Mendidik Melalui Sindiran


apa yang dilakukan anak-anak di masa depannya sebagian besar mengikuti orang tua

Setiap manusia mempunyai kelebihan dan kekurangan dan masing-masing mempunyai hati dan perasaan. Adakalanya tertawa dan adakalanya bersedih. Ada juga manusia yang mudah tersinggung dan sakit hati dan ada juga yang cuek bebek. Semuanya tergantung bagaimana menyikapinya.

Rasulullah saw bersabda, “Apa keinginan kaum yang mengatakan begini dan begitu? Sesungguhnya aku shalat dan tidur, aku berpuasa dan berbuka, dan aku pun menikahi wanita. Maka, barangsiapa yang tak senang dengan sunnahku berarti dia bukan golonganku”. (Shahihul Jami’ No.5448)

Sabda Nabi tersebut menyiratkan beberapa hal yang dapat kita jadikan acuan dalam mendidik anak.

  1. Mengatasi kesalahan anak didik melalui sindiran dapat menjaga wibawa anak di mata teman-temannya. Kita tidak perlu menunjukkan kesalahan yang telah dilakukannya karena boleh jadi hal itu akan membuatnya mengulangi kesalahannya sebagai protes dan pembangkangan.
  2. Berpura-pura tidak tahu terhadap kesalahan anak disertai sindiran tanpa menunjukkan dan menerangkan kesalahannya. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan kesempatan agar dia berintrospeksi atas perilakunya dan memperbaiki kesalahannya.
  3. Meluruskan kesalahan anak jangan dilakukan dengan cara menjatuhkan mentalnya karena dapat menimbulkan berbagai kelainan mental.
  4. Pendidik menyampaikan sindiran dengan tali kasih sayang dan tanpa menyebutkan kesalahan anak tersebut. Apakah enak jika menegur anak tanpa ada ikatan kasih sayang? Tentuk tidak.
  5. Jadilah pendidik yang mempunyai ikatan hati dari sudut ayah, kakak atau guru kepada muridnya. Bantulah dia, cintailah dia sebelum anda menegur kesalahannya. Temui dan peluklah anak didik dengan penuh cinta sebelum duduk mendengar penjelasan, insya Allah dia akan membuka hatinya untuk anda.
  6. Pendidik dapat meluruskan berbagai kekeliruan anak yang lainnya.

Hindari Sindiran Tajam dan Menyalahkan

Terkadang Orang tua dan pendidik menyalahkan dengan menggunakan sindiran tajam, mengejek atau bahkan menghina pada saat anak atau murid hendak menyampaikan maksudnya. Orang tua dan pendidik berlaku angkuh, ingin menunjukkan superiotas dan ingin agar anaknya tau bahwa dia lebih tua, bijak dan selalu benar.

Orang tua dan pendidik seperti ini sering memberikan pernyataan yang buruk seperti.

  • Apa kubilang! Ini pasti terjadi
  • Jika saja kamu dapat mendengarkan apa kata Ibu, pasti semuanya tidak akan terjadi.
  • Benarkan apa kataku!
  • Jangan bodoh! Cara itu tidak akan berhasil.

Kebanyakan orang tua tidak mendengarkan anak dengan niat untuk memahami mereka, melainkan untuk menjawab mereka. Maka orang tua biasanya kalau tidak memotong pembicaraan anak, pastilah mereka mempersiapkan kata-kata.

Tentu saja, hal ini akan menghalangi anak untuk menyerap perkataan mereka, karena orang tua menuntut anak seide dengan apa yang didiktekan orang tua kepadanya tanpa penjelasan apa pun!

Kepada orang tua dan pendidik, ada beberapa tips yang bisa dipraktikkan agar bisa lebih tenang dan penuh sadar mendengarkan anak.

  • Jangan tergesa-gesa mengutarakan pandangan anda; kendalikan emosi agar anda bisa menyimpan pendapat anda dan memilih waktu yang tepat.
  • Terbuka untuk menerima ide dan saran baru; cobalah berfikir dengan logika anak; cobalah keluar dari bingkai ide pribadi anda.
  • Pikirkan segala kemungkinan dan cobalah melihat persoalan secara utuh; belajarlah dari apa yang anda dengar dari anak anda.
  • Berhenti berfikir tentang apa yang anda inginkan dari anak anda; pusatkan perhatian anda pada apa yang bisa anda berikan kepada mereka.
  • Biarkan anak merasakan efek diam penuh sadar; ketika berbicara dengan mereka.
  • Ajarkan mereka melalui tindakan bahwa orang yang menyimak tidak kalah pentingnya dengan orang yang sedang berbicara.
  • Biarkan mereka memperbincangkan persoalan pribadi, keluhan, kekhawatiran dan tekanan batin mereka kepada anda.
  • Perhatikan dan dengarkan semua perkataan mereka dengan seksama, menyimak dengan penuh penghormatan adalah pujian sekaligus penghargaan terpenting yang bisa anda berikan kepadanya.
  • Simaklah baik baik dan jangan sampai teralihkan oleh pengaruh luar; baik itu telepon maupun interupsi interupsi lainnya.
  • Simaklah mereka tanpa memvonis, senantiasa bertanya kepada mereka dan meminta penjelasan mereka tentang hal itu.
  • Bukalah jalan bagi mereka untuk melanjutkan pembicaraan dan terus mengungkapkan segala persoalan dan perasaan mereka.
  • Di sela-sela pembicaraan itu, anda bisa mengenali gaya berpkir anak, juga bisa mengenal nilai-nilai sosial yang sedang menjadi trend di masyarakat. Di sela semua itu, anda pun bisa menelurkan ide bermanfaat karena tidak mustahil anda menemukan ide besar di selokan senda gurau.
  • Sementara perkataan anak mendorong anda untuk berbicara, tanyakanlah kepada diri anda, “Apakah kata kata saya akan mengubah budi pekerti mereka? Ataukah perkataan saya hanyalah ungkapan emosional dan ketidaksengajaan saja?

Demikian. Semoga bermanfaat.

Referensi:

  • 10 Kesalahan Orang Tua dalam Mendidik Anak, Kavin Steede, Ph.D
  • Tarbiyah Rasulullah, Najib Khalid Al-‘Amr
  • Human Touch, Dr. Muhammad Muhammad Badri
%d bloggers like this: