Segitiga Quthrub


Di dalam bahasa arab, terdapat fenomena yang unik di mana sebuah kata dengan jumlah dan susunan huruf yang sama dapat memiliki makna yang berbeda jika salah satu huruf saja harakatnya berbeda. Misalnya untuk huruf ر (ra’), ش (syin) dan ا (alif). Jika ketiga huruf ini disusun menjadi رشا namun dibaca

  • رَشا (rasyaa) = kijang/rusa
  • رِشا (risyaa) = tali
  • رُشا (rusyaa) = sogok/suap

Maka masing-masing memiliki makna yang berbeda.

Fenomena ini menggelitik para pakar bahasa untuk mengumpulkan kata-kata yang demikian itu ke dalam sebuah karya sastra. Di antara mereka yang paling terkenal adalah Quthrub. Beliau merupakan salah satu murid dari Sibawaih. Dari karya beliau inilah terkenal istilah “Mutsalats Quthrub atau Segitiga Quthrub”.

Quthrub mengumpulkan dalam bukunya kata-kata yang tersusun dari tiga huruf yang mempunyai 3 harakat dan berbeda-beda maknanya. Beliau kumpulkan dalam bentuk natsr (paragraf) bukan nadham (puisi). Bukunya kecil tapi sarat dengan ilmu, beliau lah yang memberi jalan kepada orang-orang setelah beliau untuk meneruskan pekerjaan beliau.

Syaikh Syarafuddin Al-Andalusi ketika men-syarh kitab Mutsalats Quthrub menyebutkan bawah awalnya buku ini belaiu tulis dalam bentuk paragraf, kemudian ketika beliau berjalan ke kota Albahansa bertemu dengan Abu Bakar Al-Warraq yang menyempurnakannya.
Berikut ini beberapa potongan dari Nadham Mutsalas Quthrub
يَا مُولعْاً بِالْغَضَبِ وَالهْجْرِ وَالتَّجَنُّبِ = هَجْرُكَ قَدْ بَرَّح بي في جِدِّه وَاللَّعِبِ

إِن دُمُوعِي غَمرُ وَلَيْس عِندي غِمرُ = فَقُلْتُ يَا ذَا الْغُمرُ أَقصرْ عَنِ التَّعَتُّبِ

بِالْفَتْحِ مَاءٌ كَثُرا وَالْكَسْرِ حِقْدٌ سَتَرا = وَالضَّمِ شَخْصٌ مَا دَرَى شَيئاً وَلمْ يجُرّبِ

بَدا فَحيَّا بِالسَّلام رَمَى عُذولي بِالسِّلام = أَشَار نحَوْي بِالسُّلام بِكَفِّهِ المُخْضِبِ

بِالْفَتْح لَفْظَ المُبْتَدِي وَالْكَسْر صَخْرُ الجْلْمدِ = وَالضَّم عَرْق في الْيَد قَدْ جَاء في قَوْل النَّبي

تَيَّم قَلْبي بِالْكَلام وفي الحْشَا مِنُه كِلام = فَصِرْتُ في أَرْضٍ كُلاَم لِكي أَنَال مَطْلبي

بِالْفَتْح قَوْل يُفْهَمُ وَالْكَسْر جُرح مُؤَلمُ = وَالضَّم أَرْض تَبرم لِشِدَّةِ التَّصَلُّبِ

ثَبت بأَرْض حَرَّة مَعْروفَة بِالحِرَّة = فَقُلْتُ يَا ابْن الحُرَّة إِرْثَ لمِا قَدْ حلَّ بي

بِالْفَتْح لِلَّحجَارة وَالْكَسْر لِلْحَرارة = وَالضَّمِ لِلْمُخْتَارة مِنْ النِّسا في الحجبِ

جْد فَلا دِيم حَلْم وَمَا بَقِي لي حِلْم = وَمَا هَناني حُلُم مُذْ غِبْت يَا مُعَذَّبي

بِالْفَتْح جَلْد نُقبا وَالكَسْر عَفْو الأُدبا = وَالضَّمِ في النَّوْم هبا حْلم كَثير الْكَذِبِ

Quthrub lahir di Bashrah, ketika dewasa dia mulaia belajar Bahasa Arab dari ahlia bahasa di zamannya, orang pertama yang menjadi gurunya adalah Sibawaih dan menjadi gurunya yang paling lama, selanjutnya dia belajar dari Isa bin Umar Ats-Tsaqafi dan Yunus bin Habib.

Quthrub mengajar anak Abu Dulaf Al-Qasim bin Isa, beliau condong kepada faham Muktazilah karena beliau lahir dari keluarga berfaham Muktazilah, maka ketika beliau menulis tafsir, beliau enggan untuk memperkenalkannya ke khalayak umum karena takut dari tanggapan jelek masyarakat umum.

Quthrub menyelisihi beberapa ahli nahwu dalam hal tujuan dari I’rab, menurut dia alif, wawu dan ya’ dalam mustanna dan jama’ sama dengan kedudukan fathah, kasrah dan dhammah dalam i’rab.

Menurut ahli bahasa Ibnu Duraid dan Tsa’lab kata Quthrub berarti hewan kecil yang banyak bergerak. Abu Ali atau Quthrub adalah orang pertama yang membuat mutsalats dalam bahasa arab yang kemudian dikenal dengan mutsalats quthrub, yang banyak diikuti oleh  Al-Bathlayusi, Al-Khatibdan Al-Balnasi. 

Kitab ini telah disyarh oleh Dhiyauddin AbulIzz Al-Mughits bin Alawi Al-Baghdadi Al-Lughawi Al-Hanbali yang wafat pada tahun 583 H. 

Kesibukannya selain mengarang dan menulis buku adalah menjadi guru dari Amir Abu Dalf Al-Ajli.
Ia juga orang pertama yang menulis risalah tentang fi’il-fi’il mabni. Quthrub wafat di Baghdad pada tahun 206 H.

Bagaimana Mudah Menghafal Al-Quran.. 


Kata orang menghafal Al-Quran lebih mudah dari menjaganya, yup itu setuju sekali. Dan saya mengalami hal itu. Sudah beberapa tahun selesai setoran Al-Quran dan sampai sekarang masih banyak ayat bahkan surat yang terlupa. Astaghfirullah… 

Saya selalu berdoa kepada Allah agar tidak termasuk orang yang dengan sengaja melupakan Al-Quran. Saya tidak pernah dengan sengaja melupakan Al-Quran, mungkin karena sibuk. Duh, ini alasan yang sok dibuat buat. 

Intinya sih, kita harus selalu mendekat kepada Al-Quran, karena ibarat Unta yang tidak diikat, hafalan kita pun akan buyar, dan butuh tenaga ekstra lagi untuk memgembalikannya, seperti kita menghafal dari awal. 

Agar mudah menghafal dan menjaga Al-Quran, maka dibantu juga dengan membaca terjemah Al-Quran, kalau bisa bukan terjemah harfiyah yang ada sekarang, tapi terjemah Tafsiriyah Al-Quran. 

Sekarang sudah ada penerbit Solo yang membuat cetakan Terjemah Tafsiriyah, ini sangat membantu saya untuk lebih memahami makna Al-Quran tanpa harus membuka buku tafsir lagi. 

1 minggu ini saya mencoba mengulang hafalan dengan bantuan terjemah tafsiriyah ini, alhamdulillah membantu sekali, jadi lebih mudah memahami isinya, beda dengan terjemah harfiyah dari Depag yang bikin kita harus mikir lagi ini ayat maksudnya apa ya..? 

Alhamdulillah…. Ini pengalaman saya…. Bagaiaman dengan pengalaman anda? 

Jumlah Huruf Al-Quran Menurut Imam Syafi’i dan Ibnu Katsir


Ketika mencari informasi tentang jumlah huruf dalam Al-Quran, saya mendapatkan informasi yang berbeda dari Ibnu Katsir dan Imam Syafi’i. 

Menurut Imam Syafi’i

Imam Syafi’i dalam kitab Majmu al-Ulum wa Mathli’u an Nujum dan dikutip oleh Imam ibn ‘Arabi dalam mukaddimah al-Futuhuat al-Ilahiyah menyatakan jumlah huruf-huruf dlm Al Qur’an diurut sesuai dengan banyaknya:

  1.  ا Alif  : 48740 huruf,
  2.  ل Lam : 33922 huruf,
  3. م Mim : 28922 huruf,
  4. ح Ha ’ : 26925 huruf,
  5.  ي Ya’ : 25717 huruf,
  6.  و Wawu : 25506 huruf,
  7.  ن Nun : 17000 huruf,
  8.  لا Lam alif : 14707 huruf,
  9.  ب Ba ’ : 11420 huruf,
  10.  ث Tsa’ : 10480 huruf,
  11.  ف Fa’ : 9813 huruf,
  12.  ع ‘Ain : 9470 huruf,
  13. ق Qaf : 8099 huruf,
  14. ك Kaf : 8022 huruf,
  15.  د Dal : 5998 huruf,
  16.  س Sin : 5799 huruf,
  17. ذ Dzal : 4934 huruf,
  18. ه Ha : 4138 huruf,
  19. ج Jim : 3322 huruf,
  20.  ص Shad : 2780 huruf,
  21.  ر Ra ’ : 2206 huruf,
  22.  ش Syin : 2115 huruf,
  23. ض Dhadl : 1822 huruf,
  24.  ز Zai : 1680 huruf,
  25.  خ Kha ’ : 1503 huruf,
  26.  ت Ta’ : 1404 huruf
  27.  غ Ghain : 1229 huruf,
  28.  ط Tha’ : 1204 huruf dan terakhir
  29. ظ Dza’ : 842 huruf.

Jumlah total semua huruf dalam al-Qur’an sebanyak 1.027.000 (satu juta dua puluh tujuh ribu). Jumlah ini sudah termasuk jumlah huruf ayat yang di-nasakh.

Ibnu Katsir

Dalam kitab Tafsirnya juz 1 hal 98 disebutkan bahwa:

“Mengenai jumlah kata dalam al-Quran, Fadhl bin Syadan meriwayatkan dari Atha’ bin Yasar, yang mengatakan, Jumlah huruf ada 77439 kata. 

Sedangkan jumlah hurufnya, diriwayatkan oleh Abdullah bin Katsir, dari Mujahid, beliau mengatakan, “Berikut yang kami hitung dari al-Quran, jumlah hurufnya ada 321.180 huruf.” (Tafsir Ibn Katsir, 1/98).

Antara Nar dan Nur


Di dalam Surat Al-Baqarah ayat 17, Allah SWT menggambarkan keadaan orang-orang munafik dan fasik terhadap cahaya petunjuk-Nya. 

“Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat”. 

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa api (nar) dapat menghasilkan cahaya (nur) dan sekaligus panas. Namun bagi orang munafik dan fasik, mereka hanya merasakan efek panasnya api tersebut dan tidak menikmati efek terang cahayanya, karena Allah telah menghilangkannya. 

Maka tidak mengherankan mengapa dari sisi bahasa/linguistik, istilah api (nar) dan istilah cahaya (nur) mempunyai kekerabatan akar kata dan makna. Sebab keduanya mewakili substansi yang sama yakni energi. 

Namun demikian, keduanya memiliki perbedaan sifat fisik, dimana kata nar lebih menonjolkan sifat panasnya, sedangkan kata nur lebih menekankan sifat radiasinya sebagai cahaya. 

Sumber: Belajar dari Kejatuhan Iblis dan Adam  as oleh Muhammad Furqan Al-Faruqy

Aksi Menjaga Al-Quran


Banyak yang bertanya, “Bagaimana cara menjaga hafalan Al Qur’an? kok yang sudah dihafal sering lupa ya?”

Pembaca sekalian, sebenarnya teori menjaga hafalan Al Qur’an itu sederhana saja, yaitu dengan sering diulang-ulang (murajaah). Kenapa sering lupa? karena jarang diulang. Coba kalo sering diulang, pasti tetap terjaga. Yang sering lupa, pasti jarang/tidak murajaah. Ya, cukup diulang-ulang aja. Insya Allah hafalan jadi lancar. 

Untuk memiliki hafalan Al-Qur’an yang cukup banyak, perlu ‘manajemen pengulangan’ tersendiri untuk menjaga hafalan yang dianalogikan seperti beternak onta. Rasulullah saw pernah bersabda,

“Jagalah Al-Qur’an, demi Yang jiwaku berada di tangan-Nya, Al-Qur’an itu lebih cepat lepas dari pada seekor unta dari ikatannya”
(H.R. Bukhari)
Jadi begini, orang yang menghafal Qur’an itu seperti orang yang beternak unta…Orang yang sedang berburu unta seperti orang yang sedang menghapal Al Qur’an, Orang yang sudah menangkap onta seperti orang yang sudah hafal, sedangkan orang yang sedang memelihara onta itu seperti orang yang menjaga hafalannya.

Masalahnya, tidak semua onta jinak.  Tapi kita asumsikan saja: Unta itu ada 3 jenis: liar, ada yang setengah liar, ada yang jinak. Begitupun hafalan, ada yanglemah, agak kuat, dan sangat kuat. 

Sekarang kita analogikan lagi,
hafalan yang lemah itu seperti unta liar, yang maunya kabur terus… (kabur dari ingatan) hafalan yang agak kuat itu seperti unta setengah liar, kadang mau kabur, kadang tidak. Hafalan yang kuat itu ibarat unta jinak, yang justru lebih suka pada pemeliharanya. Hafalan lemah itu biasanya berupa hafalan-hafalan yang baru saja dihafal, seminggu yang lalu, misalnya. Hafalan yang baru dihafal ini rentan lupa. Semakin baru hafalan, semakin mudah lupa, biasanya.

Nah…strateginya, sebagaimana dalam beternak unta, seharusnya kita lebih fokus pada mengurus ‘unta-unta liar’. Karena unta liar lebih mungkin untuk kabur dibanding yang jinak. Begitupun dalam menjaga hafalan, rumusnya adalah…”Utamakan hafalan-hafalan yang masih lemah“. Aplikasinya…, “Hafalan yang lemah harus lebih banyak diulang daripada halafan yang kuat“.


Banyak penghafal Qur’an yang suka murajaah hafalan yang sudah kuat saja, sedangkan hafalan yang lemah jarang diulang-ulang. Akhirnya…yang hafalannya yang kuat tambah kuat, yang lemah tambah lemah.
Walaupun demikian, bukan berarti hafalan yang sudah kuat tidak diurus. Harus diulang-ulang juga. seperti onta yang sudah jinak, dia juga tetap perlu diberi perhatian, walaupun tidak seintensif unta yang bermasalah (liar).

Idealnya, untuk unta liar, harus diurus minimal setiap 3 hari sekali. Setiap 3 hari, hafalan lemah harus diulang minimal sekali. Kalo misalnya hafalannya 3 surat dan masih lemah semua, maka murajaahnya sehari 1 surat.
Untuk unta setengah liar, harus diurus minimal setiap seminggu sekali.

 Setiap seminggu, hafalan agak kuat harus diulang minimal sekali. Misalnya, kalo hafalannya yang agak kuat ada 7 surat, maka murajaahnya sehari 1 surat. Sedangkan untuk unta jinak (hafalan ngelotok), boleh ditinggal agak lama. Tapi jangan kelamaan, minimal dalam sebulan keulang minimal sekali.

Sebagai contoh, misalnya ada orang punya hafalan Al Qur’an 40 surat. 30 surat diantaranya hafalan kuat, 7 hafalan agak kuat, dan 3 lemah. Maka murajaahnya hariannya: 1 surat hafalan kuat, 1 surat hafalan agak kuat, dan 1 surat hafalan lemah. Dengan cara ini, hafalan kuat akan terulang sekali sebulan, hafalan agak kuat seminggu sekali, dan hafalan lemah 3 hari sekali.

Kemudian, biarkan onta-onta itu tumbuh sehat, supaya bisa beranak-pinak, bisa diambil susunya, bisa dipakai sebagai kendaraan, dan diambil dagingnya buat makanan. 
Maksudnya, rawatlah hafalan kita, insya Allah hafalan kita akan bertambah banyak dan memberikan manfaatnya buat kita juga, insya Allah

Untuk teknis penerapannya, bisa anda gunakan metode Sabak, Sabki dan Manzil. Metode ini lebih menekankan pada muraja’ah daripada menambah hafalan terus menerus. 

Sabaq : Hafalan baru. 

Yakni menghafal ayat-ayat yang belum pernah dihafal sebelumnya.
Untuk Sabaq ini, minimal setengah halaman perhari. 5 kali dalam seminggu. Kalau tidak sanggup, ya wes 5 baris. Kalau tidak sanggup juga, ya wes semampunya, meskipun seayat-dua ayat. Yang penting dalam sehari ada hafalan baru.

Sabqi : Menyempurnakan hafalan yang belum mutqin.

Contoh di Juz ‘Amma kita masih blepetan di Surat At-Takwir. Nah itu kudu diulang lagi, sampai mutqin.
Sabqi ini minimal 1 halaman perharinya.

Manzil : Muraja’ah hafalan mutqin.

Sehari minimal 2,5 lembar.
Kesemua itu diupayakan bersama pembimbing atau teman, agar kesalahan yang ada bisa segera diperbaiki. Sedang untuk Manzil bisa dilakukan dengan cara Shalat Sunnah dengan membaca 2,5 lembar itu.

Dari sini kita bisa ketahui, bahwa murajaah hafalan lama lebih digalakkan daripada menambah hafalan baru.
Berikut ini beberapa kelebihan dengan metode sabak, sabki dan manzil:

  1. Hafalan menjadi kuat karena menekankan kepada penguatan hafalan dengan secara rutin mengulang hafalan yang lalu setiap kali setoran baru.
  2. Santri terbimbing dalam hafal Al-Quran dan tidak bingung dengan apa yang harus mereka lakukan.
  3. Dengan Sabki hafalan baru menjadi lebih kuat dan dengan Manzil hafalan lama menjadi kuat dan memudahkan santri mengulang hafalan satu juz.
  4. Dengan memaksakan manzil maka seluruh hafalan dapat terulang meskipun tidak satu juz walau hanya dengan menyetorkan rubu’-rubu’
  5. Dengan sistem sabak, sabki, manzil musyrif dapat berkreasi dalam menerapkan sistem setoran
  6. Disiplin waktu
  7. Menjadikan tilawah harian yang dibaca menjadi lebih baik dari segi tahsin tilawah.
  8. Penekanan hafalan baru sesuai dengan keadaan siswa.
  9. Pendidikan dalam membaca Al-Quran baik dalam shalat maupun dalam luar shalat.

Selain itu, selalu gunakan waktu luang kita bersama Alquran, isi hp dengan murattal atau bacaan Alquran yang ssedang kita hafal, hapus file musik dan lainnya selain Alquran.  Jadikan Alquran wirid harian kita. 

Allahu a’lam

Tehnik Murajaah Hafalan Al-Quran


​​Bagi para penghafal Al Quran yang pemula, menambah hafalan mempunyai kesulitan tersendiri. Tetapi seiring dengan waktu kesulitan ini akan terlampaui. Ketika itu kesulitan lain timbul yaitu mengulang hafalan (murajaah). Pada saat hafalan makin bertambah banyak, murajaah juga semakin berat.

Untuk surat-surat yang agak panjang (50 ayat) dan yang panjang (diatas 100 ayat), biasanya kita sangat hafal separuh awal dari surat tersebut. Untuk separuh terakhir sulit bagi kita untuk mengingatnya. Ini akan ditandai dengan “macet” ketika saat memurajaah. 

Mengapa hal ini terjadi? Hal ini disebabkan kita selalu menghafal/murajaah dari awal surat (ayat 1). 

Ketika selesai menghafalkan sebuah surat, ayat-ayat awal itulah yang lebih sering dilafadzkan dibandingkan dengan ayat-ayat yang akhir. Sehingga otak kita lebih hafal ayat-ayat awal. 

Itulah sebabnya kita sangat hafal ayat-ayat awal surat dan sering lupa pada ayat-ayat akhir surat.
Kesulitan kedua adalah ketika kita “macet“ sulit bagi kita untuk mengetahui ayat selanjutnya. Ayat-ayat setelah “ayat macet“ menjadi gelap. 

Ini dikarenakan kita menghafal secara sekuensial/berurutan, sehingga satu ayat selalu diingat setelah ayat sebelumnya. Sehingga kalau ayat “sebelumnya” macet maka ayat selanjutnya menjadi hilang juga. 

Dalam hal ini tidak ada cara lain untuk mengingatnya selain membuka mushaf Al Qur’an.

Lalu bagaimana cara efektif untuk menanggulangi masalah tersebut?
Kuncinya adalah ketika proses menghafal sebuah surat dilakukan. Hafalkan surat dengan cara memotongnya menjadi 10 ayat 10 ayat. Di dalam tiap sepuluh ayat potong-potong lagi menjadi 5 ayat-5 ayat.

Misalnya kita menghafal surat An Naba yang didalamnya ada 40 ayat. Caranya adalah sebagai berikut :

  1. Hafalkan ayat 1 sampai lancar. Lakukan sampai ayat 5.
  2. Kemudian hafalkan secara berurut ayat 1 sampai dengan ayat 5. Ikatlah ayat 1 sampai ayat 5 dengan mengulang-ulangnya bersama-sama sampai lancar. Gerak-gerakkan jari-jari tangan anda sesuai dengan ayat yang sedang di hafal. Bila menghafal ayat 1 gerakkan ibu jari, ayat 2 gerakkan jari telunjuk, ayat 3 gerakkan jari tengah, ayat 4 gerakkan jari manis dan ayat 5 gerakkan jari kelingking.
  3. Kemudian hafalkan ayat 6 sampai 10 sambil menggerak-gerakkan jari-jari tangan kiri sama seperti yang dilakukan oleh tangan kanan. Ulang-ulang ayat 6 sampai 10 sampai lancar. Kegiatan ini mengikat ayat 6 sampai dengan ayat 10. 
  4. Sekarang mengulang menghafal ayat 1 sampai 10 dengan sambil menggerak-gerakkan jari sesuai dengan nomor ayat yang dilafazkan. Lakukan sampai lancar. Hal ini mengikat ayat 1 sampai 10.
  5. Lakukan langkah diatas untuk ayat 11-20, ayat 21-30 dan ayat 31-40.Terakhir gabungkan semua ayat (ayat 1 sampai 40) dalam surat tsb. Ulang-ulang sampai lancar. 

Kemudian bagaimana anda murajaah sebuah surat bila kita telah menghafal secara konvensional? 
Bila surat tersebut ayat-ayatnya pendek maka kelompokkan menjadi 10 ayat-10 ayat. Hafalkan per 10 ayat. Bila suratnya berayat yang panjang-panjang seperti Al Baqarah, Ali Imran, An Nisaa dll, maka pecah 10 ayat menjadi 5 ayat-ayat.

Manfaat dari menghafal dengan sistem potongan ini adalah:

Ketika murajaah kita tidak selalu harus memulai dari awal surat – ayat1- sehingga untuk surat yang panjang murajaah dapat dilakukan sepotong-sepotong di dalam shalat kita.
Misalnya: untuk setiap rakaat shalat kita membaca 10 ayat. Maka ketika shubuh kita sudah dapat murajaah sampai 40 ayat (sunnat shubuh 2 rakaat dan shubuh 2 rakaat). 

Ini cukup bagus untuk surat An Naba yang 40 ayat. Atau untuk surat yang panjang seperti Al Baqarah, bila dilakukan 10 ayat untuk setiap rakaat shalat, maka selesai shalat isya kita sudah murajaah 100 ayat! 
Bila ditambah dengan shalat2 sunnah rawatib maka kita bisa murajaah 200 ayat dalam sehari. Dan bila ditambahkan dengan shalat dhuha dan tahajjud kita bisa menyelesaikan 286 ayat Al Baqarah dalam shalat yang dilakukan sehari semalam!

Kita tidak merasa susah murajaah karena seakan-akan kita sedang menghafal surat-surat yang pendek saja. Secara psikologis kita merasa lebih ringan. Dan di dalam memurajaah surat yang panjang kita menguatkan secara merata ayat-ayat di seluruh surat. Bukan hanya ayat-ayat awal surat saja. 

Ketika memurajaah surat-surat yang panjang dan kemudian terputus oleh kondisi eksternal – tamu datang, telpon berdering, anak menangis, masakan gosong dll- kita masih tetap bisa melanjutkan ayat selanjutnya setelah kondisi eksternal tertangani. Tanpa harus mengulangi dari awal surat. 

Dengan metoda menghafal konvensional maka kita kita harus selalu mengulangi mulai dari awal surat lagi. Kondisi-kondisi seperti ini akan menguatkan hafalan ayat-ayat awal dan menurunkan kualitas hafalan ayat-ayat akhir.Hafal nomot ayat tanpa kita sadari. 

Ini adalah bonus yang sangat bermanfaat untuk kita mengatasi kasus “ayat macet“. Bila macet di satu ayat biasanya akan berhenti memurajaah surat tersebut karena ayat-ayat yang selanjutnya sangat bergantung pada ayat yang macet/lupa. 

Tetapi dengan sistem ‘potong surat’ ini kita masih tetap bisa terus memurajaah ayat-ayat setelah ayat macet ini. Mengapa ? Karena dalam menghafal sistem ini setiap ayat independen diletakkan dalam memori otak kita.

 Sebuah ayat tidak hanya dikaitkan dengan ayat yang sebelumnya –seperti dalam sistem menghafal konvensional- tapi juga dikaitkan dengan nomornya (yang diingat secara tidak sadar dengan menggerak-gerakkan jari tangan ketika menghafal). Ketika memori yang terkait dengan ayat sebelum terlupakan maka ada  “pengait“ yang lain yaitu nomor surat. 
Percaya atau tidak? Anda tinggal mencoba sistem ini dan merasakan hasilnya!

Melakukan metoda ini tak sesulit membaca baris-baris di atas. Bila anda melakukannya ini adalah hal yang sangat simpel. Metoda ini menjadikan kita santai dan tidak stres dalam memurajaah. Karena kita mempunyai “petunjuk/milestones“ dalam surat-surat hafalan kita yaitu ayat 1, 11, 21, 31, 41 dst. 

Kita akan memurajaah “ayat-ayat pendek“, yaitu 10 ayat saja. Cobalah anda praktekkan dan anda akan terkejut dengan hasilnya.
Selamat bermurajaah!

Sumber: blog kultum

Provokasi Membenci Al-Quran


Sejak pagi ini, saya melihat banyak beredar info di sosmed dan group WA, tentang sejumlah mushaf Al Quran yang berisi terjemahan surah Al Maidah 51 sebagai berikut:

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai teman setia(mu)… dst”

Seperti pada kiriman gambar berikut:

Orang-orang yang menshare info tersebut pun berkata bahwa terjemahan seperti itu merupakan rekayasa untuk kepentingan politik. Sebab dengan mengubah frase “sebagai pemimpinmu” menjadi “sebagai teman setiamu“, terkesan itu dibuat demi keberpihakan kepada tokoh tertentu.

Menurut saya, itu tuduhan yang terlalu berlebihan, karena:

  1. Terjemahan seperti itu sebenarnya sudah sejak lama beredar.
  2. Saya sudah mengecek beberapa mushaf Al Quran, hampir semua terjemahannya seperti itu.
  3. Semua Al Qur’an terjemahan yg beredar di wilayah hukum RI menggunakan terjemah yang sama untuk semua ayat dan surat.
  4. Semua mengikuti standar Lajnah Pentashihan Mushaf Al Qur`an kemenag RI dan di beri no lulus tashih yang dicantumkan di Al Qur`an. 
  5. Semua terjemahan sudah seperti yang tertera dari dahulu tanpa ada konteks politik apapun. 
  6. Lajnah Pentashihan Mushaf Al Quran Kementerian Agama RI tidak mengubah arti “pemimpin” menjadi “teman setia” karena persoalan politik ataupun karena kepentingan orang atau golongan tertentu. 
  7. Terjemahan al Quran adalah buatan manusia. Perlu dibaca bagi kita yang belum paham bahasa Arab. Namun terjemahan BUKANLAH SEGALANYA. Sangat salah kaprah jika kita mengartikan Al Quran hanya bermodal terjemahan. 
  8. Cara terbaik untuk memahami Al Quran adalah lewat ILMU TAFSIR. Dan karena tidak semua umat Islam menguasai ilmu tafsir, maka sebaiknya kita belajar kepada para ahli tafsir yang kredibel dan islamnya lurus, baik ketemu langsung orangnya atau membaca buku-buku mereka.
  9. Karena itu, janganlah kita terlalu sibuk menghabiskan waktu dan tenaga untuk mempermasalahkan terjemahan. Itu tidak terlalu bermanfaat.
  10.  Saya khawatir jika beredarnya info-info tentang terjemahan Al Maidah 51 itu justru dibuat oleh para provokator, dengan tujuan agar kita membenci mushaf Al Quran tertentu, dan ujung-ujungnya kita diprovokasi untuk membakar mushaf tersebut. Naudzubillahi min dzalik!
  11. Walau banyak mushaf yang terjemahannya tidak sesuai dengan yang sebenarnya, itu tidak masalah. Sebab terjemahan itu buatan manusia yang bisa saja isinya salah atau keliru. Sedangkan yang asli dari Allah adalah teks Al Qurannya.
  12. Walau mushaf di rumah Anda ternyata berisi terjemahan yang keliru, itu tidak masalah. Yang penting ISI TEKS AL QURANnya benar sesuai aslinya.
  13. Tetaplah memperlakukan mushaf tersebut dengan baik dan terhormat, dengan akhlak yang baik sesuai ajaran Islam.
  14. Jangan mudah terprovokasi oleh info-info yang sekilas terkesan baik, namun itu justru berisi provokasi yang merugikan kita sendiri.

Umat Islam yang masih men-share postingan tentang perbedaan terjemah ini agar segera menghentikannya. Karena akan berdampak buruk bagi umat dan juga penerbit Alquran yang mendapat kecaman tanpa klarifikasi. 

Semoga bermanfaat dan umat Islam semakin bersemangat lagi untuk lebih mendalam belajar Alquran dan Tafsir Alquran. 

%d bloggers like this: