Memerdekakan Diri dari Penilaian Manusia


Siapakah yang mengendalikan diri kita didalam berperilaku? Jiwa Fujur kah ? atau Jiwa Taqwa ? Jiwa Fujur itu Sifatnya menyerang sedangkan jiwa taqwa sifatnya menahan.

Tanpa kita berbuat apapun/dalam keadaan diam, jiwa fujur akan reactive, yang akan mendorong jiwa taqwa. misal : berfikiran tidak baik / berprasangka buruk, percikan2 ria, sombong, takabur, dll.

Apalagi didalam berperilaku sehari-hari, jiwa fujur akan sangat reactive didalam mengendalikan diri kita misal : membesarkan dirinya – selalu melihat orang lain lebih rendah dari dirinya – merasa pintar, fixed mindset. ini dikarenakan kebodohan dan kurangnya ilmu.

Seharusnya bertambah ilmu juga bertambah hidayah —> maka akan bercahaya Jika bertambah ilmu tapi tidak bertambah hidayah —> maka tidak akan bercahaya.

Jika bertambah ilmu dan orang lain tidak bertambah ilmu —> jangan merasa lebih pintar —> berarti tidak bercahaya

Penilaian menusia tidak lepas dari :

  1. Orang akan merasa biasa saja bagi yg belum kenal
  2. Orang akan respect bagi yg sudah kenal
  3. Orang akan senang / cinta dengan kita karena dia tau kita mempunyai kelebihan
  4. Orang yg jika melihat kita tidak suka, bagi yg membenci kita
  5. Orang yg jika melihat kita bukan hanya benci, tapi ingin mencelakakan kita.

Bagi yang ingin merdeka dari penilaian manusia, lepaskan 5 point tersebut di atas. karena hal yang mustahil jika semua orang senang pada kita.

Tidak penting untuk disenangi atau tidak disenangi orang lain, merdekakan diri kita dari penilaian manusia dan ikatlah diri kita dengan penilaian Allah.

Fokuslah pada Tujuan hidup, yaitu “mengharap Ridho Allah, bukan Ridho manusia”

Qs. Al-Hujurãt (49) : 11 “Wahai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain.(karena boleh jadi mereka yang diperolok-olokan) lebih baik dari mereka (yang memperolok-olokan), dan jangan pula perempuan-perempuan (merperolok-olok) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olok) lebih baik dari perempuan (yang memperolok-olok), janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barang siapa tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”

*Catatan kajian oleh Dian Ernolita

2 Responses

  1. Wow, psikologis gitu ya tulisannya

    Like

Leave a Reply to Jumal Ahmad Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: