• Selamat datang di blog Jumal Ahmad. Saya sedang meneliti tentang Meta-Level Reflection dalam Pembangunan Karakter. Semoga dimudahkan dan bermanfaat.

  • Categories

Mendidik Anak Dengan Dialog


mendidik-anak-dengan-dialog1

Dialog merupakan salah satu metode mendidik yang sangat baik. Dengan dialog seseorang tidak merasa digurui. Dengan dialog, akan terungkap motif atau faktor dilakukannya sebuah perbuatan. Dialog selalu dibutuhkan dalam sebuah proses pendidikan. Tanpa dialog sebuah pendidikan tidak akan lancar dan sulit membuahkan hasil yang diharapkan.

Allah Swt lewat Al-Quran telah memberikan pelajaran berharga bagi manusia. Ayat ayat ini sering dibaca dan diulang-ulang namun belum banyak yang mengetahui mutiara darinya yaitu kisah dialog antara Allah Swt dan Iblis la’natullah ‘alaih.

قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ (12) قَالَ فَاهْبِطْ مِنْهَا فَمَا يَكُونُ لَكَ أَنْ تَتَكَبَّرَ فِيهَا فَاخْرُجْ إِنَّكَ مِنَ الصَّاغِرِينَ (13) قَالَ أَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ (14) قَالَ إِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ (15) قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ (16)

Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab iblis “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. 13. Allah berfirman: “Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina”. 14. Iblis menjawab: “Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan”. 15. Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh”. 16. Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. (Qs. Al-A’raf [07]: 12-16)

Allah yang Maha Tinggi saja mau berdialog dengan makhluk yang hina seperti Iblis, lalu jika kita tidak mau berdialog dengan anak atau murid apakah mereka lebih hina dari Iblis? Tentu tidak bukan. Lewat ayat ini Allah ingin memberikan pelajaran agar manusia mau berdialog dengan orang yang lebih rendah sekalipun sebagaiamana Allah Swt berdialog dengan Iblis.

Demikian pentingnya dialog, maka dalam banyak kesempatan Rasulullah Saw menggunakan metode ini dalam mendidik para Sahabatnya.

Dialog Membuat Anak Merasa Dihargai

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اقْرَأْ عَلَيَّ قَالَ قُلْتُ أَقْرَأُ عَلَيْكَ وَعَلَيْكَ أُنْزِلَ قَالَ إِنَّنِي أُحِبُّ أَنْ أَسْمَعَهُ مِنْ غَيْرِي فَقَرَأْتُ حَتَّى إِذَا بَلَغْتُ { فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلَاءِ شَهِيدًا }

قَالَ رَأَيْتُ عَيْنَيْهِ تَذْرِفَانِ دُمُوعًا

 

Dari Abdullah ia berkata, Nabi Saw bersabda: “Bacakanlah (Al-Quran) untukku”. Lalu ia berkata, ‘Apakah saya akan membacakan (Al-Quran) untukmu, sedangkan Al-Quran ini turun kepadamu’? Beliau bersabda: “Sesungguhnya aku senang mendengarkan (bacaan Al-Quran) dari orang lain”. Saya pun membacanya sampai ketika tiba pada ayat: ‘Fakaifa idzaa ji’naa min kullii ummatin syahiidan wa ji’naa bika ‘alaa haaulaai syahiiidan’ (Bagaimana jika kelak setiap umat kami datangkan seorang saksi dan engkau (Muhammad) kami datangkan kepada mereka sebagai saksi)’. Ia berkata: “Saya melihat kedua mata beliau bercucuran mata”. (HR. Ahmad  No 3424)

Rasulullah saw tidak segan-segan melayani anak-anak berdialog seperti diceritakan dalam hadit di atas. Ketika beliau meminta kepada Abdullah untuk membacakan Al-Quran kepadanya, Abdullah bertanya, apakah ia membacakan Al-Quran kepada Rasulullah Saw padahal Al-Quran diturunkan kepada beliau. Pertanyaan ini disambut dengan jawaban yang menyenangkan diri Rasulullah Saw sehingga Abdullah bangga membacakan Ayat Al-Quran kepada beliau.

Orang tua dan pendidik bisa mengambil pelajaran perlunya membuka dialog dengan anak-anak, dialog merupakan langkah untuk mengakrabkan hubungan orang tua/ pendidik dengan anak.

Dialog dan Perumpamaan Membuat Anak Lebih Termotivasi

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهَرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسًا مَا تَقُولُ ذَلِكَ يُبْقِي مِنْ دَرَنِهِ قَالُوا لَا يُبْقِي مِنْ دَرَنِهِ شَيْئًا قَالَ فَذَلِكَ مِثْلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا

Dari Abu Hurairah ra, ia mendengar Rasulullah Saw bersabda: “Bagaimana pendapat kalian kalau ada sebuah sungai mengalir di depan rumah salah seorang di antara kalian, lalu setiap hari dia mandi di sungai itu sebanyak lima kali, apakah masih ada kotoran yang melekat pada tubuhnya? Para Sahabat menjawab; “Tentu tidak lagi kotoran yang melekat pada tubuhnya”. Rasulullah Saw bersabda: “Begitulah shalat lima waktu, Allah akan menghapuskan dosa-dosa dengan shalat tersebut”. (HR. Bukhari Muslim)

Dampak yang ditimbulkan dialog seperti ini akan berbeda dengan orang yang hanya menyuruh ‘Shalatlah kalian! Kalau tidak shalat kalian akan berdosa’. Metode dialog dan perumpamaan seperti ini lebih memotivasi anak untuk melakukan sebuah perbuatan, karena merasa tidak digurui bahkan dihormati dan dihargai.

 Dialog Membuat Anak Bebas Melontarkan Pendapat

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ إِنَّ فَتًى شَابًّا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ائْذَنْ لِي بِالزِّنَا فَأَقْبَلَ الْقَوْمُ عَلَيْهِ فَزَجَرُوهُ قَالُوا مَهْ مَهْ فَقَالَ ادْنُهْ فَدَنَا مِنْهُ قَرِيبًا قَالَ فَجَلَسَ قَالَ أَتُحِبُّهُ لِأُمِّكَ قَالَ لَا وَاللَّهِ جَعَلَنِي اللَّهُ فِدَاءَكَ قَالَ وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِأُمَّهَاتِهِمْ قَالَ أَفَتُحِبُّهُ لِابْنَتِكَ قَالَ لَا وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ جَعَلَنِي اللَّهُ فِدَاءَكَ قَالَ وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِبَنَاتِهِمْ قَالَ أَفَتُحِبُّهُ لِأُخْتِكَ قَالَ لَا وَاللَّهِ جَعَلَنِي اللَّهُ فِدَاءَكَ قَالَ وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِأَخَوَاتِهِمْ قَالَ أَفَتُحِبُّهُ لِعَمَّتِكَ قَالَ لَا وَاللَّهِ جَعَلَنِي اللَّهُ فِدَاءَكَ قَالَ وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِعَمَّاتِهِمْ قَالَ أَفَتُحِبُّهُ لِخَالَتِكَ قَالَ لَا وَاللَّهِ جَعَلَنِي اللَّهُ فِدَاءَكَ قَالَ وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِخَالَاتِهِمْ قَالَ فَوَضَعَ يَدَهُ عَلَيْهِ وَقَالَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ ذَنْبَهُ وَطَهِّرْ قَلْبَهُ وَحَصِّنْ فَرْجَهُ فَلَمْ يَكُنْ بَعْدُ ذَلِكَ الْفَتَى يَلْتَفِتُ إِلَى شَيْءٍ

Dari Abu Umamah ra menceritakan bahwa seorang pemuda telah datang menghadap Nabi Saw seraya berkata, “Wahai Rasulullah, izinkanlah aku berzina” Orang-orang yang ada di sekitarnya menghampiri dan memaki “celaka engkau, celaka engkau, celaka engkau”. Rasulullah saw mendekati pemuda itu dan duduk di sampingnya. Kemudian terjadilah dialog yang panjang antara Rasulullahj saw dengan pemuda itu:

Rasulullah Saw: “Apakah engkau ingin hal itu (zina) terjadi pada ibumu?

Pemuda: “Sekali-kali tidak. Demi Allah yang menjadikan saya sebagai tebusan Tuan”

Rasulullah Saw: “Begitu pula orang lain, tidak ingin hal itu terjadi pada ibu mereka. Apakah engkau ingin hal itu terjadi pada saudara perempuanmu?

Pemuda: “Sekali-kali tidak. Demi Allah yang menjadikan saya sebagai tebusan Tuan”

Rasulullah Saw: “Begitu pula orang lain, tidak ingin hal itu terjadi pada saudari-saudari mereka. Apakah engkau ingin hal itu terjadi pada saudara perempuan bapakmu?

Pemuda: “Sekali-kali tidak. Demi Allah yang menjadikan saya sebagai tebusan Tuan”

Rasulullah Saw: “Begitu pula orang lain, tidak ingin hal itu terjadi pada saudara perempuan bapak mereka. Apakah engkau ingin hal itu terjadi pada saudara perempuan ibumu?

Pemuda: “Sekali-kali tidak. Demi Allah yang menjadikan saya sebagai tebusan Tuan”

Rasulullah Saw: “Begitu pula orang lain, tidak ingin hal itu terjadi pada saudara perempuan ibu mereka.

Kemudian Rasulullah Saw memegang dada pemuda itu seraya berdoa “Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya, dan peliharalah kemaluannya!” Setelah peristiwa itu, pemuda tadi menjadi orang yang arif. (HR. Ahmad no 21185)

Perhatikan bagaimana Rasulullah Saw menyadarkan pemuda tersebut tentang tercelanya perbuatan zina dengan menggunakan metode dialog. Rasulullah Saw mengajak pemuda itu memposisikan dirinya sebagai seseorang yang paling dekat dengan objek perbuatan zina itu. Bagaimana kalau dia adalah putra dari seorang yang dizinahi, atau ayah dari seorang yang dizinahi atau saudara kandung yang dizinahi.

Dengan cara ini pemuda tersebut langsung sadar bahwa kalau dia sendiri merasa marah dan tidak rela kalau ibu, putri, saudari atau bibi dizinahi maka demikian juga dengan orang lain. Mereka jelas tidak akan terima kalau orang yang mereka cintai menjadi alat pemuas nafsu.

Pada hadits di atas, Rasulullah Saw menunjukkan contoh menjadi pendidik yang baik. Beliau tidak marah dengan pertanyaan pemuda, kemudian beliau tidak marah seperti sahabat yang lain dan meminta si pemuda duduk dekat dengan beliau. Ini merupakan langkah awal yang baik untuk memecahkan masalah si pemuda. Kemudian beliau menggunakan metode dialog sehingga anak dapat melontarkan pendapatnya dengan bebas.

Dialog Yang Memotivasi untuk Beribadah

Dari Abu Hurairah  ra ia berkata, Rasulullah saw bersabda :

         مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ صَائِمًا قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَا قَالَ فَمَنْ تَبِعَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ جَنَازَةً قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَا قَالَ فَمَنْ أَطْعَمَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ مِسْكِينًا قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَا قَالَ فَمَنْ عَادَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ مَرِيضًا قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا اجْتَمَعْنَ فِي امْرِئٍ إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Siapakah di antara kalian yang pagi ini sedang berpuasa?”. Abu Bakar menjawab : “Aku.” Beliau bertanya lagi: “Siapa di antara kalian yang hari ini telah mengantarkan jenazah?” Abu Bakar menjawab: “Aku.” Beliau bertanya lagi: “Siapa di antara kalian yang hari ini telah memberi makan orang miskin?” Abu Bakar menjawab: “Aku.” Beliau bertanya lagi: “Siapa di antara kalian yang hari ini telah menjenguk orang sakit?”. Abu Bakar menjawab : “Aku.” Selanjutnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah semua itu ada pada seseorang kecuali dia pasti akan masuk surga.” ( HR. Muslim : 1707 )

Hadits di atas memberikan pelajaran hendaknya seorang muslim berusaha mengumpulkan di dalam dirinya  amalan-amalan pribadi dan amalan-amalan sosial yang bermanfaat bagi orang banyak. Dan hendaknya lebih memperbanyak amalan sosialnya, sebagaimana yang dilakukan oleh Abu Bakar ash-Shiddiq ra.

Dengan Teknik dialog seperti Nabi di atas bisa memotivasi anak untuk melakukan amalan amalan utama.

Demikian, semoga bermanfaat. Kami tunggu komentarnya di kolom yang sudah disediakan.

Referensi:

  • Metode Rasulullah Saw dalam Mendidik oleh Yendri Junaidi, MA
  • Tarbiyah Rasulullah, Najib Khalid Al-‘Amr
  • Human Touch, Dr. Muhammad Muhammad Badri

 

 

 

Menaklukkan Jiwa Untuk Taat


sabarsolattenang-660x375Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya). (Qs. An-Naziat: 37-41)

Allah membagi manusia menjadi dua golongan.

  1. Mengutamakan kehidupan dunia dan melampaui batas> neraka
  2. Takut kepada Allah dan menahan nafsu > surga.

Ayat ini memberikan perbandingan antara orang yang mampu menahan nafsu dan orang yang tidak bisa menahan nafsunya.

Manusia diciptakan untuk beribadah. Siapa yang tidak bisa menguasai nafsu atau tubuhnya sendiri, seperti seorang driver yang menguasai kendaraan, itulah orang yang menang. Maka tubuh, harta dan apa saja yang kita miliki menjadi kendaraan untuk beribadah kepada Allah.

Dan orang yang melampaui batas adalah kebalikannya, yang menjadikan tubuhnya sebagai driver, keinginan dirinya menjadi skala prioritas. Maka hendaknya selalu diingat, ketika berbuat sesuatu selalu menanyakan kepada diri, saya bergerak ini siapakah yang menggerakkan, apakah nafsu fujur saya atau nafsu taqwa saya?

Mari kita potret diri kita. Sudahkah kita memerdekakan penilaian manusia kepada penilaian Allah saja. Ikatlah penilaian kita kepada penilaian Allah Swt. Penilaian manusia bersifat fluktuatif, besok jadi teman bisa jadi besoknya lagi jadi musuh.

Mengikat penilaian kepada Allah, anda akan tetap mulia di mata manusia yang baik. Dengan memprioritaskan akhirat anda akan tetap bisa hidup enak, karena dalam mencari akhirat kita harus kaya  untuk bisa beribadah seperti menutup aurat, ibadah zakat, haji dan shadaqah. Maka salah anggapan bahwa mencari ridha Allah akan menjadi susah.

Manusia di akhirat akan menghayal jika sekiranya menjadi debu/tanah (akhir ayat surat An-Naba’) padahal di dunia terkenal, cantik dan kaya. Demikian gambaran manusia yang melampaui batas di akhirat, lebih memilih menjadi tanah daripada di siksa dan dibakar di neraka.

Jadilah mutiara di mata Allah walau menjadi debu di mata manusia. Kenapa menjadi debu di mata manusia? Karena jika anda menjadi mutiara di mata Allah anda akan menjadi manusia yang baik dimata orang yang baik.

Allah Swt banyak memberikan gambaran bagaimana gunung dan batu lebih baik dari hati manusia padahal mereka bukan mukallaf atau tidak diperintah dan dilarang dan mereka tidak masuk surga dan neraka. Batu, gunung dan lainnya takut kepada Allah karena keagungan Allah.

Sebagaimana firman Allah Swt berikut:

“Dan guruh itu bertasbih dengan memuji Allah, (demikian pula) para malaikat karena takut kepada-Nya, dan Allah melepaskan halilintar, lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan mereka berbantah-bantahan tentang Allah, dan Dialah Tuhan Yang Maha keras siksa-Nya.” (Qs. Ar-Ra’du: 13)

Guruh dalam ayat ini takut kepada Allah, apakah dia mukallaf (dibebani hukum Islam), apakah dia masuk surga atau neraka? lalu kenapa dia takut?

“Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir” (Qs. Al-Hasyr: 21)

Gunung, makhluk terbesar di dunia, takut kepada Allah sementara manusia yang lebih kecil dan lebih lemah dari gunung tidak takut kepada Allah Swt. Gunung pun bukan mukallaf dan tidak masuk surga atau neraka, tetapi dia takut kepada Allah, takutnya adalah karena keagungan Allah Swt.

Orang yang tidak merasa takut dengan keagungan Allah Swt pasti tidak bisa menahan nafsunya. Nafsu disini bukan hanya berbuat maksiat seperti zina, contoh yang kecil saja seperti shalat cepat cepat.

Siapakah yang pertama kali kita hadapi dalam menaklukkan jiwa? nomor satu adalah diri kita sendiri. Maka dalam kesabaran yang pertama adalah kesabaran dalam menegakkan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah, selanjutnya bersabar dari kesengsaraan.

Allah Swt berfirman:

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.”  (Qs. Al-Kahfi: 28)

Ayat ini menjelaskan bahwa Nabi Muhammad Saw juga manusia, dia juga bisa tidak bisa bersabar dalam keadaan gundah seperti yang lain. Juga menjelaskan pentingnya set up lingkungan agar terus menjadi baik. Nabi yang ma’shum saja diminta agar bergaul dengan orang yang baik apalagi kita. Mata kita pun harus terus bersama orang orang yang baik dan jangan tertipu dengan gemerlapnya dunia.

Hidup adalah ujian, agar tidak salah langkah harus menyebut nama Allah terlebih dahulu dalam segala aktifitas kita. Kenapa dalam banyak ayat disebutkan perintah untuk berdzikir, menyebut nama Allah dalam keadaan, berdiri, duduk dan berbaring? Karena dalam sebuah hadits disebutkan bahwa dalam hati manusia terdapat dua pintu, pintu yang dimasuki syetan dan pintu yang dimasuki malaikat. Jika manusia berdzikir maka syetan akan minggir dan malaikat masuk, kalau tidak berdzikir syetan akan masuk.

Dalam hadits yang lain disebutkan bahwa orang yang berdzikir dan orang yang tidak berdzikir seperti orang mati dan hidup.

Hadits yang lain, orang yang tidak berdzikir laksana orang yang diserang musuh, kemudian ketika dia berdzikir laksana dia masuk ke dalam benteng, dimana musuh tidak bisa menyentuhnya.

Maka maksud dari ‘selalu bersama orang yang berzikir’ bukan hanya secara fisik saja, tetapi setelah selesai perkumpulan kita tetap terus berdzikir mengingat Allah Swt. Ketika membiasakan diri untuk berdzikir ketika berdiri, duduk dan berbaring, sebenarnya kita sedang menghadapi diri sendiri, seperti ketika muncul suatu ide, benturan terjadi dalam diri, jika berjalan anda menang, jika tidak anda kalah dengan diri sendiri.

Tidak ada orang yang tidak ingin masuk surga, dan orang yang masuk surga sudah terpola dia bisa menaklukkan diri sendiri. Contohnya, shalat Tahajjud adalah bentuk peperangan terbesar terhadap diri sendiri.

Allah Swt berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam taman-taman (surga) dan mata air-mata air, sambil menerima segala pemberian Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar.Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.” (Qs. Adz-Dzariyat 15-20)

Ayat di atas menunjukkan life style/ pola hidup penghuni surga.

  1. Produktif ketika di dunia
  2. Sedikit tidur, melawan nafsu untuk beribadah, dia sudah terbiasa bangun sebelum shalat subuh. Lebih cinta kepada Allah daripada tubuhnya, shalat dan mengharap ampunan Allah.
  3. Memohon ampun kepada Allah sebelum subuh.
  4. Growth mindset, dengan banyak meminta ampun kepada Allah.
  5. Menyayangi orang miskin

*Resume Kajian Akhlak 06 Maret 2017 di Masjid Raya Pondok Indah

%d bloggers like this: