• Selamat datang di blog Jumal Ahmad. Saya sedang meneliti tentang Meta-Level Reflection dalam Pembangunan Karakter. Semoga dimudahkan dan bermanfaat.

  • Categories

Sibawaih


Beberapa waktu yang lalu saya menulis tentang Quthrub, dia ahli nahwu dan murid dari Sibawaih. Melengkapi pengetahuan kita tentang para ulama dalam bidang Nahwu, saya mencoba menulis tentang Sibawaih. Jika dalam ilmu Fiqih kita mendengar nama Malik, Hanafi, Syafi’i dan Ahmad, maka dalam Nahwu ada Sibawaih sebagai panglima tertinggi dalam Ilmu Nahwu. 

Sibawaih adalah nama panggilan untuk Amru bin Utsman Al-Harits Abu Basyar. Sibawaih artinya ‘aroma apel’. Diriwayatkan bahwa ketika beliau lahir, aroma apel semerbak di kamar tempat beliau lahir. Ada juga yang mengatakan tubuh Sibawaih selalu mengeluarkan aroma apel. Sejak itu dia dijuluki Sibawaih

Pada suatu hari, Sibawaih menerima keterangan hadits dari gurunya, Hammad yang berbunyi : 

لَيْسَ مِنْ أَصْحَابِى إِلاَّ مَنْ لَوْ شِئْتَ لأَخَذْتُ عَلَيْهِ لَيْسَ أَنَا الدَّرْدَاءِ

Sibawaih langsung menyanggah sambil berkata :

لَيْسَ أَبُوْ الدَّرْدَاءِ

Dia menduga lafazh Abu Darda adalah isim laisa. Gurunya langsung menimpali: kamu salah wahai Sibawaih. Bukan itu yang kamu maksudkan, tetapi lafazh laisa disini adalah istitsna ! Maka Sibawaih langsung berkata: “Tentu aku akan mencari ilmu, dimana aku tidak akan salah membaca.” Akhirnya Sibawaih belajar ilmu nahwu kepada Khalil sampai menjadi ilmuwan terkenal.

Cerita lain mengisahkan, bahwa suatu ketika Sibawaih bersama jama’ah lainnya sedang menulis suatu hadist nabi, sementara gurunya, Hammad sedang mendiktekan hadis mengenai kisah shafa: صعد رسول الله الصفا  (Rasulullah turun ditanah shafah). Sibawaih langsung menyanggahnya dan berkata: الصفاء . maka gurunya berkata: ahai orang Persia, jangan katakan “ ash-shafa’a”, karena kalimah ash-shafa’ah adalah isim maqshur.” Ketika pengajian selesai, Sibawaih langsng memecahkan penanya, sembari berkata: “Aku tidak akan menulis suatu ilmu pengetahuan sampai akau dapat mematangkan dahulu dalam bidang bahasa arab”. Mungkin, hikmah dibalik dua kejadian itulah yang membuat Sibawaih sangat serius mempelajari nahwu, dan akhirnya menjadi pakar nahwu terkenal.

Kisah tentang Sibawaih yang banyak dinukil di buku sejarah adalah perdebatan Sibawaih dengan Kisa’i yang dikenal dengan Mas’lah Zumburiyah. 

Dalam perdebatan itu, Al-Kisa’i bertanya kepada Sibawaih. “Bagaimana menurutmu kalimat ini,” tanya Al-Kisa’i, “dibaca marfu’ (hiya) atau manshub (iyyaha)?” Kalimat itu adalah: qad kuntu azhunnu anna al-‘aqrab asyaddu lis’atan min az-zunbûr faidza huwa hiya. Artinya: “Aku sungguh menduga bahwa kalajengking lebih gesit sengatannya daripada ‘zunbur’, maka demikianlah adanya.” (Note: ‘zunbur’ adalah hewan semacam kumbang).

Perselisihannya adalah: menurut Al-Kisai, kata “hiya” di akhir kalimat itu bisa pula dibaca manshub, “iyyaha”. Menurut Sibawaih, itu tak bisa, harus marfu’, “hiya”. Debatnya sengit dan ‘hanya’ soal itu. Tapi siapa sangka, ternyata di akhir cerita ia menyisakan luka.

Karena debat berlarut-larut, maka kemudian Wazir Abbasiyah, Yahya ibn Khalid al-Barmaki, menginterupsi di tengah perdebatan. “Kalian adalah penghulu dari mazhab masing-masing,” katanya, “kalau begitu terus, siapa yang pemutus perkara?

“Di dekat sini ada kabilah ‘Arab,” timpal Al-Kisa’i, “datangkanlah mereka kemari.” Maka didatangkanlah kabilah Arab itu. Kabilah Al-Huthamah namanya.

Ringkas cerita, kabilah Al-Huthamah membenarkan pendapat Al-Kisa’i. Mazhab Kufah menang. “Semoga kebaikan berada di tangan Tuan Wazir,” kata Al-Kisa’i, “agar tak pulang dengan tangan hampa, berilah Sibawaih hadiah.” Maka Sibawaih pun diberi 10 ribu dirham.

Sibawaih pulang dengan kegeraman. Ia merasa dicurangi. 

  • Pertama, bagi Mazhab Basrah, kabilah al-Huthamah itu tak layak jadi rujukan bahasa. Unsur kebaduiannya telah luntur, sebab tinggal dekat Baghdad, kota metropolis. Kearabannya tak lagi murni. Mazhab Basrah memang terkenal sangat selektif memilih kabilah Arab yang jadi sumber bahasa. Mazhab Basrah cenderung preskriptif (mi’yariyyah), sedangkan Mazhab Kufah cenderung deskriptif (washfiyyah).
  • Kedua, menurut desas-desus, sebagaimana diceritakan Ibn Hisyam dalam Mughni al-Labib, kabilah Al-Huthamah berada dalam tekanan penguasa. Mereka disuap untuk membela Kufah. Saat itu peta politik menunjukkan Basrah adalah salah satu basis oposisi Abbasiyah.

Sibawaih kembali dengan perasaan terluka. Ia merasa dipermalukan. Ia tak merasa salah. Maka ia pulang ke desanya, di kampung Syiraz. Sejak debat itu, Sibawaih tak lagi muncul di Basrah dan Baghdad.

Di kampung Syiraz, Sibawaih sakit. Tak lama kemudian ia meninggal. Sibawaih wafat muda, 36 tahun. 
Kitab monumental warisannya adalah catatan pelajarannya dari mahaguru nahwu, Khalil ibn Ahmad. Kitab itu 4 jilid, tapi belum selesai, belum ada muqaddimah-nya, dan tak punya judul. Maka kitab itu cuma diberi judul “Al-Kitab”.

Kata Al-Jahizh, pakar bahasa dari sekte Mu’tazilah, “Al-Kitab”-nya Sibawaih adalah “Qur’an”-nya Nahwu. Tidak ada kitab-kitab nahwu setelahnya kecuali pasti merujuk dan menggunakan istilah-istilah yang termaktub di “Al-Kitab”.

Di kemudian hari, murid-murid Sibawaih menulis pembelaan bagi gurunya itu. Mereka menyatakan, argumen gurunya lebih kuat. Jelas dalam al-Qur’an dikatakan: “faidza hiya hayyatun tas’a” (Tiba-tiba tongkat Musa menjadi ular besar yang mendesis). Terang di situ, kata “hayyatun” dibaca marfu’. Ini sama dengan kasus “hiya” di kalimat “zunburiyyah” tadi. 

Tak mau kalah, murid-murid Al-Kisa’i pun membuat sanggahan. Ingat, Al-Kisa’i adalah salah satu dari 7 imam Qiraat (qira’ah sab’ah). Murid-murid Al-Kisa’i pun menyanggah adanya kasus penyuapan kabilah. Menurut mereka, adanya penyuapan itu cuma iftira’ (mengada-ada).

Kisah ini banyak ternukil di kitab-kitab nahwu. Di buku sejarah, kisah ini juga termaktub di kitab “Tarikh Baghdad”, karya Al-Khathib al-Baghdadi. [] 

6 Responses

  1. Assalamu alaikum. Mas, ada pondok rekomended gak buat mahasiswa kayak saya ini yang gak bisa bahasa arab. Saya pengen sekali mendalami bahasa arab. Tp blm menemukan pondok yg pas atau sesuai. Mungkin ada beberapa pondok yg jenengan tahu yg rekomended. Syukran.

    • Waalaikum salam wr wb. Ada pondok yang dikhususkan memperdalam bahasa Arab, biasanya model pondok ini adalah pondok yang di SMA-nya ada program pesantren, istilahnya Kuliyah Muallimin misalnya seperti pesantren Gontor yg bobot diniyah lebih besar, biasanya disebut Ma’had Ali atau Pesantren Tinggi. Di Solo ada MA An-Nur, itu bagus dan di Bekasi ada MA Al-Islam, kebetulan saya alumni situ.

      Ada juga program bahasa Arab di universitas Islam. Untuk di daerah Solo ada Mahad Ali Abu Bakar. Yang masuk program ini alumni pesantren dan aliyah.

      • Di situ mahasiswa bisa masuk?

  2. Pesantren atau Pondok di atas memprioritaskan orang yang sudah punya basic bahasa Arab untuk selanjutnya dikembangkan dengan mendalami kitab kitab para ulama.

    Untuk Mahasiswa, saya sarankan untuk masuk di Pesantren Mahasiswa (PESMA), lembaga atau klub bahasa di kampus.

    Coba dicari cari di tempat kuliah mas Ughy..

  3. […] kami pernah menulis beberapa biografi Ahli Nahwu terkenal yaitu Sibawaih dan Quthrub. Kali ini kami akan mengetengahkan profil Imam Ali sebagai peletak dasar […]


  4. https://polldaddy.com/js/rating/rating.js[…] https://ahmadbinhanbal.wordpress.com/2017/01/24/sibawaih/ […]

Kirim Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: