Apakah pedagogi Islam memiliki kapasitas untuk melestarikan aspek penting pengetahuan dan tetap mendorong pemikiran kritis?

Apakah menciptakan pemikir kritis merupakan tujuan dari sistem pendidikan Islam dan di mana dalam sistem pedagogis seharusnya pemikiran kritis diajarkan?

Sarjana Muslim abad pertengahan telah banyak menulis tentang pengembangan kurikulum dan tujuan dan sasaran sistem pendidikan Islam.

Membandingkan Blooms taxonomy dengan karya-karya skolastik klasik abad pertengahan pada pengembangan kurikulum menunjukkan kesamaan yang luar biasa dalam pemahaman mereka tentang peran menghafal sebagai aspek mendasar dari pendidikan.

Does the Islamic pedagogy have the capacity to preserve the sacred aspect of knowledge and still encourage critical thought?

Is creating critical thinkers actually an objective of the Islamic educational systems and where in the pedagogical system should critical thought be taught?

Medieval Muslim scholars have written extensively on curriculum development and the goals and objectives of Islamic educational systems.

Comparing Blooms taxonomy to classical medieval scholastic works on curriculum development shows amazing similarities in their understanding of the role of memorization as a fundamental aspect of education.

Penelitian Michael Smith dari Qalam Institute US memberikan penguatan kepada Pendidikan Islam yang sedang marak di Indonesia yaitu menghafal Alquran di masa kecil yaitu dengan membandingkan kurikulum Zaman pertengahan dengan Bloom Taxonomy.

Dan perlu menjadi perhatian bahwa menghafal adalah basis paling bawah dalam Bloom, Penghafal Alquran jangan hanya cukup disitu, tapi meningkatkan diri ke level lebih atas atau dalam Istilah Alquran adalah Tadabbur, Tadzakkur, Tafakkur ( dalam Bloom: understand, apply, analiza..) disini peran sekolah, institusi atau guru berperan.

Bila Penghafal Alquran tidak meningkatkan dirinya ke level yang lebih atas, maka akan dikhawatirkan kemampuan berpikir kritis hilang, jiwa rapuh dan mudah diajak ikut terorisme sebagaimana diungkapkan Prof. Abdullah Sahin dalam bukunya New Direction in Islamic Education.

kemunduran dan ketertinggalan negara-negara Islam di bidang pendidikan antara lain disebabkan institusi pendidikan mereka kurang mengamalkan dua tradisi penting pengajaran dan pendidikan yang pernah melejitkan peradaban Islam masa lampau di bidang iptek. Dua tradisi tersebut yaitu institusi dan sistem pendidikan yang menghormati kebebasan akademik dan mengutamakan berpikir kritis.

Maka institusi pendidikan perlu menyuburkan kembali tradisi berpikir kritis dan penghormatan atas kebebasan akademik.

Simak kajian Ust Hasrizal dari Malaysia yang saat ini sedang menyelesaikan doktoral di Findland.

(PDF) Islamic Pedagogy and Critical Thinking: Does Islamic Pedagogy want Critical Thinkers oleh Michael Smith dari Qalam Institute

Available from:

https://www.researchgate.net/publication/327254250_Islamic_Pedagogy_and_Critical_Thinking_Does_Islamic_Pedagogy_want_Critical_Thinkers

(PDF) New Directions in Islamic Education-Abdullah Sahin Introduction & Book Review.

Available from: https://www.researchgate.net/publication/327104119_New_Directions_in_Islamic_Education-Abdullah_Sahin_Introduction_Book_Review