Profile

bismillah

 

Nama saya Jumal Ahmad bin Hanbal As-Suyuthi, Hambali adalah nama yang terulis di KTP bapak saya, dan Sayuthi adalah nama kakek dari jalur Bapak. Berasal dari sebuah keluarga yang sangat sederhana di puncak gunung Sumbing, Jawa Tengah di sebuah desa bernama Adipuro, desa saya berada di ketinggian 1500 Mdpl dan di atasnya tidak ada lagi desa yang lain, hanya kebun miilik orang desa selanjutnya hutan belantara.

Alhamdulillah, orang tua punya perhatian besar agar saya menjadi anak yang shalih, hal itu dibuktikan dengan memasukkan saya di TPA (Taman Pendidikan Al-Quran) di desa, dari tempat itu saya banyak mendapatkan ilmu tentang agama Islam.

Lulus dari Madrasah Ibtidaiyyah (MI) dan TPA, saya masuk ke Pesantren yang ada di desa, namanya Pesantren Lukman Al-Hakim, di sana saya belajar materi eksakta dan pesantren.

Meski tinggal di desa dan jauh dari keramaian kota, saya punya cita-cita yang tinggi seperti tingginya gunung Sumbing yang berdiri menjulang di belakang rumah. Lulus SMP di Lukman Al-Hakim, saya meneruskan belajar di SMA Nurul Hadid yang ada di daerah Winduhaji, Cirebon, selama kurang lebih 4 tahun belajar disana.

Selesai SMA, saya dapat amanah dari pesantren untuk mengajar di daerah Karanggede, Semarang di sebuah pesantren bernama Darur Robbani. Kurang lebih satu tahun mengajar saya mendapatkan bekal pengalaman tentang teknik mengajar yang benar. Materi yang saya ampu waktu itu seperti Tajwid, Bahasa Arab, Tarikh Islam (sejarah islam), Matematika dan Fisika.

Satu tahun disana, saya meminta izin pada pihak pesantren untuk kuliah. Waktu itu tempat kuliah yang saya tuju adalah belajar di Islamic Centre Al-Islam di Bekasi, pimpinan Ust. Farid Ahmad Okbah. Alhamdulillah saya bisa selesai disana dengan hasil yang baik, mengambil jurusan Tafsir Al-Quran dan selesai menghafal Al-Quran kurang dari satu setengah tahun.

Selesai dari Al-Islam Bekasi, saya diminta ustadz di Nurul Hadid untuk membantu mereka menggajar disana, sharing ilmu yang saya dapatkan selama kuliah di Al-Islam, akhirnya saya mengajar disana tapi hanya beberapa bulan saja, tidak sampai satu tahun penuh. Dengan alasan ingin kuliah di LIPIA dan Tasmi’ Al-Quran 30 juz saya izin kepada mudir dan pesantren untuk belajar kembali.

Dengan takdir Allah swt, rencana saya untuk masuk LIPIA gagal total, kemudian saya belajar lagi di Al-Islam dengan niatan untuk tasmi 30 juz, alhamdulilah dalam waktu 3 bulan saya sudah siap untuk tasmi’.

Keinginan untuk terus belajar selalu ada dalam diri saya, selesai tasmi’ saya pulang ke Magelang sambil persiapan tes di LIPIA untuk penerimaan di semester kedua. Alhamdulillah senang sekali bisa pulang dan membantu orang tua di desa, menanam sayuran, menyiram tanaman dan lain sebagainya.

Ketika tiba waktu pendaftaran di LIPIA, karena takdir Allah semata, berita dari adik saya yang sudah di LIPIA terlebih dahulu agak telat sehingga berkas yang harus saya kirimkan telah saya siapkan, maka rencana untuk masuk LIPIA gagal kembali.

Sekali lagi, keinginginan untuk terus belajar tidak mati dalam jiwa saya, karena saya yakin dengan pendidikan lah hidup saya bisa berubah, dengan ilmu saya bisa memberikan manfaat kepada Islam dan umat Islam.

Saya mengadu kepada kedua orang tua, saya menangis karena kenginan untuk kuliah gagal lagi, tapi demikianlah orang tua, beliau berdua yang hanya orang desa dan tidak sampai sekolah tinggi, selalu memberi saya spirit untuk terus berubah, untuk terus maju, apapun yang terjadi saya pasti bisa melaluinya, demikian nasehat orang tua waktu itu.

Saya coba telpon ke teman saya yang di Bekasi, namanya Hanif, kebetulan dia sudah lebih dulu kuliah di Bekasi, dekat Al-Islam juga, saya tanya ke dia, apakah di tempat antum bisa nerima pendaftaran pertengahan semester? Dia jawab ya. Maka dengan semangat baru saya meminta izin untuk mencoba kuliah di Jakarta, dan Alhamdulillah kedua orang tua merestui dan meridhai.

Ketika itu saya punya cita-cita yang sudah saya tanam semenjak di Al-Islam, saya tidak ingin mengajar di sekolah atau pesantren, terkadang mengajar menjadi rutinitas belaka, dan hanya terpaku di satu sekolah saja, saya ingin lebih dari itu, saya ingin masuk ke sekolah-sekolah atau pesantren-pesantren dengan membuat konsep kurikulum yang sesuai dengan ajaran Islam dan perkembangan pendidikan saat ini.

Saya masuk kuliah di sekolah tinggi swasta, namanya INSIDA Jakarta. Gak terkenal memang. Kuliah bisa lebih cepat karena saya gunakan ijazah dari Al-Islam, Alhamdulillah kurang lebih 1,5 tahun kuliah disana, semua beban kuliah bisa saya selesaikan.

Selama kuliah di INSIDA, saya gak membebani orang tua, saya cari biaya kuliah sendiri, beberapa pekerjaaan pernah saya lakoni selama 3 bulan seperti jadi imam masjid, pengasuh anak yatim sampai akhirnya saya bertemu dengan Bapak Pohan dari Masjid Raya Pondok Indah, beliau meminta saya untuk mengajar tahfidz di pesantren yang beliau miliki di daerah Cilember, Puncak Bogor.

Selama kuliah saya mengajar tahfidz disana, Alhamdulillah di tempat itulah saya banyak bertemu dengan ustadz-ustadz besar di Jakarta seperti Ust. Amrullah Fath, Ust. Ir. Furqan Al-Faruqi yang menjadi ketua program tahfidz di Bina Qolbu tempat saya mengajar, Ust. Tompuli yang bahasanya lembut dan menyejukkan hati dan terakhir Ust. Arifin Jayadiningrat.

Selesai kuliah di INSIDA, saya diminta Ust Arifin Jayadiningrat untuk membantu beliau dalam dakwah dan kurikulum pendidikan. Alhamdulillah saya senang sekali karena saya bertemu dengan orang yang bisa membantu saya meraih cita-cita dalam mengembangkan kurikulum pendidikan di Indonesia.

Alhamdulillah, sekarang saya membantu dakwah beliau dan program-program beliau.

Terima kasih atas segala perhatiannya. Salam dan doa dari kami agar kita selalu berada dalam lindungan Allah swt, selalu ringan lidah kita untuk mengingat-Nya dan bershalawat kepada Nabi-Nya, dan selalu diringankan tangan dan kaki kita untuk melakukan kebaikan. Amiinn ya rabbal aalamiin.

profil di yatedo.com: klik ini

 

Salam Ukhuwah

Jumal Ahmad bin Hanbal As-Suyuthi