Otak Bukan Pusat Manusia


Video pendek dari Bruce Lipton, PhD berikut ini memberikan kesimpulan bahwa bukan otak (brain, دماغ) yang menjadi sentral dari diri manusia. Tetapi…

  • Belief (الإيكان)
  • Consciousness (الشعور)
  • Affection (الذوق)
  • Moral (الأخلاق)
  • Willingness (الإرادة)
  • Intellectual (العقل)
  • Memory & Experience (الذاكرة)
    Itulah potensi & fungsi luhur manusia yg ada di Qalb.

Tetapi bukan qalb fisik (jantung), melainkan qalb yg menjadi pusat (inti) dari ruh.

Inti = اللبُّ p. الألباب

You are not biological being having spiritual experience, but spiritual being having biological experiences.

Biological Body boleh berhenti berfungsi lalu hancur terurai (mati), tetapi Spiritual Being (Ruh) tidak mati, cuma dikeluarkan dari badan (wafat), lalu Ruh menghadap Allah membawa intinya, Qalb.

Q.S 78:38
يَوْمَ يَقُوْمُ الرُّوْحُ وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ صَفًّاۙ لَّا يَتَكَلَّمُوْنَ اِلَّا مَنْ اَذِنَ لَهُ الرَّحْمٰنُ وَقَالَ صَوَابًا

Pada hari, ketika ruh dan para malaikat berdiri bersaf-saf, mereka tidak berkata-kata, kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pengasih dan dia hanya mengatakan yang benar.

Q.S 26:88
يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَّلَا بَنُوْنَ ۙ

pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna,

Q.S 26:89
اِلَّا مَنْ اَتَى اللّٰهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ ۗ

kecuali orang (ruh, spiritual) yang menghadap Allah dengan membawa qalbu yang selamat.

Is reflection can increase religiosity? and what extent reflection can increase one’s religiosity?


Some have argued that belief in God is intuitive, a natural by product of the human mind given its cognitive structure and social context.

If this is true, what extent which one believes in God may be influenced by one’s general tendency to rely on intuition versus reflection?

What extent can reflection increase one’s religiosity?

https://www.researchgate.net/post/Is_reflection_can_increase_religiosity_and_what_extent_reflection_can_increase_ones_religiosity

Analisis Penelitian tentang Strategi Pengajaran Metakognitif


Hasil gambar untuk Metacognition

Metakognisi telah menjadi suatu bidang yang menarik bagi para peneliti pendidikan sejak lebih dari 40 tahun yang lalu. Telah banyak literatur yang mengkaji topik ini, baik yang berupa teoritis maupun empiris.

Meskipun demikian, hanya beberapa studi yang menyimpulkan tentang langkah-langkah instruksional yang spesifik untuk meningkatkan kemampuan berpikir metakognitif siswa. Demikian pula, sedikit sekali bukti yang menunjukkan seberapa spesifik langkah-langkah tersebut dapat diimplementasikan untuk meningkatkan prestasi siswa.

Tulisan ini ditujukan pada kesenjangan dalam bidang tersebut dengan cara mengidentifikasi pendekatan instruksional dari literatur empiris yang mempromosikan strategi berpikir metakognitif pada siswa tingkat dasar dan menengah menggunakan metode tinjauan pustaka.

Keywords: Metacognition, strategy, planning, monitoring, evaluating, reflective assessment

Tautan PDF: ResearchGate

Cara Membuat Kuesioner Penelitian


Saya sedang menyiapkan untuk membuat kuesioner penelitian dan mendapatkan tips-tips yang lengkap dari situs WikiHow.

Bagi teman-teman #BlogJumal yang sedang atau ingin mengetahui cara membuat kuesioner penelitian kuantitatif sila merujuk pada tautan berikut.

https://id.m.wikihow.com/Membuat-Kuesioner-Penelitian?amp=1

Analisis Fatwa MUI No. 53 Tahun 2014 tentang Hukuman Mati bagi Produsen, Bandar dan Pengedar Narkoba


Penyalahgunaan narkotika dan peredaran gelap narkotika merupakan permasalahan yang masih dihadapi oleh negara-negara di dunia termasuk Indonesia. Penyalahgunaan narkotika di luar kepentingan pelayanan kesehatan dan atau untuk pengembangan ilmu pengetahuan adalah perbuatan melawan hukum dan membahayakan keselamatan jiwa manusia.

Bahaya penyalahgunaan narkotika tidak terbatas pada diri pecandu, melainkan dapat menimbulkan gangguan terhadap tata kehidupan masyarakat yang bisa berdampak pada runtuhnya suatu bangsa dan tatanan masyarakat.

Berdasarkan hal tersebut guna meningkatkan upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana Narkotika, MUI mengeluarkan Fatwa MUI No. 53 Tahun 2014 tentang Hukuman Mati bagi Produsen, Bandar dan Pengedar Narkoba. Dikarenakan tidak ada teks yang jelas dalam Alqur’an maupun Hadits, maka dalam menetapkan keharaman narkotika, sebagian ulama mengqiyaskan narkotika dengan khamr, karena keduanya mempunyai persamaan illat yaitu sama-sama dapat menghilangkan akal dan dapat merusak badan. Dan pada kenyataannya efek  narkotika lebih dahsyat dibanding denggan khamr.

PDF

Link Terkait:

https://mui.or.id/wp-content/uploads/2017/02/Hukuman-Bagi-Produsen-Bandar-Pengedar-dan-Penyalahguna-Narkoba.pdf

https://www.republika.co.id/berita/nasional/hukum/15/05/07/nnyxv5-mui-fatwa-hukuman-mati-jadi-referensi-hukum-di-indonesia

https://www.nahimunkar.org/mui-negara-boleh-jatuhkan-hukuman-mati-bagi-bandar-narkoba/

Intervensi Agama dan Spiritual dalam Perawatan Kesehatan Mental: Tinjauan Sistematis dan Meta-Analisis dari Uji Klinis Terkontrol Acak


Agama, Spiritual dan Kesehatan Mental

Meskipun interkoneksi antara agama, spiritualitas dan praktek medis telah terjadi sepanjang sejarah, hanya dalam dekade terakhir literatur ilmiah telah menunjukkan peran penting dari religiusitas/spiritualitas (R/S) dalam kesehatan fisik dan mental pasien (Koenig et al. 2012) .

Namun, mendefinisikan konsep yang kompleks dan saling berhubungan seperti spiritualitas dan religiusitas tidaklah mudah karena tidak ada definisi universal yang diterima oleh peneliti (Cook, 2004). Sullivan (1993) mendefinisikan spiritualitas sebagai fitur individu dan unik yang menghubungkan diri dengan alam semesta dan orang lain, dan mungkin atau mungkin tidak termasuk keyakinan pada dewa.

Puchalski (2012) menggambarkan spiritualitas sebagai cara untuk menemukan makna dan tujuan hidup dengan menghubungkan diri manusia dengan yang suci. Selain itu, Koenig dkk. (2012) mendefinisikan spiritualitas sebagai ‘sesuatu yang dibedakan dari humanisme, nilai-nilai, moral, dan kesehatan mental, dengan hubungannya yang sakral, transenden’ dan agama itu ‘melibatkan keyakinan, praktik, dan ritual yang terkait dengan transenden, di mana transenden adalah Tuhan’.

Kurangnya konsensus ini menyebabkan kesulitan dalam membandingkan hasil antara studi (Lucchetti et al. 2013). Namun demikian, beberapa penelitian telah menunjukkan korelasi positif antara R/S dan pencegahan berbagai penyakit dengan bukti peningkatan kualitas hidup dan peningkatan kelangsungan hidup (Sawatzky et al. 2005; Chida et al. 2009).

Makalah yang berbeda telah melaporkan korelasi antara kehadiran agama yang lebih besar dan peningkatan kekebalan tubuh atau imunitas (Bormann & Carrico, 2009), tekanan darah rendah dan komplikasi jantung pada pasien pasca operasi (Lucchetti et al. 2011; Masters & Hooker, 2013) dan korelasi dengan remisi kanker (Ando et al. 2010; Ka’opua dkk. 2011).

Artikel lengkap: PDF

Sumber: Gonçalves, J. P. B., Lucchetti, G., Menezes, P. R., & Vallada, H. (2018). Religious and spiritual interventions in mental health care : a systematic review and meta-analysis of randomized controlled clinical trials, Psychological Medicine (2015), 45 : 2937–2949.

Penelitian Menunjukkan Iman Kepada Allah Memberikan Kebahagiaan dan Ketenangan


Tahun 2013, Stephen Cranney dari Univertas Pensilvania mengadakan penelitian tentang sejauh mana hubungan antara iman kepada Allah dan kebahagiaan. Hasilnya dia menemukan bahwa orang yang percaya kepada Tuhan lebih bahagia dan lebih punya kekuatan hidup daripada orang yang tidak percaya adanya Tuhan. Penelitian ini menjadi penting karena menolak pendapat Sigmund Freud yang mengatakan bahwa seseorang bisa saja hidup bahagian dan tenang tanpa percaya adanya Tuhan.

Tahun 2006, Andrew Clark dan Orsolya Lelkes dengan mengesampingkan penelitian ilmiah yang ada menyebutkan bahwa iman kepada Allah adalah cara paling singkat mendapatkan kebahagiaan. Dalam Muktamar Royal Economic Society yang diadakan tahun 2008, beberapa peneliti menyampaikan presentasi bahwa perilaku tidak ber-Tuhan (ateisme) membuat hidup tidak bahagia, berlawanan dengan keimaman yang memberikan manusia kebahagiaan dan kekuatan pada manusia.

Norenzayan dari Departemen Psikologi Universitas British of Columbia juga menemukan bahwa orang yang beriman lebih suka menolong, jujur dan banyak memberi.

Penelitian di atas sejalan dengan Al-Quran, Allah SWT telah berjanji bahwa orang yang beriman akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (97)

“Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepada kehidupan yang baik, dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih dari apa yang telah mereka kerjakan. (Qs. An-Nahl: 97).

Sumber:

Do People Who Believe in God Report More Meaning in Their Lives? The Existential Effects of Belief. Link https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3979581/

Religion makes people helpful and generous. Link: http://www.physorg.com/news142174482.html

Higher purpose: Study finds belief in God linked to having sense of purpose in life. Link: https://www.deseretnews.com/article/865588795/Higher-purpose-Study-finds-belief-in-God-linked-to-having-sense-of-purpose-in-life.html

علماء الغرب: الإيمان بالله يمنحك السعادة والاستقرار. Link: http://www.kaheel7.com/ar/index.php/2012-12-04-18-20-16/840-2013-01-19-00-38-03

%d bloggers like this: