Karena Dunia Tak Abadi


Menyimak nasehat mengingat mati dari seorang ustadz itu sudah biasa, akan terasa beda jika nasehat itu muncul dari seorang yang sangat dikenal dunia seperti petinju legendaris Muhammad Ali. 

Video pendek di atas adalah salah satu cuplikan talkshow di sebuah televisi ketika Muhammad Ali ditanya, apa yang akan dia lakukan setelah pensiun nanti? 

Tidak banyak umur yang kita punya, jatah umur manusia hanya sampai 60 sampai 70 tahun, kalaupun kita diberi umur sampai 100 tahun toh kita nantinya akan mati juga. 

Maka Muhammad Ali berpesan bahwa di sisa umurnya dia akan menjadikan popularitasnya untuk semakin produktif  berbuat baik untuk kemanusiaan. 

Ada ilustrasi menarik yang beliau sampaikan di video tersebut tentang bagaiaman lamanya kehidupan di akhirat nanti. Beliau contohkan, ambil satu pasir di gurun Sahara, lalu tunggu seribu tahun lagi untuk mengambil pasir selanjutnya, terus sampai pasir di gurun habis, maka akhirat lebih lama lagi. 

Silahkan simak dan tonton video di atas, sebagai pelajaran dari Muhammad Ali bahwa dunia ini tak abadi, akhirat yang selamanya. 

Agama Dan Negara Di Mata Muslim Indonesia


Di Mesir, Pernah suatu ketika dalam sebuah forum, Paus Shinouda III, Paus Gereja Koptik Alexandira menyampaikan sebuah adagium: “Ad-Dinu Lillah, Wal Wathan Lil-Jami’.” (Agama milik Allah, sedangkan Negara milik semuanya). Lalu Syaikh Mutawalli Sya’rawi yang kala itu memang duduk di sebelahnya, dengan lugas menimpalinya sembari mengatakan: “Ad-Dinu Lillah, Wal Wathan Lillah.” (Agama itu milik Allah, dan Negara juga milik Allah). 

Syaikh Sya’rawi yang dijuluki “Imam para Dai” itu lantas melanjutkan: “Tidak ada itu negara untuk semua. Apa artinya agama untuk Allah dan Negara untuk semua? Lihat! Negara manapun yang tidak ada agama di dalamnya, kita takkan bangga dengan nasionalismenya. Setiap negara tidak ada agama di dalamnya, mau berbuat apa saya?”

Tema antara Agama dan Negara memang selalu menarik untuk disoroti. Tapi di sini saya tidak ingin mengangkat polemik yang terjadi antara pengusung dari dua adagium di atas, karena saya lebih tertarik untuk menilik kondisi di dalam negeri sendiri.



Dewasa ini, tampaknya ada beberapa upaya massif yang ingin melabeli sejumlah umat Islam Indonesia sebagai umat yang anti-negara, seakan mereka adalah parasit yang keberadaannya mengancam keutuhan bangsa.

Sebelum itu, perlu diketahui bersama, bahwa Rasulullah sendiri tidak pernah mewariskan ajaran “Benci Negara.” Bahkan, saat Hijrah meninggalkan Makkah, Rasul pernah berkata: “Sesungguhnya engkau (Makkah) adalah negeri yang paling aku cintai, kalau saja bukan karena pendudukmu yang mengeluarkanku, niscaya aku takkan pernah keluar darimu!”

Tampak jelas di sini bahwa Rasulullah mencintai Makkah sebagai tanah-air beliau. Demikian juga terlihat dari sikap Rasul terhadap para sahabat yang tidak pernah menyuruh mereka untuk menghapus identitas ke-tanah-air-annya.

Lihatlah Salman Al-Farisi, ia tetap dikenal sebagai “Al-Farisi” (orang Persia) dan tidak pernah diganti menjadi “Al-Madani” (orang Madinah) misalkan. Juga Suhaib bin Sinan, ia familiar dikenal sebagai Suhaib “Al-Rumi” (dari Romawi), Bilal bin Rabbah “Al-Habasyi” (dari Ethiopia) mereka tidak pernah diperintah untuk mengganti kebangsaannya menjadi “Al-Arabi.”

Nasionalisme itu adalah Anugerah Keragaman. Layaknya bahasa yang kita ucapkan, warna kulit yang kita miliki, itu semua Ketentuan Tuhan yang takkan terhapuskan.

Tapi meskipun demikian, ada beberapa catatan perbedaan antara Agama dan Negara yang patut diketahui. Perbedaan tersebut di antaranya:

Pertama: Ber-Negara boleh berpindah-pindah, sedangkan Ber-Agama itu tidak boleh berpindah-pindah.

Kita selaku WNI misalkan, kita bisa pindah ke Eropa, hijrah ke Amerika atau domisili di Afrika. Baik sementara atau selamanya. Bebas, legal dan tidak ada larangan.

Tapi kita sebagai orang Islam, tidak boleh untuk pindah ke agama lain barang sedetik pun. Karena saat pindah agama, berarti statusnya murtad. Wal ‘Iyadzu Billah.

Kedua: Mengganti Kewarganegaraan itu diperbolehkan, bahkan sebagian negara memperbolehkan “Kewarganegaraan Ganda.” Sedangkan Beragama, ya hanya satu saja, tidak ada orang —selain munafik— yang memiliki Agama Ganda. Dan juga, mengganti Agama itu adalah perbuatan terlarang bagi setiap pemeluk ajaran agama masing-masing.

Ketiga: Seseorang bisa saja tidak memiliki kewarganegaraan, yang secara hukum disebut dengan “Statelessness” atau: Absennya hubungan pengakuan antara individu dan suatu negara. Di mana, Orang yang tak bernegara secara de jure terkadang merupakan orang yang tidak dianggap sebagai warga negara oleh suatu negara di bawah operasi hukumnya.

Tapi adakah orang yang tidak beragama? Sekalipun ada orang yang mengaku tidak beragama, sebenarnya itulah agama dirinya, yaitu agama kebebasan yang tak mau terikat kecuali dengan keyakinan hawa nafsunya sendiri. Dan sekalipun seseorang mengaku tidak ber-tuhan, tapi sebenarnya dia sedang menuhankan akal, nafsu dan dirinya sendiri. Karena, beragama dan meyakini sesuatu adalah perkara fitrah yang dimiliki setiap manusia.

Keempat: Ber-Negara itu hanya saat hidup saja, sedangkan Ber-Agama itu mulai dari hidup sampai mati.

Segala hal yang berkaitan dengan negara, seperti bayar pajak, bikin KTP, sukseskan Pemilu, dan sebagainya itu hanya terkait dunia. Hingga kita hembuskan napas terakhir, maka berakhir sudah urusan kita dengan Negara.

Tidak demikian dengan Agama, semenjak lahir saja kita sudah diadzani (bukan dinyanyikan lagu Indonesia Raya), hingga saat meninggal pun kita dibacakan surat Yasin (bukan dibacakan teks UUD 45).

Semua pemeluk agama saat meninggal, ia akan diperlakukan menurut ajaran agama masing-masing, tidak ada pengurusan jenazah dengan menggunakan “Tata-cara Negara” sekalipun ia adalah pahlawan yang meninggal dalam membela negara.

Kelima: Agama adalah harga Mati, kalau Negara? Nanti kita lihat sendiri.

Islam semenjak dahulu, berabad-abad lamanya, tetap utuh tak tersentuh. Rukun Islam tetap Lima, Rukun Iman tetap Enam, dan Al-Qur`an tetap 114 Surat tak berkurang satu ayat pun. Islam Harga Mati. Selamanya takkan bisa diganti!

Tapi Negara? Lihatlah sejarah: Dahulu ada Imperium Romawi dan Persia, dua negara adidaya itu kini telah sirna. Dulu ada Khilafah, sekarang sudah tinggal sejarah. Dulu ada Uni Soviet, sekarang sudah runtuh terpecah-pecah. Dulu tidak ada negara Israel, tapi sekarang sudah mulai lahir. Dulu Sudan masuk kawasan Mesir, tapi sekarang sudah jadi negara sendiri. Dulu Sudan adalah satu negara, tapi sekarang sudah terpecah dua. Begitu seterusnya…

Lalu apakah NKRI harga mati? Jawabannya adalah: Lihatlah Timor-Timur, juga Sipadan dan Ligitan, itu adalah bukti terbaru yang kita alami sendiri. Jadi, “NKRI Harga Mati” itu harus dijadikan semboyan patriotisme. Tapi secara fakta sejarah, tidak ada Negara yang abadi di muka bumi. Ini juga merupakan Ketentuan Tuhan, jadi mengartikannya tak perlu sambil “Bawa Perasaan.”

Maka, sebagaimana kita memperjuangkan Agama, kita juga harus memperjuangkan Negara. Agama memiliki batasan berupa rukun Iman dan Islam, sedangkan Negara memiliki batasan teritorial wilayah. Keduanya bukan hal kontradiktif yang harus dibenturkan. Seolah orang beragama tidak bisa bernegara. Sebaliknya, justru kebanyakan dari orang yang mampu Ber-Agama dengan baik, mereka pasti dapat Ber-Negara dengan baik.



Dalam memahami perkara ini, kita tidak ingin mengekor kepada “Ekstrem Kanan” yang secara mentah-mentah mengingkari nasionalisme dan menyandingkannya dengan kefasikan maupun kekufuran. Pun juga, kita tidak ingin membebek kepada “Ekstrem Kiri” yang ingin menuhankan nasionalisme dan membuang jauh-jauh segala yang berbau agama. Islam itu Wasath. Muslim itu selalu berada di tengah dan Moderat.

Para Ulama lintas-suku, lintas-ormas, lintas-pesantren di seluruh Negeri ini telah sepakat tentang keharusan merawat negeri. Umat Islam di negeri ini sudah tidak lagi pada tahap menghapal Pancasila secara teori, tapi sudah sampai mengamalkan dan memantau penerapan nilai-nilainya di lapangan. Mereka bukan lagi murid di kelas “merangkai bunga” untuk menyatakan Keragaman dan Kerukunan, tapi mereka sudah duduk di strata “Merangkai Bunga Harmonitas” antara Agama dan Negara.

Pada faktanya, umat Islam tidaklah anti-Pancasila, karena spirit Pancasila sendiri selaras dengan ajaran Agama. Bukankah Pancasila itu buatan manusia? Ya. Betul. Tapi ia adalah mufakat yang tidak bertentangan dengan Agama. Sedangkan Rasul sendiri telah bersabda: “Umat Islam terikat dengan persyaratan-persyaratan mereka, kecuali syarat yang mengharamkan perkara halal, atau syarat yang menghalalkan perkara haram.”

Jadi, stigma negatif semacam “Anti-NKRI,” “Anti-Kebhinnekaan” dan “Anti-Pancasila” yang ingin disematkan kepada Muslim Indonesia itu tak ubah bedanya dengan tuduhan fir’aun saat mengklaim Nabi Musa termasuk golongan “Kafir.”

Perkataan fir’aun itu lahir saat ia merasa Panik akan kekuasaannya, dan Khawatir jika tahtanya tumbang di tangan “Rakyat Jelata” dari kalangan Bani Israel yang selama ini ia anggap sebagai budak-budak tak berharga:
قَالَ أَلَمْ نُرَبِّكَ فِينَا وَلِيدًا وَلَبِثْتَ فِينَا مِنْ عُمُرِكَ سِنِينَ … وَفَعَلْتَ فَعْلَتَكَ الَّتِي فَعَلْتَ وَأَنْتَ مِنَ الْكَافِرِينَ
Fir’aun menjawab: “Bukankah kami telah mengasuhmu (Musa) di antara —keluarga— kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu … Dan kamu telah berbuat suatu perbuatan yang telah kamu lakukan itu dan kamu Termasuk golongan orang-orang Kafir!” (QS. Al-Syu’ara: 18-19).

Wallahu A’lam Bis-Shawab.

Oleh Yusuf Al-Amien dari postingan di Telegram @hasanalbanna.com 

Rahasia Kenapa Pekerja Pabrik Pembuat Rokok Tidak Mau Merokok [video] 


Memulai tulisan ini saya ingin mengutip salah satu status facebook dari bapak Fuad Baradja, mantan artis Jin dan Jun yang sekarang beralih menjadi komisi nasional penanggulangan tembakau. 

Dalam salah satu dinding facebooknya beliau menulis komentarnya tentang bencana kelaparan di beberapa negara dan lebih sedih lagi ketika melihat berapa triliyunan habis untuk hanya merokok. 

Berikut kutipannya. 

Kemarin saat saya posting gambar ini di beberapa group Whatsapp, banyak yang minta penjelasan apakah angka 1 trilyun perhari buat beli rokok itu valid ?

Saya katakan bahwa saat ini ada 90 juta perokok di Indonesia.

Kalau 80 persennya muslimin , maka angkanya ada 72 juta perokok muslim. Kalau mereka merokok perhari 1 bungkus saja seharga 15 ribu , maka perhari mereka membelanjakan sebenyak Rp 1.080.000.000.000 (1,08 T) buat beli rokok.

Itung aja sendiri kalau gak percaya. 

Berikut gambar yang beliau maksud. 

Kemudian beberapa hari yang lalu Syaikh Muhammad Al-Uraifi menulis dalam di laman twitternya video pendek yang menerangkan kenapa para pekerja di pabrik rokok tidak mau merokok. 

Berikut tweet dan video beliau. 

Doa Untuk Kekalahan Ahok


Di hari tenang menjelang hari panas, pertarungan antara dua kubu penista agama dan pembela agama akan digelar besok. 

Banyak dari umat Islam yang berdoa agar Ahok kalah karena sudah melecehkan agama Islam dan Alquran. 

Salah satu kiyai dan dewan ulama di kota Solo yaitu Drs. Abdullah Manaf Amin ketika di Boyolali, 17 April 2017 di Masjid dan Islamic Center Al Hikmah mengatakan: “Saya serius berpesan kepada ustadz di pondok untuk mengajak santri-santrinya mendoakan kekalahan Ahok karena sudah menghina Allah, Rosulullah dan Al Quran”. 

Karena ulama sudah menasehatkan demikian, maka layaknya kita mentaati dan mendoakan kekalahan Ahok yang sudah membuat suasana Jakarta gaduh.

 Ada beberapa doa yang tersebar di group WA salah satunya seperti ini. 

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ دِيْنَكَ وَ أَطْهِرْ أَوْلِيَاءَكَ وَ اخْزِ أَعْدَاءَكَ فِى عَافِيَةِ لِأُمَّةِ مُحَمَّد ﷺ

“Ya Allah, muliakanlah agama-Mu, menangkanlah para kekasih-Mu, dan kalahkanlah musuh-musuh-Mu demi kebaikan umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam”

Atau ini:

” حسبى الله ونعم الوكيل ” 

” حسبى الله ونعم الوكيل ”

” حسبى الله ونعم الوكيل ”

” اللهم انهم أظهروا علينا قوتهم ………. فأظهر عليهم جبروتك وانتقامك يا رب العالمين وأرنا فيهم آية ”

Hasbiyallah wa ni’ mal wakiil

Hasbiyallah wa ni’mal wakill

Hasbiyallah wa ni’mal wakiil

Allahumma innahum adhharuu ‘alainaa quwwatahum. Fadhhir ‘alaika jabaruutahum wa intiqaamuka yaa rabbal aalamiin wa arinaa fiihim aayat. 

Cukuplah Allah bagi kami, dan Dia adalah sebaik baik penolong (3kali). Ya Allah, sesungguhnya mereka telah menampakkan kekuatan mereka. Balaslah dengan kemarahan-Mu wahai Tuhan semesta alam dan tunjukan tandanya pada kami. 

Mari.. Doakan Ahok kalah besok.. AMIIN 

Hidup di dunia ini hanya sebentar, dan kehidupan akhirat abadi dan selamanya. 

Kelak tangan, kaki dan kulit akan menjadi saksi atas apa yang kita lakukan dan mulut yang selama ini selalu bebas berbicara akan ditutup.

Tidak ada alasan lagi untuk berkelit dan berbohong. Hanya kepada Allah Swt kita mohon pertolongan.  

Pasung Memasung


Menggambarkan kondisi umat islam saat ini. Mereka yang sekian lama dijerat/dicekik oleh orang komunis dan liberal

Namun ketika ditengah mereka ada mujahidin yang rela memasang badanya untuk tameng umat, rela mengucurkan keringat dan darahnya demi terlindunginya darah umat, rela sedikit tidur dan istirahat supaya umat tetap nyaman, rela mengorbankan nyawanya menjadi ‘tumbal’ demi menjaga nyawa umat

Namun apa yang hari ini terlontar dari lisan para umat yang dicekoki oleh media kuffar, bahwa mujahidin adalah garis keras, penuh kekerasan, intoleran bahkan dituduh sebagai teroris

Alumni 212 yang menjabat tempat strategis di pemerintahan, sengaja atau tidak dilengserkan tanpa ada sebab yang jelas.

Mari Jaga Selalu Spirit 212. Jangan sampai semangat jihad dan perjuangan luntur dari dalam diri. Terus semangat para pejuang.

Seberat dzarrah yang kita lakukan akan dinilai Allah Swt sebagai amalan, tidak akan dibiarkan sia sia. Mari eratkan persatuan, kokohkan langkah dan maju bersama

#spirit212✊
#alumni212itukami
#blogjumal

View on Path

Cara Mencegah Pedofilia


Pedofilia berasal dari bahasa Yunani. Paid berarti anak anak dan Philia berarti cinta. Cinta anak anak yang bentuknya adalah pelecehan seksual terhadap anak anak.

Pedofilia adalah bentuk penyimpangan seksual yang subur di tengah masyarakat yang menganut seks bebas. Semakin bebas aksi seksualitas, semakin subur aksi pedofilia tersebut.

Banyaknya kasus pedofilia di Indonesia menunjukkan pertumbuhan budaya seks bebas di negeri ini yang sudah mencapai tingkat memprihatinkan sekaligus mengerikan.

Krafft-Ebing menyebutkan dalam tipologi “penyimpangan psiko-seksual.” Daftar tiga ciri umum dari pedofilia yaitu:

  1. Individu tercemari [oleh keturunan] (belastate hereditär).
  2. Daya tarik utama subyek adalah untuk anak-anak, daripada orang dewasa.
  3. Tindakan yang dilakukan oleh subjek biasanya tidak berhubungan, melainkan melibatkan tindakan yang tidak pantas seperti menyentuh atau memanipulasi anak dalam melakukan tindakan pada subjek.

Ciri pedofilia menurut Asosiasi Psikiater Amerika:

  1. Selama periode minimal 6 bulan, berulang dorongan seksual yang intens dan fantasi menggairahkan seksual yang melibatkan aktivitas seksual dengan anak praremaja atau anak-anak.

  2. Orang tersebut telah bertindak atas dorongan ini atau karena tertekan.
  3. Orang ini setidaknya 16 tahun dan setidaknya 5 tahun lebih tua dari anak.

Legalisasi Pedofilia

Hati-hati dengan kampanye yang sedang digalakkan media masa terutama media barat yang ingin menormalisasi pelaku pedofilia. Jaga keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah Swt dan menghindari propaganda sesat ini.

Gerilya kaum homoseks di bidang medis telah berhasil mengeluarkan “homoseksualitas” dari daftar penyakit Internasional (International Classification of Diseases) oleh WHO pada 17 Mei 1990. Homoseksual juga ditetapkan oleh Asosiasi Psikiater Amerika (APA) sebagai bukan penyakit, kekacauan mental atau problem emosional.

Setelah sukses dengan homoseksual, sekarang mereka mengingkan Pedofilia diterima di masyarakat dengan terus meminta kepada DSM (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders) agar mengeluarkan pedofilia dari daftar penyakit. Salah satu perkumpulan yang berjuang dalam hal ini adalah B4uAct.

13254154_1778391769061081_917560232668437099_n

Gary Dowsett: Pendukung Pedofilia

Psikiater Prof. Dadang Hawari dan psikolog Rita Soebagio peneliti di INSITS menyatakan tidak setuju jika homoseks dinilai bukan penyakit dan tidak perlu disembuhkan seperti yang diklaim Asosiasi Psikiater Amerika (APA). Meski begitu mereka mengakui bahwa terapi homoseks relative lebih sulit maka pencegahan semenjak dini harus dilakukan dan pencegahan yang paling kuat menurut mereka adalah dengan pendidikan agama sejak dini. Hal ini juga sudah dibuktikan oleh ilmuwan Barat bernama Dr. Graf Remafedi dari Universitas Minnesota Amerika Serikat  dan ilmuwan yang tergabung dalam The National Association for Research ang Therapy of Homosekxuality (NARTH).

Prof. Dadang Hawari juga pernah mengkritik pasal Zina dalam KUHP, beliau menegaskan fenomena munculnya penganut free sex dan perkawinan sejenis dengan dalih HAM hakikatnya bertentangan dengan norma-norma yang berlaku, agama, dan falsafah Pancasila. Lagipula, konsep HAM yang dianut negara-negara barat berbeda dengan konsep HAM yang dianut di Indonesia.

“HAM kita beda dengan HAM barat yang tidak didasarkan nilai Ketuhanan. HAM di Indonesia adalah Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa. Jadi, Tuhan memang melarang seks bebas dan perkawinan sejenis. Islam sendiri mendekati zina saja dilarang, apalagi melakukannya?” kata pria yang dikenal psikiater ini.

Menurut psikolog Bertha Sekunda, para ahli membagi homoseks dalam dua kelompok yaitu.

Ego Distonic Sexual Orientation (EDSO)

Yaitu keadaan dimana seseorang merasa seksualitasnya tidak sesuai dengan citra diri yang diinginkan, sehingga menyebabkan orang tersebut mengubah orientasi seksualnya. Orang ini biasanya melakukan hubungan sesame jenis untuk menambah gairah hubungan seksnya dengan lawan jenis, namun mereka merasa bahwa hasrat homoseks mereka sebagai sesuatu yang tak diinginkan dan sumber petaka. EDSO termasuk gangguan jiwa.

Ego Sintonic Sexual Orientation (ESSO)

Mereka adalah pelaku homoseks yang berdamai dengan dirinya sendiri dan menganggap perilakunya itu “normal” sebab tidak disertai keluhan-keluhan kejiwaan

Simak video berikut bagaimana orang-orang yang tidak bertanggung jawab ingin melegalkan praktek pedofilia.

Cara Sederhana Menghindari Pedofilia

Cara untuk mencegah aktivitas seksual menyimpang tersebut adalah dengan cara menghilangkan rangsangan-rangsangan terkait dengannya.

Pertama,  Terkait Pemikiran

Pemikiran yang mendorong orang mencoba melakukan pedofilia adalah pemikiran serba bebas, yakni liberalisme materialisme. Dalam liberalisme, orang dipahamkan bahwa hidup itu terserah mau melakukan apa saja.

Kedua, Menjaga Fitrah

Secara individual menjauhi hal-hal yang dapat mengundang hasrat melakukan sodomi atau pedofilia. Islam sangat memperhatikan fitrah manusia. Terkait masalah ini, Rasulullah bersabda:  “Janganlah seorang laki-laki melihat aurat laki-laki, jangan pula perempuan melihat aurat perempuan. Janganlah seorang laki-laki tidur dengan laki-laki dalam satu selimut, begitu juga janganlah perempuan tidur dengan perempuan dalam satu selimut.” (HR. Muslim).

Ketiga,  Secara Sistematik

Hilangkan berbagai hal di tengah masyarakat yang dapat merangsang orang untuk mencoba-coba. Misalnya, hentikan pornografi terkait homo dan lesbi. Kini, di dunia maya berkeliaran promosi tentang itu.

Keempat,  Terapkan Hukuman

Undang-undang yang ada selama ini seperti tertuang dalam Pasal 292 KUHP tentang pencabulan terhadap anak di bawah umur dan UU No 23/2002 tentang Perlindungan Anak menyebutkan hukuman maksimal adalah 15 tahun. itu pun sangat jarang pengadilan menjatuhkan hukuman maksimal pada pelaku.

Jika sistem persanksian negeri sekuler ini tetap dipertahankan, jangan pernah membayangkan kasus kejahatan sebagaimana yang terjadi di sekarang ini terselesaikan.

Kelima, Pendidikan Agama dan Karakter

Pendidikan karakter dan pendidikan agama memerlukan keteladanan dan sentuhan mulai sejak dini sampai dewasa. Dan periode yang paling sensitif dan menentukan adalah pendidikan dalam keluarga yang menjadi tanggung jawab orang tua. Pola asuh atau parenting style adalah salah satu factor yang secara signifikan turut membentuk karakter anak selain itu pendidikan dalam keluarga adalah pendidikan utama dan pertama bagi anak.

Orang Tua dan Pendidik

Untuk melakukan pencegahan sejak dini terhadap terjadinya penyimpangan seksual remaja, hal-hal yang harus dilakukan oleh orang tua adalah:

  • Menanamkan nilai-nilai agama ke dalam kehidupananak dan memberikan contoh tauladan yang baik.
  • Memberikan kasih sayang yang lebih ditekankan kepadamemberikan perhatian secara psikologis seperti, meluangkanwaktu untuk bercengkrama dengan anak-anak, memberikanperhatian terhadap apa yang dilakukan anak di luar atau dalam rumah.
  • Memberikan dukungan kepada anak terhadapkegiatan positi< yang dilakukannya dan menjauhi anak darikegiatan-kegiatan yang negatif.
  • Memberikan pengawasan secara wajar terhadap pergaulan dilingkungan masyarakat.
  • Orang tua memberikan rambu-rambu yang jelas agar anak tidak terjerumus ke dalam pengaruh yang tidakbaik atau pergaulan yang awut-awutan.
  • Orang tua juga perlumengontrol kamar pribadi anaknya, karena bukan tidak mungkin anak menyimpan sesuatu yang tidak baik, seperti video porno,gambar-gambar porno, narkoba dan hal yang sejenis lainnya.
  • Memberikan pendidikan seks.
  • Orang tua haruslah memberikan peluang dan kesempatan untuk anak mengembangkan hobinya serta menyalurkan bakat dan minat yang ia miliki.
    Membangun komunikasi yang baik dengan anak-anak.

Dan untuk membantu pencegahan terjadinya penyimpangan seksual remaja, yang harus dilakukan oleh pendidik sebagaimana disebutkan oleh Elida Prayitno adalah:

  • Para calon pendidik perlu dibekali dengan ilmu-ilmu psikologi~psikologi perkembangan, psikologi sosial, psikologi umum,bimbingan dan konseling, psikologi pendidikan dan lain-lain.’engan dibekali oleh ilmu-ilmu tersebut maka guru akan dapatmemahami murid dari berbagai sudut pandang dan kondisi,sehingga memudahkan guru untuk memberikan bantuan kepadasiswa yang bersangkutan, dengan teknik yang tepat guna.
  • Mengintensifkan pelajaran agama dan mengadakan tenaga guru agama yang ahli dan berwibawa serta mampu bergaul secara harmonis dengan guru-guru umum lainnya dan dapat dijadikan contoh tauladan bagi murid.
  • Mengintensifkan bagian-bagian bimbingan dan konseling di sekolah dengan cara mengadakan tenaga ahli atau menatar guru-guru untuk mengelola bagian ini.
  • Mengaktifkan kegiatan ekstrakurikuler.

Selain itu, masyarakat juga harus ikut bekerjasama mencegah terjadinya penyimpangan seksual dengan memberikan pengawasan terhadap perilaku anak dan remaha di lingkungannya dan menganggapnya sebagai tanggung jawab bersama.

Sekian.

Sumber:

http://crazzfiles.com/homosexuals-are-normalizing-pedophilia/

http://livingresistance.com/2017/02/13/hollywood-corporate-media-crusading-normalize-pedophilia/

https://www.quora.com/Was-the-Prophet-Muhammad-really-a-pedophile

infografis pedofilia di Indonesia: https://m.kumparan.com/rina-nurjanah/12-kasus-pedofilia-di-indonesia

Fakta Dan Data Pemerintahan Usmani


Video menarik dan interaktif tentang perkembangan dan kemajuan selama umat Islam dipimpin kekhilafahan Usmani di Turki.

%d bloggers like this: