Bagaimana Mengontrol Diri Agar Tetap Rendah Hati?


Pertanyaan:

Ketika saya mengundang seorang ulama besar dari jakarta, diundang ke Lampung untuk memberikan ceramah. Karena beliau adalah ustad ternama, maka kami membuat banner, spanduk. Beliau berpesan, di-banner tersebut tolong dipasang fotonya, nama lengkapnya berikut titel. Sementara dalam ceramahnya, ulama tersebut mengajarkan kerendahan hati dihadapan Allah, tawadhu, begitu bagus.

Dzikir yang kita baca tadi itu ketika kita sampai tahapan yang demikian, bagaimana kita mengontrol diri kita agar tetap rendah hati? Kemudian, tadi di contohkan, sebagai seorang profesional kita harus mampu menciptakan para profesional juga, atau sebagai seorang guru yang hebat harus menciptakan guru-guru yang hebat juga. Sementara kata Allah, “fadzakkir innama anta mudzakkir. Nasta ‘alaihim bimushaitir”, beri peringatan, kamu cuma bisa kasih peringatan, tidak lebih dari itu. Kamu tidak punya kuasa atas diri mereka. Karena hanya Allah yang punya kuasa, Allah yang memiliki dan mengatur semua yang ada di langit dan di bumi.  

Jawaban

Oleh Ust Arifin Jayadiningrat di Kajian Akhlak ICD Masjid Raya Pondok Indah

Pengaruh diluar negatif, kita memahaminya jangan ikutan negatif. Kita mencoba untuk selalu positif. Yang negatif pun harus kita bikin positif. Dari pertanyaan tadi, yang negatif, ada bau-bau sombong, kita jangan berpikir negatif, be positive. Software-nya namanya tasbih, untuk merubah yang negatif menjadi positif. Kita lihat apapun yang diluar, kita tetap  be positive.

Kita praktekkan pada pertanyaan yang tadi, bisa jadi orang itu namanya ditempel, orang tidak tahu wajahnya, tujuannya supaya orang banyak yang datang, dan panitia tidak capek. Kadang orang mau tahu cv dan background, knowledge-nya seperti apa. Mau tidak mau ditaruh titel, akhirnya orang-orang pada datang, itu hanya stimulasi. Justru positive thinking itulah yang merendahkan diri kita.

Karena dalam hadist dikatakan bahwa tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat ketakaburan walaupun sebesar biji sawi. Takabur itu adalah kalau anda merasa lebih baik dari orang yang anda lihat, dan kalau anda menolak kebenaran. Jadi ketika orang itu berbeda dengan kita, ambil sisi positifnya. Indah sekali hidup kalau begitu. Be positive. Sampai pun dikacamata orang lain negatif, be positive terus.

Orang yang seperti itu, dia menutup semua kemungkinan yang negatif bisikan syetan. Dan ini nanti ada pertanggungjawabannya di akhirat. Masalah seperti ini, ikhlas dan tidak ikhlas, ketakaburan dan tidak, itu Allah yang memberikan penilaian, kita tidak tahu. “Lasta ‘alaihim bimushaitir”, betul, teks al qur’annya, anda tidak punya kuasa, betul, tapi tidak berarti anda tidak boleh berusaha yang terbaik. Konteks ayat diatas adalah tidak semua orang bisa anda jadikan islam. Jadi dalil-dalil di dalam al qur’an harus dilihat konteksnya.

Sumber: Transkrip Tanya Jawab di Kajian Akhlak ICD Masjid Raya Pondok Indah

Hadirilah..

Kajian Akhlak di Masjid Raya Pondok Indah bersama Ust. Arifin Jayadiningrat – Direktur Islamic Character Development-ICD mulai jam 09.30 – 12.00 dan dilanjutkan dengan konsultasi SAMARA- untuk pendaftaran konsultasi silahkan menghubungi kami di nomor beriktu: 0857 1964 7457

kebaikan

Kirim Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: