Mencegah Perilaku Homoseks



Pakar Seksologi bernama Wimpie Pangkahila mengatakan bahwa seseorang berpotensi menjadi homoseksual karena beberapa sebab, di antaranya gangguan psikoseksual pada masa kanak kanak,  faktor biologis, faktor sosia kultural, dan faktor lingkungan. 

Penelitian menunjukkan bahwa pendapat yang mengatakan homoseksual terbentuk karena faktor biologis masih menjadi kontroversial. 
Faktor yang sering disebut sebagai penyebab utama adalah pola asuh dan lingkungan. Contoh pola asuh yang salah  adalah orang tua yang mengasuh atau memperlakukan anak laki-laki seperti anak perempuan karena tidak punya anak perempuan.

Menurut Prof. Dadang Hawari, para ahli membagi homoseks dalam dua kelompok yaitu.

  1. Ego Distonic Sexual Orientation (EDSO). Yaitu keadaan dimana seseorang merasa seksualitasnya tidak sesuai dengan citra diri yang diinginkan, sehingga menyebabkan orang tersebut mengubah orientasi seksualnya. Orang ini biasanya melakukan hubungan sesame jenis untuk menambah gairah hubungan seksnya dengan lawan jenis, namun mereka merasa bahwa hasrat homoseks mereka sebagai sesuatu yang tak diinginkan dan sumber petaka. 
  2. EDSO termasuk gangguan jiwa. Ego Sintonic Sexual Orientation (ESSO). Mereka adalah pelaku homoseks yang berdamai dengan dirinya sendiri dan menganggap perilakunya itu “normal” sebab tidak disertai keluhan-keluhan kejiwaan. 

Untuk menghindari perilaku homoseksual, beberapa hal bisa dilakukan seperti:

  • Menjauhi dan menghilangkan rangsangan rangsangan terkait yang muncul. Dalam hal ini Rasulullah saw bersabda: “Janganlah seorang laki laki melihat aurat laki laki, jangan pula seorang perempuan melihat aurat perempuan. Janganlah seorang laki laki tidur satu selimut dengan laki laki begitu juga perempuan jangan tidur satu selimut dengan perempuan yang lain”.  (HR. Muslim) 
  • Memisahkan tidur laki laki dan perempuan, Nabi Saw bersabda: “Perintahkan anak-anak kalian shalat pada usia 7 tahun, pukullah mereka jika meninggalkannya pada usia 10 tahun dan pisahkan di antara mereka tempat tidurnya. (HR. Ahmad dan Abu Dawud, dihasankan oleh An Nawawi dalam Riyadhus Shalihin dan Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud)

Kirim Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: