Filsafat Hidup



Filsafat hidup manusia adalah untuk beribadah kepada Allah Swt, gerak gerik apapun yang kita lakukan harus dimulai dari Allah Swt. Rasulullah Saw bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits)

Maka siapa yang bangun di pagi hari dan mengingat Allah maka akan Allah cukupkan, sebagaimana sabda Nabi Saw berikut : “Barang siapa yang bangun di pagi hari dan hanya sibuk memikirkan urusan dunia, sehingga seolah-olah ia tidak melihat hak Allah dalam dirinya, maka Allah akan menanamkan 4 penyakit yaitu :

  1. Kebingungan dan kesedihan yang tiada putus-putusnya
  2. Kesibukan yang tak pernah ada habisnya
  3. Kebutuhan yang tidak terpenuhi
  4. Khayalan dan cita-cita yang tidak pernah tercapai” (HR Imam Thabrani)

Maka ketika bangun tidur, jangan tender yang anda ingat tetapi ingatlah Allah Swt, membaca doa yang sudah diajarkan Nabi yaitu ‘Alhamdulillahilladzi Ahyaanaa ba’da maa amaatanaa wa ilahin nusyuur” (Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami dan kepada-Nya lah kami akan kembali) kalaupun tidak bisa, cukup dengan membaca Hamdalah dan mengungkapkan rasa syukur telah diberikan nikmat tidur dan istirahat.

Dalam hidup, sebelum melakukan sesuatu maka kita menentukan tujuannya. Seseorang naik mobil dan ketika memasuki tol tidak mungkin dia bilang tidak punya tujuan mau kemana, atau seorang teman mengajak jalan-jalan, tidak mungkin dia tidak punya tujuan akan diajak kemana kita.

Seorang muslim sebelum melakukan sesuatu sudah terbetik tujuannya. Tujuan itu kepada Allah. Filsafat ini selalu diingatkan Allah Swt dalam membaca surat Al-Fatihah yang dalam satu hari tidak kurang dari 17 kali kita mengulangnya karena satu hari dalam shalat ada 17 rakaat.

Seseorang merasakan sedih, gundah, gulana dan gelisah, sesungguhnya dia seseorang yang lupa tujuan hidup. Maka sebelum berbuat sesuatu maka tanyakanlah saya berbuat untuk siapa?

Sumber:

Resume Kajian Ust Arifin Jayadingrat di Rumah Cinta Quran

Menaklukkan Jiwa Untuk Taat


sabarsolattenang-660x375Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya). (Qs. An-Naziat: 37-41)

Allah membagi manusia menjadi dua golongan.

  1. Mengutamakan kehidupan dunia dan melampaui batas> neraka
  2. Takut kepada Allah dan menahan nafsu > surga.

Ayat ini memberikan perbandingan antara orang yang mampu menahan nafsu dan orang yang tidak bisa menahan nafsunya.

Manusia diciptakan untuk beribadah. Siapa yang tidak bisa menguasai nafsu atau tubuhnya sendiri, seperti seorang driver yang menguasai kendaraan, itulah orang yang menang. Maka tubuh, harta dan apa saja yang kita miliki menjadi kendaraan untuk beribadah kepada Allah.

Dan orang yang melampaui batas adalah kebalikannya, yang menjadikan tubuhnya sebagai driver, keinginan dirinya menjadi skala prioritas. Maka hendaknya selalu diingat, ketika berbuat sesuatu selalu menanyakan kepada diri, saya bergerak ini siapakah yang menggerakkan, apakah nafsu fujur saya atau nafsu taqwa saya?

Mari kita potret diri kita. Sudahkah kita memerdekakan penilaian manusia kepada penilaian Allah saja. Ikatlah penilaian kita kepada penilaian Allah Swt. Penilaian manusia bersifat fluktuatif, besok jadi teman bisa jadi besoknya lagi jadi musuh.

Mengikat penilaian kepada Allah, anda akan tetap mulia di mata manusia yang baik. Dengan memprioritaskan akhirat anda akan tetap bisa hidup enak, karena dalam mencari akhirat kita harus kaya  untuk bisa beribadah seperti menutup aurat, ibadah zakat, haji dan shadaqah. Maka salah anggapan bahwa mencari ridha Allah akan menjadi susah.

Manusia di akhirat akan menghayal jika sekiranya menjadi debu/tanah (akhir ayat surat An-Naba’) padahal di dunia terkenal, cantik dan kaya. Demikian gambaran manusia yang melampaui batas di akhirat, lebih memilih menjadi tanah daripada di siksa dan dibakar di neraka.

Jadilah mutiara di mata Allah walau menjadi debu di mata manusia. Kenapa menjadi debu di mata manusia? Karena jika anda menjadi mutiara di mata Allah anda akan menjadi manusia yang baik dimata orang yang baik.

Allah Swt banyak memberikan gambaran bagaimana gunung dan batu lebih baik dari hati manusia padahal mereka bukan mukallaf atau tidak diperintah dan dilarang dan mereka tidak masuk surga dan neraka. Batu, gunung dan lainnya takut kepada Allah karena keagungan Allah.

Sebagaimana firman Allah Swt berikut:

“Dan guruh itu bertasbih dengan memuji Allah, (demikian pula) para malaikat karena takut kepada-Nya, dan Allah melepaskan halilintar, lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan mereka berbantah-bantahan tentang Allah, dan Dialah Tuhan Yang Maha keras siksa-Nya.” (Qs. Ar-Ra’du: 13)

Guruh dalam ayat ini takut kepada Allah, apakah dia mukallaf (dibebani hukum Islam), apakah dia masuk surga atau neraka? lalu kenapa dia takut?

“Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir” (Qs. Al-Hasyr: 21)

Gunung, makhluk terbesar di dunia, takut kepada Allah sementara manusia yang lebih kecil dan lebih lemah dari gunung tidak takut kepada Allah Swt. Gunung pun bukan mukallaf dan tidak masuk surga atau neraka, tetapi dia takut kepada Allah, takutnya adalah karena keagungan Allah Swt.

Orang yang tidak merasa takut dengan keagungan Allah Swt pasti tidak bisa menahan nafsunya. Nafsu disini bukan hanya berbuat maksiat seperti zina, contoh yang kecil saja seperti shalat cepat cepat.

Siapakah yang pertama kali kita hadapi dalam menaklukkan jiwa? nomor satu adalah diri kita sendiri. Maka dalam kesabaran yang pertama adalah kesabaran dalam menegakkan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah, selanjutnya bersabar dari kesengsaraan.

Allah Swt berfirman:

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.”  (Qs. Al-Kahfi: 28)

Ayat ini menjelaskan bahwa Nabi Muhammad Saw juga manusia, dia juga bisa tidak bisa bersabar dalam keadaan gundah seperti yang lain. Juga menjelaskan pentingnya set up lingkungan agar terus menjadi baik. Nabi yang ma’shum saja diminta agar bergaul dengan orang yang baik apalagi kita. Mata kita pun harus terus bersama orang orang yang baik dan jangan tertipu dengan gemerlapnya dunia.

Hidup adalah ujian, agar tidak salah langkah harus menyebut nama Allah terlebih dahulu dalam segala aktifitas kita. Kenapa dalam banyak ayat disebutkan perintah untuk berdzikir, menyebut nama Allah dalam keadaan, berdiri, duduk dan berbaring? Karena dalam sebuah hadits disebutkan bahwa dalam hati manusia terdapat dua pintu, pintu yang dimasuki syetan dan pintu yang dimasuki malaikat. Jika manusia berdzikir maka syetan akan minggir dan malaikat masuk, kalau tidak berdzikir syetan akan masuk.

Dalam hadits yang lain disebutkan bahwa orang yang berdzikir dan orang yang tidak berdzikir seperti orang mati dan hidup.

Hadits yang lain, orang yang tidak berdzikir laksana orang yang diserang musuh, kemudian ketika dia berdzikir laksana dia masuk ke dalam benteng, dimana musuh tidak bisa menyentuhnya.

Maka maksud dari ‘selalu bersama orang yang berzikir’ bukan hanya secara fisik saja, tetapi setelah selesai perkumpulan kita tetap terus berdzikir mengingat Allah Swt. Ketika membiasakan diri untuk berdzikir ketika berdiri, duduk dan berbaring, sebenarnya kita sedang menghadapi diri sendiri, seperti ketika muncul suatu ide, benturan terjadi dalam diri, jika berjalan anda menang, jika tidak anda kalah dengan diri sendiri.

Tidak ada orang yang tidak ingin masuk surga, dan orang yang masuk surga sudah terpola dia bisa menaklukkan diri sendiri. Contohnya, shalat Tahajjud adalah bentuk peperangan terbesar terhadap diri sendiri.

Allah Swt berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam taman-taman (surga) dan mata air-mata air, sambil menerima segala pemberian Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar.Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.” (Qs. Adz-Dzariyat 15-20)

Ayat di atas menunjukkan life style/ pola hidup penghuni surga.

  1. Produktif ketika di dunia
  2. Sedikit tidur, melawan nafsu untuk beribadah, dia sudah terbiasa bangun sebelum shalat subuh. Lebih cinta kepada Allah daripada tubuhnya, shalat dan mengharap ampunan Allah.
  3. Memohon ampun kepada Allah sebelum subuh.
  4. Growth mindset, dengan banyak meminta ampun kepada Allah.
  5. Menyayangi orang miskin

*Resume Kajian Akhlak 06 Maret 2017 di Masjid Raya Pondok Indah

Syarat Kemenangan dalam Islam: Yakin dan Amal Shalih


Allah Swt berfirman dalam Qs.  Al-A’raf ayat 96.
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (Qs.  Al-A’raf: 96)

Iman adalah kepercayaan dalam hati yang dibenarkan dalam perilaku. Maka dalam iman dibutuhkan adanya tahqiqul ibadah, yaitu menjadikan ibadah berada dalam perilaku keseharian kita.

Contoh dalam shalat, orang yang shalatnya tidak cepat cepat, khusyu akan nampak dalam ekspresi kesehariannya, sebaliknya jika shalatnya dilakukan dengan tergesa gesa dan tidak thumakninah maka shalatnya tidak ada berpengaruh di kehidupan sehari hari.

Di antara doa yang biasa kita baca adalah:

أللهم إني أسألك رضاك والجنة وأعوذبك من سخطك والنار

Doa ini dalam bentuk aplikasinya di ekspresikan dengan doa berikut:

أللهم إني أسألك الجنة ونعيمها وما يقربي إليها من قول أو فعل أو عمل وأعوذبك من النار وما يقربني إليها من قول أو فعل أو عمل

Doa ini biasa dibaca ketika thawaf diputaran yang kelima

Takwa sebagai realisasi dari iman, maka selalu disebutkan dalam Al-Quran Iman dan Taqwa, tidak pernah terbalik.

Pondasi taqwa ada dua:

  • Merasa bersama Allah (ma’iyatullah)
  • Merasa berada dalam kematian/ mengingat Akhirat.

Orang bertaqwa mampu memerdekakan diri dari penilaian manusia dan mengikatkan diri kepada penilaian Allah.

Afeksi harus berdasarkan pengalaman. Orang Islam yang berislam karena orang tuanya Islam akan biasa saja, berbeda dengan orang yang merasakan iman berdasarkan pengalaman. Sebagaimana kisah Ashabul Ukhdud sebagaimana firman Allah dalam Qs.  Al-Buruj ayat 4-8.

Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit, (4) yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, (5) ketika mereka duduk di sekitarnya, (6) sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. (7) Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji, (8). (Qs. Al-Buruj 4-8)

 
Berikut ini kisah Ashabul Ukhdud sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Az-Zuhd bab “Qishashotu Ash-habil Ukhdud was Sahir war Rahib wal Ghulam: 3005

Dahulu ada seorang raja, dari orang-orang sebelum kalian. Dia memiliki seorang tukang sihir. Tatkala tukang sihir itu sudah tua, berkatalah ia kepada rajanya: “Sesungguhnya aku telah tua. Utuslah kepadaku seorang anak yang akan aku ajari sihir.” Maka sang raja pun mengutus seorang anak untuk diajari sihir. Setiap kali anak tersebut datang menemui tukang sihir, di tengah perjalanan ia selalu melewati seorang tabib, ia pun duduk mendengarkan pembicaraan rahib tersebut, sehingga ia kagum kepadanya. Maka setiap kali ia datang ke tukang sihir, ia selalu duduk dan mendengarkan petuah rahib itu, kemudian baru ia datang ke tukang sihir sehingga tukang sihir itu memukulnya (karena ia datang terlambat, red.). ia mengadukan hal itu kepada rahib tadi, sang rahib pun berpesan: “Kalau engkau takut kepada tukang sihir, katakanlah bahwa keluargamu telah menghalangimu (sehingga engkau terlambat), dan bila engkau takut kepada keluargamu, katakan juga bahwa tukang sihir itu telah mencegahmu. Maka tatkala berlangsung demikain, tiba-tiba ada seekor binatang buas mengonggok di tengah jalan sehingga menghalangi lalu-lalangnya manusia. Menghadapi peristiwa ini maka ia pun bergumam: “Pada hari ini akan aku buktikan apakah tukang sihir itu lebih utama dari pada rahib, ataukah sebaliknya.”

Ia pun mengambil sebuah batu kemudian mengatakan: “Ya Allah, apabila perkara rahib lebih engkau sukai daripada tukang sihir, maka bunuhlah binatang buas itu.” Kemudian ia lemparkan batu tersebut, sehingga matilah binatang buas tadi dan manusia pun bisa lewat kembali. Sesudah itu datang lah ia kepada rahib dan mengabarkan kejadian yang baru saja ia alami, kemudian sang rahib mengatakan:

“Wahai anakku, hari ini engkau lebih baik daripada aku, dan engkau telah sampai pada perkara yang aku sangka. (ketahuilah) sesungguhnya engkau akan diuji, dan bila engkau diuji, janganlah engkau tunjukkan tentang diriku.”

Dan kini ia dapat menyembuhkan penyakit buta, penyakit kusta, serta dapat mengobati manusia dari berbagai macam penyakit.

Hal ini terdengar oleh seorang teman duduk raja, sedangkan dia adalah seorang yang buta, kemudian ia membawa harta yang banyak seraya mengatakan: “Aku akan berikan harta ini kepadamu bila engkau bersedia menyembuhkan penyakitku.” Maka sang anak menjawab, “Sesungguhnya aku tidaklah bisa menyembuhkan siapapu, yang bisa menyembuhkan hanyalah Allah. Kalau engkau beriman kepada Allah maka aku akan berdoa kepada-Nya untuk kesembuhanmu.” Maka ia pun beriman kepada Allah dan Allah pun menyembuhkan penyakitnya. Kemudian datanglah dia menemui sang raja dan duduk sebagaimana biasanya, sang raja pun heran seraya mengatakan: “Siapakah yang telah mengembalikan pandanganmu?” maka ia menjawab: “Rabb-ku.”  Sang raja melanjutkan: “Apakah engkau memiliki tuhan selain aku?!!” Jawabnya, “Ya, Dia adalah Rabb-ku dan Rabb-mu juga.” Maka sang raja pun menyiksanya dan terus menyiksanya sampai ia menunjukkan kepada anak tersebut. Didatangkanlah si anak itu, kemudian sang raja berujar: “Wahai anakku, sekarang engkau telah memiliki kepandaian sihir, sehingga bisa menyembuhkan orang yang buta dan juga bisa menyembuhkan penyakit kusta dan lain sebagainya.” Sang anak balik menjawab, “Sesungguhnya aku tidak bisa menyembuhkan siapapun, dan hanya Allah-lah yang bisa menyembuhkan.”

Akhirnya sang raja pun menyiksanya dan terus menyiksanya sampai ia menunjukkan kepada rahib. Maka didatangkanlah si rahib, kemudian dikatakan kepadanya: “Berhentilah dari agamamu!!” Ia pun enggan. Maka sang raja meminta gergaji kemudian diletakkan tepat di tengah kepalanya, dan dibelahlah tubuhnya sampai terbelah menjadi dua bagian. Kemudian didatangkan pula teman duduk sang raja tersebut, dan dikatakan kepadanya: “Berhentilah dari agamamu!!” Demikian pula, ia pun enggan, kemudian ditaruh gergaji itu di atas kepalanya, lantas dibelahlah tubuhnya hingga terbelah.

Selanjutnya didatangkanlah sang anak, dan dikatakan kepadanya: “Berhentilah dari agamamu!!” Ia pun menolak. Kemudian ia dilemparkan kepada sekelompok prajurit raja, dan dikatakan: “Pergilah kalian ke gunung ini dan gunung ini, mendakilah sampai di puncak gunung, apabila ia mau berhenti dari agamanya selamatkan dia, dan kalau tidak, maka lemparkan ia ke dasar jurang.”

Maka mereka pun pergi, kemudian naik, dan tatkala berada di atas gunung sang anak berdoa: “Ya Allah! Jagalah diriku dari tipudaya mereka sekehendak-Mu.” Tiba-tiba bergetarlah gunung tersebut dan semua prajurit raja jatuh berguguran ke bawah jurang, kemudian kembalilah sang anak menemui sang raja. Ia heran dan mengatakan: ‘Apa yang terjadi pada para sahabatmu?” Sang anak menjawab: “Sesungguhnya Alalh telah menjagaku dari makar mereka.” Maka kembali sang raja melemparkannya ke sekelompok prajuritnya yang lain, kalai ini perintah sang raja: “Pergilah kalian dan bawalah anak ini ke sebuah perahu, apabila kalain telah ke tengah laut, maka apabila ia mau berhenti dari agamanya selamatkanlah ia, kalau ia tetap enggan, lemparkanlah ia ke tengah lautan!”

Maka mereka pun pergi, setelah sampai di tengah laut, sang anak pun berdoa: “Ya Allah! Jagalah diriku dari tipudaya mereka sekehendak-Mu.” Maka perahu itu pun terbalik, namun Allah tetap menyelematkannya dan tenggelamlah seluruh prajurit raja. Kembalilah sang anak datang menemui sang raja, ia pun terkejut seraya mengatakan: “Apa yang terjadi pada para sahabatmu?” Sang anak menjawab, “Allah telah menjagaku dari makar mereka.” Kemudian ia berkata kepada sang raja, “Sesungguhnya engkau tidak akan pernah bisa membunuhku, kecuali bila engkau mau menuruti permintaanku.” Sang raja menjawab, “Apakah itu? Sang anak melanjutkan, “Kumpulkanlah seluruh manusia pada satu tempat, kemudian saliblah aku di sebuah pohon kurma, kemudian ambillah satu anak panah dari tempat anak panahku, letakkan anak panah itu di busurnya, kemudian katakanlah “Bismilah Rabbil ghulam (dengan nama Allah Rabb-nya anak ini).’ Kemudian lepaskanlah anak panah tersebut. Dengan begitu engkau bisa membunuhku.”

Maka sang raja pun mengumpulkan manusia pada suatu padang yang luas. Dia menyalib anak tersebut pada sebuah batang kurma, kemudian mengambil sebuah anak panah dari tempat anak panahnya dan diletakkan di sebuah busur, kemudian mengatakan: “Bismillah Rabbin ghulam (Dengan menyebut nama Allah, Rabb anak ini).” Kemudian panah itu dilepaskan, maka anak panah itu melesat tepat mengenai pelipis sang anak, setelah itu Ia meletakkan tangannya di pelipisnya kemudian meninggal.

Maka manusia seluruhnya mengucapkan, “Aamanna bi Rabbil ghulam (Kami beriman kepada Allah Rabb-nya anak tersebut).” Maka dikatakan kepada sang raja: “(Wahai sang raja!) Tahukah engkau, perkara yang selama ini kau khawatirkan telah terjadi. Sungguh manusia seluruhnya telah beriman.” Maka sang raja memerintahkan untuk membuat sebuah parit di dekat pintu-pintu jalan dan membuat lubang panjang. Lalu dinyalakanlah api kemudian ia berorasi: “Barangsiapa yang tidak mau kembali dari agamanya, maka lemparkanlah ke dalam parit tersebut.” Atau sehingga dikatakan, “Lemparkanlah!!” maka mereka pun melemparkan seluruhnya. Sampai datang seorang wanita bersama bayinya, ia seorang wanita bersama bayinya, ia berputus asa, berdiri lemas tanpa daya menghadap jurang parit yang tengah berkobar api, tiba-tiba sang bayi berucap, “Wahai ibuku.. bersabarlah, sesungguhnya engkau dalam kebenaran…!”

* Resume kajian Ust Arifin Jayadiningrat di Masjid Pondok Indah 27 Februari 2017, sumber kajian dari buku Fiqih An-Nashr wat Tamkin oleh Dr.  Muhammad Ali Ash-Shalabi.

Dahsyatnya Doa Dan Sebab Doa Tertahan


Fakta Seputar Doa

  • Doa adalah ekspresi kerendahan hati seorang hamba dihadapan Allah. 
  • Doa adalah ekspresi kedekatan seorang hamba dengan Allah swt. 
  • Doa adalah obat kecemasan. 
  • Doa adalah salah satu sumber kesehatan fisik dan mental

Anjuran Berdoa

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).(Qs. Az-Zumar:53-54)

Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya).(Qs. An-Naml:62)

Doa Bisa Menolak Takdir

Bersabda Rasulullah saw : “Tidak ada yang dapat menolak taqdir (ketentuan) Allah ta’aala selain do’a. Dan Tidak ada yang dapat menambah (memperpanjang) umur seseorang selain (perbuatan) baik.” (HR Tirmidzi 2065)

Jangan berputus asa dari rahmat Allah ta’aala. Bila Anda merasa taqdir yang Allah ta’aala tentukan bagi hidup Anda tidak memuaskan, maka tengadahkanlah kedua tangan dan berdo’alah kepada Allah ta’aala. Allah ta’aala Maha Mendengar dan Maha Berkuasa untuk mengubah taqdir Anda. 

Barangkali di antara do’a yang baik untuk diajukan sebagai bentuk harapan agar Allah ta’aala mengubah taqdir ialah sebagai berikut:
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِي دِينِي الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِي وَأَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ الَّتِي

فِيهَا مَعَاشِي وَأَصْلِحْ لِي آخِرَتِي الَّتِي فِيهَا مَعَادِي وَاجْعَلْ الْحَيَاةَ

زِيَادَةً لِي فِي كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلْ الْمَوْتَ رَاحَةً لِي مِنْ كُلِّ شَرٍّ

“Ya Allah, perbaikilah agamaku untukku yang mana ia merupakan penjaga perkaraku. Perbaikilah duniaku yang di dalamnya terdapat kehidupanku. Perbaikilah akhiratku untukku yang di dalamnya terdapat tempat kembaliku. Jadikanlah hidupku sebagai tambahan untukku dalam setiap kebaikan, serta jadikanlah matiku sebagai istirahat untukku dari segala keburukan.” (HR Muslim 4897)

3 Doa Mustajab

Rasulullah saw bersabda, “Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi (kemakbulannya) yaitu doa orang tua, doa orang yang bepergian (safar), dan orang yang didhalimi” (HR. Abu Dawud) 

Adab Berdoa

  • Mengangkat kedua tangan
  • Yakin akan dikabulkan dan benar dalam pengharapan. 
  • Tidak melampaui batas dalam berdoa
  • Memulai dengan pujian kepada Allah dan shalawat kepada Nabi
  • Menggunkan lafadz dari Al-Quran dan Hadits

Waktu Mustajab Doa

  • Tengah malam
  • Hari jumat, dari Ashar sampai Maghrib
  • Waktu antara adzan dan iqamah
  • Waktu sedang puasa
  • Ketika sujud
  • Selesai shalat wajib
  • Saat ayam berkokok
  • Ketika Ramadhan
  • Ketika minum air zam zam
  • Ketika turun hujan

Tempat Baik Berdoa

  • Melihat Ka’bah
  • Di Multazam
  • Shafa dan Marwa

Sebab Doa Tertolak

  • Memakan harta yang haram. 
  • Tidak yakin akan dikabulkan dan tidak sungguh sungguh dalam berdoa. 
  • Berdoa meminta sesuatu yang sebenarnya adalah dosa. 

*Resume kajian Akhlak ICD MRPI bersama Ust Ibrahim Al-Hilali, Lc

Allah Tempat Bergantung


​Saat kita berdiri lama, akan terasa lelah, lebih nikmat bila duduk dikursi, tapi lebih nikmat lagi bila duduk + bersandar. Kalau terlalu lama, lebih nikmat lagi berbaring…… KENAPA DEMIKIAN ?

Karena yang disandarkan dari yang kita pikul lebih bertambah ! Semakin kita lepaskan yang kita pikul lalu disandarkan
kepada yang lain, semakin beban ringan dan nikmat !!

ALLAHUS SHOMAD !!!! Allah tempat bergantung !! itulah esensi IKHLAS

Segala urusan di dunia ini harus selalu digantungkan kepada YANG MAHA KUAT dan MAHA MENGATUR bila tidak, akan “LELAH DALAM HIDUP”

Musibah kelas 1 adalah MUSIBAH TERBESAR !! yaitu musibah AGAMA. 

Kalau musibah selain ini masih kecil, contoh, hilang harta, hilang jabatan, hilang kesehatan, hilang jiwa (wafat) dan lain sebagainya ini namanya musibah dunia.

Tapi kalau MUSIBAH AGAMA adalah melanggar aturan agama. [] 

Keshalihan Sosial


Cahaya Allah tidak akan dipancarkan pada orang yg berbuat maksiat.

Manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah (vertikal), dan juga kepada manusia (horizontal).
Seperti halnya ibadah, dosa jg bersifat vertikal dan horizontal. 

Dosa yang bersifat vertikal misalnya kafir, melakukan dosa besar yg terkait ibadah kepada Allah.
Dosa yang bersifat sosial (horizontal) seringkali dianggap kurang penting oleh manusia dibandingkan dosa yg bersifat vertikal.

Manusia tidak diciptakan seperti Malaikat. 

Malaikat tidak berbuat dosa, tidak memiliki nafsu (kebebasan berkehendak). Malaikat selalu  berzikir kpd Allah. Malaikat tidak menikah dan tidak memiliki peradaban.

Malaikat diperintahkan oleh Allah utk sujud kepada manusia. 
Manusia diutus sebagai khalifah yang ditugaskan untuk membentuk peradaban dan memakmurkan bumi.

Kesalehan sosial yang digabungkan dengan kesalehan individiual misalnya shalat berjamaah. 

Perbandingannya sbb:

Shalat sendiri pahala 1

1× 5 waktu x 30 hari x 12 bulan =

1800 pahala dalam setahun
Shalat berjama’ah pahala 27

1× 5 waktu x 30 hari x 12 bulan =

46.800 pahala dalam setahun
Kesalehan individual yang digabungkan dengan kesalehan sosial akan menghasilkan pahala yang berlipat ganda.

Manusia itu sesungguhnya berada dalam keadaan merugi, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh dan saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran (Qs. Al Ashr 1-3). 

Dalam surat Al Ashr digambarkan keberuntunganlah yang akan didapat bagi orang-orang yang saling menebarkan kebaikan bagi sesama.


Barangsiapa yang tidak menebarkan rahmat kepada manusia, maka Allah tidak akan menebarkan rahmat kepadanya
(HR Muslim).




Barang siapa yang menengok orang sakit, maka akan ada 70.000 malaikat beristigfar untuknya. 

Bila setiap satu istigfar yang diucapkan seseorang memerlukan waktu 10 detik, berarti dengan menengok orang sakit setara dengan 194 jam kita telah beristigfar. 

Contoh lain kesalehan sosial yg digabungkan dng kesalehan inividual: Wukuf, i’tikaf, hadir di taklim.

Kisah Juraij menceritakan bahwa kesalehan individual dalam beberapa hal dapat dikalahkan dengan kesalehan sosial (horizontal).

Juraij merupakan ahli ibadah. Pernah terjadi bbrp kali ketika Juraiz sedang shalat, Ibunya memanggil. Namun Juraij tetap melanjutkan shalatnya. Sampai Ibunya kesal dan mendo’akan keburukan untuknya. Akhirnya Juraij terkena fitnah pelacur.

Kesalehan sosial yang nilai ibadahnya sama seperti beribadah puasa selama setahun atau shalat tanpa henti selama setahun atau jihad fii sabilillah yaitu memelihara janda dan anak yatim.

Dosa sosial pun akan menyebabkan kita mendapat do’a buruk dari banyak pihak.

Contoh: 

Dengan sengaja parkir sembarangan, menyebabkan orang lain terzalimi. Maka akan banyak orang yg menyumpahinya/menginginkan keburukan baginya.

Lapangkanlah urusan orang lain, maka Allah akan melapangkan urusanmu.

Kesalehan sosial yang dapat membuka rezeki, yaitu dng menyambung silaturahmi.

 

In ahsantum ahsantum li anfusikum… Wa in asa’tum fa lahaa… (17:7)

Jika kamu berbuat kebaikan, maka kebaikan akan kembali pada kalian. Jika kalian berbuat keburukan, maka baginya kerugian.

Pesan Rasulullah:

  1. Secinta2nya pada sesuatu, pasti akan berpisah
  2. Berbuat apa saja di dunia, maka engkau akan dibalas sesuai perbuatannya
  3. Terserah kalian mau bergaya hidup spt apa di dunia, namun ingat bahwa kalian akan wafat.
  4. Tidak meminta kepada manusia maka akan mulia.
  5. Kemuliaan manusia jika menjaga shalat malamnya.

Jika ingin menjadi orang shaleh, maka jangan untuk diri sendiri, tapi harus mengajak orang lain untuk shaleh.

Manusia yg beriman akan bergetar hatinya jika disebut nama Allah. Namun kenyataannya pada zaman sekarang, jangankan hati bergetar, mereka bahkan menolak  ayat Al Qur’an. 

Contoh: Banyak orang muslim Indonesia yang menolak kebenaran Al Maidah ayat 51 terkait memilih pemimpin nonmuslim.
 Hati2 akan dimintai pertanggung jawaban di akhirat nanti.

 2 Februari di Mushala Bintaro Exchange bersama Ust Arifin Jayadiningrat

*kiriman resume kajian dari bu Erika. Semoga bermanfaat 😊😊

Munafik


Salah satu kebiasaan melekat dan sangat dikenal dari orang-orang Munafik itu adalah berbohong, khianat, berlaku curang, serta menipu. 

Makanya Nabi Saw mengabarkan dalam riwayat Shahih, bahwa kelompok ini tidak pernah malu untuk berbohong ketika bicara, mengingkari ketika berjanji, serta mengkhianati ketika diberi amanah. 

Dalam riwayat lain, ada tambahan yakni berlaku curang ketika berselisih. Mereka akan menghalalkan segala cara untuk meyakinkan orang bahwa mereka itu benar. Kendati dengan melakukan manipulasi, menipu, pembohongan publik, mengerik dalih-dalih yg tidak ada kaitan dengan persoalan yang diperselisihkan, dan lain sebagainya. 

Sungguh amat benar dan gamblang apa yang dikabarkan oleh Nabi dalam sabdanya di atas. Dan semua yang mereka lakukan itu, muaranya adalah makar dan tipuan kepada agama Allah dan kaum Mukminin. 

Akan tetapi, Allah Ta’ala memberi kabar gembira kepada orang-orang beriman. Bahwa apa yang dilakukan kelompok Munafik itu pada hakikatnya kembali kepada mereka sendiri. Justru, yang mereka tipu dan kelabui itu ternyata adalah diri mereka sendiri.

Allah Ta’ala berfirman:
يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ

“Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar”. (Q.S. Al-Baqarah : 9).

%d bloggers like this: