• Selamat datang di blog Jumal Ahmad. Saya sedang meneliti tentang Meta-Level Reflection dalam Pembangunan Karakter. Semoga dimudahkan dan bermanfaat.

  • Categories

Anak Tongkol


​Begitu mudahnya kita menyebutkan kata kata kotor dalam sehari hari, dan lupa bahwa di sekitar kita ada anak anak yang dengan mudah meniru kata kata kita. 

Hindari kata kata senonoh, kotor dan keji. Sebab setiap kali kita berbicara kotor layout wajah bisa mendadak berubah menjadi buruk. 
Menurut suatu penelitian, untuk sebuah senyuman dibutuhkan tujuh belas tarikan otot wajah. Jika wajah cemberut, marah dan masam, kita memerlukan tiga pulih dua tarikan otot. 

Firman Allah Swt “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaaf [50] : 18).

 Pengalaman kemarin ketika melintasi daerah bundaran HI, ada seorang penjual mainan yang menawarkan dagangan kepada pengendara motor, si pengendara tidak mau dan si penjual mainan mengeluarkan kata-kata kasar k*nt*l, otomatis orang ini turun dari motor dan memarahi si penjual. 

Video Jokowi dan anak SD yang salah menyebut nama ikan, juga membuat miris dan mesti menjadi acuan bahwa pendidikan akhlak kita masih rendah. 

Bisa jadi anak ini menderita disleksia yaitu kesulitan mengidentifikasi bagaimana suatu huruf berubah menjadi kata atau kalimat dan sebaliknya.

Tapi tak bisa dipungkiri ini pun karena lingkungan yang kurang bagus, tidak ada filter menjaga kata yang harus didengar anak anak. 

Banyak sekali hadits yang menerangkan bahwa lisan itu sangat berbahaya. Seperti hadits berikut: Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya ia mendengar Nabi s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba itu berbicara dengan suatu perkataan yang tidak ia fikirkan -baik atau buruknya-, maka dengan sebab perkataannya itu ia dapat tergelincir ke neraka yang jaraknya lebih jauh daripada jarak antara sudut timur dan sudut barat.” (Muttafaq ‘Alaih) 

Betapa bahaya lisan yang tidak terjaga dari perkataan yang buruk berupa umpatan, celaan, ghibah atau fitnah. 

Menurut Imam Al Ghazali, akhlak itu adalah respon spontan terhadap suatu kejadian. Kalau respon spontan yang keluar adalah kata-kata yang baik, mulia, maka dalam dirinya ada kemuliaan.

Sebaliknya kalau sedang tenang, tiba-tiba terjadi sesuatu pada diri kita, misalnya sandal hilang, atau ada orang yang menyenggol, mendengar bunyi klakson yang nyaring dan keluar sumpah serapah dari mulut, maka lemparan yang keluar sebagai respon spontan itulah yang akan menunjukkan bagaimana akhlak kita. 

Ingatlah bahwa setiap anggota tubuh akan menanggung konsekuensi dari apa yang dilakukannya di dunia, tidak terkecuali mulut kita. Bagi sebagian orang yang masih menganggap bahwa kata “*nj*ng” dan “g*bl*g” dan “*k*nt*l”sebagai hal yang lumrah dan sepele, perhatikan firman Allah “Kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar.” (QS. An Nur [24] : 15).

Mari kita ganti ucapan-ucapan kotor itu dengan dzikrullah. Ucapan yang ringan namun mampu menambah timbangan amal kita untuk bekal di akhirat kelak. [] 

Kirim Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: