Perjaka Terakhir Lastislaam


Istilah perjaka dalam kamus besar bahasa Indonesia merupakan istilah yang menggambarkan status seorang pria yang belum pernah menikah. Istilah ini juga dikenal dengan sebutan ‘bujang’. Maka apabila seorang lelaki telah menikah, maka ia dikatakan sudah tidak perjaka/bujang. 

Sementara Lastislaam adalah nama angkatan saya di SMA Nurul Hadid Cirebon. Lastislaam di ambil dari bahasa Arab laa Istislaam yang artinya tidak pernah menyerah.

Dari 30 santri di angkatan saya, hanya satu orang yang belum menikah padahal teman yang lainnya sudah banyak yang punya anak 2 sampai 3. Namanya Hadi Andrian, biasa kita panggil Aan atau Bles karena badannya yang gelap.

Alhamdulillah, hari ini berkesempatan menghadiri pernikahannya di Kalideres bersama istri.

Semogaa Aan mendapatkan pasangan yang barokah, sakinah mawaddah wa rahmah dan segera dikaruniai keturunan. Amiin.

Polemik Disertasi Seks di Luar Nikah


Hari ini kita sedang dihebohkan dengan disertasi doktoral di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang melegalkan praktik seks di luar nikah dengan judul ‘Konsep Milk al-Yamin Muhammad Syahrur sebagai Keabsahan Hubungan Seksual Non Marital’. Promovendus bernama Abdul Aziz, seorang dosen di Solo. Ia mengetengahkan pemikiran dari Muhammad Syahrur, pemikir liberal dari Syiria.

Kali ini saya ingin membahas mode pembaruan yang dibawa Muhammad Syahrur, kemudian dilanjutkan dengan beberapa pelomik dalam konsep Milkul Yamin yang dibawa Syahrur dan polemik lain tentang batasan Aurat yang pernah kami tulis dulu.

Model Pembaruan Muhammad Syahrur

Model pembaruan yang dia lakukan adalah dengan melakukan pembacaan Al-Qur’an dengan menggunakan metode linguistik-historis-ilmiah (al-manhaj al-lughawī al-tārikhī al-‘ilmī) dengan menggunakan linguistika modern dengan tetap bersandar pada syair-syair jahiliyyah.

Dengan metode linguistik-historis-ilmiahnya tersebut, Syahrūr melakukan beberapa langkah yang berakhir dengan dekonstruksi hukum Islam.

  1. Menafikan al-Sunnah sebagai wahyu kedua. Ia menganggap sunnah rasul SAW. sebagai pemahaman awal terhadap Al-Qur’ān.[2] Oleh karenanya, keputusan hukum akan senantiasa berubah sesuai dengan perubahan ruang dan waktu.
  2. Keyakinannya kepada anti sinonimitas istilah dalam al-Qur’an. Misalnya ia membedakan al-hanafiyyah yang diartikannya gerak berubah dan al-istiqāmah (lurus tetap). Menurutnya, al-hanafiyyah berlaku untuk ayat-ayat hukum. Dengan kata lain hukum akan selalu berubah. Padahal kata hanīf di dalam Al-Qur’an surat al-Baqarah: 135 ataupun di dalam kamus (Tājul Urūs, Lisān ’Arab, al-Muhīth, Maqāyis al-Lughah) menunjukan arti tetap, lurus, dan istiqamah.
  3. Memaparkan tiga teori filsafat dalam menginterpretasi ayat-ayat ahkām, yakni kondisi berada (kaynūnah), kondisi berproses (sayrūrah), dan kondisi menjadi (shayrūrah). Dengan relasi ketiga kondisi ini, dalam hubungannya dengan ayat-ayat hukum, akan melahirkan hukum yang akan terus berubah-ubah mengikuti perkembangan masa ke masa.

Polemik Milkul Yamin Kontemporer

Jumhur ulama menyatakan bahwa pemberlakuan ayat tentang kepemilikan budah (milkul yamin) sudah berhenti karena ketiadaan locusnya. Namun Syahrur menemukan locusnya dengan asumsi bahwa konteks milkul yamin saat ini sama dengan konsep nikah kontrak yang kemudian diganti dengan istilah aqdul ihsan (komitmen hubungan badan) sebagai bentuk upaya melegitimasi hubungan intim tanpa melalui pernikahan yang masih hidup dalam tradisi sosial masyarakat Barat.

Term milkul yamin telah mengalami perubahan konsep karena adanya perubahan konteks. Syahrur berasusmsi bahwa ayat-ayat milkul yamin harus direkonstruksi agar tidak mati. Oleh sebab itu, menurut Syahrur ketetapan dalam term milkul yamin yang ada harus dipahami secara lebih esensial.

Dengan mengacu pada adanya relasi seksual antara tuan dan budah, yang terekam pada beberapa ayat; Al-Ahzab: 50, Al-Mukminun: 5-6 dan An-Nur: 31, Syahrur berasumsi bahwa relasi seksual itulah yang menjadi inti konsep milkul yamin kontemporer.Syahrur memandah bahwa relasi seksual tersebut tidak ada unsur atau tujuan untuk membangun rumah tangga melainkan hanya sekedar melampiaskan nafsu seksual.

Kesalahan fatal promovendus adalah mengkiyaskan budak dalam konsep Milk Al Yamin kepada kawin kontrak atau mut’ah dan hidup seatap tanpa pernikahan (kumpul kebo) yang menjadi sama-sama halal. Penulis menyamakan budak dengan kondisi sekarang dan memperbolehkan hubungan di luar nikah atas dasar suka sama suka.

Abdul Aziz mengatakan, menurut Muhammad Syahrur, hubungan intim disebut Zina apabila dipertontonkan ke publik. Bila hubungan itu dilakukan di ruang privat, berlandaskan suka sama suka, keduanya sudah dewasa, tidak ada penipuan, dan niatnya tulus maka tidak bisa disebut Zina. Maka hubungan tersebut halal.

Berikut ini pernyataan MUI tentang disertasi konsep Milk alYamin Muhammad Syahrur yang ditanda tangani oleh Prof. Yunahar Ilyas dan Dr. Anwar Abbas tanggal 3 September 2019

Selanjutnya ditanggal yang sama, penulis disertasi ini memberikan pernyataan untuk merevisi tesis berdasarkan kritik dan masukan dari para promotor dan penguji dan mengubah judul menjadi ‘Problematika Konsep Milk Alyamin dalam Pemikiran Muhammad Syahrur’.

Polemik Menutup Aurat

Muhammad Syahrur mengartikan aurat berangkat dari rasa malu, dan rasa malu itu bersifat relatif serta tidak mutlak dan mengikuti kebiasaan.

Pertama;

QS an-Nuur: 31 “Atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita…“.

Muhammad Syahrur menyimpulkan bahwa aurat di situ berarti: “apa yang membuat seseorang malu jika terlihat”. Dan aurat itu tidak ada kaitannya dengan halal-haram, baik dilihat dari dekat maupun dari jauh. Maka secara kebahasaan, aurat itu relatif.

Kemudian Syahrur memberi contoh: “Apabila seorang yang botak (ashla’) tidak suka botaknya terlihat orang lain, dia akan memakai rambut palsu. Sebab dia menganggap bahwa botak di kepalanya adalah aurat”. Relatifnya makna aurat ini, dia kuatkan dengan mengutip Hadits Nabi: “Barang siapa menutupi aurat mukmin, niscaya Allah akan menutupi auratnya”. Menurutnya, bahwa menutupi aurat mukmin dalam hadith itu, bukan berarti meletakkan baju hingga tidak kelihatan.

Maka Syahrur pun menegaskan bahwa: “Aurat itu datang dari rasa malu, yakni ketidaksukaan seseorang dalam menampakkan sesuatu, baik dari tubuhnya maupun perilakunya. Dan rasa malu ini relatif, bisa berubah sesuai dengan adat istiadat. Maka dada (al-juyub) adalah permanen, sedangkan aurat berubah-ubah menurut zaman dan tempat”.

Kedua; 

QS al-Ahzab: 59 Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu“.

Dalam kitabnya Nahwa Ushul Jadidah lil Fiqhil Islami, 2000: 372-373, Muhammad Syahrur menafsirkan ayat tersebut sebagai berikut: “Ayat ini didahului dengan lafadz ‘Hai Nabi’ (ya ayyuhan nabi), yang berarti bahwa di satu sisi, ayat ini adalah ayat pengajaran (ta’lim) dan bukan untuk pemberlakuan syariat (tasyri’).

Di sisi lain, ayat yang turun di Madinah ini harus dipahami dengan pemahaman temporal (fahman marhaliyyan), karena terkait dengan tujuan keamanan dari gangguan orang-orang iseng, yakni ketika para wanita sedang keluar rumah. Namun alasan keamanan dari gangguan orang-orang iseng, sekarang ini sudah tidak ada lagi”.

Selanjutnya Muhammad Syahrur menganjurkan kepada wanita muslim untuk menutup bagian-bagian tubuhnya yang bila terlihat menyebabkannya dapat gangguan. Dan gangguan itu ada dua jenis: gangguan alam dan gangguan sosial. Gangguan alam terkait dengan cuaca seperti suhu panas dan dingin. Maka wanita mukminah hendaknya berpakaian menurut standar cuaca, sehingga ia terhindar dari gangguan alam.

Sedangkan gangguan sosial terkait dengan adat istiadat suatu masyarakat. Maka pakaian mukminah untuk keluar rumah harus menyesuaikan kondisi lingkungan masyarakat, sehingga tidak mengundang cemoohan dan gangguan mereka.

Dan akhir dari kesimpulan ide-ide Muhammad Syahrur dapat kita simpulkan dalam point-point berikut.

  1. Batasan pakaian wanita dibagi dua: batasan maksimal (al-hadd al-a’la) yang ditetapkan Rasulullah yang meliputi seluruh anggota tubuh selain wajah dan dua telapak tangan. Batasan minimal (al-hadd al-adna) yaitu batasan yang ditetapkan oleh Allah s.w.t., yang hanya menutup juyub.
  2. Juyub tidak hanya dada saja, tapi meliputi belahan dada, bagian tubuh di bawah ketiak, kemaluan dan pantat. Sedangkan semua anggota tubuh selain juyub, boleh diperlihatkan sesuai dengan kultur masyarakat setempat, termasuk pusar (surrah). Penutup kepala untuk laki-laki dan perempuan hanyalah kultur, tidak ada hubungannya dengan iman dan Islam.
  3. Muhammad Syahrur memandang adanya kesalahan fatal yang jamak terjadi di kalangan ulama Fiqih, karena mendudukkan Hadith Rasulullah s.a.w bahwa semua anggota tubuh, kecuali wajah dan kedua telapak tangannya, sebagai batasan aurat wanita.

Lebih lengkapnya sila kunjungi tautan tulisan kami dulu.

https://ahmadbinhanbal.wordpress.com/2010/11/07/nazhariyyah-al-hudud-pembaruan-kontroversial-ala-muhammad-syahrur/

Gerak Cepat Mengejar Bekal Kematian


Manusia selalu gerak cepat apabila
MENGHINDARI KEMATIAN apapun bentuknya, penyakit, bencana, kecelakaan. PADAHAL KEMATIAN ADALAH PASTI harusnya GERAK CEPAT MENGEJAR
BEKAL KEMATIAN

Setiap langkah diniatkan untuk Allah agar jadi bekal kematian

Orang-orang terdahulu pernah memulai kehidupan di dunia. Kemudian mereka berpisah dengan dunia dan meninggalkannya untuk kita. Sekarang kita juga menetap di dunia sebagaimana orang-orang terdahulu. Dan kita kan berpisah dengan dunia, meninggalkannya untuk orang-orang setelah kita.

Ada yang berkata, “Dia wafat dalam keadaan shalat”, “dia wafat dalam keadaan sujud”, “dia wafat dalam keadaan berpuasa”, apakah Anda mengira bahwa hal seperti itu terjadi begitu saja?!

Siapa yang hidupnya dipenuhi dengan suatu hal, maka dia akan mati dalam hal itu pula. Maka berbuat baiklah dalam kehidupan, niscaya Allah kan memberikan husnul khatimah.

Kabar yang sangat menggembirakan bagi orang-orang yang bertauhid adalah kabar yang disampaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa Jibril ‘alaihi salam berkata kepada beliau,

“Beri kabar gembira kepada umatmu, bahwa siapa yang wafat di antara mereka dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan suatu apapun, maka dia pasti masuk surga.”[Muttafaqun ‘alaihi]

Baca hadist ini jadi semangat berbuat utk SURGA

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا صَارَ أَهْلُ الْجَنَّةِ إِلَى الْجَنَّةِ وَأَهْلُ النَّارِ إِلَى النَّارِ جِيْءَ بِالْمَوْتِ حَتَّى يُجْعَلَ بَيْنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ ثُمَّ يُذْبَحُ ثُمَّ يُنَادِي مُنَادٍ يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ لَا مَوْتَ وَيَا أَهْلَ النَّارِ لَا مَوْتَ فَيَزْدَادُ أَهْلُ الْجَنَّةِ فَرَحًا إِلَى فَرَحِهِمْ وَيَزْدَادُ أَهْلُ النَّارِ حُزْنًا إِلَى حُزْنِهِمْ

Dari Ibnu Umar mengatakan, Rasulullah saw, bersabda: Ketika penghuni surga telah memasuki surga, dan penghuni neraka telah memasuki neraka, didatangkan kematian yang diletakkan diantara syurga dan neraka, lantas disembelih. Seorang juru seru menyampaikan pengumuman; Hai penghuni surga, sekarang tidak ada kematian. Hai penghuni neraka, sekarang tak ada lagi kematian. Maka penghuni surga bertambah senang sedangkan penghuni neraka menjadi sangat sedih. (H. R. Bukhari no. 6548)

LEBIH BERMANFAAT BILA DISHARE KEPADA YANG LAIN

Internalisasi Nilai-Nilai Islam dalam Pendidikan


Perbedaan Pembelajaran dan Pemelajaran


Saya sedang sedang meneliti tentang reflective learning di Fakultas Tarbiyah salah satu universitas di Jakarta. Saya ingin tahu sejauh mana refleksi mahasiswa dan sejauh mana peran fakultas dan universitas mengembangkan kemampuan refleksi mahasiswanya.

Secara teoritis, Boud dkk menyebutkan reflective learning sebagai “a generic for those intellectual and affective activities in which individuals engage to explore their experiences  in  order  to  learn  a  new  understanding  and  appreciations.” yaitu kegiatan  intelektual  dan afektif    dimana    individu-individu    terlibat    dalam    upaya mengeksplorasi pengalaman  mereka  dalam  rangka  mencapai  pemahaman  dan  apresiasi-apresiasi baru.

Kata proses menjadi sangat identik dalam reflective learning. Lalu apa padanan dari kata ini? Saya menemukan dua kata yang sangat mirip yaitu pembelajaran dan pemelajaran. Saya membuka KBBI versi mobile di android dan menemukan keterangan berikut:

Pembelajaran: proses, cara, perbuatan menjadikan orang atau makhluk hidup belajar.

Pemelajaran: proses, cara, perbuatan mempelajari.

Karena masih bingung juga, apalagi istilah ini akan dijadikan judul dalam penelitian, maka saya menanyakan hal ini kepada pak Ivan Lanin di akun twitternya.

https://platform.twitter.com/widgets.js

Intinya, pak Ivan menyarankan padanan pemelajaran untuk kata learning dan padanan dari reflective learning adalah pemelajaran reflektif. Sumber yang beliau berikan untuk mengkaji lebih jauh bahasan ini, ada di tautan berikut: https://pondokbahasa.wordpress.com/2008/08/11/pembelajaran-dan-pemelajaran/

Saya juga menemukan keterangan tambahan dari bapak Hendra Gunawan tentang pembelajaran dan pemelajaran di makalah pdf beliau berikut: https://hgunawan82.files.wordpress.com/2018/10/pembelajaran_dan_pemelajaran.pdf

Udzkuruni, Mendekatkan Alquran untuk Tunanetra Lewat Jemari


Senang sekali kali ini saya bisa update lagi informasi tentang perkembangan teknologi islami khususnya tentang Alquran. Pada postingan beberapa bulan lalu saya pernah memberikan info aplikasi Alquran buatan anak Indonesia dari Andi UNPAM yang disebut Aplikasi Alquran Indonesia. Aplikasi ini sangat membantu kita untuk membaca, menghafal dan mengulang Al-Quran.

Selanjutnya, ada komentar pembaca tulisan di atas yang memberikan informasi terbaru tentang aplikasi Udzkuruni dari mahasiswa UNAIR yang berguna untuk membantu membaca Alquran bagi orang tunanetra dan memenangkan lomba kategri desain Alquran pada Musabaqoh Tilawatil Qur’an Mahasiswa (MTQM) di Universitas Syiah Kuala (UNSYIAH) Banda Aceh 27 Juli hingga 4 Agustus 2019 yang lalu.

Aplikasi ini bermula dari kendala seorang instruktur baca tulis Alqurnan yang memiliki disabilitas netra pada saat memberikan pelatihan dan biaya yang tidak sedikit untuk mencetak modul braille, maka dibuatlah inovasi ini untuk mempermudah mempelajari Al Qur’an.

Sebagaimana Alfian, mahasiswa Antrolopogi UNAIR yang menjadi pengajar Alquran braile dan trainer pelatihan baca tulis Alquran Braile di Jawa Timur.

Uzkuruni adalah aplikasi berbasis android dengan fitur utama untuk belajar huruf hijaiyyah braile yang dilengkapi suara dan getaran juga telah disesuaikan bagi penyandang tunanetra agar mudah mengoperasikan aplikasi tersebut. Sertam fitur tambahan berupa murattal surat-surat Alquran dan evaluasi belajar sebagai pendukung.

Aplikasi Udzkuruni digunakan untuk belajar Al Qur’an bagi disabilitas netra dengan beberapa kelebihan:

  • Menghafal pola huruf Hijaiyah menggunakan talkback yang ada di smartphone.
  • Belajar huruf braile di manapun.
  • Mengganti cara belajar huruf braile yang konvensional.

Semoga informasi yang kami berikan bermanfaat.

Sumber berita: http://news.unair.ac.id/2019/08/07/tiga-mahasiswa-unair-ciptakan-desain-aplikasi-al-quran-ramah-disabilitas-netra/

Fitur Udzkuruni
belajar huruf hijaiyyah dengan getaran
ada murattal alquran

Analisis Penelitian tentang Strategi Pengajaran Metakognitif


Hasil gambar untuk Metacognition

Metakognisi telah menjadi suatu bidang yang menarik bagi para peneliti pendidikan sejak lebih dari 40 tahun yang lalu. Telah banyak literatur yang mengkaji topik ini, baik yang berupa teoritis maupun empiris.

Meskipun demikian, hanya beberapa studi yang menyimpulkan tentang langkah-langkah instruksional yang spesifik untuk meningkatkan kemampuan berpikir metakognitif siswa. Demikian pula, sedikit sekali bukti yang menunjukkan seberapa spesifik langkah-langkah tersebut dapat diimplementasikan untuk meningkatkan prestasi siswa.

Tulisan ini ditujukan pada kesenjangan dalam bidang tersebut dengan cara mengidentifikasi pendekatan instruksional dari literatur empiris yang mempromosikan strategi berpikir metakognitif pada siswa tingkat dasar dan menengah menggunakan metode tinjauan pustaka.

Keywords: Metacognition, strategy, planning, monitoring, evaluating, reflective assessment

Tautan PDF: ResearchGate

%d bloggers like this: