• Selamat datang di blog Jumal Ahmad. Saya sedang meneliti tentang Meta-Level Reflection dalam Pembangunan Karakter. Semoga dimudahkan dan bermanfaat.

  • Categories

Kedok Kebenaran


Hidup di dunia 1 x
Bekal hidup abadi.
Maka jangan hanya berbuat baik tapi berbuatlah yang terbaik dalam bekerja apapun.
100% untungnya untuk pribadi kita saat jasad dibalut dengan kain kafan.

Jadikan semua perbuatan kita yang terbaik untuk bekal kematian.

Mulailah segala perbuatan dengan bismillah. Agar selalu ingat Tujuan hidup adalah pengabdian kepada ALLAH.

Nafsu Fujur : jiwa yang mengajak keburukan atau kemaksiatan.
Nafsu Takwa : jiwa yang mengajak kebaikan atau ketaatan.

Keduanya selalu berperang.
Jiwa Takwa mengajak untuk berbuat Lillahi taala. Mengabdi kepada Allah arti Allah sajalah yang kita sembah.
HANYA ALLAH YANG DIBESARKAN.

Realita dalam diri kita selalu beda dengan konsep kehidupan yang kita sudah sepakati bahwa BEKERJA LILLAHI TAALA.

Saat saya berjuang di Mentawai pasti ada cacian hinaan dan bahkan ancama hidup. Itu semua sangat mudah kita lewati bila kita JALANI APA YANG SUDAH jadi pegangan hidup yaitu LILLAHI TAALA.
Hanya Allahlah yang kita besarkan.
Bukan diri saya.
Bukan nama baik saya.

Akan tetapi…..
Bagi yang sudah tahu pegangan hidup lillah dalam tataran realita, kenyataannya AMAT SERING melepas dari pegangan filsafat tersebut.

Buktinya gampang marah.
Mudah tersinggung.
Sering ribut dengan pasangan hidup.
Sering memarahi anak.

Itu semua karena gerakan Fujur.

Bila ada kritikan, jiwa fujur berontak menolak. Ngambek, mutung, ogah bekerja, malas berbuat, bahkan melakukan sesuatu jadi terpaksa dalam bekerja baik dikantor kantor atau dimanapun tempat bekerja kita.

Apalagi bila ada hinaan, jiwa fujur membakar kita untuk menghajar habis pihak yang menghina. Apalagi bila ada ancaman.

Jiwa fujur berkedok atas nama kebenaran.
Jiwa fujur berkedok atas nama harga diri.
Jiwa fujur berkedok atas nama keselamatan diri.

Mari diagnosa diri kita…
Apakah terjadi itu semua di dalam hidup kita ?

Kita harus mampu menaklukan jiwa fujur…

Sehingga rumah kita bersama keluarga menjadi Jannati… surgaku..

Sehingga di manapun kita bekerja menjadi Jannati.. selalu berbuat yang terbaik.

Agar menjadi jiwa yang tenang. ..

Growth mindset.. menerima kritikan.
Bekerja yang terbaik.
Bersabar dalam menghadapi masalah hidup.
Banyak zikir baca alQuran ingat tujuan hidup.
Tingkat sholat sunah.
Banyaklah mendengar kan AlQuran.

Semoga kita tetap bekerja karena Allah tidak mudah mutung, marah, ngambek, hanya karena Fujur berkedok kebaikan

Semoga kita tetap semangat berbuat yang terbaik

Amin ya Robal alamin

*Islamic Motivation oleh Ust Arifin Jayadiningrat Direktur Islamic Character Development – ICD

Jarimu Harimaumu


Hari ini kita sedang ramai dengan ujaran kebencian dari situs bernama seword yang tidak hati hati menulis hoax dan tanpa menyertakan fakta. Jika dulu ada pepatah “Mulutmu harimumu” konteks sekarang menjadi “Jarimu harimaumu”.

Pentingnya kehati hatian dalam menulis di sosial media, karena perbuatan penghinaan yang dilakukan terhadap di dalam dunia maya (virtual) akan berdampak sangat besar didalam kehidupan nyata (real). Akibat dari perang ejekan tersebut memungkinkan timbulnya provokasi yang berakibat pada terjadinya gesekan antar perorangan atau masyarakat.

Majalah Time menulis bahwa masalah hoax atau fake news menjadi masalah besar sejak pemilihan gubernur Jakarta beberapa waktu lalu.

Dalam agama, mulut yang di dalamnya ada lidah, harus dijaga dengan ketat. Karena kolaborasi antara mulut dan lidah sangatlah kompak. Lidah dan mulut bisa bicara apa saja, kadang tanpa bisa mengerem. Apalagi disertai dengan kemarahan, maka lidah akan mengolah kata-kata yang sangat menyakitkan disembur oleh mulut keluar tanpa rem. Oleh karena itu, Nabi memperingtakan; “Tahanlah lidahmu!” Artinya, kalau tidak bicara yang baik-baik dan bermanfaat, maka lebih baik diam.

Bakar Abu Zaid menyebutkan dalam buku “Mu’jam Al-Manahi Al-Lafdhiyyah” ketika membahas lafadh Yaa Kalb… , Said bin Musayib mengatakan: “Jangan engkau mengatakan hei keledai, hei anjing, hei babi pada saudaramu karena di akhirat nanti akan ditanya oleh Allah swt ‘Apakah kamu kira Aku menciptakan keledai, anjing atau babi?’ (HR. Ibnu Abi Syaibah).

Imam Nawawi mengatakan bahwa perkataan seperti ini (kotor/buruk) jelek karena dua hal 1) dusta 2) menyakiti.

Mari menyimak nasehat berharga Nabi Muhammad SAW kepada Muadz bin Jabal tentang pentingnya menjaga lisan.

أَلاَ أُخْبِرُكَ بِمَلاَكِ ذَلِكَ كُلِّهِ ؟ فَقُلْتُ : بَلىَ يَا رَسُوْلَ اللهِ . فَأَخَذَ بِلِسَانِهِ وَقَالِ : كُفَّ عَلَيْكَ هَذَا. قُلْتُ : يَا نَبِيَّ اللهِ، وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُوْنَ بِمَا نَتَكَلَّمَ بِهِ ؟ فَقَالَ : ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ، وَهَلْ يَكُبَّ النَاسُ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوْهِهِمْ –أَوْ قَالَ : عَلىَ مَنَاخِرِهِمْ – إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ . [رواه الترمذي وقال : حديث حسن صحيح]

Maukah kalian aku beritahukan sesuatu (yang jika kalian laksanakan) kalian dapat memiliki semua itu ?, saya berkata : Mau ya Rasulullah. Maka Rasulullah memegang lisannya lalu bersabda: Jagalah ini (dari perkataan kotor/buruk). Saya berkata: Ya Nabi Allah, apakah kita akan dihukum juga atas apa yang kita bicarakan ?, beliau bersabda: Adakah yang menyebabkan seseorang terjerumus wajahnya di neraka –atau sabda beliau : diatas hidungnya- selain buah dari yang diucapkan oleh lisan-lisan mereka. (Riwayat At-Tirmidzi dan dia berkata: Haditsnya hasan shahih)

Lalu bagaimana dengan jari-jari?

Pada dasarnya sama. Jari-jari tangan juga luar biasa. Orang akan melihat, bahwa jari-jari itu lembut, lentik dan kecil-kecil tapi jika bersatu mereka akan menjadi kuat.

Kekuatan jari-jari inilah yang juga tidak boleh dimanfaatkan dengan sembarangan. Seperti untuk menulis kalimat yang menabur kebencian, menuliskan hoax dan tanpa fakta, seakan akan si penulis tidak sadar bahwa tulisannya akan tersebar dan dibaca banyak orang.

Perhatikan tips berikut ketika mendapatkan status atau pesan.

  1. Ragukan semua informasi yang beredar sampai anda menemukan berita pembanding dari media terpercaya/kredibel.
  2. Jangan mudah emosi terhadap berita yang anda baca dan langsung menyebarkannya.
  3. Tanyakan berita/info yang anda dapatkan. Apakah ini benar? Apakah ini bermanfaat? Apakah sesuai dengan akal sehat dan hati nurani? Apakah tidak menimbulkan kebencian orang lain? Apakah akan memecah belah bangsa?
  4. Intinya ricek – ricek dan ricek.

Perintah cek dan ricek disebutkan dalam Al-Quran Surat Hujurat ayat 6.

“Wahai orang-orang yang Beriman, apabila datang seorang fasiq dengan membawa suatu informasi maka periksalah dengan teliti agar kalian tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum karena suatu kebodohan, sehingga kalian menyesali perbuatan yang telah kalian lakukan.” (QS. Al-Hujurat: 6)

Ayat ini mengajarkan kepada kita agar berhati-hati dalam menerima berita dan informasi. Karena benar dan tidaknya informasi akan menentukan penilaian dan cara menyikapinya. Jika informasi akurat sehingga membuahkan pengetahuan yang memadai, maka akan memunculkan penalian yang benar dan sikap yang tepat. Sebaliknya, jika informasi itu tidak akurat akan mengakibatkan munculnya penilaian dan keputusan yang salah. Dan giliran selanjutnya, muncul kezaliman di tengah masyarakat.

Perintah memeriksa suatu berita diungkapkan dengan kalimat ( فَتَبَيَّنُوا ) yang berasal dari kata al-tabayyun. Sementara Hamzah dan al-Kisa’i membacanya dengan ( فَتَثَبَّتُوْا ) yang berasal dari kata al-tatsabbut. Keduanya memiliki makna yang mirip.

Asy-Syaukani di dalam Fath al-Qadir menjelaskan, tabayyun maknanya adalah memahami dan memeriksa dengan teliti. Sedangkan tatsabbut artinya tidak terburu-buru mengambil kesimpulan seraya melihat berita dan realitas yang ada sehingga jelas apa yang sesungguhnya terjadi. Atau dalam bahasa lain, berita itu harus dikonfirmasi, sehingga merasa yakin akan kebenaran informasi tersebut untuk dijadikan sebuah fakta.

Tentang pentingnya moral dan budi pekerti.

Ibnu Mubarak mengatakan “Saya belajar budi pekerti selama 30 tahun dan belajar ilmu selama 20 tahun”.

Imam Syafi’i mengatakan “Ilmu itu bukan yang dihafal tapi apa yang bisa bermanfaat”.

Sebagian salaf mengatakan kepada anaknya “Wahai anakku, sekiranya engkau belajar satu bab budi pekerti lebih aku sukai daripada engkau belajar 70 bab ilmu”.

Makhlad bin Husain berkata kepada Ibnu Mubarak “Kita lebih banyak butuh pada adab daripada banyaknya hadits”.

Hadits dalam pct berikut juga layak dijadikan acuan agar lebih hati hati menyebarkan berita.

Apakah Perbedaan Fix Mindset dan Growth Mindset


Kita bisa menelaah tentang mindset menjadi 2 bagian. Yang pertama adalah Fixed Mindset, atau cara berpikir yang statis/sama. Dan yang kedua adalah Growth Mindset yaitu mindset yang sudah berkembang.

Orang fix mindset cenderung menghindar ketika ada tantangan baru, menutup diri dan mengatakan tidak bisa dan tidak mungkin. Sementara growth mindset menyukai tantangan dan dijadikan lahan untuk belajar dan upgrade diri.

Orang fix mindset tidak menyukai perubahan, tidak senang, menyalahkan keadaan atau menyalahkan orang lain. Cenderung suka marah marah dan menjadi stress. Sementara growth mindset selalu siap menerima perubahan, karena dia tahu, hanya perubahan yang membuat dia semakin maju.

Orang fix mindset selalu mencari alasan, ketika diberi masalah dia mencari alasan. Sementara growth mindset selalu mencari solusi, ketika diberi masalah dia mencari solusi apa yang bisa diberikan dan memecahkan masalah.

Orang fix mindset melihat peluang sebagai masalah, sementara growth mindset justru melihat dan menganggap masalah sebagai peluang.

Orang fix mindset anti kritikan, ketika ada yang mengkritik dia justru marah, jengkel dan stress. Sementara growth mindset siap belajar dan siap dievaluasi. Ketika menerima kritikan, bukan marah justru diam dan mencoba mengevaluasi diri.

Fixed Mindset sangat menyukai comfort zone atau zona nyaman. Sementara growth mindset anti comfort zone, atau siap untuk maju.

Fixed Mindset merasa setiap usaha yang dilakukan sia sia. Sementara growth mindset merasa bahwa kegagalan adalah pembelajaran. Ia merasa bahwa tidak ada usahanya yang sia-sia. Tapi dari setiap usahanya, pasti ada pembelajaran yang dia peroleh untuk maju menuju masa depannya.

Al-Quran merupakan kitab suci dan Wahyu dari Allah SWT sudah membahas tentang growth mindset dan fix mindset. Contoh growth mindset seperti dalam ayat 18 Surat Al-Hasyr: “Hai orang orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah dilakukannya untuk hari esok”. Alquran mengajak pembacanya mempunyai visi dan berfikir ke depan.

Dan contoh ayat tentang fix mindset adalah kisah Nabi Syuaib bersama umatnya ketika mereka menolak dakwah Nabi Syuaib dan mengatakan “Wahai Syuaib, apakah shalat mu yang menyuruhmu supaya kami meninggalkan apa yang disembah oleh nenek moyang kami, atau melarang kami melakukan apa yang kami kehendaki terhadap harta kami?” Ayat 87 Surat Huud, dan masih banyak lagi contohnya.

Video Pixar yang saya angkat menjadi title tulisan ini bisa anda lihat dilink berikut. Sejak tahu video ini, sering saya putar ketika sedang gak ada mood atau ketika butuh hiburan ringan yang memotivasi. Alhamdulillah gak pernah bosan lihat terus video ini.

Charol Dweck adalah psikolog Amerika yang pertama kali mengenalkan apa itu growth mindset dan fix mindset lewat bukunya. Banyak perubahan saya rasakan setelah membaca bukunya.

Keterangan Charol Dweck bisa anda dapatkan di YouTube dan secara ringkas bisa anda lihat di gambar berikut.

Tabel perbedaan fix mindset dan growth mindset bisa dilihat disini

Shalat Berjamaah Menambah Umur


Kita semua menginginkan umur panjang supaya bertambah kebaikannya. Seperti yang disabdakan oleh Rasulullah Saw tatkala beliau ditanya: Siapakah orang yang paling baik itu? Beliau menjawab: “Yaitu orang yang panjang umurnya dan baik amalannya.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad).

Kehidupan di dunia ini merupakan tempat untuk menambah dan memperbanyak amalan-amalan yang baik agar manusia senang setelah kematian serta rela dengan apa yang ia kerjakan.

Rasulullah Saw telah memberitahukan bahwa umur umatnya antara 60 – 70 tahun, tidak seperti umur umat sebelumnya. Akan tetapi Beliau Saw telah menunjukkan mereka kepada perbuatan maupun ucapan yang dapat mengumpulkan pahala yang banyak dengan amalan yang sedikit lagi mudah, yang dapat menggantikan manusia dari tahun-tahun yang berlalu kalau dibandingkan dengan umat-umat sebelumnya. Dan inilah yang dinamakan dengan “Al-A’maal Al-Mudha’afah” (amalan-amalan yang pahalanya berlipat ganda) yang tidak semua orang mengetahuinya.

Salah satu amalan yang bisa memanjangkan umur adalah Shalat berjamaah. Shalat berjamaah memiliki pahala yang besar dari shalat sendirian dengan perbandingan 27 derajat.

Nah, bagaimana perbandingan tersebut jika dihitung secara matematis? Sangat mencengangkan, dan pasti membuat tergerak untuk selalu shalat berjamaah.

Saya merekomendasikan pembaca menyimak video berikut untuk memebandingkan pahala shalat berjamaah dan shalat sendirian.

Oleh: Islamic Character Development

Hidup Itu Mudah


Alam semesta diciptakan oleh Allah yang Maha Baik. Berarti apa yang terjadi pada diri kita sudah diatur oleh Allah SWT. Lantas, jika Allah yang mengatur, kenapa ada di antara manusia yang hidupnya susah?

Silahkan simak keterangannya di video berikut bersama Ust Arifin Jayadiningrat, Direktur Islamic Character Development Jakarta.

Ketika Tidak Ada Refleksi Diri


Kemampuan seseorang untuk berkaca terhadap diri sendiri (meta_level reflection) semakin dirasa penting untuk dimiliki setiap orang.

Meta Reflection itu seperti seseorang yang bercermin di depan cermin, take perlu bantuan orang lain untuk mengetahui kekurangan diri.

Biasanya orang yang memiliki meta_reflection tinggi lebih mudah melihat kekurangan diri dan punya pola pikir berkembang (growth mindset).

Sementara yang lemah meta_level reflection-nya cenderung merasa benar dan menganggap orang lain salah.

Kami menyayangkan seoramg ustadz yang banyak menjadi rujukan penuntut ilmu dari kalangan pemuda mencaci para ulama.

Type ceramahnya menunjukkan dirinya paling benar lewat ekspresi wajahnya yang merendahkan para pahlawan terdahulu, pangeran Dipenogoro, Imam Bonjol dan lain lain. Semoga beliau bisa sadar akan keangkuhannya.

Soal tasbih pakai biji bijian atau yanh dirajut dg tali. Itu SAMA sekali BUKAN bidah. Tapi ustadz tersebut menghina orang yang pakai tasbih.

Kami kumpulkan hadist hadist yang menunjukkan bahwa pada zaman Nabi sudah ada yang pakai “tasbih” dengan biji bijian atau batu kecil kecil. Akan tetapi Nabi ketika melihat wanita yang sedang dzikir dengan alat tasbih itu, tidak menghina, tidak juga melarang wanita tersebut. Beliau hanya mengajarkan bentuk dzikiran yang singkat tapi banyak pahalanya.

Berikut ini Hadist hadit yang mana Nabi tidak menyalah nyalahkan dzikir dengan alat tasbih :

عَنْ عَائِشَةَ بِنْتِ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ , عَنْ أَبِيهَا أَنَّهُ دَخَلَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى امْرَأَةٍ وَبَيْنَ يَدَيْهَا نَوًى أَوْ حَصًى تُسَبِّحُ بِهِ , فَقَالَ : ” أُخْبِرُكِ بِمَا هُوَ أَيْسَرُ عَلَيْكِ مِنْ هَذَا أَوْ أَفْضَلُ قُولِي : سُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ مَا خَلَقَ فِي السَّمَاءِ وَسُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ مَا خَلَقَ فِي الأَرْضِ وَسُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ مَا بَيْنَ ذَلِكَ وَسُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ مَا هُوَ خَالِقٌ وَاللَّهُ أَكْبَرُ مِثْلُ ذَلِكَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ مِثْلُ ذَلِكَ وَلا إِلَهَ إِلا اللَّهُ مِثْلُ ذَلِكَ وَلا حَوْلَ وَلا قُوَّةَ إِلا بِاللَّهِ

مِثْلُ ذَلِك خرجه أبو داود والترمذى والنسائى من حديث سعد بن أبي وقاص أنه دخل مع النبي صلى الله عليه وسلم على امرأة وبين يديها نوي أو قال حصى تسبح به فقال ألا أخبرك بما هو أيسر من هذا وأفضل سبحان الله عدد ما خلق في السماء وسبحان الله عدد ما خلق في الأرض وسبحان الله عدد ما بين ذلك وسبحان الله عدد ما هو خالق والله أكبر مثل ذلك والحمد لله مثل ذلك ولا حول ولا قوة إلا بالله مثل ذلك‏.‏

حديث سعد بن أبي وقاص أنه دخل مع رسول الله صلى الله عليه وسلم على امرأة وبين يديها نوى أو حصى تسبح به ، فقال : أخبرك بما هو أيسر عليك من هذا وأفضل ، فقال : سبحان الله عدد ما خلق في السماء … ، والحديث صححه ابن حبان والحاكم في المستدرك ووافقه الذهبي، وخرجه أبو داود رقم 1500 ، والترمذي حديث رقم 3568 ،

Semoga beliau berkenan meminta maaf karena sudah merasa paling pintar. Dan inilah salah satu bukti pentingnya refleksi dalam diri, termasuk dalam beragama agar bisa lebih wise dalam bersikap.

Reformasi Pendidikan Menuju Negara Adidaya 2045, Ebook Dr. Adian Husaini


Sebagian kalangan ada yang bersikap pesimis memandang masa depan Indonesia. Hiruk pikuk berbagai peristiwa di beberapa daerah di Indonesia sempat memunculkan kekhawatiran, bahwa Indonesia – jika tidak hati-hati – bisa-bisa akan dilanda perang saudara dan terpecah belah, seperti yang melanda negara Suriah. Krisis bahkan perang antar warga Suriah yang memakan korban ratusan ribu jiwa dipicu antara lain dari konflik ideologis antar warganya. Kegagalan mencari titik temu pemikiran dan kompromi politik berujung pada konflik sosial dan senjata yang berkepanjangan.

Bagaimana dengan Indonesia? Apakah akan seperti Suriah? Sejarah menunjukkan, Indonesia memiliki tradisi ilmu dan dialog pemikiran yang panjang. Para pendiri bangsa Indonesia dikenal sebagai tokoh-tokoh negarawan yang cinta ilmu dan mampu melakukan dialog pemikiran menuju kompromi politik. Padahal, mereka memiliki corak ideologis yang sangat tajam. Bertahun-tahun sebelum kemerdekaan, 1945, pertentangan tajam – misalnya – terjadi antara Islam versus sekularisme. Dua corak pemikiran ini terus mewarnai pergulatan politik, sosial, pendidikan, ekonomi, dan berbagai aspek kehidupan lainnya.

Sebelum kemerdekaan, para tokoh bangsa sudah berdialog dan berpolemik melalui media massa tentang masalah-masalah kenegaraan. Mereka sepakat tentang pentingnya konsep cinta tanah air bagi sebuah bangsa merdeka. Tapi, mereka pun berbeda tentang corak nasionalisme; apakah bersumber pada agama atau bersumber pada nilai-nilai budaya; baik budaya bangsa atau budaya luar.

Sepuluh tahun sebelum Kemerdekaan, seorang pemikir terkenal, Sutan Takdir Alisyahbana, sempat memicu polemik pemikiran yang tajam. Di Majalah Pujangga Baru, edisi Agustus 1935, menulis artikel bertajuk “Menuju Masyarakat dan Kebudayaan Baru”. Melalui artikelnya ini, Sutan Takdir yang juga dikenal sebagai sastrawan dan filosof, mengajak masyarakat untuk meninggalkan zaman ‘prae-Indonesia’ yang disebutnya sebagai ‘zaman jahiliyah Indonesia’. Untuk menyimak lebih mendalam artikel ini, silahkan unduh ebook-nya di tautan berikut.

Sumber: insits.id

***

Dr. Adian menyebut bahwa Indonesia sejak awal kemerdekaan mempunyai budaya ilmu, kemampuan dan kemauan kuat para pendiri bangsa untuk melalukan dialog intelektual. Contohnya perdebatan antara kubu Islam dan Sekuler dalam menyiapkan sebuah konstitusi negara baru, Indonesia. Dan beliau menyebutkan bahwa tradisi ilmu dan dialog intelektual di kalangan elit dan masyarakat menjadi faktor penting menjaga Indonesia dari perpecahan.

Beberapa poin membaca sekilas ebook ini, saya tuliskan di bawah ini.

  • Akar masalah menurut Imam Al-Ghazali adalah kerusakan ulama, yang berakar lagi pada kerusakan ilmu. Menurut Prof Naquib Alattas, akar masalah umat adalah loss of adab yang berakar dari confusion of knowledge.
  • Dalam tataran konstitusi dan perundang undangan, ada konsesus nasional yang menempatkan manusia taqwa sebagai sosok manusia Indonesia ideal. Logisnya, kemudian pemerintah merumuskan dan menjabarkan konsep manusia taqwa itu lebih terperinci dan operasional. Indah sekali jika kemudian pemerintah menetapkan: tujuan, kurikulum, program, dan evaluasi pendidikan ketaqwaan. Begitu juga dalam program pembangunan nasional, dibuat indikator indikator untuk menentukan apakah sasaran sasaran pembangunan ketaqwaan itu mencapai hasil yang baik atau tidak.
  • Bangsa yang mulia adalah bangsa yang bertaqwa; bangsa yang menang; bangsa yang kuat, hebat, dan disegani oleh bangsa-bangsa lain. Sebab, itulah janji Allah SWT: “Andaikan penduduk suatu wilayah mau beriman dan bertaqwa, maka pasti akan Kami buka pintu-pintu barokah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ajaran-ajaran Allah), maka Kami azab mereka, karena perbuatan mereka sendiri” (QS Al A’raf: 96).
  • Untuk membentuk ”insan mulia” — manusia adil dan beradab, atau manusia bertaqwa – itulah tugas dunia pendidikan di Indonesia. Tujuan itu tidak mungkin diraih tanpa bimbingan wahyu Tuhan Yang Maha Esa (Allah SWT). Maka, logisnya, konsep pendidikan dan keilmuan yang dikembangkan dan diajarkan di lembagalembaga pendidikan di Indonesia, sepatutnya tidak bertentangan dengan konsep pendidikan Nabi Muhammad saw – khususnya bagi orang Indonesia yang muslim. Maka, sesuai dengan istilah penting dalam Pancasila, UUD 1945, dan UU Pendidikan Nasional, seharusnya yang dikembangkan dan diaplikasikan adalah konsep pendidikan adab dan akhlak; bukan konsep pendidikan karakter. Pendidikan adab dan akhlak mengacu kepada al-Quran, Sunnah, dan tradisi pendidikan para ulama Islam, tanpa mengabaikan nilai-nilai positif pada budaya lokal.
  • Sangatlah keliru jika seorang ulama merasa lebih rendah martabatnya dibandingkan dengan penguasa. Adab adalah kemampuan dan kemauan untuk mengenali segala sesuatu sesuai dengan martabatnya. Ulama harusnya dihormati karena ilmunya dan ketaqwaannya, bukan karena kepintaran bicara, kepandaian menghibur, dan banyaknya pengikut. Maka, manusia beradab dalam pandangan Islam adalah yang mampu mengenali siapa ulama pewaris nabi dan siapa ulama yang palsu sehingga dia bisa meletakkan ulama sejati pada tempatnya sebagai tempat rujukan.
  • Dalam pembukaan UUD 1945 ada tiga kata kunci dalam penegakan adab, yaitu “hikmah”, adil”, dan “adab”. Dalam konsep adab yang dirumuskan Prof. Naquib alAttas, adab terlahir dari hikmah, dan jika adab ditegakkan, maka terwujudlah “al-‘adalah” (keadilan), yakni suatu kondisi dimana segala sesuatu berada tempatnya yang betul, sesuai harkat dan martabat yang ditentukan Allah SWT.
  • Kualifikasi akhlak yang wajib dimiliki ulama adalah sikapnya yang hanya takut kepada Allah, tidak hubbud-dunya, apalagi sampai gila jabatan dan gila hormat. Aneh kalau ulama sampai punya ambisi pribadi untuk menjadi pemimpin umat atau organisasi, padahal ia tahu, betapa beratnya pertanggungjawaban dia di akhirat nanti. Memang, al-Quran surat al-Ahzab ayat 72 menggambarkan sifat kebanyakan manusia yang zhalim dan bodoh, terkait dengan kemauan manusia untuk mengemban amanah. Logika sehat kita mengatakan betapa bodohnya manusia yang memaksakan diri mengemban amanah yang sangat berat, padahal, ia tahu ada orang lain yang lebih baik dan lebih mampu memimpin dibandingkan dirinya.
  • Perjuangan Islam dalam menghadapi problematika yang dihadapi umat ini, perlu memadukan dan mensinergikan berbagai aspek, yakni aspek keilmuan, kejiwaan, harta benda, dan sebagainya. Jihad melawan hawa nafsu atau berjuang dalam bidang keilmuan, tidak perlu dipertentangkan dengan jihad melawan musuh. Semua perlu dipadukan, sebagaimana telah dilakukan di zaman Rasulullah saw, Perang Salib, dan sebagainya, sehingga kaum Muslim berhasil mengukir kemenangan yang gemilang dalam berbagai arena perjuangan.

%d bloggers like this: