Sayyidina Ali ra, Peletak Dasar Ilmu Nahwu


islam-1663703_960_720

source: pixabay

Sebelumnya kami pernah menulis beberapa biografi Ahli Nahwu terkenal yaitu Sibawaih dan Quthrub. Kali ini kami akan mengetengahkan profil Imam Ali sebagai peletak dasar prinsip-prinsip ilmu nahwu.

Bagaimana proses Sayyidina Ali dalam merumuskan prinsip-prinsip ilmu ini? Sebagaimana diketahui dalam sejarah kita, Imam Ali adalah sepupu dan hidup lekat dengan keseharian Rasulullah. Karena itu, dasar-dasar kenahwuan yang beliau punya diperoleh langsung dari madrasah al-Qur’an dan Sunnah nabawiyah sebab beliau adalah pihak yang mengetahui dengan apa, dimana, dan bagaimana wahyu ini diturunkan kepada Rasulullah secara persis. Ali juga mengetahui betul bagaimana Rasulullah melafalkan kitab suci ini.

Al-Qafti dalam Inbah al-Ruwwat (Vol. I, h. 39) mengutip kesaksian al-Duali ketika bertamu ke Imam Ali. Ketika masuk ke kediaman Sayyidina Ali, al-Duali melihat beliau sedang merenung. Lalu al-Duali memberanikan diri untuk bertanya: “wahai pemimpin orang yang beriman, apa yang anda pikirkan?” Imam Ali menjawab: “Saya dengar bahwa di daerahmu ada pembacaan al-Qur’an yang seperti demikian, karenanya saya bermaksud menuliskan kitab yang berisi dasar-dasar ilmu bahasa Arab.”

Lalu Al-Duali menjawab: ”Jika engkau Amirul Mukminin melakukan hal ini maka itu akan sungguh-sungguh menghidupkan kita dan juga mengekalkan bahasa itu –bahasa al-Qur’an—dengan kita.” Dialog itu terhenti sampai beberapa hari kemudian al-Duali berkunjung kembali ke kediaman Ali dan sudah menemukan lembaran karangan tersebut.

Lembaran itu secara bebas bisa diterjemahkan sebagai berikut: “Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang, kalam (untung gampangya saja, saya terjemahkan diskursus, meskipun bahasa Arab modern sering menggunakan al–khitab atau al-qadhaya) itu terdiri dari ismun (nama-nama benda), fi’lun (jenis aktivitas), dan harfun (huruf, di luar ismun dan fi’lun). Adapun ismun –sebut isim– itu adalah yang muncul dari sesuatu benda yang dinamai (al-musamma), fi’lun –sebut fi’il— itu adalah sesuatu yang yang muncul dari pergerakan benda-benda yang dinamai tersebut, dan sementara harfun –sebut huruf–adalah sesuatu yang muncul dari makna yang tidak bisa masuk ke dalam kategori isim dan fi’il.

Lalu Imam Ali berkata kepadaku –al-Duali—ikutlah aturan itu, tambahkan di dalamnya sesuatu yang terjadi padamu dan ingatlah Abu al-Aswad bahwa al-asma’ (nama-nama) itu terdiri dari tiga hal: yang lahir, yang tersamar, dan sesuatu yang berada di antara kategori lahir dan tersamar.”

Masih banyak versi riwayat tentang interaksi antara Imam Ali dan al-Duali yang bisa kita temukan di kitab-kitab besar lainnya seperti dalam al-Aghani karya al-Isbahani, al-Maraatib al-Lughawiyyin karya Abu Tayyib al-Lughawi, dan al-Fahrasat karya Abu Nadiim.

Dan inilah semuanya yang menjadi ungkapan pertama tentang ilmu Nahwu yang sekarang kerumitan teorinya kita bisa temukan di dalam karangan-karangan yang panjang.

Sumber:

Ngaji Nahwu Oleh Kyai Syafiq Hasyim

Tentang Adab Dalam Berbeda Pendapat


seri keduanya disini

Selesai menyimak ceramah KH Hasyim Muzadi, mari menyimak juga kisah Imam Syafi’i dan muridnya.

Suatu hari salah satu murid Imam Syafie yaitu Yunus bin Abd Ala berbeda pendapat dengan Imam Syafie (Muhammad Idris As-Syafi’i)  saat belajar di Masjid. Lalu ia marah dan meninggalkan pelajaran kembali ke rumahnya.

Tibalah malam hari lalu Yunus mendengar ketokan pintu di rumahnya. Bertanyalah Yunus “Siapakah gerangan yang mengetok pintu?”

Pengetuk pintu menjawab “Saya Muhammad bin Idris, Yunus bercerita “Aku berpikir bahwa tidak ada yang bernama Muhammad bin Idris selain Imam Syafi’i. Dan aku terkejut..saat aku buka pintu maka kulihat ternyata benar Imam Syafi’i.

Beliau berkata

“Wahai Yunus kita sering sepaham bersatu dalam banyak masalah lalu kenapa menjadi pecah hanya karena satu masalah.

Wahai Yunus! Jangan kamu perjuangkan agar kamu menang dalam segala perbedaan pendapat, kadang kemenangan HATI lebih mulia dan penting daripada kemenangan sikap berpendapat.

Wahai Yunus! Jangan engkau hancurkan bangunan jembatan yang telah engkau bangun dan lewati. Kadang kamu membutuhkan saat kamu kembali. Kalaupun ada kesalahan bencilah kepada kesalahan Jangan benci kepada yang berbuat kesalahan. Ingkari hati terhadap kemaksiatan tapi maafkan dan sayanglah kepada orang yang berbuat kemaksiatan

Wahai Yunus kritiklah esensi perkataan (pendapat) tapi hormatilah yang bicara. Tugas kita adalah mengobati penyakit, memerangi penyakit bukan memerangi orang sakit.”

Sekian.
Terima kasih

Klinik Bacaan Al-Fatihah


Bacaan Al-Fatihah sangat penting sehingga Imam Abu Hanifah pernah menyatakan: “Aku sanggup membayar 500 dirham kepada sesiapa yang boleh mengajar bacaan surah al Fatihah dengan betul.”

Dalam 1 hari kita shalat 5 kali, dan membaca  surat Al-Fatihah sebanyak 17 kali.

Bacaan al Fatihah yang tidak benar akan memberikan masalah pada kualitas shalat anda.

Dalam sebuah hadis dinyatakan:

أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ الصَّلاَةُ

Amalan yang pertama akan diaudit di akhirat nanti adalah solat.


Jika baik shalat anda, akan baiklah seluruh amalan anda. Jika shalat anda bermasalah, akan bermasalah seluruh amalan anda. 
Membaca surat Al-Fatihah tanpa diperdengarkan pada guru yang mahir bisa membawa kepada bacaan yang tidak sempurna.

  • Bagaimana bacaan surat Al-Fatihah anda?
  • Sudahkah anda memperdengarkan bacaan anda kepada pakar Al-Quran?

Alfatihah Center (AFC) siap membantu anda. Luangkan waktu tidak kurang dari 3 menit membaca Al-Fatihah dan kemudian disetorkan kepada tim AFC. Dalam waktu 5 sampai 8 hari anda sudah bisa mendapatkan “Raport Alfatihah” sebagi lembar hasil penilaian awal bacaan anda. 

AFC didukung dengan teknologi yang sudah bagus, mengumpulkan lebih dari 500 kesalahan dalam Al-Fatihah dan juga Asesor yang terpilih dan terakhir adalah QC dari Ust Furqan Alfaruqy yang sudah mendapatkan sanad bacaan Qiraah Hafs dari riwayat As-Syatibiyyah. 

Jangan sia siakan kesempatan ini. Cara untuk ikut serta bisa dilihat di flyer berikut. 

Keterangan lebih lengkap bisa anda kunjungi alfatihahcenter.org 

Sikap Hidup


Seorang bapak dan ibu di desa Adipuro

Data tahun 2010 dari Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama RI, yaitu dari 2 juta orang nikah setiap tahun se-Indonesia, maka ada 285.184 perkara yang berakhir dengan percerain per tahun se-Indonesia. Jadi tren perceraian di Indonesia semakin meningkat dari tahun ke tahun.

Adapun faktor perceraian disebabkan banyak hal, mulai dari selingkuh, ketidak harmonisan, sampai karena persoalan ekonomi. 

Faktor ekonomi merupakan penyebab terbanyak dan yang unik adalah 70 % yang mengajukan cerai adalah istri, dengan alasan suami tidak bisa memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. (sumber: kompasiana

Ternyata salah satu faktor utama penyebab perceraian di Indonesia adalah masalah ekonomi.

Apa yang terbayang saat mendengar istilah ‘masalah ekonomi?’ Sering kali yang tergambar adalah kekurangan uang atau kekurangan fasilitas hidup.

Benarkah demikian? Jika seperti itu gambaran tentang ‘masalah ekonomi’, maka pertanyaan berikutnya adalah : apakah hanya orang miskin saja yang bercerai? Adakah orang kaya yang bercerai?

Realitasnya banyak juga orang kaya raya yang bermasalah keluarganya hingga level bercerai. Jadi, apakah masalah ekonomi itu?

Hal ini lebih banyak soal sikap hidup. Bukan saja soal realitas berapa banyak atau berapa sedikit uang yang mereka miliki. Namun lebih kepada bagaimana mereka mensikapi.

Sebagai orang beriman, seharusnya sikap hidupnya selalu positif.  Rasulullah Saw bersabda:

عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin.

Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya”. (Hadits sahih diriwayatkan oleh Muslim, no. 2999 dari Abu Yahya Shuhaib bin Sinan ra) 

Hal ini menandakan pentingnya sikap hidup positif dalam kehidupan. Jika memiliki sikap hidup positif, akan selalu bisa melihat segala sesuatu secara positif.

Jika mendapat kekayaan dan kecukupan ekonomi, mampu bersyukur. Jika mengalami kekurangan dan kemiskinan, mampu bersabar. Semua akan berakhir baik.

Namun jika sikap hidupnya negatif, kekayaan dan kemiskinan sama-sama bisa menjerumuskan ke dalam kehancuran.

Menghadapi hidup yang serba kekurangan namun tetap dalam kesabaran, saya ingin mengajak pembaca melihat kehidupan di desa, khususnya desa tempat saya dilahirkan.

Saya lahir di desa Prampelan, Adipuro, Kaliangkrik, Magelang Jawa Tengah, tempat yang jauh dari keriuhan dan kebisingan kota. 
Di tengah kehidupan desa yang asri saya menemukan kedamaian dan kehidupan yang harmonis, hubungan suami istripun langgeng tanpa ada masalah yang membuat mereka mudah mengeluarkan kata cerai. 

Setelah merenungi sejenak, ada beberapa hal yang membuat kehidupan pasutri di desa saya khususnya lebih awet. 

  • Di desa saya, seorang perempuan selalu mendapatkan nasehat dari orang tua untuk mentaati suami. Ada peribahasa dalam bahasa jawa, surga manut neraka katut
  • Gaya hidup orang desa menerima apa adanya, tidak menuntut, yang penting kebutuhan pokok terpenuhi. Terkadang kebutuhan yang menurut orang kota kurang, menurut orang desa sudah cukup. 
  • Syukur dan sabar dalam menghadapi hidup. 
  • Susah dan senang dirasakan bersama. 

Sedikit ingin menceritakan kisah pernikahan saya. Sudah cukup lama tinggal di Jakarta, maka orang banyak mengira bahwa jodoh saya nanti dari orang Jakarta atau Sunda, tetapi ternyata tidak, jodoh yang menjadi istri saya sekarang dari desa saya sendiri, Adipuro Kaliangkrik Magelang. 

Alhamdulillah, saya bahagia menikah dengan dia, karena dia memiliki akhlak yang baik dan karakter orang desa yang masih belum hilang. Selain itu, dia gigih dan mempunyai growth mindset yang bagus. 

Ketika awal menikah, saya selalu mengingat ingat kisah pernikahan Imam Ahmad bin Hanbal yang layak menjadi percontohan. Nah, berikut ini kisah bagaimana beliau menikah. 

 Ketika Imam Ahmad bin Hanbal menyelesaikan pendidikannya ia memutuskan untuk menjadi Imam atau Syeikh dari mesjid dan ia juga ingin menikah saat itu.

Maka Imam berkata kepada Bibinya “pergi ke keluarga Fulan bin fulan, aku mendengar kabar bahwa keluarga mereka shaleh, dan lihat bagaimana kedua putri mereka, lihat rupa dan agama mereka, lalu ceritakan kepadaku agar aku bisa menikahi mereka jika mereka baik.

Saat bibinya kembali dari keluarga fulan bin fulan  lalu bercerita kepada Imam Ahmad bin Hanbal, bibinyapun terlihat kagum pada kedua putri mereka. Bibinya bercerita “Allahuakbar adiknya mempunyai mata hitam yang indah, bulu  matanya masyaAllah, rambutnya panjang dan berombak, dan kulitnya pun putih bersih” bibinya terus-terusan memuji putri kedua keluarga fulan.

Ahmad bin Hanbal hanya mendengarkan, lalu berkata “bagaimana dengan kakaknya?” bibinya berkata “oh’ jangan yang itu,  rambutnya jelek dan keriting, kulitnya pun hitam” seolah bibinya menyarankan jangan memilih kakaknya. Lalu Ahmad bin Hanbal berkata lagi “bagaimana dengan agamanya dan ketaatannya?” bibinya bertkata “oh tentu kakanya lebih shaleh,  aku ingin menikahinya” sahut Imam Ahmad.

Imam Ahmad pun menikahi kakaknya, dan setelah 20 tahun menikah istrinya pun meninggal, Imam Ahmad menguburkannya, dan didekat kuburnya Imam Ahmad berkata “Semoga Allah merahmati Umm Salih, tidak sekalipun ia menentangku, dia tidak pernah sekalipun membuatku marah dan membuatku kesal.” Selesai. 

Demikian juga saya dengan istri sekarang, alhamdulillah dia seorang istri yang taat, mau menerima keadaan dengan hidup sederhana, tidak banyak menuntut, bahkan ketika saya sampaikan keinginan untuk melanjutkan kuliaj S2, dengan senang hati dia mendukung sepenuh jiwa. 

Sekian. 

Info Edukasi Al-Fatihah Center (AFC) 


TAHUKAH ANDA?
Ditemukan Lebih Dari 500 Kesalahan Membaca Al-Fatihah.

Setelah bertahun-tahun  membuka Halaqah Talaqqi Al-Qur’an dan Bengkel al-Fatihah (kemudian menjadi AFC) bersama Ust. Furqan Alfaruqiy (Pusat Dakwah Al-Qur’an), telah ditemukan lebih dari 500 kesalahan membaca Isti’adzah dan al-Fatihah.
Kesalahan yang sangat banyak tersebut dibagi menjadi:

  • (1) Kesalahan Mayor, atau Lahn al-Jali; dan
  • (2) Kesalahan Minor, atau Lahn al-Khafi.

Beragam profesi dan tingkat keilmuan dari para pembaca al-Fatihah yg salah baca tersebut. Mulai dari orang kebanyakan, muslim abangan, jamaah masjid/pengajian, hingga tingkat tokoh, aktivis dakwah, ustadz, da’i, dan para imam masjid.

Info lengkapnya bisa dibaca di selebaran elektronik berikut.

Anda dapat bergabung dan menyetorkan Al-Fatihah dari mana saja. Sebab, Anda akan beramal dengan dukungan teknologi informasi dan komunikasi terkini yaitu hanya dengan menggunakan WhatApp yang hari ini sudah dipakai masyarakat dari kota sampai desa.

Lalu bagaimana Caranya?

PRAKTIS, MUDAH & GRATIS

1. Rekam suara Anda pada smartphone Anda (via voice recording atau sejenisnya), yang memuat:

Nama#Kota Domisili#Nama Organisasi/Perusahaan (jika ada)#No WhatsApp

Contoh: Ahmad#Jakarta#PT XYZ#082……dst.

Pastikan no kontak yang Anda rekam tidak salah.

2. Setelah informasi di atas, rekaman dilanjutkan dengan bacaan:

Isti’adzah(ta’awwudz)#Surah al-Fatihah#Kalimat Ta’min (mengucapkan: Aamiin!)

3.Kirim rekaman suara Anda (yang disebutkan butir 1 dan 2 ) melalui pesan whatsapp (WA) ke salah satu dari 3 nomor berikut ini:

  1. AFC1, no WA: +62 812 950 52332
  2. AFC2, no WA: +62 815 742 22363
  3. AFC3, no WA: +62 878 842 94242

Guna mengoreksi bacaan Alfatihah, sudah dibentuk tim Asesor yang sudah dinyatakan bagus bacaan sesuai standar yang ditetapkan. Asesor ini nanti akan mengoreksi bacaan peserta dengan bantuan aplikasi Alfatihah Center.

Program Al-Fatihah Center ini sangat menjunjung tinggi prifasi peserta, ketika ada suara masuk ke admin AFC 1-3 oleh admin suara dibagi 2, bagian data diri dan bacaan dipisah. Data diri disimpan di database dan suara bacaan dikirimkan ke asesor.

Asesor hanya menerima file suara dan kode peserta yang diberikan sehingga asesor tidak tahu ini suara siapa. Dengan sistem seperti ini prifasi peserta sangat terjaga.

Dari Asesor, bacaan isti’adzah dan al-fatihah naik lagi untuk dikoreksi oleh QC (Quality Control) yang benar benar dipegang oleh orang yang mumpuni dalam bidang bacaan dan sesuai qiraah Hafs yang menjadi standar AFC. Sampai saat ini QC masih dipegang oleh Ust Furqan Al-Faruqy langsung.

Setelah 2-3 hari peserta AFC akan menerima laporan “Raport Surat Al-Fatihah” dari pusat PDA dalam bentuk pdf ke nomor WA yang sudah dikirmkan. Orang lain bahkan asesor tidak akan tahu nilai yang diberikan selama peserta tidak memberitahukan kepada yang lain.

Berikut ini contoh lembaran Raport atau LHPA (Lembar Hasik Penilaian Awal).

Raport ini berisi. 

  • Pengantar tentang pentingnya menghafal Al-Quran dengan benar.
  • Urgensi membaca surat Al-Fatihah dengan benar.
  • Kesalahan (lahn) dalam membaca Al-Quran.
  • Standar bacaan Al-Quran
  • Petunjuk membaca LHPA
  • Teks Isti’adzah
  • Teks Al-Fatihah cetakan Indonesia dan Madinah.
  • Hasil penilaian bacaan.
  • Catatan dan terakhir
  • Nama huruf hijaiyah berserta cara membaca dan transliterasinya.

Kesan pertama ketika mendapatkan LHPA ini, saya takjub dengan pengantar yang lengkap dan laporan teliti dan jeli, setiap kesalahan ditulis dan diberikan catatan untuk perbaikan.

Semoga yang membaca postingan ini dapat tergerak untuk ikut menyetorkan bacaan Al-Fatihah-nya di AFC kemudian mengajak orang terdekat untuk ikut serta.

Silahkan, bantu kami memviralkan informasi berharga ini. Jika ada pertanyaan terkait program AFC ini bisa ditanyakan di laman komentar ini atau ke nomor sekretariat berikut: Galuh Lukmana +62 896 3741 0323

Hari Runtuhnya Khilafah Islam



Hari ini tanggal 3 Maret 2017, dunia menganggap, telah genap 93  tahun kaum Muslimin hidup tanpa naungan sentral kepemimpinan, sejak jatuhnya Dinasti Turki Ustmani, 3 Maret 1924. 

3 Maret menjadi hari yang menyedihkan daripada tanggal 4 Januari ketika Andalusia jatuh dan 10 Februari ketika kota Baghdad jatuh. 

Kita bersedih dengan peristiwa yang dialami saudara kita di Suriah, Iraq, Palestina, Burma, namun tetap, runtuhnya khilafah adalah kesedihan yang mendalam dari itu semua. 

Setelah berlalu 93 tahun, kita masih menangisi dan terus bertanya kapankah khilafah akan kembali lagi? 

Ketika Kampanye Hitam Terhadap Ulama Gagal


Dalam bersikap dan bertindak manusia seringkali melakukan berlandaskan asaa kognitif dengan memanggil ulang informasi yang sudah didapat. 

Bagaimana orang tua menghadapi anak anak, dengan mengulang peristiqa yang pernah dialami sendiri oleh anak anak. 

Memanggil ulang informasi, bisa membantu mengatasi masalah tersebut. 

Ingatan tentang ulama sudah kita miliki bertahun tahun bahkan puluhan tahun. 

Dalam ingatan kita selalu terbayang bahwa para ulama adalah. 

Mereka yang memiliki pesantren, mengurus anak-anak yatim hingga anak-anak yang paling dibuang masyarakat. 

Mereka yang memiliki ilmu agama mendalam dan luas, menempuh pendidikan di pusat-pusat studi Islam di seantero tanah Arab, Afrika dan keseluruhan Maghribi. 

Mereka yang menghabiskan hari-hari dengan mengorbankan seluruh hidup bagi agama.

 Mereka yang babat alas, mendirikan pesantren mulai dari nol hingga menjadi madrasah besar. 

Mereka yang bergerak dalam diam, ketika para politisi berorasi di atas mimbar dan pengusaha mempertontonkan kesuksesan.

 Mereka yang  saat hidupnya dicari untuk dimintai nasehat, mereka yang saat wafatnya ditangisi para pelayat.

Maka membuat issue negatif terhadap ulama di Indonesia, tidak akan membuat masyarakat memanggil informasi negatif terhadap sosok tersebut. Sebab selama puluhan tahun, informasi yang tertanam di benak adalah keluhuran dan kemuliaan mereka. 

Memang, ada ulama yang lebih mencintai dunia dan tidak berpihak pada masyarakat yang menderita, namun prosentasenya sangat sedikit.

 Ribuan alim ulama di negeri ini, mendampingi masyarakat di saat-saat sulit. Memberikan nasehat agar rakyat selalu bersabar. 

Maka, kampanye hitam terhadap ulama, issue-issue negatif yang menyudutkan ulama, berita-berita bohong dan berita yang memicu kemarahan terkait ulama tidak akan mengubah pandangan masyarakat terhadap profesi mulia ini. 

Sungguh, ulama adalah asset bangsa yang luarbiasa, yang posisinya didapat bukan karena harta atau pangkat, tapi karena ilmu dan kemuliaan.

*Sumber: Resume dari blog Sinta Yudisia
 

%d bloggers like this: