Reformasi Pendidikan Menuju Negara Adidaya 2045, Ebook Dr. Adian Husaini


Sebagian kalangan ada yang bersikap pesimis memandang masa depan Indonesia. Hiruk pikuk berbagai peristiwa di beberapa daerah di Indonesia sempat memunculkan kekhawatiran, bahwa Indonesia – jika tidak hati-hati – bisa-bisa akan dilanda perang saudara dan terpecah belah, seperti yang melanda negara Suriah. Krisis bahkan perang antar warga Suriah yang memakan korban ratusan ribu jiwa dipicu antara lain dari konflik ideologis antar warganya. Kegagalan mencari titik temu pemikiran dan kompromi politik berujung pada konflik sosial dan senjata yang berkepanjangan.

Bagaimana dengan Indonesia? Apakah akan seperti Suriah? Sejarah menunjukkan, Indonesia memiliki tradisi ilmu dan dialog pemikiran yang panjang. Para pendiri bangsa Indonesia dikenal sebagai tokoh-tokoh negarawan yang cinta ilmu dan mampu melakukan dialog pemikiran menuju kompromi politik. Padahal, mereka memiliki corak ideologis yang sangat tajam. Bertahun-tahun sebelum kemerdekaan, 1945, pertentangan tajam – misalnya – terjadi antara Islam versus sekularisme. Dua corak pemikiran ini terus mewarnai pergulatan politik, sosial, pendidikan, ekonomi, dan berbagai aspek kehidupan lainnya.

Sebelum kemerdekaan, para tokoh bangsa sudah berdialog dan berpolemik melalui media massa tentang masalah-masalah kenegaraan. Mereka sepakat tentang pentingnya konsep cinta tanah air bagi sebuah bangsa merdeka. Tapi, mereka pun berbeda tentang corak nasionalisme; apakah bersumber pada agama atau bersumber pada nilai-nilai budaya; baik budaya bangsa atau budaya luar.

Sepuluh tahun sebelum Kemerdekaan, seorang pemikir terkenal, Sutan Takdir Alisyahbana, sempat memicu polemik pemikiran yang tajam. Di Majalah Pujangga Baru, edisi Agustus 1935, menulis artikel bertajuk “Menuju Masyarakat dan Kebudayaan Baru”. Melalui artikelnya ini, Sutan Takdir yang juga dikenal sebagai sastrawan dan filosof, mengajak masyarakat untuk meninggalkan zaman ‘prae-Indonesia’ yang disebutnya sebagai ‘zaman jahiliyah Indonesia’. Untuk menyimak lebih mendalam artikel ini, silahkan unduh ebook-nya di tautan berikut.

Sumber: insits.id

***

Dr. Adian menyebut bahwa Indonesia sejak awal kemerdekaan mempunyai budaya ilmu, kemampuan dan kemauan kuat para pendiri bangsa untuk melalukan dialog intelektual. Contohnya perdebatan antara kubu Islam dan Sekuler dalam menyiapkan sebuah konstitusi negara baru, Indonesia. Dan beliau menyebutkan bahwa tradisi ilmu dan dialog intelektual di kalangan elit dan masyarakat menjadi faktor penting menjaga Indonesia dari perpecahan.

Beberapa poin membaca sekilas ebook ini, saya tuliskan di bawah ini.

  • Akar masalah menurut Imam Al-Ghazali adalah kerusakan ulama, yang berakar lagi pada kerusakan ilmu. Menurut Prof Naquib Alattas, akar masalah umat adalah loss of adab yang berakar dari confusion of knowledge.
  • Dalam tataran konstitusi dan perundang undangan, ada konsesus nasional yang menempatkan manusia taqwa sebagai sosok manusia Indonesia ideal. Logisnya, kemudian pemerintah merumuskan dan menjabarkan konsep manusia taqwa itu lebih terperinci dan operasional. Indah sekali jika kemudian pemerintah menetapkan: tujuan, kurikulum, program, dan evaluasi pendidikan ketaqwaan. Begitu juga dalam program pembangunan nasional, dibuat indikator indikator untuk menentukan apakah sasaran sasaran pembangunan ketaqwaan itu mencapai hasil yang baik atau tidak.
  • Bangsa yang mulia adalah bangsa yang bertaqwa; bangsa yang menang; bangsa yang kuat, hebat, dan disegani oleh bangsa-bangsa lain. Sebab, itulah janji Allah SWT: “Andaikan penduduk suatu wilayah mau beriman dan bertaqwa, maka pasti akan Kami buka pintu-pintu barokah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ajaran-ajaran Allah), maka Kami azab mereka, karena perbuatan mereka sendiri” (QS Al A’raf: 96).
  • Untuk membentuk ”insan mulia” — manusia adil dan beradab, atau manusia bertaqwa – itulah tugas dunia pendidikan di Indonesia. Tujuan itu tidak mungkin diraih tanpa bimbingan wahyu Tuhan Yang Maha Esa (Allah SWT). Maka, logisnya, konsep pendidikan dan keilmuan yang dikembangkan dan diajarkan di lembagalembaga pendidikan di Indonesia, sepatutnya tidak bertentangan dengan konsep pendidikan Nabi Muhammad saw – khususnya bagi orang Indonesia yang muslim. Maka, sesuai dengan istilah penting dalam Pancasila, UUD 1945, dan UU Pendidikan Nasional, seharusnya yang dikembangkan dan diaplikasikan adalah konsep pendidikan adab dan akhlak; bukan konsep pendidikan karakter. Pendidikan adab dan akhlak mengacu kepada al-Quran, Sunnah, dan tradisi pendidikan para ulama Islam, tanpa mengabaikan nilai-nilai positif pada budaya lokal.
  • Sangatlah keliru jika seorang ulama merasa lebih rendah martabatnya dibandingkan dengan penguasa. Adab adalah kemampuan dan kemauan untuk mengenali segala sesuatu sesuai dengan martabatnya. Ulama harusnya dihormati karena ilmunya dan ketaqwaannya, bukan karena kepintaran bicara, kepandaian menghibur, dan banyaknya pengikut. Maka, manusia beradab dalam pandangan Islam adalah yang mampu mengenali siapa ulama pewaris nabi dan siapa ulama yang palsu sehingga dia bisa meletakkan ulama sejati pada tempatnya sebagai tempat rujukan.
  • Dalam pembukaan UUD 1945 ada tiga kata kunci dalam penegakan adab, yaitu “hikmah”, adil”, dan “adab”. Dalam konsep adab yang dirumuskan Prof. Naquib alAttas, adab terlahir dari hikmah, dan jika adab ditegakkan, maka terwujudlah “al-‘adalah” (keadilan), yakni suatu kondisi dimana segala sesuatu berada tempatnya yang betul, sesuai harkat dan martabat yang ditentukan Allah SWT.
  • Kualifikasi akhlak yang wajib dimiliki ulama adalah sikapnya yang hanya takut kepada Allah, tidak hubbud-dunya, apalagi sampai gila jabatan dan gila hormat. Aneh kalau ulama sampai punya ambisi pribadi untuk menjadi pemimpin umat atau organisasi, padahal ia tahu, betapa beratnya pertanggungjawaban dia di akhirat nanti. Memang, al-Quran surat al-Ahzab ayat 72 menggambarkan sifat kebanyakan manusia yang zhalim dan bodoh, terkait dengan kemauan manusia untuk mengemban amanah. Logika sehat kita mengatakan betapa bodohnya manusia yang memaksakan diri mengemban amanah yang sangat berat, padahal, ia tahu ada orang lain yang lebih baik dan lebih mampu memimpin dibandingkan dirinya.
  • Perjuangan Islam dalam menghadapi problematika yang dihadapi umat ini, perlu memadukan dan mensinergikan berbagai aspek, yakni aspek keilmuan, kejiwaan, harta benda, dan sebagainya. Jihad melawan hawa nafsu atau berjuang dalam bidang keilmuan, tidak perlu dipertentangkan dengan jihad melawan musuh. Semua perlu dipadukan, sebagaimana telah dilakukan di zaman Rasulullah saw, Perang Salib, dan sebagainya, sehingga kaum Muslim berhasil mengukir kemenangan yang gemilang dalam berbagai arena perjuangan.

8 Responses


  1. https://polldaddy.com/js/rating/rating.jsKok aku gak bisa donlot pdfnya? T_T Ada link alternatif gak?

    Like

Kirim Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: