• Selamat datang di blog Jumal Ahmad. Saya sedang meneliti tentang Meta-Level Reflection dalam Pembangunan Karakter. Semoga dimudahkan dan bermanfaat.

  • Categories

Lebaran Di Prampelan


Alhamdulillah, kita bisa bertemu debgan idul fitri setelah satu bulan berpuasa. Kenangan selama Ramadan pasti sangat dirindukan setiap muslim, masjid yang ramai setiap shalat lima waktu, membaca Al-Quran bersama sama dan mendengarkan ceramah agama adalah salah satu kenangan ramadan. Semoga kenikmatan Ramadan ini bisa kita rasakan kembali di tahun tahun berikutnya. 

Kesan lebaran di desa Prampelan sangat berbeda dengan tempat lainnya, kami yang tinggal di desa punya kebiasaan tersendiri dan beberapa hal lebih simpel dari kebiasaan di daerah lain. 

Masyarakat Prampelan untuk memenuhi kebutuhan lebaran harus pergi ke pasar Kaliangkrik yang jaraknya 7 kilo dari desa kami, kadang ada yang jalan kaki sejauh itu atau ada juga yang naik mobil sayur sehabis subuh. 

Pasarannya hanya ada dua hari dalam satu minggu yaitu bertepatan dengan hari Pon dan Legi dalam penanggalan jawa. Hari pasaran sebelum lebaran disebut dengan prepegan yaitu hari terakhir pasaran sebelum lebaran, pada hari ini pasar penuh dan berjubel orang yang ingin membeli pakaian baru dan pakaian lebaran. 

Dua hari atau sehari sebelum lebaran atau dalam bahasa jawa Bodo, ibu rumah tangga membuat kue dan makanan sederhana khas desa, ibu saya lebaran ini membuat wajik hijau. 

Biasanya di hari H syawal, kami keliling ke kakek, nenek, pak de, bu de dan lainnya untuk meminta maaf atau dalam istilah kami ujong dengan bahasa jawa. 

Bahasanya seperti ini. 

Ngatoraken sedoyo lepat kulo nyuwon ngapunten artinya mohon maaf semua kesalahan kesalahan kami. Dan biasanya dijawa dengan nggeh sami sami, artinya sama sama, atau dengan jawaban yang lebih panjang lagi. 

Lebaran ini, saya gak sendiri lagi, saya keliling desa ditemani istri tercinta dan adik adik saya. Alhamdulillah semoga lebaran teman semuanya juga berkesan. 

Hukum Petasan Ramadan


Di antara kesalahan yang dilakukan orang tua adalah membiarkan anak bermain petasan pada bulan Ramadan, bahkan berlanjut ketika malam takbiran. 

Pemerintah pun punya andil karena terkesan membiarkan penjual warung menjualkan barang berbahaya ini. 

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin pernah ditanya mengenai hukum jual beli petasan dan membunyikannya. 

Jawaban beliau, “Menurut hemat kami, jual beli petasan hukumnya haram dengan dua pertimbangan. Pertama, petasan hanyalah membuang-buang harta, dan membuang harta hukumnya adalah haram karena Nabi Saw melarang hal tersebut. 

Kedua,  petasan akan mengganggu orang lain karena suaranya memekakkan telinga bahkan dapat menimbulkan kebakaran jika mengenai benda benda yang mudah terbakar. 

Karena dua alasan di atas, menurut hemat kami adalah haram hukumnya sehingga tidak diperbolehkan untuk diperdagangkan dan diperjualbelikan.”

Sumber: Min Akhthaina fii Ramadhan, hal. 152-153

3 Kesalahan Memaknai Idul Fitri


Besok hari umat Islam akan merayakan hari raya Idul Fitri, satu bulan sudah umat Islam digembleng dalam madrasah Ramadan lewat shalat, membaca Al-Quran dan amal ibadah lainnya. 

Dalam memaknai hari raya Idul Fitri, penulis ingin sedikit berbagi ilmu terkait beberapa kesalahan yang penulis amati ketika umat Islam menyambut akhir Ramadan dan memasuki hari raya. Semoga bermanfaat. 

1. Tidak Semangat di Akhir Ramadan

Ada perbedaan antara umat Islam dahulu dan sekarang dalam menyambut detik detik perpisahan dengan Ramadan. 

Dahulu, umat Islam bersungguh-sungguh menggunakan akhir waktu Ramadan dengan mengencangkan ikat pinggang menggapai amalan utama Ramadan. 

Ibnul Jauzi mengibaratkan dengan orang yang berlomba pacu kuda, semakin dekat finish, semakin bersemangat dan mempercepat laju kuda lari. 

Umat Islam saat ini ketika akhir Ramadan ibarat lomba maraton, di awal lomba, ratusan bahkan ribuan peserta ikut lari, dipertengahan sudah mulai berguguran dan sampai finish hanya tiga orang saja yang menang. 

2. Hari Kemenangan

Banyak televisi, radio dan media elektronik menyambut Idul Fitri dengan menyebutkan ‘Hari Kemenangan’. Sejatinya bukan kemenangan, tetapi ‘Pura Pura Menang’. 

Sudahkah kita menang jika di Ramadan didik untuk menahan nafsu, kemudian di awal Idul Fitri malah kita seakan akan balas dendam dengan memakan segala yang ada di depan mata, berpegangan tangan dengan yang bukan mahram atau pergi ke tempat tempat maksiat? 

Pantaskah disebut menang jika selama Ramadan kita didik untuk shalat tepat waktu dan mengerjakan shalat malam/tarawih, dan di awal idul fitri kita melalaikan shalat lima waktu dengan alasan silaturahmi ke sanak famili dan ketika malam meninggalkan shalat malam yang sudah dibiasakan selama Ramadan? 

Jika umat Islam dahulu was was dan khawatir amalan Ramadan mereka tidak diterima, sekarang kita merasa percaya diri puasa dan shalat diterima Allah Swt. 

3. Idul Fitri = Kembali Suci

Banyak yang menganggap Idul Fitri dengan arti kembali suci, secara bahasa ini salah fatal. 

Makna Ied adalah kembali artinya diulang ulang dalam satu tahun, hari raya idul fitri dan idul adha diulang ulang setiap tahun. 

Makna Fitri adalah makan dan bukan suci atau fitrah, berasal dari kata afthara-yufthiru yang artinya makan. 

Pada hari ini Allah Swt mengharamkan umat Islam untuk berpuasa dan mewajibkan mereka makan sebagai bentuk rasa syukur. 
Dalam sebuah hadits Nabi Saw bersabda:

صومكم يوم تصومون،  وفطركم يوم تفطرون

“Puasa kalian adalah ketika kalian berpuasa, dan idul fitri kalian ketika kalian makan”

Akan salah jika kata fitri pada hadits di atas diartikan dengan suci. “Puasa kalian adalah ketika kalian berpuasa, dan suci kalian ketika kalian bersuci”

Akibat kesalahan makna di atas sangat fatal, karena umat Islam menganggap bahwa dengan masuknya bulan Idul Fitri semua dosa dosa akan dihapus dan kembali suci ibarat anak kecil yang baru lahir. 

Jelas sekali anggapan ini salah dan ngawur, karena Allah Swt akan mengampuni dosa seorang mukmin antara Ramadan dan Ramadan selama bukan dosa besar, adapun dosa besar maka harus ada niat benar untuk bertaubat, meminta ampun pada Allah Swt dan tidak mengulangi lagi. 

Semoga idul fitri ini kita bisa lebih merefleksikan diri sendiri agar menjadi lebih baik lagi dari bulan bulan sebelumnya. 

Terakhir, saya selaku admin dari blog sederhana ini memohon maaf jika selama ini ada kesalahan, tak lupa saya ucapkan terima kasih kepada seluruh teman blog yang bersedia berkunjung, membaca dan berkomentar di blog sederhana ini. 

Taqabbalallhu minna wa minkum, semoga Allah Swt menerima amal kami dan amal kalian semua, amiin. 

Hari Raya Dan Hari Kiamat


Keriuhan umat di hari raya telah dibahas dengan menarik oleh Ibul Jauzi dalam bukunya Shaidul Khatiir, salah satu buku favorit semenjak di pesantren. 

Beliau menganalogikan hari raya dengan hari kiamat. Berikut ini nukilan saya dari buku beliau. 

Aku memperhatikan hal ihwal manusia di Hari Raya, ternyata ia sama dengan kondisi mereka di hari kiamat kelak. Sesaat sesudah bangun dari tidur mereka pergi ke tempat mengerjakan shalat, persis seperti orang mati yang keluar dari kuburannya ke Padang Mahsyar.

Sebagian mereka berpenampilan amat necis dan menunggangi binatang paling mahal, sebagian berpakaian biasa dan sebagian yang lain malah berpakaian sangat usang. Memang seperti itulah hal-ihwal manusia di hari kiamat.

“(Ingatlah) hari (ketika) Kami mengumpulkan orang-orang yang takwa kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sebagai perutusan yang terhormat, dan Kami akan menghalau orang-orang yang durhaka ke Neraka Jahannam dalam keadaan dahaga” (Qs. Maryam:85-86)

Nabi Muhammad saw bersabda, “Pada hari kiamat manusia akan dikumpulkan dengan berkendaraan, jalan kaki atau telungkup” , “Pada hari kiamat manusia akan dikumpulkan dengan berkendaraan, jalan kaki atau telungkup” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Sebagian orang di Hari Raya terinjak-injak dalam desakan orang banyak; demikian juga orang zalim, pada hari kiamat mereka diinjak-injak oleh orang lain. 

Sebagian orang di Hari Raya adalah orang kaya yang mengeluarkan sedekah, dan di hari kiamat orang yang berbuat kebajikan di dunia akan berbuat baik pula.

Sebagian orang di Hari Raya adalah orang miskin yang meminta-minta, dan di hari kiamat sebagian orang adalah orang-orang yang meminta, sebagian peminta ini ada yang diberi, “Aku menyiapkan syafaatku untuk para pelaku dosa besar” (HR Ahmad dan Abu Dawud) 
Namun sebagian yang lain tidak dikasihani, “Maka kami tidak mempunyai pemberi syafaat seorang pun, dan tidak pula mempunyai teman akrab” (Qs As-Syuara: 100-101)

Panji-panji di Hari Raya dikibarkan, dan pada hari kiamat panji-panji orang yang bertaqwa juga dikibarkan.
 Bila Hari Raya orang-orang dikhutbahkan, maka pada hari kiamat orang-orang juga akan diberitahu tentang nasib seorang manusia. 
“Hai penduduk Mahsyar, si A telah mendapatkan kebahagiaan yang tak akan berubah menjadi kesusahan selamanya, dan si B sudah memperoleh kesusahan yang tak akan berubah menjadi kebahagiaan selamanya”.

Kemudian orang-orang paling bahagia di antara mereka pulang ke tempatnya dan diberitahu, “Mereka itulah orang yang didekatkan (kepada Allah) (Qs Waqiah: 11), lalu disusul dengan keputusan “Maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik” (Qs Al Isra: 19), 
sedang orang-orang selain mereka adalah orang-orang yang berkedudukan lebih rendah, sebagian mereka pulang ke rumah yang mewah, “Disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu” (Qs Al-Haqqah: 24), 

sebagian pulang ke rumah kelas menengah, namun sisanya malah pulang ke rumah yang reot! Maka, ambillah pelajaran, hai orang-orang yang punya akal!!!

Demikian sebuah nasihat dari Al-Wa’idz (ahli nasihat) Abdurrahman bin Ali bin Muhammad al-Jauzi yang nasabnya tersambung sampai Abu Bakar As-Shidiq.

Ibnul Jauzi dalam nasehat yang lain mengajak agar mencari teman dan sahabat yang akan memasukkan kita ke surga, beliau berkata kepada sahabat-sahabatnya,
إن لم تجدوني في الجنة بينكم فاسألوا عني وقولوا : يا ربنا عبدك فلان كان يذكرنا بك

”Jika kalian tidak menemukan aku di surga, maka tanyakanlah tentang aku kepada Allah. Ucapkan: ’Wahai Rabb kami, hambaMu fulan, dulu dia pernah mengingatkan kami untuk mengingat Engkau.” Kemudian beliau menangis.

Sumber: Shaidul Khatir

Macet Total Di Padang Mahsyar


Pernahkah kendaraan anda mengalami macet total ketika sedang menempuh perjalanan panjang (saat mudik misalnya) ..? Walau terjebak macet hanya 2-3 jam, bagaimana rasanya..? Apa yang bisa anda lakukan saat macet, kecuali menunggu dan menunggu hingga kemacetan terurai..? 

Bagaimana jika macetnya belasan bahkan puluhan jam lamanya..? Maju tidak bisa, mundur pun tak kuasa. Diam saja ditempat selama berjam-jam lamanya. Bagaimana perasaan anda..?

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

«لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ»
“Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan kemana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya”. (HR Tirmidzi dan ad Darimi)

Pada hari itu, manusia akan dikumpulkan sesuai keadaan masing masing ketika di dunia sebagaimn firman Allah swt Qs. Maryam 85-86.

Orang kafir, munafik dan pendosa akan menunggu penghitungan amal selama 50 tahun sebagai bentuk azab atas kelalaian mereka di dunia. 

Adapun orang beriman, menunggu dengan waktu kurang lebih selama satu shalat wajib. 

Bagaimana mereka bisa bertahan menunggu 50 tahun tanpa ada makanan dan minuman? Untuk menjawabnya bahwa ini termasuk perkara akhirat yang bukan termasuk dalam wilayah manusia yang tidak bisa diukur dengan standar dunia. 

Alangkah bahagianya kita menjadi orang yang beriman. Ya Allah, terima kasih atas karunia iman dan taqwa dari-Mu, berikan kami istiqamah dalam agama-Mu sampai ajal nanti. 

Ya Allah mudahkanlah kami dalam membekali diri untuk kehidupan yang abadi. Ya Allah kami hanya berharap ridha dan maghfirah-Mu. Ya Allah terimalah segala amal shaleh kami selama di bulan Ramadhan kemarin. 
Ya rabbana…..ampunilah segala dosa kami, mudahkan kami menuju surga-Mu dan jauhkan kami dari neraka-Mu. Ya Allah ampunilah dosa-dosa kami atas kelalaian menghabiskan umur, kelalaian mengamalkan ilmu, kelalaian memperoleh dan membelanjakan harta, dan kelalaian menggunakan tubuh ini… 
Bimbinglah kami di dunia dengan hidayah-Mu, mudahkanlah kami dari ketatnya hisab yaumil mahsyar, selamatkan kami dari fitnah dunia dan fitnah dajjal, selamatkanlah kami dari siksa api neraka. Amin ya Rabbal ‘alamin
Sumber: fatwa islam web

– otw Jakarta – Magelang

Asyiknya Mudik Lebaran


Jelang hari lebaran yang tinggal menghitung hari, jam terasa amat lambat karena menunggu waktu mudik yang dinanti. 

Mudik merupakan ritual wajib pagi para perantau seperti saya. Terlebih lagi orang tua dan mertua masih ada di kampung halaman, tentunya mereka sangat mengharapkan anak anaknya bisa berkumpul waktu lebaran. 

Lebih dari 10 tahun menjadi anak rantau, selama itu pula saya sudah merasakan nikmatnya mudik lebaran. Rasa pulang kampung pas lebaran berbeda dengan pulang kampung di hari hari biasa.  

Berbeda dengan istri saya, dia tipe yang gak bisa jauh dari orang tua, ketika kuliah di Solo, mesti satu bulan sekali menyempatkan jenguk orang tua di kampung, adapun saya, terbiasa pulang setahun sekali setiap hari lebaran saja. 

Maka beberapa hari ini, istri sakit batuk dan pilek, mungkin  karena ingin cepat pulang, saya bilang seperti ini, insya allah kalau sudah di rumah, batuk dan pileknya hilang.. 
Suasana itikaf malam ini di masjid Assalam PU sunyi sekali, mungkin karena ini malam genap puasa, masih banyak jamaah yang memilih iktikaf di malam ganjil saja. Fokus saya pun teralihkan bukan hanya ibadah tapi juga ke rencana mudik lebaran besok. 

Hari Ahad kemarin saya datang ke pol Sinar Jaya menanyakan tiket, dan diinfokan kalau mau beli tiket besok pagi jam 5 datang ke pol beli tiket. 

Maka semalam, saya sudah melaksanakan tarawih sendiri di masjid PU, bangun jam 2 pagi ikut shalat Tasbih 2 rakaat, selesai shalat langsung meluncur ke pasar minggu beli tiket. 

Ternyata sudah lumayan banyak yang menunggu beli tiket, loket baru buka jam 5 pagi tapi jam 3 an saja sudah mulai ramai berdatangan. 

Mudik ke kampung halaman amatlah menyenangkan meskipun sampai berpeluh dan berdesak desakan mendapatkan tiket. 

Sadarkah anda kalau kelak kita akan mudik (kembali) kepada sang Pencipta, Allah SWT. Kembali kepada Allah adalah mudik yang pasti kita lakukan suatu hari nanti. 

Kematian adalah lebaran terakbar kita, karena kembali mempertemukan kita dengan pencipta, khaliq dengan makhluq-Nya. 

Tidak perlu pakaian bagus dan mobil kinclong ketika kembali kepada-Nya, karena pakaian kita hanya keimanan, perhiasan kita hanya ketakwaan dan kekayaan kita hanyalah dari pahal ibadah yang kita perbuat. 

Maka lebaran yang paling asyik adalah ketika kita kembali kepada Allah dalam keadaan suci. Lebaran yang paling asyik saat kita bersama saudara dan keluarga dikumpulkan di surga Allah Swt. 

Lebarun 2017: Run Dan Charity Pembangunan Pedalaman Mentawai 


Bantu share ya… jangan lupa ikut acaranya juga. Terima kasih. 

Simak juga video durasi 1 menit sekilas perjalanan ke pedalaman Mentawai dan promo event lebarun. 

%d bloggers like this: