Perjuangan Anak Mentawai Menuntut Ilmu


image

Pelayanan pendidikan masih menjadi “barang mewah” bagi anak-anak Kabupaten Mentawai. Seringnya gempa melanda kepulauan Mentawai membuat sarana dan prasarana di sana kerap terbengkalai pasca gempa.

Saya jadi teringat pengalaman ke Mentawai akhir tahun lalu, di dusun Buttui belum ada sekolah untuk anak SD kalaupun ada mereka harus berjalan berkilo kilo menuju kesana. Maka Aksi Peduli Bangsa akan mendirikan sebuah sekolah untuk masyatakat dusun Buttui dengan nama Sekolah Bangun Generasi Bangsa.

Saya mencoba mengumpulkan informasi bagaimana pengalaman anak anak Mentawai bersekolah dan menuntut ilmu, kebetulan malam ini saya dan Ust. Arifin. Kedatangan tamu seorang mahasiswa asli Mentawai yang menuntut ilmu di Jakarta.

Anwar Caniago, berasal dari desa Ugay, dekat dengan dusun Buttui yang menjadi tempat proyek pembangunan Aksi Peduli Bangsa.

Dulu dia sekolah Dasar di SD… dan melanjutkan jenjang SMP di Madobak, ketika lulus dia tidak mendapatkan nomor NISN yang dibutuhkan untuk melanjutkan SMA. Akhirnya di melanjutkan SMA di kota Padang dan kemudian kuliah di Jakarta di salah satu sekolah tinggi dakwah di daerah Mampang Prapatan.

Fasilitas pendidikan di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, masih jauh dari layak. Murid-murid yang ingin melanjutkan ke SMP harus rela berpisah dari keluarganya karena menyeberang ke pulau lain.

Anak anak desa Saoban di Sipora Selatan, mereka harus tinggal jauh dari orangtua di gubuk-gubuk bambu selama bersekolah. Kehabisan bekal makanan hingga diganggu orang-orang usil, sudah menjadi santapan sehari-hari.  

Mata pencarian penduduk Desa Sioban adalah petani pala, pisang dan kelapa. Untuk bisa bersekolah, anak-anak desa tetangga harus mengarungi laut ke Desa Sioban. Meski jalur darat telah dibuka 2 tahun lalu, namun masyarakat masih memilih jalur laut. 

“Jalan darat masih berlumpur. Sudah itu terjal. Sulit dilintasi kendaraan bermotor, apalagi kalau hujan,” kata Mike Tison, ujar warga Berilou yang kini sedang berkuliah di Universitas Ekasakti, Padang.       

Di Sipora Selatan, pusat pendidikan ditempatkan di Desa Sioban. Di sini ada empat sekolah. Dua SD (SDN 01 Sioban dan SD Santo Yosef), SMPN 1 Sipora dan SMAN 1 Sipora. 

Agar bisa bersekolah ke Sioban, anak-anak dari Desa Berulao dan Desa Bosua terpaksa mendirikan gubuk di ladang-ladang masyarakat Sioban. Mereka tinggal tanpa penerangan. Hanya ada lampu teplok. 

Gubuk-gubuk itu dibangun alakadarnya oleh para orangtua pelajar tersebut. Ada yang dibangun di belakang rumah warga, di ladang, tepi pantai ataupun di lahan-lahan terbuka. 

Tak jarang, anak-anak Desa Berulou dan Desa Bosua hanya ditinggalkan orangtuanya dengan bekal makanan sekadarnya. Terkadang bekal makanan tersebut tidak mencukupi untuk kebutuhan dua minggu.

Jika sudah begitu, para pelajar Desa Berulou dan Desa Bosua harus bertahan hidup dengan mengadu ke warga sekitar. 

Meski begitu, tak sedikit anak-anak Sipora Selatan yang dulunya tinggal di gybuk-gubuk selama bersekolah, mampu menamatkan kuliah di sejumlah perguruan tinggi. Sebut saja Tesa Aryanti, 23. Warga Desa Berulou ini ingat betul perjuangannya selama bersekolah SMP dan SMA. 

Tesa tak menyerah dengan segala keterbatasan selama tinggal di gubuk pada tahun 2011 lalu. Kini, Tesa telah berkuliah di salah satu sekolah tinggi kesehatan di Jakarta. “Saya masih ingat betapa susahnya belajar di sebuah gubuk tanpa penerangan. Hanya lampu minyak yang menerangi,” ucapnya.

Tesa mengaku sering kehabisan uang untuk membeli minyak lampu teplok. Jika sudah begitu, terpaksa sampai pagi ia harus bergelap-gelapan. Beruntung, ia tinggal berdua bersama sepupunya di gubuk tersebut. 

Tak hanya kegelapan, para gadis remaja ini ini sering diganggu laki-laki iseng pada malam hari. “Kadang ada yang memukul pintu pondok di tengah malam. Ada yang menggoyang-goyang gubuk kami. Terang saja kami ketakutan,” kenangnya.

Mardayanti, 20, warga Desa Bosua lainnya, juga memiliki “pengalaman indah” selama menuntut ilmu di Desa Sioban.

Saat tinggal di pondok, ia kerap diganggu orang usil. “Saya juga sering kehabisan makanan. Kalau sudah begitu, saya mendatangi penghuni pondok lain yang masih memiliki bekal. Kami di situ saling berbagi,” ucapnya. 

Kepala Desa Sioban, M Kalis mengatakan, saat ini tidak ada lagi pelajar perempuan yang tinggal di pondok. Mereka telah dipindahkan semua ke asrama.

“Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Pedesaan sudah membangun dua asrama untuk anak sekolah yang berasal dari desa lain di Sioban,” ujarnya.

Pria yang akrap disapa Del itu menceritakan, ketika anak-anak desa tetangga masih tinggal di pondok-pondok, mereka sulit diawasi dan tidak terjamin keamanannya. 

“Anak perempuan tinggal di pondok kan miris juga ya. Makanya kami usul agar dibangun sebuah asrama untuk anak-anak tersebut lewat dana PNPM,” ujarnya.

Asrama tersebut rampung sekitar setahun lalu. Lantaran fasilitasnya belum memadai, sehingga baru sekarang dihuni. “Asrama itu kan program nasional. Setelah bangunan selesai, sempat dibiarkan selama setahun.

*tulisan masih akan disempurnakan terutama dari keterangan Anwar Caniago yang sekarang sedang menginap di rumah Ust. Arifin Jayadiningrat.

Kirim Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: