Tasawuf Modern Hamka


Buya Hamka

Hamka adalah akronim kepada nama besar Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah. Dia adalah ulama, aktivis politik dan penulis Indonesia yang terkenal.

Beliau lahir di kampong Molek, Maninjau, Sumatera Barat, pada 17 Februari 1908. Ayahnya adalah Syekh Abdul Karim bin Amrullah, seorang pelopor gerakan pembaharuan di Minangkabau, sekembalinya dari Makah 1906.

Dilihat dari nasab keturunannya, Hamka adalah keturunan tokoh ulama Minangkabau. Kakek Hamka sendiri, Syekh Muhammad Amrullah adalah penganut tarekat mu’tabarah Naqsyabandiyah yang sangat disegani dan dihormati, bahkan dipercaya memiliki kekeramatan dan disebut-sebut sebagai wali.

Syaikh Muhammad Amrullah mengikuti jejak ayahnya Tuanku Syekh Pariaman dan saudaranya Tuanku Syekh Gubug Katur. Ia pernah berguru di Makah dengan Sayyid Zaini, Syaikh Muhammad Hasbullah, bahkan ikut belajar kepada mereka yang lebih muda seperti Syekh Ahmad Khatib dan Syekh Taher Jalaludin.

Akan tetapi ayah Hamka, Syaikh Abdul Karim Amrullah yang biasa dipanggil dengan sebutan Haji Rasul, memiliki pemahaman yang berbeda dengan pendahulunya. Meskipun sama-sama belajar di Makah, Haji Rasul terkenal sangat menolak praktek-praktek ibadah yang pernah dilakukan dan di dakwahkan ayah dan kakeknya. Ia terkenal sebagai tokoh pembaharu. Dalam kondisi dan situasi yang penuh dengan pertentangan antara kaum muda dan kaum tua itulah Hamka dilahirkan dan melihat sendiri sepak terjang yang dilakukan ayahnya.

Pada kenyataannya, Hamka sendiri banyak mengikuti cara berfikir ayahnya dalam memahami pokok-pokok agama Islam, meskipun berbeda dalam sisi pendekatan. Haji Rasul keras, sementar Hamka lebih santun.

Hamka mengawali masa pendidikannya di dalam pengawasan langsung sang ayah. Ia mulai mempelajari Al-Qur’an dari orang tuanya hingga usia enam tahun, yang ketika itu berpindah rumah dari Maninjau ke Padang Panjang di tahun 1948. Setahun kemudian di usia Hamka yang ke tujuh tahun sang ayah memasukkannya ke sekolah desa. Di sekolah desa itu ia hanya menjalaninya selama tiga tahun. Di sisi lain ia juga mendapatkan pendidikan di sekolah sekitarnya (sekolah-sekolah agama di Padang Panjang dan Parabek dekat Bukit Tinggi) kira-kira tiga tahun lamanya pula.

Para sejarawan mengenal Hamka dengan semangat otodidaknya yang gigih. Ia belajar sendiri tentang buku-buku yang menurutnya penting. Ilmu-ilmu seperti Filsafat, Sastra, Sejarah, Sosiologi dan Politik, baik yang datang dari Islam maupun Barat ditelaahnya dengan bermodal pendidikan yang pernah diterimanya.

Ketika Hamka berusia 16 tahun, pencarian ilmunya dilanjutkan dengan hijrah ke tanah Jawa pada tahun 1924. Di Jawa ia berinteraksi dengan beberapa tokoh Pergerakan Islam modern seperti H. Oemar Said, Tjokroaminoto, Ki Bagus Hadikusumo (ketua Muhammadiyah 1944-1952), R.M Soerejo, Pranoto (1871-1959), dan KH. Fakhrudin (ayah dari KH. Abdur Razzaq).

Definisi Tasawuf

Pengertian Tasawuf yang kita kenal selama ini adalah Tasawuf para sufi yang meninggalkan dunia bahkan membenci dunia. Sebagaimana yang dilakukan oleh para sufi pada abad ke dua dan ketiga yang benar-benar mensucikan diri dari keduniaan dan menyatukan diri dengan tuhan.

Menfanakan dirinya serta mengkekalkan zat tuhan sehingga banyak pemikiran dan amalan Tasawuf yang susah diterima oleh orang awam, lantaran dalamnya pemaknaan dan kecintaan kepada tuhan sehingga menghilangkan kecintaan terhadap dunia dan dirinya.

Tasawuf modern yang akan kita bahas adalah mengenai pemikiran Hamka tentang memaknai Tasawuf yang sebenarnya. Bertasawuf Hamka adalah peimplementasian zuhud dan pemurnian aqidah sesuai dengan Al-Quran dan Hadist.

Tasawuf yang dikemukakan Hamka bukanlah tasawuf sebagaimana yang difahami kebanyakan orang. Tasawuf yang dikembangkan Hamka adalah tasawuf yang memiliki basis pada koridor syari’at agama (Tasawwûf Masyru’).
Oleh sebab itulah, di dalam penilaian Hamka, tasawuf tidaklah memiliki sumber lain melainkan bersumber murni dari Islam. Dirinya sangat menekankan setiap individu untuk melakukan pelaksanaan tasawuf, agar tercapai budi pekerti yang baik sebagaimana Hamka mendefinisikan tasawuf seperti yang di uraikan oleh al-Junaid yaitu; “Keluar dari budi pekerti yang tercela, dan masuk kepada budi pekerti yang terpuji.”

Sebagaimna ilmu Tasawuf yang kita pahami selama ini, suatu ilmu yang mengkaji tentang cara mensucikan diri dari dosa dan dunia untuk mendekatkan diri kepada tuhan. Tasawuf lahir akibat gaya hidup orang semakin hedonis dan glamor yang semakin jauh dari tuhan. Dan gaya hidup yang penuh dengan kecintaan terhadap dunia dan kering akan rohaniah.

Untuk mendekatkan diri kepada Allah para ahli sufi memiliki cara dan metode masing masing seperti: mengawali dengan tobat dari dosa dengan tobat nasuha, lalu melepaskan kecintaan pada dunia atau (zuhud) dan latihan rohani yang lain yang pada puncaknya mencapai ma’rifat.

Dalam Tasawuf ini banyak hal yang tidak bisa dicerna dengan akal karena semua berhubungan dengan rasa cinta yang sangat tinggi pada tuhan. Tasawuf juga tidak mengikatkan diri pada aturan baku syari’ah. Oleh karena itu banyak ahli Fiqih yang kadang tidak paham dengan para sufi dan menganggap mereka musyrik dan sesat.

Pada Tasawuf Modern, Hamka memberikan perspektif baru dalam bertasawuf, menurut Hamka kebahagiaan itu adalah agama, dan agama itu adalah aqidah. Aqidah yang baik melahirkan akhlakul karimah. Hamka dalam bertasawuf tidak sama seperti sufi pada aliran Tasawuf yang lain. Tasawufnya Hamka tetap berpegang pada sumber pokok ajaran Islam yaitu Alquran dan Hadist, sebagaimana yang dijalankan dan di contohkan Rasulullah SAW.

Dalam bukunya “Prinsip dan Kebijaksanaan Dakwah Islam”, Hamka menjelaskan bahwa tasawuf adalah: “Shifa’ul Qalbi, artinya membersihkan hati, pembersihan budi pekerti dari perangai-perangai yang tercela, lalu memperhias diri dengan perangai yang terpuji.”
Dalam bukunya yang lain seperti Tasawuf Modern, Hamka menjelaskan pula bahwa, “Kita tegakkan maksud semula dari tasawuf yaitu membersihkan jiwa, mendidik dan mempertinggi derajat budi, menekan segala kelobaan dan kerakusan, memerangi sahwat yang terlebih dari keperluan untuk keperluan diri”.

Terdapat juga dalam buku “Tasawuf dari Abad ke Abad”, di mana Hamka menjelaskan definisi tasawuf sebagai, “Orang yang membersihkan jiwa dari pengaruh benda dan alam, supaya dia mudah menuju Allah.”

 

Tasawuf Modern lebih mememurnikan aqidah yang terlepas dari praktek bid’ah, syirik dan kurafat. Hamka juga tidak melakukan tingkatan-tingkatan rohaniyah yang dilakukan para sufi yang dahulu. Dan juga tidak pernah mengalami peristiwa mistik dan lainnya. Tasawuf menurut Hamka bisa menjadi positif dan negatif.

 

Tasawuf jadi negatif jika:

  • Dilaksanakan dalam kegiatan yang tidak digariskan Alquran dan Hadist. Contoh, mengharamkan diri terhadap hal yang dihalalkan Allah.
  • Dilaksanakan pada kegiatan yang berlandaskan pada pandangan “dunia harus dibenci”.

Tasawuf bisa positif jika :

  • Dijalankan berdasarkan tuntunan Alquran dan Hadist.
  • Dilaksanakan atas kepedulian yang tinggi. Mengangkat kembali roh tasawuf dengan zuhud. Zuhud yang dimaksud adalah gaya hidup yang tidak berorentasi pada dunia.

Ada 5 macam Tasawuf menurut Hamka:

  • Tasawuf = Zuhud
  • Tasawuf = Tarekat Sufi
  • Tasawuf = Kebatinan
  • Tasawuf = Penyucian Jiwa
  • Tasawuf = Ibadah Tingkat Tinggi (Ihsan)

Hamka merumuskan Tasawuf ke dalam 4 struktur Tasawuf yang didefinisikan sebagai berikut:

  • Konsep tentang tuhan dengan manusia – Hubungan tuhan dan manusia tetap sebagai khaliq dan makhluk. Oleh karena itu manusia harus melakukan peribadatan sesuai dengan tuntunan Alquran dan Hadist.
  • Jalan Tasawuf – Zuhud adalah sikap bertasawuf yang harus dikedepankan dalam melaksanakan peribadatan serta aqidah yang benar.
  • Penghayatan Tasawuf – Hamka menyimpulkan bahwa jalan Tasawuf itu adalah sikap zuhud yang benar dalam baribadah. Ibadah yang dilaksanakan dengan sungguh-sungguh mengantarkan orang pada pengalaman bertasawuf dalam wujud ketaqwaan
  • Refleksi Tasawuf – Tujuan akir dari bertasawuf menurut Hamka adalah tercapainya kepekaan sosial yang tinggi. Seorang sufi akan mencapai karomah dalam bentuk sosial releguis, yaitu dorongan untuk membantu orang dilandaskan pada ketaqwaan pada Allah

 

Demikianlah ulasan tentang ilmu Tasawuf Modern berdasarkan perspektif Hamka. Pemikiran ini dituliskan dalam bukunya dengan judul “ Tasawuf Modern”  yang menurut Hamka penting untuk dikenalkan kembali pada masyarakat saat ini, Agar tumbuh kepekaan sosial yang tinggi atas dasar kecintaan pada Allah.

Sumber:

  • Seminar Sehari tentang Buya Hamka di Insist
  • Artikel di internet

 

Mencegah Perilaku Homoseks



Pakar Seksologi bernama Wimpie Pangkahila mengatakan bahwa seseorang berpotensi menjadi homoseksual karena beberapa sebab, di antaranya gangguan psikoseksual pada masa kanak kanak,  faktor biologis, faktor sosia kultural, dan faktor lingkungan. 

Penelitian menunjukkan bahwa pendapat yang mengatakan homoseksual terbentuk karena faktor biologis masih menjadi kontroversial. 
Faktor yang sering disebut sebagai penyebab utama adalah pola asuh dan lingkungan. Contoh pola asuh yang salah  adalah orang tua yang mengasuh atau memperlakukan anak laki-laki seperti anak perempuan karena tidak punya anak perempuan.

Menurut Prof. Dadang Hawari, para ahli membagi homoseks dalam dua kelompok yaitu.

  1. Ego Distonic Sexual Orientation (EDSO). Yaitu keadaan dimana seseorang merasa seksualitasnya tidak sesuai dengan citra diri yang diinginkan, sehingga menyebabkan orang tersebut mengubah orientasi seksualnya. Orang ini biasanya melakukan hubungan sesame jenis untuk menambah gairah hubungan seksnya dengan lawan jenis, namun mereka merasa bahwa hasrat homoseks mereka sebagai sesuatu yang tak diinginkan dan sumber petaka. 
  2. EDSO termasuk gangguan jiwa. Ego Sintonic Sexual Orientation (ESSO). Mereka adalah pelaku homoseks yang berdamai dengan dirinya sendiri dan menganggap perilakunya itu “normal” sebab tidak disertai keluhan-keluhan kejiwaan. 

Untuk menghindari perilaku homoseksual, beberapa hal bisa dilakukan seperti:

  • Menjauhi dan menghilangkan rangsangan rangsangan terkait yang muncul. Dalam hal ini Rasulullah saw bersabda: “Janganlah seorang laki laki melihat aurat laki laki, jangan pula seorang perempuan melihat aurat perempuan. Janganlah seorang laki laki tidur satu selimut dengan laki laki begitu juga perempuan jangan tidur satu selimut dengan perempuan yang lain”.  (HR. Muslim) 
  • Memisahkan tidur laki laki dan perempuan, Nabi Saw bersabda: “Perintahkan anak-anak kalian shalat pada usia 7 tahun, pukullah mereka jika meninggalkannya pada usia 10 tahun dan pisahkan di antara mereka tempat tidurnya. (HR. Ahmad dan Abu Dawud, dihasankan oleh An Nawawi dalam Riyadhus Shalihin dan Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud)

Karena Dunia Tak Abadi


Menyimak nasehat mengingat mati dari seorang ustadz itu sudah biasa, akan terasa beda jika nasehat itu muncul dari seorang yang sangat dikenal dunia seperti petinju legendaris Muhammad Ali. 

Video pendek di atas adalah salah satu cuplikan talkshow di sebuah televisi ketika Muhammad Ali ditanya, apa yang akan dia lakukan setelah pensiun nanti? 

Tidak banyak umur yang kita punya, jatah umur manusia hanya sampai 60 sampai 70 tahun, kalaupun kita diberi umur sampai 100 tahun toh kita nantinya akan mati juga. 

Maka Muhammad Ali berpesan bahwa di sisa umurnya dia akan menjadikan popularitasnya untuk semakin produktif  berbuat baik untuk kemanusiaan. 

Ada ilustrasi menarik yang beliau sampaikan di video tersebut tentang bagaiaman lamanya kehidupan di akhirat nanti. Beliau contohkan, ambil satu pasir di gurun Sahara, lalu tunggu seribu tahun lagi untuk mengambil pasir selanjutnya, terus sampai pasir di gurun habis, maka akhirat lebih lama lagi. 

Silahkan simak dan tonton video di atas, sebagai pelajaran dari Muhammad Ali bahwa dunia ini tak abadi, akhirat yang selamanya. 

Agama Dan Negara Di Mata Muslim Indonesia


Di Mesir, Pernah suatu ketika dalam sebuah forum, Paus Shinouda III, Paus Gereja Koptik Alexandira menyampaikan sebuah adagium: “Ad-Dinu Lillah, Wal Wathan Lil-Jami’.” (Agama milik Allah, sedangkan Negara milik semuanya). Lalu Syaikh Mutawalli Sya’rawi yang kala itu memang duduk di sebelahnya, dengan lugas menimpalinya sembari mengatakan: “Ad-Dinu Lillah, Wal Wathan Lillah.” (Agama itu milik Allah, dan Negara juga milik Allah). 

Syaikh Sya’rawi yang dijuluki “Imam para Dai” itu lantas melanjutkan: “Tidak ada itu negara untuk semua. Apa artinya agama untuk Allah dan Negara untuk semua? Lihat! Negara manapun yang tidak ada agama di dalamnya, kita takkan bangga dengan nasionalismenya. Setiap negara tidak ada agama di dalamnya, mau berbuat apa saya?”

Tema antara Agama dan Negara memang selalu menarik untuk disoroti. Tapi di sini saya tidak ingin mengangkat polemik yang terjadi antara pengusung dari dua adagium di atas, karena saya lebih tertarik untuk menilik kondisi di dalam negeri sendiri.



Dewasa ini, tampaknya ada beberapa upaya massif yang ingin melabeli sejumlah umat Islam Indonesia sebagai umat yang anti-negara, seakan mereka adalah parasit yang keberadaannya mengancam keutuhan bangsa.

Sebelum itu, perlu diketahui bersama, bahwa Rasulullah sendiri tidak pernah mewariskan ajaran “Benci Negara.” Bahkan, saat Hijrah meninggalkan Makkah, Rasul pernah berkata: “Sesungguhnya engkau (Makkah) adalah negeri yang paling aku cintai, kalau saja bukan karena pendudukmu yang mengeluarkanku, niscaya aku takkan pernah keluar darimu!”

Tampak jelas di sini bahwa Rasulullah mencintai Makkah sebagai tanah-air beliau. Demikian juga terlihat dari sikap Rasul terhadap para sahabat yang tidak pernah menyuruh mereka untuk menghapus identitas ke-tanah-air-annya.

Lihatlah Salman Al-Farisi, ia tetap dikenal sebagai “Al-Farisi” (orang Persia) dan tidak pernah diganti menjadi “Al-Madani” (orang Madinah) misalkan. Juga Suhaib bin Sinan, ia familiar dikenal sebagai Suhaib “Al-Rumi” (dari Romawi), Bilal bin Rabbah “Al-Habasyi” (dari Ethiopia) mereka tidak pernah diperintah untuk mengganti kebangsaannya menjadi “Al-Arabi.”

Nasionalisme itu adalah Anugerah Keragaman. Layaknya bahasa yang kita ucapkan, warna kulit yang kita miliki, itu semua Ketentuan Tuhan yang takkan terhapuskan.

Tapi meskipun demikian, ada beberapa catatan perbedaan antara Agama dan Negara yang patut diketahui. Perbedaan tersebut di antaranya:

Pertama: Ber-Negara boleh berpindah-pindah, sedangkan Ber-Agama itu tidak boleh berpindah-pindah.

Kita selaku WNI misalkan, kita bisa pindah ke Eropa, hijrah ke Amerika atau domisili di Afrika. Baik sementara atau selamanya. Bebas, legal dan tidak ada larangan.

Tapi kita sebagai orang Islam, tidak boleh untuk pindah ke agama lain barang sedetik pun. Karena saat pindah agama, berarti statusnya murtad. Wal ‘Iyadzu Billah.

Kedua: Mengganti Kewarganegaraan itu diperbolehkan, bahkan sebagian negara memperbolehkan “Kewarganegaraan Ganda.” Sedangkan Beragama, ya hanya satu saja, tidak ada orang —selain munafik— yang memiliki Agama Ganda. Dan juga, mengganti Agama itu adalah perbuatan terlarang bagi setiap pemeluk ajaran agama masing-masing.

Ketiga: Seseorang bisa saja tidak memiliki kewarganegaraan, yang secara hukum disebut dengan “Statelessness” atau: Absennya hubungan pengakuan antara individu dan suatu negara. Di mana, Orang yang tak bernegara secara de jure terkadang merupakan orang yang tidak dianggap sebagai warga negara oleh suatu negara di bawah operasi hukumnya.

Tapi adakah orang yang tidak beragama? Sekalipun ada orang yang mengaku tidak beragama, sebenarnya itulah agama dirinya, yaitu agama kebebasan yang tak mau terikat kecuali dengan keyakinan hawa nafsunya sendiri. Dan sekalipun seseorang mengaku tidak ber-tuhan, tapi sebenarnya dia sedang menuhankan akal, nafsu dan dirinya sendiri. Karena, beragama dan meyakini sesuatu adalah perkara fitrah yang dimiliki setiap manusia.

Keempat: Ber-Negara itu hanya saat hidup saja, sedangkan Ber-Agama itu mulai dari hidup sampai mati.

Segala hal yang berkaitan dengan negara, seperti bayar pajak, bikin KTP, sukseskan Pemilu, dan sebagainya itu hanya terkait dunia. Hingga kita hembuskan napas terakhir, maka berakhir sudah urusan kita dengan Negara.

Tidak demikian dengan Agama, semenjak lahir saja kita sudah diadzani (bukan dinyanyikan lagu Indonesia Raya), hingga saat meninggal pun kita dibacakan surat Yasin (bukan dibacakan teks UUD 45).

Semua pemeluk agama saat meninggal, ia akan diperlakukan menurut ajaran agama masing-masing, tidak ada pengurusan jenazah dengan menggunakan “Tata-cara Negara” sekalipun ia adalah pahlawan yang meninggal dalam membela negara.

Kelima: Agama adalah harga Mati, kalau Negara? Nanti kita lihat sendiri.

Islam semenjak dahulu, berabad-abad lamanya, tetap utuh tak tersentuh. Rukun Islam tetap Lima, Rukun Iman tetap Enam, dan Al-Qur`an tetap 114 Surat tak berkurang satu ayat pun. Islam Harga Mati. Selamanya takkan bisa diganti!

Tapi Negara? Lihatlah sejarah: Dahulu ada Imperium Romawi dan Persia, dua negara adidaya itu kini telah sirna. Dulu ada Khilafah, sekarang sudah tinggal sejarah. Dulu ada Uni Soviet, sekarang sudah runtuh terpecah-pecah. Dulu tidak ada negara Israel, tapi sekarang sudah mulai lahir. Dulu Sudan masuk kawasan Mesir, tapi sekarang sudah jadi negara sendiri. Dulu Sudan adalah satu negara, tapi sekarang sudah terpecah dua. Begitu seterusnya…

Lalu apakah NKRI harga mati? Jawabannya adalah: Lihatlah Timor-Timur, juga Sipadan dan Ligitan, itu adalah bukti terbaru yang kita alami sendiri. Jadi, “NKRI Harga Mati” itu harus dijadikan semboyan patriotisme. Tapi secara fakta sejarah, tidak ada Negara yang abadi di muka bumi. Ini juga merupakan Ketentuan Tuhan, jadi mengartikannya tak perlu sambil “Bawa Perasaan.”

Maka, sebagaimana kita memperjuangkan Agama, kita juga harus memperjuangkan Negara. Agama memiliki batasan berupa rukun Iman dan Islam, sedangkan Negara memiliki batasan teritorial wilayah. Keduanya bukan hal kontradiktif yang harus dibenturkan. Seolah orang beragama tidak bisa bernegara. Sebaliknya, justru kebanyakan dari orang yang mampu Ber-Agama dengan baik, mereka pasti dapat Ber-Negara dengan baik.



Dalam memahami perkara ini, kita tidak ingin mengekor kepada “Ekstrem Kanan” yang secara mentah-mentah mengingkari nasionalisme dan menyandingkannya dengan kefasikan maupun kekufuran. Pun juga, kita tidak ingin membebek kepada “Ekstrem Kiri” yang ingin menuhankan nasionalisme dan membuang jauh-jauh segala yang berbau agama. Islam itu Wasath. Muslim itu selalu berada di tengah dan Moderat.

Para Ulama lintas-suku, lintas-ormas, lintas-pesantren di seluruh Negeri ini telah sepakat tentang keharusan merawat negeri. Umat Islam di negeri ini sudah tidak lagi pada tahap menghapal Pancasila secara teori, tapi sudah sampai mengamalkan dan memantau penerapan nilai-nilainya di lapangan. Mereka bukan lagi murid di kelas “merangkai bunga” untuk menyatakan Keragaman dan Kerukunan, tapi mereka sudah duduk di strata “Merangkai Bunga Harmonitas” antara Agama dan Negara.

Pada faktanya, umat Islam tidaklah anti-Pancasila, karena spirit Pancasila sendiri selaras dengan ajaran Agama. Bukankah Pancasila itu buatan manusia? Ya. Betul. Tapi ia adalah mufakat yang tidak bertentangan dengan Agama. Sedangkan Rasul sendiri telah bersabda: “Umat Islam terikat dengan persyaratan-persyaratan mereka, kecuali syarat yang mengharamkan perkara halal, atau syarat yang menghalalkan perkara haram.”

Jadi, stigma negatif semacam “Anti-NKRI,” “Anti-Kebhinnekaan” dan “Anti-Pancasila” yang ingin disematkan kepada Muslim Indonesia itu tak ubah bedanya dengan tuduhan fir’aun saat mengklaim Nabi Musa termasuk golongan “Kafir.”

Perkataan fir’aun itu lahir saat ia merasa Panik akan kekuasaannya, dan Khawatir jika tahtanya tumbang di tangan “Rakyat Jelata” dari kalangan Bani Israel yang selama ini ia anggap sebagai budak-budak tak berharga:
قَالَ أَلَمْ نُرَبِّكَ فِينَا وَلِيدًا وَلَبِثْتَ فِينَا مِنْ عُمُرِكَ سِنِينَ … وَفَعَلْتَ فَعْلَتَكَ الَّتِي فَعَلْتَ وَأَنْتَ مِنَ الْكَافِرِينَ
Fir’aun menjawab: “Bukankah kami telah mengasuhmu (Musa) di antara —keluarga— kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu … Dan kamu telah berbuat suatu perbuatan yang telah kamu lakukan itu dan kamu Termasuk golongan orang-orang Kafir!” (QS. Al-Syu’ara: 18-19).

Wallahu A’lam Bis-Shawab.

Oleh Yusuf Al-Amien dari postingan di Telegram @hasanalbanna.com 

Rahasia Kenapa Pekerja Pabrik Pembuat Rokok Tidak Mau Merokok [video] 


Memulai tulisan ini saya ingin mengutip salah satu status facebook dari bapak Fuad Baradja, mantan artis Jin dan Jun yang sekarang beralih menjadi komisi nasional penanggulangan tembakau. 

Dalam salah satu dinding facebooknya beliau menulis komentarnya tentang bencana kelaparan di beberapa negara dan lebih sedih lagi ketika melihat berapa triliyunan habis untuk hanya merokok. 

Berikut kutipannya. 

Kemarin saat saya posting gambar ini di beberapa group Whatsapp, banyak yang minta penjelasan apakah angka 1 trilyun perhari buat beli rokok itu valid ?

Saya katakan bahwa saat ini ada 90 juta perokok di Indonesia.

Kalau 80 persennya muslimin , maka angkanya ada 72 juta perokok muslim. Kalau mereka merokok perhari 1 bungkus saja seharga 15 ribu , maka perhari mereka membelanjakan sebenyak Rp 1.080.000.000.000 (1,08 T) buat beli rokok.

Itung aja sendiri kalau gak percaya. 

Berikut gambar yang beliau maksud. 

Kemudian beberapa hari yang lalu Syaikh Muhammad Al-Uraifi menulis dalam di laman twitternya video pendek yang menerangkan kenapa para pekerja di pabrik rokok tidak mau merokok. 

Berikut tweet dan video beliau. 

Doa Untuk Kekalahan Ahok


Di hari tenang menjelang hari panas, pertarungan antara dua kubu penista agama dan pembela agama akan digelar besok. 

Banyak dari umat Islam yang berdoa agar Ahok kalah karena sudah melecehkan agama Islam dan Alquran. 

Salah satu kiyai dan dewan ulama di kota Solo yaitu Drs. Abdullah Manaf Amin ketika di Boyolali, 17 April 2017 di Masjid dan Islamic Center Al Hikmah mengatakan: “Saya serius berpesan kepada ustadz di pondok untuk mengajak santri-santrinya mendoakan kekalahan Ahok karena sudah menghina Allah, Rosulullah dan Al Quran”. 

Karena ulama sudah menasehatkan demikian, maka layaknya kita mentaati dan mendoakan kekalahan Ahok yang sudah membuat suasana Jakarta gaduh.

 Ada beberapa doa yang tersebar di group WA salah satunya seperti ini. 

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ دِيْنَكَ وَ أَطْهِرْ أَوْلِيَاءَكَ وَ اخْزِ أَعْدَاءَكَ فِى عَافِيَةِ لِأُمَّةِ مُحَمَّد ﷺ

“Ya Allah, muliakanlah agama-Mu, menangkanlah para kekasih-Mu, dan kalahkanlah musuh-musuh-Mu demi kebaikan umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam”

Atau ini:

” حسبى الله ونعم الوكيل ” 

” حسبى الله ونعم الوكيل ”

” حسبى الله ونعم الوكيل ”

” اللهم انهم أظهروا علينا قوتهم ………. فأظهر عليهم جبروتك وانتقامك يا رب العالمين وأرنا فيهم آية ”

Hasbiyallah wa ni’ mal wakiil

Hasbiyallah wa ni’mal wakill

Hasbiyallah wa ni’mal wakiil

Allahumma innahum adhharuu ‘alainaa quwwatahum. Fadhhir ‘alaika jabaruutahum wa intiqaamuka yaa rabbal aalamiin wa arinaa fiihim aayat. 

Cukuplah Allah bagi kami, dan Dia adalah sebaik baik penolong (3kali). Ya Allah, sesungguhnya mereka telah menampakkan kekuatan mereka. Balaslah dengan kemarahan-Mu wahai Tuhan semesta alam dan tunjukan tandanya pada kami. 

Mari.. Doakan Ahok kalah besok.. AMIIN 

Hidup di dunia ini hanya sebentar, dan kehidupan akhirat abadi dan selamanya. 

Kelak tangan, kaki dan kulit akan menjadi saksi atas apa yang kita lakukan dan mulut yang selama ini selalu bebas berbicara akan ditutup.

Tidak ada alasan lagi untuk berkelit dan berbohong. Hanya kepada Allah Swt kita mohon pertolongan.  

Pasung Memasung


Menggambarkan kondisi umat islam saat ini. Mereka yang sekian lama dijerat/dicekik oleh orang komunis dan liberal

Namun ketika ditengah mereka ada mujahidin yang rela memasang badanya untuk tameng umat, rela mengucurkan keringat dan darahnya demi terlindunginya darah umat, rela sedikit tidur dan istirahat supaya umat tetap nyaman, rela mengorbankan nyawanya menjadi ‘tumbal’ demi menjaga nyawa umat

Namun apa yang hari ini terlontar dari lisan para umat yang dicekoki oleh media kuffar, bahwa mujahidin adalah garis keras, penuh kekerasan, intoleran bahkan dituduh sebagai teroris

Alumni 212 yang menjabat tempat strategis di pemerintahan, sengaja atau tidak dilengserkan tanpa ada sebab yang jelas.

Mari Jaga Selalu Spirit 212. Jangan sampai semangat jihad dan perjuangan luntur dari dalam diri. Terus semangat para pejuang.

Seberat dzarrah yang kita lakukan akan dinilai Allah Swt sebagai amalan, tidak akan dibiarkan sia sia. Mari eratkan persatuan, kokohkan langkah dan maju bersama

#spirit212✊
#alumni212itukami
#blogjumal

View on Path

%d bloggers like this: