Siapa Penggagas Metode Pakistani (Sabak, Sabki, Manzil)?


Ada salah satu pengunjung blog saya yang menanyakan tentang siapa penggagas metode tahfidz pakistani dan apa kelebihan metode ini dari yang lain?

Berikut ini jawaban saya untuk pengunjung blog yang bertanya tersebut.

Sabak adalah hafalan baru, Sabki adalah hafalan yang kemarin kita hafalkan. Manzil adalah hafalan 1 Juz yang telah lewat.

Beberapa pesantren sudah menerapkan metode ini seperti pesantren Bina Qolbu dan Wadi Mubarak di puncak Bogor, pesantren Mush’ab bin Umair dan beberapa perguruan tinggi di Makasar.

Saya kurang tahu bagaimana metode yang diterapkan ustadz Yusuf Mansur, metodenya lebih dipaksa.

Sementara metode pakistani Metode ini membantu santri menghafal dan menjaga hafalan al-Quran. Dengan metode ini lebih teratur mengatur jadwal santri.

Ketika saya mengajar dan menjadi musyrif tahfidz di pesantren bina qolbu saya melihat keunikan dari metode ini dan kasat mata melihat hasil dari metode ini.

Saya berusaha meneliti metode ini dari siapa atau dari mana. Dari hasil investigasi dan penelusuran saya dapatkan bahwa metode sabak, sabki dan manzil ini berasal dari Pakistan, dan anak anak disana memang terbiasa menggunakan metode ini. Akhirnya disebutlah metode Pakistani.

Jadi kalau ditanya siapa pencetus, saya kurang tahu siapa, karena metode ini sudah ada di negara pakistan. Namun untuk pencetusnya di Indonesia, ini jawaban yang subyektif adalah Ustadz Abbas Bacomiro dari Makasar. Beliau adalah alumni pakistan yang menerapkan metode sabak, sabki dan manzil di pesantren beliau di daerah Makasar.

Salah satu ustadz di pesantren bina qolbu adalah murid beliau yg menerapkan metode ini di pesantren.

Agar lebih jelas mungkin bisa saya gambarkan kegiatan harian di bina qolbu dalam menerapkan metode pakistani.

1. Dari sebelum subuh sampai jam 7 pagi : Sabak atau hafalan baru. Santri menyetorkan hafalan barunya kepada ustadz, bagi yang belum baik bacaannya maka diberi pengantar tahsin dulu, belum sampai menghafal.

2. Jam 9 pagi sampai dhuhur : Sabki, santri menyetorkan hafalan yang kemarin dihafal minimal 1 halaman.

3. Ashar sampai jam 5 : Manzil, santri menyetorkan hafalan 1 juz yg sudah dihafal, biasanya dimulai dari juz yang termudah seperti juz amma atau juz tabarak sampai hafalan mereka baik.

4. Isya sampai jam 9 : Persiapan.hafalan untuk besok.

Selama itu, ustadz harus terus menemani santri agar bisa terus mengontrol hafalan santri. Memang dengan metode ini sangat terasa berat bagi santri atau ustadznya, santri dituntut untuk terus mengulang hafalan dan ustadz tahfidz dituntut tidak egois, mau menemani santri menghafal al-quran.

Demikian yang bisa saya jawab. Terima kasih.

Kirim Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: