Quant+Qual+Cartoon+@MattPLavoie

Meme di atas bisa menggambarkan bagaimana perbedaan penelitian kuantitatif dan kualitatif.

Ketika memulai penelitian skripsi atau tesis terkadaang kita dipusingkan dengan design penelitian kita, kualitatif atau kuantitatif. Akan lebih mudah jika kita sudah bisa menentukan judul penelitian dalam tiga suku kata, misalnya, saya akan meneliti tentang: Cerai Gugat dalam Islam, Sejarah Ulama di Kuningan Abad IXX, Refleksi dalam Pendidikan Agama Islam. Kemudian dicarikan induk dari judul ini apakah filsafat, manajemen atau sejarah. Dari judul kita bisa mengetahui jenis penelitian yang digunakan apakah Kualitatif atau Kuantitatif.

Lebih jelas lagi bisa kita ketahui dari karakteristik penelitian kualitatif dan kuantitatif berikut ini:

Karakteristik penelitian Kualitatif

Moustakas (1994) dan Patton (2002) menyajikan beberapa perspektif teoritis yang mendasari metode kualitatif yaitu Fenomenologi (Phenomenology), lnteraksi Simbolik (Simbolic Interactions), Ethnografi (Ethnography), Heuristik (Heuristic Inquiry), dan Hermeneutika (Hermeneutics).

Studi tentang fenomenologi (Phenomenology) berkaitan dengan struktur kesadaran sebagaimana dialami. Karena itu fenomenologi terkait erat dengan pengetahuan tentang sesuatu sejauh menampakkan diri dalam pengalaman. Fenomenologi diartikan juga pengalaman kita tentang sesuatu.

Teori Interaksi Simbolik (Simbolic Interactions) sangat menekankan pentingnya arti dan penafsiran sebagai proses hakiki manusia dalam bersikap dan berelasi. Sikap dan perilaku manusia tidak terjadi secara mekanis sebagai reaksi atas sesuatu yang datang dari luar. Sikap dan perilaku manusia adalah hasil suatu penafsiran yang memiliki arti tertentu yang kemudian menentukan reaksinya terhadap stimulus dari luar.

Penelitian Ethnografi (Ethnography) bertujuan untuk mencari pemahaman
tentang budaya. Peneliti yang ingin memahami budaya suatu kelompok masyarakat harus meluangkan waktu yang cukup tinggal bersama masyarakat tersebut. Makna suatu budaya hanya dapat dipahami dengan berada komunitas tersebut. Asumsinya, bahwa manusia yang tinggal bersama dalam kurun waktu yangagak lama akan membentuk budaya. Budaya adalah kumpulan pola tindakan dan kepercayaan yang menentukan dasar dalam memutuskan sesuatu, dasar untuk menentukan apa yang harus dibuat, dasar untuk menentukan bagaimana membuat itu.

Heuristik (Heuristic Inquiry) merupakan metode dimana keseluruhan pribadi peneliti terlibat dalam proses. Sambil berusaha mengerti gejala tersebut secara mendalam, peneliti juga melibatkan dirinya secara total dengan penuh kesadaran, sehingga diperoleh pengetahuan yang komprehensif tentang ha1 tersebut. Proses heuristik melibatkan proses diri dan penemuan diri yang kreatif.

llmu hermeneutika melibatkan seni membaca teks, sehingga maksud dan arti di balik teks dapat dimengerti secara penuh. Analisis hermeneutika dibutuhkan untuk menarik pengertian yang benar atas suatu teks. Untuk memahami teks perlu suatu penafsiran. Karena itu peran penafsiran adalah salah satu titik sentral heremaneutika. Tanpa penafsiran tidak mungkin memahami suatu teks. Begitu pentingnya peran penafsiran sehingga Nietche mengatakan bahwa sebenarnya tidak ada gejala moral, yang ada adalah penafsiran moral dari suatu gejala. Penafsiran membuka selubung yang tersembunyi dibelakang gejala objektif. Penafsiran bukanlah aktifitas yang terisolir tetapi merupakan struktur dasar pengalaman.

Selanjutnya, berikut ini karakteristik dari penelitian kualitatif

  1. Menjawab masalah khusus yang diangkat dari konteks penelitian.
  2. Masalah khusus dalam penelitian disebut fokus.
  3. Fokus yang diteliti lebih mengarah pada proses daripada hasil.
  4. Meneliti fokus yang sifatnya unik.
  5. Menggunakan latar penelitian yang alamiah.
  6. Manusia (peneliti) sebagai alat atau instrumen kunci dalam pengumpulan data.
  7. Rancangan penelitian bersifat sementara.
  8. Tidak mengajukan hipotesis sebelumnya.
  9. Tidak menggunakan konsep sampel.
  10. Pemberi informasi disebut informan.
  11. Pengamatan, wawancara, dan analisa dokumen sebagai teknik utama dalam pengumpulan data.
  12. Data bersifat kualitatif.
  13. Analisis data secara induktif.
  14. Kredibilitas, transferabilitas, auditabilitas, dan konfirmabilitas dalam melihat keabsahan data.
  15. Analisis data dan pelaporannya bersifat deskriptif
  16. Teori dari dasar (grounded theory).
scale

Karakteristik penelitian Kuantitatif

Penelitian dengan pendekatan kuantitatif memandang tingkah laku manusia dapat diprediksi, objektif, dan terukur. Misalkan dalam memandang kegiatan memancing ikan yang dilakukan seseorang, kegiatan tersebut merupakan suatu hobi atau aktivitas yang menghasilkan income bagi pelaku kegiatan, tanpa harus mengamati realitas apa yang ada dibalik yang nampak seperti sebab atau latar belakang seseorang melakukan kegiatan tersebut. Penelitian ini tidak bertujuan untuk mengungkap makna dibalik apa yang tampak. Penggunaan instrumen yang valid dan reliabel, serta analisis yang sesuai dan tepat menjadikan hasil penelitian kuantitatif tidak menyimpang dari kondisi yang sesungguhnya.

Adapun yang menjadi ciri-ciri utama pendekatan kuantitatif adalah:

  1. Menggunakan pola pikir deduktif, yang berusaha memahami suatu fenomena dengan cara menggunakan konsep-konsep yang umum untuk menjelaskan fenomena yang bersifat khusus.
  2. Logika yang dipakai adalaha logika positivistik dan menghindari hal-hal yang berdifat subjektif.
  3. Proses penelitian mengikuti prosedur yang telah direncanakan.
  4. Tujuan dari penelitian kuantitatif adalah untuk menyusun ilmu nomotetik yaitu ilmu yang berupaya membuat hukum-hukum dari generalisasinya.
  5. Subjek yang diteliti, data yang dikumpulkan, dan sumber data yang dipakai sesuai dengan apa yang telah direncanakan sebelumnya.
  6. Pengumpulan data dilakukan melalui pengukuran dengan menggunakan alat yang objektif dan baku.
  7. Peneliti menempatkan diri secara terpisah dengan objek penelitian, dalam arti dirinya tidak terlibat secara emosional dengan subjek penelitian.
  8. Analisis data dilakukan setelah semua data terkumpul.
  9. Hasil penelitian berupa generalisasi dan prediksi, lepas dari konteks waktu dan situasi.
QualitativeVQuantitative

Mix Method

Prof. Abdul Mujib ketika menjelaskan tentang penelitian humaniora keislaman pada mata kuliah Quantitative Analysis menyebutkan penelitian humaniora keislaman sangat sedikit, mahasiswa pasca di UIN lebih banyak memilih metode kualitatif daripada kuantitatif. Padahal menurutnya, pemilihan kuantitatif dan kualitatif tergantung pada karakteristik penelitian, bukan semata-mata kecenderungan peneliti. Ironisnya, sebagian peneliti menghindari penelitian kuantitatif hanya karena tidak faham statistik.

Masing-masing metode baik itu kualitatif atau kuantitatif memiliki tempat sendiri yang penting ada kesesuaian dalam penelitian. Pola studi Islam saat ini meniscayakan pendekatan kuantitatif, maka kini saatnya mengembangkan mixed method.

Menurut Creswell (2015), mix method merupakan pendekatan penelitian yang mengkombinasikan atau menggabungkan bentuk kualitatif dan kuantitatif.

Mix method memberikan asumsi filosofis dalam menunjukkan arah atau memberi petunjuk cara pengumpulan data dan menganalisis data serta perpaduan pendekatan kuantitatif dan kualitatif melalui beberapa proses penelitian.

Sebagai metode, mix method berfokus pada pengumpulan dan analisis data serta memadukan antara kuantitatif dan kualitatif baik dalam penelitian tunggal atau penelitian berseri.

Premis dasar mix method adalah menggunakan kombinasi pendekatan kuantitatif dan kualitatif untuk menemukan hasil penelitian yang lebih baik dibandingkan jika hanya menggunakan satu pendekatan saja, misal kuantitatif saja atau kualitatif saja.

Premis dasar lain dari mix method adalah bertujuan mengatasi kelemahan-kelemahan yang ada pada pendekatan kuantitatif dan kualitatif.

Kelemahan Kuantitatif

  • Lemah dalam pengendaliannya terhadap konteks atau seting pada saat partisipan berbicara atau menyampaikan pendapat ketika diwawancara.
  • Suara partisipan tidak didengar langsung.
  • Peneliti bertahan sesuai dengan latar belakang masalah yang telah dirumuskan.
  • Interpretasi jarang didiskusikan

Kelemahan Kualitatif

  • Interpretasi personal dibuat sendiri dan pada proses ini bias terjadi.
  • Sulit menggeneralisasikan temuan untuk kelompok sasaran yang banyak karena jumlah partisipan yang dijadikan subjek penelitian terbatas.

Mix method menghasilkan fakta yang lebih komprehensif dalam meneliti masalah penelitian, karena peneliti memiliki kebebasan untuk menggunakan semua alat pengumpul data sesuai dengan jenis data yang dibutuhkan. Sedangkan kuantitatif atau kualitatif hanya terbatas pada satu jenis alat pengumpul data.

Bagaimana melaksanakan mix method?

Langkah paling pentingnya adalah membuat desain penelitian atau prosedur untuk mengumpulkan data, menganalisis data, menginterpretasi dan melaporkan data.

Buku yang sangat bagus dan jelas menjelaskan desain penelitian ini adalah buku Research Design dari Cresswel dan buku Penelitian Kombinasi dari Prof. Sugiyono untuk bahasa Indonesia.

Karakteristik Penelitian Mixed Methods

  1. Melibatkan penggunaan dua metode yaitu meode kualitatif dan kuantitatif dalam studi tunggal (satu penelitian). Penggunaan dua metode dinilai lebih memberikan pemahaman yang lengkap tentang masalah penelitian dibanding penggunaan salah satu diantaranya.
  2. Pendekatan ini melibatkan asumsi-asumsi filosofis, aplikasi pendekatan-pendekatan kualitatif dan kuantitatif serta pencampuran (mixing) kedua pendekatan tersebut dalam satu penelitian. Pendekatan ini lebih kompleks dari sekedar mengumpulkan dan menganalisis dua jenis data, tetapi juga melibatkan fungsi dari dua pendekatan penelitian tersebut secara kolektif sehingga kekuatan penelitian secara keseluruhan lebih besar daripada penelitian kualitatif dan kuantitatif.
  3. Dasar teori yang digunakan berupa konfirmasi dan eksplorasi. Konfirmasi di mana peneliti menguji teori dari hasil data yang diperoleh dari penelitian di lapangan dan eksplorasi dimana peneliti menghasilkan hipotesis dan teori baru berdasarkan data yang dikumpulkan selama penelitian di lapangan.
  4. Sifat data yaitu campuran angka-angka dan data yang bersifat deskriptif.
  5. Teknik pengumpulan data merupakan kombinasi dari kualitatif dan kuantitatif. Jadi dapat menggunakan beberapa teknik, misalnya kuisioner, wawancara secara mendalam, observasi, dsb.
  6. Analisis data merupakan kombinasi dari kualitatif dan kuantitatif. Dapat berupa analisis kualitatif yang didukung analisis kuantitatif, analisis kualintitatif yang didukung analisis kualitatif maupun porsi yang seimbang antara analisis kualitatif dan kuantitatif.

Aneka Pendekatan Studi Agama

Buku yang cukup lengkap memberikan petunjuk bagi mahasiswa yang tertarik dengan studi keagamaan dengan tujun pendekatan studi agama yang paling banyak digunakan di atas adalah ‘Approaches to the Study of Religion‘ oleh Peter Connolly dkk. Masing-masing memiliki titik tekan dan membawa sejumlah asumsi yang berbeda-beda dalam melaksanakan penelitian karena masing-masing pendekatan ini mencakup berbagai perspektif.

Buku ini adalah pengenalan awal berbagai pendekatan terhadap agama, yakni:

  1. Pendekatan Antropologis
  2. Pendekatan Feminis
  3. Pendekatan Fenomenologis
  4. Pendekatan Filosofis
  5. Pendekatan Sosiologis
  6. Pendekatan Psikologis
  7. Pendekatan Teologis

Meskipun tampak berdasar pada pembelahan disiplin ilmu secara tradisional, namun ia tak lebih merupakan penyederhanaan dan ujungnya sifat interdisiplin terhadap agama akan tampak dalam buku ini.

Buku ini bermaksud untuk memberikan petunjuk bagi mahasiswa yang tertarik dengan studi keagamaan agar mampu menangkap dan mempelajari informasi dari materi yang ada.

Buku ini mencakup tujuh pendekatan dalam studi agama yang paling banyak digunakan. Masing-masing memiliki titik tekan dan membawa sejumlah asumsi yang berbeda-beda dalam melaksanakan penelitian karena masing-masing pendekatan ini mencakup berbagai prespektif. Ditinjau dari hubungannya dengan keagamaan, semua pendekatan yang diungkapkan dalam buku ini (selain pendekatan teologi) pada dasarnya adalah jenis pendekatan dari luar yang berarti pendekatan ini bisa dilakukan oleh orang yang religius ataupun non-religius, artinya seorang penelitinya tidak membawa suatu komitmen tentang kebenaran, dan tidak pula mebawa keyakinan kesalah pandangan dunia tersebut yang menjadikan pikiran terbuka menjadi keniscayaan yang pokok.

Umumnya, peneliti dari dalam (insider) perlu belajar bagaimana melangkah secara imajinatif di luar perspektif religius yang dimiliki agar memperoleh banyak ide. Sedangkan peneliti dari luar (outsider). Yakni mereka yang memiliki pandangan dunia nonreligius, memiliki kewajiban mengimajinasikan bagaimana bentuk suatu dunia ketika didalamnya terdapat wilayah suci.

Kedua kelompok tersebut sedang berupaya atau diarahkan menuju imajinasi untuk memasuki dunia orang lain, namun bentuk perubahan mental dan emosional yang dialamai oleh masing-masing berbeda.

Buku saya resume dan bisa anda baca atau unduh langsung di akun ResearchGate saya di link ini. []

Sumber:

Raco, J. (2018). Metode penelitian kualitatif: jenis, karakteristik dan keunggulannya.

Research Design dari Cresswel

Penelitian Kombinasi dari Prof. Sugiyono

Approaches to the Study of Religion’ oleh Peter Connolly dkk