• Selamat datang di blog Jumal Ahmad. Saya sedang meneliti tentang Meta-Level Reflection dalam Pembangunan Karakter. Semoga dimudahkan dan bermanfaat.

  • Categories

Cermin Nabi Adam


Hiruk pikuk komentar terhadap kejadian kejadian yang terasa menjengkelkan sering mewarnai tulisan di group WA atau sosial media lainnya.

Banyak komentar selalu menyalahkan faktor eksternal ( pihak luar ). Atau mencibir orang yang menurut kita salah atau melenceng.

Energi habis tanpa disadari untuk hal yang tidak penting hanya karena emosi reaktif dan eronisnya tumbuh kebiasaan kebiasaan gemar menyalah nyalahkan orang lain walaupun apabila memang orang lain itu sudah jelas salahnya.

Hal ini juga sering terjadi di dalam rumah tangga kita. Hubungan suami isteri, hubungan orangtua dan anak, hubungan kita dan siapapun.

Acap kali bila ada kejadian yang menjengkelkan tumbuh kebiasaan menyalahkan orang lain atau faktor luar.

Kita belum banyak paham doa Nabi Adam. Kita harus punya Habit of mind bapak kita Nabi Adam saat beliau bersama Hawa mengalami kesengsaraan akibat terusir dari sorga.

Keduanya berdoa ربنا ظلمنا انفسنا Ya Tuhan kami sungguh benar kami benar benar berbuat salah (dzolim) terhadap diri kami sendiri.

Pernahkah kita memahami kata ظلمنا انفسنا Ini mengoreksi diri sendiri secara berjamaah. Inilah cermin yang digunakan Nabi Adam dan Hawa untuk melangkah yang lebih baik.

Pelajaran sangat besar kisah Nabi Adam dan Hawa, mereka tidak mengeritik Syetan si Pembujuk dan Perayu sampai keduanya dikeluarkan dari Sorga.

Keduanya tidak menyalah nyalahkan syetan. Walaupun syetan sudah pasti salahnya. Nabi Adam juga tidak menyalahkan Hawa. Hawa pun demikian tidak menyalahkan Adam. Mereka mengatakan kami terdzolimi diri kami sendiri. Kita harus bangun Habit of self-correction kebiasaan bercermin, kebiasaan mengoreksi diri sendiri baik secara individual atau komunal.

Hal ini akan kita dapatkan juga dalam doa Nabi Yunus. Habit of mind اني كنت من ااظالمين Sungguh aku benar termasuk orang orang yang dzolim. Memang kesengsaraan Dzun Nun Nabi Yunus karena ada yang salah dalam dirinya. Tidak menyalahkan ikan paus yang menelannya.

Mari kita mulai membiasakan cara berpikir self correction bukan kebiasaan blaming others menyalahkan orang lain. Jangan buang energi kita di dalam jebakan menghakimi ( judgement ) terhadap orang salah walaupun memang benar benar salah.

Energi kita akan lebih positif bila kita membenahi diri kita. Ingat bahwa hidup itu ujian untuk ليبلوكم ايكم احسن عملا Untuk menguji kalian siapa yang terbaik perbuatannya. Tidak dikatakan “yang baik perbuatannya” tetapi dikatakan احسن yaitu yang terbaik atau yang paling baik. Camkan dalam hati kita. Hanya orang yang merasa belum baik sajalah yang berpikir “bagaimana yang terbaik”. inilah growth mindset.

Sebaliknya orang yang merasa sudah baik tidak mampu berpikir “bagaimana yang terbaik”. Ini namanya fix mindset. Tulisan ini bukan mematikan analisa kritik kita terhadap kemungkaran. Tetap wajib membangun الغيرة الاسلامية Bila ada kemungkaran kita harus bergerak, tidak boleh diam.

Wajib bagi setiap individu muslim memiliki rasa ghirah terhadap agama Islam. Akan tetapi tulisan ini hanya mengingatkan kita agar tidak terjebak dalam kubangan gemar menyalah nyalahkan orang lain tanpa mengoreksi diri sendiri.

Membuang energi dalam hal yang kecil kecil. Pekerjaan Rumah kita banyak sekali untuk membangun umat , hal ini tidak bisa diselesaikan kecuali kita bersinergi dalam hal hal yang besar.

Jangan membahas masalah masalah yang tidak penting.

Think Big.. Believe Big…Act Big.. And the result will be BIG.

Bangunlah Think, Act and Reflect.

Salam bercermin seperti ayah kita Nabi Adam. Stop blaming others. ICD ( Islamic Character Development )

Rasa Aman


Rasa aman adalah suatu nikmat. Rasa aman lebih mahal dari kesehatan. Jika sakit tapi tetap merasa aman, tidak merasakan penyakitnya, namun yang tidak merasa aman, walau sehat, akan selalu merasa terganggu hidupnya. Maka syukurilah jika kita mendapat lingkungan yang penuh ketenangan dan masyarakatnya beradab.

Allah memerintahkan kepada kita beribadah kepada-Nya sebagai wujud nikmat aman yang dianugerahkan pada kita.

لِإِيلَافِ قُرَيْشٍ (1) إِيلَافِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ (2) فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ (3) الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآَمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ (4)

“Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka’bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.” (QS. Al Quraisy: 1-4)

Nabi saw juga menyatakan bahwa rasa aman adalah suatu nikmat yang besar. Coba perhatikan hadits berikut.
Dari ’Ubaidillah bin Mihshan Al Anshary dari Nabi saw, beliau bersabda,
مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِى سِرْبِهِ مُعَافًى فِى جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

“Barangsiapa di antara kalian mendapatkan rasa aman di rumahnya (pada diri, keluarga dan masyarakatnya), diberikan kesehatan badan, dan memiliki makanan pokok pada hari itu di rumahnya, maka seakan-akan dunia telah terkumpul pada dirinya.” (HR. Tirmidzi no. 2346, Ibnu Majah no. 4141. Abu ’Isa mengatakan bahwa hadits ini hasan ghorib).

Kedamaian dan rasa aman adalah syarat mutlak bagi tegak dan sejahteranya satu masyarakat.
Keamanan dan kesejahteraan merupakan dua hal yang kait-berkait. Jika tak ada rasa aman, maka kesejahteraan tidak dapat diraih dan dirasakan dan bila kesejahteraan tidak wujud, maka keamanan tidak dapat terasa, bahkan kekacauan dan kegelisahan tumbuh subur.

Itu sebabnya ditemukan al-Qur’an menggarisbawahi keduanya bahkan menyandingkannya antara lain dengan merekam permohonan Nabi Ibrahim as. yang yang menyatakan:

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: Tuhanku, jadikanlali negeri ini negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: “Dan kepada orang yang kafir pun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka_dan itulah seburuk-buruk tempat kembali. ” (QS. al-Baqarah [2]: 126)

المُؤمِنُ مَن أمِنَهُ المُسلِمونَ عَلى أموالِهِم ودِمائِهِم ، وَالمُسلِمُ مَن سَلِمَ المُسلِمونَ مِن يَدِهِ ولِسانِهِ .

“Seorang mu’min itu adalah orang yang kaum muslimin merasa aman atas harta dan darahnya dari gangguannya. Dan seorang muslim itu adalah yang kaum muslim selamat dari gangguan tangan dan lidahnya”. (HR. Bukhari, Tirmidzi dan Nasa’i)

Dari Fadhalah bin Ubaid berkata, Rasulullah saw bersabda ketika Haji Wada’:

((ألا أخبركم بالمؤمن؟ من أمنه الناس على أموالهم وأنفسهم، والمسلم من سلم المسلمون من لسانه ويده، والمجاهد من جاهد نفسه في طاعة الله، والمهاجر من هجر الخطايا والذنوب)).

“Maukah kalian aku beritahu siapakah mukmin itu? Mukmin adalah orang yang manusia merasa aman atas harta dan jiwanya, seorang muslim adalah orang yang kaum muslim selamat dari gangguan lisan dan tangannya, mujahid adalah orang yang berjihad melawan nafsu untuk taat kepada Allah dan orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan dosa dan kesalahan” (HR. Ahmad)

Dalam dunia psikologi dikenal dengan adanya Teori Hierarki Kebutuhan yang diungkapkan oleh Abraham Maslow yang menyebutkan bahwa kebutuhan-kebutuhan di tingkat rendah harus terpenuhi atau paling tidak cukup terpenuhi terlebih dahulu sebelum kebutuhan-kebutuhan di tingkat lebih tinggi menjadi hal yang memotivasi.

Salah satu kebutuhan tersebut adalah Kebutuhan Akan Rasa Aman (Safety/Security Needs). Kebutuhan-kebutuhan akan rasa aman ini diantaranya adalah rasa aman fisik, stabilitas, ketergantungan, perlindungan dan kebebasan dari daya-daya mengancam seperti kriminalitas, perang, terorisme, penyakit, takut, cemas, bahaya, kerusuhan dan bencana alam. Serta kebutuhan secara psikis yang mengancam kondisi kejiwaan seperti tidak diejek, tidak direndahkan, tidak stres, dan lain sebagainya.

Menurut Maslow, orang-orang yang tidak aman akan bertingkah laku sama seperti anak-anak yang tidak aman.Mereka akan bertingkah laku seakan-akan selalu dalam keadaan terancam besar. Seseorang yang tidak aman memiliki kebutuhan akan keteraturan dan stabilitas secara berelebihan serta akan berusaha keras menghindari hal-hal yang bersifat asing dan yang tidak diharapkannya.

Semoga bisa memberi rasa aman..!

Teori Kebutuhan Maslow

Kaya Jiwa


Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Kaya bukanlah diukur dengan banyaknya kemewahan dunia. Namun kaya (ghina’) adalah kekayaan jiwa ( hati yang selalu merasa cukup).” (HR. Bukhari no. 6446 dan Muslim no. 1051)

Dalam riwayat Ibnu Hibban, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi nasehat berharga kepada sahabat Abu Dzar. Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berkata,

قَالَ لِي رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يَا أَبَا ذَرّ أَتَرَى كَثْرَة الْمَال هُوَ الْغِنَى ؟ قُلْت : نَعَمْ . قَالَ : وَتَرَى قِلَّة الْمَال هُوَ الْفَقْر ؟ قُلْت : نَعَمْ يَا رَسُول اللَّه . قَالَ : إِنَّمَا الْغِنَى غِنَى الْقَلْب ، وَالْفَقْر فَقْر الْقَلْب

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata padaku,

“Wahai Abu Dzar, apakah engkau memandang bahwa banyaknya harta itulah yang disebut kaya ?” “Betul,” jawab Abu Dzar.

Beliau bertanya lagi, “Apakah engkau memandang bahwa sedikitnya harta itu berarti fakir?” “Betul,” Abu Dzar menjawab dengan jawaban serupa.

Lantas beliau pun bersabda, “Sesungguhnya yang namanya kaya adalah kayanya hati (hati yang selalu merasa cukup).

Sedangkan fakir adalah fakirnya hati (hati yang selalu merasa tidak puas).” (HR. Ibnu Hibban.)

Mari kita ingat diri kita dan keluarga kita agar menjadi orang kaya. Yaitu jiwa yang kaya.. Jiwa yang bersyukur.

Islamic Motivation by Islamic Character Development-ICD
❤❤❤

Lupa Tujuan Hidup


Kalau kita tahu tujuan hidup kepada Allah. Belum tentu kita merasakan memang tujuan hidup itu kepada Allah

Antara mengetahui dan rasa sangat berbeda, kadangkala orang itu sudah berbuat baik, bahkan ibadah luar biasa, baik ibadah individual vertikal kepada Allah atau ibadah secara sosial.

Tapi feeling nya, tujuan hidup kepada Allah lupa, akhirnya apa yang dilakukan diekspose, hanya tujuannya kepada dunia agar dia dianggap sebagai orang yang baik.

Satu titik ini menggugurkan seluruh bangunan ibadahnya, bangunan kesholehan vertikal yang begitu indah dan bangunan sosial yang begitu indah hancur lebur hanya karena lupa tujuan hidup.

Simak video lengkap berikut.

Jangan Mencela Orang yang Berbuat Dosa


Ust Arifin Jayadiningrat pernah menyampaikan pengalamannya ketika ada yang berkonsultasi kepada beliau. Dia merasa takut dengan dosa yang sudah dia lakukan yaitu menyiram di lahan orang lain, ini istilah orang dewasa ya, bukan makna yang sebenarnya, lebih sedih lagi dia itu termasuk orang yang taat beribadah dan shalat malam rutin.

Kemudian Ust Arifin Jayadiningrat menyampaikan sebuah pertanyaan, Apakah anda pernah menghina seseorang yang MBA (marriage by accident)? Dia menjawab kok ustadz bisa tahu? Kemudian beliau menyampaikan Hadits Nabi berikut.

Dari Mu’adz bin Jabal, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang menjelek-jelekkan saudaranya karena suatu dosa, maka ia tidak akan mati kecuali mengamalkan dosa tersebut.” (HR. Tirmidzi no. 2505.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Setiap maksiat yang dijelek-jelekkan pada saudaramu, maka itu akan kembali padamu. Maksudnya, engkau bisa dipastikan melakukan dosa tersebut.” (Madarijus Salikin, 1: 176)

Penjelasan diatas seharusnya membuat kita merasa takut ketika mencela atau meremehkan orang yang berdosa, bisa jadi kita akan melakukan hal yang sama.

Menjelekkan, mencela dan meremehkan orang lain membuat seseorang merasa diri lebih suci/lebih bersih dan lebih baik. Padahal kondisi ini justru membuat kita terjerumus pada sifat sombong yang tidak disukai Allah Subhanallahu Wa Taala.

Nabi Muhammad SAW menjelaskan tentang makna Sombong:

Dari Abdullah bin Mas’ud, dari Nabi, beliau bersabda, “Tidak masuk surga siapa saja yang di dalam hatinya ada sedikit kesombongan, kemudian seseorang berkata, “Sesungguhnya seseorang itu senang pakaiannya bagus dan sandalnya bagus.” Beliau bersabda, ”Sesunguhnya Allah itu Indah dan Dia menyenangi keindahan, kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.” (HR Muslim).

Ingat! Jangan pernah sombong dan merasa selamat dari dosa yang orang lain lakukan, karena bisa jadi kita tak akan selamat dari dosa yang sama.

Jadi mari berhati hati mencela orang lain. Yang sudah shalih jangan merasa dirinya sudah baik, Yang belum shalih jangan merasa dirinya belum baik, terus memperbaiki diri.

Mari amalkan doa berikut agar menjaga hati terus istiqamah dalam kebaikan.

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

Rabbabaa Laa Tuyigh Quluubanaa Ba’da Idz Hadaitanaa wa Hab Lana Mil-Ladunka Rahmatan Innaka Antal-Wahhaab

Artinya: “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).” (QS. Ali Imran: 7)

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِيْنِكَ

Yaa Muqallibal Quluub, Tsabbit Qalbi ‘Ala Diinik

Artinya: “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hati kami di atas agama-Mu.” (HR. Ahmad dan at Tirmidzi)

اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ

Allaahumma Musharrifal Quluub, Sharrif Quluubanaa ‘Alaa Thaa’atik

Artinya: “Ya Allah yang mengarahkan hati, arahkanlah hati-hati kami untuk taat kepadamu.” (HR. Muslim)

Hari Pahlawan


Apakah kita harus jadi pahlawan.

Bisa iya
Bisa tidak.

Iya bila diartikan kita wajib menjadi manusia pilihan. Yaitu hadist Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasalam “Sebaik baik manusia yang paling bermanfaat untuk manusia”

Sejak awal manusia memang diciptakan untuk menjadi pahlawan dengan bahasa AlQuran surat 2 ayat 30 yaitu KHOLIFAH yaitu manusia menjadi penerus amanat Allah untuk memakmurkan bumi.

Jelas kita wajib berjuang berkorban sebagai rahmat bagi alam semesta. Tidak hanya memikirkan diri sendiri. Inilah kita harus jadi PAHLAWAN.

Tapi jawaban diatas juga harus dijawab TIDAK harus jadi pahlawan.

Ini akibat pemahaman kepahlawanan sudah terpolusikan dengan pemahaman materalistik duniawi. Yaitu sang pahlawan adalah orang yang dikenal jasa jasanya.

Maka kita jangan menghancurkan amal ibadah kita hanya karena ingin disebut pahlawan !!!. Maka tidak perlu kita jadi pahlawan.

Ingat pesan kiyaiku KH Zarkasyi, Allahumaghfir lahu..

Orang besar adalah orang yang besar jasanya walaupun ia ngajar ngaji di pelosok yang terdalam sekalipun.

Jangan berfilsafat kambing “hanya memikirkan diri sendiri. Yang penting hidup enak. Apa bedanya dengan kambing ! Makan rumput enak, kawin, beranak pinak, hidup di kandang enak. Itu kambing ! Kita bukan kambing. Harus jadi orang besar yaitu jasanya besar untuk umat walau tidak dikenal orang.

Juga nasehat kiyai lainnya. Kalau kita lihat tumbuh tumbuhan hidup dan berbuah itu karena ada bibit yang tertanam ditanah sebelum pohon itu tumbuh. Bibit itulah pahlawan !!

Kiyai lain juga mengilustrasikan hal yang sama. Bila bibit pohon jagung diatas tanah (kelihatan) justru bisa dipatok ayam. Tapi yang tertanam ketanah (tidak nampak) itulah yang berhasil tumbuh dan membuahkan.

Selamat Hari Pahlawan.

Islamic Motivation by Islamic Character Development-ICD

Memerdekakan Diri dari Penilaian Manusia


Siapakah yang mengendalikan diri kita didalam berperilaku? Jiwa Fujur kah ? atau Jiwa Taqwa ? Jiwa Fujur itu Sifatnya menyerang sedangkan jiwa taqwa sifatnya menahan.

Tanpa kita berbuat apapun/dalam keadaan diam, jiwa fujur akan reactive, yang akan mendorong jiwa taqwa. misal : berfikiran tidak baik / berprasangka buruk, percikan2 ria, sombong, takabur, dll.

Apalagi didalam berperilaku sehari-hari, jiwa fujur akan sangat reactive didalam mengendalikan diri kita misal : membesarkan dirinya – selalu melihat orang lain lebih rendah dari dirinya – merasa pintar, fixed mindset. ini dikarenakan kebodohan dan kurangnya ilmu.

Seharusnya bertambah ilmu juga bertambah hidayah —> maka akan bercahaya Jika bertambah ilmu tapi tidak bertambah hidayah —> maka tidak akan bercahaya.

Jika bertambah ilmu dan orang lain tidak bertambah ilmu —> jangan merasa lebih pintar —> berarti tidak bercahaya

Penilaian menusia tidak lepas dari :

  1. Orang akan merasa biasa saja bagi yg belum kenal
  2. Orang akan respect bagi yg sudah kenal
  3. Orang akan senang / cinta dengan kita karena dia tau kita mempunyai kelebihan
  4. Orang yg jika melihat kita tidak suka, bagi yg membenci kita
  5. Orang yg jika melihat kita bukan hanya benci, tapi ingin mencelakakan kita.

Bagi yang ingin merdeka dari penilaian manusia, lepaskan 5 point tersebut di atas. karena hal yang mustahil jika semua orang senang pada kita.

Tidak penting untuk disenangi atau tidak disenangi orang lain, merdekakan diri kita dari penilaian manusia dan ikatlah diri kita dengan penilaian Allah.

Fokuslah pada Tujuan hidup, yaitu “mengharap Ridho Allah, bukan Ridho manusia”

Qs. Al-Hujurãt (49) : 11 “Wahai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain.(karena boleh jadi mereka yang diperolok-olokan) lebih baik dari mereka (yang memperolok-olokan), dan jangan pula perempuan-perempuan (merperolok-olok) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olok) lebih baik dari perempuan (yang memperolok-olok), janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barang siapa tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”

*Catatan kajian oleh Dian Ernolita

%d bloggers like this: