• Selamat datang di blog Jumal Ahmad. Saya sedang meneliti tentang Meta-Level Reflection dalam Pembangunan Karakter. Semoga dimudahkan dan bermanfaat.

  • Categories

Doa Agar Dimudahkan Menghadapi Soal-Soal Ujian


Minggu ini masanya adik-adik kita mengadapi ujian atau ulangan. Berbagai persiapan dilakukan, mulai dari cara-cara sportif seprti mengulang-ngulang pelajaran, ikut bimbingan belajar, belajar kelompok dan lain-lain.

Sampai cara-cara curang sperti mencari bocoran soal, membeli kunci jawaban, atau membuat contekan. Padahal Nabi kita pernah bersabda “Siapa yg curang, maka dia bukan golongan kami “ (HR. Muslim)

Tak hanya itu, ada juga yang rela menggadaikan agamanya dengan mendatangi dukun atau paranormal. Seakan mereka lupa sabda Nabi yang mngatakan: “Barangsiapa yg mendatangi peramal, menanyakan kepadanya sesuatu, lalu mempercayainya, shalatnya tidak akan diterima 40 hari lamanya.” (HR. Muslim).

Begitulah.. Beragam cara dilakukan demi meraih IJAZAH KELULUSAN yang katanya sebagai syarat KESUKSESAN.

Namun apa artinya sebuah kelulusan tanpa keberkahan.? Apa artinya kelulusan dunia bila harus menggadaikan kelulusan akhirat.? Apa artinya kesuksesan bila dibangun diatas pondasi kecurangan.?

Adik-adik ku sekalian.. Di saat-saat seperti ini yang kalian butuhkan adalah mendekat kepada Allah. Mohonlah taufiq pada-Nya agar Dia memberi kemudahan padamu saat mengisi lembaran jawaban nanti.

Jangan bertumpu pda kemampuan diri sndiri, sebab sekuat & secerdas apapun kita, kita tetap lemah tanpa bantuan & taufiq dari Allah. Selalu tanamkan keyakinan dalam diri kalian bahwa Allah Ta’ala pasti akan menolong hamba-hambaNya yang mau berusaha dan menyerahkan segala hasilnya kepada Allah semata, bukan kepada mantra, jampi-jampi, air sakti, dukun, atau azimat-azimat.

 

Bila nanti engkau dihadapkan pada suatu kesulitan, maka ucapkanlah doa ini:

اللَّهُمَّ لاَ سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ سَهْلاً وَأَنْتَ تَجْعَلُ الحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلاً

Artinya: “Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali yang Engkau buat mudah. Dan engkau mnjadikan kesedihan (kesulitan), jika Engkau kehendaki pasti akan menjadi mudah”

Atau doa ini:

رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

“Rabbi zidnii ‘ilmaa.”
“Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” (QS Thaahaa : 114)

Atau doa ini yang dibaca Ibnu Taimiyah ketika sulit dalam belajar.

يا مُعَلِّم آدم وإبراهيم عَلِّمني

“Wahai Dzat yang telah mengajarkan Adam dan Ibrahim, ajarkanlah aku”.

Doa ini sesuai dengan riwayat dari Muadz bin Jabal yang menyebutkan:

مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ لِمَالِكِ بْنِ يَخَامِرَ السَّكْسَكِيِّ عِنْدَ مَوْتِهِ ، وَقَدْ رَآهُ يَبْكِي ، فَقَالَ : وَاَللَّهِ مَا أَبْكِي عَلَى دُنْيَا كُنْتُ أُصِيبُهَا مِنْكَ ، وَلَكِنْ أَبْكِي عَلَى الْعِلْمِ وَالْإِيمَانِ اللَّذَيْنِ كُنْتُ أَتَعَلَّمُهُمَا مِنْكَ ، فَقَالَ مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : إنَّ الْعِلْمَ وَالْإِيمَانَ مَكَانَهُمَا ، مَنْ ابْتَغَاهُمَا وَجَدَهُمَا ، اُطْلُبْ الْعِلْمَ عِنْدَ أَرْبَعَةٍ : عِنْدَ عُوَيْمِرٍ أَبِي الدَّرْدَاءِ ، وَعِنْدَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ ، وَأَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ ، وَذَكَرَ الرَّابِعَ ، فَإِنْ عَجَزَ عَنْهُ هَؤُلَاءِ فَسَائِرُ أَهْلِ الْأَرْضِ عَنْهُ أَعْجَزُ ، فَعَلَيْكَ بِمُعَلِّمِ إبْرَاهِيمَ صَلَوَاتُ اللَّهِ عَلَي

Dalam kitab I’lamul Mauqi’in Ibnu Qayyim menceritakan gurunya Ibnu Taimiyah mempraktikkan doa tersebut agar diberikan kefahaman dalam agama. Beliau datangi masjid-masji di daerah beliau dan bersujud di atas tanah sambil memohon doa:

 يا مُعَلِّم إبراهيم فَهِّمْنِي  (yaa muallimu Ibraahiim fahhimnii)

Jika anda ingin agar tidak selalu lupa pelajaran atau materi yang disampaikan guru, bacalah:

اَللَّهُمَّ افْتَحْ عَلَيَّ فُتُوْحَ الْعَارِفِيْنَ بِحِكْمَتِكَ وَانْشُرْ عَلَيَّ رَحْمَتَكَ وَذَكِّرْنِيْ مَانَسِيْتُ يَاذَا الْجَلَالِ وَالْاِكْرَامِ.

Allahummaftah alayya futuuhal aarifiin bihikmatika wanshur alayya rahmataka wa dzakkirnii maa nasiitu yaa dzal jalaali wal ikraam

Doa agar dimudahkan dalam menghafal:

قَوْلُهُ تَعَالَى:فَفَهَّمْنَا سُلَيْمَان وَكُلًّا آتَيْنَا حُكْمًا وَعِلْمًا وَسَخَّرْنَا مَعَ دَاوُوْدَ الْجِبَالَ يُسَبِّحْنَ وَالطَّيْرَ وَكُنَّا فَاعِلِيْنَ. اَللَّهُمَّ لَاسَهْلَ اِلَّا مَاجَعَلْتَهُ سَهْلًا وَاَنْتَ تَجْعَلُ الصُّعْبَ سَهْلًا.

qaulutuhu taala: fafahhamnaa Sulaimaan wa kullan aatainaa hukman wa ilman wa sakkharnaa wa Dawudal jibaal waththaira wa kunnaa faa’iliin. Allahumma laa sahla ilaa wa ja’altahu sahla wa anta taj’alus su’ba sahla.

اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا بِالقُرْانِ الْعَظِيْمِ وَانْفَعْنَا بِمَا فِيْهِ مِنَ الْايَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ اَللَّهُمَّ عَلِّمْنَا مِنَ الْقُرْانِ مَا جَهِلْنَاهُ وَذَكِّرْنَا مَانَسِيْنَاهُ وَارْزُقْنَا تِلَاوَتَهُ وَالْعَمَلُ بِهِ

Allahumma baarik lanaa bilquraanil ‘adziim wanfa’naa bimaa fiihi minal aayaati wadzzikril hakiim ‘allimnaa minal quraani maa jahilnaahu wa dzakkirnaa maa nasiinaahu warzuqnaa tilaawatahu wal ‘amalu bihi.

Selamat belajar & yakinilah pertolongan Allah. Semoga adik-adik sukses ujian dan lulus dengan prestasi yg memuaskan. Amiin..

Doa Perlindungan Saat Angin Bertiup Kencang


Postingan sebelumnya kami menyampaikan doa dari Nabi Muhamad SAW ketika hujan turun dengan deras atau ketika banjir. Namun cuaca hari ini dan beberapa hari ke depan nampaknya akan lebih ekstrem. BMKG menyebutkan wilayah Jakarta dan Jawa Barat harus siaga terhadap cuaca berupa hujan dengan intensitas sedang sampai dengan lebat yang disertai angin kencang.

Maka kami mencoba menambahkan doa perlindungan ketika angin kencang mulai muncul. Dan kami menegaskan bahwa angin bertiup demikian dengan ketentuan Allah SWT maka kita meminta Perlindungan hanya kepada Allah dengan mengucapkan zikir dan doa seperti yang diajarkan Nabi SAW.

Beberapa masyarakat kita yang awam, masih ada yang percaya dengan ilmu ghaib yang bisa meredakan badai, dan dalam tata caranya menggunakan cara yang tidak syar’i seperti dengan menulis permulaan surat dalam Al Qur’an pada pecahan genting atau pecahan papan atau pada batu. Kemudian lemparkan ke arah ombak yang menggunung, maka badai akan reda.

Hal ini tidaklah benar, cukuplah kita menggunakan doa dan dzikir yang diajarkan Nabi Muhammad SAW berikut:

Dari Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, ia berkata: Adalah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam apabila angin bertiup kencang beliau berdoa,

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا فِيهَا وَخَيْرَ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا فِيهَا وَشَرِّ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ

Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikan angin ini dan kebaikan yang ada padanya dan kebaikan yang dibawanya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan angin ini, keburukan yang ada padanya dan keburukan yang dibawanya.(HR. Muslim, no. 2122)

Dari Ubai bin Ka’ab dengan redaksi lain. Rasulullah SAW bersabda: janganlah kalian mencaci angin. Lalu apabila engkau melihat yang tidak menyenangkan, maka berdoalah:

اللَّهُمَّ إِنِّا نَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ هَذِهِ الرِّيْحَ وَخَيْرِ مَا فِيْهَا وَخَيْرِ مَا أُمِرَتْ بِهِ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ هَذِهِ الرِّيْحَ وَشَرِّ مَا فِيْهَا وَشَرِّ مَا أُمِرَتْ بِهِ

Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu kebaikan angin ini dan kebaikan yang ada padanya dan kebaikan yang dibawanya. Dan kami berlindung kepada-Mu dari keburukan angin ini, keburukan yang ada padanya dan keburukan yang dibawanya.(HR. Al-Tirmidzi)

Terima kasih.

Doa Ketika Banjir dan Hujan Deras


Tiga hari terus menerus kota Jakarta diliputi hujan lebat, hampir jarang sang matahari menampakkan sinarnya. Dalam keadaan seperti ini manusia sering panik dan menyalahkan alam dan kondisi banjir.

Hujan adalah nikmat dan anugerah yang diturunkan Allah swt. Turunnya hujan memberikan kehidupan bagi manusia, hewan dan tumbuhan, jika hujan tidak turun akan menghancurkan kehidupan.

Islam telah mengajarkan kepada kita bentuk bentuk doa ketika ada hujan, setelah hujan dan doa ketika ada hujan lebat atau banjir.

Doa Ketika Ada Hujan
Dari Aisyah ra bahwa Rasulullah saw jika turun hujan berdoa:

” اللهم صيـباً نافعاً ”

ALLAHUMMA SHAYYIBAN NAAFI’AN

“Ya Allah jadikanlah hujan ini bermanfaat” (HR Bukhari)
Dalam riwayat Muslim disunnahkan juga menyebut hujan dengan ‘Rahmat‘.
Dari Aisyah ra bahwa Nabi saw ketika turun hujan mengatakan:

“رحمة ”

“RAHMAT” (HR Muslim)

Membaca doa ini semoga bisa menghindarkan bahaya bagi orang lain menjadi manfaat dan rahmat, selain pahala sunnah yang didapat dari membaca doa ini.

Doa Setelah Turun Hujan

Dari Zaid bin Khalid Al-Juhni ra berkata: Rasulullah saw shalat subuh bersama kami di Hudaibiyah ketika akhir malam dan turun hujan, setelah selesai Beliau menemui manusia dan mengatakan, “Apakah kalian tahu apa yang telah difirmankan Tuhan kalian?” Mereka para Sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui”. Nabi bersabda: “Ada segolongan dari hamba-Ku yang beriman kepada-Ku dan melakukan kekafiran. Adapun orang yang mengatakan:

مُطِرنا بفضل الله ورحمته

MUTHIRNAA BI FADHLILLAHI WA RAHMATIHI

‘telah turun hujan karena keutamaan dan rahmat Allah’, dia telah beriman kepada-Ku dan kafir kepada prakiraan bintang . Adapun yang mengatakan, “Turun hujan karena begini dan begini” dia kafir kepada-Ku dan beriman kepada perkiraan bintang” (HR Bukhari Muslim)

Orang Arab jahiliyah ketika turun hujan sering mengkaitkan dengan ramalan bintang. Ketika Islam datang, menghapus keyakinan ini dan menyandarkan hujan kepada Allah bukan karena bintang ini jatuh atau sebab lain.

Meskipun ini ada di masa Jahiliyah Islam, tetapi peringatan ini juga untuk manusia modern seperti sekarang, dimana banyak yang mengkaitkan fenomena alam seperti hujan bukan kepada Allah tetapi kepada selain-Nya.

Doa Agar Terhindar Dari Banjir

Ada sebuah hadits yang menyebutkan tentang doa untuk menghindarkan sebuah wilayah dari banjir.

Dari sahabat Anas bin Malik ra, beliau menceritakan, bahwa pernah terjadi musim kering selama setahun di masa Nabi saw. sampai akhirnya datang suatu hari jumat, ketika Nabi saw dan para sahabat jumatan. Anas mengatakan: Ada seseorang yang masuk masjid dari pintu tepat depan mimbar pada hari jum’at.

Sementara Rasulullah saw ketika itu sedang berdiri berkhutbah. Kemudian dia menghadap ke arah Nabi saw dengan berdiri dan mengatakan, ‘Ya Rasulullah, ternak pada mati, tanah becah tidak bisa dilewati, karena itu berdoalah kepada Allah agar Dia menurukan hujan untuk kami.’ Spontan Nabi saw mengangkat tangan beliau, dan membaca doa:

اللَّهُمَّ اسْقِنَا، اللَّهُمَّ اسْقِنَا، اللَّهُمَّ اسْقِنَا

ALLAHUMA ASQINAA, ALLAHUMMA ASQINAA ALLAHUMMA ASQINAA

“Ya Allah, berilah kami hujan…, Ya Allah, berilah kami hujan.., Ya Allah, berilah kami hujan.”
Anas melanjutkan kisahnya: Demi Allah, sebelumnya kami tidak melihat ada mendung di atas, tidak pula awan tipis, langit sangat cerah. Tidak ada penghalang antara kami dengan bukit Sal’. Namun tiba-tiba muncul dari belakangnya awan mendung seperti perisai. Ketika mendung sudah persis di atas kita, turun hujan.

Anas menegaskan, “Demi Allah, kami tidak melihat matahari selama 6 hari.” Kemudian pada hari jumatnya, datang seseorang dari pintu yang sama, ketika Rasulullah saw berdiri menyampaikan khutbah. Dia menghadap Nabi saw sambil berdiri. Dia mengatakan, ‘Ya Rasulullah, banyak ternak yang mati, dan jalan terputus. Karena itu, berdoalah kepada Allah agar Dia menahan hujan.’ Kemudian Nabi saw mengangkat kedua tangannya, dan berdoa,
اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا، وَلاَ عَلَيْنَا، اللَّهُمَّ عَلَى الآكَامِ وَالجِبَالِ وَالظِّرَابِ وَبُطُونِ الأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ

ALLAHUMMA HAWAALAINA WA LAA ’ALAINA. ALLAHUMMA ’ALAL AAKAMI WAL JIBAALI, WAZH ZHIROOBI, WA BUTHUNIL AWDIYATI, WA MANAABITISY SYAJARI

“Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami dan tidak di atas kami. Ya Allah turunkan hujan di bukit-bukit, pegunungan, dataran tinggi, perut lembah, dan tempat tumbuhnya pepohonan.” Tiba-tiba hujan langsung berhenti. Kami keluar masjid di bawah terik matahari. (HR. Bukhari – Muslim).

Dari hadis di atas, Rasulullah saw melantunkan doa ketika terjadi banjir, akibat terlalu sering hujan.

Doa ini bisa anda baca dalam kondisi banjir seperti yang terjadi di ibu kota. Dengan harapan, semoga Allah tidak menimpakan hujan itu sebagai adzab, namun menjadi rahmat. Hujan itu turun di tempat yang subur dan bermanfaat bagi tanaman.

Ibnu Daqiqil Al ‘Id ketika menjelaskan hadits ini mengatakan, “Hadis ini merupakan dalil bolehnya berdoa memohon dihentikan dampak buruk hujan, sebagaimana dianjurkan untuk berdoa agar turun hujan, ketika lama tidak turun. Karena semuanya membahayakan.” (Ihkam Al-Ahkam, 1/357)

Jika doa di atas terlalu panjang, Anda bisa membaca bagian depan:
اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا، وَلاَ عَلَيْنَا

ALLAHUMMA HAWAALAINA WA LAA ‘ALAINAA

“Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami dan tidak di atas kami.”
Baca doa ini berulang-ulang. Juga dianjurkan bagi khatib untuk membaca doa ini ketika Shalat Jumat, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah saw di atas. Demikian dijelaskan Ustadz Ammi Nur Baits di situs Konsultasi Syariah.

Atau Anda bisa juga amalkan doa berikut ini :

يَا أَرْضُ ابْلَعِي مَاءَكِ وَيَا سَمَاءُ أَقْلِعِي وَغِيضَ الْمَاءُ

YAA ARDUBLA ‘II MAA AKI WA YAA SAMAA-U AQLI’II WA GHIIDOL MAA-U

Artinya : {” Wahai bumi ! Telanlah airmu, dan wahai langit (hujan !) berhentilah “} (QS. Surah Hud : 44)

Sementara itu, Ustadz Ahmad Sarwat, Lc, MA, menjelaskan bahwa doa ini tidak selalu relevan dengan kondisi sebuah tempat. Dalam soal ujian beliau ketika kuliah S-2 dengan dosen KH. DR. Ali Mustafa Ya’qub. MA. Soalnya kurang lebih menanyakan apakah doa Nabi saw di atas itu relevan buat orang Jakarta?

“Sebab banjir di Jakarta itu terjadi bukan semata-mata karena hujan yang turun dari atas ibu kota, tetapi justru yang dahsyat karena adanya kiriman banjir dari puncak dan Bogor. Jakarta bisa saja cerah bermandikan cahaya matahari, tetapi kiriman banjir dari arah selatan, khususnya pintu air Katulampa di Bogor sana, akan tetap jadi bencana buat Jakarta.
Kalau doa kita seperti doa Rasulullah saw di atas itu, yaitu jangan turunkan hujan di atas Jakarta, tapi di luar kota Jakarta (baca: Puncak dan Bogor), maka Jakarta akan tetap banjir juga.

Maka dalam memahami hadits perlu adanya ilmu fiqih, biar kita tahu duduk perkara suatu masalah. Tidak boleh begitu saja kita main copy paste teks hadits, padahal tidak relevan,” terang beliau.

Oleh karena itu, jika berdoa dengan teks doa dari Rasulullah saw tersebut, kita juga berharap agar hujan turun di wilayah lain yang tidak menyebabkan banjir lainnya.

Sumber:

http://mawdoo3.com/دعاء_نزول_المطر

Keterangan Ust Ami Nur Bais dan Ust Ahmad Sarwat di Internet

Dzikir yang Baik Menurunkan Nyeri pada Lansia


Dzikir yang baik, pelan bisa menurunkan rasa nyeri sendi pada lansia dimana sebagian besar lansia mempunyai keluhan pada sendi-sendinya, misalnya; nyeri, linu, dan pegal. Dzikir sebagai penyembuh terhadap nyeri diantaranya dengan berdzikir menghasilkan beberapa efek medis dan psikologis yaitu akan menyeimbangkan keseimbangan kadar serotonin dan neropineprin di dalam tubuh, dimana fenomena ini merupakan morfin alami yang bekerja didalam otak serta akan menyebabkan hati dan pikiran merasa tenang dibandingkan sebelum berzikir.

Kesimpulan di atas disampaikan oleh Syaifurrahman Hidayat dari Universitas Wiraraja Sumenerp ketika melakukan penelitian di Panti Sosial Trisna Werda (PSTW) Unit Budi Luhur Bantul Yogyakarta khusus untuk pasien beragama Islam dengan menggunaka istilah Dzikir Khafi.

Berdasarkan penelusuran penulis, Dzikir Khafi adalah dzikir yang dilakukan secara khusyuk oleh ingatan hati, baik disertai dzikir lisan ataupun tidak. Orang yang sudah mampu melakukan dzikir seperti ini hatinya merasa senantiasa memiliki hubungan dengan Allah SWT. Ia selalu merasakan kehairan Allah SWT kapan dan dimana saja. Dzikir Khafi berarti mengingat Allah dengan berfikir terhadap ciptaan-Nya, baik yang ada di diri kita maupun yang ada di alam ini, misalnya ketika bernafas kita mengingat Allah, ketika makan bersyukur kepada Allah, ketika melihat pemandangan yang indah mengingat kekuasaan Allah, hendaknya hari selalu mengingat Allah dalam segala situasi apapun.

Nyeri yang tidak tertangani dapat menyebabkan distres emosional dan dapat memicu kekambuhan penyakit sehingga perawat perlu memberikan intervensi untuk memenuhi kebutuhan rasa nyaman pada pasien dalam mengatasi nyeri. Kenyamanan merupakan kebutuhan bagi setiap orang, kenyamanan tersebut merupakan nyaman secara fisik, psikospiritual, lingkungan dan sosiokultural, sehingga terbebas dari nyeri. Seseorang yang merasakan nyeri berarti dia tidak terpenuhi kebutuhan rasa nyamannya, disinilah peran perawat untuk memenuhi kebutuhan rasa nyamannya (Songer, 2005).

Seseorang yang nyeri akan mencari pertolongan untuk memenuhi kebutuhan rasa nyamannya, dengan Dzikir Khafi perawat dapat memenuhi kebutuhan rasa nyaman pasien. Dzikir sebagai penyembuh terhadap nyeri diantaranya dengan berdzikir menghasilkan beberapa efek medis dan psikologis yaitu akan menyeimbangkan keseimbangan kadar serotonin dan neropineprine di dalam tubuh, dimana fenomena ini merupakan morfin alami yang bekerja didalam otak serta akan menyebabkan hati dan pikiran merasa tenang dibandingkan sebelum berzikir, Otot-otot tubuh mengendur terutama otot bahu yang sering mengakibatkan ketegangan psikis. Dengan adanya relaksasi trsebut, maka impuls nyeri dari nervus trigeminus akan dihambat dan mengakibatkan tertutupnya “pintu gerbang” di thalamus. Tertutupnya “pintu gerbang” di thalamus mengakibatkan stimulasi yang menuju korteks serebri terhambat sehingga intensitas nyeri berkurang untuk kedua kalinya (Kolcaba, 2003) dan (Saleh, 2010).

Secara fisiologis, terapi spiritual dengan berdzikir atau mengingat asma Allah menyebabkan otak akan bekerja, ketika otak mendapat rangsangan dari luar, maka otak akan memproduksi zat kimia yang akan memberi rasanyaman yaitu neuropeptida. Setelah otak memproduksi zat tersebut, maka zat ini akan menyangkut dan diserap didalam tubuh yang kemudian akan memberi umpan balik berupakenikmatan atau kenyamanan (Lukman, 2012).

Dengan melakukan Dzikir Khafi merupakan penggerak emosi perasaan, dzikir ini muncul melalui rasa tentang penzahiran keagungan dan keindahan Allah SWT, sehingga akan dapat pula mempengaruhi pola koping sesorang dalam menghadapi nyeri sebagai sressor, sehingga stres respon yang bebeda. Koping yang adaptif akan mempermudah seseorang mengatasi nyeri dan sebaliknya pola koping yang maladaptif akan menyulitkan seseorang mengatasi nyeri. Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Rad: 28, yang berbunyi: “Orang-orang yang beriman, hati mereka menjadi tentram dengan mengingat (Dzikir) kepada Allah. Ingatlah hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram” (Q.S.13:28).

Peran pendampingan spiritual sebenarnya merupakan kompetensi dari profesi keperawatan. Peran perawat dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien secara holistik meliputi biologi, psikologis dan spiritual. Manusia merupakan satu kesatuan yang utuh yang terdiri atas fisiologis (physiological), psikologis (psychological), sosial (social), spiritual (spiritual), dan kultural (cultural), dimana manusia sesungguhnya memiliki esensi yang sama bahwa manusia adalah mahluk unik yang utuh menyeluruh (Beek, 2007) dan Xidohan, 2005).

Tidak terpenuhinya kebutuhan rasa nyaman manusia pada salah satu saja diantara dimensi di atas akan menyebabkan ketidak sejahteraan atau keadaan tidak sehat. Kesadaran akan konsep ini melahirkan keyakinan dalam keperawatan bahwa pemberian asuhan keperawatan hendaknya bersifat komprehensif atau holistik, yang tidak saja memenuhi kebutuhan fisik, psikologis, sosial, dan kultural tetapi juga kebutuhan spiritual klien.

Spiritual care merupakan salah satu dimensi penting yang perlu diperhatikan oleh perawat dalam memberikan asuhan keperawatan kepada semua klien. Keimanan atau keyakinan religius sangat penting dalam kehidupan personal individu, keimanan diketahui sebagai suatu faktor yang sangat kuat (powerful) dalam penyembuhan dan pemulihan fisik.

Perawat dalam melakukan pengkajian terhadap lansia harus bisa memberikan ketenangan dan kepuasan batin dalam hubungannya dengan Tuhan atau agama yang dianut lansia dalam merasakan nyeri osteoarthritis, sehubungan dengan pendekatan spiritual bagi lansia pengkajian yang perlu dilakukan meliputi konsep pasien tentang tuhan, sumber kekuatan atau harapan, praktek religius serta hubungan antara keyakinan spiritual dengan status kesehatan pasien (Baldacchino, 2006).

Implementasi asuhan keperawatan dengan manajemen nyeri non farmakologis yang perlu di berikan oleh perawat diantaranyan Dzikir Khafi. Menurut Hadits Riwayat Al-Baihaqi mengatakan: “Sesungguhnya bagi setiap segala sesuatu itu ada alat pembersihnya, dan sesungghuhnya alat pembersih hati (jiwa) adalah dzikir kepada Allah. Dan tidak ada sesuatu yang lebih menyelamatkan dari siksa Allah dari pada dzikrullah” (HR. Al Baihaqi).

Dengan mengistiqomahkan Dzikir Khafi disetiap pagi hari dalam kurun waktu 30 menit, maka dzikir tersebut dapat menunjukkan komitmen seseorang untuk senantiasa menyebut Asma Allah, menanamkan suatu kesadaran bahwa tiada Tuhan Selain Allah. Dzikir merupakan media dalam syariat Allah dan melaksanakan fungsi-fungsi sosial sebagaimana mestinya dengan penuh keridhaan. Abu Awanah dan Ibnu Hibban meriwayatkan dalam masing-masing kitab kumpulan hadits shahih berikut : “Sebaik-baik dzikir adalah dzikir dengan samar (khafi) dan sebaik-baiknya rezeki adalah rezeki yang mencukupi,” (HR. Al Baihaqi).

Selama melaksanakan asuhan keperawatan pada aspek spiritual care perawat dituntut untuk mampu hadir secara fisik maupun psikis dimanifestasikan dalam mendengarkan dengan aktif, sikap empati melalui komunikasi terapeutik dan memfasilitasi ibadah praktis membantu pasien untuk menginterospeksi diri merujuk kepada rohaniwan jika pasien membutuhkan. Adapun kriteria hasil yang ingin dicapai dari asuhan keperawatan denag pendekatan spiritual care ini adalah ditemukannya kemampuan pasien dalam bersyukur, kedamaian atau ketenangan dan tergalinya mekanisme koping yang efektif untuk mengatasi rintangan hidup diantaranya dalam mengahapi nyeriosteoartritis (Potter & Perry, 2005).

Semoga ulasan sederhana ini bermanfaat. Jangan lupa like dan komentarnya. 🙏🙏🙏

Referensi:

Internet: Dzikir Khafi

Syaifurrahman Hidayat, Dzikir Khafi untuk Menurunkan Skala Nyeri Osteoartritis Pada Lansia, Link: https://ejournal.wiraraja.ac.id/index.php/JIK/article/download/119/90

Bagaimana Dzikir “Laa Ilaaha Illallah” dan “Astaghfirullah” Mengatasi Penyakit Jantung dan Stroke


Dzikir dalam Al Qur’an dijelaskan sebagai penenang hati. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : (yaitu) orang-orang yang beriman serta hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, cuma dengan mengingat Allah hati jadi tenteram. (QS. Ar Ra’du : 28).

Beberapa peneliti menemukan, stres kronis menyebabkan produksi sel darah putih terlalu berlebih. Sel darah putih yang berlebihan ini lalu mengumpul pada dinding sisi dalam arteri, membatasi aliran darah, serta mendorong pembentukan bekuan yang menghalangi sirkulasi, atau jadi pecah serta menebar ke sisi badan yang lain.

Seperti riset yang dikerjakan Nahrendorf beserta tim pada 29 pekerja medis di unit perawatan intensif (ICU), sebagai lingkungan kerja dengan depresi relatif tinggi, temukan kalau waktu mereka bertugas, stres aktifkan beberapa sel induk sumsum tulang, yang pada gilirannya menyebabkan keunggulan produksi sel darah putih, yang dimaksud leukosit. Keadaan ini tidak sama dengan hasil kontrol waktu mereka tak tengah bertugas.

Sel darah putih, yang utama dalam pengobatan luka serta melawan infeksi, bisa berbalik melawan “tuan tempat tinggal mereka”, dengan konsekwensi dapat menghancurkan dengan penyakit aterosklerosis, penebalan dinding arteri dikarenakan oleh penimbunan plak.

Saat berdzikir, ia menetralkan kemelut yang dihadapi oleh pelakunya, hingga keadaan kejiwaannya jadi stabil serta enjoy. Pada orang yang keadaannya tak tegang, dzikir makin mendamaikan hatinya.

Waktu keadaan badan tenang serta damai, produksi sel serta sel darah putih jalan secara normal. Tak kurang, juga tak terlalu berlebih/surplus. Dengan hal tersebut, tak ada jaringan ikat yang terganggu, juga tak muncul rusaknya plak.

Keadaan jiwa yang tenang dengan dzikir membuat fisik menjadi tenang, termasuk juga denyut jantung, denyut nadi serta peredaran darah. Denyut jantung, denyut nadi serta peredaran darah yang normal relatif bikin badan lebih terbangun serta system kekebalan badan lebih efisien bekerja. Imunitas jadi lebih kuat.

Jadi, dzikir relatif dapat melindungi seorang dari penyakit yang disebabkan oleh depresi terutama penyakit jantung serta stroke. Sedang untuk orang yang terlanjur menderita sakit jantung serta stroke, dzikir dapat juga jadi terapi untuk memperingan, bahkan juga menyembuhkannya.

Sebuah analisa dzikir dari sudut pandang kedokteran secara ilmiah disampaikan oleh Dr. dr. A Y Saleh, M.Kes, Sp. S. dari RS S Sunter Jakarta yang menyatakan bahwa dzikir itu menyehatkan. Ia menunjukkan lewat riset pada pasiennya di mana pasien yg berdzikir pulih lebih cepat di banding dgn yg tak berzikir.

Pasien yang mengalami persoalan alzheimer & stroke, akan lebih baik keadaannya setelah membiasakan dzikir dgn melafadzkan kalimat tauhid “Laa iIlaaha illallah ” serta kalimat istighfar “Astaghfirullah“.

Menurut Dr. dr. A Y Saleh, dilihat dari pengetahuan kedokteran kontemporer, pengucapan “Laa iIlaaha illallah” serta “Astaghfirullah” bisa menyingkirkan nyeri & dapat menumbuhkan ketenangan dan kestabilan saraf untuk pasien. Lantaran dalam ke dua bacaan dzikir itu ada huruf JAHR yg bisa mengeluarkan CO2 dari otak.

Dalam kalimat “Laa Ilaaha Illallah” ada huruf Jahr yg diulang tujuh kali, yakni huruf “Lam“, serta “Astaghfirulloh” ada huruf “Ghayn“, ” Ra“, serta dua buah “Lam” hingga ada 4 huruf Jahr yg mesti dilafazkan keras hingga kalimat dzikir tersebut mengeluarkan karbondioksida semakin banyak waktu udara dihembuskan keluar mulut.

CO2 yg dikeluarkan oleh badan tak mengubah pergantian diameter pembuluh darah dalam otak. Sebab, bila system pengeluaran CO2 kacau, jadi CO2 yang ke luar juga kacau hingga mengakibatkan pembuluh darah di otak bakal melebar begitu terlalu berlebih saat kandungan CO2 didalam otak mengalami penurunan.

Dilihat dari tinjauan pengetahuan syaraf, ada hubungan yg erat pada pelafadzan huruf (Makharij Al-huruf) pada bacaan dzikir dgn aliran darah pernafasan keluar yg mengandung zat CO2 (karbondioksida) & system yg rumit didalam otak pd keadaan fisik atau psikis spesial.

Nah pembaca blog sederhana ini, mari teruskan kebiasaan & lebih memperbanyak dzikir dgn mengucapkan kalimat tauhid “Laa ilaaha illallah” & kalimat istighfar “Astaghfirulloh”.

Yang butuh diingat, dzikir yang disebut disini tidaklah sebatas menyebutkan asma-asma Allah atau kalimat thayyibah, namun juga meresapi maknanya hingga menghadirkan ketenangan seperti yang difirmankan Allah dalam Surat Ar Ra’du ayat 28 diatas.

Selain itu pelafalan dzikir akan berguna jika membacanya dengan pelan pelan dan tidak cepat cepat seperti kebiasaan masyarakat. Bacaan dzikir yang pelan dan tenang akan lebih mudah meresapi lafal dan maksudnya. Wallahu a’lam bish shawab.

Semoga bermanfaat.

Doa Memasuki Tahun Baru


Tak terasa waktu terus berjalan, dari hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan bulan berganti tahun. Kini kita berada di penghujung tahun 1438 H dan akan memasuki tahun baru Islam 1439 H.

Menjelang tahun baru ini, Sosmed dan WAG ramai dengan kiriman doa doa menjelang tahun baru.

Beberapa hadits yang tersebar secara sanad eksistensi hadist tidak ada kekuatan menjadi dalil yang harus dipegang dan menjadi panduan.

Meski demikian JANGAN mengecam orang yang melakukan doa-doa akhir tahun apalagi melabelkan bidah. Walaupun tidak dilakukan Nabi tetapi doa doa meminta kebaikan sangat dianjurkan.

Dan saya ingin berbagi satu doa Tahun Baru yang belum banyak diketahui orang, namun dalam penjelasannya diamalkan oleh para Sahabat. Semoga bisa menjadi alternatif dari doa doa yang sudah banyak tersebar.

Dalam satu riwayat disebutkan:

مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيٍّ الصَّائِغُ ، قَالَ : نا مَهْدِيُّ بْنُ جَعْفَرٍ الرَّمْلِيُّ ، قال : نا رِشْدِينُ بْنُ سَعْدٍ ، عَنْ أَبِي عُقَيْلٍ زُهْرَةُ بْنُ مَعْبَدٍ ، عَنْ جَدِّهِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ هِشَام ، قَالَ : ” كَانَ أَصْحَابُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، يَتَعَلَّمُونَ هَذَا الدُّعَاءَ إِذَا دَخَلْتِ السَّنَةُ أَوِ الشَّهْرُ : اللَّهُمَّ أَدْخِلْهُ عَلَيْنَا بِالأَمْنِ ، وَالإِيمَانِ ، وَالسَّلامَةِ ، وَالإِسْلامِ ، وَرِضْوَانٍ مِنَ الرَّحْمَنِ ، وَجَوَازٍ مِنَ الشَّيْطَانِ ” . لا يُرْوَى هَذَا الْحَدِيثُ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ هِشَامٍ إِلا بِهَذَا الإِسْنَادِ ، تَفَرَّدَ بِهِ : رِشْدِينُ بْنُ سَعْدٍ .

Dari Abdullah ibnu Hisyam bahwasannya para sahabat Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam mempelajari doa ini ketika masuk tahun baru atau bulan baru:

Allahumma adkhilhu ‘alainaa bil-amni wal iimaani wassalaamati wal-islaami wa ridhwaani minarrohmaani wa jiwaazim-minasy-syaythooni.

Yaa Allah, masukkanlah kami kedalamnya (tahun baru atau bulan baru) dengan keamanan, keimanan, keselamatan dan keislaman, ridho dari Yang Maha Rahman dan dijaga dari syaithan. (H.R. Thabrani)

Tak lupa pula, mari kita isi awal tahun ini dengan memperbanyak puasa dan amal kebaikan yang lain disertai permohonan ampunan kepada Allah SWT atas dosa yang telah lalu, semoga ke depan kita menjadi lebih baik lagi. Semoga bermanfaat.

Sumber:

http://library.islamweb.net/hadith/display_hbook.php?bk_no=475&pid=280701&hid=6410

Adam, Hawa dan Padang Arafah


Sewaktu kecil saya sering mendengarkan nasyid islami dari Malaysia daripada lagu yang lainnya seperti dangdut. Salah satu lagu yang saya suka adalah album Hijaz tentang Haji dan salah satu lagunya tentang kisah Adam dan Hawa di Padang Arafah. Lagu yang saya upload di atas dibawakan group nasyid putri Mawaddah yang sekarang cukup dikenal.

Lagunya menyejukkan hati, menenangkan jiwa dan membuka mata batin agar kita semua tahu asal muasal manusia.

Alhamdulillah, terkadang mendengarkan nasyid islami tentang haji kita bisa belajar sejarah haji, makna haji dan apa yang mesti disiapkan dan apa yang mesti ditinggalkan selama haji.

Ketika saya berkesempatan Umroh di tahun 2015lalu, kami bersama rombongan travel Baitussalam Mabrur Wisata melewati padang Arafah, tempatnya sangat luas dengan tenda tenda abadi maksudnya tenda tenda yang didesain tahan dari api, Ust Arifin Jayadiningrat waktu itu bercerita pernah terjadi kebakaran besar di tenda Mina pada tahun 1970 yang menewaskan 350 jamaah haji dan akhirnya pemerintah Saudi membangun tenda permanen tahan api seperti sekarang.

Untuk mengetahui polemik tentang puasa Arafah dan penentuan tanggalnya bisa dibaca di tulisan kami terdahulu.

Wukuf artinya berhenti atau tidak bergerak yang artinya berkumpulnya semua jamaah haji di padang Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah, hari itu adalah hari terbesar pada ibadah haji dan wukuf adalah inti dari haji sebagaimana sabda Nabi Saw “Haji adalah wukuf di Arafah”.

Jika Thawaf adalah kehidupan maka Wukuf adalah pintu terakhir kehidupan, ketika jantung berhenti berdetak, ketika mata berhenti berkedip, ketika tangan dan kaki berhenti melambai dan melangkah. Ketika semuanya berhenti maka datanglah kematian. Kemudian akan dikumpulkan di padang Mahsyar, maka Padang Arafah adalah lambang Mahsyar di dunia untuk mengetahui gambaran padang mahsyar nantinya.

Arafah adalah tempat berkumpulnya jamaah haji seluruh dunia dari pagi sampai terbennam matahari, mereka berasal dari ragam kulit dan bahasa tetapi mereka dalam kesatuan dan tidak ada perbedaan antara kaya dan miskin, pejabat dan rakyat, disinilah nampak persamaan yang hakiki.

Selain itu, disebut Arafah karena pada hari tersebut semua manusia menyadari kesalahan dan dosanya sehingga banyak yang menangis dalam doa doanya. Ada juga yang menyebutkan Arafah sebagai tempat Malaikat mengajarkan manasik haji kepada Nabi Ibrahim AS dan tempat bertemunya Adam dan Hawa setelah diturunkan di dunia.

Amal ibadah puasa, infaq dan sedekah di hari Arafah ini akan diterima oleh Allah SWT, mari memperbanyak amal dan doa khususnya untuk saudara kita di Rohingya dan Palestina agar diberikan kemenangan oleh Allah SWT dan doa untuk kesuksesan hidup dunia akhirat karena doa di hari Arafah akan dikabulkan, sebagaimana Sabda Nabi berikut:

“Sebaik-baik do’a adalah do’a pada hari Arafah, dan sebaik-baik ucapkan yang aku dan para nabi sebelumku lakukan adalah ucapan: La ilaha illaLlah, wahdahu la syarika lah, lahul mulku, walahul hamdu, wahuwa ‘ala kulli syai-in qadir (Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, Dia Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nya lah seluruh kerajaan, dan milik-Nya lah seluruh pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu). (HR At-Tirmidzi [3585]).

Terkait dengan terkabulnya do’a pada hari Arafah, seorang shalih berkata: “Demi Allah, aku tidak berdo’a dengan suatu do’a pada hari Arafah, dan belum sampai genap satu tahun, kecuali apa yang aku pinta telah aku saksikan sebagai kenyataan seterang terbitnya fajar”.

Semoga hari ini kita berpuasa di Indonesia dan tahun depan kita bisa beribadah wukuf di Arafah.

Kita belum pernah bermalam di Mina, Wukuf di Arafah, melempar Jumrah akan tetapi dalam hati kita selalu mengucapkan labbaikallahumma labbaik labbaika laa syariika laka labbaika.

Ya Allah, berilah kami rizki dan kesempatan untuk beribadah di rumah-Mu. Amiin.

%d bloggers like this: