Bantahan Al-Quran Terhadap Orang Yang Mengingkari Hadits Ahad


ahadAllah swt berfirman:
” orang-orang yang mempersekutukan Tuhan, akan mengatakan: “Jika Allah menghendaki, niscaya Kami dan bapak-bapak Kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) Kami mengharamkan barang sesuatu apapun.” demikian pulalah orang-orang sebelum mereka telah mendustakan (para Rasul) sampai mereka merasakan siksaan kami. Katakanlah: “Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga dapat kamu mengemukakannya kepada kami?” kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanyalah berdusta.” (qs al-al’anam: 148)

Ahlu kalam tidak mengambil hadits ahad dalam perkara aqidah dan hanya mengambilnya dalam masalah hukum saja, mereka berdalil bahwa hadits ahad adalah dhan dan ayat seperti ini banyak terdapat dalam perkara aqidah.

Yang menjadi pertanyaan kita pada mereka adakah kenapa mereka membedakan sedekimian rupa? Menerima hadits ahad dalam hukum dan tidak menerimanya dalam masalah aqidah, dan syaikh al-bani telah mengarang satu kitab yang membantah mereka yang berjudul “al-hadits hujjatun binafsihi fi al-aqaid wa al-ahkam”

Mereka banyak menggunakan dalil tentang celaan Allah terhadap orang musyrik yang mengikuti dhan saja, sebagaimana firman Allah: “itu tidak lain hanyalah Nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengadakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah) nya. mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka dan Sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka.” (an-najm: 23) namun sayangnya bahwa maksud dari dhan di sini bukanlah dhan yang berarti hadits ahad tetapi maknanya adalah syak (keragu-raguan).

Dan jika yang dimaksud dengan dhan sebagaimana sangkaan ahlu kalam tersebut, maka dhan ini jga tidak berlaku pada hukum karena dua sebab:

1. Allah swt melarangnya secara mutlak tidak mengkhususkan antara aqidah dan fiqih

2. Dhan yang dimaksud oleh Allah dalam ayat-ayat di atas mesuk juga di dalamnya hukum-hukum.

Maka dapat disimpulkan bahwa maksud dhan yang dilarang adalah dhan dalam arti secara bahasa yang berarti berkata tanpa ilmu dan hal ini dalam masalah aqidah dan hukum dilarang dan adanya pemisahan untuk mengambil hadits ahad dalam masalah aqidah dan fiqih tidak dikenal pada masa slaf shalih dan juga empat mazhab.

Kirim Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: