Syarat Mufassir: Syarat Cabang Sesuai Jenis Tafsirnya [4]


[1] Tafsir bil Ma’tsur

Yaitu setiap yang datang dari al-Quran, sunnah atau perkataan sahabt yang menjelaskan maksud Allah SWT[1]

Syarat-syarat Tafsir bil Ma’tsur

  1. Berkenaan dengan Rawi Tafsir: Akal, Dhabt, Islam, Adalah
  2.  Mengetahui ilmu hadits riwayah dan dirayah
  3.   Menjadikan al-Quran sebagai panduan utama
  4.  Menjadikan hadits sebagai panduan kedua
  5. Menjadikan aqwal sahabat sebagai panduan ketiga
  6. Menjadikan aqwal tabi’in sebagai panduan keempat
  7.  Sebaiknya seoramng mufasir bil ma’tsur mengumpulkan riwayat-riwayat yang berbeda
  8. Mengetahui hakikat perbedaan riwayat dalam tafsir dan sebabnya
  9. Menukil perkataan yang sesuai dengan pemahaman
  10.  Tidak berpegangan pada riwayat israiliyat

[2] Tafsir Bayani

Syarat Tafsir al-Bayani

Tafsir Bayani adalah tafsir yang mengumpulkan hal-hal yang merupakan kalimat yang indah dan unik dari al-Quran yang berbeda dengan uslub bangsa arab dan memberikan penjelasan dengan lafal yang bagus dan makna yang baik

  1. Seorang mufasir mengumpulkan mengumpulkan penjelasan ayat-ayat dalam stu judul, mengkorelasikan satu ayat dengan ayat lainnya lalu mentadabburi dan menafsirkannya
  2. Mufasir merapikan tafsir bayaninya dalam satu judul sesuai dengan waktu turunnya
  3. Mempe;ajari secara rinci nash al-quran yang berkaitan tentang sebab turunnya, jami’, penulisan dan qiraahnya.
  4. Mempelajari secara umum lingkungan dimana ayat itu turun seperti gunung, gurung dan lainnya atau secara maknawi seperti sejarah umat terdahulu.
  5. Mempe;lajari nash al-quran secara mufradatnya, dengan cara belajar secara bahasa atau mufradat dari tiap daerah
  6. Mempelajari nash al-quran melalui balaghah

Hal di atas bias dibangun melalui perspektif berikut:

  1. Ibrah atau pelajran dari suatu lafal adalah keumuman lafalnya bukan karena kekhususan sebab
  2. Meneliti lafal al-quran dalam setiap lafal
  3. Al-quran adalah sebuah qaidah
  4. Meninggalkan perselisihan tentang sesuatu yang masih dianggap mubham

 

[3] Tafsir Ijtima’i

Tafsir ini dipelopori oleh Jamaluddin al-Afghani yang menjadi pionir pemikiran islam, menyeru untuk memperbikik masyarakat dengan jalan kembali kepada islam dan berhukum pada al-Quran dan as-Sunnah. Setelah kematiannya cara tafsir ini dikembangkan oleh Muhammad Abduh lalu dalam penulisn tafsirnya dikembangkan dan diteruskan oleh Muhammad Rasuyid Ridha, dan tafsirnya dikenal dengan nama Tafsir “al-Manar”.

Syarat-syarat Tafsir Ijtima’i

  1. Mufasir membatasi tujuan utama dari tafsir yaitu untuk memahami al-Quran sebagai agama petunjuk di dunia dan di akhirat
  2.  Seorang mufasir hanya membahas pada satu masalah atau satu surat saja
  3. Seorang mufasir mengambil perkataan menyeluruh dari al-Quran
  4.  Meninggalkan perkataan yang masih mubham
  5.  Mufasir mengikuti manhaj tafsir aqli
  6. Menjadikan al-Quran sebagai masdar tasyri’
  7.   Menjauhi tafsir israiliyat
  8.  Tidak mengikuti pemikiran muslim yang kahir-akhir tetapi mengikuti pemahaman umat islam yang pertama-tama

 

[4] Tafsir al-Maudhu’i

Istilah ini baru muncul pada abad 14 Hijriyah, yaitu ketika Universitas al-Azhar bagian studi Tafsir memasukkan studi ini dalam bidang pelajaran mereka. DR Abdussattar Fathullah Sa’id mengatakan bahwa makna dari Tafsir al-Maudhu’I adalah sebuiah ilmu yang membahas tentang al-Quran dengan cara mengumpulkan ayat-ayat yang terpisah, menelitinya dalam pembahasan yang khusus dan styarat-syarat yang khusus untuk menjelaskan maknanya dan mengeluarkan makan-makna di dalamnya.

Syarat-syarat Tafsir al-Maudhu’i

  1.  Seorang mufasir melazimi cara dalam menafsirkan ayat yang bersumber pada al-Quran, sunnah, perkataan sahabat dan tabi’in dan tidak boleh mengambil dari selainnya dengan tetap bersumber pada al-Quran, Dr Abdul Hay al-Farmawi mengatakan: “Tafsir maudhu’ disempurnakan dengan hadits-hadits dari Rasulullah saw jika hal itu diperlukan, sehingga pembahasannya jadi sempurna dan semakin menambah penjelasan.”[2]
  2.  Seorang mufasir mengaitkan penafsirannya dengan atsar yang benar dalam tafsir dan menjauhi atsar atau hadits yang dhaif atau israiliyat, dan memfokuskan diri untuk menyimpulkan ayat tersebut
  3.  Tidak memperlebar pembahasan, sebagai contoh adalah apa yang telah dilakukan oleh Fakhru Razi pada zaman dahulu dan Thanthawi Jauhari pada zaman sekarang sehingga para ulama mengatakan bahwa dalam tafsir mereka ada banyak sekali ilmu kecuali tafsir
  4.  Seorang mufasir meneliti maudhui’nya dengan teliti sebelum ia menafsirkan karena tafsir maudhu’i terdiri dari berbagai macam ayat
  5.  Seorang mufasir tidak membuat tafsir maudhu’i berdsarkan hawa nafsu, pemikiran atau mazhab tertentu. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh kelompok –kelompok yang sesat.
  6. Hendaknya ia melazimi syarat-syarat dalam penelitian ilmiah
  7.  Seorang mufasir menjaga khashaish dalam al-Quran. Dr Abdussattaar telah menyebutkan khasaish dalam al-Quran di antaranya:

1.القرآن أصل الأصول جميعا

2. القرآن غاية في الإحكام والإتقان

3. القرآن كتاب الهداية

4. القرآن عربي اللسان لا الصفات

[5] Tafsir Ilmi

Prof Amin al-Khauli menyebutkan bahwa Tafsir Ilmi adalah “Tafsir yang membahas ilmu pengetahuan dari prespektif al-Quran dan berusaha untuk mengeluarkan berbagai macam ilmu dan pandangan filsafat darinya.”[3]

Syarat-syarat Tafsir Ilmi

  1. Tidak lepas dari tujuan utama Al-Quran yaitu hidayah
  2.  Mufasir menyampaikan pembahasannya agar umat islam lebih termotifasi untuk berubah dari keadaan mereka sekarang dan agar mereka kembali pada Al-Quran
  3.  Mufasir menyampakan pembahasan yang bisa menjadikan Al-Quran semakin kuat tidak malah membuat Al-Quran diragukan
  4.  Mufasir menjaga kesesuaian antara materi dengan nash Al-Quran
  5.  Mufasir membahas ayat penuh dan tidak mengambilnya sepotong-potong
  6.  Hendaknya mufasir tidak melakukan tafsir ilmi kecuali mempunyai dasar ilmiyah yang bisa dipercaya dan meyakinkan
  7.  Mufasir tidak melakukan tafsir ilmi pada ayat-ayat mukjizat dan pada perkara- perkara di luar dugaan dengan alasan berlawanan dengan ilmiyah.
  8.  Tidak menafsirkan ayat al-quran dengan istilah baru setelah turunnya al-quran

Selain dari syarat-syarat di atas, terdapat syarat-syarat lain yangtelah dikemukakan oleh pengarang kitab “ushul tafsir wa qawaiduhu” yaitu:

  1. Memenuhi syarat-syarat mufasir
  2. Menfsirkan ayat kauniyah sesuai dengan al-quran
  3. Dalam tafsir tidak disebutkan pandangan-pandangan ilmiyah yang menyesatkan
  4. Tidak membawa ayat pada pemahaman ilmiyah
  5. Ayat kauniyah dijadikan penjelas dari ayat quraniyah
  6. Menjaga makna bahasa arab
  7. Tidak menyelisihi syariat
  8. Tafsirnya komprehensif sehingga tidak membutuhkan penjelasan makna
  9. Ada keterikatan antara tafsir dan ilmiyah
  10. Menggunakan ayat kauniyah untuk menafsirkan al-quran. []


[1] Manahilul Irfan 2/14

[2] Al-Bidayah fi Tafsir al-Maudhu’i: 62

[3] Tafsir ma’alim hayatihi manhajuhu al-yaum: 19-20

Kirim Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: