Al-Quran Sebagai Penawar Epilepsi


Saya ingin mengenang kembali ketika beberapa tahun yang lalu diberikan kesempatan untuk mengajarkan Al-Quran di salah satu pesantren di puncak Bogor. 


Tempat ini sangat spesial karena saya dipertemukan oleh Allah dengan orang-orang yang spesial. Bagaimana tidak, mereka yang berasal dari keluarga berkekurangan bahkan sebagian mengalami sakit yang sepertinya tidak mungkin bisa menghafal Al-Quran. 

Mengingat mereka dan semangat mereka menghafal Al-Quran selalu menjadi pelecut agar diri ini lebih semangat lagi menjaga hafalan Al-Quran, dan sengaja saya tuliskan kembali agar pembaca yang mungkin juga sedang menghafal Al-Quran juga bisa tergugah untuk berjuang menyelesaikan dan menjaga hafalan Al-Qurannya. 

Saya tidak akan pernah lupa dengan dia, seorang anak laki laki yang tegar menghadapi hidup, mau menghafal Al-Quran meskipun dia sedang sakit epilepsi. 

Ya, dia sedang sakit epilepsi, kita pasti heran dan terkagum, menghafal itu menggunakan otak, lalu bagaimana bisa menghafal jika otak kita terganggu, apalagi epilepsi dimana otak mengalami gangguan karena pelepasan muatan listrik yang tidak terkontrol. 

Duhai, besarnya nikmat Allah baru akan terasa ketika nikmat itu telah tiada. Seperti santri saya ini, saya tidak menyangka bahwa dibalik sifat pendiam dan senyumnya, dia sudah dari SD menderita epilepsi. 

Penyakit ini dia derita karena perlakuan kurang baik yang dulu pernah diterima dari ibu tirinya, sampai akhirnya bapak dan ibu tirinya sadar akan kesalahan mereka, kemudian mereka masukkan santri saya ini di pesantren untuk belajar agama dan menyembuhkan penyakitnya. 

Ketika penyakit epilepsinya kambuh, dia harus minum obat anti kejang setiap hari seperti fenobarbital atau diazepam, masalah akan timbul ketika obatnya habis, kadang dalam semalam dia bisa kejang (santri menyebutnya kumat) sampai tiga kali dalam semalam dan dengan tidak sadar menjedotkan kepalanya berkali-kali ke lantai sampai kepalanya bentol-bentol, pernah dalam sehari dia kumat sampai delapan kali dan bikin saya sampai menangis ketika itu lantaran ingat dengan perjuangan anak ini untuk menghafal Al-Quran.

Epilepsi adalah sekelompok gangguan neurologis yang terjadi dalam jangka waktu yang panjang dan ditandai dengan adanya serangan-serangan epileptik. 

Epilepsi sangat mempengaruhi perkembangan otak anak, karena otak yang berkembang sangat rentan terhadap perubahan dari luar dan dari dalam tubuh. 

Umumnya anak epilepsi akan terganggu fungsi kognitifnya, yaitu kemampuan belajar, menerima informasi dan mengelola informasi dari lingkungan. Juga kesulitan dalam memusatkan perhatian dan dan mengingat. 

Maka yang saya cobakan kepada santri saya ini, sesuai arahan yang saya baca di artikel artikel tentang epilepsi yaitu dengan menstimulasi fungsi kognitifnya melalui latihan fisik seperti jalan pagi menglilingi vila dan latihan otak dengan menghafal Al-Quran. 

Secara intens saya temani mereka menghafal Al-Quran. Saya gunakan metode Sabak, Sabki dan Manzil untuk mengontrol hafalan santri. 

Sebelum subuh, jam 3 pagi kami sudah membangunkan santri untuk menyiapkan hafalan yang akan disetorkan nanti habis subuh (Hafalan Baru/Sabak). 

Habis subuh kami team asatidz menerima setoran hafalan dari santri sampai jam tujuh pagi. Kemudian jam sepuluh kami berkumpul lagi di masjid untuk mengulang hafalan yang sudah disetorkan kemarin dan diseotorkan tadi pagi (Hafalan kemarin +hari ini/ Sabki) 

Siang hari mereka tidur siang, dan habis ashar kami berkumpul lagi di masjid, disini semua santri saling mengulang hafalan satu juz yang pernah mereka hafalkan, istilahnya Manzil. 

Dan pada malam hari setelah shalat Isya, santri berkumpul lagi di masjid sampai jam sembilan untuk menyiapkan hafalan mereka besok. 

Maka kurang lebih empat kali pertemuan untuk menghafal Al-Quran, dengan pertemuan yang intens ini, santri selalu dikondisikan untuk dekat dengan Al-Quran. 

Saya sering menyampaikan kepada santri yang sedang sakit epilepsi untuk menanamkan keyakinan bahwa penyakitnya akan sembuh dengan Al-Quran. Allah Swt menyatakan bahwa di dalam Al-Quran terdapat obat penawar bagi orang-orang yang beriman. Bukan saja untuk mengatasi penyakit ruhani, akan tetapi juga untuk mengobati penyakit jasmani. Obat itu begitu dekat dengan kita. Kesembuhan dengan Al-Quran bukan hanya teori, dan saya akan membuktikannya. 

Untuk memberi motivasi kepadanya, sering saya bacakan hadits dari Rasulullah Saw yang menceritakan seorang wanita yang datang kepada Rasulullah SAW. Wanita itu meminta didoakan Rasulullah agar bisa sembuh dari penyakit epilepsi yang dideritanya.

Sebenarnya, bisa saja Rasulullah mendoakan wanita itu dan tentu sudah pasti dikabulkan Allah SWT. Tapi, Rasulullah memberikannya sebuah tawaran. “Jika engkau mau, engkau bisa bersabar dan bagimu surga. Tapi, jika engkau mau sehat, aku akan mendoakanmu agar Allah menyembuhkanmu,” sabda Rasulullah.

Ternyata, wanita itu memilih untuk bersabar. “Aku pilih bersabar. Tapi, doakanlah aku, ketika penyakit epilepsiku kambuh, jangan sampai auratku tersingkap,” tuturnya. Kemudian, Rasulullah pun mendoakannya. (HR Bukhari dan Muslim).

Hadits ini terus saya tanamkan padanya untuk menjadi motivasi bersabar dengan ujian Allah. 

 
Satu hal yang saya kagumi dari santri ini adalah semangat dan perjuangannya dalam menghafal Al-Quran, setiap apa yang disuruh oleh ustadz atau target hafalan yang diminta oleh ustadz selalu dia penuhi, bahkan sekalipun malamnya dia harus berjibaku melawan penyakitnya itu, pagi hari dia masih bisa mendatangi saya dan setoran hafalan hari itu kepada saya. 

Subhanallah…setiap ingat santri ini, semangat saya untuk menghafal atau mengulang hafalan Al-Quran pun juga selalu bertambah.

Alhamdulillah dengan Al-Quran, obat herbal dan cara cara penyembuhan epilepsi yang saya baca, berpengaruh kepada santri saya, di akhir kelas tiga SMP, dia sudah sembuh meskipun belum total dan akan meneruskan belajarnya di pesantren daerah Bogor kota. 

Saya hilang kontak dengan beberapa santri saya, termasuk yang pernah sakit epilepsi ini, saya hanya berdoa agar dia diistiqamahkan dalam menghafal Al-Quran. 

Semoga menjadi inspirasi dan semangat untuk menjaga dan menghafal Al-Quran. Terima kasih. 
 

Menghafal Al-Quran Di Atas Motor


“Hidup dalam naungan Al-Qur’an adalah nikmat. Nikmat yang hanya diketahui oleh siapa yang telah merasakannya. Nikmat yang akan menambah usia, memberkahi dan menyucikannya.” (Asy-Syahid Sayyid Quthb).

Nikmatnya hanya akan diketahui oleh yang pernah merasakanya….., so yg gak pernah merasakan maka ia tak akan tahu bagaimana nikmatnya sesuatu itu. 

Membaca Al-Quran adalah kunci dari kesuksesan umat Islam terdahulu. Makanya, Imam Syahid Hasan Al-Banna mengatakan, “Usahakan agar Anda memiliki wirid harian yang diambil dari kitabullah minimal satu juz per hari dan berusahalah agar jangan mengkhatamkan Al-Qur’an lebih dari sebulan dan jangan kurang dari tiga hari”. 

Dari Ibnu Abbas r.a., beliau mengatakan ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah saw. “Wahai Rasulullah, amalan apakah yang paling dicintai Allah?” Beliau menjawab, “Al-hal wal murtahal.” Orang ini bertanya lagi, “Apa itu al-hal wal murtahal, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Yaitu yang membaca Al-Qur’an dari awal hingga akhir. Setiap kali selesai ia mengulanginya lagi dari awal.” (HR. Tirmidzi).

Kegiatan membaca ayat suci Al-Qur’an memang harus menjadi rutinitas setiap hari. Membaca Al-Qur’an selain membuat hati menjadi tenang juga memiliki faedah yang luar biasa. Selain membaca Al-Qur’an, Tasmi (menyimak bacaan Al-qur’an), sekedar mendengarkan orang lain membacanya juga memperoleh pahala. Menghapal ayat-ayat Al-Qur’an mesti kita lakukan.

Hal-hal unik ketika menghapal Ayat-ayat Al-Qur’an setiap orang berbeda-beda. Ketika menghafal Al-Quran saya lebih suka mendengarkan bacaan Al-Quran berkali kali sebelum akhirnya menghafal. 

Maka kemana saja pergi dan jika memungkinkan, saya biasakan mendengarkan Al-Quran termasuk di atas kendaraan dalam perjalanan. Menurut saya lebih asyik, soalnya kita bisa sambil “Clinga-Clingu” melihat keindahan alam sekitar jalan raya dan tetap fokus dalam berkendara sembari mengucapkan ayat-ayat Al-Qur’an yang kita hapal.

Beberapa hari ini saya sedang mengulang surat Ibrahim dan An-Nahl. Menurut saya baik sekali menghafalnya di atas kendaraan. Daripada membawa kendaraan bengong, mikirin yang“enggak-enggak”, pikiran kosong, bosen melanda, hmm lebih baik alternatif yang tepat yaitu sambil “Menghafal ayat-ayat suci Al-Qur’an”. 

Semoga dengan dekatnya kita terutama para pemuda dengan Al-Quran akan membangkitkan kembali kejayaan Islam yang sudah lama hilang.[] 

Segitiga Quthrub


Di dalam bahasa arab, terdapat fenomena yang unik di mana sebuah kata dengan jumlah dan susunan huruf yang sama dapat memiliki makna yang berbeda jika salah satu huruf saja harakatnya berbeda. Misalnya untuk huruf ر (ra’), ش (syin) dan ا (alif). Jika ketiga huruf ini disusun menjadi رشا namun dibaca

  • رَشا (rasyaa) = kijang/rusa
  • رِشا (risyaa) = tali
  • رُشا (rusyaa) = sogok/suap

Maka masing-masing memiliki makna yang berbeda.

Fenomena ini menggelitik para pakar bahasa untuk mengumpulkan kata-kata yang demikian itu ke dalam sebuah karya sastra. Di antara mereka yang paling terkenal adalah Quthrub. Beliau merupakan salah satu murid dari Sibawaih. Dari karya beliau inilah terkenal istilah “Mutsalats Quthrub atau Segitiga Quthrub”.

Quthrub mengumpulkan dalam bukunya kata-kata yang tersusun dari tiga huruf yang mempunyai 3 harakat dan berbeda-beda maknanya. Beliau kumpulkan dalam bentuk natsr (paragraf) bukan nadham (puisi). Bukunya kecil tapi sarat dengan ilmu, beliau lah yang memberi jalan kepada orang-orang setelah beliau untuk meneruskan pekerjaan beliau.

Syaikh Syarafuddin Al-Andalusi ketika men-syarh kitab Mutsalats Quthrub menyebutkan bawah awalnya buku ini belaiu tulis dalam bentuk paragraf, kemudian ketika beliau berjalan ke kota Albahansa bertemu dengan Abu Bakar Al-Warraq yang menyempurnakannya.
Berikut ini beberapa potongan dari Nadham Mutsalas Quthrub
يَا مُولعْاً بِالْغَضَبِ وَالهْجْرِ وَالتَّجَنُّبِ = هَجْرُكَ قَدْ بَرَّح بي في جِدِّه وَاللَّعِبِ

إِن دُمُوعِي غَمرُ وَلَيْس عِندي غِمرُ = فَقُلْتُ يَا ذَا الْغُمرُ أَقصرْ عَنِ التَّعَتُّبِ

بِالْفَتْحِ مَاءٌ كَثُرا وَالْكَسْرِ حِقْدٌ سَتَرا = وَالضَّمِ شَخْصٌ مَا دَرَى شَيئاً وَلمْ يجُرّبِ

بَدا فَحيَّا بِالسَّلام رَمَى عُذولي بِالسِّلام = أَشَار نحَوْي بِالسُّلام بِكَفِّهِ المُخْضِبِ

بِالْفَتْح لَفْظَ المُبْتَدِي وَالْكَسْر صَخْرُ الجْلْمدِ = وَالضَّم عَرْق في الْيَد قَدْ جَاء في قَوْل النَّبي

تَيَّم قَلْبي بِالْكَلام وفي الحْشَا مِنُه كِلام = فَصِرْتُ في أَرْضٍ كُلاَم لِكي أَنَال مَطْلبي

بِالْفَتْح قَوْل يُفْهَمُ وَالْكَسْر جُرح مُؤَلمُ = وَالضَّم أَرْض تَبرم لِشِدَّةِ التَّصَلُّبِ

ثَبت بأَرْض حَرَّة مَعْروفَة بِالحِرَّة = فَقُلْتُ يَا ابْن الحُرَّة إِرْثَ لمِا قَدْ حلَّ بي

بِالْفَتْح لِلَّحجَارة وَالْكَسْر لِلْحَرارة = وَالضَّمِ لِلْمُخْتَارة مِنْ النِّسا في الحجبِ

جْد فَلا دِيم حَلْم وَمَا بَقِي لي حِلْم = وَمَا هَناني حُلُم مُذْ غِبْت يَا مُعَذَّبي

بِالْفَتْح جَلْد نُقبا وَالكَسْر عَفْو الأُدبا = وَالضَّمِ في النَّوْم هبا حْلم كَثير الْكَذِبِ

Quthrub lahir di Bashrah, ketika dewasa dia mulaia belajar Bahasa Arab dari ahlia bahasa di zamannya, orang pertama yang menjadi gurunya adalah Sibawaih dan menjadi gurunya yang paling lama, selanjutnya dia belajar dari Isa bin Umar Ats-Tsaqafi dan Yunus bin Habib.

Quthrub mengajar anak Abu Dulaf Al-Qasim bin Isa, beliau condong kepada faham Muktazilah karena beliau lahir dari keluarga berfaham Muktazilah, maka ketika beliau menulis tafsir, beliau enggan untuk memperkenalkannya ke khalayak umum karena takut dari tanggapan jelek masyarakat umum.

Quthrub menyelisihi beberapa ahli nahwu dalam hal tujuan dari I’rab, menurut dia alif, wawu dan ya’ dalam mustanna dan jama’ sama dengan kedudukan fathah, kasrah dan dhammah dalam i’rab.

Menurut ahli bahasa Ibnu Duraid dan Tsa’lab kata Quthrub berarti hewan kecil yang banyak bergerak. Abu Ali atau Quthrub adalah orang pertama yang membuat mutsalats dalam bahasa arab yang kemudian dikenal dengan mutsalats quthrub, yang banyak diikuti oleh  Al-Bathlayusi, Al-Khatibdan Al-Balnasi. 

Kitab ini telah disyarh oleh Dhiyauddin AbulIzz Al-Mughits bin Alawi Al-Baghdadi Al-Lughawi Al-Hanbali yang wafat pada tahun 583 H. 

Kesibukannya selain mengarang dan menulis buku adalah menjadi guru dari Amir Abu Dalf Al-Ajli.
Ia juga orang pertama yang menulis risalah tentang fi’il-fi’il mabni. Quthrub wafat di Baghdad pada tahun 206 H.

Bagaimana Mudah Menghafal Al-Quran.. 


Kata orang menghafal Al-Quran lebih mudah dari menjaganya, yup itu setuju sekali. Dan saya mengalami hal itu. Sudah beberapa tahun selesai setoran Al-Quran dan sampai sekarang masih banyak ayat bahkan surat yang terlupa. Astaghfirullah… 

Saya selalu berdoa kepada Allah agar tidak termasuk orang yang dengan sengaja melupakan Al-Quran. Saya tidak pernah dengan sengaja melupakan Al-Quran, mungkin karena sibuk. Duh, ini alasan yang sok dibuat buat. 

Intinya sih, kita harus selalu mendekat kepada Al-Quran, karena ibarat Unta yang tidak diikat, hafalan kita pun akan buyar, dan butuh tenaga ekstra lagi untuk memgembalikannya, seperti kita menghafal dari awal. 

Agar mudah menghafal dan menjaga Al-Quran, maka dibantu juga dengan membaca terjemah Al-Quran, kalau bisa bukan terjemah harfiyah yang ada sekarang, tapi terjemah Tafsiriyah Al-Quran. 

Sekarang sudah ada penerbit Solo yang membuat cetakan Terjemah Tafsiriyah, ini sangat membantu saya untuk lebih memahami makna Al-Quran tanpa harus membuka buku tafsir lagi. 

1 minggu ini saya mencoba mengulang hafalan dengan bantuan terjemah tafsiriyah ini, alhamdulillah membantu sekali, jadi lebih mudah memahami isinya, beda dengan terjemah harfiyah dari Depag yang bikin kita harus mikir lagi ini ayat maksudnya apa ya..? 

Alhamdulillah…. Ini pengalaman saya…. Bagaiaman dengan pengalaman anda? 

Jumlah Huruf Al-Quran Menurut Imam Syafi’i dan Ibnu Katsir


Ketika mencari informasi tentang jumlah huruf dalam Al-Quran, saya mendapatkan informasi yang berbeda dari Ibnu Katsir dan Imam Syafi’i. 

Menurut Imam Syafi’i

Imam Syafi’i dalam kitab Majmu al-Ulum wa Mathli’u an Nujum dan dikutip oleh Imam ibn ‘Arabi dalam mukaddimah al-Futuhuat al-Ilahiyah menyatakan jumlah huruf-huruf dlm Al Qur’an diurut sesuai dengan banyaknya:

  1.  ا Alif  : 48740 huruf,
  2.  ل Lam : 33922 huruf,
  3. م Mim : 28922 huruf,
  4. ح Ha ’ : 26925 huruf,
  5.  ي Ya’ : 25717 huruf,
  6.  و Wawu : 25506 huruf,
  7.  ن Nun : 17000 huruf,
  8.  لا Lam alif : 14707 huruf,
  9.  ب Ba ’ : 11420 huruf,
  10.  ث Tsa’ : 10480 huruf,
  11.  ف Fa’ : 9813 huruf,
  12.  ع ‘Ain : 9470 huruf,
  13. ق Qaf : 8099 huruf,
  14. ك Kaf : 8022 huruf,
  15.  د Dal : 5998 huruf,
  16.  س Sin : 5799 huruf,
  17. ذ Dzal : 4934 huruf,
  18. ه Ha : 4138 huruf,
  19. ج Jim : 3322 huruf,
  20.  ص Shad : 2780 huruf,
  21.  ر Ra ’ : 2206 huruf,
  22.  ش Syin : 2115 huruf,
  23. ض Dhadl : 1822 huruf,
  24.  ز Zai : 1680 huruf,
  25.  خ Kha ’ : 1503 huruf,
  26.  ت Ta’ : 1404 huruf
  27.  غ Ghain : 1229 huruf,
  28.  ط Tha’ : 1204 huruf dan terakhir
  29. ظ Dza’ : 842 huruf.

Jumlah total semua huruf dalam al-Qur’an sebanyak 1.027.000 (satu juta dua puluh tujuh ribu). Jumlah ini sudah termasuk jumlah huruf ayat yang di-nasakh.

Ibnu Katsir

Dalam kitab Tafsirnya juz 1 hal 98 disebutkan bahwa:

“Mengenai jumlah kata dalam al-Quran, Fadhl bin Syadan meriwayatkan dari Atha’ bin Yasar, yang mengatakan, Jumlah huruf ada 77439 kata. 

Sedangkan jumlah hurufnya, diriwayatkan oleh Abdullah bin Katsir, dari Mujahid, beliau mengatakan, “Berikut yang kami hitung dari al-Quran, jumlah hurufnya ada 321.180 huruf.” (Tafsir Ibn Katsir, 1/98).

Antara Nar dan Nur


Di dalam Surat Al-Baqarah ayat 17, Allah SWT menggambarkan keadaan orang-orang munafik dan fasik terhadap cahaya petunjuk-Nya. 

“Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat”. 

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa api (nar) dapat menghasilkan cahaya (nur) dan sekaligus panas. Namun bagi orang munafik dan fasik, mereka hanya merasakan efek panasnya api tersebut dan tidak menikmati efek terang cahayanya, karena Allah telah menghilangkannya. 

Maka tidak mengherankan mengapa dari sisi bahasa/linguistik, istilah api (nar) dan istilah cahaya (nur) mempunyai kekerabatan akar kata dan makna. Sebab keduanya mewakili substansi yang sama yakni energi. 

Namun demikian, keduanya memiliki perbedaan sifat fisik, dimana kata nar lebih menonjolkan sifat panasnya, sedangkan kata nur lebih menekankan sifat radiasinya sebagai cahaya. 

Sumber: Belajar dari Kejatuhan Iblis dan Adam  as oleh Muhammad Furqan Al-Faruqy

Aksi Menjaga Al-Quran


Banyak yang bertanya, “Bagaimana cara menjaga hafalan Al Qur’an? kok yang sudah dihafal sering lupa ya?”

Pembaca sekalian, sebenarnya teori menjaga hafalan Al Qur’an itu sederhana saja, yaitu dengan sering diulang-ulang (murajaah). Kenapa sering lupa? karena jarang diulang. Coba kalo sering diulang, pasti tetap terjaga. Yang sering lupa, pasti jarang/tidak murajaah. Ya, cukup diulang-ulang aja. Insya Allah hafalan jadi lancar. 

Untuk memiliki hafalan Al-Qur’an yang cukup banyak, perlu ‘manajemen pengulangan’ tersendiri untuk menjaga hafalan yang dianalogikan seperti beternak onta. Rasulullah saw pernah bersabda,

“Jagalah Al-Qur’an, demi Yang jiwaku berada di tangan-Nya, Al-Qur’an itu lebih cepat lepas dari pada seekor unta dari ikatannya”
(H.R. Bukhari)
Jadi begini, orang yang menghafal Qur’an itu seperti orang yang beternak unta…Orang yang sedang berburu unta seperti orang yang sedang menghapal Al Qur’an, Orang yang sudah menangkap onta seperti orang yang sudah hafal, sedangkan orang yang sedang memelihara onta itu seperti orang yang menjaga hafalannya.

Masalahnya, tidak semua onta jinak.  Tapi kita asumsikan saja: Unta itu ada 3 jenis: liar, ada yang setengah liar, ada yang jinak. Begitupun hafalan, ada yanglemah, agak kuat, dan sangat kuat. 

Sekarang kita analogikan lagi,
hafalan yang lemah itu seperti unta liar, yang maunya kabur terus… (kabur dari ingatan) hafalan yang agak kuat itu seperti unta setengah liar, kadang mau kabur, kadang tidak. Hafalan yang kuat itu ibarat unta jinak, yang justru lebih suka pada pemeliharanya. Hafalan lemah itu biasanya berupa hafalan-hafalan yang baru saja dihafal, seminggu yang lalu, misalnya. Hafalan yang baru dihafal ini rentan lupa. Semakin baru hafalan, semakin mudah lupa, biasanya.

Nah…strateginya, sebagaimana dalam beternak unta, seharusnya kita lebih fokus pada mengurus ‘unta-unta liar’. Karena unta liar lebih mungkin untuk kabur dibanding yang jinak. Begitupun dalam menjaga hafalan, rumusnya adalah…”Utamakan hafalan-hafalan yang masih lemah“. Aplikasinya…, “Hafalan yang lemah harus lebih banyak diulang daripada halafan yang kuat“.


Banyak penghafal Qur’an yang suka murajaah hafalan yang sudah kuat saja, sedangkan hafalan yang lemah jarang diulang-ulang. Akhirnya…yang hafalannya yang kuat tambah kuat, yang lemah tambah lemah.
Walaupun demikian, bukan berarti hafalan yang sudah kuat tidak diurus. Harus diulang-ulang juga. seperti onta yang sudah jinak, dia juga tetap perlu diberi perhatian, walaupun tidak seintensif unta yang bermasalah (liar).

Idealnya, untuk unta liar, harus diurus minimal setiap 3 hari sekali. Setiap 3 hari, hafalan lemah harus diulang minimal sekali. Kalo misalnya hafalannya 3 surat dan masih lemah semua, maka murajaahnya sehari 1 surat.
Untuk unta setengah liar, harus diurus minimal setiap seminggu sekali.

 Setiap seminggu, hafalan agak kuat harus diulang minimal sekali. Misalnya, kalo hafalannya yang agak kuat ada 7 surat, maka murajaahnya sehari 1 surat. Sedangkan untuk unta jinak (hafalan ngelotok), boleh ditinggal agak lama. Tapi jangan kelamaan, minimal dalam sebulan keulang minimal sekali.

Sebagai contoh, misalnya ada orang punya hafalan Al Qur’an 40 surat. 30 surat diantaranya hafalan kuat, 7 hafalan agak kuat, dan 3 lemah. Maka murajaahnya hariannya: 1 surat hafalan kuat, 1 surat hafalan agak kuat, dan 1 surat hafalan lemah. Dengan cara ini, hafalan kuat akan terulang sekali sebulan, hafalan agak kuat seminggu sekali, dan hafalan lemah 3 hari sekali.

Kemudian, biarkan onta-onta itu tumbuh sehat, supaya bisa beranak-pinak, bisa diambil susunya, bisa dipakai sebagai kendaraan, dan diambil dagingnya buat makanan. 
Maksudnya, rawatlah hafalan kita, insya Allah hafalan kita akan bertambah banyak dan memberikan manfaatnya buat kita juga, insya Allah

Untuk teknis penerapannya, bisa anda gunakan metode Sabak, Sabki dan Manzil. Metode ini lebih menekankan pada muraja’ah daripada menambah hafalan terus menerus. 

Sabaq : Hafalan baru. 

Yakni menghafal ayat-ayat yang belum pernah dihafal sebelumnya.
Untuk Sabaq ini, minimal setengah halaman perhari. 5 kali dalam seminggu. Kalau tidak sanggup, ya wes 5 baris. Kalau tidak sanggup juga, ya wes semampunya, meskipun seayat-dua ayat. Yang penting dalam sehari ada hafalan baru.

Sabqi : Menyempurnakan hafalan yang belum mutqin.

Contoh di Juz ‘Amma kita masih blepetan di Surat At-Takwir. Nah itu kudu diulang lagi, sampai mutqin.
Sabqi ini minimal 1 halaman perharinya.

Manzil : Muraja’ah hafalan mutqin.

Sehari minimal 2,5 lembar.
Kesemua itu diupayakan bersama pembimbing atau teman, agar kesalahan yang ada bisa segera diperbaiki. Sedang untuk Manzil bisa dilakukan dengan cara Shalat Sunnah dengan membaca 2,5 lembar itu.

Dari sini kita bisa ketahui, bahwa murajaah hafalan lama lebih digalakkan daripada menambah hafalan baru.
Berikut ini beberapa kelebihan dengan metode sabak, sabki dan manzil:

  1. Hafalan menjadi kuat karena menekankan kepada penguatan hafalan dengan secara rutin mengulang hafalan yang lalu setiap kali setoran baru.
  2. Santri terbimbing dalam hafal Al-Quran dan tidak bingung dengan apa yang harus mereka lakukan.
  3. Dengan Sabki hafalan baru menjadi lebih kuat dan dengan Manzil hafalan lama menjadi kuat dan memudahkan santri mengulang hafalan satu juz.
  4. Dengan memaksakan manzil maka seluruh hafalan dapat terulang meskipun tidak satu juz walau hanya dengan menyetorkan rubu’-rubu’
  5. Dengan sistem sabak, sabki, manzil musyrif dapat berkreasi dalam menerapkan sistem setoran
  6. Disiplin waktu
  7. Menjadikan tilawah harian yang dibaca menjadi lebih baik dari segi tahsin tilawah.
  8. Penekanan hafalan baru sesuai dengan keadaan siswa.
  9. Pendidikan dalam membaca Al-Quran baik dalam shalat maupun dalam luar shalat.

Selain itu, selalu gunakan waktu luang kita bersama Alquran, isi hp dengan murattal atau bacaan Alquran yang ssedang kita hafal, hapus file musik dan lainnya selain Alquran.  Jadikan Alquran wirid harian kita. 

Allahu a’lam

%d bloggers like this: