Pasung Memasung


Menggambarkan kondisi umat islam saat ini. Mereka yang sekian lama dijerat/dicekik oleh orang komunis dan liberal

Namun ketika ditengah mereka ada mujahidin yang rela memasang badanya untuk tameng umat, rela mengucurkan keringat dan darahnya demi terlindunginya darah umat, rela sedikit tidur dan istirahat supaya umat tetap nyaman, rela mengorbankan nyawanya menjadi ‘tumbal’ demi menjaga nyawa umat

Namun apa yang hari ini terlontar dari lisan para umat yang dicekoki oleh media kuffar, bahwa mujahidin adalah garis keras, penuh kekerasan, intoleran bahkan dituduh sebagai teroris

Alumni 212 yang menjabat tempat strategis di pemerintahan, sengaja atau tidak dilengserkan tanpa ada sebab yang jelas.

Mari Jaga Selalu Spirit 212. Jangan sampai semangat jihad dan perjuangan luntur dari dalam diri. Terus semangat para pejuang.

Seberat dzarrah yang kita lakukan akan dinilai Allah Swt sebagai amalan, tidak akan dibiarkan sia sia. Mari eratkan persatuan, kokohkan langkah dan maju bersama

#spirit212✊
#alumni212itukami
#blogjumal

View on Path

Cara Mencegah Pedofilia


Pedofilia berasal dari bahasa Yunani. Paid berarti anak anak dan Philia berarti cinta. Cinta anak anak yang bentuknya adalah pelecehan seksual terhadap anak anak.

Pedofilia adalah bentuk penyimpangan seksual yang subur di tengah masyarakat yang menganut seks bebas. Semakin bebas aksi seksualitas, semakin subur aksi pedofilia tersebut.

Banyaknya kasus pedofilia di Indonesia menunjukkan pertumbuhan budaya seks bebas di negeri ini yang sudah mencapai tingkat memprihatinkan sekaligus mengerikan.

Krafft-Ebing menyebutkan dalam tipologi “penyimpangan psiko-seksual.” Daftar tiga ciri umum dari pedofilia yaitu:

  1. Individu tercemari [oleh keturunan] (belastate hereditär).
  2. Daya tarik utama subyek adalah untuk anak-anak, daripada orang dewasa.
  3. Tindakan yang dilakukan oleh subjek biasanya tidak berhubungan, melainkan melibatkan tindakan yang tidak pantas seperti menyentuh atau memanipulasi anak dalam melakukan tindakan pada subjek.

Ciri pedofilia menurut Asosiasi Psikiater Amerika:

  1. Selama periode minimal 6 bulan, berulang dorongan seksual yang intens dan fantasi menggairahkan seksual yang melibatkan aktivitas seksual dengan anak praremaja atau anak-anak.

  2. Orang tersebut telah bertindak atas dorongan ini atau karena tertekan.
  3. Orang ini setidaknya 16 tahun dan setidaknya 5 tahun lebih tua dari anak.

Legalisasi Pedofilia

Hati-hati dengan kampanye yang sedang digalakkan media masa terutama media barat yang ingin menormalisasi pelaku pedofilia. Jaga keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah Swt dan menghindari propaganda sesat ini.

Gerilya kaum homoseks di bidang medis telah berhasil mengeluarkan “homoseksualitas” dari daftar penyakit Internasional (International Classification of Diseases) oleh WHO pada 17 Mei 1990. Homoseksual juga ditetapkan oleh Asosiasi Psikiater Amerika (APA) sebagai bukan penyakit, kekacauan mental atau problem emosional.

Setelah sukses dengan homoseksual, sekarang mereka mengingkan Pedofilia diterima di masyarakat dengan terus meminta kepada DSM (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders) agar mengeluarkan pedofilia dari daftar penyakit. Salah satu perkumpulan yang berjuang dalam hal ini adalah B4uAct.

13254154_1778391769061081_917560232668437099_n

Gary Dowsett: Pendukung Pedofilia

Psikiater Prof. Dadang Hawari dan psikolog Rita Soebagio peneliti di INSITS menyatakan tidak setuju jika homoseks dinilai bukan penyakit dan tidak perlu disembuhkan seperti yang diklaim Asosiasi Psikiater Amerika (APA). Meski begitu mereka mengakui bahwa terapi homoseks relative lebih sulit maka pencegahan semenjak dini harus dilakukan dan pencegahan yang paling kuat menurut mereka adalah dengan pendidikan agama sejak dini. Hal ini juga sudah dibuktikan oleh ilmuwan Barat bernama Dr. Graf Remafedi dari Universitas Minnesota Amerika Serikat  dan ilmuwan yang tergabung dalam The National Association for Research ang Therapy of Homosekxuality (NARTH).

Prof. Dadang Hawari juga pernah mengkritik pasal Zina dalam KUHP, beliau menegaskan fenomena munculnya penganut free sex dan perkawinan sejenis dengan dalih HAM hakikatnya bertentangan dengan norma-norma yang berlaku, agama, dan falsafah Pancasila. Lagipula, konsep HAM yang dianut negara-negara barat berbeda dengan konsep HAM yang dianut di Indonesia.

“HAM kita beda dengan HAM barat yang tidak didasarkan nilai Ketuhanan. HAM di Indonesia adalah Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa. Jadi, Tuhan memang melarang seks bebas dan perkawinan sejenis. Islam sendiri mendekati zina saja dilarang, apalagi melakukannya?” kata pria yang dikenal psikiater ini.

Menurut psikolog Bertha Sekunda, para ahli membagi homoseks dalam dua kelompok yaitu.

Ego Distonic Sexual Orientation (EDSO)

Yaitu keadaan dimana seseorang merasa seksualitasnya tidak sesuai dengan citra diri yang diinginkan, sehingga menyebabkan orang tersebut mengubah orientasi seksualnya. Orang ini biasanya melakukan hubungan sesame jenis untuk menambah gairah hubungan seksnya dengan lawan jenis, namun mereka merasa bahwa hasrat homoseks mereka sebagai sesuatu yang tak diinginkan dan sumber petaka. EDSO termasuk gangguan jiwa.

Ego Sintonic Sexual Orientation (ESSO)

Mereka adalah pelaku homoseks yang berdamai dengan dirinya sendiri dan menganggap perilakunya itu “normal” sebab tidak disertai keluhan-keluhan kejiwaan

Simak video berikut bagaimana orang-orang yang tidak bertanggung jawab ingin melegalkan praktek pedofilia.

Cara Sederhana Menghindari Pedofilia

Cara untuk mencegah aktivitas seksual menyimpang tersebut adalah dengan cara menghilangkan rangsangan-rangsangan terkait dengannya.

Pertama,  Terkait Pemikiran

Pemikiran yang mendorong orang mencoba melakukan pedofilia adalah pemikiran serba bebas, yakni liberalisme materialisme. Dalam liberalisme, orang dipahamkan bahwa hidup itu terserah mau melakukan apa saja.

Kedua, Menjaga Fitrah

Secara individual menjauhi hal-hal yang dapat mengundang hasrat melakukan sodomi atau pedofilia. Islam sangat memperhatikan fitrah manusia. Terkait masalah ini, Rasulullah bersabda:  “Janganlah seorang laki-laki melihat aurat laki-laki, jangan pula perempuan melihat aurat perempuan. Janganlah seorang laki-laki tidur dengan laki-laki dalam satu selimut, begitu juga janganlah perempuan tidur dengan perempuan dalam satu selimut.” (HR. Muslim).

Ketiga,  Secara Sistematik

Hilangkan berbagai hal di tengah masyarakat yang dapat merangsang orang untuk mencoba-coba. Misalnya, hentikan pornografi terkait homo dan lesbi. Kini, di dunia maya berkeliaran promosi tentang itu.

Keempat,  Terapkan Hukuman

Undang-undang yang ada selama ini seperti tertuang dalam Pasal 292 KUHP tentang pencabulan terhadap anak di bawah umur dan UU No 23/2002 tentang Perlindungan Anak menyebutkan hukuman maksimal adalah 15 tahun. itu pun sangat jarang pengadilan menjatuhkan hukuman maksimal pada pelaku.

Jika sistem persanksian negeri sekuler ini tetap dipertahankan, jangan pernah membayangkan kasus kejahatan sebagaimana yang terjadi di sekarang ini terselesaikan.

Kelima, Pendidikan Agama dan Karakter

Pendidikan karakter dan pendidikan agama memerlukan keteladanan dan sentuhan mulai sejak dini sampai dewasa. Dan periode yang paling sensitif dan menentukan adalah pendidikan dalam keluarga yang menjadi tanggung jawab orang tua. Pola asuh atau parenting style adalah salah satu factor yang secara signifikan turut membentuk karakter anak selain itu pendidikan dalam keluarga adalah pendidikan utama dan pertama bagi anak.

Orang Tua dan Pendidik

Untuk melakukan pencegahan sejak dini terhadap terjadinya penyimpangan seksual remaja, hal-hal yang harus dilakukan oleh orang tua adalah:

  • Menanamkan nilai-nilai agama ke dalam kehidupananak dan memberikan contoh tauladan yang baik.
  • Memberikan kasih sayang yang lebih ditekankan kepadamemberikan perhatian secara psikologis seperti, meluangkanwaktu untuk bercengkrama dengan anak-anak, memberikanperhatian terhadap apa yang dilakukan anak di luar atau dalam rumah.
  • Memberikan dukungan kepada anak terhadapkegiatan positi< yang dilakukannya dan menjauhi anak darikegiatan-kegiatan yang negatif.
  • Memberikan pengawasan secara wajar terhadap pergaulan dilingkungan masyarakat.
  • Orang tua memberikan rambu-rambu yang jelas agar anak tidak terjerumus ke dalam pengaruh yang tidakbaik atau pergaulan yang awut-awutan.
  • Orang tua juga perlumengontrol kamar pribadi anaknya, karena bukan tidak mungkin anak menyimpan sesuatu yang tidak baik, seperti video porno,gambar-gambar porno, narkoba dan hal yang sejenis lainnya.
  • Memberikan pendidikan seks.
  • Orang tua haruslah memberikan peluang dan kesempatan untuk anak mengembangkan hobinya serta menyalurkan bakat dan minat yang ia miliki.
    Membangun komunikasi yang baik dengan anak-anak.

Dan untuk membantu pencegahan terjadinya penyimpangan seksual remaja, yang harus dilakukan oleh pendidik sebagaimana disebutkan oleh Elida Prayitno adalah:

  • Para calon pendidik perlu dibekali dengan ilmu-ilmu psikologi~psikologi perkembangan, psikologi sosial, psikologi umum,bimbingan dan konseling, psikologi pendidikan dan lain-lain.’engan dibekali oleh ilmu-ilmu tersebut maka guru akan dapatmemahami murid dari berbagai sudut pandang dan kondisi,sehingga memudahkan guru untuk memberikan bantuan kepadasiswa yang bersangkutan, dengan teknik yang tepat guna.
  • Mengintensifkan pelajaran agama dan mengadakan tenaga guru agama yang ahli dan berwibawa serta mampu bergaul secara harmonis dengan guru-guru umum lainnya dan dapat dijadikan contoh tauladan bagi murid.
  • Mengintensifkan bagian-bagian bimbingan dan konseling di sekolah dengan cara mengadakan tenaga ahli atau menatar guru-guru untuk mengelola bagian ini.
  • Mengaktifkan kegiatan ekstrakurikuler.

Selain itu, masyarakat juga harus ikut bekerjasama mencegah terjadinya penyimpangan seksual dengan memberikan pengawasan terhadap perilaku anak dan remaha di lingkungannya dan menganggapnya sebagai tanggung jawab bersama.

Sekian.

Sumber:

http://crazzfiles.com/homosexuals-are-normalizing-pedophilia/

http://livingresistance.com/2017/02/13/hollywood-corporate-media-crusading-normalize-pedophilia/

https://www.quora.com/Was-the-Prophet-Muhammad-really-a-pedophile

infografis pedofilia di Indonesia: https://m.kumparan.com/rina-nurjanah/12-kasus-pedofilia-di-indonesia

Fakta Dan Data Pemerintahan Usmani


Video menarik dan interaktif tentang perkembangan dan kemajuan selama umat Islam dipimpin kekhilafahan Usmani di Turki.

Stop Kriminalisasi Ulama


Akhir-akhir ini banyak sekali kasus atau desain kasus yang menjadikan ummat Islam sebagai target pihak yang bersalah. Fenomena seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya. Hal ini paling tidak bermula dari kasus penistaan agama yang dilakukan oleh seorang pejabat publik. 

Tidak seperti biasanya, tahun-tahun sebelumnya, setiap kasus penistaan agama selalu diproses dengan benar sesuai dengan kontak hukum yang berlaku di negeri ini. Namun, untuk kasus yang satu ini bergolong istimewa dan luar biasa. Tidak seperti biasanya, pihak kepolisian begitu cekatan menyelesaikan setiap kasus penistaan agama.

Mensikapi hal ini umat Islam menuntut keadilan hingga mengerahkan jutaan kaum muslim di berbagai daerah yang puncaknya terkenal dengan aksi 411 dan aksi super damain 212. Tujuan dari semua aksi ini hanya satu umat Islam menghendaki sang penista dihukum. 

Proses persidangan hingga kini masih terus berlangsung, berbagai pihak pun diminta keterangan terkait dengan kasus penistaan agama. Mereka dimintai keterangan sebagai saksi, sebagai terlapor atas kasus penistaan agama. 

Kasus yang awalnya hanya menuntut keadlian sang penista keyakinan untuk dihukum itu, kini telah digoreng hingga aromanya kemana-mana. 

Namun anehnya yang menjadi sasaran justru umat Islam, aktivis-aktivis ormas Islam dan ulama-ulamanya. Seolah-olah mereka-mereka inilah yang menjadi biang dari semua persoalan yang kini tengah menjadi perhatian publik.

Dalam berbagai kesempatan dan persidangan, seolah-olah saksi terlapor yang menjadi penyebab berkembangnya tuntutan masa secara masif untuk menyelesaikan kasus penistaan agama. 

Tak tanggung-tanggung, seorang ulama kharismatik, yang sangat dihormati, sebagai saksi ahli dalam urusan penistaan agama pun dikriminalisasi. Diancam telah melakukan persaksian palsu, memberikan keterangan bohong, akan dipolisikan. Namun, Allah tidak tidur, Allah tahu siapa yang benar dan siapa yang salah. 

Pernyataan tersebut justru menimbulkan reaksi yang tidak simpati terhadap sang pesakitan, opini balik justru menyerangnya.
Berbagai tokoh yang mengawal kasus penistaan agama ini pun tak luput dari jeratan hukum. 

Mereka mengkritisi atas kinerja pemerintah dan aparat kepolisian yang sedang menangani kasus ini. Ada ketidak adilan, ada ketidakjelasan hukum, hukum tumpul atas, tajam ke bawah, begitulah ungkapan yang sering dikemukakan untuk menilai penegakan hukum di negeri ini.

Negara telah bersikap represif terhadap orang-orang yang mengkritiknya, khususnya pada aktivis islam, ulama umat Islam. Seolah-olah mereka telah menjadikan ummat Islam sebagai musuh, pihak tertuduh.

 Padahal andil ulama, umat Islam begitu besar atas berdirinya negeri ini. Bahkan muncul keinginan untuk sertifikasi ulama. Tujuannya bisa ditebak, jelas agar para ulama tersebut mengikuti kemauan penguasa dalam khutbahnya. 

Siapakah yang berwenang menerbitkan sertifikat? Apakah kemenag? Padahal mereka sendiri belum disertifikasi, bagaimana mungkin mereka akan melakukan sertifikasi?

Ulama/khotib/mubalig bukanlah sebuah profesi atau pekerjaan, sehingga harus disertifikasi. 
Ulama/mubalig adalah juru dakwah yang melakukan amar ma’ruf nahi mungkar. Jika ada ulama saja yang menasehati, mereka masih berani berbuat mendholomi rakyat, lalu bagaimana jadi jika tidak ada lagi ulama yang menasehati mereka?

Padahal para ulama tesebut, kalau dipikir-pikir apa kesalahan mereka sehingga layak dikriminalisasi? 

Mereka tidak mengkorupsi uang negara, mereka tidak menjual aset negara, mereka juga tidak pernah menyerahkan pengelolaan sumber daya alam ke negara-negara asing atau aseng. 

Para ulama atau aktivis ormas Islam tersebut tidak pernah ikut membikin undang-undang. Mereka semua tidak pernah terlibat dalam kasus seperti itu yang telah menyebabkan hutang negara menggunung yang harus ditanggung oleh anak cucu hingga tujuh turunan ini.

Sementara itu para politiikus, para pembuat kebijakan yang telah menyerahkan pengelolaan negeri ini kepada asing, malah bebas melenggang. Mereka nyaris tak terdengar suaranya, seolah-olah mereka menyetujui, telah bersepakat terhadap kebijakan tersebut.

Sementara orang-orang yang melakukan koreksi, yang melakukan kritik terhadap kebijakan negara dihadapi sebagai pihak yang menentang. 

Lalu dimana letak perjuangan mereka terhadap kepentingan rakyat? Bukankah dulu saat mereka ingin berkuasa sangat mendambakan dukungan suara mereka. Habis manis sepah dibuang. Rakyat hanya dimanfaatkan sebagai pendulang suara, hanya dimanfaatkan saat dibutuhkan.

Saatnya umat Islam cerdas, jika kekuatan yang mayoritas ini bersatu atau disatukan tentu akan membuat negeri ini kuat juga, memiliki nyali di hadapan negeri lain. Bukan dijadikan sapi perah atas negara lain.

Upaya kriminalisasi ini merupakan bagian dari proxy war, politik adu domba, satu pihak ditekan, pihak lain didukung. Umat Islam harus menyadari hal ini, persatuan dan kesatuan harus tetap dijaga. Karena jika umat Islam berperang, antar sesama mereka justru inilah yang mereka kehendaki.

Ulama adalah sosok mulia karena merupakan pewaris para nabi. Rasulullah saw. bersabda:
Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Mereka mewariskan ilmu. Siapa saja yang mengambil ilmu berarti telah mengambil bagian yang banyak lagi sempurna (HR Abu Dawud).

Sebagai pewaris nabi, kemuliaan para ulama adalah karena mereka menempuh jalan sebagaimana Rasulullah saw.; tak kenal lelah membacakan ayat-ayat-Nya dan menyebarluaskannya di tengah-tengah manusia. Mereka pantang menyerah meskipun harus menghadapi beragam risiko.

Jika ingin negeri ini jaya, makmur sejahtera mulyakan ulama.

#SaveUlama

#SaveIndonesia 

Kenapa Paham Agama Tapi Korupsi? 


Siang ini di WAG Islamic Character Development-ICD ada satu pertanyaan dari peserta sebagai berikut: Kenapa bangsa ini mempunyai banyak pemimpin penipu, pembohong, rakus, julik,… padahal mereka orang2 pinter dan nempunyai pengetahuan agama yg hebat2?
Saya mencoba menampilkan beberapa tanggapan peserta WAG. Semoga bisa menambah keilmuan kita.

Bapak Aditya Wijaya mencoba menjawab pertanyaan ini sebagai berikut.

Kita bisa lihat di negara2 arab, yg sangat bisa jadi pengetahuan agama nya secara rata2 lebih hebat dari Indonesia.

Silih berganti konflik yang datang, bentuk pemerintahan kekhalifahan yang bukan kerajaan/keturunan/dinasti saja sudah lama tidak ada..dinasti muawiyah muncul tahun 661, “hanya” 30thn setelah Baginda Rasul wafat.

Saya yakin orang2 di zaman itu sangat hebat pengetahuan agama-nya, bahkan beberapa/banyak diantaranya sempat bertatap mula langsung.

Tapi memang kodrat manusia banyak khilaf dan sering terbutakan nafsu, nafsu berkuasa itu yang paling bahaya.

Yang bisa kita lakukan saya rasa adalah banyak istighfar, berpegang sekuatnya terhadap ajaran Rasulullah serta tingkatkan sabar dan taqwa

Wallahu a’lam bish-shawab. 

Kemudian ada jawaban dari mas Ahmad Darda yang menulis demikian:

Kesalahan adalah bukan pada pengetahuan agamanya tapi pada manusianya oleh karenanya berbeda sekali antara ahli agama dengan ahli taqwa, ahli agama yang penipu atau korup hanya meletakkan pengetahan hanya pada tahap materi semata, tidak dalam praktik di kehidupan sehari-hari.

Selanjutnya ada tambahan ilmu dari bu Dina yang menuliskan jawaban dalam bentuk poin poin.

Menurut dia, sebab para pemimpin yang berilmu tapi korupsi adalah sebagai berikut.

1. Pengetahuan agama yg salah

2. Iman dan ke Taqwaan nya lemah

3. Mementingkan penilaian manusia

4. Harta, Tahta, Wanita dan Pria

5. Mengikuti Ego,  hawa nafsu, gangguan syeitan

6. Manusia tempatnya Dosa dan Khilaf

7. Dunia adalah ujian

8. Dunia tujuannya

9. Lupa akan Akhirat

10. Kekuasaan,  uang,  adalah kekuatan

11.Golongan Munafiq

12. Belum di tolong Allah dan belum mendapatkan Hidayah Allah SubhanaWaTa’alla

15. Tersesat karena perbuatan nya yg melanggar aturan2 Allah dan Rasulullah SAW

16. Tidak paham dengan agama Islam dan Rabb nya juga ajaran2 perintah dan larangannya.

17. Lebih mengikuti life style, lingkungan adat istiadat,  kebiasaan buruk sekitarnya, bukan agamanya.

Firman Allâh Azza wa Jalla berikut:
قُلْ إِنَّ رَبِّي يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Sesungguhnya Rabbku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan (bagi siapa yang dikehendaki-Nya), akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” [Saba/34:36]

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan” [al-Anbiyâ/21:35]

وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

“Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan Sesungguhnya di sisi Allâh-lah pahala yang besar” [al-Anfâl/8:28]
Wallahu’alam Bishowap ❤️

Demikian jawaban dari teman teman anggota WAG ICD, saya ingin menambahkan jawaban dengan mengambil sudut pandang yang berbeda yaitu Gagalnya Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Indonesia.

Kurikulum PAI di negara kita masih banyak berorientasi pada kognitif, seperti menghafal tanpa ada pendidiakan afektif yaitu bagaimana melibatkan rasa dan hati dalam belajar. Misalnya ketika belajar nama nama Allah, bukan hanya menghafal saja tapi juga sampai pada merasakan keagungan Allah.

Pelajaran shalat diajarkan hanya sampai pada hafalan, tidak ditingkatkan sampai kepada afeksi bagaimana ketika shalat kita merasakan sedang menghadap Allah swt sehingga shalat kita akan berpengaruh pada kehidupan sosial.

Pun demikian ketika belajar Fisika, Biologi dan ilmu alam yang lain, bukan berhenti pada materi, tapi hendaknya diteruskan mengenal siapa yang menciptakan materi, alam yang terbentang luas, dari mikro sampai makro tidak mungkin berdiri sendiri, pasti ada dzat yang menciptakan yaitu Allah swt.

Orang orang yang sekarang menjadi pimpinan negeri ini adalah produk dari kegagalan kurikulum kita.

Mungkin ini jawaban yang kuras pas untuk saat ini, tapi menurut saya perlu ada perubahan dari sisi kurikulum Agama yang dipakai sekarang.

Jika ada teman teman yang mau menyumbang jawaban pertanyaan di atas silahkan menuliskan di kolom komentar.[]

***

Iwan Januar menuliskan di blongnya 4 hal kenapa korupsi bukan hanya dilakukan oleh mereka yang berlatar belakang nasionalis sekuler, tetapi juga politisi muslim.

1. Korban biaya politik demokrasi.

2. Gegar Budaya.

Sindrom OKB (Orang Kaya Baru), orang yang awalnya terbiasa hidup susah kemudian masuk ke dalam lingkungan elit pejabat, perlahan mereka mengalami ‘gegar budaya’.

3. Terlalu polos

4. Keliru memahami Korupsi, Komisi dan Suap.

***

Fiqih Pilkada


Ikut serta dalam sistem demokrasi ketika didalamnya terdapat banyak hal hal yang bertentangan dengan syariat adalah tidak dibenarkan. 

Namun, suka atau tidak suka secara raealitas kita berada didalamnya. Jika berlepas diri secara mutlak menjadi solusinya, maka konsekuensinya, keluar dari negara atau mencari negara lain yang mengamalkan sistem Islam dan tidak berdemokrasi. 

Selama masih di negara ini, bukankah seyogyanya kita mencari kondisi yang terbaik baik bagi tempat tinggal tersebut semampu kita. 

Maka kaidah fiqih yang dipakai adalah:
دَرْءُ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَىٰ جَلْبِ الْمَصَالِحِ

“Menolak mudharat (bahaya) lebih didahulukan dari mengambil manfaat”

Dalam konteks Pilkada sekarang  menolak bahaya dengan berkuasanya orang-orang kafir itu lebih di dahulukan dari maslahat dengan qaul-qaul yang tidak tepat waktunya  

Syaikh Al-Maqdisi dalam wawancaranya pernah mengutip perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dengan mengatakan “Seorang faqih (seorang yang paham hukum Islam ) bukanlah orang yang mampu membedakan antara mafsadat (kerusakan) dan maslahat (kebaikan), seorang faqih adalah orang yang mampu memprioritaskan satu maslahat di antara banyak maslahat ketika maslahat-maslahat itu bertabrakan, dan memprioritaskan untuk menghindari satu mafsadat di antara banyak mafsadat ketika mafsadat-mafsadat itu bertabrakan.”

Sistem yang Islami dan ideal tidak akan terbentuk dengan jalan yang tidak islami. Logika sederhananya, jika mau ke Jakarta tapi anda lewat jalur ke Bandung, maka anda tidak akan sampai ke tujuan. 

Namun, kita hidup pada realita dan bukan utopia. Kita menginginkan maslahat yang besar dengan penerapan sistem Islami dan ideal di masa yang akan datang sambil menolak kemudharatan yang menghadapi. 

Berikut ini penggalan pernyataan Habib Rizieq selepas diperiksa di Mapolda Jabar. 

“Pancasila tidak bertentangan dengan Islam dan Pancasila tidak melarang pemberlakuan syariat Islam selama dilakukan dengan konstitusional. 

Yang memproduk peraturan adalah DPR, jika 2/3 DPR setuju dan disetujui presiden, maka pemberlakuan syariat Islam bisa diterapkan di republik ini.”

Demikian. 

Jaga Iman di Bilik Suara


Seorang mukmin wajib mengaja imannya di manapun dan kapanpun. Kematian bisa datang tiba-tiba, karenanya iman harus terus dijaga jangan sampai lepas dari raga. Nyawa boleh hilang, asal iman tidak me…

Source: Jaga Iman di Bilik Suara oleh @elhakimi

%d bloggers like this: