• Selamat datang di blog Jumal Ahmad. Saya sedang meneliti tentang Meta-Level Reflection dalam Pembangunan Karakter. Semoga dimudahkan dan bermanfaat.

  • Categories

Stop Kriminalisasi Ulama


Akhir-akhir ini banyak sekali kasus atau desain kasus yang menjadikan ummat Islam sebagai target pihak yang bersalah. Fenomena seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya. Hal ini paling tidak bermula dari kasus penistaan agama yang dilakukan oleh seorang pejabat publik. 

Tidak seperti biasanya, tahun-tahun sebelumnya, setiap kasus penistaan agama selalu diproses dengan benar sesuai dengan kontak hukum yang berlaku di negeri ini. Namun, untuk kasus yang satu ini bergolong istimewa dan luar biasa. Tidak seperti biasanya, pihak kepolisian begitu cekatan menyelesaikan setiap kasus penistaan agama.

Mensikapi hal ini umat Islam menuntut keadilan hingga mengerahkan jutaan kaum muslim di berbagai daerah yang puncaknya terkenal dengan aksi 411 dan aksi super damain 212. Tujuan dari semua aksi ini hanya satu umat Islam menghendaki sang penista dihukum. 

Proses persidangan hingga kini masih terus berlangsung, berbagai pihak pun diminta keterangan terkait dengan kasus penistaan agama. Mereka dimintai keterangan sebagai saksi, sebagai terlapor atas kasus penistaan agama. 

Kasus yang awalnya hanya menuntut keadlian sang penista keyakinan untuk dihukum itu, kini telah digoreng hingga aromanya kemana-mana. 

Namun anehnya yang menjadi sasaran justru umat Islam, aktivis-aktivis ormas Islam dan ulama-ulamanya. Seolah-olah mereka-mereka inilah yang menjadi biang dari semua persoalan yang kini tengah menjadi perhatian publik.

Dalam berbagai kesempatan dan persidangan, seolah-olah saksi terlapor yang menjadi penyebab berkembangnya tuntutan masa secara masif untuk menyelesaikan kasus penistaan agama. 

Tak tanggung-tanggung, seorang ulama kharismatik, yang sangat dihormati, sebagai saksi ahli dalam urusan penistaan agama pun dikriminalisasi. Diancam telah melakukan persaksian palsu, memberikan keterangan bohong, akan dipolisikan. Namun, Allah tidak tidur, Allah tahu siapa yang benar dan siapa yang salah. 

Pernyataan tersebut justru menimbulkan reaksi yang tidak simpati terhadap sang pesakitan, opini balik justru menyerangnya.
Berbagai tokoh yang mengawal kasus penistaan agama ini pun tak luput dari jeratan hukum. 

Mereka mengkritisi atas kinerja pemerintah dan aparat kepolisian yang sedang menangani kasus ini. Ada ketidak adilan, ada ketidakjelasan hukum, hukum tumpul atas, tajam ke bawah, begitulah ungkapan yang sering dikemukakan untuk menilai penegakan hukum di negeri ini.

Negara telah bersikap represif terhadap orang-orang yang mengkritiknya, khususnya pada aktivis islam, ulama umat Islam. Seolah-olah mereka telah menjadikan ummat Islam sebagai musuh, pihak tertuduh.

 Padahal andil ulama, umat Islam begitu besar atas berdirinya negeri ini. Bahkan muncul keinginan untuk sertifikasi ulama. Tujuannya bisa ditebak, jelas agar para ulama tersebut mengikuti kemauan penguasa dalam khutbahnya. 

Siapakah yang berwenang menerbitkan sertifikat? Apakah kemenag? Padahal mereka sendiri belum disertifikasi, bagaimana mungkin mereka akan melakukan sertifikasi?

Ulama/khotib/mubalig bukanlah sebuah profesi atau pekerjaan, sehingga harus disertifikasi. 
Ulama/mubalig adalah juru dakwah yang melakukan amar ma’ruf nahi mungkar. Jika ada ulama saja yang menasehati, mereka masih berani berbuat mendholomi rakyat, lalu bagaimana jadi jika tidak ada lagi ulama yang menasehati mereka?

Padahal para ulama tesebut, kalau dipikir-pikir apa kesalahan mereka sehingga layak dikriminalisasi? 

Mereka tidak mengkorupsi uang negara, mereka tidak menjual aset negara, mereka juga tidak pernah menyerahkan pengelolaan sumber daya alam ke negara-negara asing atau aseng. 

Para ulama atau aktivis ormas Islam tersebut tidak pernah ikut membikin undang-undang. Mereka semua tidak pernah terlibat dalam kasus seperti itu yang telah menyebabkan hutang negara menggunung yang harus ditanggung oleh anak cucu hingga tujuh turunan ini.

Sementara itu para politiikus, para pembuat kebijakan yang telah menyerahkan pengelolaan negeri ini kepada asing, malah bebas melenggang. Mereka nyaris tak terdengar suaranya, seolah-olah mereka menyetujui, telah bersepakat terhadap kebijakan tersebut.

Sementara orang-orang yang melakukan koreksi, yang melakukan kritik terhadap kebijakan negara dihadapi sebagai pihak yang menentang. 

Lalu dimana letak perjuangan mereka terhadap kepentingan rakyat? Bukankah dulu saat mereka ingin berkuasa sangat mendambakan dukungan suara mereka. Habis manis sepah dibuang. Rakyat hanya dimanfaatkan sebagai pendulang suara, hanya dimanfaatkan saat dibutuhkan.

Saatnya umat Islam cerdas, jika kekuatan yang mayoritas ini bersatu atau disatukan tentu akan membuat negeri ini kuat juga, memiliki nyali di hadapan negeri lain. Bukan dijadikan sapi perah atas negara lain.

Upaya kriminalisasi ini merupakan bagian dari proxy war, politik adu domba, satu pihak ditekan, pihak lain didukung. Umat Islam harus menyadari hal ini, persatuan dan kesatuan harus tetap dijaga. Karena jika umat Islam berperang, antar sesama mereka justru inilah yang mereka kehendaki.

Ulama adalah sosok mulia karena merupakan pewaris para nabi. Rasulullah saw. bersabda:
Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Mereka mewariskan ilmu. Siapa saja yang mengambil ilmu berarti telah mengambil bagian yang banyak lagi sempurna (HR Abu Dawud).

Sebagai pewaris nabi, kemuliaan para ulama adalah karena mereka menempuh jalan sebagaimana Rasulullah saw.; tak kenal lelah membacakan ayat-ayat-Nya dan menyebarluaskannya di tengah-tengah manusia. Mereka pantang menyerah meskipun harus menghadapi beragam risiko.

Jika ingin negeri ini jaya, makmur sejahtera mulyakan ulama.

#SaveUlama

#SaveIndonesia 

Kirim Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: