• Selamat datang di blog Jumal Ahmad. Saya sedang meneliti tentang Meta-Level Reflection dalam Pembangunan Karakter. Semoga dimudahkan dan bermanfaat.

  • Categories

Kata Hikmah Korea: Akhlak Perempuan Dimulai dari Pakaiannya


Foto di atas adalah gambaran baju tradisional masyarakat korea yang dikenal dengan Hanbok (Korea Selatan) atau Chosŏn-ot (Korea Utara).

Foto diambil pada tahun 1908 M, seorang suami dan istrinya memakai pakian adat korea di salah satu jalan di kota Seoul.

Beberapa Perkataan hikmah dari masyarakat korea waktu itu menunjukkan bahwa secara fitrah mereka sangat menjaga kehormatan dan sopan dalam berpakaian.

Diantara perkataan hikmah yang muncul, “Seorang perempuan tanpa akhlak bagaikan sebuah pohon tanpa daun”, “Akhlak seorang perempuan dimulai dari pakaiannya”.

Baju model Hanbok, apakah diperbolehkan?

Model pakaian Hanbok, berdasarkan penelusuran penulis dibolehkan oleh ulama, karena seperti yang ditulis di atas Hanbok adalah PAKAIAN TRADISIONAL MASYARAKAT KOREA, sebagaimana Kimono dari Jepang, Kebaya dari Indonesia, Galabeyya dari Mesir, atau celana Pentalon & setelan jas yang berasal dari budaya barat.

Hanbok BUKAN PAKAIAN KHUSUS UNTUK IBADAH, Walaupun sekarang Hanbok tidak dipakai sehari-hari, hanya dipakai untuk acara-acara tertentu, namun pada asalnya, Hanbok adalah PAKAIAN TRADISIONAL. Jika ada orang yang MENGHARAMKAN Hanbok dengan alasan karena Hanbok KADANG dipakai orang untuk peribadatan mereka.

Bukankah Kebaya juga kadang dipakai orang untuk ngalap berkah di kuburan? Bukankah celana Pentalon & Jas juga kadang dipakai para jema’at Gereja?

Prof. Dr. Hayat Khafaji (Dosen Pascasarjana Fak. Syari’ah, konsentrasi Fiqh, Umm Al-Qura University) pernah ditanya:

Apa hukum memakai pakaian dengan model pakaian orang-orang kafir, Seperti Kimono dari Jepang atau Hanbok dari Korea?

Beliau menjawab: “Hukum asal pada pakaian dari berbagai negara adalah MUBAH (boleh), baik pakaian tradisional maupun pakaian modern, selama pakaian tersebut menutup aurat, longgar tidak sempit, tebal tidak transparan, tidak menyerupai pakaian laki-laki (bagi wanita -pen), dan bukan berupa simbol keagamaan seperti “az-zunnaar”.

Sumber:

salamdakwah.com

Akun Twitter @mostafa_abram

Umroh Untuk Gotta


Sabtu kemarin, di hari pertama Lebarun Peduli Mentawai, ada acara Talkshow yang menghadirkan langsung orang orang Mentawai dari Buttui. Mereka sengaja dihadirkan agar sesuai dengan tema Peduli Mentawai dan agar masyarakat tahu program yang sedang dilaksanakan Aksi Peduli Bangsa benar benar terealisasi di Mentawai. 

5 orang Sikerei maju ke depan panggung bersama pak Nawir, GM Aksi Peduli Bangsa yang memberikan pengantar acara. 

Salah satu Sikerei menyebutkan bahwa mereka sangat bersyukur dengan kedatangan Aksi Peduli Bangsa ke tempat mereka sehingga kehidupan mereka bisa lebih baik dan anak anak mereka juga bisa berkembang. 

Di antara para Sikerei ini, ada anak kecil dari dusun #buttui yang akan disekolahkan di Bogor, hafalan anak ini sudah cukup lumayan dan suaranya bagus. 

Anak ini bernama Gotta, kami meminta dia untuk membacakan surat yang dia hafal dan mengumandangkan adzan. 

Alhamdulillah setelah selesai membaca Al-Quran dan adzan ada peserta yang terharu dan berjanji memberikan hadiah umroh untuk Gotta. 

Ini menjadi menguatkan bukti bahwa Allah Swt selalu memuliakan orang Penghafal Al-Quran, rizki mereka sudah diatur oleh Allah swt. 

Semoga umroh ini jadi penyemangat bagi Gotta untuk terus belajar agama dan kelak menjadi dai di tempat asalnya. 

***

Beberapa foto dan video ttg acara ini ada di IG saya, silahlan follow @JumalAhmad 

Anak kecil dg kaos Hitam di atas bernama Gotta

Pada Setiap Hati Yang Basah Terdapat Pahala


Di postingan sebelumnya saya sampaikan bahwa menolong sesama dengan penuh keikhalasan karena Allah semata hakikatnya adalah menolong diri sendiri. Bukan saja kita mendapatkan pahala karena telah menolong, tetapi perbuatan menolong tersebut akan mengundang pertolongan Allah SWT kepada pelakunya. 

Dalilnya adalah hadits berikut: “Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya, selama hamba tersebut menolong saudaranya,”. 
Selanjutnya, saya ingin menyampaikan hadits lain yang memotivasi untuk berbuat baik kepada orang lain, hadits yang bercerita tentang kisah seorang lelaki yang berbuat baik kepada seekor Anjing yang karena kebaikannya dia masuk surga. 

Imam Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda, “Ketika seorang laki-laki sedang berjalan, dia merasakan kehausan yang sangat, lalu dia turun ke sumur dan minum. Ketika dia keluar, ternyata ada seekor anjing sedang menjulurkan lidahnya menjilati tanah basah karena kehausan. Dia berkata, ‘Anjing ini kehausan seperti diriku.’ Maka dia mengisi sepatunya dan memegangnya dengan mulutnya, kemudian dia naik dan memberi minum anjing itu. Allah berterima kasih kepadanya dan mengampuninya.” Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apakah kita bisa meraih pahala dari binatang?” Beliau menjawab, “Pada setiap hati yang basah terhadap pahala.”

Yang menjadi perhatian kita bukan pada teks ceritanya, tapi pada kata terakhir yang disampaikan Nabi Muhammad Saw:  في كل كبد رطبة أجر)..

“Pada setiap hati yang basah terhadap pahala.”. 

Jika berbuat baik kepada hewan bisa memasukkan ke surga, maka bagaimana dengan berbuat kepada sesama manusia yang membutuhkan, seperti saudara kita di pedalaman Indonesia atau saudara kita di luar sana seperti Somalia, Palestina dan lain sebagainya. 

Maka, pada setiap kesempatan yang ada gunakan untuk berbuat baik kepada sesama. 

Saudara kita di pedalaman Mentawai contohnya, mereka sangat kekurangan dalam masalah ekonomi, sarana listrik, sarana transportasi dan sarana ibadah. 

Lihatlah mereka sebagai saudara kita, Allah memberikan mereka kasih sayang dan kehidupan, kita pun harus memberikan kasih sayang sebagaimana Allah memberikan kepada mereka. 

Membantu Orang Hakikatnya Membantu Diri Sendiri


Mohon maaf kepada semua teman blog, beberapa hari ini saya tidak fokus menulis di blog ini karena ada beberapa event yang saya terlibat di dalamnya, salah satunya event Lebarun Peduli Mentawai yang alhamdulillah berjalan lancar pada hari ini. 

Di posting ke depan, insya allah akan saya ceritakan beberapa pengalaman ketika menjadi panitia lebarun dan khususnya ketika bertemu dengan orang orang Mentawai. 

Kali ini saya ingin menulis salah satu pengalaman hidup yang saya dapatkan dari menolong orang lain, dalam hal ini saya contohkan aktifitas saya yang membantu program dakwah di pedalaman Mentawai. 

Saya meyakini bahwa menolong sesama dengan penuh keikhalasan karena Allah semata hakikatnya adalah menolong diri sendiri. Bukan saja kita mendapatkan pahala karena telah menolong, tetapi perbuatan menolong tersebut akan mengundang pertolongan Allah SWT kepada pelakunya.

Salah satu dalilnya adalah hadits berikut: “Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya, selama hamba tersebut menolong saudaranya,”  yang diriwayatkan Imam Muslim dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu.

Lewat hadits di atas, mari membantu orang lain semampu kita, apapun yang bisa kita lakukan maka lakukanlah. Selalu tanamkan keyakinan sebelum berbuat, bisa jadi disini Surga saya…bisa jadi di tempat ini/ pekerjaan ini surga saya.. 

Berorientasi kepada pahala dan surga akan menambah kekuatan pada diri kita untuk bertahan pada kondisi yang mungkin bagi orang lain bisa tergoyahkan. 

Mari beramal.. 

3 Kesalahan Memaknai Idul Fitri


Besok hari umat Islam akan merayakan hari raya Idul Fitri, satu bulan sudah umat Islam digembleng dalam madrasah Ramadan lewat shalat, membaca Al-Quran dan amal ibadah lainnya. 

Dalam memaknai hari raya Idul Fitri, penulis ingin sedikit berbagi ilmu terkait beberapa kesalahan yang penulis amati ketika umat Islam menyambut akhir Ramadan dan memasuki hari raya. Semoga bermanfaat. 

1. Tidak Semangat di Akhir Ramadan

Ada perbedaan antara umat Islam dahulu dan sekarang dalam menyambut detik detik perpisahan dengan Ramadan. 

Dahulu, umat Islam bersungguh-sungguh menggunakan akhir waktu Ramadan dengan mengencangkan ikat pinggang menggapai amalan utama Ramadan. 

Ibnul Jauzi mengibaratkan dengan orang yang berlomba pacu kuda, semakin dekat finish, semakin bersemangat dan mempercepat laju kuda lari. 

Umat Islam saat ini ketika akhir Ramadan ibarat lomba maraton, di awal lomba, ratusan bahkan ribuan peserta ikut lari, dipertengahan sudah mulai berguguran dan sampai finish hanya tiga orang saja yang menang. 

2. Hari Kemenangan

Banyak televisi, radio dan media elektronik menyambut Idul Fitri dengan menyebutkan ‘Hari Kemenangan’. Sejatinya bukan kemenangan, tetapi ‘Pura Pura Menang’. 

Sudahkah kita menang jika di Ramadan didik untuk menahan nafsu, kemudian di awal Idul Fitri malah kita seakan akan balas dendam dengan memakan segala yang ada di depan mata, berpegangan tangan dengan yang bukan mahram atau pergi ke tempat tempat maksiat? 

Pantaskah disebut menang jika selama Ramadan kita didik untuk shalat tepat waktu dan mengerjakan shalat malam/tarawih, dan di awal idul fitri kita melalaikan shalat lima waktu dengan alasan silaturahmi ke sanak famili dan ketika malam meninggalkan shalat malam yang sudah dibiasakan selama Ramadan? 

Jika umat Islam dahulu was was dan khawatir amalan Ramadan mereka tidak diterima, sekarang kita merasa percaya diri puasa dan shalat diterima Allah Swt. 

3. Idul Fitri = Kembali Suci

Banyak yang menganggap Idul Fitri dengan arti kembali suci, secara bahasa ini salah fatal. 

Makna Ied adalah kembali artinya diulang ulang dalam satu tahun, hari raya idul fitri dan idul adha diulang ulang setiap tahun. 

Makna Fitri adalah makan dan bukan suci atau fitrah, berasal dari kata afthara-yufthiru yang artinya makan. 

Pada hari ini Allah Swt mengharamkan umat Islam untuk berpuasa dan mewajibkan mereka makan sebagai bentuk rasa syukur. 
Dalam sebuah hadits Nabi Saw bersabda:

صومكم يوم تصومون،  وفطركم يوم تفطرون

“Puasa kalian adalah ketika kalian berpuasa, dan idul fitri kalian ketika kalian makan”

Akan salah jika kata fitri pada hadits di atas diartikan dengan suci. “Puasa kalian adalah ketika kalian berpuasa, dan suci kalian ketika kalian bersuci”

Akibat kesalahan makna di atas sangat fatal, karena umat Islam menganggap bahwa dengan masuknya bulan Idul Fitri semua dosa dosa akan dihapus dan kembali suci ibarat anak kecil yang baru lahir. 

Jelas sekali anggapan ini salah dan ngawur, karena Allah Swt akan mengampuni dosa seorang mukmin antara Ramadan dan Ramadan selama bukan dosa besar, adapun dosa besar maka harus ada niat benar untuk bertaubat, meminta ampun pada Allah Swt dan tidak mengulangi lagi. 

Semoga idul fitri ini kita bisa lebih merefleksikan diri sendiri agar menjadi lebih baik lagi dari bulan bulan sebelumnya. 

Terakhir, saya selaku admin dari blog sederhana ini memohon maaf jika selama ini ada kesalahan, tak lupa saya ucapkan terima kasih kepada seluruh teman blog yang bersedia berkunjung, membaca dan berkomentar di blog sederhana ini. 

Taqabbalallhu minna wa minkum, semoga Allah Swt menerima amal kami dan amal kalian semua, amiin. 

Tasawuf Modern Hamka


Buya Hamka

Hamka adalah akronim kepada nama besar Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah. Dia adalah ulama, aktivis politik dan penulis Indonesia yang terkenal.

Beliau lahir di kampong Molek, Maninjau, Sumatera Barat, pada 17 Februari 1908. Ayahnya adalah Syekh Abdul Karim bin Amrullah, seorang pelopor gerakan pembaharuan di Minangkabau, sekembalinya dari Makah 1906.

Dilihat dari nasab keturunannya, Hamka adalah keturunan tokoh ulama Minangkabau. Kakek Hamka sendiri, Syekh Muhammad Amrullah adalah penganut tarekat mu’tabarah Naqsyabandiyah yang sangat disegani dan dihormati, bahkan dipercaya memiliki kekeramatan dan disebut-sebut sebagai wali.

Syaikh Muhammad Amrullah mengikuti jejak ayahnya Tuanku Syekh Pariaman dan saudaranya Tuanku Syekh Gubug Katur. Ia pernah berguru di Makah dengan Sayyid Zaini, Syaikh Muhammad Hasbullah, bahkan ikut belajar kepada mereka yang lebih muda seperti Syekh Ahmad Khatib dan Syekh Taher Jalaludin.

Akan tetapi ayah Hamka, Syaikh Abdul Karim Amrullah yang biasa dipanggil dengan sebutan Haji Rasul, memiliki pemahaman yang berbeda dengan pendahulunya. Meskipun sama-sama belajar di Makah, Haji Rasul terkenal sangat menolak praktek-praktek ibadah yang pernah dilakukan dan di dakwahkan ayah dan kakeknya. Ia terkenal sebagai tokoh pembaharu. Dalam kondisi dan situasi yang penuh dengan pertentangan antara kaum muda dan kaum tua itulah Hamka dilahirkan dan melihat sendiri sepak terjang yang dilakukan ayahnya.

Pada kenyataannya, Hamka sendiri banyak mengikuti cara berfikir ayahnya dalam memahami pokok-pokok agama Islam, meskipun berbeda dalam sisi pendekatan. Haji Rasul keras, sementar Hamka lebih santun.

Hamka mengawali masa pendidikannya di dalam pengawasan langsung sang ayah. Ia mulai mempelajari Al-Qur’an dari orang tuanya hingga usia enam tahun, yang ketika itu berpindah rumah dari Maninjau ke Padang Panjang di tahun 1948. Setahun kemudian di usia Hamka yang ke tujuh tahun sang ayah memasukkannya ke sekolah desa. Di sekolah desa itu ia hanya menjalaninya selama tiga tahun. Di sisi lain ia juga mendapatkan pendidikan di sekolah sekitarnya (sekolah-sekolah agama di Padang Panjang dan Parabek dekat Bukit Tinggi) kira-kira tiga tahun lamanya pula.

Para sejarawan mengenal Hamka dengan semangat otodidaknya yang gigih. Ia belajar sendiri tentang buku-buku yang menurutnya penting. Ilmu-ilmu seperti Filsafat, Sastra, Sejarah, Sosiologi dan Politik, baik yang datang dari Islam maupun Barat ditelaahnya dengan bermodal pendidikan yang pernah diterimanya.

Ketika Hamka berusia 16 tahun, pencarian ilmunya dilanjutkan dengan hijrah ke tanah Jawa pada tahun 1924. Di Jawa ia berinteraksi dengan beberapa tokoh Pergerakan Islam modern seperti H. Oemar Said, Tjokroaminoto, Ki Bagus Hadikusumo (ketua Muhammadiyah 1944-1952), R.M Soerejo, Pranoto (1871-1959), dan KH. Fakhrudin (ayah dari KH. Abdur Razzaq).

Definisi Tasawuf

Pengertian Tasawuf yang kita kenal selama ini adalah Tasawuf para sufi yang meninggalkan dunia bahkan membenci dunia. Sebagaimana yang dilakukan oleh para sufi pada abad ke dua dan ketiga yang benar-benar mensucikan diri dari keduniaan dan menyatukan diri dengan tuhan.

Menfanakan dirinya serta mengkekalkan zat tuhan sehingga banyak pemikiran dan amalan Tasawuf yang susah diterima oleh orang awam, lantaran dalamnya pemaknaan dan kecintaan kepada tuhan sehingga menghilangkan kecintaan terhadap dunia dan dirinya.

Tasawuf modern yang akan kita bahas adalah mengenai pemikiran Hamka tentang memaknai Tasawuf yang sebenarnya. Bertasawuf Hamka adalah peimplementasian zuhud dan pemurnian aqidah sesuai dengan Al-Quran dan Hadist.

Tasawuf yang dikemukakan Hamka bukanlah tasawuf sebagaimana yang difahami kebanyakan orang. Tasawuf yang dikembangkan Hamka adalah tasawuf yang memiliki basis pada koridor syari’at agama (Tasawwûf Masyru’).
Oleh sebab itulah, di dalam penilaian Hamka, tasawuf tidaklah memiliki sumber lain melainkan bersumber murni dari Islam. Dirinya sangat menekankan setiap individu untuk melakukan pelaksanaan tasawuf, agar tercapai budi pekerti yang baik sebagaimana Hamka mendefinisikan tasawuf seperti yang di uraikan oleh al-Junaid yaitu; “Keluar dari budi pekerti yang tercela, dan masuk kepada budi pekerti yang terpuji.”

Sebagaimna ilmu Tasawuf yang kita pahami selama ini, suatu ilmu yang mengkaji tentang cara mensucikan diri dari dosa dan dunia untuk mendekatkan diri kepada tuhan. Tasawuf lahir akibat gaya hidup orang semakin hedonis dan glamor yang semakin jauh dari tuhan. Dan gaya hidup yang penuh dengan kecintaan terhadap dunia dan kering akan rohaniah.

Untuk mendekatkan diri kepada Allah para ahli sufi memiliki cara dan metode masing masing seperti: mengawali dengan tobat dari dosa dengan tobat nasuha, lalu melepaskan kecintaan pada dunia atau (zuhud) dan latihan rohani yang lain yang pada puncaknya mencapai ma’rifat.

Dalam Tasawuf ini banyak hal yang tidak bisa dicerna dengan akal karena semua berhubungan dengan rasa cinta yang sangat tinggi pada tuhan. Tasawuf juga tidak mengikatkan diri pada aturan baku syari’ah. Oleh karena itu banyak ahli Fiqih yang kadang tidak paham dengan para sufi dan menganggap mereka musyrik dan sesat.

Pada Tasawuf Modern, Hamka memberikan perspektif baru dalam bertasawuf, menurut Hamka kebahagiaan itu adalah agama, dan agama itu adalah aqidah. Aqidah yang baik melahirkan akhlakul karimah. Hamka dalam bertasawuf tidak sama seperti sufi pada aliran Tasawuf yang lain. Tasawufnya Hamka tetap berpegang pada sumber pokok ajaran Islam yaitu Alquran dan Hadist, sebagaimana yang dijalankan dan di contohkan Rasulullah SAW.

Dalam bukunya “Prinsip dan Kebijaksanaan Dakwah Islam”, Hamka menjelaskan bahwa tasawuf adalah: “Shifa’ul Qalbi, artinya membersihkan hati, pembersihan budi pekerti dari perangai-perangai yang tercela, lalu memperhias diri dengan perangai yang terpuji.”
Dalam bukunya yang lain seperti Tasawuf Modern, Hamka menjelaskan pula bahwa, “Kita tegakkan maksud semula dari tasawuf yaitu membersihkan jiwa, mendidik dan mempertinggi derajat budi, menekan segala kelobaan dan kerakusan, memerangi sahwat yang terlebih dari keperluan untuk keperluan diri”.

Terdapat juga dalam buku “Tasawuf dari Abad ke Abad”, di mana Hamka menjelaskan definisi tasawuf sebagai, “Orang yang membersihkan jiwa dari pengaruh benda dan alam, supaya dia mudah menuju Allah.”

 

Tasawuf Modern lebih mememurnikan aqidah yang terlepas dari praktek bid’ah, syirik dan kurafat. Hamka juga tidak melakukan tingkatan-tingkatan rohaniyah yang dilakukan para sufi yang dahulu. Dan juga tidak pernah mengalami peristiwa mistik dan lainnya. Tasawuf menurut Hamka bisa menjadi positif dan negatif.

 

Tasawuf jadi negatif jika:

  • Dilaksanakan dalam kegiatan yang tidak digariskan Alquran dan Hadist. Contoh, mengharamkan diri terhadap hal yang dihalalkan Allah.
  • Dilaksanakan pada kegiatan yang berlandaskan pada pandangan “dunia harus dibenci”.

Tasawuf bisa positif jika :

  • Dijalankan berdasarkan tuntunan Alquran dan Hadist.
  • Dilaksanakan atas kepedulian yang tinggi. Mengangkat kembali roh tasawuf dengan zuhud. Zuhud yang dimaksud adalah gaya hidup yang tidak berorentasi pada dunia.

Ada 5 macam Tasawuf menurut Hamka:

  • Tasawuf = Zuhud
  • Tasawuf = Tarekat Sufi
  • Tasawuf = Kebatinan
  • Tasawuf = Penyucian Jiwa
  • Tasawuf = Ibadah Tingkat Tinggi (Ihsan)

Hamka merumuskan Tasawuf ke dalam 4 struktur Tasawuf yang didefinisikan sebagai berikut:

  • Konsep tentang tuhan dengan manusia – Hubungan tuhan dan manusia tetap sebagai khaliq dan makhluk. Oleh karena itu manusia harus melakukan peribadatan sesuai dengan tuntunan Alquran dan Hadist.
  • Jalan Tasawuf – Zuhud adalah sikap bertasawuf yang harus dikedepankan dalam melaksanakan peribadatan serta aqidah yang benar.
  • Penghayatan Tasawuf – Hamka menyimpulkan bahwa jalan Tasawuf itu adalah sikap zuhud yang benar dalam baribadah. Ibadah yang dilaksanakan dengan sungguh-sungguh mengantarkan orang pada pengalaman bertasawuf dalam wujud ketaqwaan
  • Refleksi Tasawuf – Tujuan akir dari bertasawuf menurut Hamka adalah tercapainya kepekaan sosial yang tinggi. Seorang sufi akan mencapai karomah dalam bentuk sosial releguis, yaitu dorongan untuk membantu orang dilandaskan pada ketaqwaan pada Allah

 

Demikianlah ulasan tentang ilmu Tasawuf Modern berdasarkan perspektif Hamka. Pemikiran ini dituliskan dalam bukunya dengan judul “ Tasawuf Modern”  yang menurut Hamka penting untuk dikenalkan kembali pada masyarakat saat ini, Agar tumbuh kepekaan sosial yang tinggi atas dasar kecintaan pada Allah.

Sumber:

  • Seminar Sehari tentang Buya Hamka di Insist
  • Artikel di internet

 

Mencegah Perilaku Homoseks



Pakar Seksologi bernama Wimpie Pangkahila mengatakan bahwa seseorang berpotensi menjadi homoseksual karena beberapa sebab, di antaranya gangguan psikoseksual pada masa kanak kanak,  faktor biologis, faktor sosia kultural, dan faktor lingkungan. 

Penelitian menunjukkan bahwa pendapat yang mengatakan homoseksual terbentuk karena faktor biologis masih menjadi kontroversial. 
Faktor yang sering disebut sebagai penyebab utama adalah pola asuh dan lingkungan. Contoh pola asuh yang salah  adalah orang tua yang mengasuh atau memperlakukan anak laki-laki seperti anak perempuan karena tidak punya anak perempuan.

Menurut Prof. Dadang Hawari, para ahli membagi homoseks dalam dua kelompok yaitu.

  1. Ego Distonic Sexual Orientation (EDSO). Yaitu keadaan dimana seseorang merasa seksualitasnya tidak sesuai dengan citra diri yang diinginkan, sehingga menyebabkan orang tersebut mengubah orientasi seksualnya. Orang ini biasanya melakukan hubungan sesame jenis untuk menambah gairah hubungan seksnya dengan lawan jenis, namun mereka merasa bahwa hasrat homoseks mereka sebagai sesuatu yang tak diinginkan dan sumber petaka. 
  2. EDSO termasuk gangguan jiwa. Ego Sintonic Sexual Orientation (ESSO). Mereka adalah pelaku homoseks yang berdamai dengan dirinya sendiri dan menganggap perilakunya itu “normal” sebab tidak disertai keluhan-keluhan kejiwaan. 

Untuk menghindari perilaku homoseksual, beberapa hal bisa dilakukan seperti:

  • Menjauhi dan menghilangkan rangsangan rangsangan terkait yang muncul. Dalam hal ini Rasulullah saw bersabda: “Janganlah seorang laki laki melihat aurat laki laki, jangan pula seorang perempuan melihat aurat perempuan. Janganlah seorang laki laki tidur satu selimut dengan laki laki begitu juga perempuan jangan tidur satu selimut dengan perempuan yang lain”.  (HR. Muslim) 
  • Memisahkan tidur laki laki dan perempuan, Nabi Saw bersabda: “Perintahkan anak-anak kalian shalat pada usia 7 tahun, pukullah mereka jika meninggalkannya pada usia 10 tahun dan pisahkan di antara mereka tempat tidurnya. (HR. Ahmad dan Abu Dawud, dihasankan oleh An Nawawi dalam Riyadhus Shalihin dan Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud)
%d bloggers like this: