Hukum Petasan Ramadan


Di antara kesalahan yang dilakukan orang tua adalah membiarkan anak bermain petasan pada bulan Ramadan, bahkan berlanjut ketika malam takbiran. 

Pemerintah pun punya andil karena terkesan membiarkan penjual warung menjualkan barang berbahaya ini. 

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin pernah ditanya mengenai hukum jual beli petasan dan membunyikannya. 

Jawaban beliau, “Menurut hemat kami, jual beli petasan hukumnya haram dengan dua pertimbangan. Pertama, petasan hanyalah membuang-buang harta, dan membuang harta hukumnya adalah haram karena Nabi Saw melarang hal tersebut. 

Kedua,  petasan akan mengganggu orang lain karena suaranya memekakkan telinga bahkan dapat menimbulkan kebakaran jika mengenai benda benda yang mudah terbakar. 

Karena dua alasan di atas, menurut hemat kami adalah haram hukumnya sehingga tidak diperbolehkan untuk diperdagangkan dan diperjualbelikan.”

Sumber: Min Akhthaina fii Ramadhan, hal. 152-153

Hari Raya Dan Hari Kiamat


Keriuhan umat di hari raya telah dibahas dengan menarik oleh Ibul Jauzi dalam bukunya Shaidul Khatiir, salah satu buku favorit semenjak di pesantren. 

Beliau menganalogikan hari raya dengan hari kiamat. Berikut ini nukilan saya dari buku beliau. 

Aku memperhatikan hal ihwal manusia di Hari Raya, ternyata ia sama dengan kondisi mereka di hari kiamat kelak. Sesaat sesudah bangun dari tidur mereka pergi ke tempat mengerjakan shalat, persis seperti orang mati yang keluar dari kuburannya ke Padang Mahsyar.

Sebagian mereka berpenampilan amat necis dan menunggangi binatang paling mahal, sebagian berpakaian biasa dan sebagian yang lain malah berpakaian sangat usang. Memang seperti itulah hal-ihwal manusia di hari kiamat.

“(Ingatlah) hari (ketika) Kami mengumpulkan orang-orang yang takwa kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sebagai perutusan yang terhormat, dan Kami akan menghalau orang-orang yang durhaka ke Neraka Jahannam dalam keadaan dahaga” (Qs. Maryam:85-86)

Nabi Muhammad saw bersabda, “Pada hari kiamat manusia akan dikumpulkan dengan berkendaraan, jalan kaki atau telungkup” , “Pada hari kiamat manusia akan dikumpulkan dengan berkendaraan, jalan kaki atau telungkup” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Sebagian orang di Hari Raya terinjak-injak dalam desakan orang banyak; demikian juga orang zalim, pada hari kiamat mereka diinjak-injak oleh orang lain. 

Sebagian orang di Hari Raya adalah orang kaya yang mengeluarkan sedekah, dan di hari kiamat orang yang berbuat kebajikan di dunia akan berbuat baik pula.

Sebagian orang di Hari Raya adalah orang miskin yang meminta-minta, dan di hari kiamat sebagian orang adalah orang-orang yang meminta, sebagian peminta ini ada yang diberi, “Aku menyiapkan syafaatku untuk para pelaku dosa besar” (HR Ahmad dan Abu Dawud) 
Namun sebagian yang lain tidak dikasihani, “Maka kami tidak mempunyai pemberi syafaat seorang pun, dan tidak pula mempunyai teman akrab” (Qs As-Syuara: 100-101)

Panji-panji di Hari Raya dikibarkan, dan pada hari kiamat panji-panji orang yang bertaqwa juga dikibarkan.
 Bila Hari Raya orang-orang dikhutbahkan, maka pada hari kiamat orang-orang juga akan diberitahu tentang nasib seorang manusia. 
“Hai penduduk Mahsyar, si A telah mendapatkan kebahagiaan yang tak akan berubah menjadi kesusahan selamanya, dan si B sudah memperoleh kesusahan yang tak akan berubah menjadi kebahagiaan selamanya”.

Kemudian orang-orang paling bahagia di antara mereka pulang ke tempatnya dan diberitahu, “Mereka itulah orang yang didekatkan (kepada Allah) (Qs Waqiah: 11), lalu disusul dengan keputusan “Maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik” (Qs Al Isra: 19), 
sedang orang-orang selain mereka adalah orang-orang yang berkedudukan lebih rendah, sebagian mereka pulang ke rumah yang mewah, “Disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu” (Qs Al-Haqqah: 24), 

sebagian pulang ke rumah kelas menengah, namun sisanya malah pulang ke rumah yang reot! Maka, ambillah pelajaran, hai orang-orang yang punya akal!!!

Demikian sebuah nasihat dari Al-Wa’idz (ahli nasihat) Abdurrahman bin Ali bin Muhammad al-Jauzi yang nasabnya tersambung sampai Abu Bakar As-Shidiq.

Ibnul Jauzi dalam nasehat yang lain mengajak agar mencari teman dan sahabat yang akan memasukkan kita ke surga, beliau berkata kepada sahabat-sahabatnya,
إن لم تجدوني في الجنة بينكم فاسألوا عني وقولوا : يا ربنا عبدك فلان كان يذكرنا بك

”Jika kalian tidak menemukan aku di surga, maka tanyakanlah tentang aku kepada Allah. Ucapkan: ’Wahai Rabb kami, hambaMu fulan, dulu dia pernah mengingatkan kami untuk mengingat Engkau.” Kemudian beliau menangis.

Sumber: Shaidul Khatir

Macet Total Di Padang Mahsyar


Pernahkah kendaraan anda mengalami macet total ketika sedang menempuh perjalanan panjang (saat mudik misalnya) ..? Walau terjebak macet hanya 2-3 jam, bagaimana rasanya..? Apa yang bisa anda lakukan saat macet, kecuali menunggu dan menunggu hingga kemacetan terurai..? 

Bagaimana jika macetnya belasan bahkan puluhan jam lamanya..? Maju tidak bisa, mundur pun tak kuasa. Diam saja ditempat selama berjam-jam lamanya. Bagaimana perasaan anda..?

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

«لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ»
“Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan kemana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya”. (HR Tirmidzi dan ad Darimi)

Pada hari itu, manusia akan dikumpulkan sesuai keadaan masing masing ketika di dunia sebagaimn firman Allah swt Qs. Maryam 85-86.

Orang kafir, munafik dan pendosa akan menunggu penghitungan amal selama 50 tahun sebagai bentuk azab atas kelalaian mereka di dunia. 

Adapun orang beriman, menunggu dengan waktu kurang lebih selama satu shalat wajib. 

Bagaimana mereka bisa bertahan menunggu 50 tahun tanpa ada makanan dan minuman? Untuk menjawabnya bahwa ini termasuk perkara akhirat yang bukan termasuk dalam wilayah manusia yang tidak bisa diukur dengan standar dunia. 

Alangkah bahagianya kita menjadi orang yang beriman. Ya Allah, terima kasih atas karunia iman dan taqwa dari-Mu, berikan kami istiqamah dalam agama-Mu sampai ajal nanti. 

Ya Allah mudahkanlah kami dalam membekali diri untuk kehidupan yang abadi. Ya Allah kami hanya berharap ridha dan maghfirah-Mu. Ya Allah terimalah segala amal shaleh kami selama di bulan Ramadhan kemarin. 
Ya rabbana…..ampunilah segala dosa kami, mudahkan kami menuju surga-Mu dan jauhkan kami dari neraka-Mu. Ya Allah ampunilah dosa-dosa kami atas kelalaian menghabiskan umur, kelalaian mengamalkan ilmu, kelalaian memperoleh dan membelanjakan harta, dan kelalaian menggunakan tubuh ini… 
Bimbinglah kami di dunia dengan hidayah-Mu, mudahkanlah kami dari ketatnya hisab yaumil mahsyar, selamatkan kami dari fitnah dunia dan fitnah dajjal, selamatkanlah kami dari siksa api neraka. Amin ya Rabbal ‘alamin
Sumber: fatwa islam web

– otw Jakarta – Magelang

Teman Di Alam Kubur


Jangan sampai hidup kita di dunia terlalu disibukkan dengan harta, anak dan istri kita. Ketahuilah, kelak hanya amal yang akan menyertai kita hingga negeri akhirat. Anak, istri, dan harta kita akan meninggalkan kita ketika kita mati. Setelah mati, satu-satunya yang tetap terhubung dengan kita adalah amal perbuatan kita selama di dunia.

Harta merupakan ujian. Karena itu, berhati-hatilah jangan sampai ujian itu melalaikan kita dari Allah. Istri dan anak juga merupakan ujian seperti bunyi firman Allah,

“Di antara istri dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu.” (QS. Al-Taghabun (64) : 64)

Ibnu Athaillah berkata, “Ketahuilah bahwa kau memiliki 3 macam teman: (1) Harta yang akan kautinggalkan saat kau mati; (2) Keluarga, yang akan meninggalkanmu setelah kau dikubur; (3) Amal perbuatanmu, yang tidak akan berpisah denganmu. Karena itu, bertemanlah dengan teman yang masuk ke dalam kubur bersamamu dan senanglah bersamanya. Orang berakal adalah yang memperhatikan perintah dan larangan Allah.

Kelak, tidak ada yang kita bawa mati selain amal perbuatan kita. Entah itu amal perbuatan baik atau buruk. Amalan apapun itu akan dipertanggungjawabkan dihadapan Allah SWT.

Nabi SAW pernah bersabda, “Ada tiga kelompok yang mengikuti mayat: keluarga, harta dan amal. Dua kembali dan yang hanya satu mengiuti. Keluarga dan harta kembali, sementara yang tersisa bersamanya hanya amal perbuatannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka, apalagi yang kita tunggu? Sudahkah kita mempersiapkan amalan terbaik untuk kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah kelak? Atau selama ini kita hanya sibuk mengumpulkan harta yang tidak pernah kita bawa mati? Mari kita renungkan…[]

****

Mari memperbanyak amalan akhirat di 10 akhir Ramadan dengan beritikaf. Bagi anda yang di Jakarta, bisa gabung itikaf di Masjid Assalam kementrian PU dengan bimbingn Ust.Arifin Jayadiningrat dan asatidz lainnya. 

Itikaf dimulai habis isya sampai setelah subuh, insya allah panitia menyiapkan makanan sahur (tidak banyak). 

Sunnah itu apabila dikerjakan mendapatkan pahala yang besar sekali dan jika ditinggalkan akan mendapatkan kerugian yang besar sekali. 

Kalau kita beribadah mengejar lailatul qadar kita mendapatkan pahala lebih dari 1000 bulan atau sekitar 83 tahun lebih. 

Pada zaman sebelum Nabi Muhammad Saw para ahli ibadah disebut dengan Al-Abid yang rata rata orang dahulu berumur panjang dan seorang ahli ibadaj setidaknya sudah beribadah kurang lebih 80 tahun. 

Maka para Sahabat Nabi Muhammad sempat mengatakan, enak sekali mereka berumur panjang dan dapat beribadah yang banyak. 

Maka turunlah surat Al-Qadr untuk memberikan bonus kepada umat Muhammad saw yang mana apabila kita mendapatkan lailatul qadar, kita seakan akan, tambahan umurnya lebih dari 80 tahun terus beribadah.

Maka, mari bersama memanfaatkan sisa waktu Ramadan untuk beritikaf dan mencari malam kemuliaan, malam lailatul qadar. 

Romadhon kita bukan ditentukan oleh permulaannya yang semangat. Namun loyo di saat-saat akhir.
Boleh jadi ada orang di awal romadhon sedikit loyo ibadahnya namun dia sempurnakan kekurangannya dengan ibadah dan kebaikan di akhir-akhir romadhan. Dia dapatkan nilai penuh dan sempurna.
Dan bisa jadi juga orang di awal romadhon begitu semangat dengan ibadah namun sepuluh terakhir dia ditimpa keloyoaan. Sehingga dia tinggalkan banyak keutamaan dan kebaikan. Hasil akhirnya nilai dia kurang dan tak sempurna.

Sejarah Masuknya Islam Ke Bumi Sikerei Mentawai


Meskipun umat Islam terbesar di dunia ada di Indonesia, keberadaan umat Islam di atas Bumi Sikerei-Mentawai tergolong minoritas. Umat Islam di Mentawai hanya sekitar lima persen.

Sejarah masuknya Islam di Mentawai belum bisa dibuktikan secara tertulis atau peninggalan benda kuno. Namun beberapa sumber (tokoh Islam) menjelaskan, bahwa Islam masuk ke Mentawai sekitar tahun 1800 terletak di Pasar Puat Pulau Pagai Utara.

Namun menurut catatan Buya Masoed Abidin, seorang tokoh Muslim Sumatera Barat dalam bukunya, “Islam Dalam Pelukan Muhtadin Mentawai” menuliskan, Mentawai sudah didiami oleh orang-orang Islam (Melayu) duaratus tahun lebih dahulu (1792, di Tunggul, Selat Sikakap, Pagai) menurut John Crisp ).

Padahal Misionaris Kristen/Protestan baru mengenal Mentawai tahun 1901 di bawah Pendeta August Lett dan rekannya A. Kramer dari Jerman. 

Pastor Katolik baru menjejakkan kaki di kepulauan ini tahun 1954 di bawah Pastor Aurelio Cannizzaro. Menurut Buya Masoed, bedanya, Misionaris Kristen masuk dengan Pendeta dan Pastor, sedang Islam masuk melalui orang-orang penganut Islam itu.

Kemudian Islam berkembang di Pulau Sipora tahun 1930. Jejak ini dilacak berdasarkan pengakuan warga pribumi Mentawai sejak tahun 80 an sudah di Mentawai bersama keluarga menganut ajaran Islam. 

Dalam perkembangannya, Islam di Mentawai sudah mulai maju. Hal ini dibuktikan adanya beberapa organisasi Islam dan sekolah berbasis pendidikan Islam.

Aktivitas gerakan dakwah Islam di Mentawai pun mulai menyebar ke seluruh pelosok Bumi Sikerei. 
Meski Mentawai terdiri hanya empat kecamatan –Kec. Siberut Utara, Siberut Selatan, Sipora dan Kec. Pagai Utara Selatan– namun posisinya berjarak lebih kurang antara 90 hingga 120 mil laut dari pantai Padang. Tak ada hubungan transportasi langsung dari Pariaman (ibu kabupaten) ke gugusan kepulauan ini. 

Yang ada hanya hubungan kapal perintis atau kapal kayu (antar pulau) dari Muara (Padang) dan Bungus (Teluk Kabung) menuju keempat kecamatan ini. Itupun sampai sekarang (1996), belum ada hubungan rutin setiap hari. Baru terhitung dua atau tiga kali setiap minggunya.

Meski demikian, sarana transportasi ini sudah tergolong maju dibandingkan tiga dasawarsa yang lalu, dimana untuk mendatangi pulau-pulau tersebut hanya ada beberapa kali dalam sebulan. Sekolah, kantor pos, puskesmas, pasar dan kantor telephon sudah ada di sini. 

Listrik pun telah masuk meski hanya pada malam hari. Meski jalannya lebar-lebar, tidak ada kendaraan roda empat, kendaraan roda dua pun masih bisa dihitung dengan jari.

Sumber: Hidayatulloh.Com

 Di kecamatan Siberut, keadaan sudah lebih baik, masjid sudah dibangun dan pengajian anak anak dan ibu ibu sudah ramai. 

Jauh berbeda ketika kita masuk ke pedalaman yang memakan waktu sampai 6 jam di atas sampan kayu, kehidupan masih primitif dan pakaian layak pakai masih jarang.
Seperti laporan beberapa dai dari YMPM yang kami posting kemarin, 120 dai kehabisa logistik dan kurang dana untuk menyemarakkan dakwah di pedalalaman. 

Semoga degan kepedulian semua masyarakat Indonesia, saudara kita di pedalaman Mentawai bisa lebih baik lagi. 

Berikut ini beberapa foto Masyarakat di Pedalaman Mentawai. 

[Video] Maher Zain – Kun Rahma |ماهر زين – كن رحمة (Mentawai Background) 


Kun Rahma/ Penebar Kasih Sayang

Awal Ramadan sekitar tanggal 4 atau 5 Ramadan saya membuka youtube dan mendapatkan informasi beberapa Channel youtube yang saya ikuti, salah satunya dari Awakening Records. 

Ternyata ada informasi lagu baru Maher Zain yang baru dirilis Ramadan ini, lagunya bagus sekali mengajak kita untuk menebarkan kasih sayang kepada sesama. Di bulan Ramadan ini umat Islam dilatih untuk peduli dengan sosialnya, bahkan ini yang lebih kuat,  bukan hanya ibadah spiritual saja. 

Kun Rahma, judul lagunya, mengambil background ketika Maher Zain di Kenya, melihat gambar dan foto fotonya sangat miris. 

Saya pun tergugah untuk membuat video yang sama dengan latar lagu Kun Rahma dan background foto Mentawai dari Aksi Peduli Bangsa. 

Di akhir foto saya cantumkan informasi event lebarun peduli mentawai di masjid Al-Azhar Pusat tanggal 16 Juli 2017. Event ini sebagai charity dan donasi untuk pembangunan dusun Buttui dan dusun lainnya di Mentawai. 

Silahkan tonton videonya, like dan share ya… agar banyak masyarakat Indonesia yang semakin tahu keadaan saudara kita di pedalaman Mentawai. 🙏🙏🙏

Saudaraku… 

Ayo ikuti LebaRun, berarti anda ikut membantu saudara kita di desa Butui, Mentawai.

Daftarkan di http://www.LebaRun.com atau http://www.imroadrunner.com

Tips Khatam Al-Quran Anti Mainstream


Mau tutup sosial media atau tidak selama Ramadhan, sepenuhnya hak masing-masing.

Tidak etis bila kita memaksa orang lain untuk menonaktifkan akunnya. Karena bisa jadi ada orang-orang yang dengan aktifnya dia di dunia maya, justru menjadi ladang pahala baginya dan manusia mengambil manfaat dari postingan-postingannya.

Yang jelas Ramadhan adalah bulan penuh kebaikan. Mau di dunia nyata maupun dunia maya, kita harus menjadi orang baik.

Di antara kebaikan Ramadhan yang jangan sampai terlewat adalah khatam Al-Quran, setiap huruf yang dibaca akan dilipat gandakan pahalanya melebihi bacaan kita di luar Ramadhan. 

Tips berikut bisa digunakan agar bisa sebanding antara sosial media dan mengkhatamkan Al-Quran. 

Tips tambahan dari saya untuk mengurangi ketergantungan sosmed kala Ramadhan adalah mematikan notifikasi sosmed atau whatsapp karena yang membuat kita membuka kembali hp atau gadget karena ada notifikasi yang muncul. 

Semoga Ramadhan ini banyak ayat yang kita baca, banyak ayat yang kita tadabburi. Amiin. 

%d bloggers like this: