Sebuah film sinetron berjudul “Payitaht Abdülhamid” menggambarkan kisah pembelaan Kekhilafahan Utsmaniyah terhadap Aceh di Indonesia. Kisah tersebut dapat dilihat pada episode ke-15 sinetron berbahasa Turki itu.

Dikisahkan, Sultan Abdul Hamid II menerima surat dari muslim di Aceh. Dalam surat itu, rakyat Aceh menyampaikan tentang perlakuan penjajah Belanda yang sudah kelewat batas. Penjajah tidak mengizinkan mereka untuk ibadah haji. Mereka menyampaikan persoalan tersebut kepada Sultan dengan harapan mendapat pembelaan.

Mendengar hal itu, Sultan Abdul Hamid II pun marah. Di akhir cuplikan film, tampak adegan Sultan memanggil duta besar Belanda untuk memperjuangkan hak rakyat Aceh agar dapat ibadah haji.

Sinetron tersebut ditayangkan di stasiun televisi nasional Turki, TRT 1. Dikutip dari situs web IMDB, Payitaht Abdülhamid adalah film yang mengisahkan tentang perjuangan sultan Abdul Hamid II untuk mempertahankan keberlangsungan Kekhilafahan Utsmaniyah (Ottoman).

Film ini dibintangi oleh Bülent Inal sebagai Sultan Abdul Hamid II, dengan setting suasana tahun 1896-an. Film ini mendapatkan banyak perhatian di dunia arab, penonton ingin sekali mengetahui apa yang terjadi di masa Sultan dan bagaimana peran Sultan Abdul Hamid II ketika masa masa genting kekhilafahan waktu itu. 

Saya sangat mengapresiasi Bunet Inal sebagai pemeran utama Sultan Abdul Hamid II yang dikenal lewat peran Yahya dalam serial sanawat dhiyaa’,  beliau memerankan dengan sangat baik sebagai khalifah, beliau memerankan bukan hanya berperan saja, tetapi seakan akan bisa menghadirkan Sultan Abdul Hamid II kepada penonton. 

Abdul Hamid menyebut bahwa dalam sejarah, Aceh selalu mencoba mendaftarkan diri sebagai bagian dari wilayah khilafah Utsmaniyah tetapi tidak diterima karena masih dijajah Belanda. Abdul Hamid bersyukur, tentara yang dia kirim dan orang Aceh tidak pernah menyerah.

Surat dari Aceh sebagai berikut;

Yang berkekutan lagi mempunyai kudrat khalifah islam, Sultan Abdul Hamid. Kami warga Aceh bersandar kepada Usmani yang menjadi pelabuhan terakhir kami. Kami juga melihat khalifah Abdul Hamid sebagai baoak kami sendiri.

Sekarang perlakuan terakhir Belanda yang sedang menjajah negara kami sudah melewati batas. Kafir Belanda tidak mengizinkan kami untuk bisa pergi haji.

Masalah ini sebelumnya kami beritahukan kepada Allah, kemudian kepada khalifah kami.

Mendengar surat tersebut, Abdul Hamid yang duduk langsung berdiri. Seketika ia menggebrak meja tanda sangat marah dengan perlakuan Belanda kepada rakyat Aceh. Dia pun tampak gelisah dan sedih dengan kondisi itu.

Abdul Hamid melanjutkan, “Sebuah hadist mengatakan, ‘gali kuburan untuk seseorang yang membanggakan dirinya sendiri’. Kita tidak memperoleh posisi ini, bahkan dengan bekerja siang dan malam. Ketika Muslim di Aceh seperti ini, mereka menyerang agama kita. Aku harap aku terbakar dan menjadi abu. Aku menjadi abu dan angin mengempaskanku. Untuk alasan ini kita akan pergi haji. Mereka tahu itu, kaum Muslim datang bersama-sama saat berhaji. Mereka mempunyai ikatan yang lebih kuat! Mereka mengenal satu sama lain, bersatu. Baiklah orang Belanda tidak ingin orang Aceh pergi berhaji karena alasan ini.”

Selengkapnya di video berikut;