2 Karakter dalam Surat As-Sajdah


Kita masuk yang mana. ??

Bandingkan ada 2 KARAKTER dalam 1 surat Assajadah..

PERTAMA

Allah SWT berfirman:

اِنَّمَا يُؤْمِنُ بِاٰيٰتِنَا الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِّرُوْا بِهَا خَرُّوْا سُجَّدًا وَّسَبَّحُوْا بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُوْنَ

“Orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami, HANYALAH orang-orang yang apabila DIPERINGATI dengannya (ayat-ayat Kami),

  1. mereka menyungkur sujud (merasa hina dan mengagungkan Allah, merasa takut kepada Alah)
  2. dan bertasbih serta memuji Tuhannya, (merasa dirinya kotor dan Allah Yang Maha Suci)
  3. Dan mereka TIDAK menyombongkan diri. (menerima apapun perintah dan larangan ALLAH)

(QS. As-Sajdah 32: Ayat 15)

KEDUA :

Allah SWT berfirman:

وَمَنْ اَظْلَمُ مِمَّنْ ذُكِّرَ بِاٰيٰتِ رَبِّهٖ ثُمَّ اَعْرَضَ عَنْهَا ۗ اِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِيْنَ مُنْتَقِمُوْنَ

“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah DIPERINGATI dengan ayat-ayat Tuhannya,

  1. kemudian dia BERPALING darinya?
    (seakan akan tidak melihat. Ayat ayat Allah diacuhkan, dibiarkan, tidak diindahkan) Sungguh, Kami akan memberikan balasan kepada orang-orang yang berdosa.”

(QS. As-Sajdah 32: Ayat 22)

Lihat diri kita bila dikirim WA berisi ayat ayat Al Quran dan Hadist nabi

Apakah mengambil pelajaran atau mengabaikannya. ?

Kenyataannya banyak yang MEREMEHKAN dan mengabaikan pesan Allah dan Rasul Nya.

Semoga kita termasuk golongan yang TERSUNGKUR SUJUD saat diperingati oleh Allah melalui ayat alQuran dan hadis. Amin ya Robal alamin.

Islamic Character Development – ICD

Sakit Sebenarnya


Sebelum meninggal dunia, pendakwah nasional Ustaz Arifin Ilham membuat tulisan tentang “Sakit Sebenarnya!”

Berikut tulisannya beberapa waktu lalu:

SubhanAllah hamba yang beriman yaqin dan sangat faham bahwa hidup sekali dan sebentar di dunia ini adalah hanya ujian.

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (QS Al Ankabut 2).

Ujian hidup hanya ada dua, musibah dan ni’mat, dua ini Allah gilirkan pada setiap mahklukNya

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dg keburukan dan kebaikan sbg ujian. Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS Al Anbiya: 35).

Astagfirullah banyaknya salah sangka bahwa hanya sakit, musibah, kemiskinan itu ujian, padahal sehat, senang, kekayaan itu juga ujian.

“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”. “Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku”. (QS Al Fajr 15 -16)

Karena itulah Rasulullah menyampaikan umatku banyak lulus ujian musibah daripada ni’mat.

Bagi hamba yg beriman sakit itu rahmat Allah, ampunanNya, terbiyyahNya, derajat disisiNya, doa doa mustajab, tafakkur, membuat tawadhu’, pintu kasih sayang dan shilaturrahm, persiapan mati, juga jalan kenabian nabi Ayyub, bahkan Rasulullah sebelum wafat pun beliau sakit.

Jadi sakit sebenarnya adalah bila sehat bugar tetapi tidak digunakan untuk ibadah, malas sholat, malas tahajjud, malas dhuha, malas baca Alqur’an, malas ke masjid, sampai berani ma’shiyat, inilah yg disebut “al istidraj” kesannya ni’mat tetapi sebenarnya azab yang tersembunyi yg akan diperlihatkan dan dirasakan kelak, naudzubillah min dzaaliki.

Allahumma ya Allah hiasilah hidup kami dengan kesehatan afiyatan di JalanMu hingga wafat husnul khotimah, aamiin.

Ayooo sahabatku khatamkan Alquran dengan tadabbur

Sahabatmu yg mencintaimu karena Allah
Penang Malaysia.
Arifin Ilham🌺

Kuantifikasi Pahala


Sering terdengar dari atas mimbar bahwa siapapun yang timbangan pahalanya lebih berat dari pada dosanya maka ia akan masuk surga. Sebaliknya, jika dosanya lebih berat dari pahalanya maka ia akan masuk neraka.

Pernyataan ini bersifat aksiomatis atau dapat diterima sebagai kebenaran tanpa pembuktian dan memiliki konsekuensi yang sangat berat, namun hampir tidak terlihat efek langsung dalam kehidupan muslim. Maka diperlukan suatu metode agar aksioma ini memiliki efek motivasi dalam kehidupan sosial. Salah satu metodenya adalah “Kuantifikasi Pahala”.

Gagasan ini perlu diperkenalkan karena umat Islam sering meremehkan kuantifikasi pahala dalam berbagai teks Alquran dan Hadis. Sementara, surga yang menjadi tujuan akhir umat Islam mensyaratkan tingginya jumlah pahala dibandingkan dengan jumlah dosa (QS. al-Qari’ah/101:6-9).

Pernahkah kita menyadari seberapa mungkin pahala shalat kita mampu mengantar kita kepada surga? padahal Hadis Rasulullah Saw selalu mengingatkan kita untuk menghitung-hitung prestasi pahala yang kita perbuat (hasibu anfusakum qabla an tuhaasabu).

Misalnya, kita menghitung rumus kuantifikasi pahala shalat seperti yang disabdakan oleh Rasulullah saw. “Shalat berjama’ah lebih baik 27 derajat dibandingkaa dengan shalat sendirian”. Begitu juga rumus kuantifikasi pahala membaca al-Qur’an dalam shalat, seperti hadis yang diriwayatkan dari Ali ibn Abi Thalib, “Siapapun yang membaca Alquran dalam shalat maka untuk setiap hurufnya ia mendapatkan 100 pahala kebaikan, di luar shalat dengan wudhu mendapatkan 25 pahala kebaikan, di luar shalat tanpa wudhu mendapatkan 10 kebaikan”.

Jika diasumsikan, bahwa seorang yang mendirikan shalat wajib 5 x sehari yang terdiri dari 17 rakaat dan dalam shalatnya membaca al-Fatihah (139 huruf), surah al-Kafirun (95 huruf) pada rakaat pertama dan surah al-Ikhlas (47 hururf) pada rakaat kedua kemudian setiap hurufnya dikalikan 100, berdasarkan hadis di atas, maka dapat dihitung dengan matematika sederhana seperti berikut: (r x fh)+(r x kh)+(r x ih) x 100 = x, di mana r = rakaat h=huruf f=al-Fatihah, k=al-Kafirun , i=al-Ikhlas dan. Jadi (17 x 139)+(5 x 95)+(5 x 47) x 100 = (2363+475+235) x 100 = 3073 x 100 = 307.300. Hasil ini, jika dikalikan dengan 1 tahun (365 hari) maka didaptkan angka 112.164.500. Jika setiap orang rata-rata berumur 60 tahun maka 112.164.500 x 60 = 6.728.870.000. Belum lagi jika shalat yang didirikan secara berjamaah (27 kali lipat) maka 6.728.870.000 x 27 = 181.706.490.000.

Kemudian, jika shalat tersebut dilakukan dalam Bulan Ramadhan maka 181.706.490.000 x 2 = 363.412.980.000 Bahkan, jika shalat tersebut dilakukan di depan Ka’bah meskipun hanya 1 kali maka pahalanya lebih baik dari seisi Bumi. Hitunglah berapa besar diameter Bumi, lalu berapa kebaikan material yang disiapkan oleh Allah di permukaan dan dalam perut Bumi. Hingga di situ, mesin penghitung yang saya gunakan tidak mampu lagi menampung angka-angkanya. Subhanallah, hitungan di atas baru sebatas bacaan al-Qur’an dalam shalat dengan surah yang sangat pendek. Bagaimana dengan amalan-amalan sosial di luar shalat yang tentu jauh lebih banyak jumlah pahalanya?

Contoh Kuantifikasi Pahala Shalat Berjamaah juga dijelaskan Ust Arifin Jayadiningrat dalam video pendek berikut untuk memotivasi umat Islam agar selalu menjaga shalat berjamaah dan amat rugi orang yang meninggalkan keberkahan shalat berjamaah.

Semakin sering seseorang menghitung-hitung pahala kebaikannya atau kesalahannya dalam setiap hari, akan membentuk mental muhasabah (evaluasi diri) yang semakin baik, sehingga akan selalu muncul motivasi menambah pahala dan mengurangi dosa.

Namun, perlu kami ingatkan hal-hal berikut ini.

Pertama, pahala bukan masalah kuantitas belaka melainkan juga masalah kualitas. Ketika hanya berkutat pada angka-angka dan mengabaikan nilai di balik angka, maka ia akan dihitung sebagai perbuatan yang formalistik.

Kedua, terdapat sejumlah amal yang pahalanya dirahasiakan oleh Allah dan tidak mungkin dikuantifikasi, seperti ibadah Puasa yang sedang kita tunaikan. Allah SWT. dalam salah satu Hadis Qudsi berfirman: “seluruh amal anak cucu Adam (pahalanya) tergantung kepadannya, kecuali Puasa karena tergantung kepada-Ku dan hanya aku yang menentukan pahalanya” Terlepas dari segala hikmahnya, kita sangat sulit membawa persoalan puasa ke dalam dunia kuantitatif. Karena itu, jika ingin menggunakan pendekatan kuantifikasi pahala maka akan ada pengecualian pada amal-amal tertentu.

Sebagai upaya konkritisasi peran pahala bagi kehidupan, kuantifikasi pahala termasuk metode yang patut diapresiasi. Boleh jadi, dengan terus mengevaluasi nilai kebaikan yang dilakukan setiap saat melalui angka-angka, kita dapat memprediksi kehidupan akhirat, apakah akan masuk surga atau neraka.

Meskipun demikian, kita tidak boleh mengabaikan bahwa Allah SWT. tidak memberikan rahmat-Nya semata berdasarkan pertimbangan kuantitas tetapi juga berdasarkan kualitas karena sungguh kemahaluasan rahmat dan rahim Allah SWT. adalah perkara yang tak terhingga. Allah a’lam bi al-shawab.

Menilai Seseorang


Saat anda menilai seseorang jangan seperti menilai batu. Kalau batu hitam tidak akan menjadi putih.

Bukankah dulu para Sahabat Nabi mereka ada yang menjadi musuh Nabi? Jangankan sholat, bahkan mau menghancurkan umat Islam.

Bukankah Umar Bin Khatab mau membunuh Nabi? Bukankah Khalid bin Walid membantai umat Islam bahkan mau membunuh Nabi. ?

Dulu musuh kemudian berubah menjadi PAHLAWAN umat Islam. Sebaliknya ada kaum munafik mengikrarkan Islam tapi dimasukkan ke dalam api neraka.

Maka hati hati menilai manusia.

Catatlah ini :

Apakah saya orang baik. ?

Anda keluar rumah. Lihat siapapun didepan anda. Bila anda merasa lebih baik dari orang itu. Maka anda buruk.

Bila melihat orang lain dengan mengatakan dalam hati “bisa jadi orang ini LEBIH MULIA DIMATA ALLAH daripada diri saya” maka anda orang baik.

Pertanyaannya adalah kalau yang kita lihat adalah pemabuk bau alkohol bertato dan sedang “fly”.

Katakan dalam hati
“Ya Allah berikan petunjuk Mu kepada orang ini. Bisa saja Engkau jadikan ia orang yang jauh lebih sholeh dari saya”.

Semoga kita jadi orang baik.
Jangan cepat cepat menuduh dan menilai orang lain.
Saya sekarang baik, dulu saya TIDAK baik
Masa depan JUGA belum tentu baik terus. Maka doa agar tetap jadi orang baik.

Lihat manusia makhluk yang beda dengan batu.

❤😊❤😊❤😊

Oleh: Ust. Arifin Jayadiningrat. Direktur Islamic Character Development

Doa Memohon Rasa Takut kepada Allah (Khasyah)


Di antara keberuntungan seseorang adalah tertanam kuatnya rasa takut kepada Allah Swt. Dan di antara kerugian manusia dalah kecintaan kepada dunia dan menjadikannya sebagai cita-cita tertinggi, sehingga amal akhirat pun untuk meraih dunia.

Dimanakah kita kelak jika rasa takut itu nyaris tak ada atau bahkan sama sekali tidak ada dalam diri kita? Dengan siapakah kita kelak akan dikumpukan jika sekarang kita merasa berbangga-bangga dengan amal yang sedikit. Dan bahkan merasa terlalu banyak beramal sehingga meminta sebagian pahalanya di dunia, dan menyisakan sebagiannya untuk akhirat. Bukankah ini pertanda tidak adanya keyakinan yang kuat kepada-Nya?

Disunnahkan membaca doa memohon rasa takut kepada Allah karena ada kalanya suatu kondisi iman kita benar-benar down, benar-benar turun, tidak ada lagi rasa risi, rasa malu di dalam bermaksiat begitu pula kita beribadah hanya sekedar menggugurkan kewajiban.

Maka kita diperintahkan memperbanyak doa ini unutk menjadi pemisah antara dia dan maksiat. Ketika rasa takut (khasyah) sudah memenuhi jiwa, maka akan timbul rasa semangat (motivasi) beribadah, menghalangi diri dari maksiat dan menumbuhkan rasa takut hanya kepada Allah.

Bagaimana membangun rasa takut (khasyah) pada anak kecil?

Dalam suatu kajian pendek di channel Youtube, Ustadz Abdul Somad pernah mendapatkan pertanyaan ini dan beliau menceritakan pengalaman masa kecil bersama ibunya, ketika itu UAS membawa sesuatu dari jalan lalu sang ibu meminta agar barang itu dikembalikan ke tempat semula karena akan menjadi bebanmu nanti di akhirat.

Maka cara sederhana menumbuhkan rasa takut bermaksiat adalah mengingatkan anak dengan bahasa kita, akibat dan dosa yang ditanggung nanti di akhirat.

Sejenak, marilah kita tundukkan hati dan merenungi do’a ini.

Download PDF Doa

Motivasi Islami Ust Arifin Jayadiningrat


Apakah Saya Baik Atau Cerdas?


Ibnu Umar radhiyallaahu ‘anhuma berkata, “Suatu hari aku duduk bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba datang seorang lelaki dari kalangan Anshar, kemudian ia mengucapkan salam kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang mukmin yang paling utama?’ Rasulullah menjawab,

Yang paling baik akhlaknya’

Kemudian ia bertanya lagi, ‘Siapakah orang mukmin yang paling cerdas?’. Beliau menjawab,

Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian tersebut, itulah orang yang paling cerdas

(HR. Ibnu Majah, Thabrani)

Mari lihat akhlak kita. Bukan ilmu kita, jabatan kita, titel kita, harta kita atau fisik kita.

Mari kita bercermin diri

apakah selalu ingat dan mempersiapkan kematian?

Oleh: Islamic Character Development – ICD

%d bloggers like this: