Hadits dan Ilmu Hadits Menurut Sunnah dan Syiah


Hadits adalah salah satu sumber tasyri‟ dalam Islam. Urgensinya semakin nyata melalui fungsi-fungsi yang dijalankannya sebagai penjelas dan penfasir Al-Qur‟an, bahkan sebagai penetap hukum yang independen sebagaimana al- Qur‟an sendiri. Itulah sebabnya, di kalangan Ahl al-Sunnah, menjadi sangat penting untuk menjaga dan “mengawal” pewarisan al-Sunnah ini dari generasi ke generasi.

Mereka –misalnya- menetapkan berbagai persyaratan yang ketat agar sebuah hadits dapat diterima (dengan derajat shahih ataupun hasan). Setelah meneliti dan membuktikan keabsahan sebuah hadits secara sanad, mereka tidak cukup berhenti hingga di situ. Mereka pun merasa perlu untuk mengkaji matannya; hingga mereka dapat menyimpulkan dan mendapatkan hadits sebagai hujjah.

Di samping Ahl al-Sunnah –sebagai salah satu kelompok Islam terbesar-, ternyata Syiah –sebagai salah satu kelompok Syiah terbesar- juga memiliki perhatian khusus terhadap al-Sunnah. Namun mereka memiliki jalur sanad dan sumber khusus dalam menerima al-Sunnah yang berbeda dengan sanad dan sumber Ahl al-Sunnah. Oleh karena itu, menjadi menarik untuk mengetahui lebih jauh tentang perbandingan hadits, ilmu hadits dan metodologi antara Ahl Sunnah dan Syiah dalam melakukan kritik hadits. Dan secara singkat akan dibahas dalam tulisan ini.

PDF

Membantu Istri


Membantu pekerjaan istri di rumah adalah salah satu sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, disamping merupakan jalan mengekalkan rasa cinta dan kasih sayang. Dia bukan aib apalagi sampai merubuhkan marwah seorang lelaki.

Masih dalam suasana Maulid, pantas sekali jika kita kembali meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW terutama dalam hubungan berkeluarga.

Sebagai pengingat bagi kita, kaum bapak, seorang Tabi’in bernama Al Aswad rahimahullah berkata:

سَأَلْتُ عَائِشَةَ مَا كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَصْنَعُ فِي بَيْتِهِ قَالَتْ كَانَ يَكُونُ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ – تَعْنِي خِدْمَةَ أَهْلِهِ – فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ خَرَجَ إِلَى الصَّلاَة

“Aku pernah bertanya kepada Aisyah, apa yang dikerjakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di rumahnya? Aisyah menjawab: “Beliau membantu pekerjaan istrinya, maka apabila masuk waktu sholat, beliau keluar untuk sholat.” (HR. Al Bukhari).

Pengingat ini Saya khususkan untuk diri pribadi yang masih berkeras hati enggan membantu istri, masih berfikir kalau tugas saya banyak, tidak ada waktu membantu istri.

Namun, ketika saya merubah persepsi dengan semangat meneladani Nabi Muhammad, muncul suasana baru dalam keluarga, kami lebih saling mencintai dan keluarga menjadi harmonis.

Efek seperti ini pernah disampaikan oleh Syaikh Muhammad bin Salih Al Utsaimin rahimahullah yang berkata:

الإنسان إذا كان في بيته فمن السنة أن يصنع الشاي مثلاً لنفسه ويطبخ إذا كان يعرف ويغسل ما يحتاج إلى غسله كل هذا من السنة أنت إذا فعلت ذلك تثاب عليه ثواب سنة اقتداء بالرسول عليه الصلاة والسلام وتواضعاً لله عزّ وجل ولأن هذا يوجد المحبة بينك وبين أهلك إذا شعر أهلك أنك تساعدهم في مهنتهم أحبوك وازدادت قيمتك عندهم فيكون في هذا مصلحة كبيرة

“Apabila seseorang berada di rumahnya, maka termasuk sunnah ia membuat teh sendiri, memasak sendiri jika ia bisa memasak, mencuci sendiri yang perlu dicuci, semua ini termasuk sunnah. Jika engkau melakukannya dalam rangka meneladani Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan tawadhu’ kepada Allah Ta’ala, engkau akan mendapatkan pahala mengamalkan sunnah. Juga karena hal ini akan menguatkan rasa cinta antara dirimu dan keluargamu. Jika mereka merasakan bahwa engkau selalu membantu mereka dalam menyelesaikan pekerjaan, maka mereka akan mencintaimu dan bertambah kedudukanmu di sisi mereka, sehingga padanya ada maslahat yang besar.” (Ibnu Utsaimin, Syarh Riyadh Al Shalihin, 3/529).

Selanjutnya, penting juga kami sampaikan larangan Nabi SAW untuk saling berdiam diri antara sesama Muslim termasuk kepada istri.

Dalam sebuah Hadits Nabi SAW bersabda:

عَنْ أَبِي أَيُّوبَ الْأَنْصَارِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَحِلُّ لِرَجُلٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ لَيَالٍ يَلْتَقِيَانِ فَيُعْرِضُ هَذَا وَيُعْرِضُ هَذَا وَخَيْرُهُمَا الَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلَامِ (رواه البخاري)

Dari Abu Ayyub Al-Anshari ra berkata, bahwa Rasulullah saw bersabda: “Tidak halal bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya melebihi dari tiga malam; yang (jika bertemu) saling berpaling antara yang satu dengan yang lainnya. Dan sebaik-baik dari keduanya adalah yang terlebih dahulu memulai mengucapkan salam.” (HR. Bukhari)

Ego yang terlalu dipaksakan dan tidak ada keinginan dari kedua belah pihak untuk mengalah pada akhirnya hanya menyisakan kesia siaan dan kehancuran.

Hubungan pertemanan, hubungan keluarga bisa berantakan karena masing-masing lebih banyak mengingat dan memikirkan kesalahan orang lain. Mereka kerap mengabaikan dan melupakan kebaikan atau keistimewaan yang dimiliki orang lain. Ketika seseorang melakukan kesalahan kecil, sering menutupi semua kebaikan yang pernah dilakukannya.

Dale Carnegie menjelaskan akibat buruk dari mengabaikan hal hal sepele, “Persoalan persoalan sepele dalam kehidupan rumah tangga dapat merampas akal sehat suami istri dan melahirkan separuh penyakit hati yang ada di dunia ini”.

Kesimpulan ini dikuatkan oleh Joseph Sabbath, seorang hakim di pengadilan Chicago yang telah menangani lebih dari 40 ribu kasus perceraian. Joseph berkata, “Anda akan mendapati bahwa perosalan sepele selalu menjadi aktor utama dibalik terjadinya konflik suami istri”.

Frank Hogan, anggota Parlemen di New York juga berkata, “Separuh dari kasus tindak pidana disebabkan oleh soal soal sepele, seperti cekcok antara anggota keluarga, penghinaan, kata-kata kasar atau isyarat melecehkan. Persoalan sepele itulah yang memicu terjadinya pembunuhan dan tindak kriminalitas lain. Mungkin di antara kita hanya sedikit yang memiliki watak keras dan pemarah. Namun, kemarahan besar sering kali disebabkan oleh serangan kecil pada identitas, kehormatan, dan kemuliaan diri kita. Pemantik yang kecil itu telah melahirkan separuh masalah dunia”.

Kesia siaan dari ego dan nafsu fujur yang diagungkan digambarkan di video pendek berikut.

Sumber: Jadid Hayaatak Syaikh Muhammad Al-Ghazali.

Berapa Harga Tubuh Anda?


Diriwayatkan dari Jabir bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda, “Teman karibku, Jibril, baru saja datang kepadaku dan berkata, ‘Hai Muhammad, demi Dia yang mengutusmu sebagai nabi, sesungguhnya Allaj punya seorang hamba yang beribadah kepada-Nya selama 500 tahun.

Ia hidup di puncak sebuah bukit yang lebar dan panjangnya 30 hasta, dikelilingi lautan seluas 4000 farsakh. Allah mengeluarkan mata air dari di puncak bukit itu sebesar jari; airnya sangat segar dan mengalir sedikit demi sedikit hingga menggenang di kaki gunung. Allah juga menumbuhkan pohon delima yang setiap malamnya memberikan sebutir delima matang.

Bila sore tiba, si hamba turun ke bawah, berwudhu sambil memetik biah delima matang untuk dimakan. Setelah itu, ia mendirikan shalat. Ia memohon kepada Allah agar diwafatkan dalam keadaan bersujud dan agar jasadnya tidak dirusak oleh tanah atau selainnya sehingga ia nanti dibangkitkan dalam keadaan bersujud juga.

Demikianlah, setiap kali kami (jibril) lewat dihadapannya, baik saat kami menuruni maupun menaiki gunung, kami mendapatinya selalu bersujud. Kami tahu, pada hari kiamat ia akan dihadapkan pada Allah dalam keadaan bersujud.

Di hari akhirat nanti Allah SWT menyuruh malaikat: “Masukkanlah hambaku itu ke dalam syurga dengan limpah rahmat-Ku:” Maka berkata orang itu:”Dengan disebabkan amalku?” Maka Allah SWT. menyuruh malaikat menghitung semua amalnya dengan nikmat yang Allah SWT berikan. Apabila penghitungan dibuat maka amal yang dibuat oleh orang itu selama 500 tahun itu telah habis apabila ditimbang dengan sebelah mata, yakni nikmat pengelihatan yang Allah SWT. berikan padanya, sedangkan nikmat-nikmat lain belum ditimbang.

Maka Allah SWT. berfirman: “Masukkan ia kedalam neraka”. Apabila ia ditarik ke neraka maka ia pun berkata:”Ya Allah, masukkanlah aku ke dalam syurga dengan rahmat-Mu.” Lalu Allah SWT. berfirman kepada malaikat:”Bawakan ia ke mari”.

Kemudian Allah SWT bertanya orang itu: “Siapakah yang menjadikan kamu daripada tidak ada” Lalu orang itu menjawab:”Engkau ya Allah”. Kemudian Allah SWT. bertanya lagi:”Apakah itu kerana amalmu atau rahmat-Ku?”. Jawab orang itu:”Ya Allah, dengan rahmat-Mu.” Allah SWT. bertanya lagi:”Siapakah yang memberikan kekuatan sehingga 500 tahun kamu beribadah?”. Jawab orang itu:”Engkau ya Allah”.

Allah SWT. bertanya lagi:”Siapakah yang menempatkan kamu diatas bukit yang di tengah-tengah lautan, dan siapakah yang mengeluarkan air tawar yang bersih dari tengah-tengah lautan yang airnya sangat masin dan siapakah yang menumbuhkan sebuah pohon delima yang mengeluarkan sebiji delima setiap hari, padahal buah itu hanya berbuah setahun sekali lalu kamu meminta supaya aku matikan kamu dalam sujud, jadi siapakah yang membuat semua itu?” Lalu orang itu berkata:”Ya Allah, ya Tuhanku Engkaulah yang melakukanya.”

Allah SWT berfirman: “Maka semua itu adalah dengan rahmat-Ku dan kini Aku masukkan kamu ke dalam syurga juga adalah dengan rahmat-Ku.” Malaikat Jibril berkata:”Segala sesuatu itu terjadi hanya dengan rahmat Allah SWT”.

Beberapa faidah dari hadits di atas.

  • Hadits ini mengisyaratkan betapa besar dan agungnya nikmat Allah Swt yang sering kita lupakan.
  • Ada sebagian orang yang mengatakab bahwa surga dan neraka tidak dipengaruhi perhitungan amal, tetapi ditentukan oleh rahmat Allah Swt. Mereka beranggapan, meskipun melakukan kesalahan dan dosa, bisa saja masuk surga karena rahmat Allah. Bagaimana caranya orang yang tidak berjuang bisa mendapatkan surga?
  • Maksiat kepada Allah tidak akan mendatangkan rahmat Allah dan ridha-Nya. Hanya amal shaleh yang bisa mendekatkan hamba kepada kasih sayang dan ampunan Allah. Dan termasuk amal shaleh adalah memahami keagungan nikmat yang telah diberikan dan tidak mengabaikan hakikat dan haknya.
  • Seandainya Allah Swt memperhitungkan semua nikmat yang kita rasakan dan meminta kita membayarnya dengan sepadan, pasti kita tidak akan mampu.
  • Betapa mahalnya harga kesehatan dan kelengkapan tubuh, betapa lezatnya buah buahan seandainya kita menghargainya dan tidak meremehkan nilainya. Islam ingin kita merenungkan secara seksama keindahan nikmat yang mengelilingi kita dan mengambil manfaat darinya.
  • Anjuran mensyukuri nikmat dan membalas kebaikan dengan amal shalih. Rasulullah saw bersabda, “Demi zat yang menggenggam jiwaku, pada hari kiamat kelak seorang hamba akan didatangkan dengan amal shalih yang jika diletaklan di atas gunung, maka amal itu akan memberatkannya. Lalu bangkitlah salah satu nikmat Allah yang diberikan kepadanya, maka hampir saja satu nikmat itu menghabiskan semua amal shalihnya bila saja Allah tidak menganugerahkan rahmat kepadanya”. (HR. Almundziri).
  • Nikmat Allah yang diketahui manusia dan seluruh makhluk dibandingkan dengan nikmat Allah yang tidak mereka ketahui terbilang sangat sedikit dibandingkan dengan tetesan air laut. Allah Swt berfirman, “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya“.
  • Buah dari berpikir tentang nikmat dan karunia Allah Swt. 1. Cinta kepada Allah. Manusia itu mencintai orang yang berbuat baik kepadanya, mengasihi dan menyayanginya, maka ia pun berbuat baik kepada Allah lewat nikmat dan kebaikan yang sudah diberikan. 2. Melaksanakan kewajiban bersyukur kepada Allah atas nikmat Allah yang besar. 3. Merendahkan diri dan menyadari kelalaian dalam menunaikan kewajiban dan dalam bersyukur kepada-Nya. 4. Menjaga nikmat yang ada dan menjauhi dari kufur nikmat.

Sumber:

Jaddid Hayaatak, Syaikh Muhamad Al-Ghazali

Tidakkah kalian Berfikir?, Syaikh Abdul Aziz bin Nashir Al-Jalil

Jangan Mudah Menuduh Orang Lain Tidak Sesuai Sunah Nabi



Renungan sebuah peristiwa.

(( كَانَ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ يَؤُمُّهُمْ فِي مَسْجِدِ قُبَاءَ فَكَانَ كُلَّمَا افْتَتَحَ سُورَةً يَقْرَأُ لَهُمْ فِي الصَّلَاةِ فَقَرَأَ بِهَا افْتَتَحَ بِقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ حَتَّى يَفْرُغَ مِنْهَا ثُمَّ يَقْرَأُ بِسُورَةٍ أُخْرَى مَعَهَا وَكَانَ يَصْنَعُ ذَلِكَ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ فَكَلَّمَهُ أَصْحَابُهُ فَقَالُوا: إِنَّكَ تَقْرَأُ بِهَذِهِ السُّورَةِ ثُمَّ لَا تَرَى أَنَّهَا تُجْزِئُكَ حَتَّى تَقْرَأَ بِسُورَةٍ أُخْرَى فَإِمَّا أَنْ تَقْرَأَ بِهَا وَإِمَّا أَنْ تَدَعَهَا وَتَقْرَأَ بِسُورَةٍ أُخْرَى، قَالَ: مَا أَنَا بِتَارِكِهَا إِنْ أَحْبَبْتُمْ أَنْ أَؤُمَّكُمْ بِهَا فَعَلْتُ وَإِنْ كَرِهْتُمْ تَرَكْتُكُمْ وَكَانُوا يَرَوْنَهُ أَفْضَلَهُمْ وَكَرِهُوا أَنْ يَؤُمَّهُمْ غَيْرُهُ فَلَمَّا أَتَاهُمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبَرُوهُ الْخَبَرَ فَقَالَ: يَا فُلَانُ مَا يَمْنَعُكَ مِمَّا يَأْمُرُ بِهِ أَصْحَابُكَ وَمَا يَحْمِلُكَ أَنْ تَقْرَأَ هَذِهِ السُّورَةَ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أُحِبُّهَا، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ حُبَّهَا أَدْخَلَكَ الْجَنَّةَ. قَالَ أَبُو عِيسَى: هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ صَحِيحٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ مِنْ حَدِيثِ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ عَنْ ثَابِتٍ وَرَوَى مُبَارَكُ بْنُ فَضَالَةَ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَجُلاً قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أُحِبُّ هَذِهِ السُّورَةَ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ، فَقَالَ: إِنَّ حُبَّكَ إِيَّاهَا يُدْخِلُكَ الْجَنَّةَ ))

[الترمذي عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِك]

حديث عائشة ـ رضي الله عنها ـ في صحيح ابن حبان دون ذكر لفظ (صفة)، ولفظه: عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ رَجُلًا عَلَى سَرِيَّةٍ، فَكَانَ يَقْرَأُ لِأَصْحَابِهِ فِي صَلَاتِهِمْ {قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ} ، فَلَمَّا رَجَعُوا ذَكَرُوا ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: ” سَلُوهُ لِأَيِّ شَيْءٍ صَنَعَ هَذَا “؟ فَسَأَلُوهُ، فَقَالَ: أَنَا أُحِبُّ أَنْ أَقْرَأَهَا، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” أَخْبِرُوهُ أَنَّ اللَّهَ يُحِبُّهُ.

Terjamahan👆kejadian pada masa Nabi Muhammad SAW. 

Diriwayatkan dari Anas bin Malik ada seseorang dari kalangan Al Anshor menjadi imam di Masjid Quba.

Setiap kali menjadi imam bagi kalangan Al Anshar, selalu memulai baca surat al Ikhlas ( setelah Al Fatihah).

Setelah itu barulah membaca surat lainnya. Dan imam ini selalu mengerjakan hal tersebut setiap rakaat.

Maka para sahabatnya mengingatkannya dengan berkata,  “sesungguhnya engkau membaca surat Al Ikhlas lalu kamu  melihat bahwa surat Al Ikhlas menjadi pahala dilanjutkan dengan surat lainnya. 

Maka baca dengan surat Al Ikhlas atau kamu tinggalkan surat Al Ikhlas langsung kamu baca surat yang lainnya.

(ini permintaan para sahabatnya karena Nabi tidak mencontohkan shalat seperti ini).

Imam itu menjawab, “sekali kali aku tidak akan meninggalkannya, kalau kalian masih suka aku jadi imam maka aku jadi imam. Tetapi bila kalian tidak suka aku jadi imam, ya saya akan tinggalkan kalian, ( tidak lagi jadi imam). 

Sementara kawan kawan al Anshar melihat orang ini adalah yang terbaik diantara mereka, dan belum ada cocok selainnya untuk menjadi imam.

Disaat Nabi datang kepada mereka, merekapun melaporkan apa yang terjadi ( karena Nabi belum mencontohkan sholat seperti imam mereka). 

Lalu dipanggil imam tersebut dan ditanya Nabi, “Wahai Fulan!  Faktor apa yang menahan kamu untuk tidak menjalankan perintah permintaan kawan kawanmu ( meninggalkan bacaan surat Al Ikhlas setiap rakaat). 

Dan apa penyebab menjadikan kamu selalu membaca surat al Ikhlas setiap rakaat  ?”.

Orang ini menjawab pertanyaan Nabi, “Wahai Rasulullah sesungguhnya aku sangat mencintai surat Al Ikhlas.”
Lalu Nabi bersabda “Sesungguhnya cinta terhadap surat Al-Ikhlas penyebab kamu masuk sorga”. (HR At Tirmidzi). 

🌸🌸🌸

Riwayat yang lain kisah dari Aisyah, RA dari riwayat Ibn Hibban,

Rasulullah sallaAllahu alaihi wa salam, mengutus seseorang dalam peperangan. 

Dan ia setiap menjadi imam, dalam sholat sholat, yaitu  selalu membaca surat al Ikhlas. Saat kembali ke Madinah mereka menceritakan kepada Nabi saw, lalu belliau berkata “tanyalah kalian kepada imam ini “.
Ia menjawab karena ia sangat mencintai surat al Ikhlas.

Lalu Nabi mengatakan “beritahukan kepadanya bahwa Allah mencintainya”.

💗💗💗🌸🌸🌸👆❤❤❤❤❤❤❤❤

Coba renungkan kasus diatas. Bila terjadi zaman sekarang pasti dianggap bidah dan tidak ikuti sunnah. 

Maka jangan mudah menuduh orang lain sesat hanya karena tidak dicontohkan Nabi  lalu menepuk dada “kami yang sesuai sunah Nabi”.

Padahal orang yang dianggap sesat ternyata mereka punya dalil, yang mengandung pemahaman berbeda. Bisa jadi justru lebih dicintai Allah!. 

Sudah saatnya menghormati perbedaan dalam soal furu’. Saling mencintai dan saling menghargai.
Jangan merasa paling benar dan paling suci atau paling sesuai dengan sunah Nabi. !!.

((أَنَّ رَجُلاً سَمِعَ رَجُلاً يَقْرَأُ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ يُرَدِّدُهَا فَلَمَّا أَصْبَحَ جَاءَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ وَكَأَنَّ الرَّجُلَ يَتَقَالُّهَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّهَا لَتَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ))

[البخاري عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ]

Riwayat lainnya : Hadist Riwayat Bukhori dari Abu Saad al Khudzri bahwa ada seorang mendengar selalu membaca surat Al Ikhlas diulang ulang.

 Maka pada keesokan paginya ia datangi Rasulullah saw dan menceritakan hal itu seakan akan mengatakan yang sama (mempraktekan apa yang ia dengar ). 

Rasulullah bersabda “Demi jiwaku yang didalam tanganNya sesungguhnya surat al Ikhlas sama dengan 1/3 Al Quran.” 

Mari hormati perbedaan pendapat. Jangan nuding nuding semua perbuatan bidah, sesat dan neraka! .

Selama ada dasar dalil maka jangan memaksakan pendapat diri sendiri terhadap orang lain. Intinya jangan merasa paling benar sendiri !!


Oleh: Islamic Character Development-ICD 

Adab Pelajar Ilmu Hadits


Adab Pelajar Ilmu HaditsAdab Thalibul Hadits min “al-Jami’” Lil Khatib, buku ini mengambil inti sari serta pilihan-pilihan yang diambl dari kitab al-Jami; li Akhaqir Rawi yang dikarang oleh Khatib al-Baghdadi, pengarang buku ini adaah Syaikh Bakar bin Abdulah Abu Zaid, salah satu ulama yang memiliki perhatian yang intens terhdap hadits dan ilmu hadits. Dan beberapa terjemahan dari buku ini saya hadirkan kepada pembaca, khususnya bagi para penuntut ilmu di pesantren agar nasihat dan tips belajar dalam buku ini bisa bermanfaat. Continue reading

Sejarah Penulisan Hadits Pada Masa Nabi Saw


penulisan hadits

Pada masa Rasulullah SAW masih hidup hadits belum mendapat pelayanan dan perhatian sepenuhnya seperti al-Quran. Para sahabat, terutama yang mempunyai tugas istimewa, selalu mencurahkan tenaga dan waktunya untuk mengabadikan ayat-ayat Alquran di atas alat-alat yang mungin dapat dipergunakannya. Tetapi, tidak demikian halnya terhadap hadits. Kendatipun para sahabat sangat memerlukan petunjuk-petunjuk dan bimbingan Nabi SAW dalam menafsirkan dan melaksanakan ketentuan-ketentuan di dalam al-Quran. Continue reading

Metodologi Kritik Hadits Dalam Pandangan Syiah Imamiyah


PENDAHULUAN

Al-Sunnah adalah salah satu sumber tasyri’ penting dalam Islam. Urgensinya semakin nyata melalui fungsi-fungsi yang dijalankannya sebagai penjelas dan penfasir al-Qur’an, bahkan juga sebagai penetap hukum yang independen sebagaimana al-Qur’an sendiri. Itulah sebabnya, di kalangan Ahl al-Sunnah, menjadi sangat penting untuk menjaga dan “mengawal” pewarisan al-Sunnah ini dari generasi ke generasi. Mereka –misalnya- menetapkan berbagai persyaratan yang ketat agar sebuah hadits dapat diterima (dengan derajat shahih ataupun hasan). Setelah meneliti dan membuktikan keabsahan sebuah hadits secara sanad, mereka tidak cukup berhenti hingga di situ. Mereka pun merasa perlu untuk mengkaji matannya; apakah ia tidak syadz atau mansukh –misalnya-. Demikianlah seterusnya, hingga mereka dapat menyimpulkan dan mendapatkan hadits yang dapat dijadikan sebagai hujjah. Continue reading

%d bloggers like this: