Fiqih Pilkada


Ikut serta dalam sistem demokrasi ketika didalamnya terdapat banyak hal hal yang bertentangan dengan syariat adalah tidak dibenarkan. 

Namun, suka atau tidak suka secara raealitas kita berada didalamnya. Jika berlepas diri secara mutlak menjadi solusinya, maka konsekuensinya, keluar dari negara atau mencari negara lain yang mengamalkan sistem Islam dan tidak berdemokrasi. 

Selama masih di negara ini, bukankah seyogyanya kita mencari kondisi yang terbaik baik bagi tempat tinggal tersebut semampu kita. 

Maka kaidah fiqih yang dipakai adalah:
دَرْءُ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَىٰ جَلْبِ الْمَصَالِحِ

“Menolak mudharat (bahaya) lebih didahulukan dari mengambil manfaat”

Dalam konteks Pilkada sekarang  menolak bahaya dengan berkuasanya orang-orang kafir itu lebih di dahulukan dari maslahat dengan qaul-qaul yang tidak tepat waktunya  

Syaikh Al-Maqdisi dalam wawancaranya pernah mengutip perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dengan mengatakan “Seorang faqih (seorang yang paham hukum Islam ) bukanlah orang yang mampu membedakan antara mafsadat (kerusakan) dan maslahat (kebaikan), seorang faqih adalah orang yang mampu memprioritaskan satu maslahat di antara banyak maslahat ketika maslahat-maslahat itu bertabrakan, dan memprioritaskan untuk menghindari satu mafsadat di antara banyak mafsadat ketika mafsadat-mafsadat itu bertabrakan.”

Sistem yang Islami dan ideal tidak akan terbentuk dengan jalan yang tidak islami. Logika sederhananya, jika mau ke Jakarta tapi anda lewat jalur ke Bandung, maka anda tidak akan sampai ke tujuan. 

Namun, kita hidup pada realita dan bukan utopia. Kita menginginkan maslahat yang besar dengan penerapan sistem Islami dan ideal di masa yang akan datang sambil menolak kemudharatan yang menghadapi. 

Berikut ini penggalan pernyataan Habib Rizieq selepas diperiksa di Mapolda Jabar. 

“Pancasila tidak bertentangan dengan Islam dan Pancasila tidak melarang pemberlakuan syariat Islam selama dilakukan dengan konstitusional. 

Yang memproduk peraturan adalah DPR, jika 2/3 DPR setuju dan disetujui presiden, maka pemberlakuan syariat Islam bisa diterapkan di republik ini.”

Demikian. 

Jaga Iman di Bilik Suara


Seorang mukmin wajib mengaja imannya di manapun dan kapanpun. Kematian bisa datang tiba-tiba, karenanya iman harus terus dijaga jangan sampai lepas dari raga. Nyawa boleh hilang, asal iman tidak me…

Source: Jaga Iman di Bilik Suara oleh @elhakimi

#MuslimVoteMuslim


You are free to choose. 

Just make sure your choice will not let the Lord of the universe disgrace you in the end #muslimVOTEmuslim 

Seandainya Bisa Memilih


Jakarta disebut banyak orang sebagai versi mini Indonesia, atau barometern Indonesia. Apa yang terjadi di Jakarta ditanggap merefleksikan secara umum apa yang terjadi di Indonesia. Kebijakan politik banyak digodok di Jakarta, pusat pemerintahan, ekonomi dan bisnis ada di Jakarta. Carut marut dan korupsi tingkat tinggi banyak terjadi di Jakarta. 

Maka tidak heran jika posisi sebagai orang nomor satu di Jakarta sangat menarik untuk diperebutkan. Sistem pilkada yang terbuka dan dimungkinkannya calon independen maju ikut pemilihan, membuat minat calon bertambah. 

Saya bukan warga Jakarta, KTP saya masih ikut kota kelahiran saya Magelang. Maka selama ini saya belum pernah nyoblos kecuali tahun 2014. Meskipun dalam hati agak berseberangan karena selama ini golput terus. 

Waktu itu Ust.Arifin Jayadiningrat memberikan arahan kepada saya, Bisa jadi ini menjadi ikut andil membuat kehidupan di Jakarta yang lebih baik di masa mendatang. 

Saya hanya ingin memberikan semangat kepada masyarakat kota metropolitan untuk tidak segan memberikan suara kepada pasangan calon yang paling tepat memimpinnya. 

Jika boleh memilih calon, dan ini sangat subjektif sekali, saya akan memilih Anies Sandi dengan beberapa alasan yang lebih terkait dengan aktifitas saya sekarang. 

Saya aktif dalam pembangunan karakter bangsa lewat Islamic Character Development-ICD yang dipimpin oleh Ust.Arifin Jayadiningrat yang konsen dalam pembangunan akhlak mulai dari keluarga, sekolah dan lingkungan. Dengan terpilihnya Anies Baswedan, saya berharap pembangunan karakter di Jakarta akan lebih masif dan ICD bisa berkontribusi membuat konsepnya. 

Di bidang Sosial saya aktif di Yayasan Aksi Peduli Bangsa yang saat ini sedang membangun sosial dan pendidikan di pedalaman Mentawai. Salah satu kegiatannya adalah mengirimkan guru ke pedalaman Mentawai, seperti yang dulu pernah pak Anies lakukan dengan Indonesia Mengajar-nya. 

Dana pembangunan di Mentawai banyak kita kumpulkan dari donatur dan sponsorship di Jakarta, semoga dengan terpilihnya Anies Baswedan bisa lebih mudah bagi APB untuk mengenalkan kegiatan. 

Tahun lalu, APB mengadakan lebarun 2016 yaitu event lari untuk mempersatukan umat dan tahun ini kami akan mengadakan lagi di bulan juli setelah Ramadhan. Semoga dengan terpilihnya Anies Sandi, acara ini bisa berlangsung dengan baik dan mendapat dukungan dari Sandiaga Uno seperti tahun lalu. 

Sedikit ocehan, semoga Anies Sandi terpilih menjadi Gubernur Jakarta di Pilkada hari ini. 👑👑👑

Teman Baru Kita


Senin 29 Januari 2017, bertambah teman baru kita yang masuk agama Islam.

Veronica, sebelumnya beragama Katolik berpindah kepada agama Islam dari pengalam ruhani yang dialami dalam pencarian Tuhan.

Pada satu titik dia meyakini Islam sebagai agama yang rasional, dia mengazami untuk menyatakan syahadahnya di Masjid Pondok Indah.

Cukup membahagiakan saya, dia ingin masuk Islam di MRPI setelah membaca salah satu post saya tentang kegiatan pengislaman di masjid pondok indah yang sempat kami tulis.

Dari chat via komentar blog, senin kemarin veronica datang ditemani beberapa orang dari pihak keluarganya.

Pengislaman dilaksanakan oleh Ust.Arifin Jayadiningrat di akhir kajian Akhlak yang beliau bimbing dan disaksikan jamaah kajian akhlak.

Ust Ibrahim Hilali dan Bapak Wahab menjadi saksi yang tertulis di sertifikat.

Insya Allah, untuk mualaf yang sudah masuk Islam akan dibuatkan kajian dan bimbingan khusus mualaf yang diinisiasi oleh Ust.Arifin Jayadiningrat bertempat di Masjid Raya Pondok Indah.

Terakhir, selamat datang Veronica menjadi teman muslim baru kita.

View on Path

Anak Tongkol


​Begitu mudahnya kita menyebutkan kata kata kotor dalam sehari hari, dan lupa bahwa di sekitar kita ada anak anak yang dengan mudah meniru kata kata kita. 

Hindari kata kata senonoh, kotor dan keji. Sebab setiap kali kita berbicara kotor layout wajah bisa mendadak berubah menjadi buruk. 
Menurut suatu penelitian, untuk sebuah senyuman dibutuhkan tujuh belas tarikan otot wajah. Jika wajah cemberut, marah dan masam, kita memerlukan tiga pulih dua tarikan otot. 

Firman Allah Swt “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaaf [50] : 18).

 Pengalaman kemarin ketika melintasi daerah bundaran HI, ada seorang penjual mainan yang menawarkan dagangan kepada pengendara motor, si pengendara tidak mau dan si penjual mainan mengeluarkan kata-kata kasar k*nt*l, otomatis orang ini turun dari motor dan memarahi si penjual. 

Video Jokowi dan anak SD yang salah menyebut nama ikan, juga membuat miris dan mesti menjadi acuan bahwa pendidikan akhlak kita masih rendah. 

Bisa jadi anak ini menderita disleksia yaitu kesulitan mengidentifikasi bagaimana suatu huruf berubah menjadi kata atau kalimat dan sebaliknya.

Tapi tak bisa dipungkiri ini pun karena lingkungan yang kurang bagus, tidak ada filter menjaga kata yang harus didengar anak anak. 

Banyak sekali hadits yang menerangkan bahwa lisan itu sangat berbahaya. Seperti hadits berikut: Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya ia mendengar Nabi s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba itu berbicara dengan suatu perkataan yang tidak ia fikirkan -baik atau buruknya-, maka dengan sebab perkataannya itu ia dapat tergelincir ke neraka yang jaraknya lebih jauh daripada jarak antara sudut timur dan sudut barat.” (Muttafaq ‘Alaih) 

Betapa bahaya lisan yang tidak terjaga dari perkataan yang buruk berupa umpatan, celaan, ghibah atau fitnah. 

Menurut Imam Al Ghazali, akhlak itu adalah respon spontan terhadap suatu kejadian. Kalau respon spontan yang keluar adalah kata-kata yang baik, mulia, maka dalam dirinya ada kemuliaan.

Sebaliknya kalau sedang tenang, tiba-tiba terjadi sesuatu pada diri kita, misalnya sandal hilang, atau ada orang yang menyenggol, mendengar bunyi klakson yang nyaring dan keluar sumpah serapah dari mulut, maka lemparan yang keluar sebagai respon spontan itulah yang akan menunjukkan bagaimana akhlak kita. 

Ingatlah bahwa setiap anggota tubuh akan menanggung konsekuensi dari apa yang dilakukannya di dunia, tidak terkecuali mulut kita. Bagi sebagian orang yang masih menganggap bahwa kata “*nj*ng” dan “g*bl*g” dan “*k*nt*l”sebagai hal yang lumrah dan sepele, perhatikan firman Allah “Kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar.” (QS. An Nur [24] : 15).

Mari kita ganti ucapan-ucapan kotor itu dengan dzikrullah. Ucapan yang ringan namun mampu menambah timbangan amal kita untuk bekal di akhirat kelak. [] 

Teman Ahok


Mereka mengatakan bahwa makna “Auliya’” dalam surah Al Maidah itu berarti “teman dekat“, bukan “pemimpin“. Jadi, katanya, boleh mengangkat pimpinan kafir karena tidak ada ayat yang melarang. Justru tafsiran ini tetap menjadi hujjah atas mereka, yakni hujjah yang tetap menghantam dan melemahkan posisinya.

Mereka tidak tahu kalau dalam ilmu Ushul Fiqih, ilmu yang mengulas tentang perangkat-perangkat istimbath (mengeluarkan hukum dari nash-nashnya) ada yang disebut dengan “Qiyas Al-Aula” atau “Fahwal Khitab“. Seperti pada firman Allah, “Jangan engkau ucapkan uf kepada orang tua“. Itu zahirnya ayat. 

Maka dipahami darinya, kalau mengucapkan uf saja tidak boleh, maka memaki, memukul, atau membunuh orang tua, jauh lebih tidak boleh. Dan kalau ada yang mengatakan boleh memukul orang tua karena tidak disebutkan dalam ayat ini, maka otaknya perlu dipertanyakan.

Nah, terkait dengan inti pembicaraan kita. Taruhlah tafsiran mereka itu bisa diterima, maka kita katakan, “Jika mengangakat orang kafir sebagai “teman dekat” saja tidak boleh, maka mengangkatnya sebagai “pemimpin” jauh lebih tidak boleh lagi“. Sebab posisi pemimpin itu jauh melebihi sekedar teman akrab. 

Siapa yang bilang boleh mengangkat pemimpin kafir karena ayat yang melarang hanya ditujukan bagi larangan mengangkat “teman akrab”, maka logikanya layak dipertanyakan.

Lagian, teman-teman Ahok yang katanya muslim itu, tiap hari duduk dan makan bareng, mendukung, berjuang, serta rela berdarah-darah karenanya, apa itu tidak berarti mengangkatnya sebagai “teman akrab” yang diharamkan Alqur’an menurut makna yang mereka akui sendiri?! 

Tetap tak mau kalah, mereka juga mengatakan bahwa kata “Auliya'”  yang dimaknai dengan “Pemimpin” tertulis dalam bentuk jama’,  yang artinya pemimpin berjamaah, yang tak lain adalah pemimpin kolektif, bukan pemimpin tunggal

Lewat aksioma itu, lagi lagi mereka menghalalakan pemimpin dari seorang kafir. 

Secara tata bahasa, ayat di atas sudah benar karena sesuai dengan konteks ayat (siyaq al-kalam) yang sedang berbicara tentang Yahudi dan Nasrani. 

Kata Auliya dalam surat Al-Maidah 51 berbentuk nakirah yang faidahnya menunjukkan pengertian umum jika nakirah tersebut mengandung unsur nafi atau nahi, syarath atau istifham. Kata Auliya dalam ayat tersebut bersifat umum, semua lini pimpinan baik lurah, bupati, gubernur atau presiden yang dipilih harus dari muslim tidak boleh Nasrani atau Yahudi. 

Lebih jauh, inilah metode indah dalam Al-Quran. Menghindari kalimat Ifrad jika susunannya lebih indah dari kalimat jama atau kalimat jama lebih mudah dari struktur ifrad

Contoh kata:

يَوْمَ يَخْرُجُونَ مِنَ ٱلْأَجْدَاثِ سِرَاعًا كَأَنَّهُمْ إِلَىٰ نُصُبٍ يُوفِضُونَ

(yaitu) pada hari mereka keluar dari kubur dengan cepat seakan-akan mereka pergi dengan segera kepada berhala-berhala (sewaktu di dunia), (Al-Ma’arij 70:43). 

Bentuk tunggal dari الأجداث adalah جدث yang lebih indah dan mudah diucapkan dalam bentuk jamak dari ifradnya. Dan banyak contoh i’jaz lain dalam Alquran. 

%d bloggers like this: