Lebih Penting Dari Khatam Al-Quran


quran

Jangan kau beritahu orang lain, berapa juz kamu hapal dan berapa kali kamu khatam membaca al-Quran. Biarkan mereka melihat al-Quran pada dirimu.

Berilah makan orang yang kelaparan, kasihilah anak yatim, maafkanlah orang yang salah, ajarilah yang tidak tahu, berbaktilah pada orang tuamu, teruslah bersilaturrahim, tersenyumlah buat semua orang, dst.

Yg penting bukan seberapa banyak kamu membaca dan menghapal al-Quran.

Teruslah membaca dan menghapal al-Quran, tapi ingat yg lebih penting adalah, seberapa banyak al-Quran ada padamu.

Apa yang penting bukanlah sebanyak apa capaianmu dalam Al-Quran, tapi sedalam apa Al-Quran mencapai sanubarimu.

Ramadan identik dengan bulan amal dan ibadah, bukan hanya ibadah yang bersifat spiritual saja, tapi juga horisontal antara manusia, tidak kalah banyak pahalanya, membantu orang lain dan membuat orang lain gembira.

Makna tersirat dari ibadah puasa adalah ikut merasakan kehidupan orang lain yang tidak berkecukupan, sakit, pedih dan berbagai macam kesusahan hidup yang dihadapi orang lain.

Menguatkan hal ini saya tersentuh dengan lagu Maher Zain yang dirilis Awakening di awal Ramadan ini, salah satu lagu terbarunya bertemakan Kun Rahma, jadilah orang yang penuh kasih sayang.

Salah satu liriknya berbunyi

Fii rahmatil insaan nastalhimun ihsan

Warrahimuunal muhsinuuna yarhamuhumur rahmaan

Dengan berbuat baik kepada orang lain, kita belajar menjadi manusia sebenarnya

Orang yang berkasih sayang akan mendapatkan balasan kasih sayang Ar-Rahman

Hati Hati Berkomentar


Kecendrungan manusia mau dipandang baik dan tidak ingin dipandang jelek. Inilah salah satu isyarat Nabi Muhammad saw bersabda: “Kebajikan sesungguhnya dalam akhlak mulia dan dosa apa yang terbesit dalam dadamu dan kamu malu tidak suka bila orang lain mengetahuinya ( karena perbuatan buruk )”.

Sungguh zaman sekarang sudah berubah, banyak perubahan perubahan yang terjadi termasuk dalam teori nilai nilaipun mulai bergeser. 

Media sosial apapun bentuknya menjadi salah satu gambaran perubahan zaman yang dahsyat. Setiap orang bisa mengekspresikan apa saja baik tulisan, suara, video, gambar dan lain sebagainya yang dilihat oleh semua orang. Batasan batasan nilai positif negatif semakin bergeser. 

Maka penting sekali kami menyampaikan agar lebih berhati hati dalam memberikan komentar baik dalam sosial media atau tidak. Mari ikuti konsep para Sahabat dan Tabi’in ketika ada orang lain yang berbuat salah. 

Ulama besar, Ibrahim An Nakha’i, beliau mengatakan:

 ” إني لأرى الشيء أكرهه، فما يمنعني أن أتكلّم فيه إلا مخافة أن أُبتلى بمثله”.

“Aku melihat sesuatu yang aku tidak suka, tidak ada yang menahanku untuk berkomentar dan membicarakan dirinya kecuali karena aku khawatir aku yang akan ditimpakan masalahnya dikemudian hari.”

Imam al-Bukhari (w.256H) menyebutkan,
أَرْجُو أَنْ أَلْقَى اللَّهَ وَلَا يُحَاسِبُنِي أَنِّي اغْتَبْتُ أَحَدًا

Aku berharap dapat bertemu dengan Allah (di akhirat nanti) dalam keadaan Dia tidak menghisabku pernah mengumpat siapapun’

Dalam riwayat lain beliau menyebutkan,
مَا اغْتَبْتُ أَحَدًا قَطُّ مُنْذُ عَلِمْتُ أَنَّ الْغَيْبَةَ تَضُرُّ أَهْلَهَا

Aku tidak pernah mengumpat sesiapapun semenjak aku tahu bahawa (perbuatan) menggunjing ini memudaratkan pelakunya (dengan dosa dan azab)’ [Siyar al-A’lam an-Nubala]
Abdullāh bin Mas’ud tidak berani memberikan komentar ketika melihat anjing. Kata beliau:
لو سخرت من كلب، لخشيت أن أكون كلبً

“Jika aku mencela dan merendahkan seekor anjing, aku khawatir aku akan dirubah seperti anjing atau Allāh berikan sifat-sifat buruk anjing itu kepada diriku.”

Hasan Al Basri mengatakan dalam sebuah riwayat yang disampaikan oleh Ibnu Abi Dunya dalam kitabnya Ash Shamt:

كانوا يقولون من رمي أخاه بذنب قد تاب إلى الله منه لم يمت حتى يبتليه الله به

“Para sahabat dan tabi’in memiliki konsep, barang siapa yang mencela saudaranya, karena dosa-dosanya, sedangkan saudaranya itu sudah bertaubat kepada Allāh, maka Si Pencela tidak akan meninggal dunia kecuali dia akan mengalami dosa saudaranya tersebut.”

Konsep di atas muncul berdasarkan hadits Nabi Muhammad SAW yang dihasankan oleh Imam Tirmidzi nomor 2506 dan dihasakan oleh Syaikh Abdul Qadir Al Arna’uth:

لاَ تُظْهِرِ الشَّمَاتَةَ لأَخِيكَ فيعافيه الله وَيَبْتَلِيكَ ».

“Janganlan anda mencela saudara anda terang-terangan karena dosa-dosa dia, karena bisa jadi Allāh akan mengampuni dia dan Allāh akan masukan anda ke dosa tersebut.”

Dari Mu’adz bin Jabal, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,

مَنْ عَيَّرَ أَخَاهُ بِذَنْبٍ لَمْ يَمُتْ حَتَّى يَعْمَلَهُ

“Siapa yang menjelek-jelekkan saudaranya karena suatu dosa, maka ia tidak akan mati kecuali mengamalkan dosa tersebut” (HR. Tirmidzi no. 2505)

Lalu bagaimana sikap kita jika ada yang menghina atau menggunjing kita? Biarkan, nikmati hidup anda dan jangam dibalas, biarkan Allah SWT yang akan membalasnya. 
Simak baik-baik hadits ini:

 وَإِنِ امْرُؤٌ شَتَمَكَ وَعَيَّرَكَ بِمَا يَعْلَمُ فِيكَ فَلاَ تُعَيِّرْهُ بِمَا تَعْلَمُ فِيهِ فَإِنَّمَا وَبَالُ ذَلِكَ عَلَيْهِ

“Jika ada seseorang yang mencela anda karena dia tahu aib-aib anda. Jangan dibalas walaupun anda tahu aib-aib dia. Karena cukuplah caci maki dia kepada kita akan membuat dia terkena bencana dari Allāh Subhanahu wa Ta’ala.” (HR Abu Daud nomor 4084 dan Tirmidzi nomor 2722)

Motivasi Ramadan Islamic Character Development-ICD

Allah Maha Baik, Menutup Aib Kita


Allah Maha Baik, Menutup Aib Kita
 Betapa Allah Maha Baik. Tak hanya sekali, namun berulang kali Allah menutup dosa-dosa kita. Hanya karena masih memiliki rasa malu, Allah tidak membuka identitas kita.

Pernahkah ada seseorang yang nampak baik di hadapan orang lain ?… Apakah benar orang itu baik atau ia tampak baik karena Allah menutup aibnya ?

Jika saja mau jujur, sungguh… itu bukan karena kebaikan kita. Itu semata karena Allah masih menutupi segala aib kita. Kalo kita mau jujur, dosa dan kesalahan kita amat banyak. Jauh melebihi dosa dan kesalahan kita yang diketahui orang lain.

Orang lain mungkin hanya mengetahui aib kita yang terlihat atau terdengar oleh mereka.
Jika saat ini kita tampak hebat dan baik dimata orang, itu hanya karena Allah taala menutupi aib dan keburukan kita. Jika tidak, maka habislah kita. Terpuruk, seterpuruk-terpuruknya. 

Jadi mari berhenti membicarakan aib orang lain.. koreksi diri dan perbaiki diri. 

Bayangkan jika dosa dzalim, dosa berbohong, dosa syirik, dosa zina, dan dosa-dosa lainnya meninggalkan bau busuk dan Allah tampakkan di hadapan manusia lainnya, alangkah hinanya dan busuknya kita dihadapan orang banyak.


“Jika seandainya dosa-dosa itu mengeluarkan bau maka tidak seorangpun yang akan duduk denganku”
(Siyaar A’laam An-Nubalaa’ 6/120).

Allah telah siapkan pintu taubat bagi hamba-Nya yang benar-benar menyesal atas perbuatannya di masa lalunya agar kembali kepada fitrahnya Allah.

Sebuah riwayat pada masa Khalifah Umar bin Khatab menceritakan tentang betapa baiknya Allah Swt yang telah menutup aib kita. 

Seorang laki-laki mendatangi khalifah Umar bin Khatab. Orang lelaki itu menceritakan kisah hidup yang dialaminya, juga putrinya.

”Aku pernah mengubur salah seorang puteri saya hidup-hidup ketika zaman jahiliyah,” papar lelaki itu membuka kisah hidupnya.

“Namun aku sempat mengeluarkannya kembali sebelum dia meninggal dunia. Hingga puteriku dapat merasakan masa Islam dan telah memeluk agama Islam.”

Belum ada yang istimewa dari cerita laki-laki itu, khalifah Umar bin Khatab tetap mendengarkan dengan seksama. Kemudian lelaki itu melanjutkan ceritanya.

”Ketika puteriku memeluk Islam sebagai seorang Muslimah, dia terkena salah satu hukuman had karena berzina, hingga puteriku kemudian mencoba bunuh diri dengan melukai nadinya. Namun saat itu aku sempat mengetahuinya dan menyelamatkan putriku. Aku merawatnya hingga kembali sehat.”

“Kemudian putriku bertaubat dengan sungguh-sungguh, hingga akhirnya putriku minta dicarikan jodoh.”

Khalifah Umar bin Khattab masih belum jelas apa yang dimaksudkan oleh lelaki ini menceritakan kisah hidupnya dan juga kisah hidup putrinya, khalifah Umar mendengarkan dengan sabar.

”Wahai Amirul Mukminin! Apakah aku harus memberitahu calon suaminya tentang keadaan puteriku pada masa lalu?”

Mendengar pertanyaan ini khalifah Umar bin Khatab menjadi jelas maksud dari kedatangan sahabatnya ini. Dengan tegas khalifah Umar bin Khatab lantas menjawab : “Apakah kamu ingin menyingkapkan apa yang telah ditutupi oleh Allah? Demi Allah, jika kamu memberitahukan tentang kisah hidup puterimu kepada seseorang yang ingin menikahinya, kami akan menjadikanmu sebagai contoh hukuman bagi seluruh penduduk negeri karena telah membuka aib seseorang. Lebih baik nikahkanlah puterimu dalam pernikahan yang suci tanpa harus menanggung malu karena aib masa lalunya.”

 

Kisah di atas menjelaskan betapa baiknya Allah kepada kita dengan menutup aib kita. Diri kita ini penuh dengan kekurangan, aib, cacat, dan cela. Maka sibukkan diri ini untuk memeriksa dan menghitung aib sendiri, niscaya hal itu sudah menghabiskan waktu tanpa sempat memikirkan dan mencari tahu aib orang lain. 

Lagi pula, orang yang suka mencari-cari kesalahan orang lain untuk dikupas dan dibicarakan di hadapan manusia, Allah SWT akan membalasnya dengan membongkar aibnya walaupun ia berada di dalam rumahnya.

 Sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Barzah Al-Aslami z dari Rasulullah SAW:

يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَدْخُلِ اْلإِيْمَانُ قَلْبَهُ، لاَ تَغْتاَبوُا الـْمُسْلِمِيْنَ، وَلاَ تَتَّبِـعُوْا عَوْرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنِ اتَّبَعَ عَوْرَاتِهِمْ يَتَّبِعِ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَوْرَاتِهُ، وَمَنْ يَتَّبِعِ اللهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِي بَيْتِهِ

“Wahai sekalian orang yang beriman dengan lisannya dan iman itu belum masuk ke dalam hatinya5. Janganlah kalian mengghibah kaum muslimin dan jangan mencari-cari/mengintai aurat6 mereka. Karena orang yang suka mencari-cari aurat kaum muslimin, Allah akan mencari-cari auratnya. Dan siapa yang dicari-cari auratnya oleh Allah, niscaya Allah akan membongkarnya di dalam rumahnya (walaupun ia tersembunyi dari manusia).” (HR. Ahmad dan Abu Dawud) 




Abdullah bin ‘Umar ra menyampaikan hadits yang sama, ia berkata, “Suatu hari Rasulullah SAW naik ke atas mimbar, lalu menyeru dengan suara yang tinggi:

يَا مَعْشَرَ مَنْ أَسْلَمَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يُفْضِ اْلإِيْمَانُ إِلَى قَلْبِهِ، لاَ تُؤْذُو الْمُسْلِمِيْنَ، وَلاَ تُعَيِّرُوهُمْ، وَلاَ تَتَّبِعُوْا عَوْرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنْ تَتَبَّعَ عَوْرَةَ أَخِيْهِ الْمُسْلِمِ تَتَبَّعَ اللهُ عَوْرَتَهُ، وَمَنْ يَتَّبِعِ اللهُ عَوْرَتَهُ، يَفْضَحْهُ وَلَوْ فِي جَوْفِ رَحْلِهِ

“Wahai sekalian orang yang mengaku berislam dengan lisannya dan iman itu belum sampai ke dalam hatinya. Janganlah kalian menyakiti kaum muslimin, janganlah menjelekkan mereka, jangan mencari-cari aurat mereka. Karena orang yang suka mencari-cari aurat saudaranya sesema muslim, Allah akan mencari-cari auratnya. Dan siapa yang dicari-cari auratnya oleh Allah, niscaya Allah akan membongkarnya walau ia berada di tengah tempat tinggalnya.” (HR. At-Tirmidzi) 

Dari hadits di atas tergambar pada kita betapa besarnya kehormatan seorang muslim. Semoga Allah SWT menjaga aib kita dan menutupnya. Amiin.
Motivasi Ramadan Islamic Character Development-ICD

Berpakaianlah [3]


 

Saat lapar tiba tiba tercium aroma aneka daging bakar yang diolah dengan bumbu, tentu akan tergoda memakannya. 

Saat tergiur untuk memakannya tiba tiba diberitahu bahwa itu sebetulnya daging bangkai.

Pertanyaanya apakah tetap tergiur nafsu memakannya atau langsung hilang selera?. 

Manusia yang normal akan hilang selera, terlebih lagi diberitahukan bahwa itu daging bangkai manusia !!. Aroma harum tadi sudah tak terasa harum, yang ada ingin muntah.

Realita kehidupan justru tidak demikian, malah semakin terasa nikmat dan tetap ingin memakannya. Itulah gambaran Al-Quran tentang membuka aib orang lain. 

Sahabat Rasulullah ‘Amru bin Al-‘Ash Radhiyallahu ‘anhu melewati bangkai seekor bighol ( semacam keledai), lalu beliau berkata: “Demi Allah, salah seorang dari kalian memakan daging bangkai ini (hingga memenuhi perutnya) lebih baik baginya daripada ia memakan daging saudaranya (yang muslim)”.



Hal ini berangkat dari ayat AlQuran “Dan janganlah sebagian kalian mengghibahi sebagian yang lain. Sukakah salah seorang dari kalian memakan daging bangkai saudaranya yang telah mati, pasti kalian membencinya. Maka bertaqwalah kalian kepada Allah, sungguh Allah Maha Menerima taubat dan Maha Pengasih”.  [Al Hujurat :12]

Bayangkan betapa kotornya seseorang pemakan bangkai. Inilah dosa ghibah dijelaskan dalam hadits. 
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwsanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tahukah kalian apakah ghibah itu?”. Sahabat menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. 

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Yaitu engkau menyebutkan sesuatu yang tidak disukai oleh saudaramu”,  

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya: “Bagaimanakah pendapat anda, jika itu memang benar ada padanya ? 

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Kalau memang sebenarnya begitu berarti engkau telah mengghibahinya, tetapi jika apa yang kau sebutkan tidak benar maka berarti engkau telah berdusta atasnya”. 



Membuka aib orang lain sama saja membuka aib diri sendiri, tak ubahnya dengan membuka pakaian sendiri, menyakiti diri sendiri. 

Tragisnya, sudah ada ancaman yang menjijikkan laksana memakan bangkai tetap saja membobgkar aib dan banyak yang tertarik mendengarnya, itupun bila yang diceritakan benar. Apabila tidak benar , jelas lebih parah dosanya dan termasuk fitnah kebohongan terhadap orang lain, tentu lebih menjijikkan lagi. 

Ingat jiwa yang kotor tetap “lahap” memakan bangkai, juga bagi yang mendengarkan ghibah, senang dengan bangkai saudaranya. Tidak menggubris ayat ayat Al-Quran dan hadist Nabi.

 Bila jiwanya bersih akan terasa jijik saat ada yang membuka pakaiannya, membuka aib orang lain. Lihatlah jiwa kita kotor atau bersih? 

Bila kita celupkan pena bertinta kedalam laut apakah akan merubah warna laut ?. Tentu sama sekali tidak merubah. Bahkan tinta sebanyak satu ember atau satu drum tidak mampu merubah warna laut karena laut sangat banyak airnya. Nah sekarang simak kisah ini.

“Dari ‘Aisyah beliau berkata: Aku pernah berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Cukup bagimu dari Shofiyah ini dan itu”. Sebagian rawi berkata Aisyah mengatakan Shofiyah pendek . Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Sungguh engkau telah mengucapkan suatu kalimat, yang seandainya kalimat tersebut dicampur dengan air laut niscaya akan merubahnya”

Bayangkan betapa kotornya membongkar aib orang lain, laksana merubah air laut  !!! ( polusi) 

Betapa banyak yang membuka auratnya sendiri karena lidahnya membicarakan aib orang lain. Bahkan lidahnya merubah laut. Di dalam hadist riwayat At-Tirmidzi, Abu Dawud dan Nasa’i disebutkan laut adalah suci dan mensucikan bahkan bangkai laut halal. 

Ternyata lidah bisa mengotori kesucian laut !. Laksana melemparkan bangkai bangkai manusia ke lautan sehingga terjadi polusi air.

Semestinya kita selalui ingat semua dosa yang kita lakukan pasti akan kembali kepada diri kita sendiri.

 Perhatikan orang yang membuka aib orang lain di depan anda, sesungguhnya ia akan juga membuka aib anda di depan orang lain. Berhati hatilah dengan lidah yang menghancurkan kehidupan dunia dan akhirat. 

Segala keburukan yang kita lakukan akan kembali kepada diri kita itulah surat 17 Al Isra ayat 7 “bila kalian berbuat baik sesungguhnya kalian berbuat baik untuk diri kalian sendiri, bila kalian berbuat keburukan maka kalian berbuat keburukan untuk kalian sendiri”. 



Mari kita berpakaian dengan menjaga lidah kita. ! Saat orang lain berghibah bayangkan anda sedang disuguhkan bangkai saudaramu untuk memakannya. Naudzubillah min dzalik.



Semoga kita terjaga dari dosa ghibah yang dibangun diatas keangkuhan merasa lebih baik.

Ya Allah bimbinglah kami kepada Akhlak yang mulia.

Motivasi Ramadan bersama Ust.Arifin Jayadiningrat |Direktur Islamic Character Development-ICD

Berpakaianlah [2]


Semua manusia memang diciptakan ada kecendrungan bersalah.  Tidak ada yang lepas dari dosa dan kesalahan.

 Kita semua tahu kisah Nabi Adam dan Hawa diciptakan. Mereka diberikan aturan di sorga agar  jangan mendekat kalian berdua kepada pohon ini “. 

Jelas aturannya jangan dekat, yang terjadi keduanya melanggar bukan hanya mendekat, juga bukan hanya menyentuh pohon bahkan memetik buahnya sampai memakan merasakan buah tersebut.

Perhatikan kemurkaan Allah datang kepada keduanya setelah memakan buah pohon tersebut. Padahal mereka sudah melanggar aturan karena mendekati pohon. 

Pertanyaannya adalah ” Mengapa Allah tidak menunjukkan kemurkaanNya saat mendekat dan semakin mendekat sampai menyentuh dan terakhir makan buah itu ?.

Jawabannya adalah karena Allah Maha Baik. Menutupi kejelekan mereka berdua. Tidak langsung murka lalu mengusir dari surga. Itulah sifat Allah menyayangi dengan menutup dosa hamba-Nya. 

Sebetulnya Nabi Adam dan Hawa terbuka pakaianya serta terusir dari surga bukan karena melanggar satu aturan Allah. Akan tetapi banyak pelanggaran pelanggaran. Sebab aturanNya bukan jangan makan buah pohon ini akan tetapi jangan dekat pohon ini. 
Bila kita merasa disayang Allah dan dekat dengan-Nya, maka semestinya kita mengikuti apa yang dilakukan-Nya yaitu menutup aib atau kesalahan orang lain. Bukan sebaliknya mengumbar aib orang lain. 

Benar, bahwa sifat manusia serba ingin tahu akan tetapi bukan untuk aib orang lain. Inilah kisah Nabi Musa disaat kaumnya dilanda kekeringan lalu Nabi Musa dan kaumnya (Bani Israel)  shalat minta turun hujan ke tengah padang pasir. Sedihnya, setelah sekian lama, hujan juga tidak turun. 

Kemudian, Allah menurunkan wahyu kepada  Nabi Musa,  bahwa ada penghalang doa doa yang dipanjatkan,  yaitu salah satu di antara kaum Bani Israel yang selalu berbuat maksiat selama empat puluh tahun. Oleh karena itulah, Allah tidak mengabulkan doa. Allah meminta agar doa dikabul dan turun hujan, orang yang 40 tahun bermaksiat agar keluar dari kaum Nabi Musa.

Setelah itu, Nabi Musa berseru agar orang ahli maksiat berdiri dan keluar dari kerumunan kaumnya. Pelaku maksiat itu merasa bahwa dirinyalah yang dimaksud. Bila ia keluar, keburukkannya akan diketahui oleh orang lain, ia malu. Namun, bila tidak keluar, hujan tidak akan turun. 

Akhirnya, ia menangis secara diam-diam, memohon ampunan kepada Allah bertobat meratapi dosa dosanya. Tidak lama kemudian, awan menghitam dan air tercurah dari langit.

Nabi Musa keheranan karena Allah menurunkan hujan, padahal tidak ada satu  pun di antara kaum Bani Israel yang keluar. Allah pun menjelaskan bahwa  pelaku yang maksiat itu telah bertaubat memohon ampunan. Nabi Musa meminta  Allah memperlihatkan orang tersebut.
Kemudian Allah berfirman, “Pada saat dia berbuat maksiat pun, Aku tidak membuka keburukannya. Bagaimana mungkin Aku membuka keburukannya pada saat ia menaati-Ku?!”. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepada setiap hamba-Nya.

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (Jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku (Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 186”).

Bayangkan Allah Maha Baik, menutupi kejelekan hamba-Nya. Mari lihat diri kita sudahkah kita menutupi aib orang lain. Bukankah siapa yang menutup aib saudaranya maka Allah menutup aibnya di dunia dan di akhirat? 

 Sebaliknyapun benar, siapa saja yang membuka aib orang lain maka Allah murka dengan membuka aibnya di dunia dan akhirat, bahkan kadang yang membongkar aib akan melakukan dosa yang sama. 

Mari kita tutup diri kita dengan berpakaian. Yaitu menutup aib orang lain.

Motivasi Ramadhan No 3 

Berrsama Ust. Arifin Jayadiningrat |Direktur Islamic Character Development-ICD

Berpakainlah [1]



Orang berakal sehat tidak perlu diajarkan untuk berpakaian. Hanya orang gila saja yang membuka auratnya seperti membuka aibnya. 

Kenyataanya banyak yang membuka aibnya sendiri laksana tidak berpakaian, artinya mereka membuka aib orang lain. Karena saat membuka aib orang lain persis membuka aib sendiri. 

Bukan hanya dosa ghibah akan tetapi ghibah itu dibangun diatas pondasi kesombongan !.

Kita paham dengan pesan Nabi Muhammad saw larangan sombong adalah menolak kebenaran dan melihat orang lain lebih rendah dari dirinya”.

Mari kita camkan hadits hadits berikut ini:
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ فِي الدُّنْيَا يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ *وَمَنْ سَتَرَ عَلَى مُسْلِمٍ فِي الدُّنْيَا سَتَرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَة*ِ وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

“Barangsiapa yang meringankan (menghilangkan) kesulitan seorang muslim kesulitan-kesulitan duniawi, maka Allah akan meringankan (menghilangkan) baginya kesulitan di akhirat kelak. Barangsiapa yang memberikan kemudahan bagi orang yang mengalami kesulitan di dunia, maka Allah akan memudahkan baginya kemudahan (urusan) di dunia dan akhirat. Dan barangsiapa yang menutupi (aib) seorang muslim sewaktu di dunia, maka Allah akan menutup (aibnya) di dunia dan akhirat. Sesungguhnya Allah akan senantiasa menolong seorang hamba selalu ia menolong saudaranya. [HR. Tirmidzi]

مَنْ سَتَرَ عَوْرَةَ أَخِيهِ الْمُسْلِمِ سَتَرَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمَنْ كَشَفَ عَوْرَةَ أَخِيهِ الْمُسْلِمِ كَشَفَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ حَتَّى يَفْضَحَهُ بِهَا فِي بَيْتِهِ

“Barang siapa yang menutupi aib saudaranya muslim, Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat, dan barang siapa mengumbar aib saudaranya muslim, maka Allah akan mengumbar aibnya hingga terbukalah kejelekannya di dalam rumahnya*.” (HR. Ibnu Majah)

Sungguh bila kita merasa lebih suci lebih sholeh,  lebih hebat dan melihat orang lain lebih rendah maka lisan ini bergerak membongkar aib orang lain.  Inilah yang dianggap membuka aurat diri sendiri laksan membuka pakaiannya sendiri.

Yang lebih mengerikan dari hadits tadi aib rumah tangga dapat terbongkar di mata banyak orang disebabkan lidah yang suka bicara aib orang lain. Ini balasan dunia, belum balasan akhirat.

Camkan hadits ini yang sungguh membuka mata hati, menggetarkan hati dan menggelengkan kepala akibat rasa takut. 

Dari Mu’adz bin Jabal, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ عَيَّرَ أَخَاهُ بِذَنْبٍ لَمْ يَمُتْ حَتَّى يَعْمَلَهُ

“Siapa yang menjelek-jelekkan saudaranya karena suatu dosa, maka ia tidak akan mati kecuali mengamalkan dosa tersebut*.” (HR. Tirmidzi no. 2505)

Inilah jawaban kasus ketika saya ditanya seorang wanita “kenapa suaminya berzina dengan staf kantornya ?”. 

Ternyata dulunya sang suami (sebelum nikah),  saat kuliah di kampus pernah menyebarluaskan aib seorang mahasiswi yang hamil diluar nikah. 

Maka balasan di dunia sebelum wafat ia mengerjakan dosa yang sama. Naudzubillah min dzalik. 
Inilah lidah yang dapat menjerat diri sendiri !! Seperti ancaman hadist tadi.
Mari kita jaga lidah agar kita tetap berpakaian menutup aurat ini. Bila menceritakan aib orang lain maka kita tidak tahu apakah orang yang dibuka aibnya sudah diampuni Allah dosanya?

Bisa saja kesalahannya sudah diampuni Allah sehingga ia dihapuskan dosa dosanya dan menjadi hamba Allah yang sholeh.
Lihatlah sikap Nabi saw saat ada seorang laki laki memberitahukan perbuatan dosanya. Belajarlah dari kasus ini. 

Dalam riwayat  “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah saw. lalu berkata: 
‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah menemukan seorang perempuan di suatu kebun, lalu aku berbuat dengannya segala sesuatu, hanya aku tidak menyetubuhinya, aku menciumnya dan memeluknya dan aku tidak melakukan selain itu, maka lakukanlah terhadapku apa yang engkau mau.’

Maka Rasulullah tidak berkata apa pun kepadanya, lalu orang laki-laki itu pergi. Maka `Umar berkata: *`Sungguh Allah menutupinya, jika ia menutupi perbuatan dirinya.*’

Maka Rasulullah mengarahkan pandangan kepadanya, kemudian berkata: `Kembalikanlah laki laki tadi kepadaku,’ lalu mereka (para sahabat) membawanya kembali ke hadapannya dan beliau membacakan kepadanya

Surat Hud ayat 114 : 

(“Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang [pagi dan petang] dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan [dosa] perbuatan-perbuatan yang buruk.  Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.”
( Surat Hud ayat 114 )

Maka Mu’adz berkata, -riwayat lain mengatakan- Umar ” Wahai Rasulullah, apakah (berita ini – surat Hud 114-) hanya untuknya seorang atau untuk semua manusia?’ (maksudnya ayat ini berlaku hanya khusus untuk pemuda tadi apakah juga untuk orang lain). Maka beliau berkata: ‘Untuk manusia semuanya.’”

Lihatlah bagaimana Allah mengampuni dosa sang pendosa. Dan Rasulullah saw menutupi aib sang pemuda tadi. Meninggalkannya tanpa kata kata. 

Mari kita biasakan menutup aib saudara kita, jangan membongkar aibnya bisa jadi Allah sudah mengampuninya, membersihkannya lalu menutupinya dan ia lebih dicintai Allah kemudian kita membuka aib orang itu, maka akan datang murka Allah, aib atau dosa itu dapat dikembalikan bagi kita yang membongkarnya.

Maka “berpakaianlah” artinya *tutuplah aib orang lain maka Allah akan menutup aib kita dunia dan akhirat*.
😊😊😊😊

Motivasi Ramadhan No 2 

Oleh Ust.Arifin Jayadiningrat |Direktur Islamic Character Development-ICD 

Manusia Bukan Batu


Suatu hari, seseorang datang dan tiba tiba membisikkan kepada saya “Bapak sudah kenal bapak si X ? “. Ini dikarenakan si X terlihat dekat dengan saya. Saya jawab “iya, insya Allah pak  X ia orang baik”. 

Pembisik saya tersenyum sinis seraya berkata “Saya lebih kenal dia pak, saya kan dulu bertahun tahun dengan si X. Itu orang tidak baik.”. Saya langsung meninggalkan pembisik tadi, tidak saya dengarkan dan saya tidak ingin percaya sebab itu mengotori jiwa saya.

Ini gambaran ghibah yang dilarang dalam Islam. Sebagian ulama mengklasifikasikannya ke dalam dosa besar karena membongkar keburukan orang lain. Bukan berhenti dalam dosa ghibah tapi dosa pembisik tadi merasakan lebih baik dari si X. Itulah kesombongan yang menjadi penghalang masuk surga.

Jangan melihat manusia laksana batu artinya “manusia tidak berubah seperti batu”.
 Betul ada analogika dalam Al-Quran bahwa manusia laksana batu, hal ini harus dipahami gambaran kekerasan hatinya bahkan lebih keras dari batu. Kekerasaan hati karena kesombongan merasa benar dan berujung pada menolak kebenaran. 

Kita tidak boleh menilai orang hanya dengan latar belakangnya saja lalu menilai “buruk” dan secara tidak langsung “merasa kita lebih baik dari si X”. 
Ingat 2 hal :

MANUSIA BUKAN BATU, IA BERUBAH

Bisa jadi dulu banyak dosa dan tenggelam dalam kubangan maksiat akan tetapi ia bertaubat merubah lembaran hidupnya. Walaupun jarak antara maksiat dan taubat hitungan menit !!. Ia bisa berubah. 

Bisa saja si X beberapa waktu lalu ia berdosa dan tiba tiba ia bertaubat dan memohon ampunan Allah. Kemudian Allah mengampuninya. Akan tetapi kita menilai si X adalah manusia kotor lebih hina dari kita, sementara Allah sudah memuliakan si X karena sudah kembali ke jalan yang benar. 

Inilah sabda Rasulullah saw setelah menghukum cambuk sang pendosa kepada orang  yang hina dan melaknat si pendosa. 

 “: لا تلعنوه، فو الله ما علمت -أي لقد علمت- أنه يحب الله ورسوله.” 

Janganlah kamu melaknat pendosa itu, maka Demi Allah kamu tidak mengetahui bahwa orang itu mencintai Allah dan Rasul-Nya”. (HR Bukhori) 
 
Inilah sikap kita kepada siapapun harus melihat manusia berubah ia bukan batu. 

Kita juga kenal kisah sang pelacur masuk surga karena memberikan air minum kepada anjing. 

Jangan lihat latar belakang wanita si pelacur dengan kacamata negatif karena ia berubah bisa lebih baik dari diri kita.

Ingat kasus wanita pezina yang taubat setelah dihukum rajam lalu Nabi saw menyolatkannya. Beliau mendoakannya dengan doa bagi orang yang telah meninggal. Lalu Umar berkata kepadanya, ‘Apakah engkau menshalatkannya sedangkan dia telah berbuat zina, wahai Rasulullah?” Sedangkan zina adalah termasuk dosa yang paling besar.

 Maka Rasulullah berkata, “Ia telah bertaubat dengan taubat yang apabila dibagikan kepada 70 penduduk Madinah, niscaya mereka semua akan mendapatkan bagian.” Yakni, taubat yang luas, seandainya dibagikan kepada 70 orang dimana semua mereka berbuat dosa, niscaya mereka akan mendapatkan taubat itu dan bermanfaat untuk mereka. !! 

Dahsyat 😭😭
MANUSIA BUKAN BATU, MANUSIA SELALU BERUBAH

Termasuk diri kita yang kadang merasa sudah  baik merasa paling shalih. Padahal didepan kita ada waktu, nafsu dan syetan yang menjebak diri ini kepada kemaksiatan. 

Hati hatilah dengan kesombongan dalam diri dan menilai orang lain. 
Perhatikan hadits ini :

“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan melihat orang lain lebih rendah dari dirinya“ (HR. Muslim no. 91). 

Marilah kita rubah kacamata melihat siapapun didepan kita katakan didalam hati ini “bisa jadi ia lebih baik dari saya di mata Allah”

Motivasi Ramadhan oleh Ust.Arifin Jayadiningrat Direktur Islamic Character Development-ICD 

%d bloggers like this: