang realitas dalam sebuah komunitas yang sama, khususnya, dalam disiplin intelektual.

Kata paradigma sendiri berasal dari abad pertengahan di Inggris yang merupakan kata serapan dari bahasa Latin pada tahun 1483 yaitu paradigma yang berarti suatu model atau pola; bahasa Yunani paradeigma (para+deiknunai) yang berarti untuk “membandingkan”, “bersebelahan” (para) dan memperlihatkan (deik).

Paradigma diartikan sebagai anggapan paling mendasar yang menentukan cara berfikir, cara mengandaikan dan cara bekerja penganut teori yang menggunakannya.

Istilah paradigma cenderung merujuk kepada dunia pola pikir atau pun teknis penyelesaian masalah yang dilakukan oleh manusia.

Istilah yang satu ini pertama kali diperkenalkan oleh seorang ilmuan bernama Thomas Kuhn melalui buku buatannya yang berjudul The Structure of Scientific Revolution.

Saat pertama kali diperkenalkan, istilah Paradigma tidak dijelaskan secara gamblang oleh Thomas Khun. Konsep ini kemudian dipopulerkan oleh Robert W Friedrichs dalam bukunya a sociology of sociology. Tujuan utama Kuhn dalam bukunya The Structure of Scientific Revolution adalah menantang asumsi yang berlaku umum dikalangan ilmuan mengenai perkembangan ilmu pengetahuan.

Kalangan ilmuan umumnya berpendirian bahwa perkembangan atau kemajuan ilmu pengetahuan terjadi secara kumulatif. Kuhn membuat tesis yang membantah itu, menurutnya ilmu pengetahuan bukanlah terjadi secara kumulatif tetapi secara revolusi.

Kuhn melihat bahwa ilmu pengetahuan pada waktu tertentu didominasi oleh satu paradigma tertentu. Yakni suatu pandangan yang mendasar tentang apa yang menjadi pokok persoalan (subject matter) dari satu cabang ilmu.

Pada waktu itu, paragima hanya diutarakan sebagai termonologi kunci yang dipakai dalam model perkembangan ilmu pengetahuan saja. Paradigma masuk dalam alam fisik/ science. Ketika ada gejala alam yang tidak bisa diterangkan oleh normal science maka timbul new science dan muncul paradigma baru dan terjadilah paradigm shift.

Wordlview berbeda dengan paradigma. Worldview lebih dalam dari paradigma. Prof Bambang Sugiharto menyamakan worldview dengan falsafah dan ideologi yaitu sistem gagasan dasar/pokok mengenai kehidupan yang dihayati sebagai pegangan.

Paradigma bisa berubah-ubah sementara worldview sifatnya tetap dan tidak akan pernah bisa berubah misalnya seperti kiblat, rukun iman, islam, solat lima waktu ini tidak bisa berubah.

Islamic Worldview adalah pandangan hidup Islam yang tidak berubah oleh ruang dan waktu. Ia merupakan usul Islam, muhkam Islam, tsawabit islam dan intipati Islam.

Termasuk dalam Wordlview adalah fisik, metafisik, kewujudan dan perbincangan tinggi dalan kalam. Metafisik dalam Islam banyak dibahas oleh mutakallim, filosof dan ahli tasawuf.

Fundamental element of Islamic Wordlview (unsur unsur mendasar dalam Wordlview islam: the nature of God (ma’rifatullah), the nature of revelation (wahyu), the nature of his creation (alam), the nature of man and his psychology of human soul (manusia dan psikologi jiwa manusia), the nature of knowledge (ilmu pengetahuan), the nature of religion (agama), the nature of freedom (kebebasan), the nature of value and virtues (nilai dan akhlak), the nature of happines (bahagia)

Pergeseran paradigma (shifting paradigm) tidak terjadi pada elemen fundamental worldview Islam. Namun yang berubah hanyalah interpretasi dan elaborasi di sekitar worldview yang mana adalah suatu keharusan karena berkembangnya zaman dan wilayah yang berbeda-beda namun tetap bersumber pada sumber yang tidak berubah, yaitu Al Qur’an dan Hadits.

*mohon maaf paparan kami belum lengkap, insya Allah akan terus dilengkapi.

Sumber:

Wikipedia/paradigma

Filsafat Ilmu, Bambang Sugiharto

Struktur Pemikiran Islam, Ugi Suharto

Tips Menangani Anak Yang Suka Mencari Perhatian


Mencari perhatian adalah hal yang sangat normal dan sehat jika anak anda menginginkan perhatian dari anda. Dia tumbuh dengan pesat pada pelukan anda, dengan penerimaan, pujian dan dengan kesempatan kesempatan lain yang tidak dapat dilupakan.

Tantangan untuk anda adalah mencoba memberikan anak anda semua perhatian yang pantas, selama masa masa yang khusus seperti: waktu makan, waktu tidur, waktu bermain, dan waktu mereka membutuhkan bantuan, dan tidak hanya ketika mereka melakukan hal yang salah.

Anak anak akan mencoba mencari perhatian dengan merengek, lengket, mengeluh, mengganggu, dan mengeluarkan perasaan marah.

Dr. Irwan Prayitno menyampaikan beberapa tips untuk mengatasi anak yang caper.

  • Anjuran mencium anak.  Rasulullah saw menyuruh kita mencintai anak dengan mewujudkan rasa kasih sayang dan mencium anak. Pernah suatu saat Rasulullah mencium Hasan dan Husain, ketika itu Aqrab bin Habis berkata, “Sesungguhnya aku mempunyai sepuluh orang anak, tapi tak satu pun dari mereka aku cium”. Mendengar itu Rasulullah saw memandang seraya berkata, “Barangsiapa yang tidak mengasihi, tidak akan dikasihi”.
  • Anak pada dasarnya butuh perhatian dan kasih sayang, sehingga memerlukan perhatian lingkungannya. Agar anak tidak kurang perhatian yang mengakibatkan dampak negatif dalam perilakunya, maka orang tua perlu memberikan perhatian yang cukup kepada anaknya.
  • Tetap konsisten untuk tetap menolong anak menggunakan cara yang tepat.
  • Jika anda sebentar sebentar menyerah pada kemarahan dan rengekan dan dengan segera mengabulkan permintaannya hanya untuk usaha  memenangkan situasi atau mencari jalan damai, maka anak anda akan terus memaksa anda.
  • Tugas anda untuk menolong anda anda belajar sabar dan menggunakan cara lain untuk meminta sesuatu, atau kalau tidak dia akan berhenti berkembang.

Kenapa Anak Menjadi Lebih Nakal ketika Bersama Ibunya. 

Jika anak anda bertindak lebih buruk di depan ibunya itu berarti bahwa anda (seorang ibu) sudah menjadi ibu yang baik, dan telah melakukan pekerjaan sebagai ibu dengan benar.
Ibu adalah tempat yang aman. Ibu adalah tempat mereka bisa datang dengan semua masalah mereka. Jika Anda tidak dapat membuat sesuatu yang lebih baik, maka siapa lagi yang bisa?
Jika anak sudah berada dalam situasi yang tidak menyenangkan sepanjang hari, kemudian mereka melihat anda (ibu) datang, mereka tahu, akhirnya inilah waktu untuk melepaskan beban itu.

Itu berarti melepaskan apapun, MERENGEK, MENAGIS, dll. Lelah setelah seharian dari tempat kerja, tapi itulah pekerjaan ibu. Berikan pada mereka ekspresi tanpa hambatan, dan jadilah tempat nyaman untuk pelepasan emosional baku mereka.

Anda (ibu) belum sempat meluruskan kaki, jangan terkejut jika anda akan disambut di pintu dengan rengekan dan jeritan.

Luar biasa, pada moment ini anda (ibu) telah menciptakan ruang yang cukup aman untuk anak-anak, dan membiarkan mereka memiliki izin menjadi ALAMI.

Dan, dengan cara itu BENAR-BENAR-BENAR penting bagi anak-anak untuk menjadi alami dengan perasaan mereka, emosi mereka dan fungsi tubuh mereka.

Ketika mereka tumbuh, kita pasti ingin anak-anak kita memiliki kecerdasan yang sangat berfungsi kan? dan tampa hambatan emosional yang berarti kan?

JADI… anggaplah sikap buruk anak-anak itu sebagai pertanda baik. Semua karena anak-anak mencintai anda (ibu), mereka sudah menyimpannya selama seharian hanya untuk seorang ibu.

Menghadapi Siswa Caper

Kasus anak yang suka mencari perhatian juga bisa didapatkan dalam sekolahan, misalnya seorang anak yang suka terlambat, bikin gaduh di kelas atau mengganggu teman ketika belajar.

Jika seorang guru mengalami hal ini hendaknya dia memaklumi tingkah laku anak didiknya dan berusaha membuat hubungan yang baik dengannya,bersikap positif, sabar, ramah dan ikhlas.

Hubungan yang baik antara guru dan siswa merupakan dasar dari proses pembelajaran yang menyenangkan. Apabila hubungan antara guru dan siswa tertanggu dan tidak baik, proses pembelajaran yang menyenangkan tidak tercapai.
Satu lagi, siswa merasa tidak nyaman apabila dirinya dicela atau keburukannya dikomentari, apalagi di depan umum.
Menurut Sukadi dalam bukunya Guru Malas, Guru Rajin,  Ramuan Ajaib untuk Menjadi Guru yang Menyenangkan menyebutkan ada beberapa keburukan  yang dapat ditimbulkan dari sikap dan perilaku guru yang suka mencela dan mengomentari keburukan siswanya di depan umum, yakni:

  1. Siswa merasa malu karena aibnya diberitahukan kepada orang lain
  2. Siswa menjadi minder atau merasa tertekan secara kejiwaan karena aibnya diketahui orang lain
  3. Siswa tidak hormat dan tidak respek kepada guru yang suka mencela dan mengomentari keburukannya dirinya
  4. Siswa bisa bersikap dendam kepada guru
  5. Prestasi siswa mundur karena memikirkan dirinya yang sering dicela dan di komentari keburuknnya
  6. Siswa dapat berputus asa atau putus sekolah karena merasa tidak nyaman berada di sekolah
  7. Siswa tidak memiliki motivasi untuk belajar karena merasa dirinya sudah jelek seperti yang dikatekan oleh gurunya

Guru yang tidak mau peduli kepada siswanya menyebabkan tekanan psikologis bagi meraka. siswa merasa kurang diakui atau kurang diperhatikan oleh gurunya sehingga bisa jadi siswa mencari-cari perhatian  dari gurunya karena merasa existensi dirinya kurang diakui.

Jadi, cara paling efektif untuk mengatasi anak cari perhatian adalah dengan memberinya perhatian. Setuju?

Referensi

  • Dr. Iwan Prayitno,  Ketika Anak Marah
  • Sukadi, Guru Malas, Guru Rajin,  Ramuan Ajaib
  • BC WhatsApp

Kekuatan Itu Bernama Cinta


​​Bagaimana perasaan orangtua jika putera yang dulu ditimang-timang, diasuh dan dirawat serta dididik, bertahun kemudian di usia mudanya memilih jalannya sendiri, menjadi teroris…???

Entah bagaimana menggambarkannya… berbaur antara shock, denial, marah, cemas, takut, bingung, sedih, kecewa… berkecamuk dan bergemuruh di dalam dada. Sejak di dalam kandungan, orangtua membangun harapan dan munajatkan do’a agar ananda yang dikasihinya tumbuh dan berkembang menjadi anak shalih, beriman kuat, berilmu tinggi dan pandai beramal. 

Namun jika di kemudian hari ia memilih jalan yang sangat tidak biasa dan bahkan radikal seperti menjadi teroris… umumnya orangtua tidak akan rela. Setiap orangtua menginginkan yang terbaik bagi anaknya, dan menjadi teroris tak pernah ada dalam kamus harapan dan do’a orangtua. 

Film dokumenter “Jihad Selfie” yang dibuat secara khusus oleh Noor Huda Ismail, kandidat Doktor yang saat ini bermukim di Melbourne, Australia, dan berprofesi sebagai Terorrist Rehabilitation Coach, menampilkan satu sosok anak muda asal Aceh, Teuku Akbar Maulana, 18 tahun, yang nyaris berangkat ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS (Islamic State of Iraq and Syria), jaringan teroris internasional yang sepak terjangnya memunculkan keresahan di mana-mana.

Film itu saya saksikan pada Selasa malam lalu, 26 September 2016 di lantai 28 Energy Building, SCBD, Jakarta, melalui acara nobar dengan keluarga besar Bina Antarbudaya (yang menjalankan program pertukaran pelajar AFS, dimana saya dan teman-teman pernah mengikuti program tersebut berpuluh tahun lalu dengan host countries yang berbeda-beda). 

Kami beruntung saat nobar tersebut Akbar, demikian panggilan pemuda asal Aceh tersebut, berkesempatan hadir bersama kedua orangtuanya, Pak Yusri dan Ibu Rina, serta dua saudara kandung Akbar, Cut Anita (kakak) dan Cut Amira (adik). Sebelumnya Akbar dan Noor Huda selama hampir sebulan kemarin telah melakukan roadshow film dokumenter “jihad Selfie” ke beberapa kota di Indonesia, dan berdiskusi perihal film tersebut. 

Politik dan terorisme bukanlah ranah yang saya akan jamah untuk membuat tulisan ini. Namun saat menyaksikan “Jihad Selfie” dan berdialog dengan Akbar dan keluarganya, saya sempat membuat beberapa catatan berdasarkan sharing dan pengamatan saya terhadap interaksi Akbar dengan keluarganya:

  1. Sejak SMP Akbar sudah merantau. Ia melanjutkan pendidikannya di kota Banda Aceh yang berjarak sekitar 8 jam perjalanan melalui darat dari desa tempat tinggalnya di Susoh, Aceh Barat Daya. Di sinilah awal kemandiriannya terasah. Tinggal jauh dari orangtua pada usia yang masih teramat belia tentu memiliki tantangan tersendiri. Ibunya bercerita bahwa selepas SD, Akbar lah yang justru meminta untuk melanjutkan pendidikan di kota dan menetap di asrama. Ia sudah tahu yang menjadi keinginannya dan mulai membangun ambisinya. Kelak kemandirian berpikir dan bertindak inilah yang menjadi bekalnya menentukan pilihan hidup yang tidak mudah baginya. Salut pada orangtua Akbar, yang memberikan restu dan kepercayaan pada puteranya untuk merantau menimba ilmu meskipun usianya masih teramat belia. (Saya sendiri baru berangkat merantau ke Jepang mengikuti program AFS saat usia saya 19 tahun. Tahun 1986-1987).
  2. Selepas SMP, Akbar kembali merantau untuk melanjutkan SMA. Prestasinya di bidang akademik dan olahraga (ia berkali-kali menang dalam pertandingan Badminton), mendukungnya mendapatkan beasiswa penuh dari Turkey Diyanet Foundation. Akbar bersekolah di International Mustafa Gemirli Anatolia Imam Hatip High School di Kayseri, Turki, dimana salah satu alumnusnya yaitu Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan. Di sekolahnya, Akbar dikenal sebagai siswa yang berprestasi. Ia piawai dalam kemampuan public speaking. Di dalam film dokumenter tersebut, ada momen yang terekam saat ia berpidato di kelasnya, dan memukau teman-teman serta gurunya. Sebagaimana umumnya remaja, ia pun sempat melalui periode yang tidak mudah, dan di saat itu lah ia sempat menghadapi konflik dengan egonya. Sebagai remaja laki-laki yang memerlukan role model, ia memiliki ketertarikan untuk tampil gagah danmacho seperti beberapa teman sekolahnya yang telah bergabung menjadi pasukan ISIS di Suriah. Melalui foto2 selfieyang dishare teman-temannya di media sosial, Akbar jadi sering membayangkan dirinya memakai seragam layaknya pejuang yang berjihad dan memegang senjata. Fokusnya pada studi mulai berkurang, apalagi menurutnya materi yang dipelajarinya di sekolah kurang memberikan tantangan. Tujuannya yang semula datang ke Turki untuk belajar, mulai goyah. Ia mulai berpikir untuk ikut program rekrutmen ISIS sebagaimana teman-temannya yang lebih dulu. Ia berada pada persimpangan jalan. Mimpinya terbelah dua, meraih cita-citanya sebagai hafiz (penghapal qur’an) dan menjadi pejuang Islam disiapkan untuk mati syahid. Dalam pergumulan batinnya itu, Akbar tetap menjaga komunikasi dengan kedua orangtua dan saudara-saudaranya di Aceh. Ia bahkan sharing foto-foto teman-temannya yang telah bergabung dengan ISIS. Sehingga meskipun terpisah jarak dan waktu dengan ayah-ibunya, namun rutinnya chatting yang ia lakukan melalui alat komunikasi digital dengan keluarganya, membantunya membangun komunikasi terbuka dengan kedua orangtuanya. Di sisi lain ayah-ibunya pun tetap terinformasikan mengenai kabarnya. Hal ini yang tidak terjadi pada teman-teman Akbar yang lain, terutama yang sudah pergi ke Suriah dan bergabung dengan ISIS. Bahkan di antaranya ada yang berangkat tanpa restu dari orantuanya. Allah swt punya cara indahNya untuk menjagamu, Akbar…
  3. Saat menghadapi pergumulan batin itu, Akbar sempat berdialog dengan seorang gurunya di sekolah Imam Hatip (momen ini direkam oleh Noor Huda, yang memperlihatkan Akbar yang menangis menceritakan konflik yang dihadapinya). Setelahnya ia seperti merasa beban emosinya jadi jauh berkurang. Jiwanya memperoleh pencerahan. Dituntun kesadaran dan ketenangannya, Akbar akhirnya mampu membuat keputusan. Ia memilih mengikuti suara hatinya, dan memutuskan tidak jadi berangkat ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS. Hatinya lebih cenderung memilih keluarganya. Rasa cinta dan hormat pada kedua orangtuanya serta perasaan sayang terhadap kakak dan adiknya memberatkan Akbar melangkah lebih jauh. Nyawanya terlalu berharga bagi seorang Ibu yang telah bersusah payah mengandung dan melahirkannya. Dan, ia tak mau pengorbanan Ibu yang dikasihi dan dihormatinya menjadi sia-sia hanya karena egonya sebagai remaja galau yang sedang berproses mencari jati dirinya (demikian Akbar mendeskripsikannya). Kedekatan emosional yang terbangun antara Akbar dengan kedua orangtua dan saudara kandungnya merupakan kekuatan tersendiri yang mendorong Akbar mengikuti suara hatinya. Ia berhasil melepaskan ilusinya akan jihad dan maskulinitas absurd yang dipropagandakan ISIS melalui media sosial. 

Saat berbincang dengan Pak Yusri, Ayahanda Akbar, beliau bercerita bahwa di keluarga mereka ada kebiasaan yang menjadi ritual keluarga, yaitu berkumpul selepas sholat Maghrib. 

Betapa Indahnya! Sayangnya, ritual keluarga semacam itu sekarang ini menjadi kebiasaan yang teramat langka untuk dilakukan oleh banyak keluarga di negeri ini. 

LOVE always wins… cinta yang sedemikian kuat yang ia rasakan terhadap kedua orangtua dan saudara kandungnya, itulah yang memenangkan hatinya. Keluarga teramat berarti bagi Akbar. Itulah bukti dahsyatnya kekuatan cinta antara orangtua dan anak. 

Masyaa Allah…

Segalanya hanya terjadi atas skenario dan kehendak Sang Maha Rahman dan Rahiim. 

Saya sendiri baru bertemu dengan Akbar dan keluarganya. Tapi saat saya berkesempatan berbicang dengan ayah dan ibu Akbar, saya dapat merasakan betapa mereka sebagai pasangan suami-isteri dan orangtua, membangun koneksi jiwa yang kuat. Kehangatan kasih keduanya tervibrasikan kepada ketiga putera/i-nya demikian indah.

Ayah Akbar adalah guru SD. Dan Ibunya guru SMA. Keduanya pendidik. Berbicara dengan mereka berdua, saya dapat merasakan keramahan dan kebersahajaannya. Bukan kebetulan mereka berdua berprofesi sebagai guru. Semua sudah dalam pengaturan Allah swt. 

Keluarga Akbar adalah bukti nyata bahwa pendidikan yang utama sejatinya adalah di dalam keluarga. Pendidikan yang berlandaskan cinta dan kasih sayang. Pendidikan yang membangun koneksi jiwa yang kuat antar anggota keluarga. Pendidikan seperti ini kurikulumnya tidak didapatkan melalui sekolah formal maupun informal. Hanya ada pada keluarga yang memiliki kesadaran penuh akan peran dan tanggung jawabnya, baik sebagai pasangan suami-isteri maupun sebagai orangtua dari anak-anaknya. 

Di dalam film dokumenter yang dibuatnya, Noor Huda berhasil merekam momen indah saat Akbar pulang dari Turki, setelah ia memutuskan tidak jadi bergabung dengan ISIS dan kembali pada keluarganya di Aceh. Ia di sambut oleh ayah dan ibunya di depan rumah mereka. Akbar langsung memeluk Ibunda yang dikasihinya sambil menangis. Emosinya berbaur antara bahagia, menyesal, sedih dan perasaan lega. Seketika ruangan tempat kami nobar pun dilingkupi suasana haru… saya dan beberapa teman tak kuasa membendung airmata, kami terlarut dalam momen indah itu. 

Satu tantangan hidup telah berhasil dilewati Akbar. Namun perjuangannya belum usai. Ia masih harus kembali ke Turki menyelesaikan pendidikan SMA-nya yang menurut ayahnya tinggal tujuh bulan lagi. Sabtu pekan ini putera semata wayangnya itu akan kembali ke Turki. Bismillah ya, Akbar… insyaa Allah senantiasa dalam penjagaan terbaik dari Allah swt, dan selalu dalam bimbingan serta keridhoanNya. Allahumma amiin…

Di akhir acara, kami daulat Akbar melakukan book signing dadakan untuk novel yang ia tuliskan bersama Astrid Tito, “Boys Beyond the Light,” yang terinspirasi dari film dokumenter “jihad Selfie“.

Saat giliran saya meminta tanda tangannya, saya sampaikan bahwa novel itu adalah hadiah untuk puteri saya, Syifa. Ini pesan yang dituliskan Akbar:

To: Syifa

Selamat membaca

Semangat belajar ya

Buat ortumu tersenyum
Saya pun lantas terbayang wajah puteri tunggal saya, yang telah menjadi yatim sejak ia berusia 7 tahun. Kini usianya 15 tahun. Ia pernah menyampaikan cita-citanya menjadi film maker, dan berkeinginan melanjutkan pendidikan di satu negara yang dikenal dengan kepiawaiannya dalam membuat film. 

Insyaa Allah. Amiin ya, Nak. 

Untuk puteriku, Syifa, Akbar dan anak-anak Indonesia lainnya yang sedang menapaki perjalanan sebagai khalifahNya di bumi ini. Teguhkan niat kalian menuntut ilmu untuk kebaikan dan manfaat, jaga dengan iman dan taqwa padaNya. Amalkan melalui perilaku dan sikap nyata kepada diri dan sesama. Tanamkan kuat cintaNya di dalam jiwa. Hasbunallah wa ni’mal wakil ni’mal maula wa ni’man nashir. 

Puisi ini untuk mengingatkan kalian, bahwa setinggi-tinggi terbang bangau, jatuhnya ke kubangan juga. Keluarga lah sejatinya tempat hati kalian berlabuh…
SURAT DARI IBU

karya Asrul Sani


Pergi ke dunia luas, anakku sayang

pergi ke hidup bebas!

Selama angin masih angin buritan

dan matahari pagi menyinar daun-daunan

dalam rimba dan padang hijau.


Pergi ke laut lepas, anakku sayang

pergi ke alam bebas!

Selama hari belum petang 

dan warna senja belum kemerah-merahan

menutup pintu waktu lampau.



Jika bayang telah pudar

dan elang laut pulang ke sarang

angin bertiup ke benua

Tiang-tiang akan kering sendiri

dan nakhoda sudah tahu pedoman

boleh engkau datang padaku!


Kembali pulang, anakku sayang

kembali ke balik malam!

Jika kapalmu telah rapat ke tepi

kita akan bercerita

“Tentang cinta dan hidupmu pagi hari.”
Untuk informasi lebih lengkap mengenai film dokumenter “Jihad Selfie”, silakan buka link ini: http://www.jihadselfie.com
Foto-foto oleh: Anggy Soetirto-Gustiza, Imar Amran, Syifa Khalila

*********

Sumber :Tulisan Ibu Ita D Azly, Psikolog UI dan Team ICD. 

Link:http://itsdeesjourney.blogspot.co.id/2016/09/juara-sejati-itu-bernama-cinta.

%d bloggers like this: