Lagu ‘Indonesia Raya’ dari Anak Pedalaman Mentawai


Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki lebih dari 1500 suku bangsa dan setidaknya memiliki 1027 bahasa. Berbicara tentang keberagaman suku, di Sumatera Barat ada sebuah suku kuno yang menempati Kepulauan Mentawai yang dikenal dengan Suku Mentawai. Suku Mentawai merupakan suku pedalaman yang menghuni pulau-pulau di Mentawai.

Beberapa peneliti berpendapat bahwa Suku Mentawai berasal dari ras polinesia, namun ada juga yang meyakini bahwa suku ini berasal dari ras Proto Malaya alias suku Melayu Tua. Mentawai merupakan kepulauan yang terdiri dari beberapa puluh pulau kecil, dengan empat pulau besar yakni Pulau Siberut, Pulau Pagai Utara, Pagai Selatan, dan Pulau Sipora (Harian Kompas, 2015). Pulau yang terbesar adalah Pulau Siberut. Ibu kota Kabupaten Kepulauan Mentawai berkedudukan di Tuapejat, Pulau Sipora (Gagas, 2013).

Suku Mentawai adalah suku yang unik. Setelah diteliti, ternyata Suku Mentawai adalah suku tertua di Indonesia. Para peneliti meyakini bahwa nenek moyang dari Suku Mentawai sudah mendiami lokasi Kepulauan Mentawai di barat Sumatera ini sejak tahun 500 SM.

Memperingati kemerdekaan Indonesia ke 74 ini, Mentawai yang berada di Pedalaman tetap mencintai negerinya, anak-anak kecil yang bersekolah dengan sederhana pun dengan fasih menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Aksi Peduli Bangsa yang saat ini sedang berjuang membangun daerah pedalaman di Mentawai di salah satu desa paling jauh yaitu dusun Buttui dan sekitarnya. Disana Aksi Peduli Bangsa sudah meletakkan prasasti yang mengingatkan masyarakat pedalaman bahwa negara mereka adalah Indonesia sehingga kejadian seperti di Papua saat ini tidak terjadi di pedalaman lain.

Prasasti Cinta Indonesia di Dusun Buttui pedalaman Mentawai

Dan berikut video dokumenter anak Mentawai yang menyanyikan lagu Indonesia Raya. Yang menyanyikan ini adalah anak anak SD 24 di dusun Buttui, Siberut Selatan, Kepulauan Mentawai.

Terselip Lidah Sebut Kafir, KH. Raden Asnawi Diadili Kolonial Belanda


Seorang ulama dihadapkan ke pengadilan karena menyebut orang yang tidak salat sebagai kafir atau orang gila.

Di Kudus, tinggallah seorang ulama besar yang sangat berpengaruh dan teguh pendiriannya. Ulama tersebut bernama Kiai Haji Raden Asnawi, A’wan Syuriah Nahdlatul Ulama. Pada zaman kolonial Belanda, dia hadapkan ke Pengadilan Negeri (landraad) karena tuduhan melakukan delik penghinaan kepada orang yang tidak salat sebagai orang kafir atau orang gila.

Menurut KH Saifuddin Zuhri dalam memoarnya, Berangkat dari Pesantren, mengingat ulama tersebut sudah berusia lanjut dan sangat berpengaruh dalam masyarakat Kudus, ketua pengadilan secara persuasif meminta terdakwa mencabut kata-katanya dengan alasan tergelincir lidah (slip of the tongue). “Tetapi ajakan itu ditolak mentah-mentah,” kata Menteri Agama era Presiden Sukarno itu.

Kiai Asnawi menegaskan bahwa dirinya sekadar mengatakan apa yang tersebut dalam kitab Fiqih: Falaa tajibu ‘alaa kafirin ashliyyin wa shobiyyin wa majnuunin artinya maka sembahyang itu tidak wajib dikerjakan oleh orang kafir, anak masih bayi, dan orang gila.

“Dengan demikian maka siapa pun yang tidak melakukan sembahyang atau yang merasa dirinya tidak dibebani kewajiban sembahyang, samalah artinya dengan menyamakan dirinya orang gila. Yang menamakan dirinya sama dengan orang gila ialah pengakuannya sendiri berdasarkan bunyi kitab Fiqih, saya sekadar menerangkan bunyi kitab itu,” kata Kiai Asnawi membela diri.

Pengadilan menjatuhkan hukuman denda sebesar 100 gulden. Namun, Kiai Asnawi tidak memiliki uang sebanyak itu. “Kalau tak mampu membayar denda 100 gulden, Pak Kiai mesti masuk penjara sekian hari,” kata ketua pengadilan.

Kiai Asnawi keberatan alasannya masuk penjara bagi orang tua seperti dirinya amat menyusahkan. “Lagi pula bagaimana nasib santri-santri saya? Siapa yang mengajar mereka? Siapa yang mengimami sembahyang?” tanya Kiai Asnawi menebar pandangan ke sekeliling ruang pengadilan. Dia tetap berdiri dibantu tongkat dengan kepala tegak.

Majelis menjadi riuh. Ketua pengadilan menskor persidangan sambil berunding dengan jaksa. “Perundingan sambil berbisik itu diakhiri dengan sang ketua pengadilan merogoh dompet dari kantongnya dan menyerahkan sejumlah uang kepada jaksa,” kata Saifuddin, ayah dari Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.

“Pak Kiai, ini ada uang seratus gulden, harap Pak Kiai membayarkan dendanya,” kata jaksa. Kiai Asnawi pun dibebaskan dengan membayar denda seratus gulden yang berasal dari ketua pengadilan.

Menurut Saifuddin, begitulah gambaran Kiai Asnawi yang juga pernah mengirim surat kepada Hadlratusy Syaikh Hasyim Asy’ari, Rois Akbar NU, dan membuatnya masygul berhubung dengan penggunaan terompet dan genderang oleh Ansor NU dalam baris berbaris.

“Beliau tidak sependapat dengan Hadlaratusy Syaikh yang memperbolehkan terompet dan genderang dalam Ansor NU,” kata Saifuddin.

Meskipun memiliki kharisma yang disegani di kalangan masyarakat, namun Kiai Asnawi tidak luput dari sentimen masyarakat karena tidak mengungsi ketika kota Kudus diduduki Belanda dalam agresi militer kedua pada Desember 1948.

Alasannya, menurut Saifuddin, Kiai Asnawi yang sudah berusia 80 tahun tidak mampu hidup dalam gerilya, dikejar-kejar musuh dan bergerak terus. Selain itu, dia amat berat meninggalkan masjid dan pesantrennya.

“Beliau tetap Republiken, menolak kerja sama dengan Belanda, meskipun tetap tinggal di dalam kota,” tegas Saifuddin.

Sumber:
https://historia.id/agama/articles/sebut-kafir-kiai-diadili-P1Bl2

Keterangan Foto:
Pimpinan Muktamar NU tahun 1958. Kiri-kanan: KH Bisri Syansuri, KH M. Dahlan, KH Abdulwahab Hasbullah, dan KH Raden Asnawi.

Makalah dalam bentuk video bisa disimak di bawah ini.

Mentawai: Dalam Hening Memburu Kebebasan


Di lepas pantai barat Sumatera, warga mentawai berlindung dari hiruk pikuk kota besar. Suku kuno ini pandai meramu, berburu dan piawai dalam menato tubuh. Berpuluh tahun lamanya mereka tertekan beragam pemaksaan.

Ini kata pengantar dari dw.com ketika membuka reportase tentang Kehidupan orang tua di Mentawai, bagaimana mereka hidup dan bertahan dengan tradisi mereka serta sikap pemerintah terhadap orang Mentawai. Selengkapnya bisa dibaca di tautan ini: https://m.dw.com/id/mentawai-dalam-hening-memburu-kebebasan/g-36708625?xtref=https%253A%252F%252Flm.facebook.com%252F

Melihat kehidupan di Mentawai yang lama tidak mendapatkan perhatian pemerintah baik sosial dan pendidikannya sementara kita sudah merdeka 70 tahun lebih, maka Aksi Peduli Bangsa berinisiatif membangun di daerah pedalaman Mentawai dalam sisi sosial dan pendidikannya.

Budaya Mentawai masih di perhatikan dan tidak diusik, bahkan dalam acara Lebaru Peduli Mentawai di lapangan Al-Azhar tahun 2017 lalu pihak aksi peduli Bangsa mengundang orang orang asli Mentawai untuk menunjukkan tarian adat mereka.

Berikut videonya:

Aksi Peduli Bangsa sudah mendirikan sekolah PAUD di Dusun Buttui dan bulan lalu sudah meluluskan anak, dan diacara itu ada persembahan tarian khas Mentawai.

Berikut videonya:

Biar lebih seru, lihat juga penampilan anak anak PAUDnya.

Putra

Putri

Follow dan like ya..

Safari Ramadhan 1439 H Ust Arifin Jayadiningrat di Amerika dan Kanada


Jiwa dan akhlak yang mulia adalah aset yang paling berharga dari setiap manusia, modal utama, dan nilai tertinggi bagi setiap individu. Namun demikian jiwa manusia sering menerima serangan dari berbagai penyakit hati yang mengakibatkan akhlak manusia menjadi buruk, tidak sesuai dengan yang Allah SWT gariskan dan Rasul-Nya contohkan.

Tazkiyatun Nafs pada hakikatnya adalah proses pembersihan jiwa dan hati dari berbagai dosa dan sifat-sifat tercela yang mengotorinya, dan selanjutnya meningkatkan kualitas jiwa dan hati tersebut dengan mengembangkan sifat-sifat terpuji yang diridhai Allah SWT, serta potensi-potensi positifnya dengan mujahadah, ibadah, dan berbagai perbuatan baik lainnya. Sehingga hati dan jiwa menjadi bersih dan baik serta berkwalitas, yang tercermin melalui sifat-sifat dan perilaku yang baik dan terpuji seperti yang telah dicontohkan oleh Baginda Rasullullah Muhammad SAW.

Ust Arifin Jayadiningrat, salah seorang dai, motivator dan founder Islamic Character Development yang konsen dalam pembangunan karakter berbasis Al-Quran dan Hadits mendapatkan undangan untuk menjadi penceramah di Amerika dan Kanada selama bulan Ramadhan ini.

Selain Ust Arifin Jayadiningrat, satu lagi dai yang mendapatkan undangan adalah Ust Dr. Rusli Hasbi, keduanya penceramah umum di Masjid Raya Pondok Indah dan masjid besar lainnya sekitar Jakarta.

Jadwal kajian dan profil Ust Arifin Jayadiningrat dan Ust Rusli Hasbi bisa diunduh di link ini.

Semoga Allah SWT memudahkan dakwah mereka dan menjadi agen Indonesia menyebarkan Islam yang rahmatan lil alamiin di penjuru dunia.
Aamiin allahumma Aamiin.

Sumber: http://indonesianbaitulmaal.org/2018/04/safari-ramadhan-1439h-2018/

YouTube:

Safari Ramadhan Ust Arifin Jayadiningrat di Masjid Istiqlal Houston.

Doa

Booklet

Pencuri Ramadhan

LIPIA Berubah Bentuk Menjadi IIPIA


Bagi santri Pondok Pesantren dan siswa Madrasah Aliyah di Nusantara, pasti mengenal LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab) dikarenakan lembaga ini selalu memberikan beasiswa kepada mahasiswa terbaiknya.

Universitas Muhammad bin su’ud Riyadh yang ada di Indonesia, atau lebih dikenal dengan LIPIA(Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab ) yang berada di Jln. Buncit Raya no. 5A Ragunan Jakarta Selatan ini peminatnya bertambah dari tahun ketahun.

LIPIA didirikan di Jakarta pada tahun Jumada Ula 1400 H (1980) dengan nama Lembaga Pengajaran Bahasa Arab (LPBA) sebagai cabang Universitas Imam Muhammad bin Saud di Riyadh, Arab Saudi. Pada 1406 H / 1986 M, LPBA berubah nama menjadi LIPIA seiring dengan bertambahnya jurusan di lembaga itu.

Dan kini berdasarkan keputusan Pendis Kemenag, lembaga ini berubah bentuk menjadi Institut Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (IIPIA). Perubahan tersebut berdasar atas pengajuan dari Direktur IIPIA dengan mengacu pada Nota Kesepahaman kerjasama Bidang Ilmiah dan Kebudayaan antara pemerintah Arab Saudi dengan pemerintah Republik Indonesia tahun 1981 dan Surat dari Kementerian Agama Tahun 2002.

Konsekuensi perubahan ini, maka kurikulum yang diajarkan oleh IIPIA harus mengakomodir 8 Standar Nasional Pendidikan. Dan yang harus diperhatikan, walaupun didirikan oleh Kerajaan Arab Saudi, IIPIA harus mengajarkan kewarganegaraan yang bertujuan menumbuhkan wawasan dan kesadaran bernegara, sikap dan perilaku yang cinta tanah air dan bersendikan kebudayaan bangsa Indonesia.

Institut Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab ini, menyelenggarakan 2 (dua) Program Diploma II (DII) yaitu; Ekonomi Syari`ah dan Bahasa Arab. Sedangkan untuk Program Sarjana (S1) yaitu Ilmu Syari`ah. Menurut Permen Ristekdikti, Nomor 100 Tahun 2016 Tentang Pendirian, Perubahan, Pembubaran Perguruan Tinggi Negeri, dan Pendirian, Perubahan, Pencabutan Izin Perguruan Tinggi Swasta, Pendirian Institut terdiri atas paling sedikit 6 (enam) Program Studi pada program sarjana. Untuk IIPIA ini ada perlakuan khusus.

Konsekuensi terhadap perubahan bentuk ini, menurut Sesditjen Pendis, kampus harus melaporkan ke Sistem Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PD-DIKTI) selambat-lambatnya 6 (enam) bulan sejak keputusan pemberian ijin dari Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama ditetapkan.

Kabar baik dari perubahan bentuk ini, alumni Lipia bisa lebih mudah mendapatkan ijazah yang diakui negara karena berada di bawah Kemenag. Sejak Januari 2015, Program Studi Sarjana Ilmu Syariah LIPIA Jakarta sudah terakreditasi A oleh BAN-PT.

Sumber:

Website Pendis Kemenag dan sumber lainnya

Khadija School Indonesia – Islamic Secondary School (Boarding for girls)


Assalaamu alaikum warahmatullah wabarakatuh

Kelemahan bangsa Indonesia saat ini harus diselesaikan dengan mempertajam kekuatan yang dimilikinya.

Kekuatan bangsa Indonesia sebagai Bangsa Tercerdas di Dunia, sebagai Negara Terkaya di dunia dan sebagai Bangsa Superpower sejak 11.000 tahun silam harus bisa merubah paradigma bangsa yang selama ini ditanamkan sebagai bangsa yang bodoh, bangsa yang miskin dan bangsa yang terjajah selama 350 tahun.

Insya Allah KHADIJA SCHOOL (KHAS) mewujudkan mimpi anda mencetak generasi ummahatus sholihah dimasa depan dengan bekal hafalan dan kefahaman terhadap Al Quran dan Sunnah, berfikir kritis dan analitis, berjiwa entrepreneurship dan terampil dalam mengolah teknologi digital di era Millenial.

🎯 VISI
Menjadi pusat pembentukan Ummahatus Shaalihah pewaris Ummahatul Mukminin di era millennial

🏹 MISI
Mengembangkan pengetahuan, ketrampilan dan karakter anak didik menjadi:
🌐 ‌Generasi Shalihah dan Hafidzah
🌐‌ Muslimah Entrepreneur
🌐‌ Periset Muslimah inovatif
🌐‌ Cerdas digital.

🌅 TINGKAT PENDIDIKAN
SMP kelas 7, 8 dan 9

🌠 KURIKULUM
Nasional dan Internasional

🎇 BAHASA PENGANTAR
‌Bahasa Inggris
‌Bahasa Arab

🎆 PROGRAM UNGGULAN
💠‌Tahfidz Al-Quran (15 – 30 Juz)
💠‌Pendidikan berbasis Riset
💠‌Digital Smart dan Entrepreneurship

🌌 FASILITAS
🔰 Rekam Perkembangan Individu Harian (24 Jam)
🔰 Atmosfir Alam dan Tempat Tinggal yang nyaman
🔰 Galeri Science

📚 METODE BELAJAR
Holistik dan terintegrasi melalui pendekatan berbasis riset

🎓 KUALIFIKASI PENGAJAR
Lulusan dalam dan luar negeri (Indonesia, Malaysia, Amerika dll)

Terima kasih.
Wassalaamu alaikum warahmatullah wabarakatuh

👤 Pendiri dan Pembina:
✳ Drs. Mustafa Yamin, M. Ed.
(Alumni The Pennsylvania State University, International Education Senior Consultant)
✳ Riana Survianti, Ssi, M Komp (Information System National Consultant)

Narahubung Dan Informasi
WA (Hetty)
0852 1349 7243
0878 8099 2457

🏫 Alamat
Kebun Pak Mandor, Jl. Billabong, Desa Cimanggis, Bojong Gede, Kabupaten Bogor, Indonesia.

Brosur Khadija School (KHAS)

Khadija School Indonesia – Islamic Secondary School (Boarding for girls)- English Language Instruction, International Assessment Standard (Cambridge and IB) located in Bogor – Now is open for registration for a. y. 2019-2020. Find it at https://t.co/siSGJqhYw

Hal 1

Hal 2

Brosur baru

Screenshot_2018-10-09-21-01-22-186_com.facebook.katana

%d bloggers like this: