Kematian Kita di Mata Angeline


Ulasan dari salah satu teman blogger saya berikut sangat bagus untuk kita jadikan bahan renungan. Untuk menjadi pelajaran agar kita berbenah diri, tidak menjadi orang yang individualis. Agar kelak tidak ada lagi korban kesombongan masyarakat seperti Angeline.

Saya turut mengamini kemarahan yang ditujukan kepada guru, tetangga dan orang di sekitar Angeline yang tidak mau peduli dengan wajah suram Angeline yang menyiratkan luka mendalam.

Bocah Kampung

Pertama kali melihat foto Angeline—tatapan matanya yang jernih, batang alisnya yang terkapar, dan ikatan rambutnya yang tak sempurna—saya terpaku. Gadis ini cantik sekaligus terlihat sepi dan murung. Dan yang paling membuat saya tercenung, ia memasang wajah semacam itu ketika berhadapan dengan kamera, sebuah benda yang secara moral mesti dihadapi dengan senyuman. Dan bahkan sampai sekarang saya masih berusaha menghapus bayangan tidak menyenangkan tentang bagaimana foto itu diambil.

Banyak yang menyayangkan Angeline harus pergi di usia muda, dengan cara yang tragis pula. Termasuk saya. Bukan berarti orang yang berwajah jelek layak untuk mati atau disiksa. Bukan itu sama sekali. Yang menjadi kemalangan ialah bahwa sesuatu yang unggul, sebagaimana keberadaan orang cerdas, atau bunga paling indah di taman, yang bisa dibanggakan, masih bisa mekar dan menjadi makhluk yang menyenangkan banyak orang bahkan hanya dengan senyuman tipisnya, ternyata harus hilang dengan cepat. Kesedihan ini rasanya belum bisa selesai jika saya belum memarahi orang-orang…

View original post 557 more words

Kirim Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: