Setelah sukses mengadakan pelatihan pembangunan karakter di balai pertemuan desa Muara Siberut hari Ahad tanggal 8 Februari 2015, di hari seninnya saya dan tim ICD menuju ke dusun Buttui yang terletak di pedalaman pulau Mentawai.

Kami kesana naik kapal perahu yang cuma bisa muat sekitar 10 orang. Kapal ini sengaja dipinjam ustadz Islah, ketua aksi peduli bangsa cabang Siberut Selatan karena kapal yang kami punya ada kerusakan.

Perjalanan dimulai dari Kota Padang menuju ke Kepulauan Siberut Selatan, memakan waktu kurang lebih empat sampai lima jam menggunakan kapal cepat. Setelah itu dilanjutkan kembali menggunakan sampan kecil yang kami sewa memakan waktu antara enam sampai tujuh jam.

Dusun BUTUI, itu lah tempat yang sekarang menjadi tempat program Aksi Peduli Bangsa. Membangun kembali peradaban yang primitif, kuno dan kurangnya akses ke kehidupan luar. Masyarakat yang ramah tamah dan suka cita menyambut kedatangan kami. Itu lah respon positif yang mereka tunjukan kepada kami saat tiba di tempat mereka, serta antusiasme untuk memajukan kampung yang mereka diami.

Pembangunan-pembangunan yang telah berjalan pun meliputi pembangunan Jembatan, Masjid, Tempat Wudhu dan Toilet. Adapun program-program yang akan berkelanjutan meliputi beberapa ruang Poliklinik, Perpustakaan, Ruang-Ruang Kelas, Penginapan Guru-Guru, Lapangan Olahraga dan lain-lain.

Perjalanan kali ini memakan waktu kurang lebih 7 jam. Bersama kami ada dua anak muda yang masih sekolah ikut mau lihat dusun Buttui.

Foto di Perjalanan

Kunjungan kedua, saya lakukan di akhir tahun 2017, bersama Ust. Arifin Jayadiningrat dan keluarganya yaitu istri beliau Ibu Irma Purwitasari dan ketiga anaknya yaitu Dhiya, Vaza dan Mahira. Saat itu, Dhiya sudah kelas 6 SD, sementara Vaza masih kelas 2 dan Mahira masih TK. Semua anaknya diajak ke Mentawai agar bisa mengetahui medan perjuangan ayahnya dan menanamkan rasa syukur, masih ada orang-orang yang harus kita bantu.

Foto ini berada di rumah kepada suku dusun Buttui yaitu kediaman Aman Lalau. Aman Lalau menyambut kami dengan baik, namun tidak bisa ikut serta foto bersama. Terlihat kesederhanaan rumah kepala suku di Mentawai, tidak ada sekat-sekat dalam rumah dan sangat sederhana. Terlihat gantungan kepala-kelapa monyet yang sudah menjadi buruan Aman Lalau.

Sampai saat ini saya masih aktif di Aksi Peduli Bangsa dan membanti team APB di Jakarta. Semoga suatu saat nanti bisa berkunjung lagi ke pedalaman Mentawai dan sharing pengalaman kepada teman-teman. []