Hubungan Agama dan Negara


religion-and-politics-1140x500

Hubungan antara agama dan negara menimbulkan perdebatan yang terus berkelanjutan dikalangan para ahli. Pada hakikatnya, negara merupakan suatu persekutuan hidup bersama sebagai penjelmaan sifat kodrati manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial. Oleh karena itu sifat dasar kodrat manusia tersebut merupakan sifat dasar negara pula, sehingga negara sebagai manifestasi kodrat manusia secara horizontal dalam hubungan manusia dengan manusia lain untuk mencapai tujuan bersama. Dengan demikian, negara memiliki sebab akibat langsung dengan manusia karena manusia adalah pendiri negara itu sendiri ( Kaelani, 1999: 91-93).

Manusia sebagai warga negara, adalah juga makhluk sosial dan makhlk Tuhan. Sebagai makhluk sosial, manusia mempunyai kebebasan untuk memenuhi dan memanifestasikan kodrat kemanusiaannya. Namun, sebagai makhluk Tuhan, manusia juga mempunyai kewajiban untuk mengabdi kepadanya dalam bentuk penyembahan atau ibadah yang diajarkan oleh agama atau keyakinan yang dianutnya. Hal-hal yang berkaitan dengan negara adalah manifestasi dari kesepakatan manusia. Sedangkan hubungan dengan Tuhan yang tertuang dalam ajaran agama adalah wahyu dari Tuhan. Oleh karena itu ada benang emas yang menghubungkan antara agama dan negara. ( Dede Rosyada, 2000: 124).

Ketegangan perdebatan tentang hubungan agama dan Negara ini di ilhami oleh hubungan yang agak canggung antara islam. Sebagai agama(din) dan Negara (dawlah), agama dan Negara merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya merupakan dua lembaga politik dan sekaligus lembaga agama.

Beberapa pendapat tentang konsep dan hubungan Agama dan negara sebagai berikut:

1) Paradigma Integralistik

Agama dan Negara merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya merupakan dua lembaga yang menyatu dan dinyatakan bahwa negara merupakan suatu lembaga.

2) Paradigma Simbiotik

Antara agama dan Negara merupakan dua identitas yang berbeda. Tetapi saling membutuhkan oleh karenanya, konstitusi yang berlaku dalam paradigma ini tidak saja berasal dari adanya social contract, tetapi bisa saja diwarnai oleh hukum agama (syari’at).

3) Paradigma Sekularistik

Agama dan Negara merupakan dua bentuk yang berbeda dan satu sama lain memiliki dan satu sama lain memiliki garapannya bidangnya masing-masing. Sehingga keberadaannya harus di pisahkan dan tidak boleh satu sama lain melakukan intervensi berdasar pada pemahaman yang dikotomis ini. Maka hukum positif yang berlaku adalah hukum yang betul-betul berasal dari kesepakatan manusia.

Berbicara mengenai hubungan agama dan negara di Indonesia merupakan persoalan yang menarik untuk dibahas, penyebabnya bukan karena penduduk Indonesia mayoritas islam tetapi karena persoalan yang muncul sehingga menjadi perdebatan di kalangan beberapa ahli.

Untuk mengkaji lebih dalam mengenai hal tersebut maka hubungan agam dan negara dapat digolongkan menjadi 2 :

Hubungan Agama dan Negara yang Bersifat Antagonistik

Maksud hubungan antagonistik adalah sifat hubungan yang mencirikan adanya ketegangan antar negara dengan islam sebagai sebuah agama.

Sebagai contohnya adalah pada masa kemedekaan dan sampai pada masa revolusi politik islam pernah dianggap sebagai pesaing kekuasaan yang dapat mengusik basis kebangsaan negara. Sehingga pesepsi tersebut membawa implikasi keinginan negara untuk berusaha menghalangi dan melakukan domestika terhadap idiologi politik islam. Hail itu disebabkan pada tahun 1945 dan dekade 1950-an ada 2 kubu ideologi yang memperebutkan negara Indonesia, yaitu gerakan islam dan nasionalis.

Gerakan nasionalis dimulai dengan pembentukan sejumlah kelompok belajar yang bersekolah di Belanda. Mahasiswa hasil didikan Belanda ini sangat berbakat dan merasa terkesan dengan kemajuan teknis di Barat. Pada waktu itu pengetahuan agama sangat dangkal sehingga mahasiswa cenderung menganggap bahwa agama tidak mampu menyelesaikan berbagai persoalan. Sehingga untuk menuju kemerdekaan, nasionalis mengambil jalan tengah dengan mengikuti tren sekuler barat dan membatasi peran agama dalam wilayah kepercayaan dan agama individu.

Akibatnya, aktivis politik Islam gagal untuk menjadikan Islam sebagai ideologi atau agama negara pada 1945 serta pada dekade 1950-an, mereka juga sering disebut sebagai kelompok yang secara politik “minoritas” atau “outsider.”

Di Indonesia, akar antagonisme hubungan politik antara Islam dan negara tak dapat dilepaskan dari konteks kecenderungan pemahaman keagamaan yang berbeda. Awal hubungan yang antagonistik ini dapat ditelusuri dari masa pergerakan kebangsaan ketika elit politik nasional terlibat dalam perdebatan tentang kedudukan Islam di alam Indonesia merdeka.

Upaya untuk menciptakan sebuah sintesis yangmemungkinkan antara Islam dan negara terus bergulir hingga periode kemerdekaan dan pasca-revolusi. Kendatipun ada upaya-upaya untuk mencarikan jalan keluar dari ketegangan ini pada awal tahun 1970-an, kecenderungan legalistik, formalistik dan simbolistik itu masih berkembang pada sebagian aktivis Islam pada dua dasawarsa pertama pemerintahan Orde Baru ( kurang lebih pada 1967-1987).

Hubungan agama dan negara pada masa ini dikenal dengan antagonistik, di mana negara betul-betul mencurigai Islam sebagai kekuatan potensial dalam menandingi eksistensi negara. Di sisi lain, umat Islam sendiri pada masa itu memiliki ghirah atau semangat yang tinggi untuk mewujudkan Islam sebagai sumber ideologi dalam menjalankan pemerintahan

Hubungan Agama dan Negara yang bersifat Akomodatif

Maksud hubungan akomodatif adalah sifat hubungan dimana negara dan agama satu sama lain saling mengisi bahkan ada kecenderungan memiliki kesamaan untuk mengurangi konflik ( M. Imam Aziz et.al.,1993: 105).

Pemerintah menyadari bahwa umat islam merupakan kekuatan politik yang potensial, sehingga Negara mengakomodasi islam.Jika islam ditempatkan sebagai out-side Negara maka konflik akan sulit dihindari yang akhirnya akan mempengaruhi NKRI. Sejak pertengahan tahun 1980-an, ada indikasi bahwa hubungan antara Islam dan negara mulai mencair, menjadi lebih akomodatif dan integratif.

Hal ini ditandai dengan semakin dilonggarkannya wacana politik Islam serta dirumuskannya sejumlah kebijakan yang dianggap positif oleh sebagian (besar) masyarakat Islam. Kebijakan-kebijakan itu berspektrum luas, ada yang bersifat:

  1. Struktural , yaitu dengan semakin terbukanya kesempatan bagi para aktivis Islam untuk terintegrasikan ke dalam Negara.
  2. Legislatif , misalnya disahkannya sejumlah undang-undang yang dinilai akomodatif terhadap kepentingan Islam.
  3. Infrastruktur, yaitu dengan semakin tersedianya infrastruktur-infrastruktur yang diperlukan umat Islam dalam menjalankan “tugas-tugas” keagamaan.
  4. Kultural, misalnya menyangkut akomodasi Negara terhadap islam yaitu menggunakan idiom-idiom perbendaharaan bahasa pranata ideologis maupun politik negara.

Maka dengan semakin akomodatifnya negara terhadap agama Islam saat ini, kurang pas pernyataan Prof. Azyumardi Azra yang menanggapi banyaknya ulama yang ikut cawapres dengan mengatakan “Ini kan tugas negara tidak hanya bisa diselesaikan dengan soal fiqih. Dengan ilmu agama tidak,”.

Ulama berhak dan pantas menjadi pemimpin. Mari simak firman Allah azza wa jalla dalam QS. An Nisaa ayat 59 (artinya): “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kalian…”

Siapakah ulul amri dalam ayat tersebut?

Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhuma, Jabir bin Abdullah radhiyallahu anhuma, Hasan Al Bashri rahimahullah, Mujahid bin Jabr rahimahullah, dll mengatakan, “Ulul Amri adalah para fuqaha (ahli fikih) dan ulama yang mengajarkan manusia rambu-rambu agama mereka…” [Lihat Tafsir Al Baghawi: 2/239].

Ahli sejarah muslim Indonesia, Ahmad Mansyur Suryanegara lewat bukunya ‘Api Sejarah’ telah membuktikan bahwa para kiyai dan kaum santri adalah orang-orang yang paling berjasa membela Negara Indonesia dari serangan penjajah kafir dan mengupayakan kemerdekaan Indonesia tercinta.

Ulama di Indonesia rata rata pernah mengenyam pendidikan di Pesantren. Pesantren ibarat miniatur dari sebuah negara yang diatur dengan cara-cara Islam, ia adalah biah islamiyyah almushaggarah yaitu lingkungan islam dalam lingkup yang kecil dimana semua kegiatann santri dari makan sampai tidur kembali di atur dan dibuatkan peraturan-peraturan serta ada sangsi bagi santri yang melanggar peraturan tersebut.

Semua kegiatan negara dalam lingkup kecil sudah ada disana, baik kepemimpinan, ekonomi dan musyawarah. Sehingga para santri punya kemampuan dalam mengelola kehidupan diri sendiri dan orang lain. Mereka pun belajar ilmu kepemimpinan dan siyasah Islamiyyah atau politik Islam, bukan hanya ilmu fiqih saja.

Sumber:

https://ahmadbinhanbal.wordpress.com/2010/11/07/mengurus-negara-ala-pesantren/

https://ahmadbinhanbal.wordpress.com/2017/10/02/peradilan-agama-dalam-wadah-negara-pancasila-dialog-tentang-ruupa/

https://nasional.tempo.co/read/1114413/azyumardi-azra-negara-tak-bisa-diselesaikan-dengan-ilmu-agama

Mengapa Penduduk Iran Menjadi Syiah?


Pictures-Of-Holy-Shrine-Of-Imam-Hussain-970x475

Islam masuk di Iran saat khalifah kedua Umar bin Khattab berkuasa, namun kini kebanyakan penduduk Iran memiliki faham Syiah. Di artikel terdahulu pernah saya sebutkan salah satu alasan kenapa orang Iran dapat dengan mudah menjadi Syiah yaitu Pernikahan Imam Husain as dengan Syahrabanu, putri Yazdgird ke-3, raja Sasanid terakhir.

Kajian lebih lanjut menyebutkan faktor-faktor lain sebagaimana disebutkan dalam dialog antara Muhammad Al-Musyawi dan Al-Hafidz Muhammad Rasyid di Peshawar dengan beberapa poin berikut:

  1. Ketiadaan fanatisme kebangsaan, kepentingan kelompok dan motif kesukuan pada orang Persia. Mereka tidak terikat pada satu kabilah dan mereka menemukan hal ini pada diri Ali bin Abi Thalib.
  2. Kerasionalan mencegah mereka bersikap fanatif dan taklid buta.
  3. Ali bin Abi Thalib mengetahui hak setiap orang dan hak tawanan dalam Islam.
  4. Semacam ada keterikatan khusus penduduk Iran dengan Salman Al-Farisi yang merupakan anggota keluarga mereka. Karena keislaman Salman yang mengagumkan dan kedudukannya yang mulia di sisi Nabi saw., ia dianggap sebagai bagian dari ahlulbait.

Dialog yang lain adalah antara seorang Zoroaster dengan Alim Syiah tentang masalah ini dengan beberapa poin berikut:

  1. Pada pertengahan pertama abad ke-1 Hijriah, rakyat Iran memang sedang haus dengan datangnya pemerintahan baru yang adil dan benar. Oleh karena itu dengan kedatangan Islam mereka begitu menyambut dengan penuh kegembiraan. Salman Alfarisi memiliki peran utama dalam hal ini. Ia menjadikan Madain, ibu kota pemerintahan Sasanid waktu itu, sebagai pusat dakwah penyebaran Islam di Persia. Salman mempelajari Islam dari Ali as, dan Ali as dari Rasulullah saw. Yang mana ajaran tersebut adalah ajaran Syiah. Lalu orang-orang Persia pun mempelajari Islam dari Salman Al Farisi; demikian jalurnya.
  2. Pemerintahan Islam di masa kekhalifahan Imam Ali as berpusat di Kufah, sebuah kota yang mana orang-orang Persia sering berlalu lalang di sana. Keadilan dan kecintaan beliau kepada rakyat menarik perhatian orang-orang Persia saat itu dan tentunya menjadi faktor mereka mau memeluk Islam.
  3. Kebangkitan Imam Husain as yang dikenal dengan peristiwa Karbala. Amarah umat Islam yang sebenarnya pasca terbunuhnya Imam Husain as membuat berita tragis itu tersebar ke mana-mana, hingga ke telinga Muslimin (dan juga selainnya) di Persia. Berita mengejutkan tersebut membuat mereka bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi, dan menggiring mereka mengenal Syiah.
  4. Masa keemasan para Imam di jaman Imam Shadiq as sangat memukau. Beliau sampai memiliki lebih dari empat ribu murid, yang setiap dari mereka adalah penyebar ajaran Islam. Yang tentunya memiliki peran istimewa tersebarnya faham Syiah di Iran.
  5. Qom adalah tempat aman bagi para imigran Syiah Iraq yang datang ke Iran. Oleh karena itu keberadaan kota suci Qom juga memiliki peran penting tersebarnya faham Syiah di Iran.
  6. Diasingkannya Imam Ridha as dari Madinah ke Khurasan (sebuah propinsi di Iran) juga menjadi faktor penting dalam masalah ini.
  7. Kedatangan para pecinta Imam Ridha as ke Khurasan, yang akhirnya mereka menyebar di Iran, dan menjadi mubaligh yang mengajarkan faham Ahlul Bait.
  8. Lambat laun semakin banyak ulama besar Syiah yang bermunculan, dan mereka membantu tersebarnya faham Syiah ke seluruh penjuru Iran. Mereka misalnya seperti Syaikh Kulaini, Syaikh Thusi, Syaikh Shaduq, Syaikh Mufid.
  9. Pemerintahan dinasti Buwaih (Ali Buwaih) menjadi faktor penting penyebaran Syiah di Iran, yang mana pemerintahan itu adalah pemerintahan Islami Syiah.
  10. Menjadi Syiah-nya Sultan Khoda Bandeh berkat Allamah Hilli di permulaan abad ke-8 Hijriah membuat Syiah semakin dikenal akhirnya diresmikan sebagai mazhab di Iran.
  11. Berdirinya pemerintahan Shafawiyah yang dipengaruhi oleh ulama Syiah di abad ke-10 dan 11 Hijriah.”

Demikian beberapa point bagaimana penduduk Iran menjadi Syiah, kita berdoa agar Allah Swt menjaga negeri ini dari dominasi Syiah. Hal sederhana yang bisa dilakukan adalah dengan menghidupkan pengajaran Ilmu Agama seperti Tajwid, bahasa Arab, Ilmu Al Qur’an, Ilmu Hadits, Tafsir, Fiqih, Tauhid, Akidah, Akhlak, Sirah Nabawiyah, Muamalah, dan sebagainya. Ilmu ini seperti cahaya yang akan menerangi kehidupan insan. Jangan sampai kita tinggalkan mengajarkan ilmu-ilmu ini. Bagi yang tak mendapat guru, belilah buku-buku keislaman, baca, pahami dan amalkan agar tidak terjerumus dalam Syiah karena ‘gelap’ dari ilmu agama.

Salah satu legitimasi yang sering digunakan Syiah untuk menyebarkan ajarannya di Indonesia adalah ‘Fatwa’ Syaikh Mahmud Syaltut tentang Syiah atau Mazhab Ja’fari. Penelitian terbaru menyebutkan bahwa keterangan Syaikh Syaltut bukanlah Fatwa resmi dari Al-Azhar karena itu adalah transkrip obrolan antara Syeikh Mahmud Syaltut dan wartawan (Mahmud Salimah Mandub), 17 Januari dan 5 Februari 1959, yang kemudian dimuat dalam majalah Al-Azhar pada rubrik “Aaraa wa Ahaadits” bukan pada rubrik “Fatwa”, padahal dalam majalah ini ada rubrik khusus mengenai fatwa.

Lebih dari itu, dalam majalah Al-Azhar yang terkait omongan Syeikh Syaltut mengenai Syiah tidak ada ungkapan fatwa; yang ada justru ‘tashrihaat’ (keterangan, penjelasan), ‘taushiyaat’(tausiah atau nasihat), ‘hadits’ (omongan), ‘aaraa’ (pendapat), dan ‘qaraar’ (ketetapan).

Penelitian ini menyimpulkan bahwa yang dimaksud Syeikh Mahmud Syaltut dalam fatwa itu tidak seperti yang dimaksudkan oleh orang Syiah. Yang dimaksud Syeikh Mahmud Syaltut adalah yang sesuai dengan al-Qur`an dan Sunnah. []

Lailatul Qadar diluar Ramadan


Video di atas adalah cuplikan kajian Dai Mesir bernama Khalid Aljundi yang ditayangkan di TV MDC. Khalid menyebutkan pendapat Abu Hanifah yang berbeda dengan pendapat imam mazhab lain yaitu Syafii, Malik dan Ahmad bahwa Lailatul Qadar bisa didapatkan sepanjang tahun, bukan hanya di bulan Ramadan.

Menurut Aljundi, kemuliaan dan berkah Ramadan yang datang untuk manusia akan terus dirasakan selama manusia meyakini dan terus mengikat diri kepada Allah. Bisa jadi seseorang menggunakan malamnya untuk mendekat pada Allah dengan berdoa, taat dan shalat lalu Allah menerima doanya dan merubah hidupnya menjadi lebih baik. Apa saja yang kita lakukan untuk mendekat kepada Allah menjadi Lailatul Qadar baginya.

Pendapat ini memahami bahwa lailatul qadar adalah setiap malam yang bisa mendekatkan diri kita kepada Allah. Malam pendekatan itu tentu tidak hanya terjadi pada bulan Ramadhan, tapi juga bisa terjadi pada bulan lain.

Dalam sebuah hadits disebutkan:

يَتَنَزَّلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ ، مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ ، وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ

“Rahmat Allah turun tiap malam ke dunia hingga tersisa sepertiga malam terakhir. Allah berfirman, ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, akan Kukabulkan; siapa yang meminta kepada-Ku, akan Kuberi; siapa yang mohon ampun kepada-Ku, akan Kuampuni,” (HR Bukhari dan Muslim).

Hadits ini menunjukkan rahmat Allah SWT turun tiap hari, khususnya di pertengahan malam. Sebab itu, dianjurkan memperbanyak ibadah pada pertengahan malam.

Menurut Hamka, manusia bisa memperoleh suasana tentram dan damai, serta terkabulnya doa seperti yang ada pada malam Lailatul Qadar. Beliau mendalilkan ini dengan firman Allah berikut:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلائِكَةُ أَلا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ (٣٠

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.” (Qs. Fusshilat [42]: 30)

Hamka memberikan kesimpulan bahwa suasana Lailatul Qadar pun ada di luar Ramadan. Suasana itu adalah anugerah Ilahi kepada hamba-Nya.

Hamka berpendapat bahwa Amirul Mukminin, Umar bin Khattab mendapat Lailatul Qadr di luar Ramadhan. Pada suatu malam yang kata Hamka menentukan arah hidup manusia yang awalnya benci dan ingin membunuh Rasul berubah memeluk Islam. Umar peroleh usai membaca surah Thaha. Selain Umar, orang shaleh seperti Fudhail bin Iyyadl dan Syeikh Muhammad Jamil Jambek memperoleh anugerah yang nilainya lebih 1000 bulan.

Tentang kisah Fudhail bin Iyadh, Hamka menyebutkan pada malam Qadr itu malaikat hadir membisikkan kebaikan kepadanya, sehingga ia merasa tenang dan damai dalam “pelukan” Tuhan. Malam tersebut merupakan titik awal dari penetapan Allah bagi perjalanan hidupnya yang tadinya buruk menjadi baik.

Maka penulis mengajak untuk tidak berpisah dengan Ramadan, namun nikmatilah sepanjang tahun bersama dan setiap malam adalah Lailatul Qadar. Ramadan bukan sebuah bulan, akan tetapi pola hidup dan awal perubahan. Berikan kesempatan Ramadan untuk hidup bersama sepanjang tahun, sebagaimana firman Allah, “Dan sembahlah Rabb-mu sampai datang kematian kepadamu” (Qs. Al-Hijr: 99)

Sumber:

Hamka, Renungan Tasawuf, 2002, hal 73-76, dan 83.

YouTube

Zakat, Infaq dan Shadaqah untuk Pedalaman Mentawai


Aksi Peduli Bangsa (APB) membuka para donatur siapa saja yang ingin menyisihkan dari penghasilannya untuk diberikan kepada sesama.

Ramadan ini APB menggencarkan ajakan untuk masyarakat dengan ikhlas berdonasi dan menyampaikan ZIS kepada saudara-saudara kita di Pedalaman Mentawai.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, yang dilunakkan hatinya (mualaf), untuk memerdekakan hamba sahaya, untuk membebaskan orang yang berhutang, untuk yang berada di jalan Allah dan untuk orang yang sedang di dalam perjalanan sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Qs. At-Taubah: 60)

Aksi Peduli Bangsa mendapatkan amanah untuk membangun daerah pedalaman di Mentawai yang mana banyak sekali masuk golongan yang mendapatkan zakat yaitu:

🔰 Fakir : Orang yang amat sengsara hidupnya.
💠 Miskin : Orang yang tidak cukup penghidupannya dan dalam keadaan kekurangan.
🔰 Pengurus Zakat: Orang yang diberi tugas untuk mengumpulkan dan membagikan zakat.
💠 Mualaf : Orang kafir yang ada harapan masuk Islam atau orang yang baru masuk Islam yang imannya masih lemah.
🔰 Pada jalan Allah: Yaitu untuk keperluan kaum muslimin seperti masjid, sekolah, perpustakaan, klinik dan infrastruktur.
💠 Orang yang sedang dalam perjalanan : Perjalanan guru masyarakat ke pedalaman dan tim pembangunan.

Ada 6 golongan yang berhak mendapatkan zakat (dari 8 golongan) untuk masyarakat pedalaman Mentawai.

Silahkan menyampaikan ZIS kepada Yayasan Aksi Peduli Bangsa.

Bank Mandiri : 101 00 0971 9590 a.n Yayasan Aksi Peduli Bangsa

Konfirmasi transfer dan donasi ZIS ke:
☎Arifin Jayadiningrat : 0811 940 969 (WA)
☎Jumal Ahmad : 0878 8983 3857 (WA)

Alamat: Jl. Camar XXII Blok BW2/37A Bintaro Jaya 3 Pondok Betung Raya Tangerang Selatan.

Zakat, Infaq dan Shadaqah secara luas punya hikmah yang besar karena menjadi sarana saling membantu, menghilangkan keserakahan dan menciptakan kebaikan untuk semua lapisan.

Berikut faidah ZIS dari segi etika dan sosial

Faidah ZIS dari segi Akhlak dan Etika

  • Menjadikan orang menjadi terpuji, mulia dan dermawan.
  • Menjadikan orang pengasih dan penyayang kepada sesama.
  • Melapangkan dada, menentramkan jiwa dan membuat seseorang dicintai karena telah mendatangkan manfaat buat orang lain.
  • Membersihkan sifat kikir.

Faidah ZIS dari segi Sosial

  • Membantu mencukupi kebutuhan orang miskin yang sudah mewabah di negeri ini.
  • Menguatkan dan meninggikan derajat kaum muslimin dimana zakat merupakan bentuk jihad di jalan Allah.
  • Menghilangkan rasa iri dan dengki di hati orang miskin dan menghilangkan kesenjangan sosial antara kaya dan miskin.
  • Menumbuhkan dan memperbanyak berkah harta.

Mari berdayakan ZIS Kita, Semoga Zakat, Infaq dan Shadaqah anda diterima Allah dan dilipatgandakan.

Link YouTube:

Allah Bersama Orang yang Susah

Dua Waktu Mustajab yang Disia-siakan


Ada dua waktu mustajab untuk berdo’a, dimana do’a tersebut tidak akan ditolak oleh Allah SWT, yaitu berdo’a saat “menjelang berbuka puasa” dan “menjelang makan sahur“,, namun sayang banyak dari kita yang tidak mengetahuinya.

Di Makkah & Madinah, satu jam sebelum adzan maghrib orang-orang sudah menengadahkan tangan ke langit berdo’a untuk kemudahan dari segala urusan, baik urusan dunia maupun akhirat.

Seorang pengusaha di Malaysia membiasakan setiap berbuka di masjid bersama keluarga agar tidak disibukkan dengan makanan berbuka dan fokus dalam berdoa, dan banyak permintaannya diijabahi.

Sementara kita Indonesia sering menyia-nyiakan waktu mustajab ini dengan cara ngabuburit menjelang adzan maghrib!!! Kemudian berkumpul menghadapi hidangan berbuka dan cukup dengan hanya membaca, “Allaahumma lakasumtu… atau dzahaba zhoma’u…“, padahal maknanya hanya berupa laporan dan ucapan syukur.

Waktu Sahur juga waktu mustajab untuk berdoa sebagaimana dijelaskan dalam hadits Qudsi, “Sesungguhnya Allah turun setiap malam ke langit dunia saat seperti tiga malam terakhir, lalu Dia berfirman: Adakah orang yang mau bertaubat sehingga Aku ampuni dia/ Adakah orang yang beristighfar sehingga aku ampuni dia? Adakah orang yang meminta (kepada-Ku) sehingga aku beri permintaannya? Sehingga terbit fajar.”

Setelah kita memahaminya, hendaknya minimal 10 ~ 15 menit sebelum adzan Maghrib dan sebelum adzan Subuh (sudah dalam keadaan berwudhu) kemudian berdo’a meminta apa saja, adabnya dengan didahului puji-pujian kepada Allah dan bershalawat atas Nabi Muhammad SAW.

Mari memanfaatkan waktu untuk berdoa bukan hanya demi santapan atau berburu makanan saat jelang buka dan sahur.

Berdoalah untuk diri kita, keluarga, orangtua, sahabat, negeri. Jangan termakan tipu daya untuk melalaikannya dengan program-program televisi dan media lainnya di waktu yang mustajab.

Sertakan doa untuk saudara kita di Palestina agar diberikan kekuatan dan dimenangkan dalam membela tanah air yang dirampas Zionis.

Sertakan doa kepada umat Islam dimanapun berada agar diberikan kesabaran dan istiqamah dalam mengamalkan Islam.

Semoga Allah memberikan petunjuk kepada kita untuk bisa memanfaatkan kesempatan-kesempatan istimewa di bulan suci ini untuk meraih keberkahan dan pahala besar.

Twitter: @JumalAhmad

Kepekaan Sosial Selama Ramadhan


Bulan Ramadhan merupakan bulan yang penuh berkah bagi umat Islam dan diharapkan dapat menjadi berkah bagi umat lainnya. Di bulan Ramadhan umat Islam memiliki kewajiban menjalankan ibadah puasa. Saat berpuasa ini, selain berusaha meningkatkan keimanan kepada Allah SWT yang sifatnya vertikal, juga harus meningkatkan relasi yang baik dengan sesama manusia. Relasi yang baik dengan sesama manusia menunjukkan relasi yang sifatnya horizontal. Relasi yang baik ini dapat dilakukan dengan meningkatkan kepekaan sosial.

Ibadah puasa memiliki tujuan salah satunya ikut merasakan kesusahan yang dialami oleh orang-orang yang tidak mampu. Kalau kita biasanya sehari-hari menanyakan kepada diri kita sendiri dengan ”besok kita makan apa?” biasanya orang yang tidak mampu akan bertanya kepada diri sendiri ”besok apa makan?”. Dua pertanyaan yang menunjukkan kondisi yang berbeda. Saat puasa, janganlah berlebihan untuk berbuka puasa. Maksudnya, memang seharian berpuasa dan janganlah alasan berpuasa ini membuat kita berbuka dengan berlebihan. Biasanya yang tidak ada menjadi diada-adakan untuk berbuka. Kalau ini terjadi maka bukan belajar empati merasakan kondisi orang tidak mampu tetapi malah menjadi konsumtif dan pemborosan. Kalau seperti ini, dan orang miskin mengetahuinya bagaimana perasaan mereka.

Mungkin kita yang mampu akan makan dengan nikmat tetapi yang miskin tetap saja seperti biasanya buka seadanya kalau ada yang dipakai berbuka, namun kalau tidak ada yang dibuat berbuka yang tidak makan. Inikah kepekaan sosial yang diajarkan di dalam bulan Ramadhan?. Bukan jawabnya.

Kepekaan sosial dapat dilatih dengan tidak berlebihan saat buka dan berbagi dengan yang membutuhkan dengan acara buka bersama atau berbagi makanan untuk berbuka.

Orang yang berpuasa juga dilatih untuk memiliki kepekaan sosial terhadap orang yang tidak berpuasa. Saat orang yang tidak berpuasa akan makan atau minum harus toleransi karena itu kebutuhan hidup. Jangan merasa itu sebagai bentuk ejekan atau kesengajaan. Memang ada yang sengaja, namun jadikanlah itu sebagai bentuk pelatihan diri sehingga ibadah puasa yang dijalankan terlihat perjuangan dan kebermaknaannya.

Terkait dengan perilaku Israf atau pemborosan, saya mengutip ceramah Dr. Faizah yang merupakan salah satu ahli edukasi di Ummul Qura yang saya ambil dari blog Sinta Yudisia . Beliau suatu hari memberikan ceramah di hadapan para mahasiswa Arab, Indonesia, dan mahasiswa berbagai belahan dunia yang lain.

“Dahulu, kafilah haji Indonesia adalah kafilah terkaya. Tidak ada peziarah yang lebih kaya dari kafilah Indonesia. Mereka memakai alat tukar emas! Setiap kali bertransaksi, orang-orang Indonesia menggunakan emas,” jelas duktur Faizah. “Tetapi sekarang lihatlah, orang Indonesia menjadi pembantu di negeri kita. Wahai kalian mahasiswa Arab, belajarlah dari Indonesia!

Kalau kalian tidak belajar, bisa jadi anak cucu kalian akan berbalik, menjadi pembantu di Indonesia. Apakah kalian tahu, apa yang menyebabkan Indonesia bangkrut seperti sekarang?”

Para mahasiswa menanti dengan tegang, tenang, hening, hanyut dalam irama nasihat duktur Faizah.

Duktur Faizah melanjutkan, “Israf. Bersikap berlebih-lebihan. Itulah yang membuat Indonesia bangkrut. Lihat orang Arab sekarang, beli baju satu, lalu dibuang tak dipakai lagi.”

Mengutip nasihat Said Nursi dalam buku Ramadan, Iqtishad dan Syukur bahwa Israf melahirkan sifat tidak qana’ah dan tamak. Tamak mampu memadamkan semangat dan kesungguhan berbuat baik dan mencampakkan seseorang dalam sifat malas dan bernanti nanti, membuka pintu keluh kesah dan kekecewaan dalam kehidupan. Dan Qana’ah akan membangkitkan semangat berusaha dan bekerja.

Mungkin video pendek yang saya buat tentang ‘Allah Bersama Orang yang Susah’ berikut bisa menyadarkan kita, ada saudara kita yang layak dibantu.

Mari kita kurangi konsumsi berlebih (Israf), bukan karena kita tidak berdaya, bukan karena tidak punya, tapi karena kita mampu mengendalikan diri kita sendiri.

Twitter: @JumalAhmad

Puasa dan Seruan Membangun Kepedulian Sosial


Puasa adalah ibadah universal. Hal ini diisyaratkan Al-Quran, “Wahai sekalian orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwawjibkan kepada orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”. (Qs. Al-Baqarah: 183)

Ayat di atas mengisyaratkan bahwa puasa sudah disyariatkan kepada umat-umat sebelum Nabi Muhammad SAW. Universalisme ibadah puasa terekam dalam sejarah yang mencatat ragam ritual puasa di berbagai masyarakat. Misalnya, pada kaum Al-Shabi’un dan para pengikut Al-Munawiyyun sebuah komunitas keagamaan kuno di Timur Tengah. Samirah Sayyid Al-Bayumi, tokoh fiqih kontemporer Mesir menyebutkan beberapa contoh puasa para Nabi dan Rasul sebelumnya, 1) Nabi Nuh berpuasa sepanjang tahun, 2) Nabi Daud berpuasa sehari dan berbuka sehari, 3) Nabi Isa berpuasa sehari dan berbuka dua hari atau lebih.

Fakta di atas sekaligus mengisyaratkan bahwa puasa merupakan mata rantai estafet agama-agama. Dalam konteks Islam, puasa menjadi bukti bahwa Islam merupakan penyempurna agama-agama sebelumnya dan estafet peran para Nabi dan Rasul berjalan sepanjang sejarah manusia.

Puasa merupakan ibadah universal melintasi tradisi, agama dan kurun. Meski demikian, puasa yang disyariatkan kepada umat Islam tidak serupa dengan yang dipraktikkan masyarakat lainnya. Perbedaan pelaksanaan puasa tidak lantas menutup bertemunya nilai universal puasa sebagai simpul memperbaiki diri dan masyarakat.

Makna Teologis dan Sosiologis

Agama Islam bukan ajaran yang hanya mengurusi soal-soal vertikal berhubungan dengan Tuhan. Agama adalah perangkat aturan Tuhan untuk mengurusi persoalan-persoalan manusiawi. Islam diturunkan dengan misi menjaga kelestarian manusia (hifdzu an-nas), demikian juga puasa tidak hanya memiliki fungsi vertikal (hablun minallah), tetapi juga fungsi horizontal (hablun minannas).

Makna sosiologis ini kerap luput dari pemahaman. Padahal kondisi masyarakat yang dirundung persoalan sosial, kemiskinan sampai krisi lingkungan hidup, kesadaran sosiologis ibadah puasa sangat dibutuhkan.

Capaian tertinggi puasa adalah taqwa. Namun, capaian ini tidak bermakna jika secara sosiologis tidak berdampak positif yang terkait dengan relasi atau hubungan antarmanusia. Persoalan sosial yang bermunculan hakikatnya bermuara dari tidak mampunya manusia menjalani perannya sebagai individu maupun makhluk sosial.

Maka puasa hendaknya sanggup mentransformasikan dimensi teologis ke dalam dimensi sosiologis agara prestasi Taqwa dapat dimanifestasikan secara moral dan etik dalam kehidupan sosial. Ibadah puasa memang menjadi hak Tuhan, namun dalam konsekuensi moralnya menjadi tanggung jawab manusia dalam relasinya dengan manusia lain (keshalihan sosial).

Dalam ranah sosial, puasa harus menjadikan pelakunya tergerak dan berempati memberantas kemiskinan, memiliki solidaritas terhadap sesama yang masih berkekurangan. Tanpa kesadaran seperti ini, puasa hanya menjadi ritual yang berbuah haus dan lapar. Puasa harus memberi motivasi kepad pelakunya untuk mengendalikan keinginan dan kepentingan individu. Sikap ini merupakan konsekuensi dari konsepsi Tauhid, yakni penolakan pada segala bentuk ketidakadilan, baik individual maupun sosial.

Puasa lebih identik dengan pengendalian pada persoalan yang bersifat teologis dan vertikal saja. Padahal antara makna teologis dan sosiologis memiliki prinsip yang sama: pengendalian diri. Secara teologis yang dikendalikan adalah hawa nafsu yang abstrak. Adapun secara sosiologis yang dikendalikan adalah kepentingan atau hawa nafsu yang konkret.

Terkait dengan ajakan membantu sesama, saya mengajak pembaca untuk membantu saudara kita di Pedalaman Mentawai lewat program bantuan Pakaian layak pakai untuk Pedalaman Mentawai. Meskipun sudah lebih dari 70 tahun merdeka, masih ada saudara sebangsa yang hidup dalam kekurangan, termasuk akses pakaian yang layak. Oleh karena itu Yayasan Aksi Peduli Bangsa berinisiatif mengumpulkan pakaian dari Jakarta kemudian melansirnya ke Siberut Selatan tepatnya desa Muntei dimana terdapat posko APB disana. Dari tempat ini kemudian Pakaian layak pakai disebarkan secara gratis ke daerah terpencil di Kepulauan Mentawai.

Silahkan simak keterangan lengkap programnya di flyer berikut.

%d bloggers like this: