Struktur Pemikiran Islam


riba-696x460

Islam memiliki struktur pemikiran yang unik dan kompleks. Struktur tersebut membantu kita untuk lebih bijak dan tepat dalam memahami suatu masalah.

Struktur pemikiran Islam dibahas dalam spesial lecture yang disampaikan Prof. Dr. Ugi Suharto, pendiri INSISTS dan dosen di university college of Bahrain di ruang kajian INSISTS Kalibata.

Berikut ini coba kami sampaikan dalam catatan poin poin dibawah ini.

Struktur Pemikiran Islam ada empat. 1. Ru’yah/ Wordlview 2. Kalam 3. Fiqih 4. Politik, ekonomi dan sosial

1. Wordlview

  • Kata Worldview berasal dari bahasa Jerman, bukan Inggris. Secara bahasa berarti pandangan dunia, namun cakupannya meliputi dunia fisik (syahadah) dan metafisik (ghaib)/ dunia dan akhirat.
  • Bahasa Melayu menyebut Wordlview dengan pandangan alam/pandangan dunia. Bahasa Indonesia menyebutkan dengan Pandangan hidup dan dalam bahasa Arab disebut رؤية الإسلام للوجود sebagian orang Arab menyebut dengan نظرة الإسلام للكون namun penggunaan kata ini tidak benar karena نظرة berarti teori dan الكون adalah ciptaan Allah, berasal dari kun Allah. Dalam bahasa Inggris, Wordlview disebut dengan The Islamic vision of existence, reality and truth (visi Islam yang membahas tentang wujud, realitas dan kebenaran)
  • Termasuk dalam Wordlview adalah fisik, metafisik, kewujudan dan perbincangan tinggi dalan kalam. Metafisik dalam Islam banyak dibahas oleh mutakallim, filosof dan ahli tasawuf.
  • Islamic Worldview adalah pandangan hidup Islam yang tidak berubah oleh ruang dan waktu. Ia merupakan usul Islam, muhkam Islam, tsawabit islam dan intipati Islam.
  • Fundamental element of Islamic Wordlview (unsur unsur mendasar dalam Wordlview islam: the nature of God (ma’rifatullah), the nature of revelation (wahyu), the nature of his creation (alam), the nature of man and his psychology of human soul (manusia dan psikologi jiwa manusia), the nature of knowledge (ilmu pengetahuan), the nature of religion (agama), the nature of freedom (kebebasan), the nature of value and virtues (nilai dan akhlak), the nature of happines (bahagia)
  • Wordlview berbeda dengan paradigma. Paradigma muncul dari sejarawan Fisika bernama Thomas Kuhn dan paradigma masuk dalam alam fisik/ science. Ketika ada gejala alam yang tidak bisa diterangkan oleh normal science maka timbul new science dan muncul paradigma baru dan terjadilah paradigm shift.
  • Paradigma bisa berubah-ubah sementara worldview sifatnya tetap dan tidak akan pernah bisa berubah misalnya seperti kiblat, rukun iman, islam, solat lima waktu ini tidak bisa berubah.
  • Pergeseran paradigma (shifting paradigm) tidak terjadi pada elemen fundamental worldview Islam. Namun yang berubah hanyalah interpretasi dan elaborasi di sekitar worldview yang mana adalah suatu keharusan karena berkembangnya zaman dan wilayah yang berbeda-beda namun tetap bersumber pada sumber yang tidak berubah, yaitu Al Qur’an.

2. Kalam

  • Salah sati sifat Allah adakah Kalam.
  • Imam Abu Hanifah menyebut kalam dengan Fiqhul Akbar.
  • Kalam adalah bagaimana mengungkapkan wordlview dengan perkataaan. wolrdwiew masuk dalam tataran mental konsep, perenungan, ketika diuraikan dalam kata-kata, dia membutuhkan kalam.
  • Penguraian Worldview ada yang benar dan ada yang salah, dan pertama kali memunculkan kalam dari kelompok yang salah yaitu Muktazilah. Para Sahabat tidak berkalam, mereka berpegang pada worldview yang ada dan mengamalkan langsung worlview itu, tapi tidak dibincangkan, yang paling banyak memulai perbincangan Kalam adalah Muktazilah. Niat mereka bagus ingin menjelaskan Islam dan Tuhan dengan rasional, terutama ketika berhadapan dengan orang yang baru masuk agama Islam ketika membandingkan konsep agama mereka dahulu dengan konsep Islam, namun mereka berlebihan sehingga menjadikan nash sebagai nomor dua. Contoh sifat-sifat Allah ditiadakan yang ada hanyalah Zat Allah.
  • Muktazilah mengatakan bahwa dzat Allah itu Esa dan Qadim. Jika sifat Allah bukan Zat Allah berarti makhluk ciptaan Allah, maka akan banyak yang qadim karena sifat Allah ada banyak dan hal tersebut telah melanggar prinsip Tauhid. Maka muktazilah berkesimpulan bahwa zat Allah sama dengan sifat sifat Allah. Teori ini bertentangan dengan paham Ahlussunnah yang mengatakan bahwa Al-Quran adalah kalamullah. Maka uncuk mengcounter pemikiran tersebut lahirlah ilmu kalam, hasil perdebatan antara muktazilah dan non muktazilah.

3. Fiqih

  • Perbincangan kalam dalam fiqih juga ada. Memahami fiqih ada dua thariqah 1. Thariqatul Fuqaha’ 2 Thariqatul Mutakallimun.
  • Ushul Fiqih berbicara tentang: Mashadirul Ahkam, Dalalah Qauliyah: dhahir, nash, manthuq, mafhum, ibaratun nash, dhahir nash dll , Hukum: syari’i, taklifi, wadh’i, Mahkum Alaih: Manusia, Mahkum Fiih, Hakim (sumber hukum).
  • Perbincangan kalam dalam ushul fiqih contohnya dalam masalah Hakim, terdapat tiga pendapat dari Muktazilah, Asairah dan Maturidiyah.
  • Apakah perbedaan Mazhab itu perpecahan? bukan, justru dengan perbedaan, perpecahan diperkecil dengan hanya empat pendapat mazhab saja.
  • Setiap mazhab punya ushul sendiri. Contohnya, Imam Syafi’i belajar kepada Imam Malik, Imam Malik memiliki ciri khas sendiri dengan mengambil sumber hukum dari amalan ahlu madinah, adapun Imam Syafi’i mengambil sumber dari khabar atau sunnah, Jika ada khabar yang diriwayatkan dari orang yang tsiqah, itulah sunnah.
  • Mazhab yang ada dalam islam bukan masalah, justru dengan adanya mazhab, umat Islam berfikir secara sistematis, jika tidak bermazhab maka cara berfikirnya bukan sistematis tapi eklektis.
  • Hari ini terjadi penyempitan pemikiran fiqh. Islam yang luas dipersempit kepada fiqh, fiqh dipersempit lagi hanya kepada hadits, hadits dipersempit lagi kepada hadits shahih saja yang dipakai, dan hadits shahih juga dipersempit lagi menjadi hadits shahih yang dishahihkan oleh Syaikh Al Albani.
  • Hadits ada dua: riwayah dan riwayah. Dirayah berarti meletakkan hadits dalam konteks hukum, Imam Al-Ghazali meskipun bukan ahli hadits tetapi beliau menguasai dalam masalah istimbath hukum. Hadits Riwayah terbagi menjadi dua yaitu Maqbul dan Mardud. Hadits Maqbul terbagi menjadi tiga yaitu Shahih, Hasan dan Dhaif. Hadits Mardud = Hadits Maudhu’ tidak diterima.
  • Muncul sikap menjadikan hadits dhoif seperti hadits mawdhu’, padahal hadits dhoif pun masih dapat dipakai pada tempat dan kondisi yang tepat. Imam Ahmad mengatakan bahwa hadits dhaif lebih kuat dari Ijtihad, hadits dhaif juga bisa dipakai dalam masalah adab, akhlak dan fadhailul a’mal.

4. Politik, Ekonomi dan Sosial

  • Struktur dalam pemikiran Islam yang terakhir dan paling bawah adalah Siyasah dan Kemasyarakatan. Struktur tersebut mencakup Politik, ekonomi dan sosial. Walaupun berada pada struktur terbawah dari struktur pemikiran Islam, namun dampaknya sangat besar, seperti pertumpahan darah, perang, fitnah, permusuhan dan dendam kesumat, dan munculnya berbagai kelompok yang saling bermusuhan.
  • Dalam ekonomi juga ada mazhab, seperti mazhab sosialis dan kapitalis, kemudian kapitalis terbagi menjadi dua lagi yaitu liberalisme dan neo liberalisme.

Terima kasih, semoga bermanfaat.

Kajian ini memberikan wawasan baru agar kita lebih fair lebih isnhaff dalam menyikapi masalah. Boleh saja kita punya perbedaan dalam masalah fiqih, tapi hendaknya kita bawa ke atas lagi bawah worldview kita sama, tuhan kita Allah dan kiblat kita Ka’bah. Berbagai konflik yang ada sering disebabkan karena ketidakmampuan kita dalam melihat suatu masalah dan meletakkannya sesuai dengan level struktur yang tepat.

Dr. Ugi Suharto memberi lima catatan penutup yang perlu dilakukan kaum Muslim saat ini untuk merajut persatuan:

  1. Kembali kepada pemikiran worldview
  2. Dalam pemikiran kalam: berpegang kepada kalam ahlusunnah mayoritas sambil menghormati kalam minoritas, dan bersikap prihatin dengan kalam-kalam lainnya.
  3. Dalam pemikiran fiqh: beramal dengan salah satu mazhab fiqh dan menjaga adab terhadap yang berbeda pendapat dalam masalah cabang dan ranting.
  4. Dalam pemikiran siyasah dan kemasyarakatan: kembalikan pada pemikiran-pemikiran yang lebih tinggi.
  5. Tolong menolonglah dalam kebaikan dan takwa.

Sumber: Kajian dan Makalah Special Lecture bersama Prof. Dr. Ugi Suharto di INSISTS.

Deislamisasi Politik


Tulisan bagus dikirmkan sahabat salah satu grup WA yang saya ikuti, ditulis oleh Ahmad Kholili Hasib. Layak dibaca diwaktu seperti sekarang ini.

Mohammed Arkoun (w.2014), seorang pemikir Liberal menulis, bahwa pembukuan Mushaf yang dilakukan oleh Sayidina Ustman bin Affan  tidak lepas dari kepentingan politik sang Khalifah. Selanjutnya, penyusunan karya-karya turast yang bersumber dari al-Qur’an seperti, tafsir, fikih, tasawwuf dan lain-lain juga berlatar belakang politik (Mohamed Arkoun, Islam Kontemporer Menuju Dialog Antar Agama, terj “Rethingking Islam Today”, hal. 13-17).

Pendapat tersebut merupakan salah satu contoh strategi sekularisasi. Mengajak Muslim menjauhkan agama dalam ruang public, termasuk dalam politik. Sebab, katanya, bila agama (baca: Islam) dan politik berpadu, maka terjadi apa yang dilakukan Sayidina Ustman, dan ajaran para ulama setelahnya. Ajaran agama ditarik untuk kepentingan politik.

Tetapi fitnah terhadap sayidina Utsman bin Affan dan turats para ulama tidak pernah terbukti. Fitnah itu karena ia menggunakan teori Arkeologi pemikiran Michael Faucault.

Tujuannya memisahkan agama dan politik, dan isu yang dikedepankan selalu dengan memfitnah agama. Bahwa agama-lah yang merusak politik. Inilah watak kaum sekularis.Gerakan ini bernama deislamisasi politik.

Dalam pandangan faham sekularisme, politik berada di atas agama (Islam). Politik juga tidak ada sangkut-pautnya dengan agama. Politik memiliki ruang, agama pun memiliki ruang tersendiri. Kedua ruang harus dipisah.

Maka, ceramah seseorang tokoh negara beberapa waktu silam bahwa agama dan politik harus dipisah, merupakan seruan yang tak patut. Karena mengajak orang meninggalkan agama dari politik.

Harvey Cox (1929) – tokoh gerakan sekularisasi di Barat – menyatakan bahwa masa modern adalah zaman yang tidak ada agama sama sekali, oleh karenanya perlu dijelaskan bagaimana berbicara Tuhan tanpa agama.

Problem dasarnya adalah worldview(pandangan alam). Faham sekularisme keliru dalam memandang agama, sehingga salah menempatkannya. Agama dipandang sebagai sesuatu yang sangat privat. Pun agama adalah produk kebudayaan. Sehingga Dalam worldview sekular, agama itu tidak sakral, bersifat individual, tidak penting, dan agama adalah produk kebudayaan.

Sedangkan dalam worldview Islam, agama Islam itu suci karena tanzil dari Allah Swt, bersifat universal, Islam merupakan sumber moral (value) dalam segala aspek, dan sumber pembentuk kebudayaan Islam.

Dengan demikian, worldview sekular tidak bersesuaian dengan nilai Pancasila. Sebab, pandangan alam sekular akan menantang sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa.

Worldview Islam –lah yang bersesuaian dengan Pancasila. Apalagi memang, Pancasila disusun agar sesuai dengan agama Islam. Ia telah dirancang menuruti apa yang telah menjadi tradisi Muslim di Indonesia.

Proyek sekularisasi politik tidak akan membawa dampak positif bagi negara Indonesia. Dalam Encyclopedic World Dictionary, sekularisme adalah keyakinan terhadap pemisahan hal-hal yang duniawi dari hal-hal yang agamawi (dikutip dalam buku Sekularisasi Membongkar Kerancuan Pemikiran Nurcholis Madjid, hlm.26).

Kenapa sekularisasi politik tidak sesuai dengan nilai-nilai tradisi Indonesia yang religius itu? Mari kita simak dengan mengambil pelajaran dari negara-negara Barat yang sekular.

Sebuah portal berita www.secularism.org.uk yang mengkampanyekan ide-ide sekularisme di Inggris melaporkan hasil riset tahun 2012 bahwa di Inggris dan Amerika, peran agama-agama makin dibuang dalam kehidupan. Portal di bawah naungan National Secular Society itu menulis “Ateisme meningkat menjadi 42 % di Inggris terhitung sejak tahun 1963”.

Lebih lanjut, National Secular Societymelaporkan, 54 % penganut Kristen datan ke Gereje karena alasan sejarah dan arsitektur kuno. Sementara hanya 15 % yang datang ke Gereja karena alasan spiritual.  Keadaan serupa hampir merata terjadi di Negara-negara Besar Eropa. Diperkirakan, dua puluh tahun lagi agama Kristen tinggal nama di Negara Barat. Inilah dampak kerasnya serangan sekularisme menghancurkan agama-agama.

Cara-cara membuang agama dilakukan kaum sekular. Salah satu caranya dengan membuang agama dari politik. Cara ini barangkali cukup mudah. Dengan alat media massa, maka dibuat rekayasa fakta bahwa agama biang rusuh, sumber radikalisme, sumber keterbelakangan, memecah belah bangsa dan anti kebinekaan. Semua itu rekayasa belaka tidak pernah terbukti.

Jika agama dipisahkan dengan politik, maka politik akan kehilangan etika, adab dan nilai-nilai keluhuran lainnya. Sebabnya, sumber etika, adab dan nilai-nilai keluhuran itu dari agama. Politik yang minus agama (baca:Islam) akan menjadi brutally politic. Semua akan berkata sesuka nafsunya. Politikus akan bertindak tanpa batas-batas nilai ketuhanan.

Dalam konteks Indonesia, pemisahan agama dan politik tidak tepat. Jauh dari nilai luhur kebangsaan Indonesia. Nilai luhur kebangsaan Indonesia dibangun atas sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa. Dalam pandangan alam Islam, politik itu berada di bawah agama dan bagian daripada agama.

 
Sedangkan pemimpin politik atau pemimpin agama  adalah jabatan biasa yang ditipkan oleh Allah Swt yang dibutuhkan oleh warga negara. Politik bukan sekedar ber-partai. Tetapi politik adalah managemen memimpin suatu kelompok masyarakat. Jadi, politik bukan sekedar cara merebut kekuasaan. Itu pandangan politik yang sempit dan sekular. Tujuan mengangkat pemimpin pun untuk maslahah dunia dan akhirat. Imam al-Ghazali mengatakan pendirian negara dengan pemimpinnya dalam rangka memenuhi kebahagian akhirat manusia (Imam al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin, jilid I, hal. 26).

 
Pendirian negara dan mengangkat imam menurut Imam al-Ghazali tujuan utamanya adalah menghasilkan kebahagiaan hakiki – yakni kebahagiaan di akhirat. Hal ini sebenarnya sejalan dengan misi kenabian. Negara dan politik merupakan bagian penting terutama dalam tema sentralnya, baik di dunia maupun di akhirat.
Merupakan sebuah keharusan bahwa agama adalah poros, dan penguasa adalah penjaga, dan sesuatu yang tidak ada penjaganya pasti akan hancur (Dhiauddin Rais,Teori Politik Islam . terj. hal.102).

 
Syari’ah yang tidak mendapat legitimasi dari negara untuk diterapkan, maka syariah tersebut kehilangan keefektifan dan kesempurnaan. Jadi, politik harus diletakkan pada tempatnya. Ia berada di bawah naungan agama yang terikat-rapat. Ia adalah seni memimpin, bukan sekedar meraih kekuasaan.  Misi politik dalam Islam berdimensi dua; maslahah dunia, dan maslahah akhirat. Partai politik merupakan sekedar salah satu alat saja. Bahkan bukan sesuatu yang pokok.

Dengan demikian, ketaatan kepada Tuhan tidak boleh dikalahkan oleh ketaatan kepada parpol. Tuhan dalam agama Islam, adalah otoritas tertinggi. Ketaatan pada bangsa juga semua berdasarkan ketaatan kepada Tuhan. Bukan sebaliknya. Otoritas Tuhan berada di atas otoritas negara, partai dan pemimpin. Inilah pandangan Islam yang telah dikenalkan Rasulullah Saw sebagai rahmatan lil alamin. Wallahu a’lam bisshowab.

Keberatan Ateis


Orang-orang yang tidak beriman kepada Allah subhaanahu wa ta’ala, tidak mengharap pahala dan tidak merasa takut akan azab-Nya, melakukan aktifitas tanpa mengharap keridhaan Allah subhaanahu wa ta’ala. Maka mereka tidak berhak mendapatkan pahala karena mereka tidak meniatkan amal perbuatan mereka untuk menggapai ridha Allah subhaanahu wa ta’ala.

 

Bahkan orang kafir akan disiksa karena kekufuran dan kesesatan mereka, jelas-jelas mereka berpaling, enggan menerima agama Allah dan mendustakannya. Mereka apabila mendengar ayat-ayat Allah dibacakan, merendahkan dan mempermainkannya. Oleh karena itu, mereka akan disiksa karena kekafirannya dan amal perbuatan mereka akan tertolak.

 

Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman: “Dan Kami perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan”. (Qs. Al-Furqan [25]: 23)

Pada ayat yang lain:

“Perumpamaan orang-orang yang ingkar kepada Tuhannya, perbuatan mereka seperti abu yang ditiup oleh angin keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak kuasa (mendatangkan manfaat) sama sekali dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia). Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh”. (Qs. Ibrahim [14]: 18)

Perbuatan-perbuatan baik seperti sedekah dan amal kemanusiaan niscaya akan dihitung dalam neraca orang mukmin pada hari kiamat. Tetapi, perbuatan-perbuatan itu, semuanya sia-sia bagi orang kafir, tidak akan dihitung dan ditimbang. Semua perbuatan baik orang-orang kafir bagaikan debu yang berterbangan kkarena tidak dilandasi iman kepada Allah dann mengharap ridha-Nya.

 

Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman: “Dan orang-orang kafir, perbuatan mereka seperti fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi apabila didatangi tidak ada apa pun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah baginya. Lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan (amal-amal) dengan sempurna, dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya.

atau (keadaan orang-orang kafir) seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliput oleh gelombang demi gelombang, di atasnya ada (lagi) awan gelap. Itulah gelap gulita yang berlapis-lapis. Apabial dia mengeluarkan tangannya hampir tidak dapat melihatnya. Barangsiapa tidak diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, maka dia tidak mempunyai cahaya sedikit pun”. (Qs. An-Nur [24]: 39-40)

“Thomas Alfa Edison – penemu listrik itu pasti masuk surga. Sebab, berkat temuannya jutaan umat manusia dapat diterangi dan kita menikmati kenyamanan – kenyaman hidup seperti kulkas dan AC. Itu semua berkat jasa Alfa Edison.”

 

“Surga atau neraka adalah otoritas Allah. Teori Einstein bisa menjelaskan relativitas waktu perjalanan Nabi pada peristiwa Isra’ dan Mi’raj dengan buroq. Ilmu modern secara akal bisa diterima dan membenarkan Al-Qur’an.”

 

Pada saat lain, ada juga orang yang melemparkan pembelaan terhadap (bunda) Theresia. Menurutnya aneh jika orang seperti Theresia tidak bisa masuk surga. Padahal dia dikenal baik, penuh kasih sayang dan suka menolong orang – orang yang membutuhkan.“Ya, meskipun Nasrani. Tapi dia banyak berjasa”.

 

Beberapa kalangan yang terpikat dengan ekspresi lahir dunia sering berkata seperti itu, “Bagaimana bisa Allah tidak memberikan pahala kepada ilmuwan yang menemukan listrik, pencipta pesawat terbang, peneliti yang menemukan obat, dokter yang mengobati pasien, orang-orang yang memperbaiki jalan, dan kontraktor yang membangun gedung? Apakah lantas Allah subhaanahu wa ta’ala tidak mengganjar perbuatan mereka semua ini? Dan di sisi lain orang yang ber-I’tikaf di masjid yang tidak menyumbangkan amal sedikit pun bagi kemanusiaan diberi pahala dan masuk surga, dan orang-orang di atas masuk neraka, apakah ini adil?”

 

Itulah keberatan yang sering diajukan, seakan-akan mereka ingin mengatakan, “Sepanjang anda melakukan kebaikan dan berbuat baik kepada Allah, maka Allah akan menerima amal dan perbuatan anda serta mengganjarnya”.

 

Atau pernyataan lain “Bahwa orang yang selamat adalah siapa saja dan apapun agamanya, selama memberi kontribusi yang baik bagi kemanusiaan di dunia ini. Surga menurut mereka, tidaklah didominasi oleh kelompok agama tertentu, namun dimiliki semua orang. Siapapun bisa memasukinya walau melewati jalur (agama) yang berbeda.”  Mereka mengibaratkan seperti orang yang menuju suatu kota sama, bisa melalui jalur yang berbeda – beda sesuai asal tempat tinggalnya.

 

Mereka adalah orang-orang yang mengkondsikan pahala dan siksa sesuai tolak ukur hawa nafsu, lalu mereka hendak menetakannya pada Allah. Untuk menjawab pernyataan mereka ini, kami akan mencantumkan keterangan dari Syaikh Abdul Majid Az-Zindani dengan sebuah perumpamaan yang mudah dicerna:

 

“Seorang pria memasuki kebun besar yang bukan miliknya. Di kebun itu, ia menemukan berbagai macam buah-buahan dan hidangan. Tanpa pikir panjang dia memakan dan meminumnya. Kemudian, ia melakukan aktifitas di dalamnya, pohon ini dia tebang sedangkan pohon yang lain dia tanam, dinding sebelah sini ia robohkan dan lubang sebelah sana dia tutup, dan jalan-jalan setapak ia rubah.

 

Kemudian, ada pria lain yang memasuki kebun itu, ia berkata dalam hati, “Saya tidak akan berbuat apa-apa sampai saya berhubungan dengan pemilik kebun ini atau wakilnya”. Kemudian, ia mencari-cari hingga bertemu dengan wakil pemilik kebun. Wakil itu mengecam perbuatan orang yang pertama, namun pria tersebut mengabaikannya dan bertindak di kebun itu semaunya tanpa  seizing pemiliknya. Sedangkan, pria kedua mendengarkan arahan dari wakil pemilik kebun dan berbuat sesuai dengan arahan itu. Maka, siapa yang berhak mendapatkan balasan?”

 

Apakah orang yang masuk ke dalam kebun tanpa mendapatkan izin dari pemilik kebun dan mengabaikan arahan pemilik kebun yang dibawa wakilnya berhak mendapatkan balasan, meskipun ia melakukan perbuatan baik di kebun itu?

 

Tak diragukan bahwa setiap orang yang berakal akan berkata, “Balasan hanya diperuntukkan bagi orang yang mengikuti petunjuk dan arahan pemilik kebun. Dan, yang menerobos masuk serta berbuat semaunya tanpa kerelaan pemiliknya, meskipun sudah ada yang memperingatinya, sudah tentu ia tidak berhak mendapatkan balasan yang baik, meskipun ia kadang berbuat baik”.

 

Demikian pula, bumi seisinya adalah milik Allah dan para Rasul-Nya adalah para wakil. Sedangkan, orang mukmin adalah orang yang berbuat selaras dengan petunjuk Tuhannya. Orang kafir adalah orang yang berbuat tanpa seizing dan petunjuk tuhannya dan pada saat yang sama berpaling dari para utusan Tuhannya.

 

Lantas, bagaimana orang yang tidak meniatkan amal perbuatannya akan mendapat pahala dari Allah, angkuh terhadap para Rasul, meremehkan petunjuk penciptanya, berpaling serta melakukan kemaksiatan dan dosa yang dilarang Allah, apakah mereka berhak memperoleh pahala?

 

Ketetapan Allah subhaanahu wa ta’ala atas amal perbuatan orang-orang kafir, balasannya akan disempurnakan dalam kehidupan dunia.

Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman: “Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, pasti Kami berikan (balasan) penuh atas pekerjaan mereka  di  dunia (dengan sempurna) dan mereka di dunia tidak akan di rugikan.

Itulah orang-orang yang tidak memperoleh (sesuatu) di akhirat kecuali neraka, dan sia-sialah di sana apa yang mereka usahakan (di dunia) dan terhapuslah apa yang telah mereka kerjakan”. (Qs. Hud [11]: 15-16)

 

Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman: “Barangsiapa menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambahkan keuntungan itu baginya, dan barangsiapa menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian darinya (keuntungan dunia) tetapi dia tidak akan mendapat bagian di akhirat”. (Qs. Asy-Syuura [42]: 20)

 

Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam  bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak menganiaya satu kebajikan pun yang dilakukan orang mukmin. Kebaikan itu akan di balasnya di dunia dan akan diganjar di akhirat. Sedangkan orang kafir, kebajikan-kebajikan yang dilakukan bukan karena Allah akan diganjar di dunia, sehingga bila di akhirat tiba tidak tersisa satu kebajikan pun yang akan diganjar lagi”. (HR. Muslim dan Ibnu Hibban)

 

Imam Al-Qurtuby ketika menafsirkan firman Allah:

“Katakanlah: “Infakkanlah hartamu baik dengan sukarela ataupun dengan terpaksa, namun infak itu sekali-kali tidak akan diterima dari kamu. Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang fasiq”. (Qs. At-Taubah [09]: 53)

Beliau mengatakan: “Penamaan perbuatan yang muncul dari orang kafir sebagai kebajikan (Hasanah) hanyalah dugaan orang kafir semata. Karena bila tidak demikian, maka ibadah taqarrub tidak sah dilakukan orang-orang kafir, karena tidak terpenuhinya syarat  yang membolehkannya yaitu Iman”.

Beliau menyebutkan, kenapa mereka tidak diterima? Jawabannya ada pada ayat selanjutnya yaitu “Dan yang menghalang-halangi infak mereka diterima adalah karena mereka kafir (ingkar) kepada Allah dan Rasul-Nya…”. (Qs. At-Taubah [09]: 54)

 

Berkata Aisyah radhiyallahu ’anha: “Ya Rasulullah, di masa jahiliyyah Ibnu Jud’an menyambung tali silaturrahim dan memberi makan kepada orang miskin. Apakah hal itu dapat memberikan manfaat bagi dirinya?” Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menjawab: “Semua itu tidak akan memberikan manfaat baginya karena sesungguhnya dia tidak pernah seharipun berdoa: ”Ya Rabbku, ampunilah kesalahanku pada hari Kamat.” (HR Muslim 315)

 

Siapa yang memungkiri bahwa bersilaturrahmi dan memberi makan orang miskin adalah termasuk perbuatan baik? Namun Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam secara tegas menyatakan bahwa itu semua menjadi sia-sia karena selama Ibnu Jud’an melakukannya tidak pernah sekalipun ia bermunajat kepada Allah dan mengharapkan pengampunan Allah di hari Berbangkit untuk segenap kesalahan dan dosa yang pernah dilakukannya. Artinya ia melakukan segenap amal kebaikan tersebut tanpa dilandasi iman kepada Allah dan Hari Akhir.

 

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Se­orang kafir jika berbuat kebaikan di dunia, maka segera diberi balasannya di dunia. Adapun orang mu’min jika ber­buat kebajikan, maka tersimpan pahalanya di akherat di samping rizqi yang diterimanya di dunia atas keta’atannya.” (HR Muslim)

Terakhir, semoga tulisan ini bermanfaat dan mari kita berdoa semoga Allah menerima amal kebaikan kita di dunia dan di akhirat “Ya Rabb kami, berilah kami hasanah (kebaikan) di dunia dan hasanah (kebaikan) di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”.

 

Referensi:

  1. Al-Iman, karya Syaikh Abdul Majid Az-Zindani
  2. Tafsir Al-Qurtuby, Maktbah Syamilah
  3. Website eramuslim.com

Menghujat Al-Quran


​Suatu ketika seorang ulama yang Masyhur, yaitu al-Imam al-Qadhy Syekh Yusuf Bin Ismail An-Nabhani yang menjabat sebagai Qadhy (Hakim) di Lebanon Masa Itu dihadapkan pada suatu kasus pembunuhan.

Saat persidangan berlangsung, didatangkan pemuda yang menjadi tersangka pembunuhan.

Terjadi dialog antara Syekh Yusuf An-Nabhani selaku Qadhy dengan Pemuda tersebut.

Syekh Yusuf Pun Bertanya :

Apa betul kamu telah melakukan suatu pembunuhan?

Sang pemuda menjawab :

Iya, betul…Saya telah membunuh seseorang wahai Syekh…

Lalu Syekh Yusuf bertanya lagi : 

Kalau boleh Kau jelaskan apa motif dari pembunuhanmu wahai Anak Muda?

Dijawab oleh Sang pemuda :

Orang Itu…telah menghina Rasulullah SAW terang-terangan….Saya tidak sanggup lagi menahan amarahku terhadap orang-orang yang mencaci Rasulullah SAW dihadapanku…Lantas aku membunuhnya…

Syekh Yusuf diam sejenak…Lalu bertanya lagi :

Tangan yang mana Kau gunakan untuk membunuh orang itu…Kanan atau Kiri?

Dijawab olehnya:

Tangan kananku ini wahai Syekh..

Lalu Tiba-tiba Syekh Yusuf An-Nabhani turun dari singgasana Hakim menuju ke arah pemuda tadi. Meraih tangan kanannya lalu  menciumnya berkali-kali seraya berkata : 

Tangan Ini kelak yang akan membawamu ke sorga….

Wahai hadirin sekalian…

Saksikanlah, mulai hari Ini saya mengundurkan diri dari jabatanku selaku Qadhy di sini, Karena saya tidak akan pernah sanggup menghukum seseorang yang telah membunuh yang disebabkan membela kehormatan Rasulullah SAW…!!

Demikian cinta dan hormatnya Syekh Yusuf An-Nabhani Kepada Rasulullah SAW dan agamanya…

Berbeda dengan ulama-ulama yang sekarang, meski belajarnya sampai ke Australia atau Eropa, tapi sibuk membela orang kafir meski telah jelas-jelas melecehkan ayat suci al-Qur’an.

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia disebutkan bahwa menghujat adalah sinonim dari mencela atau mencaci yang artinya menggunakan perkataan-perkataan yang tidak sopan. 

Kata menghujat dalam Bahasa Arab adalah ath-Tha’nu, ia memiliki dua makna, hissi dan maknawi. Makna hissi seperti kata tha’anahu bi al-rumhi yang berarti memukul dengan alat yang tajam seperti tombak dan makna yang maknawi seperti kata wa rajulun tha’an fi a’radh al-nas yang berarti mencela sesuatu baik pada nasab, kitab atau seseorang. 

Hujatan terhadap al-Quran terbagi menjadi dua, pertama hujatan seputar al-Quran (at-Tha’nu haula al-Quran) seperti menghujat tentang pengumpulan al-Quran, kemutawatiran al-Quran, pembagian al-Quran menjadi Makki dan Madani dan hujatan lainnya yang tidak secara langsung menghujat kepada ayatnya. Kedua, hujatan terhadap al-Quran itu sendiri (ath-Tha’nu fi al-Quran). 

Menghujat al-Quran (ath-Tha’nu fi al-Quran) masuk dalam salah satu cabang pembahasan Ilmu al-Quran, Imam as-Suyuthi dalam kitabnya al-Itqan, membuat satu pembahasan Fi Musykilihi wa Muuhim al-Ikhtilaf wa at-Tanaqudh yang membahas tentang pandangan-pandangan yang mengatakan bahwa dalam ayat al-Quran terdapat kesimpang siuran, sedangkan Zarkasyi dalam kiabnya al-Burhan membuatnya dalam pembahasan Ma’rifah Muhim al-Mukhtalaf. 

Kalangan Yahudi-Kristen telah lama menghujat Al-­Qur’an. Hal  ini bisa dimengerti karena mereka menolak jika Al-Qur’an meluruskan agama mereka.misalnya firman Allah:

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata sesungguhnya Allah ialah al-Masih putera Maryam.” (QS. Al-Maidah: 72, lihat juga QS. At-Taubah: 31 dan QS. An-Nisa’: 157) 

Pernyataan Al-Qur’an tersebut membuat orang kristen marah dan geram. Oleh sebab itu, sejak awal mereka menganggap al-Qur’an sama sekali bukan kalam Ilahi. Mereka menjadikan Bibel sebagai tolak ukur untuk menilai al-Qur’an.

 Mereka menilai bila isi al-Qur’an bertentangan dengan kandungan Bibel, maka al-Qur’an yang salah. Sebab, menurut mereka, Bibel tidak mungkin salah. Karena Al-Qur’an berani mengkritik dengan sangat tajam kata-kata Tuhan di dalam Bibel, maka AI-Qur’an bersumber dari setan.

Kandungan al-Quran yang mengecam ajaran Yahudi dan Kristen seperti itu jelas akan menuai reaksi balik sepanjang masa. Seorang kaisar Byzantium,Leo III (717-741 M) misalnya,telah menuduh al-Hallaj bin Yusuf ats-Tsaqafi, seorang gubernur di zaman kekhalifahan Abdul Malik bin Marwan (684-704 M) telah mengubah al-Quran. 

Yahya al-Dimasyqi atau dikenal dengan John of Damascus telah menulis dalam bahasa Yunani kuno kepada kalangan Kristen ortodoks bahwa Islam mengajarkan anti kristus. John of Damascus berpendapat bahwa Muhammad adalah seorang penipu kepada orang Arab yang bodoh. Dengan liciknya, katanya, Muhammad bisa menikahi Khadijah sehingga mendapat kekayaan dan kesenangan. Dengan cerdasnya, Muhammad menyembunyikan penyakit epilepsinya ketika menerima wahyu dari Jibril. Muhammad memiliki hobi perang karena nafsu seksnya tidak tersalurkan. 

Hari ini umat Islam sedang berjihad melawan orang No 1 di DKI yaitu Bapak Ahok yang telah menghujat Alquran. Ahok secara sadar telah menyatakan orang telah dibodohi andaikan tidak memilih dirinya atas dasar surat Al Maidah ayat 51. 

Dengan pernyataan dia seperti itu artinya Ahok telah telah secara nyata menyebut Alquran sebagai sumber kebodohan dan siapa saja yang menyampaikan haramnya memilih pemimpin kafir dengan dasar ayat itu juga disebut Ahok sebagai telah melakukan pembodohan. 

Alih-alih minta maaf, Ahok seperti biasa dengan arogannya ngeles dengan mengatakan konteksnya lawan politik memanfaatkan ayat Alquran. Bukan berarti Alqurannya yang membodohi. Dan tetap publik tidak puas dengan alasan Ahok. Termasuk saya.
Bahkan, dalam suatu acara dengan terang terangan dia melakukan misionari di ruang rapat dengan mengatakan beberapa statement yang menyudutkan ajaran Islam seperti yang bisa anda lihat di lino video berikut: https://youtu.be/MLWFE_l7XkE dengan mengatakan bahwa agama adalah Racun

Semoga Allah swt memberikan kekuatan kepada umat Islam khususnya para ulama di dewan MUI Pusat yang terus berjuang agar kasus penistaan Alquran ini bisa diproses sampai ke ranah pengadilan. 

Semoga Allah swt menyatukan umat Islam dalam rahmat dan kasih sayang-Nya. Amiin. 

Referensi:

  1. https://ahmadbinhanbal.wordpress.com/2010/06/21/para-penghujat-al-quran-era-abad-20/
  2. http://m.republika.co.id/berita/nasional/politik/16/10/08/oepmsd414-hti-ucapan-ahok-menghina-keagungan-dan-kesucian-alquran

Nasib Para Penista Islam di Indonesia


Sejarah selalu berulang, begitu kata pepatah. Jika hari ini ada seorang Gubernur dinilai menista agama oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), maka hal nista menista bukanlah hal yang pertama. 

Bagaimana nasib para penista Islam dari masa ke masa? Sejarah mencatat setiap ada penistaan, umat Islam tak tinggal diam. Semua bereaksi, bahkan jika penegak hukum mengacuhkan, sejarah mengatakan masyarakat akan turun tangan langsung.

Kita lihat bagaimana ketika surat kabar Djawi Hiswara edisi 11 Januari 1918 No.5. Surat kabar yang diterbitkan N.V.Mij. t/v d/z Albert Rusche&Co. dan dipimpin Martodarsono itu, memuat artikel Djojodikoro yang berjudul “Pertjakapan antara Marto dan Djojo”. Dalam artikelnya, Djojodikoro menulis“Gusti Kandjeng Nabi Rasoel minoem A.V.H. gin, minoem opium, dan kadang soeka mengisep opium.

Kita melihat reaksi keras dari umat yang saat itu dipimpin oleh sang raja tanpa mahkota Tjokroaminoto bersama ormas-ormas Islam melakukan perlawanan. Tjokroaminoto mendirikan Komite Tentara Kandjeng Nabi Mohammad (TKNM) di Surabaya, untuk “mempertahankan kehormatan Islam, Nabi, dan kaum muslim.” Diketuai oleh Tjokroaminoto sendiri, Sosrokardono sebagai sekretaris, dan Sech Roebaja bin Ambarak bin Thalib, seorang pemimpin Al Irsyad Surabaya, menjadi bendahara.

Pengaruh seruan TKNM untuk membela Islam tampak sangat memukau.Tjokroaminoto dan kawan-kawan berhasil membangun opini publik dan membuat isu Surakarta itu menasional. Ketika Vergadering(rapat umum) di Surabaya pada 6 Februari, TNKM berhasil mengumpulkan dana lebih dari tiga ribu gulden. Aksi protes yang diadakan serentak pada 24 Februari di  42 tempat  di seluruh Jawa dan sebagian Sumatera dihadiri oleh lebih dari 150.000 orang dan berhasil mengumpulkan dana lebih dari 10.000 gulden. 

Subkomite TKNM didirikan hampir di seluruh Jawa kecuali Semarang dan Yogyakarta. Sejumlah SI lokal yang terbengkalai berhasil  dibangkitkan kembali di bawah pimpinan subkomite-subkomite TKNM.

Sejarah juga berkata ketika pendiri Boedi Oetomo, Dr. Soetomo, memuat berbagai tulisan yang menghina ibadah haji. Dalam tulisan-tulisan itu, penulis mempertanyakan manfaat naik haji, menganggap orang-orang yang dibuang ke Digul karena membela bangsa, lebih mulia dari orang-orang yang naik haji karena hanya “menyembah berhala Arab”, serta menganjurkan orang Islam untuk pergi keDemak saja daripada ke Mekah.

Maka gegerlah umat Islam. Tak lama, Soetomo berkilah,  berusaha berdandan dengan mengatakan kepada pers bahwa ia dan ayahnya juga seorang muslim dan sering menyumbang kepada Muhammadiyah dan Nahdlatul ‘Ulama.  Pernyataan itu oleh Tokoh Persis, M.Natsir, dalam Majalah Pembela Islam disebut sebagai ‘sahadat model baru.

Sejarah juga berkata bahwa masyarakat tak bisa ditahan-tahan jika aparat tak segera bertindak. Kita melompat ke Makasar setelah orde lama tumbang. Nabi Muhammad dihina kali ini dihina oleh oknum guru beragama Kristen di Sekolah Tinggi Ekonomi, Makassar, H.K. Mangunbahan. Di hadapan murid-muridnya yang mayoritas muslim itu, ia muntahkan kata-kata penuh kebencian.

“Nabi Muhammad adalah seorang pezina. Nabi Muhammad adalah seorang yang bodoh dan tolol, sebab dia tidak pandai menulis dan membaca.”Mendengar itu, meletuslah perasaan hati dan menaiklah darah murid-murid muslim tadi. Akibatnya, pada malam 1 Oktober 1967, beberapa gereja di Makassar dirusak dan dipecah kaca-kacanya oleh mereka.

Kala itu Pelajar Islam Indonesia (PII) berkumpul di depan Pusat Kesehatan Muhammadiyah Makassar. Di sana, PII membuat deklarasi yang menyatakan bahwa mereka siap mati sebagai syuhada demi membela Islam. Pada saat yang bersamaan, melalui stasiun radio HMI, pemimpin HMI, Jusuf Kalla ( yang sekarang menjadi Wakil Presiden RI), menginstruksikan semua anggota HMI dan organisasi muslim lainnya untuk datang ke daerah dekat masjid pada pukul 8 malam. 

Sejarah pun bercerita pada tahun 1968, dunia sastra dihebohkan dengan terbitnya Cerpen berjudul “Langit Makin Mendung” karangan Kipandjikusmin. Cerpen yang dimuat di majalah Sastra edisi Agustus 1968 No. 8 Th. VI itu dinilai telah menodai kesucian agama Islam.

Setelah itu, pemuda dari Ormas Islam mendatangi kantor majalah Sastra dan rumah HB. Jassin. Mereka menuntut Darsjaf Rachman untuk menarik kembali Cerpen Kipandjikusmin “Langit Makin Mendung” dan meminta maaf kepada umat Islam. 

Apabila tuntutannya tidak dikabulkan, maka mereka mengultimatum tidak  akan bertanggung jawab manakala terjadi tindakan fisik di kantor majalah Sastra dan kepada pemimpin-pemimpinnya. Tindakan fisik itu, kata mereka, akan datang dari pemuda-pemuda Ansor, Muhammadiyah, PMII, dan HSBI.

Aksi protes juga datang dari Pemuda Mahasiswa dan Peladjar Islam (PMPI). Kamis pagi, Koordinator pusat PMPI, mengadukan Pemimpin Redaksi/Penanggung jawab majalah Sastra kepada Kejaksaan Agung. Menurut pimpinan PMPI, pengaduan itu disertai fakta-fakta tentang bentuk penghinaan terhadap umat Islam, diantaranya tentang penggambaran Tuhan yang sangat bertentangan dengan ajaran Islam. 

Para sastrawan pun bereaksi. Situasi makin memanas. Sastrawan-satrawan yang kontra terhadap Cerpen “Langit Makin Mendung” diantaranya: Jusuf Abdullah Puar, Buya Hamka, Wiratmo Soekito, Moh. Zabidin Jacub SH, Ajib Rosidi, dan Abdul Muis, dan Taufiq Ismail. Buya Hamka menegaskan bahwa dalam ajaran Islam, tidak boleh menggambarkan sosok Tuhan. Hal senada juga ditegaskan oleh Ajib Rosidi dan Taufiq Ismail.

Mengarungi gelombang protes, Darsjaf Rahman selaku Pemimpin Umum majalah Sastra, akhirnya meminta maaf kepada umat Islam.

“Sebagai suatu imaginasi dalampengungkapan jang bersifat fiktif dalam sedjarah kesusastraan Islam, terutama dalam dialog antara machluk dgn chalikNja bukan suatu hal jang baru.

Tetapi djika ada persoalan2 di dalam pengungkapan mengenai Tuhan dan RasulNja jang menurut tanggapan seseorang atau golongan berdasarkan DZOUQ masing2 tidak dapat diterima jang berhubungan dengan soal2 jang bersifat Agung, dlm hal inidjika madjalah Sastra terlalai dan tersalahkan, maka madjalah Sastra mohon maaf sebesar2nja.

Kepada Allah Azza wa Djalla kiranja berkenan memberikan maghfiroh-Nja

Sejarah berkata, walau sudah meminta maaf, pelaku penista pun tetap ditindak secara hukum agar warga tidak main hakim sendiri. Rupanya gelombang protes belum benar-benar reda. Meski kelihatannya telat, Menteri Agama, K.H. Mohd Dachlan, di HARIAN KAMI  29 Oktober 1968, menganggap Cerpen “Langit Makin Mendung” merupakan penghinaan terhadap Tuhan, agama, para Nabi, malaikat, para kiai/ulama, pancasila dan UUD 1945.

Polemik Cerpen “Langit Makin Mendung”akhirnya dibawa ke pengadilan. Meskipun pengarang pada tanggal 25 Oktober 1968, meminta maaf atas Cerpennya, namun sebagai pemimpin redaksi Majalah Sastra, HB. Jassin, tetap harus bertanggung jawab. 

Akhrinya, HB. Jassin dijebloskan ke penjara setelah keputusan dibacakan oleh Hakim Ketua Anton Abdulrachman SH pada sidang hari Rabu, 28 Oktober 1970. Menariknya, prahara sastra inimembuat HB. Jassin semakin mendalami ilmu agama. Setelah menyelesaikan perkara, ia semakin giat belajar bahasa Arab, Al-Qur’an, dan kesusastraan. Bahkan ia sampai membuat buku terjemahan Al-Qur’an

Nasib para penista Islam terselamatkan karena diamankan oleh para penegak hukum dijebloskan ke penjara, hal ini pun nampak pada kasus Arswendo yang menempatkan Nabi Muhammad dibawah urutan dirinya sebagai orang terpopuler.

Sama, ia meminta maat tapi proses hukum terus berjalan. Pada 22 Oktober 1990, Tabloid Monitor mengakui kesalahan dan menyampaikan permohonan maaf atas program Kagum 5 Juta, serta mencabut tulisan tersebut.

“Kami, seluruh karyawan Monitor, memohon maaf yang sebesar-besarnya karena berbuat khilaf memuat Ini Dia:50 TokohYang Dikagumi Pembaca Kita dalam terbitan no.225/IV 15 Oktober 1990. Pemuatan tersebut dapat menimbulkan penafsiran yang keliru dan dapat menyinggung perasaan, khususnya umat Islam. Dengan ini, kami mencabut tulisan terebut dan menganggap tidak pernah ada.

Namun demikian, karena  semakin gencarnya protes yang dilayangkan kepada Monitor, pemerintah melalui Menteri Penerangan Harmoko, pada Selasa 23 Oktober 1990, mencabut surat izin penerbitan Monitor. Kemudian, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) cabang Jakarta, mengeluarkan surat yang isinya memberhentikan Arswendo Atmowiloto dari keanggotaan PWI dan mencabut rekomendasinya untuk Arswendo sebagai pemimpin redaksi. Puncaknya, Arswendo diadili dan dijatuhi hukuman penjara selama lima tahun.

Itulah sebagian aksi nista dari masa ke masa. Aksi nista yang selalu berbalas reaksi bela agama hingga berujung nestapa. Sejarah kini berulang, akankah massa akan bergerak atau pihak penegak hukum mengambil pelajaran dari sejarah?

Ada baiknya sejarah menjadi pelajaran, sebab kata filsuf dari Spanyol, George Santayana bilang  “Mereka yang tidak mengenal masa lalunya, dikutuk untuk mengulanginya.” Dan sejarah sejatinya pelajaran bagi para penista Islam bahwa umat Islam tidak akan tinggal diam jika dinistakan.

Sumber:http://jejakislam.net/menista-islam-dari-masa-ke-masa/

Ibnu Khaldun: Korupsi Terjadi Karena Pejabat Mengejar Kemewahan Hidup


korupsi ibnu khaldunPemikir Muslim ternama yag hidup pada abad ke-14, Ibnu Khaldun, menilai penting adanya rasa kebersamaan, serta senasib dan sepenanggungan, atau disebutnya sebagai ashabiyah sebagai penjamin kelangsungan sebuah negara. Hilangnya ashabiyah itu, kata dia, akan melahirkan antara lain perilaku korupsi.

Khaldun mengamati jatuh bangunnya kesultanan dan menulisnya kesimpulannya dalam buku The Muqaddimah (Mukadimah). Buku tersebut juga masuk dalam daftar bacaaan CEO Facebook Mark Zuckeberg. Continue reading

25 Pasal Protokolat Zionisme Dari Rotshchild


Bangsa Yahhudi meyakini bahwa mereka yang akan menjadi satu-satunya Penguasa Dunia, dan tanpa ragu-ragu pasti akan datang suatu hari bagi mereka untuk menguasai seluruh bumi dan memusnahkan seluruh agama. Keyakinan seperti itu tercantum dalam suatu dokumen rahasia yang disebut Protocol of Zions atau Protokolat Zionis.

Protocol ini merupakan salah satu dokumen paling kontroversial di dunia. Banyak yang menganggap Protokol merupakan sebuah dokumen palsu yang sengaja di buat-buat demi menguntungkan kelompok anti Semit, pandangan ini diwakili oleh kaum Zionis-Yahudi dan para pendukungnya. Continue reading

%d bloggers like this: