Lailatul Qadar diluar Ramadan


Video di atas adalah cuplikan kajian Dai Mesir bernama Khalid Aljundi yang ditayangkan di TV MDC. Khalid menyebutkan pendapat Abu Hanifah yang berbeda dengan pendapat imam mazhab lain yaitu Syafii, Malik dan Ahmad bahwa Lailatul Qadar bisa didapatkan sepanjang tahun, bukan hanya di bulan Ramadan.

Menurut Aljundi, kemuliaan dan berkah Ramadan yang datang untuk manusia akan terus dirasakan selama manusia meyakini dan terus mengikat diri kepada Allah. Bisa jadi seseorang menggunakan malamnya untuk mendekat pada Allah dengan berdoa, taat dan shalat lalu Allah menerima doanya dan merubah hidupnya menjadi lebih baik. Apa saja yang kita lakukan untuk mendekat kepada Allah menjadi Lailatul Qadar baginya.

Pendapat ini memahami bahwa lailatul qadar adalah setiap malam yang bisa mendekatkan diri kita kepada Allah. Malam pendekatan itu tentu tidak hanya terjadi pada bulan Ramadhan, tapi juga bisa terjadi pada bulan lain.

Dalam sebuah hadits disebutkan:

يَتَنَزَّلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ ، مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ ، وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ

“Rahmat Allah turun tiap malam ke dunia hingga tersisa sepertiga malam terakhir. Allah berfirman, ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, akan Kukabulkan; siapa yang meminta kepada-Ku, akan Kuberi; siapa yang mohon ampun kepada-Ku, akan Kuampuni,” (HR Bukhari dan Muslim).

Hadits ini menunjukkan rahmat Allah SWT turun tiap hari, khususnya di pertengahan malam. Sebab itu, dianjurkan memperbanyak ibadah pada pertengahan malam.

Menurut Hamka, manusia bisa memperoleh suasana tentram dan damai, serta terkabulnya doa seperti yang ada pada malam Lailatul Qadar. Beliau mendalilkan ini dengan firman Allah berikut:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلائِكَةُ أَلا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ (٣٠

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.” (Qs. Fusshilat [42]: 30)

Hamka memberikan kesimpulan bahwa suasana Lailatul Qadar pun ada di luar Ramadan. Suasana itu adalah anugerah Ilahi kepada hamba-Nya.

Hamka berpendapat bahwa Amirul Mukminin, Umar bin Khattab mendapat Lailatul Qadr di luar Ramadhan. Pada suatu malam yang kata Hamka menentukan arah hidup manusia yang awalnya benci dan ingin membunuh Rasul berubah memeluk Islam. Umar peroleh usai membaca surah Thaha. Selain Umar, orang shaleh seperti Fudhail bin Iyyadl dan Syeikh Muhammad Jamil Jambek memperoleh anugerah yang nilainya lebih 1000 bulan.

Tentang kisah Fudhail bin Iyadh, Hamka menyebutkan pada malam Qadr itu malaikat hadir membisikkan kebaikan kepadanya, sehingga ia merasa tenang dan damai dalam “pelukan” Tuhan. Malam tersebut merupakan titik awal dari penetapan Allah bagi perjalanan hidupnya yang tadinya buruk menjadi baik.

Maka penulis mengajak untuk tidak berpisah dengan Ramadan, namun nikmatilah sepanjang tahun bersama dan setiap malam adalah Lailatul Qadar. Ramadan bukan sebuah bulan, akan tetapi pola hidup dan awal perubahan. Berikan kesempatan Ramadan untuk hidup bersama sepanjang tahun, sebagaimana firman Allah, “Dan sembahlah Rabb-mu sampai datang kematian kepadamu” (Qs. Al-Hijr: 99)

Sumber:

Hamka, Renungan Tasawuf, 2002, hal 73-76, dan 83.

YouTube

Zakat, Infaq dan Shadaqah untuk Pedalaman Mentawai


Aksi Peduli Bangsa (APB) membuka para donatur siapa saja yang ingin menyisihkan dari penghasilannya untuk diberikan kepada sesama.

Ramadan ini APB menggencarkan ajakan untuk masyarakat dengan ikhlas berdonasi dan menyampaikan ZIS kepada saudara-saudara kita di Pedalaman Mentawai.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, yang dilunakkan hatinya (mualaf), untuk memerdekakan hamba sahaya, untuk membebaskan orang yang berhutang, untuk yang berada di jalan Allah dan untuk orang yang sedang di dalam perjalanan sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Qs. At-Taubah: 60)

Aksi Peduli Bangsa mendapatkan amanah untuk membangun daerah pedalaman di Mentawai yang mana banyak sekali masuk golongan yang mendapatkan zakat yaitu:

🔰 Fakir : Orang yang amat sengsara hidupnya.
💠 Miskin : Orang yang tidak cukup penghidupannya dan dalam keadaan kekurangan.
🔰 Pengurus Zakat: Orang yang diberi tugas untuk mengumpulkan dan membagikan zakat.
💠 Mualaf : Orang kafir yang ada harapan masuk Islam atau orang yang baru masuk Islam yang imannya masih lemah.
🔰 Pada jalan Allah: Yaitu untuk keperluan kaum muslimin seperti masjid, sekolah, perpustakaan, klinik dan infrastruktur.
💠 Orang yang sedang dalam perjalanan : Perjalanan guru masyarakat ke pedalaman dan tim pembangunan.

Ada 6 golongan yang berhak mendapatkan zakat (dari 8 golongan) untuk masyarakat pedalaman Mentawai.

Silahkan menyampaikan ZIS kepada Yayasan Aksi Peduli Bangsa.

Bank Mandiri : 101 00 0971 9590 a.n Yayasan Aksi Peduli Bangsa

Konfirmasi transfer dan donasi ZIS ke:
☎Arifin Jayadiningrat : 0811 940 969 (WA)
☎Jumal Ahmad : 0878 8983 3857 (WA)

Alamat: Jl. Camar XXII Blok BW2/37A Bintaro Jaya 3 Pondok Betung Raya Tangerang Selatan.

Zakat, Infaq dan Shadaqah secara luas punya hikmah yang besar karena menjadi sarana saling membantu, menghilangkan keserakahan dan menciptakan kebaikan untuk semua lapisan.

Berikut faidah ZIS dari segi etika dan sosial

Faidah ZIS dari segi Akhlak dan Etika

  • Menjadikan orang menjadi terpuji, mulia dan dermawan.
  • Menjadikan orang pengasih dan penyayang kepada sesama.
  • Melapangkan dada, menentramkan jiwa dan membuat seseorang dicintai karena telah mendatangkan manfaat buat orang lain.
  • Membersihkan sifat kikir.

Faidah ZIS dari segi Sosial

  • Membantu mencukupi kebutuhan orang miskin yang sudah mewabah di negeri ini.
  • Menguatkan dan meninggikan derajat kaum muslimin dimana zakat merupakan bentuk jihad di jalan Allah.
  • Menghilangkan rasa iri dan dengki di hati orang miskin dan menghilangkan kesenjangan sosial antara kaya dan miskin.
  • Menumbuhkan dan memperbanyak berkah harta.

Mari berdayakan ZIS Kita, Semoga Zakat, Infaq dan Shadaqah anda diterima Allah dan dilipatgandakan.

Link YouTube:

Allah Bersama Orang yang Susah

Dua Waktu Mustajab yang Disia-siakan


Ada dua waktu mustajab untuk berdo’a, dimana do’a tersebut tidak akan ditolak oleh Allah SWT, yaitu berdo’a saat “menjelang berbuka puasa” dan “menjelang makan sahur“,, namun sayang banyak dari kita yang tidak mengetahuinya.

Di Makkah & Madinah, satu jam sebelum adzan maghrib orang-orang sudah menengadahkan tangan ke langit berdo’a untuk kemudahan dari segala urusan, baik urusan dunia maupun akhirat.

Seorang pengusaha di Malaysia membiasakan setiap berbuka di masjid bersama keluarga agar tidak disibukkan dengan makanan berbuka dan fokus dalam berdoa, dan banyak permintaannya diijabahi.

Sementara kita Indonesia sering menyia-nyiakan waktu mustajab ini dengan cara ngabuburit menjelang adzan maghrib!!! Kemudian berkumpul menghadapi hidangan berbuka dan cukup dengan hanya membaca, “Allaahumma lakasumtu… atau dzahaba zhoma’u…“, padahal maknanya hanya berupa laporan dan ucapan syukur.

Waktu Sahur juga waktu mustajab untuk berdoa sebagaimana dijelaskan dalam hadits Qudsi, “Sesungguhnya Allah turun setiap malam ke langit dunia saat seperti tiga malam terakhir, lalu Dia berfirman: Adakah orang yang mau bertaubat sehingga Aku ampuni dia/ Adakah orang yang beristighfar sehingga aku ampuni dia? Adakah orang yang meminta (kepada-Ku) sehingga aku beri permintaannya? Sehingga terbit fajar.”

Setelah kita memahaminya, hendaknya minimal 10 ~ 15 menit sebelum adzan Maghrib dan sebelum adzan Subuh (sudah dalam keadaan berwudhu) kemudian berdo’a meminta apa saja, adabnya dengan didahului puji-pujian kepada Allah dan bershalawat atas Nabi Muhammad SAW.

Mari memanfaatkan waktu untuk berdoa bukan hanya demi santapan atau berburu makanan saat jelang buka dan sahur.

Berdoalah untuk diri kita, keluarga, orangtua, sahabat, negeri. Jangan termakan tipu daya untuk melalaikannya dengan program-program televisi dan media lainnya di waktu yang mustajab.

Sertakan doa untuk saudara kita di Palestina agar diberikan kekuatan dan dimenangkan dalam membela tanah air yang dirampas Zionis.

Sertakan doa kepada umat Islam dimanapun berada agar diberikan kesabaran dan istiqamah dalam mengamalkan Islam.

Semoga Allah memberikan petunjuk kepada kita untuk bisa memanfaatkan kesempatan-kesempatan istimewa di bulan suci ini untuk meraih keberkahan dan pahala besar.

Twitter: @JumalAhmad

Kepekaan Sosial Selama Ramadhan


Bulan Ramadhan merupakan bulan yang penuh berkah bagi umat Islam dan diharapkan dapat menjadi berkah bagi umat lainnya. Di bulan Ramadhan umat Islam memiliki kewajiban menjalankan ibadah puasa. Saat berpuasa ini, selain berusaha meningkatkan keimanan kepada Allah SWT yang sifatnya vertikal, juga harus meningkatkan relasi yang baik dengan sesama manusia. Relasi yang baik dengan sesama manusia menunjukkan relasi yang sifatnya horizontal. Relasi yang baik ini dapat dilakukan dengan meningkatkan kepekaan sosial.

Ibadah puasa memiliki tujuan salah satunya ikut merasakan kesusahan yang dialami oleh orang-orang yang tidak mampu. Kalau kita biasanya sehari-hari menanyakan kepada diri kita sendiri dengan ”besok kita makan apa?” biasanya orang yang tidak mampu akan bertanya kepada diri sendiri ”besok apa makan?”. Dua pertanyaan yang menunjukkan kondisi yang berbeda. Saat puasa, janganlah berlebihan untuk berbuka puasa. Maksudnya, memang seharian berpuasa dan janganlah alasan berpuasa ini membuat kita berbuka dengan berlebihan. Biasanya yang tidak ada menjadi diada-adakan untuk berbuka. Kalau ini terjadi maka bukan belajar empati merasakan kondisi orang tidak mampu tetapi malah menjadi konsumtif dan pemborosan. Kalau seperti ini, dan orang miskin mengetahuinya bagaimana perasaan mereka.

Mungkin kita yang mampu akan makan dengan nikmat tetapi yang miskin tetap saja seperti biasanya buka seadanya kalau ada yang dipakai berbuka, namun kalau tidak ada yang dibuat berbuka yang tidak makan. Inikah kepekaan sosial yang diajarkan di dalam bulan Ramadhan?. Bukan jawabnya.

Kepekaan sosial dapat dilatih dengan tidak berlebihan saat buka dan berbagi dengan yang membutuhkan dengan acara buka bersama atau berbagi makanan untuk berbuka.

Orang yang berpuasa juga dilatih untuk memiliki kepekaan sosial terhadap orang yang tidak berpuasa. Saat orang yang tidak berpuasa akan makan atau minum harus toleransi karena itu kebutuhan hidup. Jangan merasa itu sebagai bentuk ejekan atau kesengajaan. Memang ada yang sengaja, namun jadikanlah itu sebagai bentuk pelatihan diri sehingga ibadah puasa yang dijalankan terlihat perjuangan dan kebermaknaannya.

Terkait dengan perilaku Israf atau pemborosan, saya mengutip ceramah Dr. Faizah yang merupakan salah satu ahli edukasi di Ummul Qura yang saya ambil dari blog Sinta Yudisia . Beliau suatu hari memberikan ceramah di hadapan para mahasiswa Arab, Indonesia, dan mahasiswa berbagai belahan dunia yang lain.

“Dahulu, kafilah haji Indonesia adalah kafilah terkaya. Tidak ada peziarah yang lebih kaya dari kafilah Indonesia. Mereka memakai alat tukar emas! Setiap kali bertransaksi, orang-orang Indonesia menggunakan emas,” jelas duktur Faizah. “Tetapi sekarang lihatlah, orang Indonesia menjadi pembantu di negeri kita. Wahai kalian mahasiswa Arab, belajarlah dari Indonesia!

Kalau kalian tidak belajar, bisa jadi anak cucu kalian akan berbalik, menjadi pembantu di Indonesia. Apakah kalian tahu, apa yang menyebabkan Indonesia bangkrut seperti sekarang?”

Para mahasiswa menanti dengan tegang, tenang, hening, hanyut dalam irama nasihat duktur Faizah.

Duktur Faizah melanjutkan, “Israf. Bersikap berlebih-lebihan. Itulah yang membuat Indonesia bangkrut. Lihat orang Arab sekarang, beli baju satu, lalu dibuang tak dipakai lagi.”

Mengutip nasihat Said Nursi dalam buku Ramadan, Iqtishad dan Syukur bahwa Israf melahirkan sifat tidak qana’ah dan tamak. Tamak mampu memadamkan semangat dan kesungguhan berbuat baik dan mencampakkan seseorang dalam sifat malas dan bernanti nanti, membuka pintu keluh kesah dan kekecewaan dalam kehidupan. Dan Qana’ah akan membangkitkan semangat berusaha dan bekerja.

Mungkin video pendek yang saya buat tentang ‘Allah Bersama Orang yang Susah’ berikut bisa menyadarkan kita, ada saudara kita yang layak dibantu.

Mari kita kurangi konsumsi berlebih (Israf), bukan karena kita tidak berdaya, bukan karena tidak punya, tapi karena kita mampu mengendalikan diri kita sendiri.

Twitter: @JumalAhmad

Puasa dan Seruan Membangun Kepedulian Sosial


Puasa adalah ibadah universal. Hal ini diisyaratkan Al-Quran, “Wahai sekalian orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwawjibkan kepada orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”. (Qs. Al-Baqarah: 183)

Ayat di atas mengisyaratkan bahwa puasa sudah disyariatkan kepada umat-umat sebelum Nabi Muhammad SAW. Universalisme ibadah puasa terekam dalam sejarah yang mencatat ragam ritual puasa di berbagai masyarakat. Misalnya, pada kaum Al-Shabi’un dan para pengikut Al-Munawiyyun sebuah komunitas keagamaan kuno di Timur Tengah. Samirah Sayyid Al-Bayumi, tokoh fiqih kontemporer Mesir menyebutkan beberapa contoh puasa para Nabi dan Rasul sebelumnya, 1) Nabi Nuh berpuasa sepanjang tahun, 2) Nabi Daud berpuasa sehari dan berbuka sehari, 3) Nabi Isa berpuasa sehari dan berbuka dua hari atau lebih.

Fakta di atas sekaligus mengisyaratkan bahwa puasa merupakan mata rantai estafet agama-agama. Dalam konteks Islam, puasa menjadi bukti bahwa Islam merupakan penyempurna agama-agama sebelumnya dan estafet peran para Nabi dan Rasul berjalan sepanjang sejarah manusia.

Puasa merupakan ibadah universal melintasi tradisi, agama dan kurun. Meski demikian, puasa yang disyariatkan kepada umat Islam tidak serupa dengan yang dipraktikkan masyarakat lainnya. Perbedaan pelaksanaan puasa tidak lantas menutup bertemunya nilai universal puasa sebagai simpul memperbaiki diri dan masyarakat.

Makna Teologis dan Sosiologis

Agama Islam bukan ajaran yang hanya mengurusi soal-soal vertikal berhubungan dengan Tuhan. Agama adalah perangkat aturan Tuhan untuk mengurusi persoalan-persoalan manusiawi. Islam diturunkan dengan misi menjaga kelestarian manusia (hifdzu an-nas), demikian juga puasa tidak hanya memiliki fungsi vertikal (hablun minallah), tetapi juga fungsi horizontal (hablun minannas).

Makna sosiologis ini kerap luput dari pemahaman. Padahal kondisi masyarakat yang dirundung persoalan sosial, kemiskinan sampai krisi lingkungan hidup, kesadaran sosiologis ibadah puasa sangat dibutuhkan.

Capaian tertinggi puasa adalah taqwa. Namun, capaian ini tidak bermakna jika secara sosiologis tidak berdampak positif yang terkait dengan relasi atau hubungan antarmanusia. Persoalan sosial yang bermunculan hakikatnya bermuara dari tidak mampunya manusia menjalani perannya sebagai individu maupun makhluk sosial.

Maka puasa hendaknya sanggup mentransformasikan dimensi teologis ke dalam dimensi sosiologis agara prestasi Taqwa dapat dimanifestasikan secara moral dan etik dalam kehidupan sosial. Ibadah puasa memang menjadi hak Tuhan, namun dalam konsekuensi moralnya menjadi tanggung jawab manusia dalam relasinya dengan manusia lain (keshalihan sosial).

Dalam ranah sosial, puasa harus menjadikan pelakunya tergerak dan berempati memberantas kemiskinan, memiliki solidaritas terhadap sesama yang masih berkekurangan. Tanpa kesadaran seperti ini, puasa hanya menjadi ritual yang berbuah haus dan lapar. Puasa harus memberi motivasi kepad pelakunya untuk mengendalikan keinginan dan kepentingan individu. Sikap ini merupakan konsekuensi dari konsepsi Tauhid, yakni penolakan pada segala bentuk ketidakadilan, baik individual maupun sosial.

Puasa lebih identik dengan pengendalian pada persoalan yang bersifat teologis dan vertikal saja. Padahal antara makna teologis dan sosiologis memiliki prinsip yang sama: pengendalian diri. Secara teologis yang dikendalikan adalah hawa nafsu yang abstrak. Adapun secara sosiologis yang dikendalikan adalah kepentingan atau hawa nafsu yang konkret.

Terkait dengan ajakan membantu sesama, saya mengajak pembaca untuk membantu saudara kita di Pedalaman Mentawai lewat program bantuan Pakaian layak pakai untuk Pedalaman Mentawai. Meskipun sudah lebih dari 70 tahun merdeka, masih ada saudara sebangsa yang hidup dalam kekurangan, termasuk akses pakaian yang layak. Oleh karena itu Yayasan Aksi Peduli Bangsa berinisiatif mengumpulkan pakaian dari Jakarta kemudian melansirnya ke Siberut Selatan tepatnya desa Muntei dimana terdapat posko APB disana. Dari tempat ini kemudian Pakaian layak pakai disebarkan secara gratis ke daerah terpencil di Kepulauan Mentawai.

Silahkan simak keterangan lengkap programnya di flyer berikut.

Selamat Datang Musim Semi Kebaikan


Selamat datang Ramadhan
Selamat datang Ramadhan

Menangkanlah rukun ketiga
Menangkanlah perang yang besar
Menangkanlah jihad yang akbar

Berhimpunlah di Padang Do’a
Tarawih, zikir dan itiqaf
Petik bunga-bunga ibadah

Bertaburan nikmat karunia Illahi
Sepanjang bulan Ramadhan
dan Malam Seribu Bulan.

(Bimbo – Selamat Datang Ramadhan)

Setiap kali datang Ramadhan hati kita berbunga-bunga menyambutnya. Jika para pencinta dan seniman menantikan datangnya musim semi, untuk menemukan kekasih atau menggubah syair-syair indah, maka para ahli ibadah dan ahli akhirat menantikan datangnya bulan Ramadhan.

Bulan Ramadhan bagi mereka adalah musim semi kebaikan; mereka menyiapkan diri menyambutnya, seperti menyiapkan diri menyambut sang kekasih. Mereka menyiapkan pikiran, jiwa dan raga mereka, mereka melakukan puasa-puasa sunnah sepanjang bulan Rajab dan Sya’ban, dan berdoa agar diberkati Allah di sepanjang bulan-bulan itu serta diberi umur untuk sampai ke bulan Ramadhan.

Mereka menyiapkan harta benda mereka, menabung sebanyak mereka bisa untuk dapat berinfaq bagi kaum dhuada dan memberikan makanan buka puasa bagi mereka yang berpuasa di sepanjang hari-hari Ramadhan yang penuh berkah, rahmat dan maghfirah.

Selama bulan Ramadhan mereka menata diri mereka kembali, mengevaluasi kehidupan mereka selama setahun, menyusun rencana kehidupan yang lebih shalih untuk tahun mendatang. Memperbaiki hubungan-hubungan sosial yang rusak atau kurang sebelumnya, baik dengan keluargam, tetangga, kerabat serta sahabat mereka.

Ramadhan bagi mereka adalah stasiun penghentian, tempat mereka mereguk energi kehidupan setelah kelelahan kerja sepanjang tahun. Di sana mereka mengasah ruh mereka yang mungkin tumpul oleh tumpukan beban dan pengaruh dunia, memperkuat kesadaran mereka akan hari akhirat kemana mereka menuju, mempertajam fokus mereka pada amal-amal shalih yang kelak akan mengantar mereka ke surga, memperkuat silaturahim untuk menjaga keutuhan sosial mereka sebagai lingkungan kebajikan yang menjadi wadah amal shalih mereka.

Begitulah mereka, para ahli ibadah dan ahli akhirat dari kalangan Sahabat Nabi dan para Tabi’in serta orang-orang shalih yang mengikuti jejak mereka. Dan begitu pulalah seharusnya kita menyambut Ramadhan.

Semoga Ramadhan ini kita menjadi lebih baik lagi …

@JumalAhmad di Masjid Al-Hikmah Jagakarsa

Shalat Berjamaah


Kalau kita selama ini tidak pernah mampu melalui cobaan-cobaan dunia baik berupa kefakiran hati maupun harta, mengapa kita meninggalkan jamaah shalat? Mengapa masa depan kita tidak kita usahakan dan pastikan dengan selalu berjamaah?

Melihat jaminan Allah yang begitu hebat bagi kehidupan dunia dan akhirat, para kyai sepuh bahkan dalam menganjurkan berjamaah sampai berkata, “Kalau perlu membayar orang untuk membantu shalat kita agar terhitung jamaah!”. Berapapun harta yang kita keluarkan tidak akan sebanding dengan jaminan Allah yang begitu besar dan bernilai.

Dengan berjamaah, kita tidak saja mendapatkan jaminan kehidupan dari Pencipta, kitapun mampu membangun hubungan ruh dengan pasangan, sehingga pernikahan kita tidak terbatas oleh jasad saja tetapi juga diwarnai oleh kecintaan ruhani. Mencintai pasangan karena Allah akan menumbuhkan ketenangan dan ketentraman hati.

Dengan shalat berjamaah kita melakukan pendekatan diri kepada Allah. Dengan berbekal kedekatan kita kepada Allah, segala kebutuhan kita Insya Allah akan dicukupinya.

Berumah tangga ibarat naik kapal layar berdua, lautan tidak selalu tenang, lebih sering ombak dan badai menyapa. Dalam berumah tangga permasalah selalu ada, dan harus dihadapi bukan ditinggalkan.

Sahabat Ali ra dan Fatimah ra pun pernah mengalami masalah dalam rumah tangga mereka, diceritakan oleh Sahl bin Saad, bahwasanya Rasulullah SAW pernah datang ke rumah Fathimah. Namun, beliau tidak mendapati Ali. Beliau pun bersabda, “Di mana putra pamanmu?” Fathimah menjawab, “Telah terjadi sesuatu antara aku dan dia. Ia marah, lalu keluar dan tidak qoilulah (tidur siang) di sisiku.”

Kemudian Nabi SAW berkata kepada seseorang, “Coba cari, di mana dia?” orang tersebut datang seraya berkata, “Wahai Rasulullah, ia sedang tidur di masjid.” Nabi pun datang, dan saat itu Ali sedang berbaring. Sementara kainnya telah terjatuh dari sisinya dan debu telah mengenai dirinya. Nabi SAW membersihkan debu tersebut dan bersabda, “Bangunlah wahai Abu Turab, bangunlah wahai Abu Turab,” (Muttafaq alaih).

Pelajaran menarik dari Hadits ini adalah ketika mendapati masalah segera datang ke tempat yang baik, bukan diskotik atau tempat kongkow tapi masjid yang disana tempat bersujud dan diberkahi.

Setiap orang punya masalah yang dihadapi. Suasana yang sedang runyam seperti ini, alangkah indah jika ditundukkan dengan Shalat.

Jika kita ingin Allah membantu di dalam situasi sulit. Solusi untuk melarikan diri dari kesulitan itu jelas: berpegang pada Shalat Wajib, khususnya peliharalah solat subuh dengan berjamaah. Dan tambah dengan ibadah solat di sepertiga malam, jika kita ingin berakhir di posisi yang dimuliakan.

Ketika kita lakukan ini, jangan berpikir Allah seketika melepaska dari masalah. Dia akan membawa kita keluar dari masalah dan memasukan kedalam hal yang hebat. [ ]

Twitter: @JumalAhmad

%d bloggers like this: