Al-Hajj Ayat 73-74 dan Fenomena Corona


Photo by abdulmeilk majed on Pexels.com

Dunia bereaksi terhadap pandemi Corona dengan jatuhnya saham, meliburkan sekolah dan pegawai pemerintahan dan belajar atau bekerja dari rumah dan pemerintah menyerukan social distancing (….). Sebagian orang bertanya dengan pertanyaan yang tak terhindarkan: Bagaimana sesuatu yang begitu kecil mampu mempengaruhi begitu banyak kekuatan dan kemampuan manusia?

Allah Swt memberikan poin yang tepat:

Hasil gambar untuk surat al-hajj ayat 73

Artinya;

“Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah. Mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (Surat Al-Hajj ayat 73-74)

Ayat ini berbicara kepada orang-orang musyrik yang menyembah Tuhan selain Allah, ayat ini juga berbicara tentang kelemahan manusia yang tunduk bahkan pada sesuatu sekecil lalat. Ada yang menafsirkan, “Sama lemahnya yang disembah dan lalat itu.” Masing-masing lemah, dan yang lebih lemah lagi adalah orang yang bergantung dengan yang lemah itu dan menempatkannya sejajar dengan Rabbul ‘alamin.

Corona merupakan virus infeksi yang sangat kecil yang ada dalam bentuk partikel lengkap virus (virion) yang berukuran sekitar seperseratus dari kebanyakan bakteri. Virion adalah unit struktural dari virus. Pada dasarnya terdiri dari dua struktur penting: asam nukleat (DNA atau RNA) dan selubung protein (kapsid). Pada struktur dasar ini ditambahkan dalam beberapa kasus amplop lipid dan / atau spikula glikoprotein. Meskipun mereka bereproduksi dan berevolusi dalam sel inang, mereka tidak memiliki karakteristik kunci yang dinilai sebagai ‘kehidupan’.

Selanjutnya, Allah Swt berbicara tentang ketidakmampuan manusia untuk memerintahkan lalat, situasi kita dengan corona tidak hanya menunjukkan ketidakmampuan kita melawan sesuatu yang lebih kecil dari lalat tetapi juga yang tanpa ‘kehidupan’!

Corona tidak dapat dilihat oleh mata telanjang dan penyebab gejalanya mirip flu. Sebagian orang yang menilai epidemi global Corona hanya berdasarkan kajian ilmiah semata, mereka tidak mengkaitkannya dengan penguasa segala sesuatu dan kuasa tertinggi atas alam semesta. Mereka mungkin berdebat: Kita bisa melihat virus, tetapi kita tidak bisa melihat Tuhan, jadi bagaimana kita tahu Dia ada ?! Ada kontradiksi disini; cara mereka menguji infeksi adalah dengan menyimpulkan – mengukur reaksi tubuh terhadap infeksi, terutama antibodi yang dihasilkannya. Dengan cara yang sama, kita bisa tahu tentang pencipta tertinggi dengan menyaksikan ciptaan-Nya dan mengenali kekuatan-Nya melalui keteraturan.

Keteraturan dalam ciptaan-Nya disebutkan dalam firman Allah Swt berikut;

Artinya;

“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?”

Masalahnya adalah “Mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.”. Jika ukuran virus menuntut sejauh ini, bayangkan reaksi terhadap ukuran sejati Tuhan!

Bagaimana manusia lebih banyak percaya pada virus daripada entitas yang menciptakan dan mengatur semua hal, termasuk virus itu sendiri, sangat mengherankan. Dalam konteks ini Tuhan menyatakan keterbatasan manusia dan virus yang mereka takuti, “Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah!”.

Allah Swt lebih besar dan agung dari semua yang ada, dan kepada-Nya kita akan kembali. Wallahu A’lam []

Al-Baqarah ayat 26 dan Fenomena Corona


Photo by Pok Rie on Pexels.com

Awal tahun 2020, dunia digemparkan dengan kasus penemuan virus corona jenis baru yang kini disebut sebagai Covid 19. Virus ini ditemukan pertama kali di Wuhan, Cina. Kini, virus itu telah menelan lebih dari 3 ribu nyawa manusia dalam hitungan beberapa bulan saja. Selebihnya, puluhan ribu orang telah teridentifikasi terkena virus ini di seluruh dunia.

Jika menilik pada catatan sejarah, virus semacam corona sebelumnya juga pernah menggemparkan dunia seperti ebola, pes, dan kolera. Wabah virus-virus ini bahkan hampir memusnahkan sepersekian penduduk dunia.

Virus merupakan salah satu ciptaan Allah SWT yang sangat unik. Sampai saat ini para Ilmuwan biologi masih dibingungkan dengan sifat virus karena keunikan dari sifat-sifatnya. Namun, keunikan dari virus ini tentunya tak lepas dari tanda-tanda keagungan Allah Swt atas kuasanya dalam penciptaan makhluk.

Firman Allah Swt yang menggambarkan makluk Allah yang kecil untuk dijadikan pelajaran terdapat dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 26 berikut:

Hasil gambar untuk al-baqarah ayat 26

“Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpaan seekor nyamuk atau yang lebih dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, mereka tahu bahwa itu kebenaran dari Tuhan, tetapi mereka yang kafir berkata, “Apa maksud Allah dengan dengan perumpaan ini?” Dengan (perumpamaan) itu banyak orang yang dibiarkannya sesat, dan dengan itu pula banyak orang yang diberikan petunjuk. Tetapi tidak ada yang disesatkan kecuali orang-orang yang fasik.” (QS. Al Baqarah: 26)

Pada ayat ini Allah Swt menyebut kata “ba’udhah” yang dalam bahasa Indonesia diartikan “seekor nyamuk” dan dalam bahasa Inggris diartikan “the lowest of creature” dan oleh ahli tafsir kata-kata tersebut dihubungkan dengan “suatu makhluk yang sangat lemah dan memiliki kecerdasan yang menakjubkan”. Terkait dengan hal tersebut, kata-kata “bau’dhah= the lowest of creature =suatu makhluk yang sangat lemah dan memiliki kecerdasan yang menakjubkan” ini terkait dengan sifat-sifat virus.

Virus memiliki ukuran yang sangat kecil dan lemah karena virus memiliki ukuran antara 27 nm, seperti bakteriofage sampai 300 nm, seperti poxyvirus(1 nm=10-9 m =0.000000001 m) dan virus menggantungkan semua kebutuhan untuk bertahan hidup pada sel inang. Walaupun virus sangat kecil dan lemah, tetapi virus memiliki kecerdasan yang luar biasa. Salah satu contohnya adalah virus HIV. Kecerdasan yang dimiliki oleh virus HIV ini, yakni virus ini mengetahui sel T (sel lymfosit T) yang merupakan sel pertahanan tubuh manusia yang paling utama. Apabila sel T ini dihancurkan, maka akan hancur pula seluruh sistem pertahanan dalam tubuh manusia.

Pada surah Al-Baqarah ayat 26, Allah Swt membagi manusia menjadi dua terhadap perumpamaan yang dibuat oleh Allah Swt. Orang yang beriman mempercayai perumpamaan tersebut sementara orang-orang yang kafir menjadi sesat dan fasik dikarena mereka TIDAK MEMPERCAYAI PERUMPAMAAN DARI ALLAH Swt dan berpaling dari kebenaran tersebut dengan mempertanyakannya. Dalam ayat ini, mereka yang kafir dan fasik menyangsikan perumpamaan Allah SWT dengan kalimat “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?”

Menurut Tafsir al-Jalalain bahwa Allah perumpamaan yang dimaksud dalam ayat ini adalah ketika Allah Swt berfirman ‘dan sekiranya LALAT mengambil sesuatu hal dari mereka’ serta ‘Tak ubahnya seperti LABA-LABA’. Dari perumpamaan tersebut Allah Swt menjelaskan hukum-Nya. Mereka yang beriman membenarkan perumpamaan tersebut dan mempercayainya sebagai ketetapan atau hukum dari Allah Swt. Adapun mereka yang fasik menolak perumpamaan tersebut dan berpaling dari kebenaran hukum Allah Swt.

Sementara menurut Ustadz Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I dalam Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an menyebutkan Allah sering membuat perumpamaan untuk menjelaskan kebenaran dan hakikat yang luhur, dengan bermacam makhluk hidup, baik kecil maupun besar. Orang-orang kafir mencibir ketika Allah mengambil perumpamaan berupa makhluk kecil yang dipandang remeh seperti lalat dan laba-laba. Di sini dijelaskan sesungguhnya Allah tidak merasa segan atau malu untuk membuat perumpamaan bagi sebuah kebenaran dengan seekor nyamuk atau kutu yang sangat kecil atau yang lebih kecil dari itu. Kendati kecil, belalainya dapat menembus kulit gajah, kerbau, dan unta, dan menggigitnya, serta menyebabkan kematian.

Adapun orang-orang yang beriman, ketika mendengar perumpamaan itu mereka tahu maksud perumpamaan itu dan tahu bahwa perumpamaan itu adalah kebenaran dari tuhan yang tidak diragukan lagi. Tetapi sebaliknya, mereka yang kafir menyikapi itu dengan sikap ingkar dan berkata, apa maksud Allah dengan perumpamaan yang remeh ini’ Allah menjawab bahwa perumpamaan itu dibuat untuk menguji siapa di antara mereka yang mukmin dan yang kafir. Oleh karenanya, dengan perumpamaan itu banyak orang yang dibiarkan-Nya sesat, karena mereka tidak mencari dan menginginkan kebenaran, dan dengan perumpamaan itu banyak pula orang yang diberi-Nya petunjuk karena mereka memang mencari dan menginginkannya. Tetapi Allah tidak akan menzalimi hamba-Nya, sehingga tidak ada yang dia sesatkan dengan perumpamaan itu selain orang-orang fasik, yang melanggar ketentuan-ketentuan agama, baik berupa ucapan maupun perbuatan.

Orang-orang fasik itu adalah orang-orang yang melanggar perjanjian Allah setelah perjanjian itu diteguhkan, yaitu perjanjian dalam diri setiap manusia yang muncul secara fitrah dan didukung dengan akal dan petunjuk agama sebagaimana dijelaskan pada surah Al-A’ra’f/7: 172, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah untuk disambungkan, seperti menyambung persaudaran dan hubungan kekerabatan, berkasih sayang, dan saling mengenal sesama manusia, dan berbuat kerusakan di bumi dengan perilaku tidak terpuji, menyulut konflik, mengobarkan api peperangan, merusak lingkungan, dan lainnya. Mereka itulah orangorang yang rugi karena telah menodai kesucian fitrah dan memutus hubungan dengan orang lain. Dengan demikian, mereka akan mendapatkan kehinaan di dunia dan siksaan di akhirat.

Meta-Level Reflection

Mete-Level Reflection merupakan kemampuan seseorang untuk melakukan refleksi terhadap apa yang terjadi dan menjadikan acuan untuk rencana ke depan. Meta Level Reflection itu seperti seseorang yang bercermin di depan cermin, take perlu bantuan orang lain untuk mengetahui kekurangan diri.

Biasanya orang yang memiliki Meta Reflection tinggi lebih mudah melihat kekurangan diri dan punya pola pikir berkembang (Growth Mindset). Sementara yang lemah meta level reflection-nya cenderung merasa benar dan menganggap orang lain salah (Fix Mindset). Orang yang punya MLR tinggi akan mampu belajar dari dirinya, dari orang lain bahkan dari lingkungan tempat dia tinggal, karena terus belajar, maka selau merasa diri berkekurangan dan tidak mudah merendahkan orang lain.

Virus Corona ini menjadi bahan renungan bersama akan lemahnya kemampuan manusia dan betapa agungnya Allah Swt. Betapa manusia yang congkak dengan segala kemajuannya tidak berdaya saat menghadapi satu makhluk super kecil yang bernama Corona. Kita belajar tidak menjadi orang yang sombong, lupa daratan dan memandang orang lain dengan pandangan remeh. Allah Swt tidak segan untuk membuat perumpamaan dari makhluk yang lebih kecil daripada nyamuk, supaya manusia mengambil pelajaran dari perumpamaan tersebut.

Maka seyogyanya kita merefleksikan diri dan insaf. Hadapi semua fenomena dengan usaha yang penuh dan hati yang tenang, sejatinya kenikmatan atau bencana, semuanya adalah baik bagi umat Islam. Seperti yang dikagumi oleh Rasulullah Saw terhadap umat Islam.

Hasil gambar untuk عجبا لأمر المؤمن

” Perkara orang mukmin itu mengagumkan, sungguh semua perihalnya adalah baik. Dan hal tersebut tidak dimiliki seorang pun selain orang beriman; yaitu apabila tertimpa kesenangan, ia bersyukur dan syukur itu baik baginya dan bila tertimpa musibah, ia bersabar dan sabar itu baik baginya.”.

Ayat di atas juga mengajarkan kita untuk senantiasa berbaik sangka kepada Allah Swt. Sebagai hamba Allah, kita senantiasa optimis dengan pertolongan-Nya. Allah Swt akan menolong siapa yang Dia kehendaki. Siapa sangka dialik virus Corona ini Allah ingin kita lebih dekat kepada-Nya sehingga pertolongan-pertolongan (nusrah) Allah akan cepat turun kepada kita. Tumbuhkan pula rasa optimis akan dekatnya nusrah (bantuan) dari Allah, karena orang-orang yang beriman jauh lebih mulia dan lebih tinggi. “Janganlah kamu bersikap lemah dan jangan (pula) bersedih hati padahal kamulah yang lebih tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS.Ali Imran : 139). []

Efektivitas Sabak, Sabki, Manzil dalam Pembelajaran Tahfidhul Quran


Photo by Pok Rie on Pexels.com

Pengajaran Al-Quran merupakan salah satu bentuk syiar agama. Sesungguhnya mempelajari Al-Quran dapat melahirkan keberkahan dan mendatangkan pahala. Sesuatu yang paling berhak dihafal adalah Al-Quran, karena Al-Quran adalah firman Allah, pedoman hidup umat Islam, sumber dari segala sumber hukum, dan bacaan yang paling sering diulang-ulang oleh manusia.

Berpijak dari paparan di atas, penulis terdorong untuk mengambil judul penelitian “Penerapan Metode Pakistani Dalam Rangka Meningkatkan Efektivitas Pembelajaran Tahfidhul Quran di Pondok Pesantren Bina Qolbu Kecamatan Cisarua Kabupaten Bogor”. Dimana penulis mengambil penelitian di Pondok Pesantren Bina Qolbu, Cisarua-Bogor.

Rumusan masalah yang penulis ambil adalah Bagaimana penerapan metode Pakistani dalam pembelajaran Tahfidhul Quran di Pondok Pesantren Bina Qolbu. Bagaimana efektivitas pembelajaran Tahfidhul Quran di Pondok Pesantren Bina Qolbu. Jenis penelitian ini adalah kualitatif, sedangkan teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, test dan dokumentasi. Teknik analisis datanya adalah dengan tiga langkah yaitu reduksi data, display data dan menarik kesimpulan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran Tahfidhul Quran dengan metode Pakistani dan jadwal yang selalu teratur adalah efektif. Hal tersebut terbukti lebih banyaknya anak yang menghafal Al-Quran dengan bacaan yang baik dan benar. Kemudian berkenaan dengan tingkat kelancaran menghafal di Pondok Pesantren Bina Qolbu juga efektif. Terbukti saat menyetorkan hafalan tambahan dan hafalan muroja’ahnya sangat lancar dan berdasarkan hasil test hafalan yang penulis lakukan juga demikian. Ada beberapa hal yang dilakukan oleh pesantren untuk memperkuat hafalan santri, dalam internal pesantren meliputi: halaqah Quran, partner, ujian tahfidh persemester dan akhir tahun, motivasi dan stimulus, tahsin, praktek imam shalat dan pelajaran bahasa Arab. Eksternal pesantren meliputi: MHQ (Musabaqah Hifdhul Quran) dan tasmi’.

Isi lengkap bab I-V penelitian ini sudah saya upload di Researchgate saya di project Sabak, Sabki dan Manzil. dan slide presentasi bisa diunduh di tautan ini. Banyak mahasiswa yang menanyakan via WA dan email terkait metode ini maka saya upload di RG agar siapa saja yang ingin tahu bisa membacanya.

Saya telah mengunjungi beberapa pesantren yang menggunakan metode ini (Sabak, Sabki dan Manzil) dan terbukti efektif untuk menunjang monitoring hafalan santri, pada program tahfidz 2 tahun, metode ini sangat efektif.

Penelitian ini belum sama sekali saya tuliskan dalam jurnal penelitian karena saya belum tahu manakah jurnal penelitian yang mau menerima penelitian ini, jika ada pengelola jurnal atau peneliti yang bisa memberikan saran jurnal, sila disampaikan agar saya bisa mengirimkan penelitian ini.

– Jumal Ahmad

Komitmen Dengan Al-Quran


997a8e2db63d48989f2364dfdcbef9df

Oleh: Ustadz Abdul Aziz Abdul Rauf, Lc., Al Hafizh.

1. Sebaik-baik pengajian adalah ketika kita hadir kemudian bertambah keimanan, bertambah rindunya kepada Allah dan bertambah prestasinya

2. Jangan sampai sekedar hadir di pengajian kemudian merasa sudah mendapatkan prestasi amal yang banyak.

3. Mukmin sejati adalah jika Al Quran selalu akrab dengan mereka

4. Jangan ada dalam pikiran kita bahwa Al Quran adalah penghalang aktivitas kita

5. Jangan malas menghafal Al Quran karena usia

6. Lihat Surah Az-Zumar:23 tentang tata cara interaksi dengan Al Quran yang benar

7. Luaskanlah hati kita untuk menerima Al Quran , yaitu senang ketika membacanya , bahkan baru membayangkan membaca Al Quran, ia sudah merasa senang. القران مأدوبة اللّٰه “Al Quran adalah hidangan Allah “

8. Tidak akan bisa berinteraksi dengan Al Quran kecuali mereka yang berusaha membersihkan hatinya

9. Jangan duakan Al Quran, yaitu membaca Al Quran sambil melihat gadget

10. Berinteraksi dengan Al Quran yang benar adalah meyakininya bahwa membacanya mendatangkan keutamaan

11. Manusia yang bersama Al Quran hampir hampir menandingi kenabian, hanya wahyu tidak diturunkan kepada nya (Alhadist)

12. Berinteraksi dengan Al Quran adalah terus membacanya setiap hari

13. Jangan karena sudah membaca Al Quran 10 juz hari itu, lalu tidak membaca di hari yang lain, karena 10 juz itu jatah hari tersebut dan hari yang lain mempunyai jatah juga

14. Waktu membaca Al Quran itu harus definitif, jika kita menunggu waktu kosong untuk membaca Al Quran, maka kita tidak akan mendapatkannya

15. Adukanlah surat surat yang sulit kita hafal, kepada Allah, maka Allah akan memudahkannya

16. Al Quran adalah ahsanal hadist ( perkataan terbaik ), hadist nabi shallallahu’alayhi wasallam tingkatannya hanya hasan, sedangkan perkataan yang lainnya di bawah itu

17. Kita sering takjub dengan ciptaanNya, namun kita jarang takjub dengan perkataan-Nya

18. Siapa yang sering berhubungan dengan perkataan yang terbaik, maka ia akan menjadi manusia yang terbaik

19. Al Quran itu mudah dihafal karena banyak kata yang sama dan diulang Kalau kita sudah hafal “fa bi ayyi ala i rabbikuma tukadziban” dalam surah arrahhman, maka ayat yang lain dimana redaksinya sama itu sudah hafal secara otomatis Berinteraksi dengan Al Quran itu harus berulang ulang

20. Orang yang membaca seratus kali sebuah surah, dan ia belum hafal, maka ia tetap mulia, dibandingkan orang yang hanya membaca tiga kali lalu langsung hafal , karena tujuannya adalah berulang ulang bersama Al Quran bukan hanya sekedar mendemostrasikan kekuatan hafalannya

21. Siapa yang sudah hafal juz 30, maka ia sudah punya hidayah untuk menghafal juz 29, dan seterusnya

22. Jangan remehkan ketidak ada interaksian kita dengan orang-orang yang beriman dan beramal sholih.

23. Mungkinkah rizqi kita berkurang, karir kita menurun ketika bersama Allah dengan berinteraksi melalui firmanNya ?

24. Tidaklah kita jauh dengan Al Quran kecuali ketika itu kita jauh dengan Allah

25. Jangan menolak kebaikan untuk mempertahankan kebaikan yang lain

26. Jangan membenturkan satu amalan dengan amalan yang lain, karena manusia itu mampu melakukan berbagai macam aktivitas dalam satu waktu

27. Siapa yang lelah untuk Allah di dunia ini maka Allah akan mencukupkan lelahnya di akhirat

28. Siapa yang tidak mau lelah di dunia untuk taat kepada Allah, maka ia akan merasakan lelah di akhirat. Semoga Allah SWT menganugerahkan kemudahan dan keridloan dalam berinteraksi dgn Al-Qur’an.

Hamka dan Tafsir Al-Azhar


Buya Hamka

Hamka bukan seorang otodidak, beliau juga belajar ke beberapa guru dan kyai. Dalam bidang tafsir, Hamka belajar kepada Ki Bagus Hadikusumo di Yogyakarta pada tahun 1924-1925 M.

Metode Tafsir Hamka

  • Mendialogkan teks dengan realita yang dialami untuk menguatkan ayat, sehingga ayat yang dibahas menjadi hidup dan relevan untuk zaman sekarang.
  • Terpengaruh dengan Tafsir Al-Manar.
  • Menggabungkan riwayat dan dirayat.
  • Tidak terikat oleh fanatisme mazhab dan mentarjih dari berbagai mazhab/konklusi hukum.
  • Berpegang pada riwayat Al-Quran dan Hadits dalam masalah ghaib dan israiliyat/mubham.
  • Tafsir modern yang menjadikan Al-Quran sebagai sumber hidayah (ittijah al-hudaai)

Motivasi Hamka menulis Tafsir Al-Azhar

  • Munculnya generasi pemuda muslim Melayu yang ingin belajar Islam lebih mendalam.
  • Menyiapkan kader kader da’i yang profesional.
  • Hutang budi kepada Al-Azhar Mesir yang memberikannya gelar honoris causa.

Sumber Tafsir

  • Al-Quran
  • Hadits
  • Aqwal Sahabat, Tabi’in.
  • Tafsir Ma’tsur.
  • Tafsir bir Ra’yi Jaiz.
  • Tafsir bi Laun Al-Adabi Al-Ijtima’i.

Sumber:

Kajian Insits: Seminar Sehari Warisan Intelektual dan Keulamaan Buya Hamka oleh Fahmi Salim, MA.

 

Pandangan Al-Quran Tentang Homoseksual


Orientasi seks menyimpang yang hari ini terjadi menyedot banyak perhatian masyarakat. Bermacam kasus bermunculan disebabkan perilaku menyimpang ini. 
Beberapa waktu yang lalu muncul kasus pembunuhan seorang laki laki dari Jombang Jawa Timur bernama Ryan yang tanpa malu mengaku dirinya sebagai seorang homoseks. 

Dan baru kemarin masyarakat dihebohkan dengan temua polisi yang mengungkap kasus pesta homoseks di sebuah tempar kebugaran. Oprasi kepolisian ini berhasil mengungkap 141 orang dari berbagaia macam profesi. 

Penyimpangan seksual yang kian marak di masyarakat adalah fenomena buruk yang berdampak pada anak anak, remaja dan orang dewasa. Gaya hidup dan seks bebas menjadi salah satu alasan mengapa tingkat penyinpangan seks di masyarakat kian bertambah. 

Hukum Homoseksual adalah haram dan tidak ada perselisihan ulama dalam masalah ini karena sudah jelas diterangkan hukumnya dalam tuntunan hidup Al-Quran. 

“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya: ‘Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelummu.’ (QS. 7:80) Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.” (al-A’raaf: 80-81)

Makna Fahisyah dalam ayat tersebut adalah Homoseksual seperti yang dijelaskan pada ayat 81 selanjutnya, juga diterangkan pada surat AsySyuara 165 dan Alankabut 29.

Dalam tafsir Al-Kasyaf oleh Imam Zamakhsyari, disebutkan makna Alfahisyah dalam ayat tersebut adalah tindak kejahatan yang melampaui batas akhir keburukan (as-sayyiah almutamaddiyah fil qubhi

Ayat: Ata’tuunal Faahisyah: bentuk pertantanyaan yang bersifat pengingkaran dan membawa konsekuensi yang sangat buruk. Sebab perbuatan fahisyah seperti itu tidak pernah dilakukan siapapun sebelum kaum Nabi Luth. Maka janganlah mengawali suatu perbuatan dosa yang belum dilakukan kaum manapun di dunia ini. 

Ayat: bal antum qaumum musrifuun: Kaum Nabi Luth adalah kaum yang suka melakukan israf yakni melampaui batas dalam segala hal. Di antaranya adalah melampaui batas dalam melampiaskan syahwat hingga melampaui batas kewajaran dan kepatutan. (Tafsir Zamakhsyari) 

Dalam Tafsir Ibnu Katsir Mengenai firman Allah: maa sabaqakum biHaa min ahadim minal ‘aalamiin: ‘Amr bin Dinar mengatakan, “Tidak ada seorang laki-laki berhubungan badan dengan laki-laki lain, sehingga terjadi apa yang dilakukan oleh kaum Luth.”

Al-Walid bin ‘Abdul Malik, seorang Khalifah Bani Umayyah, pembangun masjid jami’ Damaskus mengatakan, “Seandainya Allah tidak menceritakan kisah kaum Nabi Luth kepada kita, niscaya aku tidak akan membayangkan adanya laki-laki yang bersetubuh dengan laki-laki lain.”

Oleh karena itu, Nabi Luth as. mengatakan kepada mereka: a ta’tuunal faahisyata maa sabaqakum biHaa min ahadim minal ‘aalamiina innakum lata’tuunar rajula syaHwatam min duunin nisaa-i (“Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah [perbutan keji] itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun [di dunia ini] sebelummu? Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu [kepada mereka] bukan kepada wanita.”)

Maksudnya, kalian berpaling dari wanita dan apa yang telah diciptakan Rabb kalian untuk kalian pada wanita tersebut dan justru cenderung pada sesama laki-laki. Yang demikian itu benar-benar perbuatan melampaui batas dan bodoh, karena telah menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. (Tafsir Ibnu Katsir) 

Hamka ketika menerangkan Surat As-Syuara:165-166 yang artinya “Mengapa kamu mendatangi jenis laki laki di antara manudia (165) Dan kamu tinggalkan istri istri yang dijadikan olehmu Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang orang yang melampaui batas”. 

Disebutkan bahwa kaum Nabi Luth telah meninggalkan wanita pasangannya yang secara naluriah seharusnya kepada mereka lah laki laki menyalurkan naluri seksualnya. 

Hubungan seks manusia antar jenis adalah fitrah dan sunnatullah, apabila dilakukan di atas koridor koridor akhlak yang baik yaitu hubungan seks dalam payung pernikahan yang suci, tetapi apa gang dilakukan oleh penduduk Sadum, yaitu hubungan seks atau homoseks tidak ditemukan dalil apapun yang membenarkan perbuatan tersebut. 

Oleh karena laki laki lebih menyenangi laki laki, maka perempuan tidak diberi kepuasan tubuh oleh laki laki, maka kecenderungan seks sesama jenis semacam ini pula berjangkit di kalangan perempuan yang belakangan dikenal dengan istilah Lesbian. Sungguh dapat dibayangkan kehancuran akhlak kaum Sadum pada waktu itu, mereka telah memberikan contoh terburuk untuk semua manusia sepanjang zaman. (Tafsir Al Azhar, Buya Hamkan) 

Sumber: Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Zamakhsyari dan Tafsir Alazhar. 

Semoga bermanfaat. 

Al-Quran Sebagai Penawar Epilepsi


Saya ingin mengenang kembali ketika beberapa tahun yang lalu diberikan kesempatan untuk mengajarkan Al-Quran di salah satu pesantren di puncak Bogor.

Tempat ini sangat spesial karena saya dipertemukan oleh Allah dengan orang-orang yang spesial. Bagaimana tidak, mereka yang berasal dari keluarga berkekurangan bahkan sebagian mengalami sakit yang sepertinya tidak mungkin bisa menghafal Al-Quran.

Mengingat mereka dan semangat mereka menghafal Al-Quran selalu menjadi pelecut agar diri ini lebih semangat lagi menjaga hafalan Al-Quran, dan sengaja saya tuliskan kembali agar pembaca yang mungkin juga sedang menghafal Al-Quran juga bisa tergugah untuk berjuang menyelesaikan dan menjaga hafalan Al-Qurannya.

Saya tidak akan pernah lupa dengan dia, seorang anak laki laki yang tegar menghadapi hidup, mau menghafal Al-Quran meskipun dia sedang sakit epilepsi.

Ya, dia sedang sakit epilepsi, kita pasti heran dan terkagum, menghafal itu menggunakan otak, lalu bagaimana bisa menghafal jika otak kita terganggu, apalagi epilepsi dimana otak mengalami gangguan karena pelepasan muatan listrik yang tidak terkontrol.

Duhai, besarnya nikmat Allah baru akan terasa ketika nikmat itu telah tiada. Seperti santri saya ini, saya tidak menyangka bahwa dibalik sifat pendiam dan senyumnya, dia sudah dari SD menderita epilepsi.

Penyakit ini dia derita karena perlakuan kurang baik yang dulu pernah diterima dari ibu tirinya, sampai akhirnya bapak dan ibu tirinya sadar akan kesalahan mereka, kemudian mereka masukkan santri saya ini di pesantren untuk belajar agama dan menyembuhkan penyakitnya.

Ketika penyakit epilepsinya kambuh, dia harus minum obat anti kejang setiap hari seperti fenobarbital atau diazepam, masalah akan timbul ketika obatnya habis, kadang dalam semalam dia bisa kejang (santri menyebutnya kumat) sampai tiga kali dalam semalam dan dengan tidak sadar menjedotkan kepalanya berkali-kali ke lantai sampai kepalanya bentol-bentol, pernah dalam sehari dia kumat sampai delapan kali dan bikin saya sampai menangis ketika itu lantaran ingat dengan perjuangan anak ini untuk menghafal Al-Quran.

Epilepsi adalah sekelompok gangguan neurologis yang terjadi dalam jangka waktu yang panjang dan ditandai dengan adanya serangan-serangan epileptik.

Epilepsi sangat mempengaruhi perkembangan otak anak, karena otak yang berkembang sangat rentan terhadap perubahan dari luar dan dari dalam tubuh.

Umumnya anak epilepsi akan terganggu fungsi kognitifnya, yaitu kemampuan belajar, menerima informasi dan mengelola informasi dari lingkungan. Juga kesulitan dalam memusatkan perhatian dan dan mengingat.

Maka yang saya cobakan kepada santri saya ini, sesuai arahan yang saya baca di artikel artikel tentang epilepsi yaitu dengan menstimulasi fungsi kognitifnya melalui latihan fisik seperti jalan pagi menglilingi vila dan latihan otak dengan menghafal Al-Quran.

Secara intens saya temani mereka menghafal Al-Quran. Saya gunakan metode Sabak, Sabki dan Manzil untuk mengontrol hafalan santri.

Sebelum subuh, jam 3 pagi kami sudah membangunkan santri untuk menyiapkan hafalan yang akan disetorkan nanti habis subuh (Hafalan Baru/Sabak).

Habis subuh kami team asatidz menerima setoran hafalan dari santri sampai jam tujuh pagi. Kemudian jam sepuluh kami berkumpul lagi di masjid untuk mengulang hafalan yang sudah disetorkan kemarin dan diseotorkan tadi pagi (Hafalan kemarin +hari ini/ Sabki)

Siang hari mereka tidur siang, dan habis ashar kami berkumpul lagi di masjid, disini semua santri saling mengulang hafalan satu juz yang pernah mereka hafalkan, istilahnya Manzil.

Dan pada malam hari setelah shalat Isya, santri berkumpul lagi di masjid sampai jam sembilan untuk menyiapkan hafalan mereka besok.

Maka kurang lebih empat kali pertemuan untuk menghafal Al-Quran, dengan pertemuan yang intens ini, santri selalu dikondisikan untuk dekat dengan Al-Quran.

Saya sering menyampaikan kepada santri yang sedang sakit epilepsi untuk menanamkan keyakinan bahwa penyakitnya akan sembuh dengan Al-Quran. Allah Swt menyatakan bahwa di dalam Al-Quran terdapat obat penawar bagi orang-orang yang beriman. Bukan saja untuk mengatasi penyakit ruhani, akan tetapi juga untuk mengobati penyakit jasmani. Obat itu begitu dekat dengan kita. Kesembuhan dengan Al-Quran bukan hanya teori, dan saya akan membuktikannya.

Untuk memberi motivasi kepadanya, sering saya bacakan hadits dari Rasulullah Saw yang menceritakan seorang wanita yang datang kepada Rasulullah SAW. Wanita itu meminta didoakan Rasulullah agar bisa sembuh dari penyakit epilepsi yang dideritanya.

Sebenarnya, bisa saja Rasulullah mendoakan wanita itu dan tentu sudah pasti dikabulkan Allah SWT. Tapi, Rasulullah memberikannya sebuah tawaran. “Jika engkau mau, engkau bisa bersabar dan bagimu surga. Tapi, jika engkau mau sehat, aku akan mendoakanmu agar Allah menyembuhkanmu,” sabda Rasulullah.

Ternyata, wanita itu memilih untuk bersabar. “Aku pilih bersabar. Tapi, doakanlah aku, ketika penyakit epilepsiku kambuh, jangan sampai auratku tersingkap,” tuturnya. Kemudian, Rasulullah pun mendoakannya. (HR Bukhari dan Muslim).

Hadits ini terus saya tanamkan padanya untuk menjadi motivasi bersabar dengan ujian Allah.

Satu hal yang saya kagumi dari santri ini adalah semangat dan perjuangannya dalam menghafal Al-Quran, setiap apa yang disuruh oleh ustadz atau target hafalan yang diminta oleh ustadz selalu dia penuhi, bahkan sekalipun malamnya dia harus berjibaku melawan penyakitnya itu, pagi hari dia masih bisa mendatangi saya dan setoran hafalan hari itu kepada saya.

Subhanallah…setiap ingat santri ini, semangat saya untuk menghafal atau mengulang hafalan Al-Quran pun juga selalu bertambah.

Alhamdulillah dengan Al-Quran, obat herbal dan cara cara penyembuhan epilepsi yang saya baca, berpengaruh kepada santri saya, di akhir kelas tiga SMP, dia sudah sembuh meskipun belum total dan akan meneruskan belajarnya di pesantren daerah Bogor kota.

Saya hilang kontak dengan beberapa santri saya, termasuk yang pernah sakit epilepsi ini, saya hanya berdoa agar dia diistiqamahkan dalam menghafal Al-Quran.

Semoga menjadi inspirasi dan semangat untuk menjaga dan menghafal Al-Quran. Terima kasih.

%d bloggers like this: