Saya ambil dari psycocollect.com, penggalan tulisan ketika membahas Budaya Latah di Media Sosial. 

Apa yang menjadi definisi latah memiliki banyak konotasi baik di dalam bidang kedokteran, psikologi, psikososial, psikoanalisis, sosial maupun antropologi, namun para ahli sepakat bahwa latah adalah: reaksi sensitif dalam merespon stimulus yang berasal dari luar diri. Apa yang menjadi perdebatan dan pertentangan para ahli adalah, bahwa latah hanya ditemukan di wilayah Asia Tenggara.

 Oleh karenanya studi mengenai latah menjadi menarik bagi sebagian besar ahli-ahli berbagai disiplin tersebut. Karena latah tidak didapatkan di semua wilayah maka ada asumsi-asumsi yang muncul bahwa latah dapat bersifat genetis maupun budaya.

Polemik apakah latah bersifat kolektif atau individual menjadi pertentangan oleh para ahli, sebagian percaya latah dapat dialami siapa saja di belahan dunia manapun tanpa melihat latar belakang budaya. 

Namun penelitian lain menemukan data latah hanya ditemukan di bagian asia tenggara, yang membentang dari semenanjung Malaysia (Kelantan dan Trengganu), orang-orang pedalaman Semai di dataran tinggi semenanjung Malaysia, Serawak, Singapura, Dayak Iban hingga membentang sampai ke wilayah Jawa (Abdul Kadir: 2009).

 Namun latah juga ditemukan di suku-suku pedalaman Amerika Selatan. Bahkan Gimlette (1912), Winzeller (1995), dan Kenny (1978) menelusuri secara genealogi peristiwa ini, hingga menyimpulkan bahwa latah adalah penyakit yang paling kuno karena hanya ditemukan pada masyarakat terbelakang, berkembang dan terjajah.

 Hasil dari penelitiannya adalah latah memiliki hubungan dekat dengan masa kolonial yaitu pertemuan pertama masyarakat di suatu daerah dengan pendatang, dimana perbedaan warna kulit, tubuh, tinggi badan dan bahasa menyebabkan masyarakat lokal terkejut (shock). 

Berbeda halnya dengan temuan Geertz (1968), umumnya latah di Jawa hanya ditemui pada masyarakat kelas bawah, dan tidak ditemui pada orang-orang keraton atau kalangan keluarga Belanda di Jawa (Geertz,1968: 96). 
Geertz mensinyalir bahwa latah di Jawa dibawa oleh perempuan yang bekerja sebagai pembantu di kalangan keluarga Belanda.

Adapun dari penelusuran para ahli mengenai latah sebagaimana yang diketengahkan oleh Geertz (1968:96), latah awalnya dianggap sebagai bentuk keterpanaan (startling), peniruan, dan sekaligus bentuk pengejekan (mimicry) kepada kaum kolonial yang berbeda secara fisik dengan pribumi. Namun kaum kolonial tersebut lebih superior dari pada kaum pribumi.

Melalui hal ini beberapa ahli mengemukakan pendapat bahwa latah memiliki hubungan dengan kondisi psikologis dan lingkungan sosial. Latah berhubungan dengan tingkat kematangan seseorang, umumnya seseorang yang menderita latah sebagai mana yang dilaporkan oleh Winzeller juga dipengaruhi dari lingkungan keluarga. 

Geertz menambahkan dari sisi lain latah berkaitan erat dengan faktor budaya, karena latah muncul sebagai bentuk penerimaan individu di ranah sosialnya. Latah merupakan solusi untuk dapat diterima di lingkungan sosial, sebagai ekspresi diri dari kekangan-kekangan sosial seperti; tabu, wacana seksual, kelas dan etnis.

***

Tambahan bacaan tentang Latah.

Winzeler, Robert L. 1983. Latah in South-East Asia: The History and Etnography of a Culture Bound Syndrome. (dalam Kumpulan Jurnal Indonesia No. 37 (April)). Cornell Southeast Asia Program.

Geertz, Hildred. 1968. Latah in Java: A Theoretical Paradox. (dalam Kumpulan Jurnal Indonesia No. 5 (April)). Modern Indonesia Project Cornell University: New York.