Pembelajaran Hakiki


REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Asep Sapa’at
(Praktisi Pendidikan, Direktur Sekolah Guru Indonesia)

“Mengapa di Indonesia tidak seperti ini, Mama?” curahan hati seorang anak Indonesia di awal proses adaptasi ketika mengenyam pendidikan di Perancis. Ekspresi kekagetan yang teramat hebat. 

Lantas, hal berbeda apa yang terjadi di sekolah-sekolah yang ada di Indonesia dan Prancis? Saya tertarik mengungkap kisah perjuangan sahabat sekaligus guru kehidupan saya, Bu Wulan Sari dan suaminya, mendampingi kedua putranya bergelut dengan praktik pendidikan dan persekolahan di Prancis. 

‘Tahu banyak tapi sedikit’, itulah ciri pendidikan Indonesia. Simak yang tersurat di kurikulum. Materi pelajaran sangat bejibun. Meski jumlah mata pelajaran dikurangi, jam pelajaran malah terus bertambah. Repotnya, materi pelajaran kerap tak relevan dengan kehidupan si pembelajar. 

Wajar jika anak tahu kapan dan siapa pelaku perang Padri, tapi mereka tak tahu mengapa hal itu bisa terjadi. Anak tak bisa internalisasi nilai sejarah, pun pelajari sejarah masa silam untuk bekal hidup di masa depan. 

‘Ketika saya pindah ke Prancis, semuanya menjadi berbeda. Anak-anak saya harus downgrade setahun. Saya pikir hal ini mudah dilewati karena anak saya sudah belajar banyak materi pelajaran di Indonesia. Tapi apa gerangan yang terjadi? Anak-anak saya disini tak diajarkan banyak mata pelajaran. Namun mereka diajarkan suatu materi secara detail dan mendalam. Anak kami shock awalnya. Saya dan suami bekerja keras mendampingi di masa awal adaptasi di sekolah. Setelah itu, semua berjalan normal’, ungkap Bu Sari. 

Siswa di Prancis dikondisikan agar jadi orang yang ‘tahu sedikit tapi banyak’. Beda bukan dengan siswa di Indonesia?

Di Indonesia, semua hal dipelajari, tapi tak pernah tuntas sampai akarnya. Lucunya, misal, anak SD di Indonesia harus belajar soal seluk-beluk lembaga-lembaga negara semacam MPR, DPR, lengkap dengan berbagai aturan perundang-undangan, layaknya mau hadapi tes calon lurah atau camat saja. Coba tanya, untuk apa mereka pelajari itu semua?  

Banyak materi pelajaran, tapi miskin pengalaman belajar, itulah bencana terbesar bagi anak-anak kita. Sudah materi pelajarannya banyak, metodologi pengajarannya cenderung monoton dan satu arah. Wah kasihan anak-anak sekolah kita. Mereka miskin pengalaman belajar. Tak ada atau bahkan minim sekali proses mengkonstruksi pengetahuan lewat aktivitas belajar aktif yang menyenangkan dan bermakna. 

“Di sini tak ada Pekerjaan Rumah (PR). Yang menarik, anak saya kelas 3 SMP tiap hari harus mempersembahkan eksplorasi ide tentang sesuatu dalam bentuk riset, presentasi, dan refleksi”, cerita Bu Sari penuh semangat. 

Lantas apa yang terjadi dengan adiknya yang duduk di kelas 5 SD? Dengan lugas, Bu Sari kembali bertutur, “Suatu ketika saya terkaget-kaget. Anak saya sangat senang dan sudah bersiap diri menyajikan presentasi soal Steve Jobs dan Apple, suatu kajian yang amat diminatinya. Semua disajikan secara runtut, memenuhi konsep 5W+1H. 

Anak belajar secara kontekstual, dibiasakan berpikir sistematis, dilatih jadi pemecah masalah dan pemikir kritis-kreatif”. Dahsyat. Prancis oh Prancis.

Di sekolah Prancis, materi pelajaran dikemas secara sederhana dan mendalam. Anak-anak dilatih berpikir analisis. Di Indonesia, anak-anak dituntut berpikir tingkat rendah, menghapal. Yang penting hapal banyak materi pelajaran dulu. Soal bermanfaat atau tidak untuk kehidupan anak, siapa yang peduli?

Tiada hari tanpa membaca dan menulis. Apapun materi pelajarannya, pastinya tiap hari ada pembudayaan baca tulis bagi siswa. Secara berkala, para siswa di Prancis diwajibkan membaca satu buku. Selesai membaca buku, para siswa dibiasakan untuk menyajikan hasil resume buku dalam bentuk presentasi dan story telling. 

Nah, inilah praktik jitu membangun budaya literasi di sekolah. Bagaimana jika waktu liburan datang? “Di summer holiday, sekolah mewajibkan anak-anak membedah dua buku, satu buku English dan satu buku French”, jelas Bu Sari. Top markotop deh.

Apa pesan tersirat dari Prancis untuk Indonesia? Hakikat belajar adalah proses mengalami, bukan sekadar melihat dan mendengar saja. Confucius pernah berujar, ‘Jika saya dengar, saya lupa. Jika saya lihat, saya ingat. Jika saya lakukan, saya paham’. Pembelajaran hakiki berdasarkan performa dan kenyataan (Campbell,  2000). Libatkan anak dalam pembelajaran, cara bijak membantu anak menjadi pribadi yang merdeka dan sadar potensi diri. Anak tak hanya sekadar tahu dan paham. Tapi bisa mengambil manfaat untuk kehidupan mereka kelak di dunia nyata. 

Menuntaskan materi kurikulum itu penting. Tapi yang jauh lebih penting membekali keterampilan hidup (berpikir, menyelesaikan masalah, bicara di depan umum, bekerja sama, dsb) bagi si anak. Kurikulum dan materi pelajaran itu hanyalah alat saja, proses pengalaman belajar siswa tetaplah yang utama. Karena satu-satunya sumber pengetahuan adalah pengalaman, itu titah bijak Einstein. Maka, berilah siswa pengalaman belajar hebat yang takkan mereka lupakan sepanjang hidup mereka. 

Kirim Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: