Dahsyatnya Doa Dan Sebab Doa Tertahan


Fakta Seputar Doa

  • Doa adalah ekspresi kerendahan hati seorang hamba dihadapan Allah. 
  • Doa adalah ekspresi kedekatan seorang hamba dengan Allah swt. 
  • Doa adalah obat kecemasan. 
  • Doa adalah salah satu sumber kesehatan fisik dan mental

Anjuran Berdoa

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).(Qs. Az-Zumar:53-54)

Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya).(Qs. An-Naml:62)

Doa Bisa Menolak Takdir

Bersabda Rasulullah saw : “Tidak ada yang dapat menolak taqdir (ketentuan) Allah ta’aala selain do’a. Dan Tidak ada yang dapat menambah (memperpanjang) umur seseorang selain (perbuatan) baik.” (HR Tirmidzi 2065)

Jangan berputus asa dari rahmat Allah ta’aala. Bila Anda merasa taqdir yang Allah ta’aala tentukan bagi hidup Anda tidak memuaskan, maka tengadahkanlah kedua tangan dan berdo’alah kepada Allah ta’aala. Allah ta’aala Maha Mendengar dan Maha Berkuasa untuk mengubah taqdir Anda. 

Barangkali di antara do’a yang baik untuk diajukan sebagai bentuk harapan agar Allah ta’aala mengubah taqdir ialah sebagai berikut:
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِي دِينِي الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِي وَأَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ الَّتِي

فِيهَا مَعَاشِي وَأَصْلِحْ لِي آخِرَتِي الَّتِي فِيهَا مَعَادِي وَاجْعَلْ الْحَيَاةَ

زِيَادَةً لِي فِي كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلْ الْمَوْتَ رَاحَةً لِي مِنْ كُلِّ شَرٍّ

“Ya Allah, perbaikilah agamaku untukku yang mana ia merupakan penjaga perkaraku. Perbaikilah duniaku yang di dalamnya terdapat kehidupanku. Perbaikilah akhiratku untukku yang di dalamnya terdapat tempat kembaliku. Jadikanlah hidupku sebagai tambahan untukku dalam setiap kebaikan, serta jadikanlah matiku sebagai istirahat untukku dari segala keburukan.” (HR Muslim 4897)

3 Doa Mustajab

Rasulullah saw bersabda, “Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi (kemakbulannya) yaitu doa orang tua, doa orang yang bepergian (safar), dan orang yang didhalimi” (HR. Abu Dawud) 

Adab Berdoa

  • Mengangkat kedua tangan
  • Yakin akan dikabulkan dan benar dalam pengharapan. 
  • Tidak melampaui batas dalam berdoa
  • Memulai dengan pujian kepada Allah dan shalawat kepada Nabi
  • Menggunkan lafadz dari Al-Quran dan Hadits

Waktu Mustajab Doa

  • Tengah malam
  • Hari jumat, dari Ashar sampai Maghrib
  • Waktu antara adzan dan iqamah
  • Waktu sedang puasa
  • Ketika sujud
  • Selesai shalat wajib
  • Saat ayam berkokok
  • Ketika Ramadhan
  • Ketika minum air zam zam
  • Ketika turun hujan

Tempat Baik Berdoa

  • Melihat Ka’bah
  • Di Multazam
  • Shafa dan Marwa

Sebab Doa Tertolak

  • Memakan harta yang haram. 
  • Tidak yakin akan dikabulkan dan tidak sungguh sungguh dalam berdoa. 
  • Berdoa meminta sesuatu yang sebenarnya adalah dosa. 

*Resume kajian Akhlak ICD MRPI bersama Ust Ibrahim Al-Hilali, Lc

Allah Tempat Bergantung


​Saat kita berdiri lama, akan terasa lelah, lebih nikmat bila duduk dikursi, tapi lebih nikmat lagi bila duduk + bersandar. Kalau terlalu lama, lebih nikmat lagi berbaring…… KENAPA DEMIKIAN ?

Karena yang disandarkan dari yang kita pikul lebih bertambah ! Semakin kita lepaskan yang kita pikul lalu disandarkan
kepada yang lain, semakin beban ringan dan nikmat !!

ALLAHUS SHOMAD !!!! Allah tempat bergantung !! itulah esensi IKHLAS

Segala urusan di dunia ini harus selalu digantungkan kepada YANG MAHA KUAT dan MAHA MENGATUR bila tidak, akan “LELAH DALAM HIDUP”

Musibah kelas 1 adalah MUSIBAH TERBESAR !! yaitu musibah AGAMA. 

Kalau musibah selain ini masih kecil, contoh, hilang harta, hilang jabatan, hilang kesehatan, hilang jiwa (wafat) dan lain sebagainya ini namanya musibah dunia.

Tapi kalau MUSIBAH AGAMA adalah melanggar aturan agama. [] 

Keshalihan Sosial


Cahaya Allah tidak akan dipancarkan pada orang yg berbuat maksiat.

Manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah (vertikal), dan juga kepada manusia (horizontal).
Seperti halnya ibadah, dosa jg bersifat vertikal dan horizontal. 

Dosa yang bersifat vertikal misalnya kafir, melakukan dosa besar yg terkait ibadah kepada Allah.
Dosa yang bersifat sosial (horizontal) seringkali dianggap kurang penting oleh manusia dibandingkan dosa yg bersifat vertikal.

Manusia tidak diciptakan seperti Malaikat. 

Malaikat tidak berbuat dosa, tidak memiliki nafsu (kebebasan berkehendak). Malaikat selalu  berzikir kpd Allah. Malaikat tidak menikah dan tidak memiliki peradaban.

Malaikat diperintahkan oleh Allah utk sujud kepada manusia. 
Manusia diutus sebagai khalifah yang ditugaskan untuk membentuk peradaban dan memakmurkan bumi.

Kesalehan sosial yang digabungkan dengan kesalehan individiual misalnya shalat berjamaah. 

Perbandingannya sbb:

Shalat sendiri pahala 1

1× 5 waktu x 30 hari x 12 bulan =

1800 pahala dalam setahun
Shalat berjama’ah pahala 27

1× 5 waktu x 30 hari x 12 bulan =

46.800 pahala dalam setahun
Kesalehan individual yang digabungkan dengan kesalehan sosial akan menghasilkan pahala yang berlipat ganda.

Manusia itu sesungguhnya berada dalam keadaan merugi, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh dan saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran (Qs. Al Ashr 1-3). 

Dalam surat Al Ashr digambarkan keberuntunganlah yang akan didapat bagi orang-orang yang saling menebarkan kebaikan bagi sesama.


Barangsiapa yang tidak menebarkan rahmat kepada manusia, maka Allah tidak akan menebarkan rahmat kepadanya
(HR Muslim).




Barang siapa yang menengok orang sakit, maka akan ada 70.000 malaikat beristigfar untuknya. 

Bila setiap satu istigfar yang diucapkan seseorang memerlukan waktu 10 detik, berarti dengan menengok orang sakit setara dengan 194 jam kita telah beristigfar. 

Contoh lain kesalehan sosial yg digabungkan dng kesalehan inividual: Wukuf, i’tikaf, hadir di taklim.

Kisah Juraij menceritakan bahwa kesalehan individual dalam beberapa hal dapat dikalahkan dengan kesalehan sosial (horizontal).

Juraij merupakan ahli ibadah. Pernah terjadi bbrp kali ketika Juraiz sedang shalat, Ibunya memanggil. Namun Juraij tetap melanjutkan shalatnya. Sampai Ibunya kesal dan mendo’akan keburukan untuknya. Akhirnya Juraij terkena fitnah pelacur.

Kesalehan sosial yang nilai ibadahnya sama seperti beribadah puasa selama setahun atau shalat tanpa henti selama setahun atau jihad fii sabilillah yaitu memelihara janda dan anak yatim.

Dosa sosial pun akan menyebabkan kita mendapat do’a buruk dari banyak pihak.

Contoh: 

Dengan sengaja parkir sembarangan, menyebabkan orang lain terzalimi. Maka akan banyak orang yg menyumpahinya/menginginkan keburukan baginya.

Lapangkanlah urusan orang lain, maka Allah akan melapangkan urusanmu.

Kesalehan sosial yang dapat membuka rezeki, yaitu dng menyambung silaturahmi.

 

In ahsantum ahsantum li anfusikum… Wa in asa’tum fa lahaa… (17:7)

Jika kamu berbuat kebaikan, maka kebaikan akan kembali pada kalian. Jika kalian berbuat keburukan, maka baginya kerugian.

Pesan Rasulullah:

  1. Secinta2nya pada sesuatu, pasti akan berpisah
  2. Berbuat apa saja di dunia, maka engkau akan dibalas sesuai perbuatannya
  3. Terserah kalian mau bergaya hidup spt apa di dunia, namun ingat bahwa kalian akan wafat.
  4. Tidak meminta kepada manusia maka akan mulia.
  5. Kemuliaan manusia jika menjaga shalat malamnya.

Jika ingin menjadi orang shaleh, maka jangan untuk diri sendiri, tapi harus mengajak orang lain untuk shaleh.

Manusia yg beriman akan bergetar hatinya jika disebut nama Allah. Namun kenyataannya pada zaman sekarang, jangankan hati bergetar, mereka bahkan menolak  ayat Al Qur’an. 

Contoh: Banyak orang muslim Indonesia yang menolak kebenaran Al Maidah ayat 51 terkait memilih pemimpin nonmuslim.
 Hati2 akan dimintai pertanggung jawaban di akhirat nanti.

 2 Februari di Mushala Bintaro Exchange bersama Ust Arifin Jayadiningrat

*kiriman resume kajian dari bu Erika. Semoga bermanfaat 😊😊

Munafik


Salah satu kebiasaan melekat dan sangat dikenal dari orang-orang Munafik itu adalah berbohong, khianat, berlaku curang, serta menipu. 

Makanya Nabi Saw mengabarkan dalam riwayat Shahih, bahwa kelompok ini tidak pernah malu untuk berbohong ketika bicara, mengingkari ketika berjanji, serta mengkhianati ketika diberi amanah. 

Dalam riwayat lain, ada tambahan yakni berlaku curang ketika berselisih. Mereka akan menghalalkan segala cara untuk meyakinkan orang bahwa mereka itu benar. Kendati dengan melakukan manipulasi, menipu, pembohongan publik, mengerik dalih-dalih yg tidak ada kaitan dengan persoalan yang diperselisihkan, dan lain sebagainya. 

Sungguh amat benar dan gamblang apa yang dikabarkan oleh Nabi dalam sabdanya di atas. Dan semua yang mereka lakukan itu, muaranya adalah makar dan tipuan kepada agama Allah dan kaum Mukminin. 

Akan tetapi, Allah Ta’ala memberi kabar gembira kepada orang-orang beriman. Bahwa apa yang dilakukan kelompok Munafik itu pada hakikatnya kembali kepada mereka sendiri. Justru, yang mereka tipu dan kelabui itu ternyata adalah diri mereka sendiri.

Allah Ta’ala berfirman:
يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ

“Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar”. (Q.S. Al-Baqarah : 9).

Menghormati Ulama


Tidaklah seorang merendahkan Ulama, Ustadz, dan penuntut ilmu lainnya melainkan karena dirinya tidak pernah merasakan kesungguhan, kelelahan, dan kepayahan dalam mencari, mengumpulkan, dan mengajarkan ilmu itu. 


Atau, mungkin dia pun merasakan hal demikian. Namun sayangnya keberkahan dari upaya kerja kerasnya itu hilang. Hingga yang tersisa pada dirinya adalah kesombongan dan keinginan kuat mengejar syahwat dunia. 

Al-Imam Ibnu Al-Mubarak rahimahullah berkata:

      حَقٌّ عَلَى اْلعَاقِلِ أَنْ لَا يَسْتَخِفَّ بِثَلَاثِةٍ: اْلعُلَمَاءِ وَ السَّلَاطِيْنِ وَ اْلإِخْوَانِ فَإِنَّهُ مَنِ اسْتَخَفَّ بِاْلعُلَمَاءِ ذَهَبَتْ آخِرَتُهُ وَ مَنِ اسْتَخَفَّ بِالسُّلْطَانِ ذَهَبَتْ دُنْيَاهُ وَ مَنِ اسْتَخَفَّ بِاْلإِخْوَانِ ذَهَبَتْ مُرُوْءَتُهُ

“Keharusan bagi seorang yang berakal untuk tidak meremehkan tiga orang; Ulama, penguasa dan saudara (muslimnya). Siapa yang meremehkan ulama, hancurlah akhiratnya. Siapa meremehkan penguasa hancurlah dunianya. Dan siapa yang meremehkan saudaranya, hilanglah muru’ahnya”. (Adz-Dzahabi, Siyar A’lam An-Nubala 17/251).

Perhatikan ungkapan indah Imam Muhammad bin Al-Husain, sebagaimana dikutip Imam Al-Ajurri dalam kitabnya “Akhlaqul Ulama” hlm. 41. Beliau ingin menyadarkan kita bagaimana keberkahan waktu-waktu yang dihabiskan oleh para Ulama, Ustadz, dan penuntut ilmu, dalam belajar, mengumpulkan, serta mengajarkan ilmu itu.

Beliau berkata: 
أخلاق العلماء للآجري (ص: 41)

«فَالْعُلَمَاءُ،  فِي كُلِّ حَالٍ , لَهُمْ فَضْلٌ عَظِيمٌ فِي خُرُوجِهِمْ لِطَلَبِ الْعِلْمِ , وَفِي مُجَالَسَتِهِمْ لَهُمْ فِيهِ فَضْلٌ , وَفِي مُذَاكَرَةِ بَعْضِهِمْ لِبَعْضٍ لَهُمْ فِيهِ فَضْلٌ , وَفِيمَنْ تَعَلَّمُوا مِنْهُ الْعِلْمَ لَهُمْ فِيهِ فَضْلٌ , وَفِيمَنْ عَلَّمُوهُ الْعِلْمَ لَهُمْ فِيهِ فَضْلٌ , فَقَدْ جَمَعَ اللَّهُ لِلْعُلَمَاءِ الْخَيْرَ مِنْ جِهَاتٍ كَثِيرَةٍ , نَفَعَنَا اللَّهُ وَإِيَّاهُمْ بِالْعِلْمِ»

“Dalam seluruh keadaan mereka, para ulama memiliki keutamaan yang sangat besar. Dalam usaha mereka keluar menuntut ilmu, terdapat keutamaan. Ketika bersama dengan para Syaikhnya terdapat keutamaan. Ketika mereka saling mengingatkan (akan ilmu) satu sama lain, terdapat keutamaan. Dalam diri para ulama yang menjadi guru mereka, terdapat keutamaan. Dan dalam diri orang-orang yang mereka ajarkan ilmu, terdapat keutamaan. Sungguh, Allah telah mengumpulkan kebaikan kepada para ulama dalam banyak hal. Mudah-mudahan Allah memberi manfaat kepada kita dan mereka dengan ilmu”. (Al-Ajurri, Akhlaqul Ulama, hlm. 41, Al-Maktabah Asy-Syamilah).

Di halaman yang lain Imam Al-Ajurri  mengajarkan kita bagaimana sifat para ulama dalam menuntut ilmu:

أخلاق العلماء للآجري (ص: 40)

“أن يعلم أن الله عز وجل فرض عليه عبادته، والعبادة لا تكون بعلم،  وعلم أن العلم فريضة عليه، وعلم أن المؤمن لا يحسن به الجهل، فطلب العلم ليمفي عن نفسه الجهل، واليعبد الله كما أمره، ليس كما تهوى نفسه. فكان هذا مراده في السعي في طلب العلم، معتقدا للإخلاص في سعيه، لايرى لنفسه الفضل في سعيه، بل يرى الله عز وجل الفضل عليه، إذا وفقه لطلب علم ما يعبده به من أداء فراضه، واتناب محارمه”

“Allah mewajibkan beribadah, dan ibadah tidak akan benar kecuali dengan ilmu, maka menuntut ilmu menjadi kewajiban. Seorang mukmin tidak boleh bodoh, maka ia menuntut ilmu untuk menghilangkan kebodohannya, agar menyembah Allah sesuai perintah bukan karena hawa nafsu. Inilah tujuannya menuntut ilmu, ikhlas dan tidak melihat diri memiliki keutamaan tetapi Allah lah zat pemilik keutamaan. Jika difaqihkan untuk menuntu ilmu, sebagai bentuk ibadah, melaksanakan perintah dan menjauhi larangan” (Al-Ajurri, Akhlaqul Ulama, hlm. 40, Al-Maktabah Asy-Syamilah).

Ulama, ustadz dan penuntut ilmu mereka juga manusia yang bisa terjerumus pada kesalahan, dan sebaik orang yang melakukan kesalahan adalah mereka yang bertaubat. Hendaknya kesalahan mereka tidak mengurangi sedikitpun rasa hormat terhadap ilmu mereka. 

Mari simak perkataan Ibnu Rajab berikut: “Allah Ta’ala enggan memberikan kemaksuman untuk kitab selain kitabNya. Orang yang adil adalah orang yang memaafkan kesalahan orang lain yang sedikit karena banyak kebenaran yang ada padanya”

Sa’id bin Al-Musayyab berkata, “Seorang ulama, orang yang mulia, atau orang yang memiliki keutamaan tidak akan luput dari kesalahan. Akan tetapi, barangsiapa yang keutamaannya lebih banyak dari kekurangannya, maka kekurangannya itu akan tertutup oleh keutamaannya. Sebaliknya, orang yang kekurangannya mendominasi, maka keutamaannya pun akan tertutupi oleh kesalahannya itu”

Abdullah bin Al Mubaraak berkata,”Apabila kebaikan seorang lebih menonjol daripada kejelekannya maka kejelekannya tidak perlu disebutkan. Sebaliknya, apabila kejelekan seseorang lebih menonjol daripada kebaikannya maka kebaikannya tidak perlu disebutkan” 

Maka, mari hormati ulama sebagai pewaris nabi

Hormati ulama sebagai penyambung lisan nabi

Hormati ulama yang mengajarkan kita mengenal Allah

Hormati ulama yang mengajarkan kita membaca kitab Allah

Hormati ulama yang ikhlas tanpa pamrih membimbing umat… [] 

Daging Ulama Beracun


Luhumul Ulama’ Masmuumah (daging ulama itu beracun) kalimat ini cukup populer di kalangan penuntut ilmu.  Ini bukan hadits dari Nabi, kalimat ini disampaikan Ibnu Asyakir untuk membela Imam Hasan Al-Asy’ari sekaligus memberikan nasehat kepada umat Islam agar menghormati ulama dan tidak mencela dan mengghibahnya. 

Ghibah adalah perkara yang menjijikkan. Sehingga dalam al Qur’an diistilahkan dengan memakan daging bangkai.

وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

“Dan janganlah kalian saling menggibah. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang” (QS. Al-Hujurat: 12).

Bila mengghibah sesama muslim ‘hanya’ seperti memakan daging busuk yang mengandung kuman penyakit. 

Mengghibah ulama dengan membicarakan aib dan kekurangannya diistilahkan dengan memakan daging beracun.

‘Racun’ itu adalah penjagaan Allah kepada para kekasihnya. Dan ancaman musibah seperti memakan racun bagi yang melanggar penjagaan itu. Racun berujung kematian/fatal akibatnya.

Karena itu hati-hati merendahkan mereka. Apalagi sampai menghina, mengghibah atau merubuhkan kehormatan mereka. 

Pelajaran dari orang-orang dahulu, mereka binasa lantaran terlalu lancang terhadap orang-orang yang memegang warisan Nabi Saw tersebut.

Al-Hafidz Ibnu Asakir dalam “Tabyin Kadzib Al-Muftari” hlm. 29 berkata: 

” واعْلَمْ يَا أخِي، أَنَّ لُحُومَ العُلَماءِ مَسْمُومَةٌ، وَعَادةُ اللهِ في هَتْكِ أسْتَارِ مُنْتَقِصِيهِمْ مَعْلُومَةٌ، لأنَّ الوَقِيعَةَ فِيهِمْ بِمَا هُمْ مِنْهُ بَرَاءٌ أمْرُهُ عَظِيم ٌ، والتَّناوُلُ لأعْراضِهِم بالزُّورِ والافْتِراءِ مَرْتَعٌ وَخيمٌ ، والاختِلاقُ عَلَى من اخْتارهُ اللهُ مِنْهُم لِنَعْشِ العِلْمِ خُلُقٌ ذَمِيمٌ “.


“Ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya daging para ulama itu beracun (menggunjingnya adalah dosa besar), dan kebiasaan Allah dalam menyingkap kedok para pencela mereka (ulama) telah diketahui bersama. Karena mencela mereka dengan sesuatu yang tidak ada pada mereka, merupakan petaka besar, dan melecehkan kehormatan mereka dengan cara dusta dan mengada-ada merupakan kebiasaan buruk, dan menentang mereka yang telah Allah pilih untuk menebarkan ilmu, merupakan perangai tercela”.

Ghibah/merendahkan bahkan mengkriminalkan ulama lebih berbahaya daripada yang lain, karena sama saja dengan merendahkan syariat dan ilmu yang mereka pelajari, masyarakat akhirnya tidak akan mau mendengar mereka.

Merendahkan atau mengghibah seseorang hanya akan merugikan pribadi yang dighibahi. Namun jika ulama direndahkan, sama dengan menghancurkan Islam karena ulama adalah pembawa bendera Islam, jika benderanya jatuh, hancurlah Islam. 

Jika syariat sudah direndahkan dan ulama sudah tidak didengar lagi, maka yang menjadi rujukan manusia nantinya syetan dan kroco kroconya. 

Maka seorang muslim harus mampu menjaga lisannya dari ghibah, berkata kotor dan mengatakan hanya yang bermanfaat saja. Sebagaimana sabda Nabi saw: “Siapa yang beriman pada Allah dan hari akhir hendaknya berkata yang baik atau diam”. 

Seorang muslim harus berusaha memerangi hawa nafsu dan menahan diri dari ghibah dan dosa yang lain. Takut kepada Allah dan bertaqwa kepada-Nya adalah salah satu jalan menahan nafsu, Nabi bersabda: “Jihad yang paling utama adalah melawan hawa nafsu untuk mentaati perintah Allah” (Al-Hadits). [] 

Lidah Adalah Raja


Sebagai orang yang beriman kita harus sadar bahwa dari lahir hingga mati adalah ujian. Mendapat sengsara adalah ujian, pun mendapat nikmat juga ujian. 


Ujian yang paling berat adalah ujian terhadap diri kita sendiri. Jika kita bisa lulus menaklukan Ujian terhadap diri kita sendiri, maka kita akan lulus dalam ujian terhadap orang lain.

Lidah yang pendek tapi berbisa, juga bagian dari ujian manusia. Betapa banyak pertikaian yang terjadi antar saudara, suami istri, dan lain sebagainya disebabkan lidah yang tak bertulang. 

Dalam sebuah hadits Rasulullah saw bersabda, “Pada pagi hari, seluruh anggota tubuh akan memperingatkan lidah dengan berkata kepadanya, ‘Bertakwalah kamu kepada Allah untuk kami karena kami semua tergantung padamu, jika kamu konsisten (istiqamah) maka kami pun akan istiqamah, tapi jika kamu menyeleweng, maka kami pun akan menyeleweng. “ (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi, Hadits Hasan) 

Benar, lidah adalah raja

Raja dalam khutbah jumat

Raja dalam usaha mendamaikan orang lain

Raja dalam dunia marketinf

Raja dalam dunia advokasi 

Sungguh tepat apa yang dikatakan Abu Bakar Ash-Shidiq “Tidak ada satu pun yang perlu dipenjara lebih lama daripada lidah” 

Ibnul Jauzi berkata, “Yang cukup mengherankan, di antara manusia ada yang kuat menahan diri untuk tidak memakan makanan haram, menahan diri untuk tidak berzina, dan menahan diri untuk tidak mencuri. Akan tetapi dia tidak kuat menahan pergerakan lidahnya, sehingga kata katanya menyinggung harga diri orang lain. Dia tidak sanggup menahan diri untuk tidak mengucapkannya”. 

Agar lisan selalu terjaga, mintalah kepada Allah agar menjaga lisan dari berkata yang tidak baik, dusta dan menipu. 

Berikut doa yang bisa diamalkan. 

اللهم اني استودعتك لساني، فلا تجعله يغتاب أحداً ولا ينطق كذباً، ولا قولاً أندم عليه يوم ألقاك، 

 وأستودعك عيني وكل جوارحي، فلا تجعلني ممن ينظر الي الحرام أو يستمع اليه

ALLAHUMMA INNI ASTAUDI’ATUKA LISAANII. FALAA TAJ’ALHU YAGHTAABU AHADAN WA LAA YANTHIQU KADZBAN, WALAA QAULAN ANDAMU ALAIHI YAUMA ALQAAKA

WA ASTAUDI’ATUKA ‘AINII WA KULLU JAWAARIHII FALAA TAJ’ ALNII MIMMAN YANDHURU ILAL HARAAMI AU YASTAMI’U ILAIH


“Ya Allah, ku titipkan lisanku kepada-Mu, janganlah Engkau jadikab lisanku berbuat ghibah atau berkata bohong dan tidak pula mengatakan sesuatu yang akan aku sesali ketika berjumpa dengan-Mu. Dan aku titipkan mata dan anggota tubuhku, janganlah Engkau jadikan aku melihat hal hal yang haram atau mendengarnya”

 Atau doa berikut:

اللهم اهدني لأحسن الأخلاق، لا يهدي لأحسنها إلا أنت، واصرف عنِّي سيِّئها، لا يصرف عنِّي سيِّئها إلا أنت

ALLAHUMMAHDINII LI AHSANIL AKHLAAQ, LAA YAHDII LI AHSANIHAA ILLA ANTA

WASHRIF ANNII SAYYIAHAA, LAA YASHRIFU ANNI SAYYIAHAA ILLA ANTA

Ya Allah, tunjukkanlah aku kepada akhlak yang baik, tidak ada yang mampu menunjukkan kepadaku kebaikannya kecuali Engkau. Dan jauhkanlah aku dari akhlak yang buruk, tidak ada yang mampu menjauhkanku dari kejelekannya kecuali Engkau” [] 

%d bloggers like this: