Doa Menghindari Banjir


Tiga hari terus menerus kota Jakarta diliputi hujan lebat, hampir jarang sang matahari menampakkan sinarnya. Dalam keadaan seperti ini manusia sering panik dan menyalahkan alam dan kondisi banjir. 

Hujan adalah nikmat dan anugerah yang diturunkan Allah swt. Turunnya hujan memberikan kehidupan bagi manusia, hewan dan tumbuhan, jika hujan tidak turun akan menghancurkan kehidupan. 

Islam telah mengajarkan kepada kita bentuk bentuk doa ketika ada hujan, setelah hujan dan doa ketika ada hujan lebat atau banjir. 


Doa Ketika Ada Hujan

Dari Aisyah ra bahwa Rasulullah saw jika turun hujan berdoa:

 ” اللهم صيـباً نافعاً ”

ALLAHUMMA SHAYYIBAN NAAFI’AN

“Ya Allah jadikanlah hujan ini bermanfaat” (HR Bukhari) 
Dalam riwayat Muslim disunnahkan juga menyebut hujan dengan ‘Rahmat‘. 
Dari Aisyah ra bahwa Nabi saw ketika turun hujan mengatakan: 

“رحمة ”

“RAHMAT” (HR Muslim) 

Membaca doa ini semoga bisa menghindarkan bahaya bagi orang lain menjadi manfaat dan rahmat, selain pahala sunnah yang didapat dari membaca doa ini. 


Doa Setelah Turun Hujan

Dari Zaid bin Khalid Al-Juhni ra berkata: Rasulullah saw shalat subuh bersama kami di Hudaibiyah ketika akhir malam dan turun hujan, setelah selesai Beliau menemui manusia dan mengatakan, “Apakah kalian tahu apa yang telah difirmankan Tuhan kalian?” Mereka para Sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui”. Nabi bersabda: “Ada segolongan dari hamba-Ku yang beriman kepada-Ku dan melakukan kekafiran. Adapun orang yang mengatakan:

مُطِرنا بفضل الله ورحمته

MUTHIRNAA BI FADHLILLAHI WA RAHMATIHI

‘telah turun hujan karena keutamaan dan rahmat Allah’, dia telah beriman kepada-Ku dan kafir kepada prakiraan bintang . Adapun yang mengatakan, “Turun hujan karena begini dan begini”  dia kafir kepada-Ku dan beriman kepada perkiraan bintang” (HR Bukhari Muslim) 

Orang Arab jahiliyah ketika turun hujan sering mengkaitkan dengan ramalan bintang. Ketika Islam datang, menghapus keyakinan ini dan menyandarkan hujan kepada Allah bukan karena bintang ini jatuh atau sebab lain. 

Meskipun ini ada di masa Jahiliyah Islam, tetapi peringatan ini juga untuk manusia modern seperti sekarang, dimana banyak yang mengkaitkan fenomena alam seperti hujan bukan kepada Allah tetapi kepada selain-Nya. 


Doa Agar Terhindar Dari Banjir

Ada sebuah hadits yang menyebutkan tentang doa untuk menghindarkan sebuah wilayah dari banjir.

Dari sahabat Anas bin Malik ra, beliau menceritakan, bahwa pernah terjadi musim kering selama setahun di masa Nabi saw. sampai akhirnya datang suatu hari jumat, ketika Nabi saw dan para sahabat jumatan. Anas mengatakan: Ada seseorang yang masuk masjid dari pintu tepat depan mimbar pada hari jum’at. 

Sementara Rasulullah saw ketika itu sedang berdiri berkhutbah. Kemudian dia menghadap ke arah Nabi saw dengan berdiri dan mengatakan, ‘Ya Rasulullah, ternak pada mati, tanah becah tidak bisa dilewati, karena itu berdoalah kepada Allah agar Dia menurukan hujan untuk kami.’ Spontan Nabi saw mengangkat tangan beliau, dan membaca doa:

اللَّهُمَّ اسْقِنَا، اللَّهُمَّ اسْقِنَا، اللَّهُمَّ اسْقِنَا

ALLAHUMA ASQINAA, ALLAHUMMA ASQINAA ALLAHUMMA ASQINAA

“Ya Allah, berilah kami hujan…, Ya Allah, berilah kami hujan.., Ya Allah, berilah kami hujan.”
Anas melanjutkan kisahnya: Demi Allah, sebelumnya kami tidak melihat ada mendung di atas, tidak pula awan tipis, langit sangat cerah. Tidak ada penghalang antara kami dengan bukit Sal’. Namun tiba-tiba muncul dari belakangnya awan mendung seperti perisai. Ketika mendung sudah persis di atas kita, turun hujan.

Anas menegaskan, “Demi Allah, kami tidak melihat matahari selama 6 hari.” Kemudian pada hari jumatnya, datang seseorang dari pintu yang sama, ketika Rasulullah saw berdiri menyampaikan khutbah. Dia menghadap Nabi saw sambil berdiri. Dia mengatakan, ‘Ya Rasulullah, banyak ternak yang mati, dan jalan terputus. Karena itu, berdoalah kepada Allah agar Dia menahan hujan.’ Kemudian Nabi saw mengangkat kedua tangannya, dan berdoa,
اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا، وَلاَ عَلَيْنَا، اللَّهُمَّ عَلَى الآكَامِ وَالجِبَالِ وَالظِّرَابِ وَبُطُونِ الأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ

ALLAHUMMA HAWAALAINA WA LAA ’ALAINA. ALLAHUMMA ’ALAL AAKAMI WAL JIBAALI, WAZH ZHIROOBI, WA BUTHUNIL AWDIYATI, WA MANAABITISY SYAJARI


“Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami dan tidak di atas kami. Ya Allah turunkan hujan di bukit-bukit, pegunungan, dataran tinggi, perut lembah, dan tempat tumbuhnya pepohonan.”
Tiba-tiba hujan langsung berhenti. Kami keluar masjid di bawah terik matahari. (HR. Bukhari – Muslim).



Dari hadis di atas, Rasulullah saw melantunkan doa ketika terjadi banjir, akibat terlalu sering hujan. 

Doa ini bisa anda baca dalam kondisi banjir seperti yang terjadi di ibu kota. Dengan harapan, semoga Allah tidak menimpakan hujan itu sebagai adzab, namun menjadi rahmat. Hujan itu turun di tempat yang subur dan bermanfaat bagi tanaman.

Ibnu Daqiqil Al ‘Id ketika menjelaskan hadits ini mengatakan, “Hadis ini merupakan dalil bolehnya berdoa memohon dihentikan dampak buruk hujan, sebagaimana dianjurkan untuk berdoa agar turun hujan, ketika lama tidak turun. Karena semuanya membahayakan.” (Ihkam Al-Ahkam, 1/357)

Jika doa di atas terlalu panjang, Anda bisa membaca bagian depan:
اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا، وَلاَ عَلَيْنَا

ALLAHUMMA HAWAALAINA WA LAA ‘ALAINAA

“Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami dan tidak di atas kami.”
Baca doa ini berulang-ulang. Juga dianjurkan bagi khatib untuk membaca doa ini ketika Shalat Jumat, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah saw di atas. Demikian dijelaskan Ustadz Ammi Nur Baits di situs Konsultasi Syariah.

Sementara itu, Ustadz Ahmad Sarwat, Lc, MA, menjelaskan bahwa doa ini tidak selalu relevan dengan kondisi sebuah tempat. Dalam soal ujian beliau ketika kuliah S-2 dengan dosen KH. DR. Ali Mustafa Ya’qub. MA. Soalnya kurang lebih menanyakan apakah doa Nabi saw di atas itu relevan buat orang Jakarta?

“Sebab banjir di Jakarta itu terjadi bukan semata-mata karena hujan yang turun dari atas ibu kota, tetapi justru yang dahsyat karena adanya kiriman banjir dari puncak dan Bogor. Jakarta bisa saja cerah bermandikan cahaya matahari, tetapi kiriman banjir dari arah selatan, khususnya pintu air Katulampa di Bogor sana, akan tetap jadi bencana buat Jakarta. 
Kalau doa kita seperti doa Rasulullah saw di atas itu, yaitu jangan turunkan hujan di atas Jakarta, tapi di luar kota Jakarta (baca: Puncak dan Bogor), maka Jakarta akan tetap banjir juga. 

Maka dalam memahami hadits perlu adanya ilmu fiqih, biar kita tahu duduk perkara suatu masalah. Tidak boleh begitu saja kita main copy paste teks hadits, padahal tidak relevan,” terang beliau.

Oleh karena itu, jika berdoa dengan teks doa dari Rasulullah saw tersebut, kita juga berharap agar hujan turun di wilayah lain yang tidak menyebabkan banjir lainnya.


Sumber:

http://mawdoo3.com/دعاء_نزول_المطر

Keterangan Ust Ami Nur Bais dan Ust Ahmad Sarwat di Internet

Kirim Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: