Apakah Saya Baik Atau Cerdas?


Ibnu Umar radhiyallaahu ‘anhuma berkata, “Suatu hari aku duduk bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba datang seorang lelaki dari kalangan Anshar, kemudian ia mengucapkan salam kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang mukmin yang paling utama?’ Rasulullah menjawab,

Yang paling baik akhlaknya’

Kemudian ia bertanya lagi, ‘Siapakah orang mukmin yang paling cerdas?’. Beliau menjawab,

Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian tersebut, itulah orang yang paling cerdas

(HR. Ibnu Majah, Thabrani)

Mari lihat akhlak kita. Bukan ilmu kita, jabatan kita, titel kita, harta kita atau fisik kita.

Mari kita bercermin diri

apakah selalu ingat dan mempersiapkan kematian?

Oleh: Islamic Character Development – ICD

Rasakanlah, Bukan Ketahuilah


❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤

Rasakanlah (bukan ketahuilah) Allah selalu bersama kita, kejar cintaNya jauhi murkaNya, maka RASA itulah TAQWA

❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤

Bila seseorang sudah ada RASA ❤ tersebut:

Ia akan selalu berzikir baik dalam keadaan berdiri, duduk atau berbaring.

Ia akan selalu dekat dengan alQuran membaca setiap saat.

Ia akan mengejar berkorban apapun untuk menggapai CINTA ALLAH

Demikian maksiat, ia jauhi karena akan ada RASA TAKUT datangnya KEMURKAAN ALLAH.

* Motivasi Islami oleh Ust Arifin Jayadiningrat | Direktur Islamic Character Development.

Broadcast Instagram:

Tips Khusyu Bacaan Shalat


shalat1-1413175459.jpg

Hadits berikut ini mari kita jadikan sebagai renungan, mensikapi diri dengan jujur, agar mampu melihat posisi kita masing dalam mendirikan Shalat.Hadits berikut ini mari kita jadikan sebagai renungan, mensikapi diri dengan jujur, agar mampu melihat posisi kita masing dalam mendirikan Shalat.

Rasulullah SAW bersabda :

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَنْصَرِفُ وَمَا كُتِبَ لَهُ إِلَّا عُشْرُ صَلَاتِهِ تُسْعُهَا ثُمْنُهَا سُبْعُهَا سُدْسُهَا خُمْسُهَا رُبْعُهَا ثُلُثُهَا نِصْفُهَا

Sesungguhnya seseorang selesai (dari shalat) dan tidaklah ditulis (pahala) baginya, kecuali sepersepuluh shalatnya, sepersembilannya, seperdelapannya, sepertujuhnya, seperenamnya, seperlimanya, seperempatnya, sepertiganya, setengahya. (HR. Abu Dawud)

Diriwayatkan oleh Abu Dawud, bahwa Hasan bin ‘Athiah Radhiyallahu anhu berkata : “Sesungguhnya ada dua orang berada dalam satu shalat, akan tetapi perbedaan keutamaan (pahala) antara keduanya bagaikan langit dan bumi”.

Shalat ibarat kobaran api pertempuran bersama setan, pertempuran was-was dan bisikan-bisikan, karena kita berdiri pada tempat yang agung, paling dekat dengan Allah dan paling dibenci setan. Maka setan berusaha menghiasai pandangan kita dengan kesenangan dan menawarkan godaan, dia juga mengingatkan yang kita lupakan dan senang ketika shalat kita rusak sebagaimana baju usang dan rusak.

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk membantu meraih khusyu yaitu hendaknya segera menuju masjid dengan tenang dan tidak tergesa-gesa, membersihkan pakaiannya, mensucikan badannya, mengkosongkan hatinya dari kesibukan dunia, semerbak harum badannya, meluruskan barisan dan menutup celah dalam barisan, dan ia tidak mengangkat kepalanya ke langit saat shalat, karena bisa menghilangkan kekhusyu’an.

Terkadang dalam shalat kita masih belum bisa fokus karena gangguan dari luar atau fikiran yang masuk dalam shalat kita. Untuk menghilangkannya bisa anda praktekkan tips berikut ini agar khusyu dalam bacaan shalat yang penulis dapatkan dari Ust Arifin Jayadiningrat dalam salah satu pelatihan beliau tentang Shalat Khusyu’.

  1. Menggerakkan lidah, bibir , rahang bawah secara ekspresif TAJWID DAN MAKHROJ .. walau tidak keluar suara.Semakin ekspresif tajwid dan makhraj dalam gerakan maka PIKIRAN akan lebih terjaga.
  2. Bacaan harus perlahan dalam mengekspresikan gerakan  Lidah, bibir dan rahang bawah tidak tergesa gesa.
  3. Mengerti bacaan. Bila belum paham batin harus memuji Allah…. ( penyamaan tarjamahan doa )
  4. Takbir Wajib keluar suara walau kecil … sholat sendiri atau berjamaah.

Bila 1 sampai 4 dikerjakan maka suara sekeras apapun  disampig kita yang kita dengar saat kita shalat maka TIDAK AKAN pengaruh kepada kekhusyukan.

Ibnu Qayyim dalam Wabilus Shaib membagi manusia dalam mendirikan shalat menjadi lima tingkatan:

  1. Orang yang menzalimi dirinya sendiri, yaitu orang yang mengerjakan shalat tanpa memperhatikan masalah wudhu, waktu, ketentuan-ketentuan dan rukun-rukunnya.
  2. Orang yang mendirikan shalat dengan memperhatikan masalah waktu, ketentuan-ketentuan dan rukun-rukunnya dan wudhu yang bersifat lahiriah. Akan tetapi, sama sekali tidak berusaha untuk mengusir was-was dan pikiran-pikiran di luar shalat.
  3. Orang yang memperhatikan ketentuan-ketentuan dan rukun-rukun shalat serta berusaha keras mengusir was-was yang hinggap dalam jiwa dan pikirannya selain shalat. Jadi dia sibuk dengan usaha mengusir musuhnya, agar shalatnya tidak dicuri. Maka dia berada dalam shalat dan jihad.
  4. Orang yang mendirikan shalat dengan menyempurnakan hak-hak, rukun-rukun dan ketentuan-ketentuan shalat. Pikiran sepenuhnya dikerahkan untuk masalah shalat, agar shalatnya betul-betul sempurna. Maka orang seperti ini, seluruh hatinya terkait dengan persoalan ibadah shalat kepada Rab-Nya.
  5. Orang yang mendirikan shalat seperti poin keempat, disamping itu ia meletakkan hatinya di hadapan-Nya, melihat Allah dengan hatinya, amat cinta dan ta’zim kepada-Nya, seolah-olah ia melihat dan menyaksikan-Nya. Rasa was-was dan hal terlarang jauh darinya, penghalang antara dia dan Allah teramat jauh, maka shalat inilah shalat yang paling afdhal dan paling agung di antara langit dan bumi. Dalam shalat dia berinteraksi dengan Rab-nya dan dengan shalat matanya menjadi sejuk.

Selanjutnya Ibnu Qayyim memberikan kesimpulan berikut:

‘Orang yang tergolong dalam kelompok pertama akan disiksa, yang masuk kelompok kedua akan dihisab, kelompok ketiga akan diampuni dosanya, kelompok keempat akan mendapat pahala, sedang yang masuk kelompok kelima akan dekat dengan Allah, karena siapa saja yang matanya merasa sejuk ketika shalat di dunia, maka matanya akan merasa sejuk di akhirat karena bertemu dengan Allah. Siapa yang matanya merasa sejuk, niscaya orang merasa sedap memandangnya. Barangsiapa yang tidak merasa sejuk ketika menghadap Allah, niscaya menjadi orang yang merugi, baik di dunia maupun di akhirat.’

Semoga kita dimudahkan mendapatkan khusyu dalam shalat kita. amiin.

Sumber:

Kajian Akhlak Ust Arifin Jayadiningrat

Al-Khusyu wa Atsaruhu fi bina-il ummah oleh Said bin Ied Al-Hilali

Yuk..share poster nasehat ini…

Berapa pahala shalat yang kita dapat?

pahala sholat

Cara mendapatkan pahala Haji tanpa harus pergi Haji

keutamaan-shalat-berjamaah-di-masjid-2

Ingat Mati, Tinggi Kualitas


Shalat dalam Islam laksana tiang agama. Shalat adalah pemancar seluruh nilai nilai akhlak karimah, karena sumber nilai adalah Allah. Shalat ibadah individual vertikal yang sangat sakral, komunikasi langsung dengan sumber kemuliaan, yaitu Allah SWT. Shalat Fardhu dianjurkan berjamaah, ini gambaran kekuatan komunal horizontal yang sarat akan nilai-nilai transedental.

Allah swt berfirman: “Mintalah kalian (kepada Allah)dengan SABAR dan SHALAT, dan sesungguhnya dia (SHALAT itu) sunnguh berat kecuali atas orang2 yg KHUSYU.yaitu mereka yang (terus menerus) meyakini bahwa mereka berjumpa dengan Tuhan mereka, dan juga mereka (terus menerus) meyakini bahwa sesungguhnya mereka itu hanya kepada-Nya pasti kembali”. (QS.Al-Baqarah: 45-46)

Apakah shalat kita masih dirasakan berat?, masih dirasakan beban?,kalau tidak shalat takut disiksa?, Shalat belum terasa ni’mat?, shalat belum dirasakan sebagai kebutuhan ?….itu semua indikator bahwa shalat kita belum KHUSYU’.

KHUSYU’ secara bahasa hudhurul qalbi, yakni kesadaran penuh terhadap apa yg dikatakan (bacaan), dan perbuatan (gerakan), dalam bahasa psikologi disebut single focus. Artinya hati, lisan, dan gerakan tertuju kepadanya:

  1. Sekarang aku Sedang berjumpa dg Allah.
  2. Nanti kembali pasti kepadaNya. Yakni sekarang saat saya shalat ini saya sedang berjumpa dengan Allah yang Maha Segala Sempurna, MahaSuci dari segala kekurangan, Dia mencipta, mengatur, mengurus, merawat,menjaga, memberi rezeki, menyembuhkan sakit, mendidik, memelihara, membina, menghidupkan, mematikan… saya. Dan shalat yg sedang saya tunaikan ini adalah bekal pertama dan utama kelak saat saya kembali kepadaNya.

Dari uraian di atas, maka untuk mencapai SHALAH KHUSYU adalah :

  1. Menyadari sepenuh hati maksud dan tujuan melaksanakan shalat.
  2. Memahami dan menyadari makna bacaan shalat.
  3. Memahami dan menyadari mkna gerakan-gerakan shslat.
  4. Mengamalkan ajaran shalat dalam kehidupan sehari hari di luar shalat.

Dengan mengamalkan 4 hal di atas akan mudah terbangun kekhusuan.

Tidak ada yg tidak MENGETAHUI bahwa shalat itu Menghadap Allah (kognisi). Tapi pada prakteknya, kita tidak MERASAKAN bahwa Shalat sedang Menghadap Allah (afeksi) maka sering kali mengingat / memikirkan hal-hal lain.

Jadi apa yang kita ketahui belum tentu kita rasakan. Inilah pentingnya belajar “merasakan” komunikasi dengan ALLAH.

Apakah tujuan Shalat ?
Untuk Mengingat Allah

Qs. Tãhã (20) : 14
“Sungguh Aku ini Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah Shalat untuk mengingat Aku”.

Bagaimana kita bisa selalu mengingat Allah, kalau kita tidak mengenal Allah. Banyak sekali cara kita untuk kita bisa mengenal Allah, dari apapun, dari manapun.

Misal mengingat Allah dari bernafas. Betapa bernafas itu baru satu kali tarikan nafas saja sudah mengaktifkan 300 juta sel-sel yg kita butuhkan.
Siapakah yg dpt melakukan itu selain Allah ? ….. TIDAK ADA.
لا اله الا الله

” Orang2 yang ber Iman, Bila disebut nama ALLAH ….. Bergetarlah hatinya.
Bila dibacakan ayat2 suci Al-Qur’an …. Bertambahlah Imannya”.

Tapi Orang yg ber Iman, Jika disebut nama Allah …. Tidak bergetar hatinya (biasa2 saja), dan dibacakan ayat2 suci Al-Qur’an … Tidak bertambah Imannya …. Maka ada yang tidak benar pada Imannya.

Konsep dasar Khusyu dalam Shalat :

  • Harus merasakan sangaaaat membutuhkan Allah
  • Harus Sabaaar, Tenaaang, Tuma’ninah
  • Merasakan bertemu dgn Allah, Berbincang-bincanglah dengan Allah
  • Merasakan akan kembali kepada Allah = Kematian.

Insya Allah manfaat dan bisa membantu utk lebih khusyu didalam Shalat.

Agar menambah khusyu’ dalam Shalat, hendaknya merasakan (afeksi) seolah-olah shalat yang dikerjakan adalah shalat terakhir di masa hidupnya kemudian ia akan kembali kepada Allah. Hal ini telah diajarkan oleh Rasulullah SAW ketika memberikan nasehat kepada seorang lelaki dalam hadits berikut:

عَنْ أَبِي أَيُّوبَ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ عَلِّمْنِي وَأَوْجِزْ قَالَ إِذَا قُمْتَ فِي صَلَاتِكَ فَصَلِّ صَلَاةَ مُوَدِّعٍ وَلَا تَكَلَّمْ بِكَلَامٍ تَعْتَذِرُ مِنْهُ وَأَجْمِعْ الْيَأْسَ عَمَّا فِي أَيْدِي النَّاسِ

Dari Abi Ayub berkata: datang seorang lelaki kepada Nabi SAW dan berkata, Wahai Rasulullah ajarkanlah aku dan persingkatlah, Nabi bersabwa: “Apabila engkau mendirikan shalat, maka dirikanlah dengan sungguh-sungguh (seakan-akan shalat terakhir), janganlah berbicara yang menyebabkan engkau berbuat salah, dan tinggalkan jauh-jauh urusan duniawi yang ada di tangan orang-orang”. (HR. Ibnu Majah no 4171, Ahmad, V: 412 dan Hilyatul Auliya, I: 362 dari Abu Ayyub)

Penulis sering mendapatkan Ust Arifin Jayadiningrat ketika menjadi imam membacakan ini صَلُّوا صَلَاةَ الْمُوَدّع shalatlah seakan-akan shalat terakhir, untuk mengingatkan jamaah untuk khusyu dan merasakan ini shalat terakhirnya.

Seorang muslim hendaknya berusaha keras meningkatkan kualitas shalatnya dan cinta untuk bertemu dengan Allah sehingga shalat merupakan sarana untuk menyejukkan kedua mata dan menghindari sejenak kelezatan duniawi dengan menghadap kepada-Nya.

Merasakan akan kembali kepada Allah atau ingat mati terbukti bisa meningkatkan kekhusyuan dalam Shalat, sebagaimana dikuatkan oleh hadits Nabi berikut:

وَعَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: ” اذْكُرِ الْمَوْتَ فِي صَلاتِكَ , فَإِنَّ الرَّجُلَ إذَا ذَكَرَ الْمَوْتَ فِي صَلَاتِهِ لَحَرِيٌّ أَنْ يُحْسِنَ صَلَاتَهُ , وَصَلِّ صَلَاةَ رَجُلٍ لَا يَظُنُّ أَنْ يُصَلِّيَ صَلَاةً غَيْرَهَا، وَإِيَّاكَ وَكُلَّ أَمْرٍ يُعْتَذَرُ مِنْهُ “

Dari Anas bin Malik berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Ingatlah mati dalam shalatmu, karena sesungguhnya apabila seseorang ingat mati dalam shalatnya, niscaya termotivasi untuk memperbaiki shalatnya. Shalatlah sebagaimana shalat orang yang tidak menyangka bahwa ia akan shalat lagi. Hendaklah engkau menjauhi semua urusan yang menyebabkan engkau bersalah”. (HR. Ad-Dailamy dalam Mukhtashar Musnad Al-Firdaus, I: 51 dari Anas bin Malik secara marfu’)

Maka kesimpulan tulisan ini terbukti bahwa Ingat mati akan meningkatkan kualitas Shalat, semakin tinggi ingat mati semakin tinggi kualitas Shalat kita.

Kesimpulan atau kaidah ini bersifat umum dan bisa diterapkan pada amalan selain shalat, misalnya puasa Ramadan kita, semakin kuat ingatan untuk bertemua dengan Allah/mati semakin baik kualitas puasa kita.

Sekian.

Terima kasih.

Sumber:

Kajian Akhlak Ust Arifin Jayadiningrat

Al-Khusyu wa Atsaruhu fi bina-il ummah oleh Said bin Ied Al-Hilali

Pesan Allah Melalui Ciptaan-Nya


Kalau ingin menangkap ayam, jangan dikejar nanti kita akan lelah dan ayam pun makin menjauh. Berikanlah ia beras dan makanan, nanti dengab mudah ia datang dengan rela.

Begitulah Rejeki, melangkahlah dengan baik, jangan terlalu kencang mengejar, ngotot memburu, nanti kita akan lelah tanpa hasil. Keluarkan lah infaq, sedekah, nanti *Rezeki akan datang menghampir tepat waktu.

Kalau ingin memelihara kupu-kupu, jangan tangkap kupu-kupunya, pasti ia akan terbang.

Tetapi tanamlah bunga. Maka kupu-kupu akan datang sendiri
dan membentangkan sayap-sayapnya yang indah.

Bahkan bukan hanya kupu-kupu yang datang,
tetapi kawanan yang lain juga datang :
lebah,
capung,
dan lainnya,
juga akan datang
menambah warna warni keindahan.

Sama halnya dalam kehidupan di dunia ini. Ketika kita menginginkan kebahagiaan dan keberuntungan. Tanamkan kebaikan demi kebaikan, kejujuran demi kejujuran.

Maka kebahagiaan dan keberuntungan akan datang karena dianugerahkan oleh Allah Tuhan Seru Sekalian Alam.

Oleh karena itu, selagi kita masih diberi hidup, mari kita membangun taman-taman bunga kita, bunga kebajikan dan bunga kejujuran . 🙏🙏🙏🙏

Islamic Motivation by Islamic Character Development

Oleh: Ust Arifin Jayadiningrat

Self Regulated Leader


Allah telah memberikan manusia untuk berkembang dan maju, menjadi makhluk Allah yang paling baik dan menjadi Khalifah Allah di muka bumi untuk memakmurkan dunia.

Allah menundukkan bumi, langit dan semua yang di alam untuk kepentingan manusia. Sebagaiana firman Allah “..” Qs. Alhijr: 29. Akan tetapi, manusia sering lupa dari tugasnya dan lalai dengan kemampuan sehingga menjadi makhluk yang rendah (asfala saafiliin).

Dunia cepat sekali berubah. Dan mempersiapkan masa depan berarti secara aktif menciptakannya: masa depan bukanlah hal yang tak terelakkan atau sesuatu yang kita hadapi.

Ada hubungan timbal balik antara masa depan dan apa yang kita inginkan, dan kita harus secara sengaja memilih untuk membangun realitas yang ingin kita alami.

Kita melihat tren global dan pengaruhnya mampu menciptakan masa depan, namun sebenarnya terserah kita untuk memilihnya tanpa harus mengikuti tren dan orang lain.

Manusia menjadi khalifah /self regulated untuk dirinya sendiri. Dia mampu mengindentifikasi kelebihan dan memperbaiki kekurangan. Jika dia tidak tahu sesuatu hal, dia paham harus berbuat apa, pergi kemana dan bertanya kepada siapa.

Allah berfirman dalam Al-Quran surat Al-Hasyr ayat 18 yang menjelaskan tentang self regulated, sebagaimana berikut:

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Sesuai firman Allah dalam Q.S. Al-Hasyr ayat 18 tersebut menekankan adanya perencanaan yang baik dalam diri manusia atas segala tindakan selama di dunia, sehingga ia akan mendapatkan keselamatan di akhirat nanti. Guna membuat perencanaan yang baik hendaknya memenuhi hal hal berikut:

  1. Perencanaan melibatkan proses penetapan keadaan masa depan yang diinginkan.
  2. Keadaan masa depan yang diinginkan dibandingkan dengan kenyataan sekarang, sehingga dapat dilihat kesenjangannya.
  3. Menutup kesenjangan perlu dilakukan usaha-usaha.
  4. Usaha untuk menutup kesenjangan tersebut dapat dilakukan dengan berbagai ikhtiar dan alternatif.
  5. Perlu pemilihan alternatif yang baik, dalam hal ini mencakup efektivitas dan efisiensi.
  6. Alternatif yang sudah dipilih hendaknya diperinci sehingga dapat menjadi petunjuk dan pedoman dalam pengambilan keputusan maupun kebijakan.

Menutup tulisan ini saya mengutip perkataan Aldous Huxley berikut;

“There’s only one corner of universe you can be certain of improving, and that’s your own self. So you have to begin there, not outside, not on other people. That comes afterward, when you’ve worked on your own corner”

Optimisme Dalam Kehidupan: Qadha dan Qadar Oleh Ust. Arifin Jayadiningrat


Berikut ini link download transkrip kajian Majelis Ahad Pagi di Masjid Raya Pondok Indah bersama Ust Arifin Jayadiningrat dengan tema Optimisme dalam Kehidupan Qadha dan Qadar.

Setiap hari Ahad Pagi, di Masjid berwarna biru yang terletak di Jalan Sultan Iskandar Muda ini rutin mengadakan kajian dari para Ustadz terkenal di Jakarta, salah satunya adalah Ust Arifin Jayadiningrat yang temanya selalu menarik dan fokus dalam pembangunan akhlak.

Jadwal Kajian Ahad Pagi selama tahun 2018.

Link Transkrip kajian tanggal 4 Maret 2018

https://drive.google.com/file/d/19iRTuRzlolqchbInc-s__3gE4hE53PXI/view?usp=drivesdk

Link Transkrip kajian Tanggal 11 Maret 2018 (belum siap)

Dan berikut link Live YouTube yang saya rekam tadi, namun mohon maaf hasilnya kurang bagus karena miring..🙏🙏🙏 namun dari segi suara alhamdulillah bagus…jadi silahkan nikmati audio kajiannya ya…

%d bloggers like this: