• Selamat datang di blog Jumal Ahmad. Saya sedang meneliti tentang Meta-Level Reflection dalam Pembangunan Karakter. Semoga dimudahkan dan bermanfaat.

  • Categories

Menghormati Ulama


Tidaklah seorang merendahkan Ulama, Ustadz, dan penuntut ilmu lainnya melainkan karena dirinya tidak pernah merasakan kesungguhan, kelelahan, dan kepayahan dalam mencari, mengumpulkan, dan mengajarkan ilmu itu. 


Atau, mungkin dia pun merasakan hal demikian. Namun sayangnya keberkahan dari upaya kerja kerasnya itu hilang. Hingga yang tersisa pada dirinya adalah kesombongan dan keinginan kuat mengejar syahwat dunia. 

Al-Imam Ibnu Al-Mubarak rahimahullah berkata:

      حَقٌّ عَلَى اْلعَاقِلِ أَنْ لَا يَسْتَخِفَّ بِثَلَاثِةٍ: اْلعُلَمَاءِ وَ السَّلَاطِيْنِ وَ اْلإِخْوَانِ فَإِنَّهُ مَنِ اسْتَخَفَّ بِاْلعُلَمَاءِ ذَهَبَتْ آخِرَتُهُ وَ مَنِ اسْتَخَفَّ بِالسُّلْطَانِ ذَهَبَتْ دُنْيَاهُ وَ مَنِ اسْتَخَفَّ بِاْلإِخْوَانِ ذَهَبَتْ مُرُوْءَتُهُ

“Keharusan bagi seorang yang berakal untuk tidak meremehkan tiga orang; Ulama, penguasa dan saudara (muslimnya). Siapa yang meremehkan ulama, hancurlah akhiratnya. Siapa meremehkan penguasa hancurlah dunianya. Dan siapa yang meremehkan saudaranya, hilanglah muru’ahnya”. (Adz-Dzahabi, Siyar A’lam An-Nubala 17/251).

Perhatikan ungkapan indah Imam Muhammad bin Al-Husain, sebagaimana dikutip Imam Al-Ajurri dalam kitabnya “Akhlaqul Ulama” hlm. 41. Beliau ingin menyadarkan kita bagaimana keberkahan waktu-waktu yang dihabiskan oleh para Ulama, Ustadz, dan penuntut ilmu, dalam belajar, mengumpulkan, serta mengajarkan ilmu itu.

Beliau berkata: 
أخلاق العلماء للآجري (ص: 41)

«فَالْعُلَمَاءُ،  فِي كُلِّ حَالٍ , لَهُمْ فَضْلٌ عَظِيمٌ فِي خُرُوجِهِمْ لِطَلَبِ الْعِلْمِ , وَفِي مُجَالَسَتِهِمْ لَهُمْ فِيهِ فَضْلٌ , وَفِي مُذَاكَرَةِ بَعْضِهِمْ لِبَعْضٍ لَهُمْ فِيهِ فَضْلٌ , وَفِيمَنْ تَعَلَّمُوا مِنْهُ الْعِلْمَ لَهُمْ فِيهِ فَضْلٌ , وَفِيمَنْ عَلَّمُوهُ الْعِلْمَ لَهُمْ فِيهِ فَضْلٌ , فَقَدْ جَمَعَ اللَّهُ لِلْعُلَمَاءِ الْخَيْرَ مِنْ جِهَاتٍ كَثِيرَةٍ , نَفَعَنَا اللَّهُ وَإِيَّاهُمْ بِالْعِلْمِ»

“Dalam seluruh keadaan mereka, para ulama memiliki keutamaan yang sangat besar. Dalam usaha mereka keluar menuntut ilmu, terdapat keutamaan. Ketika bersama dengan para Syaikhnya terdapat keutamaan. Ketika mereka saling mengingatkan (akan ilmu) satu sama lain, terdapat keutamaan. Dalam diri para ulama yang menjadi guru mereka, terdapat keutamaan. Dan dalam diri orang-orang yang mereka ajarkan ilmu, terdapat keutamaan. Sungguh, Allah telah mengumpulkan kebaikan kepada para ulama dalam banyak hal. Mudah-mudahan Allah memberi manfaat kepada kita dan mereka dengan ilmu”. (Al-Ajurri, Akhlaqul Ulama, hlm. 41, Al-Maktabah Asy-Syamilah).

Di halaman yang lain Imam Al-Ajurri  mengajarkan kita bagaimana sifat para ulama dalam menuntut ilmu:

أخلاق العلماء للآجري (ص: 40)

“أن يعلم أن الله عز وجل فرض عليه عبادته، والعبادة لا تكون بعلم،  وعلم أن العلم فريضة عليه، وعلم أن المؤمن لا يحسن به الجهل، فطلب العلم ليمفي عن نفسه الجهل، واليعبد الله كما أمره، ليس كما تهوى نفسه. فكان هذا مراده في السعي في طلب العلم، معتقدا للإخلاص في سعيه، لايرى لنفسه الفضل في سعيه، بل يرى الله عز وجل الفضل عليه، إذا وفقه لطلب علم ما يعبده به من أداء فراضه، واتناب محارمه”

“Allah mewajibkan beribadah, dan ibadah tidak akan benar kecuali dengan ilmu, maka menuntut ilmu menjadi kewajiban. Seorang mukmin tidak boleh bodoh, maka ia menuntut ilmu untuk menghilangkan kebodohannya, agar menyembah Allah sesuai perintah bukan karena hawa nafsu. Inilah tujuannya menuntut ilmu, ikhlas dan tidak melihat diri memiliki keutamaan tetapi Allah lah zat pemilik keutamaan. Jika difaqihkan untuk menuntu ilmu, sebagai bentuk ibadah, melaksanakan perintah dan menjauhi larangan” (Al-Ajurri, Akhlaqul Ulama, hlm. 40, Al-Maktabah Asy-Syamilah).

Ulama, ustadz dan penuntut ilmu mereka juga manusia yang bisa terjerumus pada kesalahan, dan sebaik orang yang melakukan kesalahan adalah mereka yang bertaubat. Hendaknya kesalahan mereka tidak mengurangi sedikitpun rasa hormat terhadap ilmu mereka. 

Mari simak perkataan Ibnu Rajab berikut: “Allah Ta’ala enggan memberikan kemaksuman untuk kitab selain kitabNya. Orang yang adil adalah orang yang memaafkan kesalahan orang lain yang sedikit karena banyak kebenaran yang ada padanya”

Sa’id bin Al-Musayyab berkata, “Seorang ulama, orang yang mulia, atau orang yang memiliki keutamaan tidak akan luput dari kesalahan. Akan tetapi, barangsiapa yang keutamaannya lebih banyak dari kekurangannya, maka kekurangannya itu akan tertutup oleh keutamaannya. Sebaliknya, orang yang kekurangannya mendominasi, maka keutamaannya pun akan tertutupi oleh kesalahannya itu”

Abdullah bin Al Mubaraak berkata,”Apabila kebaikan seorang lebih menonjol daripada kejelekannya maka kejelekannya tidak perlu disebutkan. Sebaliknya, apabila kejelekan seseorang lebih menonjol daripada kebaikannya maka kebaikannya tidak perlu disebutkan” 

Maka, mari hormati ulama sebagai pewaris nabi

Hormati ulama sebagai penyambung lisan nabi

Hormati ulama yang mengajarkan kita mengenal Allah

Hormati ulama yang mengajarkan kita membaca kitab Allah

Hormati ulama yang ikhlas tanpa pamrih membimbing umat… [] 

Kirim Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: