Kiat Membentuk Interaksi Intensif dengan Anak


Keluarga adalah sebagai suatu sistem yang terdiri atas individu-individu yang berinteraksi dan saling bersosialisasi dan mengatur. Keluarga merupakan tempat dimana sebagian besar dari kita mempelajari komunikasi, bahkan bisa dikatakan tempat dimana sebagian besar dari kita belajar bagaimana kita berpikir mengenai komunikasi.

Komunikasi yang terjalin antara orang tua dan anak dalam satu ikatan keluarga di mana orang tua bertanggung jawab dalam mendidik anak. Hubungan yang terjalin antara orang tua dan anak di sini bersifat dua arah, disertai dengan pemahaman bersama terhadap sesuatu hal di mana antara orang tua dan anak berhak menyampaikan pendapat, pikiran, informasi atau nasehat.

Hubungan interpersonal antara orangtua dan anak muncul melalui transformasi nilai-nilai. Transformasi nilai dilakukan dalam bentuk sosialisasi. Pada proses sosialisasi di masa kanak-kanak orangtua adalah membentuk kepribadian anak-anaknya dengan menanamkan nilai-nilai yang dianut oleh orangtua. Hal yang dilakukan orangtua pada anak di masa awal pertumbuhannya sangat mempengaruhi berbagai aspek psikologis anak-anak.

Pada tulisan ini saya ingin berbagi kiat membentuk interaksi intensif dengan anak yang saya ambil pertama, dari Ust Arifin Jayadiningrat yang konsen dalam pembangunan akhlak. Kedua, dari tulisan bahasa Arab Dr. Ash Shalabi, Ketiga, dari buku Human Touch oleh Dr. Muhammad Muhammad Badri dan terakhir hadits hadits mengakrabkan anak dengan orang tua dari buku Ensiklopedi Keluarga Sakinah.

Kiat dari Ust Arifin Jayadiningrat

  1. Mengajarkan anak doa dan dzikir sederhana semenjak kecil seperti doa makan, doa akan tidur dan doa naik kendaraan. Disampaikan dengan cara yang menyenangkan dan tidak membebani, gunakan bahasa Indonesia agar lebih mudah. Misalnya doa naik kendaraan, bismillah..Ya Allah jaga kami semua aamiiin, doa setelah makan, makasih ya Allah, Engkau telah memberikan makanan ini.
  2. Mengkaitkan apa yang anak miliki seperti mata, telinga, tangan dan kaki sebagai pemberian Allah Swt, Dia yang memberikan semuanya, maka kita harus bersyukur.
  3. Mencium anak minimal 10 kali diwaktu pagi.
  4. Mengajak anak untuk Shalat bersama bapak dan ibu meskipun mereka belum bisa shalat.
  5. Menjadikan waktu bersama di mobil dan kendaraan sebagai waktu saling ngobrol antara orang tua dan anak.
  6. Dimana saja dan kapan saja selalu menyempatkan diri membangun karakter anak.

Kiat dari Human Touch

Kami rangkum dari bagian C buku Human Touch yaitu Contact him, jalinlah hubungan dengannya.

Kiat dari Syaikh Dr. Ash-Shallabi

  1. Ngobrollah bersama anak-anak 20 menit per hari seperti layaknya ngobrol dengan seorang teman (tanpa memberi nasehat, tanpa membicarakan tentang sekolahan atau arahan apapun)
  2. Ungkapkan perasaan kasih sayang dari ayah terhadap anaknya 5-10 kali per hari.
  3. Pujilah anak setiap hari 5 kali atas perilaku positif yang dilakukannya.
  4. Pujilah anak-anak setiap hari 5 kali terhadap hal hal yg nampak (seperti senyumannya, rambutnya, matanya, atau yang lainnya)
  5. Seminggu 2 kali ikut sertakan anak anak pada aktifitas diluar rumah walaupun 5 menit (seperti jalan Jalan dan olah raga)
  6. Sebelum tidur, 3 menit setiap hari tanamkan nilai-nilai kepada anak seperti: Nak, ayah senang sekali hari ini kamu melakukan ini dan itu, Ayah senang kamu sdh membantu adik perempuanmu.., Ayah senang kamu jadi anak yg taat dan patuh.
  7. Seminggu 2 kali makan malam bersama anggota keluarga baik didalam atau diluar rumah. Sebaiknya waktunya agak longgar sehingga obrolan dan diskusi dg anggota keluarga porsi waktunya lebih banyak.
  8. 1-3 menit perhari lakukan hal berikut (dan anda menjadi pendengar setia): – Duduklah bersama anak anda ditempat yg tenang dan persilahkan si anak untuk mengutarakan apapun tanpa ada tekanan atau diskusi. Tidak mengomentari atau memotong pembicaraannya. Setelah 3 menit berlalu selesai pula obrolan anda dengan anak anda.
  9. Ekspresikan cinta Anda pada anak atas perilaku perilakunya sehari-hari.

5 sentuhan perhari

  • Belailah kepala bagian belakang anak (sebagai bentuk kasih sayang)
  • letakkan tangan di kepala anak (bentuk kebanggaan)
  • letakkan tangan diatas kening anak (bentuk ketenangan)
  • letakkan tangan dikedua pipi anak (bentuk kasih sayang)
  • Genggam tangan anak utk menguatkan hubungan & cinta anda kalau anaknya lagi marah atau ada perasaan kesal atau gak enak (tepuk dadanya secara lembut)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam selalu mencium Fathimah Az Zahraa setiap kali bertemu, mengecup keningnya, mencium tangannya dan mendekapnya di dalam rumahnya atau ketika di masjidnya dihadapan para sahabat.

Empat ciuman setiap hari

  • kecupan kening saat menyambut kedatangan anak anda (pulang sekolah atau dari manapun)
  • kecupan kepala anak utk menumbuhkan rasa percaya dirinya
  • ciuman di pipinya sebagai ekspresi rasa rindu.
  • ciuman di tangan untuk menyambut dan mengekspresikan sayang.

Kiat mengakrabkan anak dan orang tua sesuai hadits Nabi.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam , adalah suri tauladan kita dalam membina hubungan dan menjadi contoh terbaik dalam mendidik anak.

  1. Memanggil dengan panggilan kesayangan. Rasulullah saw memperlakukan anak anak dengan kasih sayang Dan kemesraan, di antaranya memanggil anak anak itu dengan panggilan “wahai anakku sayang“. Padahal Rasulullah tahu persis bahwa anak yang dipanggil tersebut adalah anak para sahabat.
  2. Mengajak Dialog. Sebagaimana Allah Swt yang berdialog dengan Iblis ketika mereka enggan bersujud kepada Adam, Allah yang Maha Mulia mau untuk berdialog dengan Iblis yang hina, apakah anak kita lebih hina dari Iblis sehingga orang tua enggan berdialog?
  3. Mendoakan. Orang tua hendaknya memberikan doa kepada anak agar menjadi orang baik dan kelak berhasil mencapai cita cita yang baik. Doa yang orang tua kepada anak akan menjalin kedekatan hati dan keakraban. Sebagaimana Nabi saw mendoakan Abdullah bin Abbas agar dijadikan orang yang paham urusan agama.
  4. Mengusap Pipi. Rasulullah pulang dari masjid dan disambut anak anak, beliau mengusap pipi anak yang menyambutnya satu persatu.
  5. Mengusap Kepala. Dalam sebuah hadits disebutkan, “Rasulullah Saw memberikan nama Yusuf kepadaku dan beliau mendudukkan aku di atas pangkuannya dan mengusap usap kepalaku”. (HR. Bukhari)
  6. Mencium dan menggandeng. Dalam sebuah hadits disebutkan, “Nabi bersabda, barangsiapa yang dapat mengejar aku, dia akan mendapatkan ini dan itu, Lalu Abdullah berkata, Lalu mereka berlomba mengejar beliau, sehingga mereka dapat memegang punggung dan dada beliau, lalu beliau mencium mereka dan menggandengnya” (HR. Ahmad)
  7. Memangku, Usamah bin Zaid berkata, Nabi Muhammad Saw menggendongku, kemudian mendudukkanku di atas pahanya dan mendudukkan Husain di atas paha yang lain, kemudian Nabi mendekap kami seraya bersabda, ‘Wahai Allah, kasihilah mereka berdua sebab aku mengasihinya”. (HR. Bukhari)
  8. Menyunggi, Bara’ berkata, ‘Saya melihat Nabi Saw dan Hasan disunggi di atas pundaknya seraya beliau bersabda, ‘Ya Allah, aku mencintai anak ini. Oleh karena itu, cintailah dia” (HR. Bukhari)
  9. Memboncengkan, Usamah bin Zaid berkata, ‘Aku pernah membonceng Nabi Saw ketika wukuf di Arafah’ (HR. Hakim)
  10. Bergurau, Anas bin Malik berkata, ‘Nabi Saw jika berkumpul dengan kami, sampai sampai beliau berkata kepada adikku: Wahai Abu Umair, apa yang dilakukan oleh burung Nughair’. (HR. Bukhari)
  11. Memberi Hiburan, “Pemberian tambahan seseorang kepada Keluarga ya lebih Utama daripada Pemberian tambahan kepada orang lain seperti keutamaan seseorang shalat berjamaah dibanding dengan shalat sendiri”. (HR. Ibnu Abi Syaibah)
  12. Membawa oleh oleh, “Jika Engkau memberi buah buahan, berilah hadiah kepadanya (tetangga). Jika engkau tidak bisa melakukan demikian, bawalah masuk ke dalam rumahmu dengan sembunyi sembunyi Dan laranglah anakmu keluar (memakan buah buahan tersebut) supaya anak tetangga tidak membencinya”. (HR. Kharaiti dan Thabrani)

Mari menjaga hubungan dengan anak sehingga dia mau mencintai, mentaati dan berbakti kepada kita sebagai orang tua. Dengan program ini anda sedang membangun kepribadian anak anda, mengenali sifatnya, meningkatkan kecintaannya dan Anda menjadi orang tua teladan menurut pandangannya.

Semua hal hal yang merusak hubungan yg biasa anda lakukan atau penyebab labilnya kepribadian anak, keras kepala, masa pubernya yg mengganggu, penyimpangan moral dan sebab sebab penyakit lainnya akan hilang dan lenyap (secara sendirinya).

Semoga kita menjadi lebih baik lagi.

Akhlak Di atas Segalanya


Akhlak dapat diartikan sebagai watak dan budi pekerti yang membentuk pribadi seseorang, terealisasi dalam keseharian, dalam bentuk tingkah laku dan pemikiran yang tidak dibuat-buat.

Manusia membutuhkan akhlak, sebagaimana pepohonan membutuhkan air. Tanpa air tiada makhluk hidup yang dapat bertahan, tugas utama rasul adalah menyempurnakan akhlak atau tidak diutus sNabi Muhammad Saw, kecuali untuk menyempurnakan akhlak.

Anas bin Malik menyaksikan mulianya akhlak Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari. Anas pernah berkata, “Saya berkhidmat kepada Rasulullah SAW selama sepuluh tahun. Tidak pernah sekalipun Rasulullah SAW berkata: “Mengapa kamu buat begitu…” jika saya melakukan sesuatu. Apabila saya tidak melakukan sesuatu perkara, Baginda tidak pernah beberkata: “Mengapa kamu tidak lakukannya…”

Pengakuan dari Anas bin Malik di atas menjadi bukti kemuliaan akhlaknya, jika seseorang ingin mengetahui kadar akhlaknya maka tanyakan kepada orang yang terdekat yaitu anak, istri atau pembantunya.

Demikian pentinya akhlak, dan para ulama menaruh perhatian khusus kepada akhlak sebelum mereka menuntut ilmu.

Abdurrahman bin Qasim, seorang pelayan Imam Malik bin Anas, menuturkan kesaksiannya selama menjadi pelayan beliau. Kata Abdurrahman, “Tidak kurang dua puluh tahun aku menjadi pelayan Imam Malik. Selama 20 tahun tersebut, aku perhatikan beliau menghabiskan 2 tahun untuk mempelajari ilmu dan 18 tahun untuk mempelajari akhlak.

Dua keutamaan bagi orang yang berakhlak.

Pertama, akhlak yang baik akan meningkatkan derajat.

Dari Anas, Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba mencapai derajat yang tinggi di hari akhirat dan kedudukan yang mulia karena akhlaknya baik walaupun ia lemah dalam ibadah.” (HR. Thabrani)

Kedua, akhlak yang baik adalah ukuran keimanan.

Rasulullah SAW bersabda, “Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya; yang lemah lembut tidak pernah menyakiti orang. Seorang manusia tidak akan mencapai hakikat iman sebelum dia mencintai orang lain seperti ia mencintai dirinya sendiri dan sebelum tetangganya aman dari gangguannya.”

Dan masih banyak hadits Nabi yang menunjukkan manusia yang terbaik dilihat dari akhlaknya, bukan harta, pangkat dan jabatannya.

💫 من هم خيرُ الناس ؟

Siapakah sebaik-baik manusia?

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:*

Sabda Rasulullah sallallahu’alayhi wasallam.

( *خيركم من تعلم القرآن وعلمه* صحيح البخاري 5027 *

1. Sebaik-baik manusia diantaramu ialah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya kepada orang lain.

*خياركم أحاسنكم أخلاقا* ) صحيح البخاري6035

2. Sebaik-baik manusia diantaramu ialah yang terbaik akhlaknya.

*خيركم أحسنكم قضاء* ) أي عند رد القرض . 📚 صحيح البخاري رقم 2305

3. Sebaik-baik manusia diantaramu ialah yang terbaik pembayaran hutangnya.

خيركم من يُرجى خيره ويُؤمٓن شره* ) صحيح الترمذي / 2263 *

4. Sebaik-baik manusia diantaramu ialah yang diharapkan kebaikannya dan selamat daripada kejahatannya.

خيركم خيركم لأهله* ) صحيح ابن حبان / 4177

5. Sebaik-baik manusia diantaramu ialah yang terbaik terhadap isterinya.

خيركم من أطعم الطعام وردَّ السلام* ) صحيح الجامع / 3318

6. Sebaik-baik manusia diantaramu ialah yang suka memberi makan dan menjawab salam.

*خياركم ألينُكم مناكب في الصلاة* ) الترغيب والترهيب 234/1 أي: يفسح لمن يدخل الصف في الصلاة . *

7. Sebaik-baik manusia diantaramu ialah yang lemah lembut bahunya dalam sholat (dlm saf sholat dengan memberi ruang kepada saudaranya).

*خير الناس من طال عمره وحسن عمله* ) صحيح الجامع 3297

8. Sebaik-baik manusia diantaramu ialah yang panjang umurnya dan baik amalannya.

*خير الناس أنفعهم للناس* ) صحيح الجامع 3289

9. Sebaik-baik manusia diantaramu ialah yang paling memberi kemanfaatan kepada orang lain.

خير الأصحاب عند الله خيركم لصاحبه، وخير الجيران عند الله خيركم لجاره* ) صحيح الأدب المفرد/84

10. Sebaik-baik sahabat di sisi Allah ialah yang terbaik terhadap sahabatnya, sebaik-baik bertetangga ialah yang terbaik terhadap tetangganya.

( *خير النَّاس ذو القلب المَخْمُوم واللِّسان الصَّادق* ) قالوا : صدوق اللسان نعرفه ، فما مخموم القلب ؟ قال : ( *هو النقي ، التقي ، لا إثم عليه ، ولا بغي ، ولا غل ، ولا حسد* ) . صحيح الجامع / 3291 *

11 Sebaik-baik manusia ialah yang memiliki hati yang sejahtera (suci, taqwa, jauh dari dosa, jauh dari dendam, jauh dari dengki) dan lidah yang benar.

Pepatah Arab menyebutkan:

Akhlak perlu dibentuk, dibina dan dibangun diatas pondasi yang benar agar pribadi yang dibentuk menjadi pribadi yang tangguh dan bertanggung jawab.

Penelitian di beberapa negara maju menyebutkan bahwa untuk membentuk karakter anak, tempat yang paling baik adalah di boardong school Kenapa? Karena boarding menggabungkan 3 hal dalam mendidik yaitu keluarga, sekolah dan lingkungan.

Selain itu kondisi lingkungan boarding school bisa dinetralisir dari dampak dan bahaya luar yang bisa merusak akhlak, dengan pola pendidikan berasrama para pendidik bisa menyaring dan menentukan kearah mana pembentukan akhlak akan diarahkan.

Saatnya kita merubah paradigma keberhasilan pendidikan, dari orientasi kepada kognitif semata kepada akhlak yang meliputi kognitif, afektif dan konatif.

Sudah lama kita memvonis bahwa keberhasilan seseorang dalam pendidikan terlihat dari nilai yang tinggi, sehingga alat ukur kita hanya nilai dan hasil ujian. Inilah saatnya kita mengubah paradigma itu, menjadikan akhlak diatas segalanya, menjadikan akhlak sebagai alat ukur utama keberhasilan pendidikan seseorang, percuma nilai bagus jika akhlak belum mulia, justru kecemerlangan otak dan kepintarannya akan menjadi boomerang bagi masyarakat.

Semoga langkah kita dimudahkan dan mendapat ridha-Nya. Amiin.

Hebat Itu Ada Masanya dan Pada Masanya


Seseorang dikatakan HEBAT itu ADA masanya dan PADA masanya. Setelah itu dikenang sesuai kadar sumbangsihnya pada lingkup masing-masing, kadang makin bersinar kadang makin meredup. Hingga suatu waktu bisa menjadi “ARTEFAK” atau hanya sekedar “FOSIL”.

Waktu jaya, sering merasa banyak teman di sekeliling. Waktu kuasa, sering merasa percaya diri melakukan apa saja.

Ingat…

Hidup bukan suatu tujuan, melainkan sebuah perjalanan. Indahnya hidup, bukan karena banyak orang yang mengenal kita, tetapi seberapa banyak orang yang bahagia karena kita.

Mari berbuat baik, melihat kanan kiri depan belakang dan belakang. Tolong mereka yang butuh pertolongan kita…. Janji Allah Siapa yg menolong org lain Allah akan nolong dia.

Hidup barus Seeeebanyak banyaknya menolong orang lain, Buahnya hidup kita gampang dan penuh kemudahan. Sebaliknya, jika pelit, egois dan tidak gemar menolong Maka hidup susah dan “ada aja” yang membuat jadi beban. Itu makna filosofi hidup yang dikandung surat Al Lail.

4. Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda ( bermacam macam)

5. Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, (suka memudahkan org lain, suka nolong)

6. dan membenarkan adanya pahala (balasan) yang terbaik, ( Nah keyakinan adanya balasan kebaikan kadang berat)

7. Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. ( hidupnya jadi mudah, enak, happy😃).

8. dan Adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, ( pelit, perhitungan, gak suka nolong, egois).

9. serta mendustakan pahala terbaik, ( gak yakin adanya balasan kebaikan)

10. Maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. ( hidupnya susah… Sengsara… Ada aja yang buat susah hidup).

Semoga bermanfaat.

4 Hadits Yang Cukup Untuk Membentuk Karakter Diri


Wacana pendidikan karakter yang dikenal oleh dunia telah digagas oleh Dr. Thomas Lickona, seorang profesor pendidikan dari Cortland University pada tahun 1991, namun, penggagas pembangunan karakter pertama kali adalah Rasulullah SAW.

Pembentukan watak yang secara langsung dicontohkan Nabi Muhammad SAW merupakan wujud esensial dari aplikasi karakter yang diinginkan oleh setiap generasi. Keteladanan yang ada pada diri Nabi menjadi acuan perilaku bagi para sahabat, tabi’in dan umatnya.

Al-Quran dan hadits telah menyampaikan metode pembangunan karakter yang sempurna untuk menjadi manusia mulia dan bertaqwa.

Edward William Lane, ilmuwan asal Inggris yang mendalami Bahasa Arab dan Sastra Arab yang kemudian masuk Islam dengan nama Manshur Afandi mengatakan bahwa Nabi Muhammad Saw datang dengan akhlak, dan akhlak ini akan terus ada sampai hari kiamat. Islam akan terus bersinar dengan Al-Qur’an dan Hadits Nabi sekalipun ada yang membenci.

Saat di Mesir, Lane belajar tentang bahasa dan literatur Arab dan Islam. Sekembalinya ke Inggris pada tahun 1828, ia mulai menyusun buku tentang kehidupan di Mesir, yang kemudian diterbitkan pada tahun 1838 berjudul Manners and Customs of the Modern Egyptians.

Pada tahun 1838 hingga 1840, Lane menerjemahkan beberapa volume dari Seribu Satu Malam. Pada tahun 1842 hingga 1849, Lane kembali ke Mesir untuk menyusun kamus Arab-Inggris, yang terdiri atas 2 buku, buku pertama berisi daftar kata yang digunakan dalam teks Arab klasik beserta penggunaannya, dan terdiri atas 8 volume dan 3200 halaman, serta buku kedua yang dimaksudkan akan berisi kata-kata yang jarang digunakan serta penjelasannya. Namun buku kedua belum sempat diselesaikannya hingga Lane wafat pada tahun 1876.

Islam memotivasi umatnya untuk beramal yang timbul dari kesadaran diri dan mengasah kemampuan refleksi diri.

Nilai luhur apapun yang ditanam pada diri seseorang seperti menghormati, tanggung jawab, integritas dan lain sebagainya tidak akan berhasil selama tidak ditanam dalam diri (faktor internal).

4 hadits, jika diaplikasikan dalam kehidupan dan reflektif, cukup bagi kita membangun karakter diri.

Pertama

Sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam:

‏ «من كان يؤمن بالله واليوم الآخر ، فليقل خيراً أو ليصمت»

“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka ucapkanlah yang baik-baik atau diam”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadits ini melatih kemampuan untuk menjaga dan mengontrol lisan.

Kedua

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

‏«من حسن إسلام المرء تركه ما لا يعنيه»

“Di antara kebaikan Islam (agama) seseorang, ia meninggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat baginya”. (HR. At-Tirmidzi, hasan)

Hadits ini melatih kemampuan meninggalkan hal-hal berlebihan yang tidak bermanfaat.

Ketiga

Ketika seorang berkata kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam: “Berilah aku wasiat!”.

قال: « لا تغضب » ، فردد مراراً قال : « لا تغضب »

Nabi bersabda: “Jangan marah”. Orang itu mengulang-ulang permintaan wasiatnya, dan beliau tetap berkata: “Jangan marah”. (HR. Bukhari).

Hadits ini melatih kemampuan mengendalikan diri dan jiwa. ‏

Keempat

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

«لا يؤمن أحدكم حتى يحب لأخيه مايحب لنفسه»

“Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadits ini melatih kemampuan berlapang dada.

Wallahu A’lam.

Menyentuh Jiwa Anak


Buku-Sentuhan-Jiwa-Untuk-Anak-Kita

Mendidik anak yang merupakan anugerah dari Allah membutuhkan banyak bekal dan salah satunya adalah pengalaman. Pengalaman itu bukan saja didapat dari dirinya namun juga dari pengalaman orang lain. Yang demikian disebabkan karakter anak yang berbeda-beda maka konsekwensinya penanganannyapun berbeda-beda. Selain teori pendidikan yang bersifat Ilmiah, studi kasus dari yang terjadi di lapangan adalah hal yang tidak bisa dikesampingkan.

Dari segi teori pendidikan maka tidak ada lagi rujukan yang paling lurus, baik dan benar selain Al-Qur’an dan Sunnah Rasul Nya. Begitu pulalah selayaknya ketika kita berupaya sungguh-sungguh mendidik anak-anak yaitu menggabungkan unsur teori dan praktik atau pengalaman.

Unsur-unsur praktis, sisi pengalaman, kenyataan hidup, studi kasus, dan yang semisalnya itulah yang menonjol dalam buku setebal 896 halaman ini. Karena beragamnya faktor yang melatarbelakangi karakter manusia maka penulispun memperluas pengambilan rujukan dalam penyusunan buku ini. Dr. Muhammad Muhammad Badri menegaskan di Mukadimah buku ini, “Saya mengambil manfaat dari sejumlah kajian berbahasa Arab dan banyak kajian terjemahan dari bangsa Barat sehubungan dengan sisi pengamalan; semua kajian itu memuat banyak metode pendidikan praktis yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam.” Yang dimaksud terjemahan oleh penulis adalah dari bahasa non Arab ke bahasa Arab.

Nama-nama asing, atau lebih tepatnya nama ajam (non Arab), seperti Sir Percy Nann, Dr. Sall Schiffer, Dr. Paul Coleman, Dr. Spock, Ray Levi, Dr. J. Jenout, Donald Nown mewarnai footnote buku ini. Selain nama-nama tersebut, tentu saja nama-nama yang sudah akrab di telinga kita tercantum dalam footnote seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, Syaikh Al-Albani, Imam Ibnul Qayyim, dll. Karena ingin menonjolkan sisi praktis atau kongkret dalam penuisan buku ini, maka tidak heran penulis banyak membuka khazanah keilmuan dari penulis-penulis ajam yang nota bene non muslim.

Selama apa yang disampaikan penulis non muslim itu benar dan applicable maka selayaknya kita tidak antipati. Penulis buku ini yakin dengan sabda pendidik terbesar sepanjang sejarah peradaban manusia, yang beliau tidaklah berkata-kata kecuali dengan wahyu, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang beliau pernah bersabda, “Al Hikmah adalah barang hilang milik orang mu’min; dimana saja ia menemukannya, ia adalah orang yang paling berhak memilikinya” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Semua bab dalam buku ini merupakan penjelasan dari kata-kata HUMAN TOUCH. Sepuluh huruf dari kata-kata tersebut menjadikan sepuluh bab buku parenting yang mencoba menjelaskan dengan detil sentuhan jiwa untuk anak. “Saya memberinya judul Human Touch (Sentuhan manusiawi) karena saya merasa kita sangat membutuhkan sentuhan manusiawi nan lembut dalam berinteraksi dengan putra-putri kita. Sentuhan tersebut menegaskan salah satu sisi terpenting keluhuran manusia dalam pendidikan Islam; tanpa ini, pendidikan berubah menjadi cambuk yang sekedar memecuti punggung tetapi tidak menyucikan hati.”

Sepuluh bab yang dimaksud adalah:
H: Hear him (dengarkanlah ia)
U: Understand his feelings (mengertilah perasaannya)
M: Motivate his desire (berilah hasratnya motivasi)
A: Appreciate his efforts (berilah apresiasi atas usahanya)
N: News him (berilah ia informasi)
T: Train him (latihlah ia)
O: Open his eyes (bukalah matanya)
U: Understand his uniqueness (pahamilah keunikannya)
C: Contact him (jalinlah hubungan dengannya)
H: Honour him (hargailah ia)

M Fauzil Adhim seorang pakar parenting terkenal dalam kata pengantar buku ini menukil nasehat Dr. Muhammad Muhammad Badri, “Cintailah anak-anak Anda dengan cinta yang nyata; tunjukkan kesalahan mereka dengan lembut dan santun; bersikaplah sesekali sekan-akan Anda mengabaikan kesalahan mereka; jadikanlah diri Anda sebagai teladan bagi mereka; gunakanlah cara dan metode yag tepat dalam melakukan itu. Gunakan bahasa cinta dan kasih sayang.”

Menurut hemat kami, buku ini bisa meminimalisir ‘trial and error’ dalam menghadapi kasus-kasus praktis yang terjadi di lapangan ketika berinteraksi dengan anak. Bagi para pendidik dan orang tua yang ingin ‘menyentuh’ jiwa anaknya, buku terbitan Daun Publishing ini Insya Allah banyak faidahnya.

Marilah kita memulai menyentuh jiwa anak.Dan kesempurnaa manusia itu dengan jiwanya bukan dengan raganya sebagaimanana perkataan penyair:

يَا خَادِمَ الْجِسْمِ كَمْ تَسْعَى لِخِدْمَتِهِ
أَتْعَبَتْكَ نَفْسُكَ فِيْمَا فِيْهِ خُسْرَانٌ
أَقْبِلْ عَلَى الرُّوْحِ وَ اسْتَكْمِلْ فَضَائِلَهَا
فَإِنَّكَ بِالرُّوْحِ لاَ بِالْجِسْمِ إِنْسَانٌ

Wahai pelayan jasmani
Berapa lama engkau bekerja untuk kepentingannya
Engkau telah menyusahkan diri
Untuk sebuah kerugian yang nyata
Hadapkan perhatian kepada ruhani
Dan sempurnakan keutamaannya
Dengan ruhani, bukan dengan jasmani
Engkau sempurna menjadi manusia

…dan anak kita juga manusia…

Ralat: Penulis buku ini adalah Muhammad Muhammad Badri bukan Dr. Muhammad Arifin Badri demikian info dari Ustadz Fariq Ghasim Anuz hafizhahullah
Sumber: FB Yayasan Pendidikan dan Sosial Al-Hanif

 

Lebih Penting Dari Khatam Al-Quran


quran

Jangan kau beritahu orang lain, berapa juz kamu hapal dan berapa kali kamu khatam membaca al-Quran. Biarkan mereka melihat al-Quran pada dirimu.

Berilah makan orang yang kelaparan, kasihilah anak yatim, maafkanlah orang yang salah, ajarilah yang tidak tahu, berbaktilah pada orang tuamu, teruslah bersilaturrahim, tersenyumlah buat semua orang, dst.

Yg penting bukan seberapa banyak kamu membaca dan menghapal al-Quran.

Teruslah membaca dan menghapal al-Quran, tapi ingat yg lebih penting adalah, seberapa banyak al-Quran ada padamu.

Apa yang penting bukanlah sebanyak apa capaianmu dalam Al-Quran, tapi sedalam apa Al-Quran mencapai sanubarimu.

Ramadan identik dengan bulan amal dan ibadah, bukan hanya ibadah yang bersifat spiritual saja, tapi juga horisontal antara manusia, tidak kalah banyak pahalanya, membantu orang lain dan membuat orang lain gembira.

Makna tersirat dari ibadah puasa adalah ikut merasakan kehidupan orang lain yang tidak berkecukupan, sakit, pedih dan berbagai macam kesusahan hidup yang dihadapi orang lain.

Menguatkan hal ini saya tersentuh dengan lagu Maher Zain yang dirilis Awakening di awal Ramadan ini, salah satu lagu terbarunya bertemakan Kun Rahma, jadilah orang yang penuh kasih sayang.

Salah satu liriknya berbunyi

Fii rahmatil insaan nastalhimun ihsan

Warrahimuunal muhsinuuna yarhamuhumur rahmaan

Dengan berbuat baik kepada orang lain, kita belajar menjadi manusia sebenarnya

Orang yang berkasih sayang akan mendapatkan balasan kasih sayang Ar-Rahman

Hati Hati Berkomentar


Kecendrungan manusia mau dipandang baik dan tidak ingin dipandang jelek. Inilah salah satu isyarat Nabi Muhammad saw bersabda: “Kebajikan sesungguhnya dalam akhlak mulia dan dosa apa yang terbesit dalam dadamu dan kamu malu tidak suka bila orang lain mengetahuinya ( karena perbuatan buruk )”.

Sungguh zaman sekarang sudah berubah, banyak perubahan perubahan yang terjadi termasuk dalam teori nilai nilaipun mulai bergeser. 

Media sosial apapun bentuknya menjadi salah satu gambaran perubahan zaman yang dahsyat. Setiap orang bisa mengekspresikan apa saja baik tulisan, suara, video, gambar dan lain sebagainya yang dilihat oleh semua orang. Batasan batasan nilai positif negatif semakin bergeser. 

Maka penting sekali kami menyampaikan agar lebih berhati hati dalam memberikan komentar baik dalam sosial media atau tidak. Mari ikuti konsep para Sahabat dan Tabi’in ketika ada orang lain yang berbuat salah. 

Ulama besar, Ibrahim An Nakha’i, beliau mengatakan:

 ” إني لأرى الشيء أكرهه، فما يمنعني أن أتكلّم فيه إلا مخافة أن أُبتلى بمثله”.

“Aku melihat sesuatu yang aku tidak suka, tidak ada yang menahanku untuk berkomentar dan membicarakan dirinya kecuali karena aku khawatir aku yang akan ditimpakan masalahnya dikemudian hari.”

Imam al-Bukhari (w.256H) menyebutkan,
أَرْجُو أَنْ أَلْقَى اللَّهَ وَلَا يُحَاسِبُنِي أَنِّي اغْتَبْتُ أَحَدًا

Aku berharap dapat bertemu dengan Allah (di akhirat nanti) dalam keadaan Dia tidak menghisabku pernah mengumpat siapapun’

Dalam riwayat lain beliau menyebutkan,
مَا اغْتَبْتُ أَحَدًا قَطُّ مُنْذُ عَلِمْتُ أَنَّ الْغَيْبَةَ تَضُرُّ أَهْلَهَا

Aku tidak pernah mengumpat sesiapapun semenjak aku tahu bahawa (perbuatan) menggunjing ini memudaratkan pelakunya (dengan dosa dan azab)’ [Siyar al-A’lam an-Nubala]
Abdullāh bin Mas’ud tidak berani memberikan komentar ketika melihat anjing. Kata beliau:
لو سخرت من كلب، لخشيت أن أكون كلبً

“Jika aku mencela dan merendahkan seekor anjing, aku khawatir aku akan dirubah seperti anjing atau Allāh berikan sifat-sifat buruk anjing itu kepada diriku.”

Hasan Al Basri mengatakan dalam sebuah riwayat yang disampaikan oleh Ibnu Abi Dunya dalam kitabnya Ash Shamt:

كانوا يقولون من رمي أخاه بذنب قد تاب إلى الله منه لم يمت حتى يبتليه الله به

“Para sahabat dan tabi’in memiliki konsep, barang siapa yang mencela saudaranya, karena dosa-dosanya, sedangkan saudaranya itu sudah bertaubat kepada Allāh, maka Si Pencela tidak akan meninggal dunia kecuali dia akan mengalami dosa saudaranya tersebut.”

Konsep di atas muncul berdasarkan hadits Nabi Muhammad SAW yang dihasankan oleh Imam Tirmidzi nomor 2506 dan dihasakan oleh Syaikh Abdul Qadir Al Arna’uth:

لاَ تُظْهِرِ الشَّمَاتَةَ لأَخِيكَ فيعافيه الله وَيَبْتَلِيكَ ».

“Janganlan anda mencela saudara anda terang-terangan karena dosa-dosa dia, karena bisa jadi Allāh akan mengampuni dia dan Allāh akan masukan anda ke dosa tersebut.”

Dari Mu’adz bin Jabal, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,

مَنْ عَيَّرَ أَخَاهُ بِذَنْبٍ لَمْ يَمُتْ حَتَّى يَعْمَلَهُ

“Siapa yang menjelek-jelekkan saudaranya karena suatu dosa, maka ia tidak akan mati kecuali mengamalkan dosa tersebut” (HR. Tirmidzi no. 2505)

Lalu bagaimana sikap kita jika ada yang menghina atau menggunjing kita? Biarkan, nikmati hidup anda dan jangam dibalas, biarkan Allah SWT yang akan membalasnya. 
Simak baik-baik hadits ini:

 وَإِنِ امْرُؤٌ شَتَمَكَ وَعَيَّرَكَ بِمَا يَعْلَمُ فِيكَ فَلاَ تُعَيِّرْهُ بِمَا تَعْلَمُ فِيهِ فَإِنَّمَا وَبَالُ ذَلِكَ عَلَيْهِ

“Jika ada seseorang yang mencela anda karena dia tahu aib-aib anda. Jangan dibalas walaupun anda tahu aib-aib dia. Karena cukuplah caci maki dia kepada kita akan membuat dia terkena bencana dari Allāh Subhanahu wa Ta’ala.” (HR Abu Daud nomor 4084 dan Tirmidzi nomor 2722)

Motivasi Ramadan Islamic Character Development-ICD

%d bloggers like this: