• Selamat datang di blog Jumal Ahmad. Saya sedang meneliti tentang Meta-Level Reflection dalam Pembangunan Karakter. Semoga dimudahkan dan bermanfaat.

  • Categories

Antara Banjir Dunia dan Banjir Akhirat


Banjir sangat menyusahkan walau hanya semata kaki, lelahnya sama terutama ketika kita membersihkan sisa-sisa banjir atau lumpur yang masuk ke rumah kita.

Namun, banjir di dunia terjadi hanya beberapa jam atau beberapa hari saja, pernahkah kita membayangkan banjir keringat di akhirat? Bukan hanya satu jam atau beberapa hari, bahkan 50.000 tahun dalam hitungan hari di dunia.

Mereka merasakan dampaknya sesuai dengan kadar dosa mereka. Semakin banyak mencicipi dosa di dunia dan tenggelam dalam syahwatnya, maka semakin dalam ia tenggelam oleh keringat di akhirat. Rasulullah SAW bersabda:

Rasulullah SAW bersabda, “Pada hari kiamat nanti matahari akan didekatkan pada makhluk hingga jaraknya mencapai satu mil.” Sulaim bin Amir mengatakan, “Demi Allah, aku tidak mengetahui apa yang dimaksud dengan satu mil tersebut. Apakah satu mil tersebut ukuran bumi atau sejauh pandangan mata, sehingga manusia kan tenggelam dalam keringat berdasarkan amal perbuatan mereka: ada yang sampai kedua tumitnya, ada yang sampai pada kedua lututnya, dan ada yang benar-benar tenggelam oleh keringat.” Perawi mengatakan, “Dan Rasulullah SAW menunjuk mulutnya dengan tangannya.” (HR. Muslim)

Beginilah kondisi mereka yang akan tenggelam dalam peluh dan keringat hingga peluh dan keringat tersebut membanjir di padang mahsyar sehingga tujuh puluh hasta.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda, “Pada hari kiamat nanti manusia akan mengeluarkan keringat hingga keringat tersebut mengalir di bumi (padang mahsyar) sehingga tujuh puluh hasta, dan keringat tersebut mengekang (membenamkan) mereka hingga mencapai telinga mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Teori pembanding diperlukan seorang Muslim dalam melihat amal perbuatan, hidup di dunia bagi seorang Muslim ibarat penjara bila dibandingkan akhirat, karena segala nikmat hidup tidak bisa dia rasakan. Sebaliknya bagi orang kafir, kehidupan di dunia ibarat Surga baginya bila dibandingkan akhirat, karena mereka akan masuk neraka abadi selamanya.

Dalam kondisi sakit yang sangat dirasakan oleh manusia, dan begitu dahsyatnya nanti. Beruntunglah mereka yang selamat dari banjir di dunia dan banjir di akhirat dengan keringat. Sabarlah pada siapa saja yang terkena banjir di dunia tapi selamat banjir di akhirat.

Rugilah dia walau selamat dari banjir di dunia tapi tidak selamat dari banjir di akhirat. Dan sangat merugi dan merugi mereka yang sudah terkena banjir di dunia dan juga banjir di akhirat dengan keringat. Wallahu A’lam Bisshawab.

Selamat Hari Guru


Kenapa Sang Guru awet muda?

Karena selalu bekerja dengan penuh kebahagiaan serta ketulusan mendampingi siswa yang dinamis.

Kenapa Sang Guru selalu selamat?

Karena tiap pagi menyambut anak dan siswa mendoakan “Assalamu’alaikum”.

Kenapa Sang Guru banyak amalannya?

Karena setiap saat ia dengan ikhlas menginfakkan ilmunya pada siswa.

Kenapa Sang Guru sangat berjasa?

Karena kita semua hadir bisa membaca dan menulis serta berprofesi apapun karena jasanya.

Kenapa Sang Guru kelak dijanjikan kebahagiaan oleh-Nya?

Karena meski telah wafat ia masih dapat kiriman pahala karena amal jariyah ilmunya yang diamalkan siswanya.

Maka …..

Berbahagialah wahai para guru, ibu bapak akan dapat kemuliaan di dunia dan akhirat. Dengan syarat kita menjalankan tugas diniati ibadah serta dengan penuh kesabaran dan keikhlasan membimbing/mendampingi siswa yang diamanahkan pada kita.

Semoga Allah SWT memberikan kesehatan, kesabaran, ketulusan dan keikhlasan bagi kita semua wahai Sang Guru…. Aamiin ya Robb…


“Selamat Hari Guru Nasional 2017 : Mulia karena Karya…!!! “

Pengaruh Religiusitas Terhadap Perilaku Koruptif (Kritik Terhadap LSI)


Religiusitas masyarakat Indonesia, khususnya warga muslim tidak memengaruhi perilaku koruptif yang makin masif. Hal tersebut terungkap dari survei yang dilakukan LSI. Dalam laporan survet tersebut disebutkan bahwa:

Masyarakat Muslim Indonesia tergolong relijius. Sebanyak 74.9% dari seluruh umat Islam di negara ini sangat atau cukup saleh. Oleh karenanya, wajar jika 82.9% dari mereka sangat sering atau cukup sering mempertimbangkan agama ketika membuat keputusan penting.

Kesalehan masyarakat juga tercermin dari praktik ritual yang dilakukan. Sebanyak 55.9% rutin melakukan shalat wajib lima waktu dan 28.4% cukup sering melakukannya.

Sementara yang rutin puasa ramadhan sebanyak 67.5% dan sering puasa 24.6%. Mereka yang selalu menjalankan shalat sunnah 14.4% dan yang sering sebanyak 30.3%.

Meskipun demikian, makna agama dan perilaku ritual yang dijalani hanya berhubungan signifikan dengan sikap mereka terhadap korupsi. Tidak ada hubungannya dengan perilaku korupsi. Semakin relijius, hanya semakin bersikap anti-korupsi. Perilaku korup tetap berjalan dan tidak ada hubungannya dengan masalah agama.

Lebih dari separuh Muslim Indonesia (55.6%) merasa bagian dari Organisasi Masyarakat (Ormas) Islam tertentu, sedangkan 40.9% tidak merasa bagian dari Ormas apa pun. Hal ini menunjukkan partisipasi umat dalam Ormas Islam cukup tinggi. Namun survei ini menemukan bahwa menjadi bagian dari Ormas Islam tidak berhubungan secara signifikan dengan sikap dan perilaku korup. Artinya, menjadi bagian dari Ormas Islam merupakan urusan yang terpisah dari persoalan korupsi. Keduanya sama sekali tidak terkait.

laporan lengkapnya bisa diunduh di: Laporan LSI format Pdf

 

 

Hasil penelitian di atas secara simplistis menggambarkan tingkat religiusitas warga baru berdampak pada level normatif, belum berefek pada tingkat perilaku. Tingkat keilmuan yang hanya ada di pikiran (aspek kognitif) saja hanya akan berhenti pada tataran pengetahuan saja. Tanpa ada aspek pengamalan di dalamnya. Sedangkan keilmuan seseorang yang bisa sampai ke hati, akan terbentuk dalam sebuah karakter dan menjadi amaliah yang akan dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

 

Maka salah jika dengan penelitian di atas lantas agama dijadikan alasan utama seseorang melakukan perilaku koruptif, seperti gratifikasi dan tindak pidana lainnya. Karena jika pendidikan Agama diterapkan dengan sebaik-baiknya bisa mencegah perilaku koruptif.

Spiritualitas didefinisikan sebagai perbuatan yang berorientasi filosofis, semua perbuatan disandarkan karena mengenal Allah, dan untuk kebahagiaan jiwa.[1] Maka karyawan yang memiliki spiritualitas tinggi akan lebih efektif dalam bekerja karena melihat pekerjaannya sebagai alat untuk meningkatkan spiritualitas, berbeda dengan karyawan yang melihat pekerjaannya sebagai alat untuk memperoleh penghasilan berupa materi.

Pengertian lain menyebutkan Spiritualitas adalah aktivitas manusia yang bermuara kepada kehakikian, keabadian, dan ruh, dan bukan hanya bersifat sementara.[2]  Spiritualitas mengandung pengertian hubungan manusia dengan Tuhannya, maka orang yang mempunyai spiritualitas tinggi tidak akan korupsi karena tahu perbuatannya akan dihukum oleh Allah di dunia dan di akhirat.

Rego dan Cunha menyimpulkan bahwa bahwa ketika seseorang memiliki spiritualitas di tempat kerja, mereka merasa lebih afektif melekat pada organisasi tempat kerja, memiliki loyalitas terhadap organisasi. Demikian juga dengan manajer, bahwa dengan meningkatkan iklim spiritualitas, manajer dapat meningkatkan komitmen dan berdampak pada kinerja individu dan organisasi.

 

Nurtjahjanti menjelaskan bahwa spiritualitas dalam pekerjaan adalah mengekspresikan keinginan diri untuk mencari makna dan tujuan hidup dan merupakan sebuah proses menghidupkan serangkaian nilai-nilai pribadi yang dipegang oleh seorang karyawan. Spiritualitas dalam pekerjaan bukan membawa agama ke dalam pekerjaan, namun kemampuan menghadirkan keseluruhan diri karyawan untuk bekerja. Spiritualitas dalam pekerjaan merupakan aspek penting bagi perusahaan untuk dapat bersaing di masa sekarang ini.

Spiritualitas dapat membuat karyawan lebih efektif dalam bekerja, karena karyawan yang melihat pekerjaan mereka sebagai alat untuk meningkatkan spiritualitas akan menunjukkan usaha yang lebih besar dibanding karyawan yang melihat pekerjaannya hanya sebagai alat untuk memperoleh uang. Kegunaan spiritualitas dapat dilihat dalam pengaruh etika positif sehingga menciptakan keefektifan dan efisiensi dalam organisasi sehingga dapat meningkatkan daya saing perusahaan di tingkat global.[3]

 

Sekian.

Silahkan diberikan komentarnya.

[1] David A. Leeming, Kathryn Madden, Stanton Marlan (Eds.) Encyclopedia of Psychology and Religion, (New York: Springer Reference), 872

[2] Tobroni, The Spiritual Leadership: Pengefektifan Organisasi Noble Industry Melalui Prinsip-prinsip Spiritual Etis, (Malang: UMM, 2005), 19-20

[3] Harlina Nurtjahjanti . “Spiritualitas Kerja sebagai Ekspresi Keinginan Diri Karyawan untuk Mencari Makna dan Tujuan Hidup dalam Organisasi”. Jurnal Psikologi Undip Vol. 7, No. 1, April 2010, 1

Memukul Murid untuk Tujuan Mendidik


Islam memandang pukulan yang mendidik sebagai sebuah Pendidikan. Hukuman yang dimaksud bukanlah hukuman dengan niat untuk balas dendam atau emosional, tetapi untuk mendidik.

Pukulan pun tidak dilakukan sembarangan, namun memiliki beberapa aturan diantaranya: memukul dimulai pada usia 10 tahun; jumlah pukulan tidak boleh lebih dari sepuluh kali, pendapat lain menyatakan pukulan maksimal adalah tiga kali; memperhatikan alat dan cara memukul, serta tempat yang dipukul; tidak boleh memukul disertai amarah; berhenti memukul apabila anak menyebut nama Allah.

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz pernah ditanya tentang hukum memukul murid untuk tujuan pendidikan dan desakan untuk melaksanakan kewajiban yang dimintanya dari mereka, supaya mereka tidak terbiasa meremehkannya?

Beliau menjawab:

Tidak apa-apa. Para pendidik pria dan wanita serta orang tua, masing-masing mempunyai kewajiban untuk memperhatikan anak-anak dan menghukum anak yang harus dihukum jika berbuat lalai, hingga mereka terbiasa dan berakhlak mulia, serta senantiasa istiqomah dalam perbuatan shalih. Dalam hal ini telah diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau berkata.

“Perintahkan anakmu untuk shalat ketika umur tujuh tahun dan pukullah bila umurnya sepuluh tahun (bila tidak shalat) dan pisahkan tempat tidur mereka (antara laki-laki dan perempuan)”.

Baik laki-laki maupun perempuan boleh dipukul apabila sudah mencapai umur sepuluh tahun dan melalaikan shalatnya, sebagai hukuman agar mereka istiqomah dalam melaksanakan shalat. Demikian pula untuk kewajiban-kewajiban yang lain dalam pendidikan, permasalahan rumah dan lain-lain. Bagi pera pendidik hendaknya memperhatikan pengarahan dan pengajaran mereka, tetapi dengan pukulan yang ringan yang tidak membahayakan yang bisa menghasilkan tujuan yang dimaksud. Selesai.

Tujuan Pendidikan adalah mencetak generasi yang cerdas dan akhlak yang Mulia. Jika memang dengan melaksanakan hukuman fisik mampu mencapai tujuan Pendidikan kenapa tidak dilakukan.

Dalam sejarah Islam disebutkan bagaiamana Umar bin Abdul Aziz mendapatkan hukuman karena terlambat shalat jamaah hanya karena sibuk menyisir rambut.

Muhammd Al-Fatih mendapatkan didikan yang keras dari gurunya Aq Syamsyuddin yang mengantarkannya menjadi pembebas dan penakluk konstantinopel.

Dunia Pesantren sudah biasa menjalankan hukuman agar para santri bisa mentaati peraturan dari pesantren, misalnya shalat jamaah tidak boleh terlambat, berbicara dengan bahasa daerah. Hukumannya bisa fisik berupa push up atau lari, atau yang non fisik seperti menghafal kosa kata bahasa Arab atau membaca 1 juz Al-Quran.

Pesantren tidak diikut campuri oleh wali santri sehingga pihak pesantren lebih bebas membuat aturan dan hukuman di Pesantren, berbeda dengan sekolah umum non pesantren yang walinya bisa dengan mudah mendapatkan laporan tentang aktifitas anak, apalagi dengan keluarnya UU Perlindungan anak, jika aduan anak ditelan mentah-mentah, anak-anak bisa merasa di atas angin yang imbasnya tentu tidak baik bagi guru dan murid.

undang-undang yang kerap dipakai untuk menjerat guru yang melakukan pemukulan terhadap siswa yaitu pasal 80 ayat 1 undang-undang nomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, yang berbunyi:

“Setiap orang yang melakukan kekejaman, kekerasan, atau ancaman kekerasan, atau penganiayaan terhadap anak, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 tahun 6 bulan dan/atau denda paling banyak Rp72.000.000,- (tujuh puluh dua juta rupiah).”

Sementara itu secara umum tindakan penganiyaan bisa dijerat pasal 352 ayat 1 KUHP yang berbunyi :

“Kecuali yang tersebut dalam Pasal 353 dan 356, maka penganiayaan yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan, jabatan atau pencarian, diancam sebagai penganiayaan ringan, dengan pidana penjara paling lama tiga bulan atau denda paling banyak tiga ratus rupiah.”

Selain itu ada juga pasal 335 ayat 1 KUHP tentang perbuatan tidak menyenangkan, yang lengkapnya berbunyi :

“Diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun atau denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah : …barangsiapa secara melawan hukum memaksa orang lain supaya melakukan, tidak melakukan, atau membiarkan sesuatu, dengan memakai kekerasan suatu perbuatan lain maupun perlakuan yang tidak menyenangkan, atau memakai ancaman kekerasan, sesuatu perbuatan lain maupun perlakuan yang tidak menyenangkan baik terhadap orang itu sendiri maupun orang lain.”.

Beberapa artikel bahasan tentang Memukul anak atau murid.

Memukuli anak tidak berbahaya, jika anak-anak merasa dicintai, klaim studi.

Menjadi ibu dan ayah yang tegas bisa baik untuk anak-anak. Asal, anak-anak tahu bahwa disiplin yang diterima untuk alasan yang tepat dan mereka merasa dicintai, menurut studi terhadap para remaja yang dipublikasikan dalam jurnal Parenting: Science and Practice, baru-baru ini.

Meski begitu, kelompok orang tua beberapa lembaga bereaksi keras terhadap temuan ini. Menurut mereka, disiplin fisik hanya akan menyebabkan penderitaan jangka panjang.

Tim dari Albert Einstein College of Medicine di New York, Amerika Serikat, ini menemukan efek menyakitkan dari disiplin keras—semisal—ancaman lisan atau memukul—terhapus ketika anak merasa dicintai. Hukuman, menurut para peneliti, tidak lantas membuat anak berperilaku antisosial, asalkan anak percaya bahwa hukuman itu memang tepat, mengutip Telegraph, Kamis (18/4).

Para peneliti mempelajari sekelompokremaja Meksiko-Amerika. Dari studi ini, peneliti menemukan bahwa punya ibu yang penuh kasih—atau “persepsi kehangatan ibu—memberi perlindungan terhadap perilaku antisosial. Persepsi itu menghasilkan hubungan yang positif antara disiplin keras dan cara mereka untuk mengajarkan anak mereka mengatasi suatu masalah di kemudian hari.

Dr Miguelina Jerman, penulis utama, menjelaskan “teori lampiran”–yang dapat berfungsi sebagai kerangka teori untuk mempelajari hubungan yang signifikan–menyatakan bahwa tanggapan hangat dari orang tua merupakan faktor penting dalam menciptakan kebahagiaan dan rasa aman anak-anak.

Berpegang pada keyakinan bahwa mereka dicintai oleh orang tua mereka, dapat melindungi para remaja dari perasaan ditolak, bahkan ketika mereka disetrap atau mendapat disiplin keras. Dr German mengatakan disiplin tidak secara otomatis menyebabkan perilaku antisosial.

“Hubungan antara keduanya adalah bersyarat dan tunduk pada faktor-faktor lain,” kata Dr German yang menekankan bahwa memberikan batasan-batasan ketat atas para siswa juga menjadi norma dalam budaya Latin. “Selalu ada pengaruh lain yang dapat berperan mengurangi potensi-potensi yang berbahaya bagi anak kecil,” kata Dr German.

Namun, memukul anak masih menjadi perdebatan seru dan ditemukan berisiko lebih besar membuat anak agresif, nakal, dan hiperaktif. Temuan ini segera memancing kontroversi dan keprihatian para orang tua soal cara terbaik untuk membesarkan anak-anak.

Di Inggris misalnya, orang tua tidak secara eksplisit dilarang memukul anak-anak mereka. Tetapi, hukum yang berlaku sekarang menunjukkan mencederai anak hingga kulitnya memerah adalah ilegal.

Jeremy Todd, Kepala Eksekutif Family Lives, tegas mengatakan tidak pernah mendukung orang tua memukul anak. Menurut dia, cara terbaik untuk memberi pelajaran adalah dengan berkomunikasi dengan anak.

Menurut dia, orang tua yang menghubungi lembaganya mengatakan “memukul muncul sebagai reaksi” dan terjadi dalam situasi yang tidak terkendali. “Mereka sering menyatakan penyesalan, itu bukan sesuatu yang membuat perasaan mereka nyaman. Kami tidak mendukung penelitian itu.”

Sebagian pihak berpendapat memukul bukan bentuk hukuman yang efektif dan malah dapat merusak kepercayaan antara anak dan pengasuh mereka. Satu hal yang penting, memukul sama saja mengajari anak untuk memukul juga.

Meski begitu, studi sebelumnya menemukan bahwa anak-anak lebih cenderung tumbuh dewasa dan lebih menyesuaikan diri dengan baik, jika orang tua mengasuh mereka dengan disiplin. Pengasuhan tradisional yang “otoriter” dikombinasikan kehangatan dan kepekaan dengan harapan yang tinggi tentang perilaku akan menghasilkan anak-anak yang lebih “kompoten”, menurut studi yang digelar para peneliti London Institute of Education pada 2009.

Justine Roberts dari Mumsnet Founder berpendapat, “Jelas lebih baik memukul “dengan maksud baik” daripada “dengan maksud buruk.”.

Tapi, para pengguna Mumsnet percaya bahwa lebih baik tidak menggunakan kekerasan terhadap anak-anak.

“Rasanya munafik memberitahu anak-anak agar tidak memukul orang lain, namun melakukan hal yang sama pada mererka,” kata Roberts.

Sumber: Telegraph

Cara Memukul Anak yang Dibolehkan

Orangtua disarankan tidak mendidik anak dengan cara kekerasan fisik karena mental dan fisiknya masih lemah yang bisa berakibat buruk. Anak-anak harus dilindungi bagaimana pun susahnya dia didik. Jika diberi tahu lewat kata-kata saja tidak cukup, ada cara yang dibolehkan untuk memukulnya tapi bukan sembarang memukul.

Dalam Children’s Act 2004 ada batasan-batasan yang diperjelas bagi orangtua jika ingin memukul anaknya, yaitu tidak boleh menimbulkan bekas atau luka, tidak memukul dengan keras dan tidak boleh menyebabkan masalah kesehatan mental dalam jangka waktu panjang.

“Orangtua tidak boleh memukul anaknya dengan sembarangan apalagi jika menggunakan alat,” ujarMarjorie Gunnoe, seorang profesor psikologi di Calvin College, Grand Rapids, Michigan, seperti dikutip dari Telegraph, Senin (4/1/2010).

Bagaimana memukul yang diperbolehkan? Gunnoe menjelaskan sebuah tepukan ringan seringkali menjadi cara paling efektif untuk mengajarkannya agar tidak melakukan sesuatu yang berbahaya atau merugikan orang lain. Pukulan ringan itu pun hanya berlaku sampai usianya 6 tahun.

Berdasarkan hasil penelitiannya, anak yang dipukul hingga usia 6 tahun memiliki sifat positif yang lebih baik diantaranya dalam hal akademis dan optimisme, dan tidak memiliki sifat negatif yang buruk. Tapi anak yang masih sering dipukul hingga usia 11 tahun memiliki sifat negatif seperti terlibat dalam perkelahian.

Penelitian itu juga menunjukkan anak yang dipukul ringan oleh orangtuanya hingga usia 6 tahun akan memiliki prestasi sekolah yang lebih baik dan lebih optimis. Anak-anak ini nantinya akan lebih bersemangat dalam hal belajar, mengejar cita-citanya untuk masuk universitas terkemuka serta membantunya lebih optimis dalam hal meraih mimpinya dibandingkan dengan anak yang tidak pernah dipukul sama sekali oleh orangtuanya.

Penelitian ini melibatkan 179 remaja yang ditanya mengenai seberapa sering mereka dipukul saat masih anak-anak dan pada usia berapa terakhir kali orangtua memukulnya. Jawaban yang didapat dibandingkan dengan perilakunya termasuk kelakuan negatif seperti anti sosial, aktivitas seksual yang lebih dini, kekerasan, depresi serta kelakuan positif lainnya.

Hal yang boleh dilakukan oleh orangtua adalah hanya melakukan tepukan ringan, sementara jika lebih dari itu sudah termasuk dalam kekerasan dan merupakan cara mendidik anak yang salah.

Cara mendidik dengan memberikan tepukan ringan jika anak melakukan kesalahan sebaiknya juga diiringi dengan kata-kata positif agar anak tahu apa kesalahannya.

Jika tepukan ringan tersebut dilakukan dengan bijaksana dan penuh kasih sayang, maka anak akan lebih mengerti dan juga membantunya untuk berprestasi disekolah serta lebih optimis.

Tapi orangtua tidak boleh memukul anak di daerah wajah atau dengan menggunakan alat, karena bisa mengembangkan masalah-masalah perilaku atau mental seperti menjadi agresif.

Sumber :http://health.detik.com

Hukum Melihat Video Mesum dan Porno


Pagi ini membaca tweet dari bapak @ndorokakung yang memperhatikan gejala anak muda sekarang cenderung menyukai konten tidak baik seperti video mesum, dia buktikan dengan menulis nama seseorang yang sedang viral dua hari ini, baru menulis dua huruf awal dari namanya langsung keluar rekomendasi nama yang sedang viral itu.

Oke Zone juga menyebutkan lebih dari 10.000 penelusuran merujuk pada kata kunci “Mahasiswi UI”. Lebih rinci lagi, puncak pencarian kata kunci tersebut terjadi pada pukul 01.00 WIB, pagi tadi. Sementara pencarian tertinggi terjadi pada kata kunci “Video Hana Anisa” yang menampilkan lebih dari 100.000 penelusuran di Google. Pencarian kata kunci ini populer di jam yang sama, yakni pukul 01.00, pagi tadi. Dan pukul 05.00 pagi ini, dengan kata kunci Hana Anisa saya mendapatkan hasil 555.000 dalam waktu 0,33 detik.

Maka dari itu, saya tergerak untuk mengumpulkan beberapa pandangan Agama Islam terkait hal ini untuk mengingatkan bahaya Zina Mata yang bisa menjerumuskan kepada Zina yang lebih parah, bahkan lebih lanjut akan kita temukan keterangan bahwa yang melihat porno tidak akan diterima shalatnya selama 40 hari.

Tulisan pertama adalah tentang Larangan Melihat Aurat dan Zina Mata bersumber dari penjelasan Ustadz Ma’ruf Khozin yang merupakan Wakil Katib Syuriah PCNU Surabaya.

Larangan Melihat Aurat

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : وَإِذَا زَوَّجَ أَحَدُكُمْ عَبْدَهُ أَمَتَهُ أَوْ أَجِيْرَهُ فَلَا يَنْظُرُ إِلَى مَا دُوْنَ السُّرَّةِ وَفَوْقَ الرُّكْبَةِ فَإِنَّ مَا تَحْتَ السُّرَّةِ إِلَى الرُّكْبَةِ مِنَ الْعَوْرَةِ (سنن الدارقطني – ج 1 / ص 230)

Nabi Saw bersabda: “Jika kalian menikahkan budak laki-laki dengan budak perempuan, atau buruh kerja, maka janganlah melihat ke anggota tubuh di bawah pusar dan diatas lutut. Sebab hal itu adalah aurat” (HR ad-Daruquthni, 1/230. Hadis yang sama diriwayatkan juga oleh Abu Dawud, sanadnya hasan).

Al-Hafidz Ibnu Hajar mengutip dari ulama Syafiiyah:

وَقَالَ النَّوَوِيُّ : أَمَّا النَّظَرُ بِشَهْوَةٍ وَعِنْدَ خَشْيَةِ الْفِتْنَةِ فَحَرَامٌ اِتِّفَاقًا ، وَأَمَّا بِغَيْرِ شَهْوَةٍ فَالْأَصَحُّ أَنَّهُ مُحَرَّمٌ (فتح الباري لابن حجر – ج 3 / ص 371)

“An-Nawawi berkata: Adapun melihat dengan syahwat dan ketika dikhawatirkan adanya fitnah, maka haram berdasarkan kesepakatan ulama. Sedangkan melihat aurat tanpa syahwat, maka pendapat yang kuat adalah haram” (Fath al-Bari, Syarah Sahih al-Bukhari, 3/371).

Diperkuat oleh Syaikh Khatib asy-Syirbini dari kalangan Syafiiyah:

أَمَّا النَّظَرُ بِشَهْوَةٍ فَحَرَامٌ قَطْعًا لِكُلِّ مَنْظُورٍ إلَيْهِ مِنْ مَحْرَمٍ وَغَيْرِهِ غَيْرَ زَوْجَتِهِ وَأَمَتِهِ (مغني المحتاج إلى معرفة ألفاظ المنهاج – ج 12 / ص 40)

“Melihat dengan syahwat sudah pasti haram bagi setiap objek yang dilihat, baik keluarga (mahram) atau lainnya, kecuali istri dan budak perempuan” (Mughni al-Muhtaj 12/40).

Zina Mata

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُوْدٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “الْعَيْنَانِ تَزْنِيَانِ وَالرِّجْلَانِ تَزْنِيَانِ وَالْفَرْجُ يَزْنِي”. رواه أحمد وأبو يعلى وزاد: “واليدان تزنيان”. والبزار والطبراني وإسنادهما جيد (مجمع الزوائد ومنبع الفوائد . محقق – ج 6 / ص 276)

Diriwayatkan dari Abdullah bin Masud bahwa Nabi Saw bersabda: “Kedua mata berzina, kedua kaki berzina dan farji (alat kelamin) juga berzina” (HR Ahmad, Abu Ya’la, al-Bazzar dan ath-Thabrani, sanad keduanya bagus)

Rasulullah Saw melarang mata melihat hal-hal yang menimbulkan nafsu, termasuk gambar porno, agar tidak menjurus pada zina yang sebenarnya:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ان رسول الله صلى الله عليه و سلم قَالَ لِكُلِّ بَنِى آدَمَ حَظٌّ مِنَ الزِّنَا فَالْعَيْنَانِ تَزْنِيَانِ وَزِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالْيَدَانِ تَزْنِيَانِ وَزِنَاهُمَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلاَنِ يَزْنِيَانِ وَزِنَاهُمَا الْمَشْىُ وَالْفَمُ يَزْنِى وَزِنَاهُ الْقُبَلُ وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَالْفَرْجُ يُصَدِّقُ ذَلِكَ أَوْ يُكَذِّبُهُ (مسند أحمد بن حنبل – (ج 2 / ص 343)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw bersabda: Setiap manusia memiliki bagian dari zina. Kedua mata berzina, bentuk zinanya adalah melihat. Kedua tangan berzina, bentuk zinanya adalah genggaman. Kedua kaki berzina, bentuk zinanya adalah berjalan. Mulut berzina, bentuk zinanya adalah mencium. Hati memiliki hasrat dan angan-angan. Alat kelamin akan merealisasikan (zina) atau menggagalkan” (HR Ahmad, Syuaib al-Arnauth mengatakan bahwa sanad ini sesuai kriteria Muslim).

Ditegaskan kembali oleh ahli hadis al-Munawi:

( زِنَا الْعَيْنَيْنِ النَّظَرُ ) قَالَ الْغَزَالِي : وَنَبَّهَ بِهِ عَلَى أَنَّهُ لَا يَصِلُ إِلَى حِفْظِ الْفَرْجِ إِلَّا بِحِفْظِ الْعَيْنِ عَنِ النَّظَرِ وَحِفْظِ الْقَلْبِ عَنِ الْفِكْرَةِ وَحِفْظِ الْبَطْنِ عَنِ الشُّبْهَةِ وَعَنِ الشِّبَعِ فَإِنَّ هَذِهِ مُحَرِّكَاتٌ لِلشَّهْوَةِ وَمَغَارِسُهَا … ثُمَّ قَالَ الْغَزَالِي : وَزِنَا الْعَيْنِ مِنْ كِبَارِ الصَّغَائِرِ وَهُوَ يُؤّدِّي إِلَى الْكَبِيْرَةِ الْفَاحِشَةِ وَهِيَ زِنَا اْلفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَقْدِرْ عَلَى غَضِّ بَصَرِهِ لَمْ يَقْدِرْ عَلَى حِفْظِ دِيْنِهِ ( ابن سعد ) في الطبقات ( طب ) وكذا أبو نعيم والديلمي ( عن علقمة ) بفتح المهملة والقاف ( بن الحويرث ) أو ابن الحارث الغفاري قال الهيثمي : فيه محمد بن مطرف لم أعرفه وبقية رجاله ثقات ورواه القضاعي وقال شارحه العامري : صحيح (فيض القدير – ج 4 / ص 65)

“(Hadis: Bentuk zina mata adalah melihat). Al-Ghazali berkata: Nabi mengingatkan bahwa seseorang tidak bisa menjaga alat kelaminnya kecuali dengan menjaga matanya dari penglihatan. Juga menjaga hati dari berfikir. Juga menjaga perut dari makanan syubhat dan kenyang. Sebab kesemua hal ini dapat menggerakkan syahwat dan tempat tumbuh suburnya syahwat. Al-Ghazali kemudian berkata: Zina mata merupakan yang terbesar dari jenis dosa-dosa kecil yang dapat menyebabkan melakukan dosa besar yang buruk, yaitu zina kelamin. Barangsiapa tidak mampu menjaga matanya maka ia takkan mampu menjaga agamanya (HR Ibnu Sa’d dalam Thabaqat dari Alqamah, al-Haitsami berkata: Di dalam sanadnya ada Mutharrif, saya tidak mengetahuinya, perawi lainnya terpercaya. Juga diriwayatkan oleh al-Qudhai, al-Amiri berkata: Hadis sahih)” (Faidl al-Qadir 4/65)

Selanjutnya keterangan dari KH. Ovied.R- Wakil Ketua Dewan Fatwa Al Washliyah orang yang meremehkan perihal syahwat Sex maka Allah Saw tidak menerima shalat dan do’anya selama 40 hari lamanya.

Beliau menyebutkan hadits Nabi sebagai berikut:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : “من نظر إلى عورة أخيه متعمدا لم يقبل الله له صلاة أربعين يوما ، ولم تستجب له دعوة أربعين صباحا” (أنظر ص : ٨٣ [كتاب روح السنة و روح النفوس المطمئنة لسند العارفين وقطب المحررين سيدي أحمد بن إدريس رضي الله عنه] مجموعة أحزاب و أوراد ورسائل ، تأليف و جمع قطب دائرة التقديس السيد أحمد بن إدريس الحسني المغربي من أكابر أولياء و علماء القرن الثالث عشر للهجرة المولود: ١١٧٢-١٢٥٣ هجرية)

Rasululah Saw bersabda : “Barangsaiapa melihat ‘aurat saudaranya (melihat gambar/film porno, dll) dengan sengaja, tidak diterima Allah Swt Shalatnya selama 40 hari, dan tidak diterima do’anya selama 40 subuh (hari)” (Lihat halaman: 83 Kitab Ruh As-Sunnah wa Ruh An-Nufus Almuth-mainnah Sanad Saidi Ahmad bin Idris r.a Alhasani Almaghribi)

Hadis di atas sesuai dengan ancaman Allah Swt di dalam Alqur’an bahwa seseorang yang tidak memiliki etika akhlak akan menghapuskan amal ibadahnya tanpa ia sadari. Allah Swt berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَتَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلاَتَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَن تَحْبَطَ أَعْمَالَكُمْ وَأَنتُمْ لاَتَشْعُرُونَ {الحجرات [٤٩] : ٢}

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari (QS. Alhujarat [49] : 2)

Kalimat ayat di atas (أَن تَحْبَطَ أَعْمَالَكُمْ وَأَنتُمْ لاَتَشْعُرُونَ ; akan menghapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari) memberikan mafhum bahwa suara tinggi (keras) yang ditujukan kepada Rasulullah Saw saja dapat menghapus pahala ibadah kita tanpa disadari, apa lagi jika kita mengumbar syahwat sex yang martabat hinanya jauh lebih buruk daripada suara yang ditinggikan kepada Rasulullah Saw.

Adakah Hukuman Bagi Orang Yang Menonton Video Mesum

Mengutip artikel dari Era Muslim bahwa tidak ada nash yang secara tegas menyebutkan bahwa orang yang melihat atau menyaksikan aurat orang lain, seperti menonton film porno ini dikenakan hukuman (hadd) akan tetapi si pelakunya harus diberikan ta’zir (diserahkan kepada Qadhi/hakim untuk memberikan sangsinya) dan tidak ada kewajiban baginya kafarat.
Ibnul Qoyyim mengatakan,”Adapun ta’zir adalah pada setiap kemaksiatan yang tidak ada hadd (hukuman) dan juga tidak ada kafaratnya. Sesungguhnya kemaksiatan itu mencakup tiga macam :

1. Kemaksiatan yang didalamnya ada hadd dan kafarat.
2. Kemaksiatan yang didalamnya hanya ada kafarat tidak ada hadd.
3. Kemaksiatan yang didalamnya tidak ada hadd dan tidak ada kafarat.

Adapun contoh dari macam yang pertama adalah mencuri, minum khomr, zina dan menuduh orang berzina. Sedangkan contoh dari macam kedua adalah berjima’ pada siang hari di bulan Ramadhan, bersetubuh saat ihram.Dan contoh dari macam yang ketiga adalah menyetubuhi seorang budak yang dimiliki bersama antara dia dan orang lain, mencium orang asing dan berdua-duaan dengannya, masuk ke kamar mandi tanpa mengenakan sarung, memakan daging bangkai, darah, babi dan yang sejenisnya. (I’lamul Muwaqqi’in juz II hal 183)

Diakhir tulisan ini saya ingin menuliskan nasehat dari KH. Ovied.R agar kita bertaubat untuk membersihkan hati dan diri setiap saat agar tidak tergelincir dalam kesesatan baik yang datangnya dari golongan jin dan manusia, Allah Swt befirman:

سَابِقُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا بِاللهِ وَرُسُلِهِ ذَلِكَ فَضْلُ اللهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَآءُ وَاللهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ {٢١} (الحديد [٥٧] : ٢١-٢٤)

“Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS. Alhadid [57] : 21-24).

Ayat Alqur’an di atas menganjurkan kita untuk bertaubat yang ganjarannya begitu besar, namun jika kita menunda-nunda dan meremehkan taubat, Allah Swt tidak akan menjamin apakah akhir hayat kematian kita menjelang sakratul maut dalam golongan orang-orang yang baik atau buruk, sebagaimana Allah Swt berfirman:

وَءَاخَرُونَ مُرْجَوْنَ لأَمْرِ اللهِ إِمَّا يُعَذِّبَهُمْ وَإِمَّا يَتُوبَ عَلَيْهِمْ وَاللهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ {التوبة [٩] : ١٠٦}

“Dan ada (pula) orang-orang lain yang ditangguhkan (agar mau bertobat) sampai ada keputusan Allah; adakalanya Allah akan mengazab mereka dan adakalanya Allah akan menerima taubat mereka. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (QS. Attaubah [9] : 106)

Lantas bagaimana jika kita selalu berulang-ulang melakukan maksiat, dan berulang-ulang pula melakukan taubat (Tomat; tobat maksiat), apakah taubat kita akan diterima oleh Allah Swt? Selagi niat, kesungguhan dan sabar, banyak bersedekah yang selalu kita lakukan agar Allah Swt menerima taubat kita, insya-Allah pintu rahmat terhadap tobat yang kita lakukan akan diterima oleh Allah Swt.

Saya mengajak pembaca untuk mengingat siapa kita dan darimana kita? Sebagai orang Islam kita adalah Hamba Allah SWT yang diperintahkan untuk beribadah kepada-Nya, Ibadah itu bukan untuk Allah tetapi manfaatnya kembali kepada diri kita sendiri karena kehidupan yang sebenarnya adalah kehidupan di akhirat, kehidupan di dunia hanya sementara, hanya tempat mengumpulkan pahala.

Kita manusia berasal dari tanah liat yang hina, akan mulia jika kita beribadah kepada Allah dengan sebaik-baiknya. Mari takut kepada Allah, Dia Maha Mengetahui apa yang kita tampakkan dan apa yang kita sembunyikan. Terima kasih.

***

Situs Kriminologi menyebutkan laporan bahwa dalam video YouTube bukan dia tetapi orang lain. Berikut penuturannya.

“Yang di video itu bukan aku. Iya, aku enggak tahu kenapa tiba-tiba disangkutin sama namaku,” ujarnya, Jumat, 27 Oktober 2017.

Kriminologi juga mencoba memastikan jika Hanna sudah melihat video itu. Pasalnya, ada dua video yang menyebut nama Hanna dalam video tersebut.

Udah nonton, kameranya enggak terlalu bagus tapi memang agak mirip sama aku (dalam salah satu video),” katanya.

[ ]

Sumber:
Gara-Gara Video Mesum Hana Anisa Paling Dicari di Google, Nih Buktinya!https://techno.okezone.com/read/2017/10/26/207/1802665/gara-gara-video-mesum-hana-anisa-paling-dicari-di-google-nih-buktinya diakses 27 Oktober 2017

Hukum Nonton Film Porno https://www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/hukum-nonton-film-porno.htm#.WfJiHLVpHIU diakses 27 Oktober 2

Nonton Film Porno Tertolak Sholat dan Do’anya Selama 40 Hari http://kabarwashliyah.com/2016/09/30/nonton-film-porno-tertolak-sholat-dan-doanya-selama-40-hari/ diakses 27 Oktober 2

https://kriminologi.id/hard-news/cyber-crime/eksklusif-pengakuan-hanna-anissa-soal-video-porno-mahasiswi-ui diakses 28 Oktober 2017

Tweet @ndorokakung

Makna dan Derivasi Kata Santri


Sekarang tampak kegagalan dunia Barat dalam bidang pendidikan. Hal ini dikarenakan Barat terlalu mendewakan kecerdasan intelektual (IQ), sedangkan hatinya terasa kosong dan hampa. Kecenderungan tersebut menyebabkan terjadinya degradasi moral di kalangan masyarakat Barat.

Sehingga fakta ini mendorong di dunia Barat sana lambat laun harus dilengkapi dengan kecenderungan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ).

Ketiga kecerdasan ini sudah ketinggalan zaman jika dibandingkan dengan apa yang sudah dijalankan di dunia pesantren. Pesantren sudah berhasil menggabungkan ketiga kecerdasan itu sejak lama dan kehebatannya masih bisa dirasakan hingga sekarang.

Saya mau berbagi ilmu tentang makna dari kata SANTRI yang pernah saya terima ketika masih nyantri dulu, sengaja saya share di hari Santri Nasional untuk menambah makna.

Secara singkat kata santri berasal dari beberapa suku kata jika ditulis dalam bahasa Arab yaitu syin, nun, ta’ dan ra’ dari 4 kata ini kita akan menjabarkan makna santri.

SANTRI = SYIN, NUN, TA’, RA

SYIN = Syaatiru ‘Aibul Ummah (Menutup Aib/ Kejelekan Umat)

Santri bukan hanya mempunyai tanggung jawab ilmiah untuk menelaah kita kitab ulama saja, tetapi juga harus peduli dengan masalah umat.

Ibnu Mubarak pernah mengatakan:

لايفتي المفني حين يفتي حتى يكون عالما بالأثر بصيرا بالواقع

“Tidaklah seorang mufti memberikan fatwa sampai dia mengetahui tentang atsar dan paham realitas”.

NUN = Naaibul Ulamaa’ (Wakil para Ulama’)

Naaib artinya wakil atau orang yang bisa dipercaya. Santri selalu setia dan mengikuti tutur kata para kyai, sejarah membuktikan ketika para kyai mengumandangkan perang kepada penjajah, kalangan santri adalah yang pertama melaksanakan titah itu.

TA’ = Taabi’ul Hudaa (Mengikuti Petunjuk)

Seorang santri tidak pernah bersikap taqlid atau hanya mengikut ikut saja, tetapi dia mengikuti petunjuk dari Alquran dan Hadits yang telah dijelaskan olej kyai.

Maka seorang santri tidak pernah lepas dari menunti ilmu, dia selalu ingat dengan pesan Imam Syafi’i berikut:

ﻣَﻦْ ﻟَﻢْ ﻳَﺬُﻕْ ﻣُﺮَّ ﺍﻟﺘَّﻌَﻠُّﻢِ ﺳَﺎﻋَﺔً ﺗَﺠَﺮَّﻉَ ﺫُﻝُّ ﺍﻟْﺠَﻬْﻞِ ﻃُﻮْﻝَ ﺣَﻴَﺎﺗِﻪِ

ﻭَ ﻣَﻦْ ﻓَﺎﺗَﻪُ ﺍﻟﺘَّﻌْﻠِﻴْﻢُ ﻭَﻗْﺖَ ﺷَﺒَﺎﺑِﻪِ ﻓَﻜَﺒِّﺮْ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺃَﺭْﺑَﻌًﺎ ﻟِﻮَﻓَﺎﺗِﻪِ

Barangsiapa yang tidak pernah mencicipi pahitnya belajar,

Maka dia akan meneguk hinanya kebodohan di sepanjang hidupnya

Barangsiapa yang tidak menuntut ilmu di masa mudanya,

Maka bertakbirlah empat kali, karena sungguh dirinya telah wafat

RA’ = Raahibun Billail (Rajin Beribadah Di Malam Hari)

Santri menjadikan wirid dan shalat malam sebagai amalan yang tidak pernah dia tinggalkan.

Wirid dan shalat malam itu menjadi waktu dia untuk mengadu keluh kesah dan bernikmat bersama Tuhannya.

****

Pendidikan seperti apa yang didapatkan di Pesantren?

  • Yang pasti pelajaran agama meliputi bahasa, kitab, tafsir, Hadits dan juga pendidikan kesederhanaan, kemandirian dan pengendalian diri dari Hawa nafsu.
  • Wadah berinteraksi dengan teman dari berbagi suku dan daerah yang menjadi bekal jaringan setelah dari pesantren.
  • Laboratorium kehidupan, dimana santri belajar hidup dan bermansyarakat dalam berbagai segi dan aspeknya.

Agar para santri bisa memberikan kebaikan, kemanfaatan dan keselarasan hajat hidup manusia maka peran yang harus dibawakan santri dalam modrenitas adalah sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh sifat-sifat yang sesuai dengan syariat Al-Qur’an dan hadits masa kini. Yakni, umat Islam terutama para santri harus memiliki sifat-sifat seperti berikut:

  1. Santri harus bisa lebih baik dari orang lain (yang bukan santri).
  2. Santri harus bisa hemat dalam menggunakan fasilitas dan membelanjakan harta, tidak memubazirkan dan membuang-buang fasilitas dan harta yang ada, serta lebih canggih pemikirannya.
  3. Santri harus mempunyai pemikiran jangka panjang, membuang jauh-jauh pemikiran jangka pendek.
  4. Santri harus bisa menghargai waktu, mampu menggunakannya dengan baik, dan mengatur rutinitasnya untuk hal-hak yang positif.
  5. Santri harus kreatif, mampu menghadapi bermacam-ragam masyarakat di sekitarnya.
  6. Santri harus bisa mandiri, tidak selalu bergantung dan selalu menunggu “jemputan bola” dari orang lain. (islampos.com)

Teman-teman di Pon Pes Nurul Hadid Cirebon

Kata Hikmah Korea: Akhlak Perempuan Dimulai dari Pakaiannya


Foto di atas adalah gambaran baju tradisional masyarakat korea yang dikenal dengan Hanbok (Korea Selatan) atau Chosŏn-ot (Korea Utara).

Foto diambil pada tahun 1908 M, seorang suami dan istrinya memakai pakian adat korea di salah satu jalan di kota Seoul.

Beberapa Perkataan hikmah dari masyarakat korea waktu itu menunjukkan bahwa secara fitrah mereka sangat menjaga kehormatan dan sopan dalam berpakaian.

Diantara perkataan hikmah yang muncul, “Seorang perempuan tanpa akhlak bagaikan sebuah pohon tanpa daun”, “Akhlak seorang perempuan dimulai dari pakaiannya”.

Baju model Hanbok, apakah diperbolehkan?

Model pakaian Hanbok, berdasarkan penelusuran penulis dibolehkan oleh ulama, karena seperti yang ditulis di atas Hanbok adalah PAKAIAN TRADISIONAL MASYARAKAT KOREA, sebagaimana Kimono dari Jepang, Kebaya dari Indonesia, Galabeyya dari Mesir, atau celana Pentalon & setelan jas yang berasal dari budaya barat.

Hanbok BUKAN PAKAIAN KHUSUS UNTUK IBADAH, Walaupun sekarang Hanbok tidak dipakai sehari-hari, hanya dipakai untuk acara-acara tertentu, namun pada asalnya, Hanbok adalah PAKAIAN TRADISIONAL. Jika ada orang yang MENGHARAMKAN Hanbok dengan alasan karena Hanbok KADANG dipakai orang untuk peribadatan mereka.

Bukankah Kebaya juga kadang dipakai orang untuk ngalap berkah di kuburan? Bukankah celana Pentalon & Jas juga kadang dipakai para jema’at Gereja?

Prof. Dr. Hayat Khafaji (Dosen Pascasarjana Fak. Syari’ah, konsentrasi Fiqh, Umm Al-Qura University) pernah ditanya:

Apa hukum memakai pakaian dengan model pakaian orang-orang kafir, Seperti Kimono dari Jepang atau Hanbok dari Korea?

Beliau menjawab: “Hukum asal pada pakaian dari berbagai negara adalah MUBAH (boleh), baik pakaian tradisional maupun pakaian modern, selama pakaian tersebut menutup aurat, longgar tidak sempit, tebal tidak transparan, tidak menyerupai pakaian laki-laki (bagi wanita -pen), dan bukan berupa simbol keagamaan seperti “az-zunnaar”.

Sumber:

salamdakwah.com

Akun Twitter @mostafa_abram

%d bloggers like this: